Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
BerandaIlmu PengetahuanPsikologiKebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Kampusdesa.or.id–“Kebahagiaan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya!”, tulis Kahlil Gibran dalam ‘The Prophet’. Siapakah yang mampu membuka kedok atau topeng jiwa itu kalau bukan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran kita?

Kebahagiaan atau kesedihan itu adalah respon terhadap situasi dan kondisi. Situasi disusun oleh materi-materi yang saling berhubungan. Ada kenyataan. Ada fakta. Fakta material itu bisa berupa benda (barang). Materi  itu bisa hal-hal kepemilikan, misal uang, rumah atau barang-barang lainnya.

Materi itu ada yang terlihat berdiri sendiri, ada juga yang terlihat saling berhubungan. Manusia yang punya kesadaran lebih tinggi biasanya lebih mampu menjelaskan hubungan-hubungan itu, baik hukum sebab akibat maupun hukum-hukum kehidupan lainnya.

Ilmu tentang hubungan antara materi-materi dalam kehidupan dinamakan materialisme-dialektika. Tapi jangan salah paham bahwa  ini adalah ilmu yang membuat manusia matre atau gila harta. Justru sebaliknya, ia membuat manusia bahkan bisa “bunuh diri kelas”—seperti Tan Malaka yang rela keluar dari kenyamanan kelas bangsawan untuk menuju tokoh berlawan yang hidupnya susah karena melawan penjajah, jadi buron dan harus sering sembunyi, serta tak jarang mengalami kesulitan hidup.

Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Pemahaman tentang hukum sebab akibat dalam hidup ini bisa dikembangkan lebih jauh. Anak kecil mungkin tahu bahwa uang bisa ditukar dengan permen. Tapi dia mungkin belum tahu bagaimana dampak sosial-budaya dari mempertukarkan harga diri dengan uang.

Rakyat Indonesia umumnya mungkin tahu bahwa nilai suara mereka bisa ditukar dengan uang saat pemungutan suara dalam Pemilu, Pilkada, atau Pilkades. Tapi mungkin jarang yang sampai pada level berpikir tentang hakekat politik yang menurunkan derajat dan martabat individu pemilih. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah terlarang oleh hukum.

Dunia Material

Dunia ini material. Manusia punya otak untuk menjelaskan dunianya. Otak adalah organ tubuh yang paling seksi—menurut saya. Dan kata Kahlil Gibran lagi, “dunia adalah surga dengan pikiran kita sebagai pintu gerbangnya!”

Tanpa pikiran, dunia mungkin bagi orang yang gagal memenuhi nafsu dan kehendaknya, adalah neraka. Tapi belum tentu bagi para pencari kebahagiaan yang dibantu oleh akal. Akal, kata Imam Al-Ghazali, adalah salah satu alat untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Akal adalah sarana penyucia jiwa (tazkiyatun nafs).

Orang (manusia) itu juga materi. Manusia tentu saja adalah materi yang punya perasaan dan pikiran. Ada tubuh, ada pikiran.  Nah, pikiran inilah yang merespon dan membangun pemahaman tentang materi. Materi di luar tubuh diterima oleh indra, lalu indra mengirimkannya ke otak. Di otaklah materi dan kenyataan dipahami. Munculah perasaan, termasuk perasaan bahagia atau perasaan sedih.

Ya, perasaan sangat tergantung pada pikiran dan cara berpikir. Cara merasa tergantung pada cara berpikir.

Kehadiran materi di hadapan kita tidak secara otomatis langsung membuat kita bahagia karena pikiran akan meresponnya dengan berusaha untuk memahaminya, dan memaknainya

Di sinilah kenapa kemudian ada saja yang bilang bahwa orang kaya belum tentu bahagia, dan orang miskin belum tentu susah. Artinya, kehadiran materi di hadapan kita tidak secara otomatis langsung membuat kita bahagia karena pikiran akan meresponnya dengan berusaha untuk memahaminya, dan memaknainya.

Baca juga: Dialog Hindu Muslim; Ada dalam Kearifan Jedong

Misal, ada orang yang tiba-tiba datang untuk memberi anda uang. Tidak otomatis akan langsung menghadirkan rasa bahagia. Masih muncul pertanyaan dalam pikiran. Akan muncul pertanyaan, untuk apa uang itu diberikan? Apa alasannya? Dari mana uang itu didapat.

Seorang istri yang tiba-tiba diberi uang oleh suaminya dengan jumlah yang berbeda dari biasanya pun juga bertanya. Misal, tiba-tiba suaminya memberikan uang banyak. Si istri bertanya, “dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini, Mas?”

Bayangkan jika si suami menjawab begini, “kamu tak usah tanya dari mana  uang sepuluh juta itu aku dapat. Yang penting kamu menerimanya, soal dari mana aku mendapatkannya kamu tak perlu tahu!”

Dugaan saya, si istri malah sedih. Bahkan bisa jadi ia menolak untuk menerima uang itu jika belum ada penjelasan yang menyatakan bahwa duit itu didapat dengan cara yang baik. Tapi bisa juga sebaliknya, si istri bisa cuek saja tentang asal-usul duit itu—asal suaminya memberi uang, ya itulah yang bisa membuatnya bahagia.

Seorang laki-laki pejabat bisa mendapatkan banyak uang dan istrinya yang ibu-ibu sosialita juga tak peduli bagaimana suaminya mendapatkan uang itu. Ia bahagia sepanjang menjadi istri seorang pejabat yang pendapatannya lumayan besar, baik dari gaji pokok, tunjangan, honor, dan entah dari mana lagi asalnya. Namun suatu saat, ternyata suaminya terciduk petugas pemberantasan korupsi. Lalu suaminya terjerat kasus hukum, dan akhirnya divonis bersalah, lalu masuk penjara selama beberapa tahun.

Pikiran dan Makna Hidup

Banyak kisah hidup yang ternyata kalau pikiran kita mampu menjangkaunya, akan bisa memberikan pemaknaan kita terhadap hidup—terhadap posisi dan peran, terhadap kemanfaatan sebagai manusia. Berpikir mendalam dan luas, terkait hubungan-hubungan antar manusia,  tentang manusia dengan tuhannya, bisa menghadirkan cara pandang baru tentang kebahagiaan.

Memahami bagaimana pikiran dan perasaan bekerja, bagaimana memahami alur hidup, hukum-hukumnya, kontradiksi (baik kontradiksi pokok atau kontradiksi khusus, atau mutasi kontradiksi), dengan tingkat pendalaman yang lebih tinggi, akan bisa menambah cara pandang kita tentang kebahagiaan dan kesedihan. Orang dengan tingkat pengetahuan (ma’rifat) yang lebih tinggi, bisa jadi cara menemukan kebahagiaannya akan jauh berbeda dengan orang yang tidak berpikir—apalagi orang yang hanya tahu kalau keinginannya terpenuhi seneng, dan kalau keinginannya gagal akan marah.

Baca juga: KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Kebiasaan merasakan sesuatu itu dibentuk sejak lahir dan tumbuh, sepanjang hidup dan sepanjang ia mengalami dan menjalani keadaan.

Manusia dengan Keingingan

Dalam diri itu manusia itu yang nyata adalah kebutuhan dan keinginan. Bagaimana keinginan-keinginan ini bisa dipenuhi (atau tidak) dan bagaimana ia membiasakan diri dalam menghadapi gagal atau berhasilnya keinginan dalam perjalanan hidup. Itulah yang akan membentuk bagaimana ia merespon kenyataan dan keadaan yang dihadapi.

Sejak bayi hingga tumbuh menjadi orag dewasa, kita selalu belajar membiasakan perasaan dan membentuk karakter dari pembiasaan perasaan dan pikiran kita akibat dari cara kita merespon keinginan dan kebutuhan.

Saya pernah membaca buku Sigmund Freud yang berjudul  “Civilization and Its Discontents”. Dalam buku itu, Freud jelas-jelas mendiskusikan bagaimana peradaban manusia terbentuk dari cara-cara makhluk yang punya kebutuhan dan keinginan ini belajar mengalami kegagalan-kegagalan dalam mewujudkan keinginan. Sejak bayi hingga tumbuh menjadi orag dewasa, kita selalu belajar membiasakan perasaan dan membentuk karakter dari pembiasaan perasaan dan pikiran kita akibat dari cara kita merespon keinginan dan kebutuhan.

Oya, ini pertanyaan untuk para Jomblo. Saat remaja kamu pernah ‘nembak’ cewek lalu ditolak? Dan berapa kali kamu mengalaminya hingga akhirnya hingga saat ini kamu tak juga mendapatkan jodoh. Bagaimana kamu menyalurkan kegagalan-kegagalan, menyalurkan kebutuhan dan keinginan yang ingin dipenuhi. Atau memakai kepuasan dan pemuasan pengganti?

Baca juga: Broken Strings dalam Sebait Jiwa dan Sastra

Saya ingin mencontohkan kisah saya sendiri: Awal kelas 2 SMA saya  “nembak” cewek. Di hari sabtu. Hari senin dijawab. Cinta saya  ditolak. Bagaimana saya mengatasi perasaan itu?—ini harus dianalisa. Caranya, ya cari kepuasan dan pemuasan pengganti. Ya menyublimasi keinginan. Ya menganalisasi energi ke bentuk lain.

Nama gadis itu adalah “Rino Fatmasari”—saya ‘tembak’ dengan puisi berjudul “Bunga Fatma”

Misalnya: Saya langsung lari ke dunia puisi. Dunia kata-kata. Sebenarnya, aku “nembak” cewek itu  juga lewat puisi. Nama gadis itu adalah “Rino Fatmasari”—saya ‘tembak’ dengan puisi berjudul “Bunga Fatma”. Jadi, mulainya memang sudah berbau puisi. Dan pelariannya ya puisi. Jadi amat mudah.

Sejak kecil saya  terbiasa menekan kebutuhan dan keinginan. Biasalah kita-kita, mungkin seperti Anda dan mereka yang lahir dari anak kelas bawah—apalagi aku juga dari keluarga yang agak broken home. Sudah terbiasa ingin makan enak tidak bisa dipenuhi. Sudah terbiasa, di masa kecil, misalnya ingin  punya banyak mainan kayak anaknya tetangga dan saudara yang kaya, tidak bisa beli. Terbiasa tidak ekspresif. Terbiasa harus sering ngalah pada keadaan.

Jika keinginan tak tercapai tidak kecewa berat, tetapi langsung ada harapan lain. Ada hiburan. Ada pengalihan. Ada penguapan (sublimasi). Semua itu tergantung pada bangunan-bangunan dasar dalam jiwa (psikis) seseorang.

Tapi beruntunglah ada orang yang saat-saat mengalami kegagalan-kegagalan keinginan itu, tidak terbangun bentukan psikis yang berbahaya bagi perkembangan. Artinya, jika keinginan tak tercapai tidak kecewa berat, tetapi langsung ada harapan lain. Ada hiburan. Ada pengalihan. Ada penguapan (sublimasi). Semua itu tergantung pada bangunan-bangunan dasar dalam jiwa (psikis) seseorang.

Baca juga: Broken Strings dalam Sebait Jiwa dan Sastra

Ada juga orang yang, misalnya, keinginan dan kebutuhannya gagal, langsung melihat jalan gelap, tidak ada harapan. Seakan semua habis. Dan hal itu memunculkan keputusan untuk mengakhiri hidup. Sebab hidup dilihat sebagai sebuah kegelapan, yang baginya tak ada lagi sesuatu yang diharapkan. Makanya, salah satu cara kita mempertahankan hidup itu adalah adanya harapan yang ada di pikiran.

Kebahagiaan dan Kesedihan Ditentukan Pikiran

Jadi, di sini, kebahagiaan dan kesedihan itu sekali lagi lebih banyak ditentukan oleh situasi pikiran. Orang yang pikirannya sempit, akan lebih banyak putus asa. Orang yang pikirannya luas, terbuka lebar baginya untuk mencari  berbagai jenis kebahagiaan. Karena harapan-harapan dalam pikirannya akan membuat ia melihat kemungkinan-kemungkinan  munculnya apa-apa hal-hal yang diinginkan.

Ia melihat peluang adanya hal-hal baru yang menarik minat dan keinginan. Bahkan pikiran yang berkembang luas bisa memberi pemaknaan baru terhadap hal-hal yang jarang diinginkan oleh orang-orang yang jarang berpikir. Munculnya referensi-referensi baru terkait suatu hal, benda dan bentuk kegiatan, akan membuat kita menemukan banyak hal yang membuat kita bahagia.

Belajar di sini bisa berarti membuka wawasan-wawasan dan pemahaman baru. Bisa juga berupa proses memperbaharui perasaan dan  pikiran kita

Keinginan, minat, tujuan hidup, dan kemampuan diri dalam memaknai realitas akan terus berkembang ketika kita terus mengembangkan pikiran kita dan bahkan terus belajar. Belajar di sini bisa berarti membuka wawasan-wawasan dan pemahaman baru. Bisa juga berupa proses memperbaharui perasaan dan  pikiran kita, membangun suatu fondasi psikis  agar kita tidak gampang kecewa, sedih, atau marah.

Kita tidak marah karena kita tahu kenapa kita gagal, dan kita bisa menjelaskan kenapa hal itu gagal. Kita tidak kecewa karena kita tahu bahwa sesuatu itu terjadi tanpa sebab. Kita  memilih suatu dan punya tujuan atau target yang berbeda dengan orang lain karena punya alasan kenapa kita memilih hal  itu. Dan kita akan terus mampu berjuang untuk menggagalkan hal-hal yang tidak membuat kita bahagia.*

Nurani Soyomukti
Nurani Soyomukti
Penulis dan pegiat literasi, saat ini sedang “nyantri” di pasca-sarjana Akidah Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments