Cerdas Berselancar, Cerdas Membangun Konten Positif di Era Digital

0
100

0Shares
0

Karena kurangnya ketelitian para penguna media sosial, informasi baik itu buruk ataupun baik menjadi hal yang sangat samar, memiliki perbedaan yang tipis dan pada akhirnya mudah menjerumuskan penikmat digital. Mereka menganggap bahwa mereka akan dapat dengan mudah menyembunyikan diri mereka ketika informasi yang telah mereka buat adalah kebohongan (hoax) belaka.

Malang, KampusDesa.or.id–Menanggapi dunia digital yang kini kian membentuk aneka pengetahuan setiap orang tak dipungkiri media online terkadang juga menyesatkan. Oleh karena itu dibutuhkan literasi media sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik. Dari sinilah berbagai penggerak media tulis berbasis daring (online) mengikuti workshop dan forum group discussion (FGD) pada Senin, 8 Oktober 2018 di ruang sidang Jurusan Hubungan Internasional Fisipol Universitas Brawijaya Malang.

Dua puluh enam pemuda yang tergerak hatinya untuk melek digital, berbeda dengan generasi 80-an, kini generasi Y dan Z sudah mulai menggemparkan dengan berbagai karya, terutama tulisan. Tulisan memiliki andil terbesar bagi melek pengetahuan. Kebanyakan yang kita makan saat ini, terutama makanan pengetahuan di dunia internet, adalah konten-konten negatif dan sangat mudah jari seseorang memproduksinya. Ini mungkin yang menjadi sebab tanganmu kini lebih tajam dari mulutmu. Hal fenomenal terjadi. Ada orang yang telah berusaha bekerja baik, namun dinilai negatif oleh pembaca. Padahal sudah melayani dengan sepenuh hati namun dipandang setengah hati.

Sistem informasi di negara kita bisa dikatakan kurang adanya pembatasan. Sehingga yang terjadi banyak informasi negatif dibandingkan dengan informasi yang positif. Dunia pikiran kita tidak jauh dari kata “Hoax”. Bisa dilihat dari tayangan televisi saat ini yang jarang sekali informasi edukatif lagi. Paling tenar adalah gosip apalagi mengenai artis pendatang baru di kancah politik dan sebagainnya, apalagi anak-anak tidak begitu banyak mendapatkan informasi mendidik dari media televisi. Lebih canggih lagi, generasi anak muda harapan bangsa telah disuapi oleh informasi instan yang entah dari mana kejelasan dan kebenarannya.

Apalagi jika sudah memegang telepon pintar. Apa yang kita inginkan dapat kita peroleh hanya dengan satu kali sentuh. Semakin dipermudah dengan keajaiban-keajaiban dunia digital hingga informasi salah dan benar tidak lagi diindahkan. Yang terpenting adalah pengguna merasa nyaman dan senang. Tentunya dari berbagai media saat ini yang perlu kita pelajari.

Di samping itu, kemajuan media-media juga memberikan dampak-dampak tersendiri bagi pengguna, ada dua penggolongan media yaitu media mainstream dan media indie. dalam media mainstream ini literasi kurang ditegakkan paling banyak adalah membahas masalah bisnis. Sedangkan dalam media indie yang paling populer adalah media sosial (medsos). Melalui medsos inilah kita mendapat jutaan informasi dengan mudah baik itu benar maupun salah.

Medsos sudah berkembang secara hebat dan cepat pada tahun-tahun ini. Bahkan hampir semua penduduk di belahan dunia ini menggunakan medsos sebagai media komunikasi dan informasi secara lebih cepat dan ringan. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah penggunaan yang kurang tepat dan sesuai yang pada akhirnya menyumbangkan kebobrokan intelektual pemuda penerus bangsa.

Ada pesan singkat yang disampakan oleh pemateri workshop dan FGD pertama Yatimul Ainun, mengenai polarisasi gerakan mainstream di dunia digital. Jika jejak kita di medsos negatif, maka positifkan. Jika memiliki jejak positif, maka tingkatkan. Namun jika tidak ada jejak yang dapat ditapaki, maka buatlah jejak dari sekarang dengan memposting hal-hal yang baik. Karena jejak digital kita akan tercatat sampai kapanpun dan mempengaruhi track record kita.

Sedangkan di materi selanjutnya saya dipahamkan oleh Husein Asy’ari dengan tema social network analysis dalam jejaring digital. Saat ini peminat media sosial sangat padat dan meluas. Kita menjadi semakin mudah untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang kita inginkan, baik itu berupa barang dan jasa. Lebih kepada masalah informan yang ingin memiliki banyak jaringan, misalkan saja salah satu media yang menginginkan medianya dapat menjadi media dakwah yang dikenal oleh banyak orang yang informasi, sumber, sanad, isi, serta perowinya bisa dikatakan jelas dan terpercaya. Namun tidak banyak yang tertarik untuk sekedar melihat atau mengomentarinya, lebih banyak sekarang orang lebih menyukai informasi yang menguntungkan mereka dibandingan dengan informasi yang mempersulit mereka untuk memahaminya. Hal inilah yang menjadi pemicu timbulnya berita tanpa tahu kebenarannya (hoax).

Mengenai berita hoax yang menjadi informasi yang selalu meresahkan bagi semua orang, ada media yang telah berusaha untuk secara maksimal memberikan informasi yang sesuai dengan kebenarannya namun karena banyaknya pemahaman yang kurang teliti. Sehingga kebenaran yang telah tertulisakan menjadi keraguan yang meresahkan pembaca, yang pada akhirnya dari sinilah momen-momen kerusakan informasi itu terjadi.

Selanjutnya, Amrin Hakim dengan tema desain dan pengembangan artificial intellegence dalam jenjang digital tidak melepas pembicaraan dari hancurnya generasi karena ulah sendiri di dunia digital. Perlu adanya benteng yang kuat dalam diri dan pengetahuan yang luas untuk menyetir informasi-informasi yang ada, demi meluruskan generasi good character. Hal inilah yang menjadi perhatian penting bagi para pengguna media sosial. Ketika kita telah masuk dunia digital, orang lain akan dengan mudah mencari informasi tentang kita.

Maka benar apa yang dipesankan oleh pemateri pertama untuk membuat jejak positif dalam dunia digital. Namun karena kurangnya ketelitian para penguna media sosial, informasi baik itu buruk ataupun baik menjadi hal yang sangat samar, memiliki perbedaan yang tipis dan pada akhirnya mudah menjerumuskan penikmat digital. Mereka menganggap bahwa mereka akan dapat dengan mudah menyembunyikan diri mereka ketika informasi yang telah mereka buat adalah kebohongan belaka.

Untuk menghindari hal inilah generasi yang telah sadar akan dampak-dampak negatif dunia digital menerbitkan sumber baru yang bisa kita sebut dengan artificial intellegence. Semua informasi mengenai orang lain dapat kita peroleh dengan mudah, cepat dan detail. Artificial intellegence ini juga dapat memberikan analisis dan monitoring data secara detail selama orang yang ingin kita cari aktif di internet, mencari kebenaran informasi akan jauh lebih mudah dan teliti. Melawan hoax tidak harus dengan mengkonter hoax, namun ada banyak macam cara yang dapat kita lakukan salah satunya adalah sedikit demi sedikit untuk menonaktifkan medsos agar terhindar dari penyebaran hoax.