Gusdurian Malang dan Tantangan Relationship Management

0
594
Local meeting. Pertemuan rutin tahunan Garuda (Gusdurian Muda) Malang, 08 Desember 2019 di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

0Shares
0

Malam ini (08/12/2019) saya hadir di pertemuan lokal Gerakan Gusdurian Muda (Garuda) Malang. Komunitas yang merawat dan mengembangkan pemikiran Abdurrahman Wahid, khususnya mewakili gerakan nasional Gusdurian. Hal penting yang saya temukan adalah organisasi komunitas ini didasari oleh nilai, kultur, dan sumberdaya sosial yang bervariasi, tanpa diikat oleh struktur organisasi yang ketat. Tapi tetap bertahan sejak 2010 dan mendapatkan pengakuan publik. Ternyata, kesadaran mengelola komunitas berbasis nilai menginspirasi kebutuhan memaksimalkan modal kemanusiaan (human capital) dengan pendekatan menejemen kesalinghubungan (relationship management).

KampusDesa.or.id–Pertemuan lokal (local meeting) Garuda (Gusdurian Muda) Malang menjadi momen penting dalam mereproduksi semangat penggerak Gusdurian Malang. Pertemuan ini adalah wadah resmi Gusdurian di Kota Malang (yang tercatat sebagai organ penggerak Kota Malang di Sekretaris Nasional Jaringan Gusdurian Nasional) di Yogyakarta.

Keuangan Gusdurian, Dilalah Ada

Saya sajikan catatan kecil di sini. Sub judul ini berangkat dari sebuah pertanyaan penting mas Hasan. Pertanyaan tersebut ternyata melahirkan sudut pandang penting mengenai gagasan yang direfleksikan selama ini dari pengalaman para penggerak. Padahal pertanyaan mas Hasan tersebut sudah dilampau bagi para penggerak. Begini pertanyaannya,

Manakah yang harus didahulukan, uangnya dulu atau kegiatannya dulu untuk melakukan kegiatan-kegiatan di Gusdurian.

Garuda Malang yang tidak punya struktur dan gerakannya berbasis nilai yang menjadi acuan penggerak memang tidak memiliki perhatian khusus terhadap penggalangan dana, apalagi seperti LSM yang menyangga berbagai proyek berduit. Wajar jika Garuda menjadi lembaga yang tidak mementingkan syarat keuangan untuk bergerak. Aneh memang.

Bagi penggerak lama, itu sudah menjadi biasa tetapi bagi pendatang baru sepertinya tidak mungkin. Nah, di sini kemudian dijelaskan apa yang sebenarnya menjadi penyangga finansial Gusdurian agar para pendatang baru tidak merasa takut atau bingung untuk berkegiatan mandiri. Ini  pelajaran penting yang tidak mudah bagi gerakan yang sudah terbiasa mengurus organisasi berbasis pada andalan proposal ke banyak pihak.

Modal finansial memang dibutuhkan tetapi tidak boleh mendikte gerakan. Ada penyangga mental yang sebenarnya sudah melekat untuk diaktifasi mendatangkan dukungan material. Penyangga Gusdurian itu adalah kekuatan jaringan. Kekuatan jaringan memberi peluang peran dari masing-masing orang yang terhubung dengan Garuda (Gusdurian Muda) berdasarkan sumberdaya yang tersedia. Gusdurian mampu mengambil tempat di hati masing-masing orang untuk berkonstribusi. Jadi tidak perlu khawatir mengenai budgeting kegiatan. Sudah beruntunglah kita diberkahi nama besar Gus Dur sehingga banyak orang yang percayanya mendarah daging. Potensi ini menjadi banyak orang selesai dalam membuat penilaian.

Situasi menjelang pemilihan kordinator Garuda

Namun, bukan berarti kita bisa menjual Gusdurian? Semangatnya tetap bukan pada kebutuhan kita atas nama uang. Mental berkegiatan tidak lagi menekankan uangnya dulu tetapi penggerak lebih dulu kokoh membangun kemauan yang kuat dalam mengaktifasi kegiatan, maka kita akan mampu mengelola kegiatan. “Dukungan akan ada saja. Kata Laila. Bahkan menjadi fleksibel, jika memang ada hal yang belum siap, maka ya bisa diundur tanggal kegiatannya.

Semangat yang ada memang bukan uang, tetapi nilai yang kita kedepankan menjadikan kehadiran kita memperoleh dukungan dari berbagai orang-orang yang peduli. Inilah yang tidak bisa dibangun secara instan. Garuda dengan prinsip nilai, tidak menjadi oportunis dengan kebesaran nama Gus Dur, tetapi para penggerak memang memihak kepada nilai itu sehingga dukungan banyak pihak memang sejalan dengan tujuan nilai itu.

Gus Anas, penggagas Garuda Malang menegaskan, untuk mendapatkan dukungan finansial, Garuda Malang telah memulai dari gerakan semacam peduli koin alias urunan. Semangatnya cukup beragam. Keragaman ini justru mengokohkan dukungan banyak orang. Semangat yang ada memang bukan uang, tetapi nilai yang kita kedepankan menjadikan kehadiran kita memperoleh dukungan dari berbagai orang-orang yang peduli. Justru jikalau terlalu mengedepankan uang dan terlalu menghitung-hitungnya, akan melesat bubar dengan sendirinya, tanpa harus dievaluasi ini dan itu.

Baca juga : Berorganisasi Tanpa Kenali Aset, Seperti Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Selain itu, jangan lupa, kekuatan berkegiatan juga hasil dari energi barokah. Melalui semangat ini, ternyata ada saja orang-orang yang berkemauan menyumbang kegiatan yang kita selenggarakan seperti acara Haul di Gereja Ijen tempo dulu. Sungguh tidak terduga. Keajaiban pun bisa datang. Termasuk media televisipun juga datang karena jasa jaringan dari Romo Bondan. Bahkan beberapa orang ada yang membawa makan bungkusan. Dan ini terjadi detik-detik terakhir dukungan itu melimpah. Padahal Garuda tidak mengajukan proposal.

Kalau ada sisa ya kita tabung atau simpan. Termasuk kalau kita diundang kegiatan menjadi narasumber maka sebagian disisihkan untuk tabungan Garuda. Jadi, uang akan hidup kalau kita bisa memanfaatkan hubungan emosi sosial yang bagus dan dirawat. Inilah yang disebut human relationship management.

Menurut Romo Bondan. Kalau yang kita sebut budget adalah kapital, maka kita mengenali manusia sebagai human capital. Ini yang disebut sebagai bagian dari relationship management. Relationship itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Maka nilainya bersifat sosial. Kekuatan itu didasari oleh relationship yang sebenarnya memiliki kekuatan berdasarkan aset. Oleh karena itu kepemilikan tersebut perlu diaktifasi secara sosial dengan waktu yang lama atau hubungan yang lebih baik. Prinsipnya adalah komunitas berbasis nilai. Yang perlu diperkuatkan adalah pemaksimalan aset yang diikat dalam hubungan sosial. Jadi, uang akan hidup kalau kita bisa memanfaatkan hubungan emosi sosial yang bagus dan dirawat. Inilah yang disebut human relationship management. Karenanya, tidaklah kita hanya mengandalkan logo dan bendera Gusdurian.

Jangan pula sambate lek wes gede. Yo sumerdaya kapitale ora arep nyedek. Moko, yo bangunen sing suwe, ora mung lek wis utange okeh, baru sambat. Membina hubungan yang baik selama proses berjalan sehingga tidak berada dalam hubungan membeku, tetapi mencair.”

Kekuatannya ada di spirit menejemen lillahi ta’ala. Kata Gus Ilmi Najib. Tidak berjenis kelamin, tidak berumur, tidak beragama tertentu. Boleh untuk eksistensi, mendapatkan jaringan untuk bekerja, tetapi jikalau memanfaatkan Gusdurian untuk kepentingan dirinya, maka inilah yang perlu diingat dan perhatikan. Maka untuk sumberdaya finansial, perlu semangat juang yang didasari oleh hubungan yang baik.

Relationship management

Refleksi berikutnya yang menarik adalah, posisi Garuda Malang ditengah lahirnya sub-leader baru. Ada Duta Damai, Gubuk Tulis, Perempuan Bergerak, Sabda Perubahan, Gerakan Lingkungan, LSFD, dan sebagainya. Bagaimana agar Garuda tidak tenggelam disaat yang dilahirkan itu semakin besar dan merajai gerakan lokal?

Kordinator Baru. Ahmad Qomaruddin (Kanan). Rio (Kiri), Kordinator Lama

Ada dua tantangan, yakni Garuda sebagai brand superbody atau sebagai demit. Kita bisa memilih berdasarkan brand atau berdasarkan demit. Kalau berdasarkan brand maka sebagaimana yang kita inginkan ya kita menjadi brand superbody. Tetapi jika pakai strategi demit, maka memang Garuda akan tenggelam dan tidak nampak. Tetapi tetap memiliki kemampuan mengorkrestasi penggerak (sub-leader), untuk tetap menjadi bagian dari spirit penggerak. Jika demikian, kembali pada relationship management yang perlu dirawat sebagai ketrampilan kekinian bagi para penggerak. Begitu nasihat pendeta Tatok dalam menyikapi kekuatan Gusdurian yang sudah melahirkan sub-leader penggerak di beberapa lini publik.

Selain itu, kita juga butuh mempertimbangkan neraca sembilan nilai yang menjadi spirit Gusdurian. Kekuatan kita ada di human capital. Kekuatan ini yang perlu dihayati dengan lebih baik. Ini tentunya menyangkut jawaban atas pertanyaan how (siapa) yang akan memainkan peran dengan caranya yang berbeda-beda. Sejauh nilai-nilai Gusdurian masih dapat diwakili dan diejawantahkan, maka mereka tetap menjadi bagian dari Gusdurian. Nah, kalau sudah tidak selaras, maka penggerak atau Garuda memiliki kewajiban untuk mengingatkan dengan baik. Penggerak yang sudah memilih jalan hidupnya, baik kapitalis kiri atau seperti apa, ya silahkan.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah sharing kekuatan. Kapasitas Garuda dengan demikian wajib merawat sharing kekuasaan tersebut agar tetap memiliki kemampuan mengembangkan nilai. Acuan ini dapat menyadarkan kita untuk memulai kesadaran baru agar berorganisasi lebih baik sehingga menghindari kenaifan.

Penekanan relationship management dapat dikuatkan dengan kemampuam delivered value dan economic value. Kalau tidak ada ini maka kita tidak bisa menguasai aneka kekuatan nilai dan semakin hilang oleh kekuatan lain yang justru lebih menguasai. Apa yang kita nominasikan tidak lain adalah upaya untuk mengkristalisasi the power of collaboration. Yakni, sharing kekuatan yang selalu dirawat agar tetap memiliki kemampuan mengembangkan nilai. Acuan ini dapat mengingatkan kita untuk memulai kesadaran baru berorganisasi lebih baik sehingga menghindari kenaifan. So, kegiatan kita memasilitasi kekuatan itu sehingga kita tidak kelihatan, menjadi demit. Inilah yang akhirnya perlu ditata untuk menentukan pilihan brand kita, Garuda. Karenanya redefine penggerak perlu untuk ditata dengan baik dan jelas. Dengan begitu apakah yang perlu kita jadikan kesadaran adalah kemampuan pengikat yang laten, bukan lips service, termasuk sembilan nilai Gusdurian tersebut.