Berorganisasi Tanpa Kenali Aset, Seperti Tong Kosong Nyaring Bunyinya

0
471
Mohammad Mahpur. Wakil Sekretaris PCNU Kota Malang, dalam ngaji rutim psikologi sosial di kantor PAC GP Anshor Kedungkandang, Kab. Malamg

0Shares
0

Ingin memiliki pengaruh signifikan di sebuah organisasi, apalagi berusaha memenangi kompetisi dengan organisasi lain sehingga lebih dapat disebut sebagai warga negara yang bermanfaat untuk negara dan bangsa, rasanya tidak cukup hanya mengandalkan teriakan. Sejumlah orang di Pengurus Anak Cabang GP Anshor Kedungkandang Malang menyadari, selama ini aset organisasi tidak pernah di ketahui, apalagi anggota itu memiliki aset pribadi apa? Mana mungkin akan bertanding di area public spare (ruang publik) keagamaan dan kemasyarakatan, sementara tidak pernah menajamkan aset yang benar-benar bisa kita andalkan.

Kampusdesa.or.id–Hadir di undangan Anshor, IPNU-IPPNU Kedungkandang Kabupaten Malang merasa mendapatkan kesempatan menyoba pendekatan pengembangan masyarakat menggunakan ABCD (Asset based Community Development). Sebuah pendekatan yang mengedepankan potensi yang nyata-nyata dimiliki oleh sebuah komunitas atau organisasi. Pendekatan ini tidak lagi menekankan tentang apa saja yang secara idealis baik, keren, dan sebagaimana kita membayangkan jika sebuah organisasi begini dan begitu, maka akan ideal, maju, dan akan memetik hasilnya. Biasanya, dalam sebuah rapat organisasi, rembuk desa, atau berbagai ide kegiatan selalu akan dirumuskan berdasarkan pemikiran terbaik dengan berbagai bayangan harapan bergengsi, tujuan yang menggemberikan, dan hasil yang membanggakan.

Kira-kira akan well-done, alias tercapai dengan baik, atau terjadi kekisruhan masalah sehingga menjadikan seseorang lebih berkeluh kesah melakukan analisis masalah dan berusaha melakukan aneka cara yang super rumit dengan berbagai metode tertentu. Apakah anda mengalami hal itu? Akhirnya terjadi berbagai komentar kritis bagaimana seharusnya organisasi, masyarakat ini menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai hasil indah yang kita bayangkan secara menarik melalui berbagai perencanaan yang super kece badai bagusnya. Kerapkali menghadapi itu semua, kita membutuhkan emosi, pikiran, dan baper juga deh dalam menggerakkan roda organisasi dan komunitas yang bersifat sosial.

Prinsip isi gelas. Nah, malam itu saya menghadirkan perumpamaan sebuah gelas yang terisi separuh air. Kalau kita melihat organisasi berdasarkan gelas yang sudah terisi air separuh, pikiran kita terarah pada situasi idealis untuk mengisi gelas itu agar isinya bisa segera penuh air. Padahal kita sudah tidak punya air lagi untuk memenuhi gelas tersebut. Sebagaimana organisasi, kita menyusun organisasi dengan pola pikir bagaimana agar gelas itu penuh, akan tetapi kita jelas tidak ada air. Pikiran kita membayangkan indahnya gelas itu jika terisi air. Maka kita berusaha berpikir bagaimana ya jikalau gelas ini segera dapat dipenuhi. Energi kita tercurah sepenuhnya untuk menemukan air sesuai idealisme kita.

Sehebat apapun, jikalau tidak tahu aset (apa yang nyata kita miliki), niscaya lebih sulit menyelesaikannya mencapai kesuksesan. Bahkan kajian atas peluang, hebatnya perancangan dan berbagai analisis masa depan sudah canggih-canggih, namun tidak begitu berdampak. Seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Gelas Aset. Melihat isi gelas berarti menyadari aset apa yang nyata dimiliki perseorangan dan organisasi. Bukan, berusaha memenuhi apa yang dibutuhkan tetapi melupakan apa yang dimiliki. Ini menghilangkan kebersyukuran dan mendorong ketamakan

Perumpamaannya lagi, siswa itu kita bayangkan akan menjadi pandai semua. Kita mencar cara dengan berbagai gaya agar anak itu pintar. Pertanyaannya, siapa gelas itu atau siswa itu? Apakah gelas itu punya sesuatu? Demikian juga siswa tadi, apakah siswa itu punya sesuatu? Apakah ada aset (kepemilikan yang nyata ada pada sebuah gelas, atau seorang siswa yang memiliki sesuatu yang nyata untuk ditumbuhkan)? Satuan organisasi, komunitas, atau kelompok tertentu biasanya lebih mengidealkan seandainya gelas itu penuh dan seandainya siswa itu bisa begini begitu, pasti dia akan hebat. Padahal bekal dan bahan yang menjadi bekal gelas itu hebat dan anak itu hebat tidak diketahui sama sekali? Akhirnya sehebat apapun, jikalau tidak tahu aset (apa yang nyata kita miliki), niscaya lebih sulit menyelesaikannya mencapai kesuksesan. Bahkan kajian atas peluang, hebatnya perancangan dan berbagai analisis masa depan sudah canggih-canggih, namun tidak begitu berdampak. Seperti tong kosong nyaring bunyinya. Kepiawaian membangun sudut pandang tetapi kesulitan memperoleh acuan tindakan yang berarti.

Cobalah kita berpikir apa yang dimiliki gelas itu, bukan kurang berapa mililiter air untuk memenuhi gelas. Bukan pula apa kekurangan dari organisasi atau komunitas tertentu, tetapi apa yang menjadi kepemilikan utama bagi seseorang? Ya, kepemilikian itu aset yang berupa potensi. Keberadaannya nyata jika kita mampu menemukannya. Keberhasilan menemukan aset otomatis kita mengetahui secara realistik organisasi itu punya apa. Tentunya, pengamatan terhadap aset yang dimiliki oleh organisasi ditentukan oleh kemampuan melihat apa saja aset nyata, obyektif, dan bisa diaktifasi sehingga memperoleh gambaran progresifnya. Barulah aset itu dijadikan sebagai imajinasi personal atau organisasi. Tanpa aset yang kita miliki, bayangan masa depan sepertinya sulit terwujud.

Contohnya, kita mengajak orang bergerak cepat menggunakan sepada motor, sedangkan orang tersebut hanya bisa naik sepeda gunung. Kita bercerita sedemikian menarik bagaimana manfaat sepeda motor dalam menggerakkan orang, otomatis orang tersebut hanya tertegun, mempunyai pengetahuan baru sih iya, tetapi tetap tidak bisa naik sepeda motor. Beda kalau kita manfaatkan saja sepeda ongkel itu untuk keperluan dia yang lebih baik. Dia diajak memikirkan kira-kira sepeda ongkel ini akan dibuat apa agar fungsinya lebih maksimal ketimbang memaksakan mereka diajari sepeda motor. Begitulah pola pikir berbasis aset menumbuhkan penghargaan terhadap kepemilikan riil daripada membayangkan sesuatu yang asyik tetapi tidak terhubung dengan sumberdaya yang tersedia secara realistik (nyata). Oleh karena itu berpikir tentang gelas berdasarkan isi gelas akan lebih membumi roda organisasinya daripada berpikir bagaimana gelas itu penuh sementara tidak pernah tahu organisasi itu mempunyai aset apa. Isi gelas itulah yang kita jadikan sebagai senjata organisasi atau kekuatan komunitas, termasuk cita-cita organisasi yang digeluti.

Lebih mudah mengasah pisau yang sudah dimiliki semakin tajam, daripada berharap gergaji mesin tetapi tidak mempunyai modal besar guna membelinya. Organisasi yang mampu maksimalkan fungsi pisau itu dengan maksimal sampai tumbuh kesadaran baru mengenai sebaik-baiknya fungsinya justru akan melahirkan keajaiban hasil, dan menambah orisinalitas yang membedakan dari organisasi lain yang memang berbeda asetnya. Maka organisasi akan lebih percaya diri daripada merajuk iri kok orang lain lebih baik.

Mengenali aset personal.  Sebelum memasuki aset organisasi, langkah positif adalah mengenali  aset personal. Seorang anggota organisasi, komunitas dan kelompok dilatih untuk mengenali aset personal. Pengenalan  aset personal bertujuan untuk menghadirkan diri sendiri sebagai bagian dari aset organisasi. Melalui penggalangan aset personal, maka setiap orang bisa mengukur  kekuatan atau potensi yang dimilikinya secara riil. Tujuannya untuk menemukan persepsi dan internalisasi kekuatan diri sehingga setiap pengurus organisasi memiliki orientasi dan cara pandang tentang dirinya secara eksplisit, nyata, dan dapat dipertanggungjawabkan secara individu dan dipilih nantinya untuk bisa dibagikan ke orang lain dalam organisasi.

Ketika organisasi berjalan menggunakan aset personal, niscaya setiap orang akan merasa dihargai oleh karena kecenderungan personal tersebut bertumpu pada kekuatan personal dan seseorang akan merasa lebih dihargai keterlibatannya.

Aset personal menjadi acuan organisasi agar sharing (berbaginya) organisasi dapat menjawab kebutuhan personal yang menjadi kekuatan organisasi. Berprinsip pada kecenderungan personal, organisasi tidak semata-mata menjadi sistem yang menekan sementara efek personal tidak mendapatkan manfaat yang nyata. Kecenderungan personal menjadi alasan organisasi agar sistem nilai yang dibangun memang mengapresiasi aset personal sebagai senjata yang tajam dan rodanya berjalan lebih sinergis. Ketika organisasi berjalan menggunakan aset personal, niscaya setiap orang akan merasa dihargai oleh karena kecenderungan personal tersebut bertumpu pada kekuatan personal dan seseorang akan merasa lebih dihargai keterlibatannya. Mereka menjadi tidak terpaksa jika mendapat tugas. Tugasnya akan sejalan dengan peran yang paling diminati, bahkan menopang bakat mereka.

Bagaimana caranya? Saya memraktikkan pada sahabat Anshor, IPNU-IPPNU, dan sebagian pengurus syuriah di tingkat PAC (Pengurus Anak Cabang). Pertama, mereka diminta menuliskan, apa yang menjadi hal positif dan potensial untuk kemduian disebut sebagai aset personal. Mereka menuliskan apa yang dimilikinya, baik di organisasi, di kehidupan sehari-harinya, pengalaman profesionalnya, atau pengalaman lain yang secara praktis sudah menjadi kemampuan pentingnya. Boleh juga bakat yang sudah menjadi perilaku melekat dalam kesehariannya. Mereka diminta menulis sebanyak-banyaknya.

Kedua, setiap orang kemudian diminta untuk memberi peringkat daftar potensi yang sudah ditulisnya berdasarkan kualitas yang paling optimal. Kualitas yang dianggap paling unggul diberi skor 1. Sementara kualitas yang dibawahnya, diberi skor 2 sampai dengan terakhir dengan skor paling banyak berarti kualitasnya lebih kecil.

Ketiga, kualitas yang dianggap ungguk tersebut perlu disharingkan ke orang lain dalam organisasi agar orang lain dalam organisasi dapat mengetahui secara langsung apa potensi unggul masing-masing anggota. Selanjutnya, anggota yang lain juga dimintai menilai dengan cara yang sama sesuai dengan persepsi yang selama ini dikenali. Mereka diminta menykor dengan cara yang sama. Skor 1 adalah gambaran yang dianggap unggul olehnya tanpa harus menykor dengan angka sama sebagaimana skor yang diberikan oleh orang pertama. Setelah selesai, mereka dapat diskor oleh teman lain. Penykoran oleh orang lain dapat dilanjutkan dengan aturan yang sama. Demikian seterusnya hingga minimal dalam latihan, setiap orang mendapat penykoran oleh orang lain minimal 5 orang. Jika ingin lebih akurat, penykoran dapat dilakukan lebih banyak lebih baik. Jika sudah selesai, setiap potensi yang mendapat skor individu dan orang lain.

Miniatur aset organisasi. Untuk mengetahui aset organisasi, miniaturnya dapat dilatihkannya sebagai berikut dengan melanjutnya langkah ketiga di atas. Keempat,  jumlahkan skor per-potensi baik skor yang diberi oleh diri sendiri dan skor yang diberikan oleh orang lain. Lalu hitung rata-ratanya. Rata-rata adalah jumlah skor per-potensi dibagi sejumlah orang (skor diri sendiri dan orang lain). Skor inilah yang menggambarkan kecenderungan potensi/kelebihan individu. Jumlah rata-rata menggambarkan skor pengakuan sosial atas potensi keunggulan kita. Setiap orang dengan demikian akan mendapat gambaran potensi yang diakui baik secara pribadi atau sosial. Skor yang paling sedikit nilai rata-ratanya berarti adalah skor terbaik. Mengapa kok yang paling sedikit yang paling baik? Skor sedikit karena skor 1 adalah pengakuan yang paling unggul. Demikianlah, kita sudah mendapat gambaran yang realistik tentang simulasi aset personal sekaligus aset organisasi, khususnya para pengurusnya.

Aset adalah senjata tanpa angan-angan kosong. Setelah saya jabarkan bahwa secara psikologi sosial, ketika skor sosial sudah dinilai oleh diri sendiri dan orang lain, maka seseorang memperoleh gambaran nilai penerimaan sosialnya. Ini disebut aset. Dalam prinsip ABCD, aset yang sudah teridentifikasi dapat dikoleksi untuk dijadikan sebagai kekuatan organisasi. Dengan demikian pola gerakan organisasi jika didasarkan pada aset, maka aset tersebut tinggal dicarikan kekuatan untuk bersinergi. Meminjam bahasa Renald Kasali, tinggal diorkrestasikan saja.

Sebagaimana dikatakan oleh M Hatif, Ketua PAC GP Anshor, “jadi saya ini bekerja selama ini hanya dalam angan-angan saja, atau bermain dengan angan-angan orang lain, tanpa tahu aset nyata organisasi ini apa.”

Saya pun menimpali. “La iya-lah mas. Ya selama ini gerak kita masih buta dengan aset. Ibarah berperang, kita tidak pernah tahu, apa senjata yang kita miliki. Lah wong senjatanya yang dimiliki saja tidak tahu, kok mau wora-woro ke sana kemari dengan mengatakan, kita ini lo banyak, berani, dan lebih baik dari lainnya. la h berarti kita ini turun lapangan seperti orang yang berbekal bayangan saja, persepsi yang sundul langit. Ketika di lapangan tidak punya apa-apa sehingga balik kucing dan reaktif, atau membanggakan apa yang riil hari ini sebenarnya belum diketahuai.”

Jika aset Anshor, IPNU-IPPNU, atau lainnya dapat ditemukan, niscaya apa yang dimiliki tinggal menguatkannya dan mendapat kesempatan membangun kesadaran baru. Gerakan organisasi dengan demikian dapat menjawab kebutuhan yang dimiliki, bukan angan-angan kosong yang basis realitasnya tidak pernah ada dan bisa disentuh.

Kita boleh jadi mengejar tujuan yang sangat ideal tetapi tidak pernah tahu aset yang dimiliki itu apa. Ini seperti “tong kosong nyaring bunyinya.” Jika aset Anshor, IPNU-IPPNU, atau lainnya dapat ditemukan, niscaya apa yang dimiliki tinggal menguatkannya dan mendapat kesempatan membangun kesadaran baru. Gerakan organisasi dengan demikian dapat menjawab kebutuhan yang dimiliki, bukan angan-angan kosong yang basis realitasnya tidak pernah ada dan bisa disentuh.

Begitulah kilasan refleksi, bahwa penemuan aset adalah modal penting bagi kalangan Nahdliyin, utamanya GP Anshor, IPNU-IPPNU, dan Fatayat Kedungkandang untuk mengangkat senjata prestasi. Tugasnya mengapresiasi, memberi ruang, agar mereka bergerak dengan aset yang kita miliki.

Sebagaimana mereka menyadari, ternyata gerak organisasi kita buta dengan aset, bahkan mengabaikannya untuk kemudian dengan latah mengatakan yang paling baik.

Terima kasih.

6 Desember 2019