Indonesia Terserah, Pilu Sang Perawat

1
135
Indonesia Terserah
Sumber Gambar: harapanrakyat.com

0Shares
0

Bekerja sebagai perawat yang berjuang melawan Covid-19 menjadi pupus harapan setelah berbagai perubahan baru kebijakan di rumah saja seperti dihujami meriam setelah sejumlah transfortasi publik, seperti penerbangan dan darat di buka. Eskalasi gerak manusia mulai menggelembung, kerumunan mulai nampak. Peristiwa ini menampar perjuangan dan keputusasaan para petugas medis, salah satunya adalah perawat. #IndonesiaTerserah

Kampusdesa.or.id–Belum padam rasa jengkel netizen terhadap Youtuber Sampah yang kini meringkuk di balik jeruji besi, kini warga +62 kembali digegerkan tentang pasangan selebgram gila, sebut saja inisialnya UTAP dan INDIRA. Meskipun kedua pasangan selebgram gila itu telah meminta maaf. Namun luka yang tergores telah menganga, tak dapat disembuhkan dengan hanya kata maaf.

Kini, kembali Indonesia tercengang, luka di hati masih basah, akibat dibukanya kembali Bandara. Seolah perjuangan kami sebagai garda terdepan tak dihargai sama sekali, tak dipandang sebagai jiwa Pancasilais sebagai garda terdepan, andai seluruh Perawat di Indonesia resign karena corona. Dokter pun tak dapat memberikan advice medisnya, bisa dibilang mati kutu.

Bahkan, beberapa rekan sejawat kami yang bekerja di Rumah Sakit Swasta, ada yang dirumahkan tanpa pesangon dan biaya lainnya.

Sebab, rumah sakit adalah rumahnya Perawat. Namun, tetap saja bila ada komplainan dari pasien atau pengunjung rumah sakit, yang kena dampaknya kami, Perawat. Bahkan, beberapa rekan sejawat kami yang bekerja di Rumah Sakit Swasta, ada yang dirumahkan tanpa pesangon dan biaya lainnya. Pun nasib kami yang bekerja di pembangunan pemerintah, masih ada beberapa bulan ke belakang yang belum dibayarkan.

Sungguh teriris sekali hati ini mengingat Indonesia saat ini, tak dapat diprediksi bagaimana kedepan. Tak terbayangkan bagaimana pusingnya menjadi ‘Pembantu Rakyat Indonesia’ atau ‘Budak Rakyat Indonesia’, kami pun sebagai rakyat jelata tak mampu menemukan ‘benang merah’ untuk Negeri ini. Tetapi, kami masih punya doa. Doa pada Sang Khalik yang menjadi tempat berkeluh kesah dan berserah.

Cukup percaya bahwa, bumi pun enggan membiarkan orang-orang yang bertindak semena-mena tetap hidup, terlebih tanah yang muak untuk menerima jasad mereka.

Jadi biarlah rasa sakit ini dirasakan sendiri-sendiri dengan cara yang berbeda, toh Allah Maha Melihat dan Mendengar, biarlah ‘tangan-tangan’ Allah yang bekerja untuk memberikan balasan pada mereka yang masih membangkang. Kami cukup percaya bahwa, bumi pun enggan membiarkan orang-orang yang bertindak semena-mena tetap hidup, terlebih tanah yang muak untuk menerima jasad mereka.

#IndonesiaTerserah

1 KOMENTAR

Comments are closed.