New Normal, Dibalik Penularan Covid-19 Tenaga Medis

0
348

0Shares
0

New normal memasuki babak baru. Pengetahuan dan pengalaman penanganan pandemi Covid-19 mendapat berbagai sudut pandang. Termasuk sebaran virus ini di masa Pandemi Coronavirus, terutama para tenaga medis kita. Bisa diduga, paparan virus tenaga medis bukan semata dari paparan pasien, tetapi bergerak dari satu tenaga kesehatan ke yang lainnya dari hasil berkumpul mereka di luar tugas pada saat istirahat, atau makan bersama

Kampusdesa.or.id–Di massa new normal seperti ini, sudah terlalu banyak pemahaman dan opini masyarakat, apalagi sudah ada dua kubu yang berbeda. Kubu yang percaya Corona dan kubu yang mengganggap Corona benar-benar segawat darurat itu, hingga rumah sakit selalu crowded dengan membludaknya pasien Covid-19.

Namun, taukah kamu? Belakangan ini banyak sekali ditemukan ketidakjujuran pasien, dampaknya rumah sakit kecolongan. Seperti bulan kemarin 22/06/2020, pasien rujukan dari salah satu rumah sakit swasta, dari hasil laboratorium terdapat beberapa pemeriksaan, salah satunya adalah rapid test Covid-19 yang dinyatakan negatif atau non reaktif. Dirujuk karena rumah sakit sebelumnya belum memiliki alat medis yang kurang lengkap, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. Setelah dilakukan berbagai tindakan, bahkan pasien telah dirawat selama dua minggu lamanya, saat dilakukan test PCR ternyata hasilnya positif atau reaktif.

Kurang lebih ada 500 alat PCR test untuk pegawai rumah sakit, termasuk perawat, dan beruntungnya kami semua dinyatakan negatif atau non reaktif. Namun, naasnya ada salah satu ibu kantin dan anaknya yang justru dinyatakan positif atau reaktif. Sampai detik ini belum diketahui penyebab pasien yang awalnya negatif menjadi positif, sebab rapid test hanya 30% dan PCR test 70% keakuratannya. Dan tidak menutup kemungkinan yang menjadi carrier atau pembawa penyakit adalah pengunjung pasien tersebut, sebab telah berkali-kali pegawai rumah sakit memberi peringatan bahwa tidak ada jam besuk. Namun, semua itu sia-sia dan tidak pernah dilaksanakan.

Pernahkah berpikir bahwa ini adalah fase new darurat? Dimana data positif corona meningkat tiap harinya? Rasanya sulit sekali untuk menurunkan angka positif corona di era new normal saat ini, angkatnya terus melonjak tinggi, lebih tinggi daripada saat diberlakukannya PSBB. Bagaimana bila dari ketidakpatuhan pasien dan ketidakpedulian pengunjung rumah sakit membawa malapetaka untuk tenaga medis lainnya?

Telah beredar berita rumah sakit yang ditutup pelayanannya untuk beberapa waktu kedepan, diantaranya;

  1. RSUD Kalideres, 8 karyawan positif, untuk sementara rumah sakit ditutup 1 minggu kedepan.
  2. RSUD Pasar Rebo, 20 karyawan positif, beberapa poli ditutup.
  3. RSUD Depok, 12 karyawan positif, semua poli tutup.

Bahkan baru-baru ini Polsek Tambun ditutup untuk sementara waktu karena ada 5 polisi yang dinyatakan positif corona dan salah satunya diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, dan kini telah tutup usia.

Tenaga kesehatan positif Covid-19 bukan dari pasien. Justru karena merasa aman antar sesama orang kesehatan; makan sambil ngobrol dan bergerombol; berdekatan sambil bergerombol merupakan potensi Nakes terpapar virus.

Hal ini menyebabkan fenomena baru yang ditemukan. Yaitu, Tenaga Kesehatan positif Covid-19 bukan dari pasien. Justru karena merasa aman antar sesama orang kesehatan; makan sambil ngobrol dan bergerombol; berdekatan sambil bergerombol merupakan potensi Nakes terpapar virus.

Maka, berdasarkan evaluasi di atas, ada baiknya tetap melindungi diri demi diri sendiri dan orang yang kita sayangi nan cintai, tidak ada salahnya bukan, bila sampai detik ini kita masih menerapkan protokol kesehatan dengan ketat? Memilih mencegah daripada mengobati.

Baca juga :

New normalĀ tidak berarti kita sudah bebas dari pesebaran Coronavirus. Termasuk tenaga kesehatan. Kedisiplinan juga penting tumbuh di saat mereka tidak lagi bertugas. Kebiasaan berkumpul, makan bersama, saat istirahat, adalah momen mengasyikkan. Namun, semua tetap perlu memerhatikan keteguhan kita yang selalu memiliki kendali dalam berdisiplian mennjaga protokol kesehatan masa pandemi Covid-19.

Harapannya, semoga tulisan ini menyadari dan mengingatkan kembali pentingnya melakukan protokol kesehatan. Kalau masih mampu, mengapa harus beralasan? Semoga kita tidak menyesali pada akhirnya.