Realita Sekolah Online dalam Masa Social Distancing

0
1436
Belajar dari rumah

0Shares
0

Pandemi Virus Corona (Covid-19) berdampak pada sistem belajar di sekolah. Siap atau tidak, bisa atau tidak, pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan online. Ini seperti pukulan telak semua harus berubah, jika tidak berubah, maka akan terjadi kekacauan. Sahdan, habitus pendidikan bertransformasi tanpa tawar memasuki dunia baru. Pembelajaran daring. Sepertinya ini pelajaran penting sebuah perubahan pendidikan bisa langsung melonjak, entah dengan kesiapan karena memang sudah biasa, atau tergopoh-gopoh harus menyesuaikan. Bagaimana kalau peristiwa ini terjadi untuk perubahan yang substansial di pendidikan kita?

Kampusdesa.or.id–Selama menjalani social distancing ikhtiar melakukan tindakan preventif penyebaran wabah Covid-19 hampir seminggu ini dunia pendidikan sibuk melaksanakan sekolah online (daring). Semua materi pelajaran disampaikan secara online.

Kalau hari belajarnya sepekan, maka peserta didik akan online selama sepekan pula. Jika jam belajar mulai jam 07.00 dan berakhir jam 13.00 maka bisa jadi mereka mengintai tempat belajarnya di android mereka selama itu pula.

Jika mereka memiliki saudara yang sama-sama belajar online dengan durasi belajar yang sama maka tinggal mengalikan kebutuhan kuota internet sebanyak penggunanya. Bagaimana dengan perangkat digital (android) ini penggunaannya join dengan anggota keluarganya? Berapa kali lipat paketan data yang dibutuhkan?

Apakah orang tua akan ambyar memikirkan kebutuhan tersebut? Belum tentu. Mereka bisa jadi berpikir ini hanya sekedar konversi dari uang saku dan uang transport menuju sekolah menjadi pembelian paketan data internet. Selesai masalah.

Tapi bagi orang tua yang tidak bisa memikirkan hal ini karena memang uang saku anak minim dan tidak ada uang transport karena sekolah jaraknya dekat, bagaimana? Apalagi masa WFH tidak hanya dimaknai sebagai work from home, tapi juga work for home. Apakah denyut ekonomi keluarga mereka baik-baik saja?

Pada cyberschool (sekolah non-formal melalui jaringan internet) yang pernah saya ketahui mereka cuma belajar 2 jam dalam 5 hari. Mereka yang belajar di cyberschool rata-rata dari kalangan menengah ekonomi ke atas juga. Nah, saat ini kalangan ekonomi menengah ke atas dan ke bawah masuk kepada sistem cyberschool ini. Cyberschool sebagai bentuk homeschooling yang masuk ranah pendidikan non-formal tidak masalah dengan belajar tatap muka tidak 100% karena memang dibolehkan melakukan model pembelajaran maksimal 50% belajar mandiri, minimal 20% tatap muka, dan minimal 30% tutorial (Permendiknas No 3 tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan).

Tetapi, sekolah formal seminggu penuh harus belajar tatap muka yang saat ini dialihkan ke tatap muka dalam jaringan internet. Kebutuhan biaya tiap peserta didik untuk membeli paketan data internet pasti lebih besar. Saya bisa menyimpulkan begini, sedikit banyak sudah menyaksikan keluhan orang tua tentang kebutuhan biaya sekolah dari rumah ini. Apakah mereka akan menyelesaikan tugas belajarnya melalui warnet-warnet terdekat? Tidak bolehkan? Kita masyarakat Indonesia dalam masa ‘wajib di rumah’.

WFH yang memaknai sebagai Work From Home saya kira hanya dilakukan oleh para pejabat, pemodal, pebisnis besar, dan semua pelaku usaha dalam volume pendapatan yang luar biasa besarnya. Bagaimana jika WFH ini bermakna Work For Home, mereka bekerja untuk menyambung hidup

Masa social distancing dan/atau di rumah saja ini tidak mudah dijalani oleh semua warga. WFH yang memaknai sebagai Work From Home saya kira hanya dilakukan oleh para pejabat, pemodal, pebisnis besar, dan semua pelaku usaha dalam volume pendapatan yang luar biasa besarnya. Bagaimana jika WFH ini bermakna Work For Home, mereka bekerja untuk menyambung hidup, volume pendapatan mereka perlu berjumpa dengan pelaku usaha dan pasar yang kini sedang dalam masa di rumah saja, prediksi kita perputaran uang mereka terganggu jugakan? Lalu, di antara mereka memiliki anak-anak yang harus menjalani sekolah online yang perlu biaya dan perangkat digital untuk mengakses materi pelajaran sekolah.

Saatnya sekolah menunjukkan simpatinya pada kondisi ini. Saatnya pula guru mengeluarkan semua kecerdasan dan kearifannya untuk membuat proses pembelajaran pelajaran yang mereka ampu dengan cara murah diakses, mudah dipelajari, enjoy diterima dan menjadi pengalaman berharga bagi peserta didik.

Idealitas pemenuhan target belajar sesuai kurikulum tetap diperhatikan, tinggal bagaimana guru menyampaikan kepada peserta didik. Saya kira guru hebat masa seperti ini adalah guru yang bisa menyampaikan pelajaran kepada peserta didik tidak menimbulkan beban stres karena semua guru mereka menugasi project dan tugas rumah.

Saatnya guru memperlakukan belajar dari rumah ini dapat memaksimalkan semua media dan sumber belajar digital. Sumber belajar dari media digital pun seyogyanya tidak memunculkan cost belanja paketan data internet lagi. Cukuplah aplikasi apa yang dimiliki peserta didik itulah yang dimaksimalkan pemanfaatannya. Masih ada peserta didik yang keberatan dengan memasang aplikasi anjuran gurunya untuk mengakses materi pelajaran selama masa social distancing ini.

Saatnya meninggalkan sejenak apa itu worksheet atau lembar kerja siswa, buku cetakan pegangan siswa dan lain-lain. Guru beralih metode dengan penyampaian belajar dengan video, adopsi materi belajar dari YouTube, menyusun konten belajar yang dapat diakses menarik dan menyenangkan bagi peserta didiknya dalam belajar secara online.

O ya, baru-baru ini KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sudah menerima pengaduan orang tua berupa keluhan tugas guru yang banyak diberikan kepada anak-nak mereka (Tempo.co/18 Maret 2020). Kalau kita sebagai guru tidak suka hal yang monoton dan tak menarik, mengapa kita menyajikan materi pelajaran masih konvensional kepada peserta didik kita.

Semoga kita mampu bertransformasi dari mengajar hanya menulis di papan tulis dan memberi tugas di buku pegangan siswa, menuju mengajar tanpa papan tulis.

Jika mereka menaruh harapan besar akan keberhasilan masa depan mereka kepada kita, berarti mereka yakin kalau kita mampu melakukan itu. Semoga kita mampu bertransformasi dari mengajar hanya menulis di papan tulis dan memberi tugas di buku pegangan siswa, menuju mengajar tanpa papan tulis, mengajak peserta didik berselancar di YouTube, dan aplikasi digital yang dimiliki peserta didik.

Selamat menikmati merdeka belajar yang sesungguhnya!