Senin, Januari 5, 2026
spot_img
BerandaBerita InspiratifKampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Kampusdesa.or.id–Kumandang adzan maghrib baru saja berlalu. Heri Kuswandi (62) bergegas menuju sebuah bangunan gedung di dekat rumahnya. Mesin jahit ‘jadul’ (tenaga pancal) di rumahnya, diusungnya ke gedung pertemuan. Tak lama berselang 15 warga lainnya datang menyusul. Mereka adalah warga RT 02/RW 03 Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Sekitar dua minggu, mereka bergotong royong menyiapkan perayaan Natal Oikumene. Natal bersama warga Kristiani. Warga RT tercatat 102 KK, dengan warga Kristiani (Katolik dan Kristen) sejumlah 16 KK. Namun perayaan Natal menjadi ‘gawe’ segenap warga. Bagaimana bisa 16 KK beragama Kristiani dapat didukung oleh KK yang lainnya. Kampung bhinneka bukanlah mitos. Nyata ada di Kota Malang.

“Tahun ini menjadi perayaan Natal Oikumene kedua kami. Perayaan ini dihadiri semua warga RT. Berhubung perayaan Natal memerlukan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, maka warga RT memutuskan dalam rapat warga bahwa kegiatan keagamaan harus masuk agenda RT, sebagaimana Agustusan yang juga dibiayai RT. Warga mengambil kesepakatan bahwa baik kegiatan Idul Fitri, Natal, dan Maulid, maka RT harus membiayai semuanya dan semua warga terlibat dalam kerja bakti untuk kegiatan tersebut.” Begitulah Ketua RT 02 Imam Kuswoyo (62) menyampaikan keputusannya pada warga, saat menceritakan perayaan Natal yang para warga tanpa kecuali turut menghadirinya.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Salah seorang warga Heri Kuswandi juga menuturkan, “usai pulang kerja di jasa kurir, setiap sore sekira 10-15 warga terlibat kerja bakti di gedung pertemuan.” Kerja bakti warga mereka lakukan sejak pertengahan Desember, mereka datang silih berganti. Sebuah gedung kosong yang diijinkan oleh pemiliknya dipakai untuk kegiatan warga, ‘disulap’ warga menjadi gedung pertemuan.

Natal Tidak Hanya Milik Umat Kristiani

Heri menjahit kain penutup meja. Imam Kuswoyo dan warga pria lainnya mengecat dinding, membuat dekor, mengecat dan memperbaiki kursi yang rusak dan membuat meja tempat makan, menyiapkan panggung, ada pula yang membuat kandang Natal. Sementara itu, para ibu bergantian menyiapkan minuman teh, kopi, dan kudapan ringan. Mereka ikhlas memberi dari yang mereka miliki. Ketika H-7, gedung yang sehari-hari nampak kosong itu, kian ramai. Para ibu mulai berlatih bersama, mempersiapkan diri sebagai pengisi acara.

Kampung terasa begitu bergairah. Perayaan Natal Oikumene di RT 02/RW 03 kelurahan Bandulan itu, berlangsung semarak (28/12). “Puji syukur, perayaan Natal berlangsung lancar. Banyak berkah berlimpah. Sajian 200 kotak kue, merupakan sumbangan ibu-ibu jamaah tahlil,” ujar Imam, umat Gereja Katolik St. Vincentius a Paulo, Malang.

“Pada hari H, para ibu memasak hidangan di kediaman kami, seperti capcay, fuyunghai, sate bakmi goreng, acar, goreng kerupuk. Sementara bapak-bapaknya menyiapkan perlengkapan di lokasi perayaan,” begitu Maria Kristiani, Ketua PKK RT 02/RW 03, sapaan akrab Bu Anik Imam, melengkapi cerita di balik persiapan Natal.

Baca juga: Patuwen Kopi, Setetes Tinta Sejarah dalam Festival Kopi 2025 GKJW

Perayaan dihadiri sekitar 200-an orang, baik dari warga setempat maupun undangan. “Kami juga mengundang semua Ketua RT di RW 03, pengurus RW, perwakilan dari kelurahan dan perwakilan dari gereja masing-masing warga kristian. Di samping itu, hadir pula Komunitas lintas agama Bandulan Bersatu (Kober). Rm. Petrus Maria Handoko, CM selaku pimpinan Gereja Katolik Paroki St. Vincentius a Paulo juga menyempatkan waktu untuk hadir,” tutur Imam dengan sorot matanya berbinar. “Kami bersyukur bahwa sukacita Natal ini bisa dirasakan oleh banyak pihak. Kerukunan dan saling menghargai tak hanya saat kegiatan perayaan. Warga di sini, punya kebiasaan berkunjung ke rumah warga kristiani saat Natal. Nanti kalau pas Idul Fitri, gantian, warga kristiani yang keliling mengunjungi warga Muslim, menyampaikan selamat,” tuturnya lagi.

Usai gawe perayaan Natal Oikumene, mereka tenggelam lagi dalam kesibukan menyambut malam pergantian tahun baru. Mereka seperti ingin memeluk erat hangatnya kebersamaan itu. Warga setempat telah menemukan kunci hidup bahagia. Yakni, dengan membuat sesamanya berbahagia.

Kampung Bhinneka itu nyata adanya.

Trianom Suryandharu
Trianom Suryandharu
Senior aktifis Gusdurian Malang, Pendamping gerakan ekonomi kerakyatan, tinggal di Malang.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments