Jangan Suka Menakut-nakuti Anak (1)

0
314
Imajinasi horor selalu melekat pada setiap orang. Salah satu visualisasi horor seperti tertera di gambar http://horrorfreaknews.com

0Shares
0

Gangguan keberanian yang alamiah dapat muncul karena salah asuh. Keinginan orang tua agar anaknya patuh dan mengikuti instruksi, kadang menjadikan anak-anak dipupuk menjadi seorang penakut. Awas, nanti ditembak polisi. Ada hantu. Termasuk kebiasaan menonton film horor. Ketika anak-anak tidak terkendali, potensi ketakutannya bisa menjadikan mereka kurang memiliki daya juang. Termasuk mencemari aqidah. Waspada!

KampusDesa.or.id–Ini tentang rasa takut yang konstruktif dan tidak konstruktif terhadap yang ghaib. Yaitu tentang Allah dan makhluk-makhluk metafisika ciptaanNya .

Dulu saya suka sekali nonton film-film hantu. Menurut saya seru! Saya suka mengajak anak-anak menyenangi film-film mistis dan horor semacam Ghost Buster. Motivasinya sih sederhana, menikmati naik turunnya adrenalin… lalu teriak bareng-bareng dan malamnya anak-anak berebut memeluk saya dari kanan dan kiri. Saya menikmati peran sebagai pelindung yang diperebutkan oleh keempat makhluk kecil kesayangan itu.

Padahal tontonan seperti itu belum tentu benar-benar menghibur. Efek negatifnya jelas. Anak-anak jadi penakut dan kolokan. Sedikit-sedikit minta antar. Cemen. Semua salah saya. Sekarang saya menyesal. Untunglah saya masih bisa mengoreksi semua kesalahan itu, termasuk pemahaman yang tidak tepat tentang ruh manusia meninggal yang digambarkan sebagai arwah bergentayangan yang bertanggung-jawab terhadap semua penampakan hantu mengerikan.

Bukan sekedar menjadikan anak penakut, namun tontonan semacam itu bisa mengancam tegaknya aqidah seorang anak.

 

Sekarang saya benar-benar menyesal pernah melakukannya. Karena persoalannya ternyata tidak sesederhana itu. Bukan sekedar menjadikan anak penakut, namun tontonan semacam itu bisa mengancam tegaknya aqidah seorang anak.

Tidak bijaksana mengajak dan memberi contoh anak-anak untuk menggandrungi film-film horor dan mistis. Sebelum memahami dengan tepat hakikat jiwa atau ruh manusia dan otoritas tunggal penciptanya. Sebelum mempelajari dengan benar hakekat penciptaan makhluk makhluk Allah pada dimensinya masing-masing.

Padahal anak-anak lebih butuh dibukakan mata indra dan hatinya terhadap lapis-lapis kekuasaan Allah yang tiada terkira dahsyatnyanya! Dibandingkan dikenalkan pada pengetahuan tentang jenis-jenis jin dan kekuatan mereka.

Ketakutan pada jin atau setan membuat kita jadi tidak realistis, mudah panik dan paranoid.

 

Mengapa? Karena  kedua hal di atas menimbulkan reaksi serta membentuk keyakinan yang berbeda. Ketakutan pada jin atau setan membuat kita jadi tidak realistis, mudah panik dan paranoid. Pada akhirnya ketakutan ini justru mengarahkan kita pada kekaguman atau malah ketergantungan pada sesuatu yang tidak semestinya. Ketakutan terhadap makhluk makhluk ghaib yang jahat serta penampakan yang menakutkan hanya menggiring kita untuk mencari perlindungan pada sesuatu yang derajatnya bahkan lebih rendah dibandingkan manusia itu sendiri. Pernah dengar orang kehilangan barang meminta bantuan setan gundul? Pernah tahu seseorang yang ingin melindungi keluarganya namun justru bekerjasama dengan jin melalui pemasangan tumbal? Ngeri bukan?

Beda sekali dengan kekaguman yang teramat sangat disertai ketakutan yang benar terhadap Allah. Reaksi baliknya adalah ketenangan dan kenyamanan di atas pengakuan terhadap otoritas yang Maha Digdaya dan Berkuasa. Allah menggenggam, mengontrol tapi mengasihi dan melindungi. Segala aturanNya untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Jenis ketakutan terhadap penguasaan seperti inilah yang akan menjaga kelurusan aqidah kita sehingga menghasilkan kepribadian yang tangguh lagi mulia.

Jadi rasa takut memang harus direfleksikan dengan bijaksana. Dikendalikan. Mesti proporsional. Ditertibkan pada rel kebenaran tatanan pemilik semesta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here