Buya Syafii: Sosok Negarawan Kosmopolitan

0
125
Buya Syafi'i (Sumber: https://www.suratkabar.id)

0Shares
0

Buya Syafii merupakan sosok negarawan yang otentik, produktif, dan langka. Buya menjadi contoh bagi generasi muda bagaimana menjaga pandangan kosmopolitan dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Kritiknya yang blak-blakan, pedas, dan tajam kerap membuat telinga pihak yang tersinggung kepanasan. Meski begitu, ia tetap kukuh di jalan kebenaran yang ia yakini. Di usianya yang ke-85 tahun ini, Buya tetap konsisten kritis dan produktif melahirkan gagasan-gagasan jernih. Sikap inilah yang harus diteledani generasi masa kini.

Kampusdesa.or.id-Nama Ahmad Syafii Maarif tentu tidak asing di telinga bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, terutama warga persyarikatan Muhammadiyah. Mantan ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005 ini merupakan sosok negarawan yang selalu ditunggu buah pikirannya. Sosoknya yang sederhana, namun begitu lugas saat melancarkan kritik terhadap fenomena sosial kebangsaan, mencerminkan kedalaman sekaligus keluasan pengetahuannya. Bahkan tak jarang kelugasan kritiknya yang seolah tanpa beban, kerap membuat panas telinga beberapa kalangan. Meski begitu, Buya Syafii─begitu sapaan karibnya─tetap konsisten dengan sikap kritisnya.

“Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafi’i di atas menara mercusuar, sehingga bisa mengamati berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya.”

Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafii di atas menara mercusuar, sehingga bisa memandang berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya. Buya sering juga tidak ragu mengambil sikap yang tidak populer. Bahkan, cenderung kontroversial. Misalnya pada 2016 silam saat ia menyatakan pembelaannya kepada Ahok yang kala itu divonis menistakan agama Islam berdasarkan fatwa MUI. Berikut pernyataannya:

“Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama sehingga harus diproses hukum, semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggungjawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, shahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang.”

Ia lalu mengutip penggalan pidato Ahok, “Kan bisa aja dalam hati kecil Bapak dan Ibu ga bisa milih saya, karena dibohongin pakai Surat al-Maidah aat 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak/Ibu ya.” Menurut Buya Syafi’i, hanya otak sakit saja yang berkesimpulan bahwa pernyataan ini mengandung penghinaan terhadap al-Qur’an. Menurutnya, yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

Baca Juga:

Salafi Merajalela, Di Mana NU dan Muhammadiyah?

Akibat kritik pedasnya ini, beragam kritik bahkan hujatan pun ia tuai dari berbagai kalangan, bahkan tokoh-tokoh Islam sendiri. Meski demikian, Buya bergeming, ia tetap konsisten dengan sikapnya. Misalnya lagi, kritik pedasnya terhadap puisi Neno Warisma di awal 2019 lalu yang disebutnya biadab, kritik terhadap mekanisme perubahan UU KPK, dan juga kritik terhadap MUI Jawa Timur yang mengimbau masyarakat supaya tidak mengucapkan salam pembuka agama lain dalam forum resmi.

Dari konsistensi atas sikapnya yang kritis dan tanpa tedeng aling-aling itu, kita bisa melihat bahwa Buya Syafii telah menanam dalam-dalam ego sektoralnya. Ia tak lagi takut dihujat atua tidak populer. Baginya urusan dirinya telah selesai, yang terpenting adalah bangsa dan negara. Menurutnya hal demikian ini belum banyak dimiliki oleh politisi tanah air. Kebanyakan dari mereka, menurut Buya, belum lulus menjadi negarawan. Sehingga, yang dipentingkan hanya urusan diri dan kelompok mereka sendiri.

“Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.”

Kritik-kritik Buya tak lahir dari ruang hampa, tapi dari hasil analisis dan sintesis serta perenungan mendalam berlandaskan pengetahuannya yang dalam dan luas. Pengalamannya yang panjang telah mengantarkan ia pada sikap beragama, berbangsa, dan bernegara yang kosmopolitan. Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.

Keutuhan bangsa dan negara ini akan tetap lestari manakala semua anak bangsa memiliki pengetahuan yang luas dan mampu berpandangan kosmopolitan. Pandangan ini tak lagi mendiskriminasi dan mengkotak-kotakkan manusia atau dalam hal ini warga negara berdasarkan identitas kulturalnya. Ia memposisikan semua warga negara sama terlepas apapun suku, agama, ras, dan golongannya. Orang dengan pandangan demikian ini, tak ragu untuk membela kaum minoritas, sekalipun ia akan menuai kecaman dari kaum minoritas.

Gus Dur dapat kita jadikan contoh yang baik dalam hal ini. Gus Dur dalam catatan sejarah perjuangannya telah berhasil memandang manusia sebagai manusia. Ia tidak ragu membela siapa saja yang menjadi korban ketidakadilan, sekalipun itu kelompok minoritas, bahkan orang yang memusuhinya. Lihat saja bagaimana Gus Dur membela etnis Tionghoa ketika mendaptkan persekusi, Inul Daratista ketika wal kemunculannya dikritik tajam oleh banyak kalangan. Pembelaan Gus Dur terhadap mereka melitasi sekat-sekat sosial kultural yang kerap membelenggu kita.

Kini, Buya telah menginjak usia 85 tahun. Sebuah usia yang tentu tak lagi muda. Namun demikian, gagasan-gagasan segar lagi jernih masih produktif keluar darinya. Generasi muda bangsa ini harus belajar banyak kepadanya. Terutama dalam hal produktivitas berkarya dan membangun cara pandang serta berpikir yang kosmopolitan. Generasi muda harus tumbuh menjadi manusia yang berpengatahuan luas, tidak kagetan, dan mampu berpikir jernih di tengah situasi yang karut marut sekalipun.

Sanah hilwah Buya, semoga panjang umur, sehat, dan tetap istikamah momong bangsa kita ini.