Tak Seiman, Tapi Sejalan; Perjalanan Psikologis Gusdurian

1
464

0Shares
0

Menggerakkan komunitas toleransi dan perdamaian tanpa basis proyek akan banyak tantangan. Selain itu, proses perubahan menjadi pemuda toleran dan penggerak perdamaian membutuhkan pergeseran psikologis. Ruang itu mampu ditempa oleh beberapa sosok pemuda dan diperlancar wadahnya melalui Gusdurian. Gerakan Gusdurian yang berbasis nilai merupakan bagian dari Gerakan Sosial Baru berbasis nilai yang lebih otentik. Seluruhnya digerakkan berdasarkan motivasi otonom dan merdeka. Siapapun akan sulit mengintervensi, apalagi untuk kepentingan politik. Buku ini menjawab formula tersebut. Beli ya untuk mengapresiasi semangat otonomi tersebut?

Kampusdesa–Sejak menerbitkan buku pertama, Saiful Is Me: Berpikir Merdeka (Jagakarsa Media, 2014) penulis berniat ingin membuat buku dengan satu tema. Namun ada banyak hal yang mendorong penulis untuk tidak lekas membuat buku tersebut.

Judul : Tak Seiman, Tapi Sejalan; Perjalanan Psikologis Gusdurian
Penulis : Saiful Haq
Tebal : 131 hlm; 13 x 19 cm
Tahun terbit : Desember, 2018
Hak cipta dilindungi undang-undang
Copyright © Yayasan Sabiqulhaq Nursyarifa, 2018<

Efek dominonya adalah kesenangan penulis membuat tulisan pendek; sekitar satu-dua halaman, ditulis dalam sekali duduk dan hanya butuh waktu kurang-lebih 45 menit.

Tidak terasa, fokus penulis beralih ke beberapa naskah buku yang tersimpan manja pada notebook. Setelah menumpahkan keluh resah tentang rumitnya dimabuk asmara ke dalam ‘Diam-Diam Suka, Diam-Diam Terluka’ (Nulis Buku, 2015), penulis pun mulai fokus menyelesaikan skripsi, sekaligus menjadi cikal-bakal buku impian.

Skripsi dengan metode kualitatif membuat naskah awal buku terlihat lebih mudah, daripada menarasikan angka-angka kuantitatif.

Durasi penelitian hingga mengantarkan saya menjadi sarjana, tidaklah lama. Namun sesuatu yang kadang simpel, tidak sesimpel itu, Ferguso! Layaknya mie instan yang ternyata tidak instan, butuh dua tahun agar mimpi itu terwujud.

Singkatnya, setelah melewati jutaan debat cebong-kampret dan pindahan dari Malang ke Jakarta, buku tersebut terbit dengan judul ‘Tak Seiman, Tapi Sejalan’.

Baca juga : Tentang Dua Orang Pegiat Gusdurian dari Jendela Sosiologi

Proses kreatif buku ini sangat mumetly (istilah sangat mumet, seperti lovely artinya sangat cinta), penulis mencoba membuat sesuatu yang beda. Mulai otak-atik gaya bahasa dari ilmiah ke bahasa populer, memperhatikan diksi agar mudah dipahami, hingga berpindah penerbitan karena beberapa hal tidak menemukan titik kompromi (percayalah, karena buku ini penulis memiliki penerbitan sendiri). Abang lelah, dek.

‘Tak Seiman, Tapi Sejalan’ bagi penulis adalah sesuatu yang spesial. Sebagai orang yang lebih suka beropini dan membahas keislaman, ‘Tak Seiman, Tapi Sejalan’ menjadi ruang bagi penulis untuk sedikit berbagi ilmu psikologi, berpijak pada analisis ilmiah dan membebaskan naskah akademik ke khalayak unch-unch.


Baiklah, inti dari basa-basi ini adalah buku ‘Tak Seiman, Tapi Sejalan’ bisa kamu pesan lewat pre-order, seharga 50.000 dapat 1 eksemplar, artinya 100.000 dapat 2 eksemplar. Pemesanan lewat WhatsApp/SMS (085-233-667-714) dengan format: Nama, alamat lengkap dan jumlah pemesanan.


Membeli buku ini sama artinya menambah kemandirian ekonomi perantau.

Peluk dan cium basah,

Endorsement para tokoh

Buku yang ada di tangan pembaca ini mengangkat titik berangkat yang berbeda tentang perspektif perdamaian yang kemudian diwarnai oleh dinamika yang sama yaitu komunitas Gusdurian. Selama ini kita tidak pernah menelaah dari sisi personal Gusdurian, namun hanya melihat sebagai suatu gerakan kelompok, pemahaman yang saya dapat dari membaca buku ini. Salah satunya, pemahaman yang saya dapat bahwa sembilan nilai utama Gus Dur benar-benar menjadi poros pemahaman maupun gerakan, Alissa Wahid, Putri Pertama KH. Abdurrahman Wahid & Koordinator Gusdurian Nasional

Buku Tak Seiman, Tapi Sejalan merupakan rekaman di luar kelas yang dipahami secara metodologis mengenai dinamika psikologis mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang mempromosikan toleransi untuk mendapatkan pengalaman nyata hidup dalam harmoni perbedaan, Mohammad Mahpur, Dosen Psikologi Sosial UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Inisiator Gusdurian Malang 2010

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here