Jalan Panjang dan Berliku Emansipasi Kita

0
198
Intelektual Perempuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

0Shares
0

Sekilas, emansipasi perempuan yang diperjuangkan R.A. Kartini sudah tampak menggembirakan. Perempuan Indonesia kini setara dengan laki-laki di berbagai bidang. Banyak posisi strategis yang kini dapat diduduki perempuan tanpa rasa takut. Namun, pada saat yang sama, kita juga masih dihadapkan dengan maraknya kekerasan terhadap perempuan, human trafficking, pelecehan seksual, subordinasi, dan sederet ketidakadilan lainnya terhadap perempuan. Karenanya, perlu disadari bersama, bahwa agenda emansipasi kita masih belum usai. Masih terbentang jalan panjang nan berliku.

Kampusdesa.or.id-Sampai hari ini, nama Kartini masih dijadikan sebagai simbol emansipasi kaum perempuan di Indonesia. Perjuangan Kartini semasa hidupnya menjadi teladan bagi bangsa Indonesia untuk tidak lagi menganggap kaum perempuan sebagai makhluk kelas dua. Tidak boleh lagi ada penindasan dan perbudakan terhadap perempuan. Dengan demikian, perempuan tidak boleh diamputasi hak-hak dan kewajibannya, baik di level kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara.

Pada hakikatnya, memang kedudukan kaum perempuan tidak ada beda dengan kaum laki-laki. Konsepsi ideal ini dalam Islam pun ditegaskan sedemikian rupa. Misalnya dalam Surat An-Nisa’ ayat 124, “Barang siapa mengerjakan mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Makna senada juga dapat kita lihat dalam ayat 195 Surat Ali Imran, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu,baik laki-laki atau perempuan,(karena) sebahagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” Masih banyak lagi ayat lain yang menjelaskan betapa Islam tak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan.

Dalam hadits Nabi pun juga akan kita jumpai hal serupa. Misal sebuah hadits yang dimuat dalam Musnad Imam Ibn Hanbal, “Barangsiapa memiliki anak perempuan dan dia tidak menguburnya hidup-hidup, tidak pula dia hinakan, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki darinya, maka Allâh akan memasukkannya kedalam surga.” Tentu kita semua juga akrab dengan perintah Nabi untuk memuliakan Ibu tiga kali lebih banyak dibandingkan Bapak.

Adapun, dalam konteks kehidupan bernegara, baik perempuan maupun laki-laki juga memiliki status kewarganegaraan yang sama. Dengan demikian, hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara,  juga melekat kepada keduanya. Di mata hukum, keduanya juga memiliki kedudukan yang setara. Tidak diperbolehkan adanya diskriminasi terhadap salah satunya.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie“Perempuan milenial hari ini telah banyak yang berprestasi melebihi laki-laki. Berbagai posisi strategis juga mampu mereka tempati”

Lalu, apakah cita-cita emansipasi Kartini telah terwujud sebagaimana konsep-konsep ideal di atas? Dilihat dari permukaan memang sudah cukup menggembirakan. Perempuan milenial hari ini telah banyak yang berprestasi melebihi laki-laki. Berbagai posisi strategis juga mampu mereka tempati. Bukan hal yang aneh di era sekarang ini perempuan berada di puncak tangga pengambil kebijakan.

Namun, bila diselami lebih dalam lagi, prestasi emansipasi kita sampai dengan hari ini, sebenarnya masih menampakkan wajah bopeng di sana-sini. Hal ini dibuktikan dengan masih maraknya kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, subordinasi, stereotype, beban ganda, dan marjinalisasi. Tak ketinggalan, human trafficking juga masih kerap dialami perempuan.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

“Sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki dimana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak”

Wajah bopeng lain dari emansipasi juga akan kita jumpai, mana kala melihat masih tingginya kasus perkawinan anak di bawah umur. Menurut Badan Pencatatan Statistik (BPS) berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, angka perkawinan anak mencapai 1,2 juta. Dari jumlah tersebut proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang berstatus kawin sebelum umur 18 tahun adalah 11,21% dari total jumlah anak. Artinya sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki dimana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

“Beratnya agenda ini disebabkan oleh masih mengakarnya budaya patriarki di kehidupan kita, yang menyebabkan perempuan sulit untuk menyuarakan kata hatinya”

Dari sini makin terlihat bahwa agenda emansipasi yang diperjuangkan R. A. Kartini belumlah usai. Bahkan, bisa dikatakan masih dalam proses merangkak. Sehingga, belum beranjak jauh dari titik mulainya. Beratnya agenda ini disebabkan oleh masih mengakarnya budaya patriarki di kehidupan kita, yang menyebabkan perempuan sulit untuk menyuarakan kata hatinya.

Seperti yang pernah diungkapkan Musdah Mulia, “Anak perempuan seringkali diperlakukan sebagai manusia yang kedudukannya lebih rendah dalam pergaulan. Mereka dididik untuk menempatkan diri pada urutan akhir, sehingga harga diri mereka berkurang. Diskriminasi dan pengabaian pada masa kanak-kanak dapat mengakibatkan pengucilan anak perempuan sepanjang hidup.” Lebih miris lagi, perilaku diskrimiatif ini seringkali dilegitimasi oleh penafsiran misoginis terhadap teks-teks suci, yang justru dilakukan oleh pemuka agama.

Sebab itu, momentum Hari Kartini sekarang ini, hendaknya dijadikan sebagai sarana evaluasi bersama terhadap agenda emansipasi kita. Bukan hanya dirayakan secara seremonial belaka dengan melakukan kirab dan membuat meme ucapan lalu diunggah di media sosial. Jalan kita masih panjang untuk mewujudkan cia-cita luhur Kartini.[]