Benarkah Sekolah Mengerdilkan Belajar?

0
215
Sumber: /www.pexels.com

0Shares
0

Dulu, sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, manusia merdeka mau belajar di mana saja dan kapan saja. Sebelum ada sekolah, belajar dimaknai sesuai dengan makna otentiknya yang luas. Tidak dikerdilkan seperti sekarang yang hanya terbatas pada membaca buku, duduk di ruang kelas, mengerjakan soal, lalu lulus mendapatkan nilai akademik dan legalitas berupa ijazah.

Kampusdesa.or.id-Ada semacam unek-unek dalam benak saya beberapa waktu belakangan ini. Saya merasa makin hari, dunia pendidikan kita bukan makin merdeka, tapi malah sebaliknya. Makin terbelenggu dan terhambakan. Terbelenggu oleh pengerdilan makna dan terhambakan oleh ukuran-ukuran semu kesuksesan. Pembelengguan dan penghambaan itu justru dilakukan oleh lembaga pendidikan yang disebut sekolah.

Saya mengandai, jika sekolah tak pernah ada, apakah kita juga akan berada di titik peradaban yang sama tingginya seperti peradaban kita sekarang ini? Akankah juga lahir berbagai sains dan filsafat serta teknologi? Akankah dunia juga akan menjelma menjadi perkampungan global yang nir sekat seperti sekarang? Akankah bumi pertiwi ini juga dalam kondisi seperti sekarang ini atau sejaya masa lalu?

“Dulu sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, umat manusia juga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mumpuni”

Pengandaian itu tentu bukan asal. Coba saja baca sejarah. Dulu sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, umat manusia juga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mumpuni. Bahkan, karya-karya mereka masih dijadikan rujukan babon hingga sekarang. Sebelum ada sekolah militer dan institut kepamongprajaan, manusia juga mampu membangun imperium-imperium besar yang mampu melahirkan peradaban tinggi dan kosmopolit. Tentu saja, mereka paham sepenuhnya urusan tata administrasi.

Baca Juga: Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati

Di negeri kita misalnya, ada imperium Sriwijaya dan Majapahit yang dikenal luas mampu menaklukkan bangsa-bangsa lain. Dua imperium ini juga mampu membangun peradaban tinggi. Buktinya karya-karya sastra, arsitektur, teknologi, bahkan filsafat berkembang dengan pesat di zaman mereka.

Di dunia Islam nusantara, meski tidak ada sekolah, juga mampu melahirkan ulama-ulama besar yang namanya harum di pentas internasional. Sebut saja Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Rata-rata mereka berlatarbelakang pendidikan pesantren yang memang memiliki tradisi kemerdekaan belajar bagi santrinya.

“Sebelum ada sekolah, ternyata manusia lebih merdeka belajar. Mereka bisa belajar langsung dari sumber belajar”

Sebelum ada sekolah, ternyata manusia lebih merdeka belajar. Mereka bisa belajar langsung dari sumber belajar. Mau bisa mengemudikan kapal, ya langsung belajar kepada pengemudi dan anak buah kapal. Mau bisa bertani, ya langsung belajar kepada petani. Mau belajar ekonomi, ya belajar di pasar sambil praktik jual beli. Intinya, mereka tidak hanya mempelajari tumpukan teori dalam buku atau diktat dan tidak hanya mendengar dongengan-dongengan guru di ruangan yang disebut kelas.

Hasil dari interaksi langsung dengan sumber belajar itu membuat mereka bahkan mampu mencapai derajat pakar. Pengalaman hasil interaksi itu menjadi pengetahuan-pengetahuan baru. Tak perlu menghapal teori dan sibuk di laboratorium. Juga, tak perlu ada ujian akhir. Apalagi ijazah. Mereka merdeka belajar dan merdeka kapan proses belajar itu dicukupkan.

Baca Juga: Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

“Sekarang ini, belajar telah dikerdilkan oleh kita sendiri. Bahkan, kecukupun belajar ditandai dengan selembar kertas yang disebut ijazah.”

Ternyata, sebelum ada sekolah, belajar memiliki makna otentik sebagaimana ia aslinya. Tapi, semenjak ada sekolah, belajar kian menyempit. Belajar hanya dimaknai sebagai aktivitas mempelajari buku di dalam kelas. Aktivitas di pasar, di sawah, di laut, di sungai, di masyarakat, sudah tidak dianggap lagi sebagai aktivitas belajar. Sekarang ini, belajar telah dikerdilkan oleh kita sendiri. Bahkan, kecukupun belajar ditandai dengan selembar kertas yang disebut ijazah.

Tak berhenti di situ, sekolah juga membuat aturan penyeragaman dan standarisasi. Menurutnya, anak yang pintar itu ya anak yang nilai akademiknya bagus, yang langganan ranking satu. Anak bodoh ya sebaliknya, nilainya buruk, tidak memenuhi standar. Standar itu ditentukan oleh nilai kognitif pada sejumlah mata pelajaran.

Oh iya, sekarang bahkan belajar makin dikerdilkan lagi. Belajar dibatasi harus sesuai dengan kebutuhan industri yang katanya sudah memasuki revolusi ke-4 itu. Lulusan belajar, harus kompatibel dan mampu mengisi lubang-lubang kebutuhan industri. Adanya pengangguran, menjadi indikator gagalnya proses belajar. Ada yang bilang, pendidikan hari ini disuruh menghamba pada industri.

Orangtua pun berlomba-lomba menyuruh anaknya giat belajar. Mereka takut anaknya nanti tidak cocok dengan industri, lalu jadi pengangguran. Pagi hingga siang anak-anak itu belajar di sekolah, sore di musala atau masjid, malamnya di tempat bimbingan belajar. Pokoknya anak-anak sekarang jadi super sibuk. Waktu bermain mereka hilang, diganti belajar. Bermain hanya bikin bodoh saja. Begitu kata orangtua mereka.

Pertanyaan menggelitik kemudian muncul di benak saya, benarkah konsep merdeka belajar yang gaduh diperbincangkan itu, sungguh-sungguh akan memerdekakan? Benarkah nantinya sekolah tidak lagi mengerdilkan belajar?