Jumat, Januari 9, 2026
spot_img
BerandaJurnal DesaTutur DesaMemecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

Memecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

Kampusdesa.or.id–Minggu pertama mahasiswa KKM adalah waktu untuk menemukan jatidiri kegiatan. Apakah berhasil mendapatkan enggagement di masyarakat dan kemudian bergerak untuk meningkatkan level perubahan dari yang kecil-kecil yang mereka temukan atau mereka terjebak pada kerja administratif dan siklus teknis administratif masyarakat. Spirit inovasi, transformasi, dan meningkatkan level keberdayaan adalah bagian penting dari pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang.

Mereka membutuhkan tempat mengurai pilihan, tantangan, dan harapan untuk mendapatkan peluang menemukan perubahan (pemberdayaan). Dari mengeluh menjadi tertantang, dari banyaknya pilihan menjadi dapat menentukan prioritas dan memastikan peluang, dari kebuntuhan mendapatkan inspirasi. Untuk itu, kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang. Mereka akan menjadi tukang piket, administrasi desa, jadi pengganti/pelengkap pengganti mengajar TPQ atau tenaga suruhan saja. Mereka terseret arus kemapanan kerja pesuruh, bahkan buruh. No-way.

Baca juga: Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Saat berdiskusi, mendengar, dan mengulik cerita mahasiswa, mereka merasa senang ketika ada pengurai kebuntuan. Bukan sekedar senang, yang lebih penting dari itu adalah fokus dan ketemu pintu masuknya pemberdayaan. Diskusi dengan pendamping menjadi penting. Bagi kita DPL, boleh jadi sepele, tapi bagi mahasiswa, membantu mengurai berbagai alokasi kegiatan yang mereka identifikasi dan fokus lebih strategis adalah perjuangan dan disitulah mereka belajar. Kehadiran dosen menjadi sumbu memantik ledakan kesempatan, kecuali mahasiswanya memiliki ketrampilan tacit knowledge (pengetahuan sintesis antara ilmu dan implementasi di lapangan) sebagai bakat melekat.

Tidak harus seminar, buat ruang bersama mencerahkan

Al-kisah. Saat mereka bercerita terkait dengan sosialisasi narkoba dan keuangan keluarga. Ketemu ide yang mencerahkan. Pemdes meminta mereka penyuluhan. Mahasiswa membayangkan penyuluhan dengan cara seminar atau forum resmi. Tapi cara itu akan menjadi counter culture yang menjadi konflik judgement dan melahirkan respon reaktif. Kita tidak tahu kultur mereka tentang minum dan aneka rupa narkoba. Sosialisasi ini bisa menjadi antitesis yang menimbulkan frksi dan pertentangan budaya. Maka pendekatan preventif dan tidak langsung justru menjadi penting. Maka ada kesepakatan untuk menciptakan ruang sehat bagi anak-anak dan remaja agar mereka dikenalkan mengonsumsi makan dan minum yang sehat. Ini kesimpulan mempengaruhi jangka panjang.

Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya.

Peluangnya adalah justru menggunakan pintu masuk dengan memberikan pendekatan pada anak-anak dan remaja melalui senam dan bantengan. Mereka terlibat pada mendorong kesempatan untuk berdaya, berkarya, dan bergerak sehat. Mereka perlu diajak bergerak dengan karya dan kebajikan. Bukan nasihat no-drug. Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya. Termasuk bantengan yang sehat itu bernilai seni dan olahraga, makan bergizi, dan lain-lain. Mereka diajak bahwa sosialisasi narkoba bukan menceramahi para pemuda dan orang tua. Lah, justru ini melawan kultur. Akan tertolak karena kita memusuhi budaya mapan masyarakat, meskipun itu kita anggap jelek.

Baca juga: KATI; Eduwitasa Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Anak-anak sebagai pintu masuk keterlibatan

Pintu masuk ke anak untuk mempengaruhi orang tua
Tantangan lain, literasi finansial tradisional lebih diutamakan daripada pendekatan akuntansi modern. Ini pendekatan literasi keunangan ramah budaya. Dalam diskusi dengan kelompok KKM, kalau mereka diajari akuntasi modern sederhana, potensi penolakan ada, karena dasar berpikir dan berperilaku belum ada. Butuh proses panjang. Yang lebih penting dari itu adalah membangun mindset uang aman lebih dulu yang mudah berdasarkan pengalaman dan imajinasi orang lokal. Misalnya dengan membuat tabungan (jawa: celengan) untuk tandon uang aman.

Misalnya para ibu-ibu yang jualan dan sedang nongkrong di titik kumpul tertentu, mahasiswa dapat memfasilitasi mendiskusikan apa saja hal kecil yang mereka pilih untuk mendapatkan ide bersama. Atau di pengajian membuat gerakan sisakan uang aman di botol bekas. Simpan dan lupakan. Bisa dengan mengikuti tanggal atau dibalik. Misal, tanggal satu memasukkan uang aman tiga puluh ribu, hingga tanggal 30 satu ribu. Setiap sehari jualan, mereka diajak membuat gerakan sisihkan dan amankan serta lupakan. Mereka diajak berbuat dengan perilaku sederhana, bisa dilakukan, dan mudah.

Gerakan ini bisa dimulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua.

Jika tidak bisa langsung ke orang tua, gerakan mereka bisa memulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua. Misal, mereka menyepakati membuat celengan tematik bersama keluarga. Anak-anak yang mengikuti les-lesan, atau bermain-main, mahasiswa dapat mendorong untuk menciptakan celengan masa depan. Nah, spirit ini yang dapat tumbuh mekar untuk menciptakan mindset uang aman dengan cara lokal. Tentu perlu kita mempertimbangkan sudut pandang orang lokal agar mereka dapat beride yang relevan dengan pemaknaan mereka.

Akhiran. Mahasiswa di minggu pertama ini sangat butuh teman mengurai fokus pemberdayaan mereka. Banyak ide yang tumplek-blek. Jika tidak dibantu mengurai, mereka akan terjebak dengan rutinitas dan kerja pragmatis. KKM berdampak-bergerak adalah belajar hadir terlibat dalam mental lokal tetapi mampu menciptakan pengaruh inspiratif, inovatif, dan berdaya. Setidaknya, hal ini adalah pengalaman penting kepemimpinan mereka, bukan pengganti kerja orang lokal semata, tetapi mitra berdaya yang lahir dari kesepakatan dalam komunikasi terlibat

Mohammad Mahpur
Mohammad Mahpur
Ilmuan Psikologi Sosial, Peace Activist and Gusdurian Advisor, Writer, Pemberdaya Masyarakat dan Komunitas. Founder Kampus Desa Indonesia. Memberikan beberapa pelatihan gender, moderasi beragama, dan metodologi penelitian kualitatif, khusus pendekatan PAR
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments