Senin, Januari 5, 2026
spot_img
BerandaMuslim Indonesia di Hari Natal

Muslim Indonesia di Hari Natal

Kampusdesa.or.id–Sejak menginisiasi perjumpaan Natal damai di tahun 2017 bersama Gusdurian Malang, kehadiran saya di gereja seperti rumah baru bagi ke-Indonesiaan saya. Setelah kunjungan Natal damai tempo itu, ketakutan saya dan sak-wasangka tentang kristen tidak ada lagi. Keimanan tanpa rasa takut menjadi momen baru. Gereja tidak lagi berjarak bagi saya. Meskipun saya muslim, tidak ada perasaan curiga dan friksi batin yang sudah biasa menjadi hoaks keimanan, manakala banyak orang muslim yang masih berjibaku dengan metanarasi prasangka, minorisasi iman dengan cara pandang melainkan. Kristen bagi saya adalah bagian dari suara yang dapat saya maklumi bahwa setiap manusia selalu punya cara beriman dengan horison kehidupannya. Dengan demikian bagi saya gereja adalah rumah kehidupan bagi orang-orang yang meyakini bahwa ketuhanan adalah jalan dan pilihan tanpa penyeragaman. Rasa takut dengan konstruksi iman yang melainkan menjadi pupus bagi cara pandang saya. Di situ saya merasa lebih dewasa dalam melihat gereja dan keindonesiaan saya.

Sudah sekian kali saya menerima undangan dalam perhelatan perayaan Natal di gereja. Temasuk Natal di tahun 2025 ini. Saya menerima secara resmi di dua gereja. Gereja Kristen Jawi Wetan di Lawang dan Kedungkandang. Karena waktunya berbarengan, saya memilih hadir di perayaan Natal GKJW Lawang. Sudah kesekian kalinya saya hadir di jemaat Lawang. Bagi mereka kehadiran saya yang muslim dan kebetulan saya juga mereka anggap bagian dari Nahdlatul Ulama Kota Malang, mereka merasa kehadiran ini melengkapi sudut pandang mereka untuk menciptakan representasi toleransi beragama tidak saja sebagai pribadi. Mereka menjadikan perspektif keterwakilan bahwa orang-orang NU adalah pribadi yang mampu mewakili warna yang menerima keberagaman sebagai entitas keindonesiaan. Ketika kami saling hadir, identitas agama adalah warna yang menyatu dalam memahami keniscayaan kami bahwa hubungan persaudaraan menjadi bagian dari perasaan gembira karena dapat saling menghadiri perayaan hari suci antara kita. Identitas kami tidak rapuh karena satu dengan yang lain dapat saling menghargai. Penghargaan ini tembus karena kami merasa terhubung dalam hubungan pertemaan dan persaudaraan melampaui batas eksklusif cara beriman.

Mudah Tapi Perlu Latihan

Alkisah, ada seorang sarjana pendidikan agama Islam dan sedang menempuh paska sarjana sedang melakukan riset tentang hubungan lintas agama pada Forum Komunikasi antarUmat Bergama (FKAUB) Malang Raya bertanya kepada saya. “Menurut bapak, bagaimana kita makan dari menu yang mereka sajikan ini?” Padahal dia sudah sering keluar masuk di lingkungan gereja Katolik karena sebagian besar rapat dan pertemuan FKAUB sering menggunakan ruang pertemuan di gereja tersebut. Sebelum acara atau setelah acara rapat, kami biasanya menikmati jamuan dari gereja. Saya terkejut dalam hati. Bagi saya, pikiran tersebut sudah tidak muncul. Apakah karena saya sering mengalami jamuan tersebut sehingga tidak berpikir dan khawatir. Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jamuan makan yang tersaji untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim. Suatu contoh di Klenteng, mereka memastikan ketika menjamu orang muslim, menunya seputar soto daging ayam atau sapi dan sajian yang umum boleh  (halal) bagi orang muslim. Pengalaman ini saya ceritakan ke si dia tadi bahwa bagi mereka sudah memahami batasan mengenai yang boleh dan tidak bagi orang muslim. Artinya, kisah tersebut mengandaikan proses dialog penting yang muncul secara informal mengenai batasan antara aku dan kamu dalam hubungan lintas agama.

Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jika jamuan makan yang disajikan untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim.

Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang

Saya tidak lagi merisaukan hal demikian, tetapi bagi anak muda tersebut yang baru dan belum pernah mendapatkan dialog-dialog lintas batas tersebut, keragu-raguan menjadi awal dari mendapatkan jawaban tentang batas-batas yang diolah dalam kesadaran kritis. Hari ini, bagi saya hal demikian tidaklah menjadi kekhawatiran saya. Hal tersebut menjadi kesadaran baru saya bahwa keumuman tentang kekitaan sudah dipahami bagi agama-agama yang lain. Meski tidak lengkap, masing-masing dari kami dapat bisa saling mengonfirmasi untuk saling memahami dan memberitahu mengenai batasan praktik beragama diantara kami. Bahkan, saya sering meminta tempat sholat di lingkungan gereja tersebut ketika waktu maghrib atau waktu lain yang mengharuskan saya sholat. Hal ini saya lakukan karena saya yang butuh dan saya tidak menunggu pemakluman atas waktu sholat itu dari teman-teman agama lain. Saya harus asertif dan tetap berada dalam dialog interpersonal yang tidak berjarak. Keragu-raguan dapat teratasi.

Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka.

Saya perlu sampaikan lagi saat di sebuah pertemuan di lingkungan gereja Katolik, saya meminta seorang romo tempat sholat. Romo tersebut juga agak kebingungan. Saya segera menimpali, tunjukkan saya ruangan dan saya akan sholat di situ. Tentang ini dan itu menjadi urusan saya. Selesailah persoalan. Kadang saya juga sering prepare sajadah sebagai solusi. Hal demikian bagi saya sudah terbiasa. Jika saya tidak diperhatikan terkait dengan kepentingan sholat, maka saya harus punya solusi dan tidak menghakimi dalam berbagai prasangka yang mengerdilkan hubungan tersebut kedalam masa lalu cara pandang saya tentang aku dan yang lain. Ini adalah modal bagi saya untuk dapat menyelesaikan pokok iman saya dan tempat kehadiran saya dalam ruang perbedaan agama. Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka. Jika hal ini tidak diolah, kita belum cukup untuk dewasa atas nama perbedaan agama.

Kesadaran ini sebenarnya mudah kalau pergaulan mendalam dapat dirajut dalam pengalaman yang mendalam juga dalam hubungan lintas-agama. Hal ini tidak juga mudah di kalangan orang-orang NU. Tidak semua dapat menerima keterbukaan tersebut, bahkan bagi sosok-sosok yang alim di NU. Saya pun tidak begitu banyak mendapat teman di NU yang turut hadir dalam perjumpaan dari dalam gereja tersebut. Bahkan saya cenderung masih seorang diri ketika mendapat undangan perayaan Natal tersebut. Hanya orang-orang NU khusus yang sudah punya pengalaman demikian yang bisa hadir dalam jamuan-jamuan hari Natal tersebut. Hanya teman-teman NU yang masuk dalam jejaring FKAUB dan lintas agama aktif, termasuk kalangan muda NU yang sering mengikuti kegiatan Gusdurianlah, teman GP Anshor, perwakilan UDARTA Pasuruan (Pondok Ngalah) yang seringkali saya temukan dan menjadi kebiasaan mereka dengan bebas friksilah yang dapat menerima pengalam tersebut. Artinya, pengalaman menjadi bagian penting untuk menerima sejenis kesanggupan hadir dalam jamuan-jamuan di tempat ibadah seperti hadir dalam perayaan Natal.

Natal Mereka adalah Muslim Saya

Saya memaknai kemampuan tersebut sebagai bagian penting pengalaman kemusliman saya. Ada ruang kesadaran antah-berantah yang memang terasa kontradiksi diantara kecemburuan, sak-wasangka, dan negasi keimanan yang tetap tersisa. Suatu contoh bahwa saya dimanfaatkan atau saling memanfaatkan. Kecurigaan di sana-sini yang menjadi narasi bagi orang muslim lain yang menganggap hal ini telah melampaui batas. Bahkan saya pun pernah ditegur dari kalangan orang NU terkait kegiatan kunjungan ke tempat-tempat ibadah di luar Islam sebagai kegiatan yang melampaui batas. Tetapi saya teringat selalu dengan Gus Dur yang sudah berani membebaskan diri dari kerancauan prasangka tersebut. Gus Dur menempatkan perbedaan tersebut dalam kerangka kewarganegaraan yang setiap orang wajib menghormati pilihan dan perbedaan. Gus Dur menghargai dalam kerangka konstitusional warga Indonesia. Justru hal ini memperkuat bahwa seorang muslim perlu belajar mendewasakan diri dalam mewarnai berbagai penghargaan sesama warga negara Indonesia.

Baca juga: Barikan Anak Nusantara ke-3: Merajut Persaudaraan Sejati di Malang

Ketika representasi muslim saya dilihat sebagai simbol bagi usaha merepresentasikan kemampuan hadir dalam cermin hubungan toleransi, maka undangan dari orang Kristen saya terima sebagai bagian dari menghargai kebutuhan saling merawat perbedaan. Saya menjadi muslim dengan kesadaran ke-Indonesiaan. Oleh karena itu saya membutuhkan perspektif yang lebih luas guna membuat identitas saya tidak saklek dan dibatasi dengan pembeda-pembeda agama. Cara demikian bagi saya memberikan pengalaman baru bahwa interaksi lintas agama tidak semata sebuah hubungan yang berjarak. Sebagai seorang muslim, gereja bukanlah tempat yang saya lihat dalam narasi yang berjarak, tetapi saya tempatkan sebagai bagian penting perkenalan saya tentang hakikat perbedaan. Saya menjadi tahu cara mereka beriman. Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya. Oleh karena itu, apapun yang disucikan mereka adalah buah dari pengetahuan saya tentang orang lain dalam kesatuan identitas keagamaannya. Inilah yang melengkapi kesadaran kritis saya dalam menerima perbedaan agama.

Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya.

Natal mereka adalah muslim saya bermakna perhatian dan kepedulian saya sebagai seorang muslim untuk menerima Natal sebagai penghargaan kesucian mereka. Termasuk bagian dari media orang lain yang beriman Kristiani untuk menjadikan hari Natal sebagai bagian dari cara mereka berbahagia dalam iman. Ini juga terjadi pada saya yang menjadikan hari raya idul fitri sebagai hari kegembiraan atas kemenangan diri menjadi manusia yang beriman. Natal mereka adalah muslim saya menjadi bagian dari upaya saya menjalin hubungan silaturahim dengan memberikan penghormatan atas kepentingan orang lain. Bukankah hal ini kita bangun untuk menjaga kohesi sosial dalam kehidupan yang beraneka ragam, bahkan hal ini juga menjadi cara kita berjuang untuk menjaga Indonesia. Bagi saya ini adalah ibadah. Sejauh neraca kebaikan adalah niat suci bagi masing-masing agama untuk mengundang dalam perayaan hari suci, maka sudah sepatutnya bingkai kohesi sosial menjadi bagian niat menjaga Indonesia.

Baca juga: Balewiyata dan Gus Dur; Situs Toleransi Malang yang Perlu Dirawat

Nukilan Akhir

Natal mereka adalah muslim saya bergerak dalam kesadaran kebudayaan, melampaui dari entitas keagamaan semata. Sebagai seorang muslim Indonesia, saya belajar bahwa perayaan agama-agama bukan semata-mata tentang keimanan yang membatasi sekat-sekat identitas ekslusif. Sebagian ekspresi keagamaan mereka menyumbangkan bahasa kebudayaan dengan kepemilikan nilai bersama. Tidak hanya pada tingkat mengucapkan selamat hari raya Natal, dan lainnya, tetapi interaksi perjumpaan dalan berbagai ruang di latar tempat ibadah pun dapat kita tempatkan sebagai reproduksi hubungan kebudayaan baru di Indonesia. Inti suci dari interaksi ini merupakan kreasi budaya yang bernilai adiluhung. Tidak perlu ditafsirkan yang diframing dalam penajaman konflik. Kita membutuhkan pemankaan ulang bahwa perjumpaan Natal demikian adalah buah dari kesadaran kita untuk menjadikan hubungan lintas-agama ini sebagai parktik berbudaya yang tumbuh dalam kesadaran kolektif. Dengan demikian, jamuan perayaan Natal yang mengundang berbagai perwakilan agama-agama selalu bisa kita tempatkan kedalam reproduksi kebudayaan bukan kedalam tafsir keimana eksklusif yang ujung-ujungnya bernada ekstrim gaya baru.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Joyogrand Malang

Minggu, 28 Desember 2025

Mohammad Mahpur
Mohammad Mahpur
Ilmuan Psikologi Sosial, Peace Activist and Gusdurian Advisor, Writer, Pemberdaya Masyarakat dan Komunitas. Founder Kampus Desa Indonesia. Memberikan beberapa pelatihan gender, moderasi beragama, dan metodologi penelitian kualitatif, khusus pendekatan PAR
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments