Kampusdesa.or.id—Bagaimana masyarakat dapat berbagi ruang dalam menjalankan agama yang berbeda ditengah keragaman kepentingan upacara hari raya dua agama yang berdekatan. Bahkan nyaris satu agama ingin merayakan dengan gebyar, agama lainnya butuh ketenangan. Begitu sebaliknya. Dua kontradiksi dengan kebutuhan yang bertolak belakang. Jika berpikir ekstrem dengan dorongan laten masing-masing agama, situasi tersebut akan menimbulkan kepentingan yang melahirkan berdebatan dan keinginan untuk mendapatkan keistimewaan satu dengan lainnya. Kami harus unggul karena ini menjalankan perintah agama. Hari raya harus meriah dan siapapun tidak boleh melarang. Pada pihak lain, kami juga butuh kekhusuk’an agar ibadahnya sempurna. Dua pertentangan ini sangat potensial menjadi tarik-ulur kepentingan dan bisa menjadi konflik di masyarakat.
Jedong dengan warga yang beragam, yakni jumlah umat Hindu yang banyak, Kristiani, dan juga umat Muslim yang sudah merasa mayoritas, mereka mampu melampaui sekat kepentingan tersebut.
Jedong dengan warga yang beragam, yakni jumlah umat Hindu yang banyak, Kristiani, dan juga umat Muslim yang sudah merasa mayoritas, mereka mampu melampaui sekat kepentingan tersebut. Mereka berkumpul di rumah Kepala Desa Jedong, Wagir, Kabupaten Malang (Rabu, 28 Januari 2026) duduk bersama untuk memahami situasi tersebut dan memaknainya sebagai rasa tanggungjawab bersama. Bahwa dua kepentingan yang kontradiksi tersebut justru membutuhkan kedewasaan jalan keluar.
Siapa yang Harus Mengalah dalam Hidup Toleran
Al-kisah, di akhir ramadhan bagi umat muslim dan di awal Nyepi bagi umat Hindu adalah awal bincangnya. Di akhir ramadhan, umat muslim membutuhkan keramaian dengan tradisi takbiran dan speaker masjid nyaring sepanjang hari. Sementara di hari itu, umat Hindu sedang ibadah Nyepi yang membutuhkan ketenangan. Di waktu itu, umat muslim tentu sedang memeriahkan akhir puasa sebagai waktu bebas dan disebut sebagai kemenangan. Tentu sebagai mayoritas, mengendalikan takbiran menjadi rumit karena setiap orang sudah banyak mengikuti tradisi takbir keliling. Dentuman mercon merajalela, dan suara soundsystem menjadi semarak jelang idul fitri. Bagi umat Hindu yang butuh ketenangan sebagai waktu Nyepi menjadi dilematis. Sebuah cara sulit bagi masyarakat yang harus berbagi ruang sunyi dan ruang ramai, baik Hindu dan Muslim.
Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang
Bagi umat Hindu, mereka merayakan kirab ogoh-ogoh, yang ramai, membutuhkan musik terbuka di malam hari ketika umat muslim sedang membutuhkan kekhusukan ibadah puasa dan sholat tarawih. Ogoh-ogoh menjadi simbol bagi dunia kejahatan (Bhuta Kala) yang perlu ditunjukkan ke masyarakat. Perayaan publik ini di Jedong juga tidak bisa diindahkan dan sudah menjadi tontonan banyak orang. Meniadakan upacara ogoh-ogoh seperti mereduksi keyakinan dan agama menjadi tidak lengkap. Umat Hindu juga menghadapi dilema. Meniadakan upacara tidak mungkin, tapi merayakan berhadapan dengan dibutuhkannya etika menghormati kekhusukan ibadah puasa dan tarawih.
Siapa yang mengalah? Ternyata masing-masing perwakilan tokoh Muslim dan Hindu memiliki keputusan dan penghormatan sebagai jalan tengah dilema. Bagi umat Hindu, mereka mengambil sikap jalan tengah. Tidak meniadakan sama sekali kirab ogoh-ogoh. Salah satu tokoh umat Hindu menyampaikan, “kami merasa kebingungan, tetapi kami tetap mengupayakan adanya cara merayakan dan menghormati ibadah puasa umat muslim.” Ogoh-ogoh di bulan puasa (dua hari sebelum idul fitri) tetap kami lakukan tanpa soundsystem besar, tetapi menggunakan kentongan. Mereka hanya menggunakan soundsystem di jalur terakhir pemberhentian, yakni di lapangan, karena membutuhkan suara besar agar dapat menjangkau para peserta perayaan. Ada cara baru untuk menghormati umat muslim yang sedang khusu’ puasa.
Baca juga: Gathering Harmoni Lintas Suku dan Iman Digelar di Balewiyata
Bagi umat muslim, melalui tokoh agamanya menyampaikan untuk menghormati Nyepi. Salah satunya adalah mengondisikan agar takbiran dan speaker tempat ibadah dapat dikondisikan tidak mengganggu. Mereka mengordinasikan mushola dan masjid menurunkan suara speaker (speaker dalam) dan menata agar jalur takbiran tidak melintasi jalur umum (saat lewat speaker takbiran dimatikan) di Jedong. Bagi tokoh muslim, mereka perlu menghargai dan menghormati perayaan Nyepi (ogoh-ogoh dan hari nyepi-berdiam di rumah) menjadi perhatian penting .
Mengimajinasikan Toleransi Beragama
Kehadiran identitas agama lain di sekumpulan kehidupan masyarakat yang berbeda memerlukan cara pandang orang lain. Penghilatan kehadiran kelompok agama yang berbeda meniscayakan adanya cara pandang kedalam dan keluar. Kedalam membutuhkan pelayanan ego kolektif dalam menunjukkan kehadiran entitas agama sendiri yang tidak bisa dipungkiri telah ada sebagai tradisi perayaan. Sebuah konsekuensi kepuasan kolektif, namun ketika entitas lain juga kentara besar, maka memandang kehadiran entitas lain membutuhkan penerimaan eksternal. Ketika cara pandang tersebut mendorong keterbukaan, maka meniadakan entitas kelompok lain menjadi beban komunitas agar tidak terjadi persilangan konflik. Sebentuk cara pandang keluar menjadi bagian dari pengertian terbuka. Di sinilah bahwa menerima kelompok lain yang mengada dalam sebuah desa mendorong perlunya menerima pengakuan kehadirannya untuk menghindari konflik yang saya sebut sebagai pedulinya the others perspective.
Ketika cara pandang tersebut mendorong keterbukaan, maka meniadakan entitas kelompok lain menjadi beban komunitas agar tidak terjadi persilangan konflik.
Dalam pada itu, perdamaian lebih diutamakan daripada memaksakan sentimen agama dan kepuasan terhadap perayaan hari raya masing-masing agama. Pada kenyataannya, ketika para tokoh di Jedong masing-masing berkehendak melihat kehadiran kelompok lain yang tidak bisa diabaikan, maka kepentingan kelangsungan kerukunan sebuah desa mampu mengerem (mengendalikan) sentimen dan kepuasan ego kelompok agama. Artinya, kepentingan menjaga perdamaian yang lebih besar sebagai nilai menghindari konflik yang berarti, para tokoh agama merasa penting mengelola sharing ruang publik keagamaan. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dalam mengembangkan kesepakatan masa depan. Mereka kemudian menekan agar ekspresi keagamaan minimal dapat dikurangi dan bahkan disharingkan demi mencapai pembagian kenyamanan bersama, meskipun tidak sepenuhnya memenuhi kepentingan utuh keberagamaannya.
Baca juga: Perempuan dan Kerja Toleransi
Toleransi Beragama; Mengedepankan Cara Bijaksana
Menjaga konflik yang berarti menjadi perhatian dan mereka mengedepankan cara bijaksana. Salah seorang dari mereka mengatakan, jika ada umat mereka ternyata dianggap mengganggu, maka jangan menegur mereka yang berpotensi menimbulkan ketersinggungan. Biarlah tokoh agama sendiri yang mewakili menegur mereka dengan bahasa moral keagamaannya. Ini menunjukkan bahwa cara bijaksana adalah media yang penting dalam menjaga imajinasi toleransi beragama. Upaya menciptakan konflik harus diwaspadai dan moralitas yang melahirkan stimulus konflik perlu dikelola oleh kelompok agama masing-masing.
Nyepi ini tentang kami yang harus mampu mengendalikan diri. Keluasan Nyepi terletak pada kekhusu’an untuk benar-benar sepi dari segala ego diri.
Bahkan bagi mereka, jika memang itu tidak bisa dipenuhi dan masih ada riak dan keramaian di ruang publik, mereka lebih mengutamakan kebijaksanaan diri. Seorang pemuka Hindu mengatakan, bahwa Nyepi sebenarnya bukan tentang mengatur dan mengarahkan orang lain untuk menghormati, apalagi mengistimewakan pengharapan penghargaan atas ibadah Nyepi. Ibarat seorang muslim yang berpuasa, tetapi memaksa orang lain untuk mati-matian menghormati puasanya. Mereka mengatakan, bahwa Nyepi ini tentang kami yang harus mampu mengendalikan diri. Keluasan Nyepi terletak pada kekhusu’an untuk benar-benar sepi dari segala ego diri. Oleh karena itu, mereka akan kembali kepada benar-benar totalitas untuk tidak tergantu oleh gangguan keramaian. Toleransi beragama menempatkan kesadaran diri sebagai kunci damai.



