Kampusdesa.or.id — Berbagai komunitas lintas iman dan lintas suku di Malang Raya memperkuat jejaring kolaborasi melalui kegiatan Gathering Harmoni Lintas Suku dan Iman: Refleksi Bersama untuk Harmoni Keberagaman Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 13 Januari 2026, bertempat di Balewiyata GKJW Kota Malang. Forum ini menjadi ruang perjumpaan, refleksi, dan dialog bersama dalam merespons persoalan sosial yang semakin kompleks, mulai dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan rumah ibadah ramah anak dan disabilitas, hingga isu kemiskinan dan ketahanan pangan.
Baca juga: Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya
Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Tim Balewiyata GKJW bersama Peace Leader Indonesia dan diikuti hampir 50 peserta dari lebih dari 15 komunitas. Para peserta berasal dari kalangan akademisi, organisasi keagamaan, komunitas pemuda lintas iman, serta gerakan masyarakat sipil di Malang Raya dan Pasuruan. Hadir dalam forum ini dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Koppatara, Gusdurian, Kampus Desa, komunitas pemuda lintas iman, serta perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muslimat NU, Jamaah Ahmadiyah, komunitas Buddha dan Hindu, hingga perwakilan aliran kepercayaan.
Balewiyata sebagai Ruang Belajar dan Dialog Lintas Iman
Perwakilan Balewiyata GKJW, Pdt Hardiyan Triasmoroadi, menjelaskan bahwa Balewiyata secara filosofis berarti rumah pengajaran. Secara historis, Balewiyata berfungsi sebagai ruang pendidikan bagi calon pendeta GKJW. Namun, seiring perkembangan zaman, Balewiyata kini membuka diri sebagai ruang pembelajaran dan dialog lintas iman yang inklusif.
“Balewiyata berarti rumah pengajaran. Dulu kami fokus pada pendidikan calon pendeta, tetapi sekarang kami mengembangkannya menjadi ruang studi intensif lintas iman, termasuk bagi perempuan dan kelompok masyarakat lainnya,” jelas Pdt Hardiyan Triasmoroadi.
Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal
Ia menegaskan bahwa ruang perjumpaan lintas iman dan lintas suku menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tantangan sosial dan dinamika global. Menurutnya, situasi geopolitik dan sosial yang semakin kompleks berpotensi memicu ketegangan di tingkat lokal apabila masyarakat tidak memiliki ruang dialog yang sehat.

“Komunitas lintas iman perlu hadir untuk menyulut semangat kebersamaan. Pertemuan seperti ini tidak boleh berhenti pada diskusi, tetapi harus menghasilkan langkah nyata yang berdampak bagi masyarakat,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Pdt. Hardiyan Triasmoroadi menyampaikan bahwa Balewiyata secara rutin menggelar diskusi tematik setiap Kamis keempat setiap bulan. Forum ini membahas berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Kami secara konsisten mendiskusikan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, rumah ibadah ramah anak dan disabilitas, kemiskinan, serta persoalan pangan. Isu-isu ini tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja,” ungkapnya.
Kolaborasi Lintas Iman untuk Menjawab Persoalan Sosial
Dalam sesi diskusi, para peserta secara aktif membahas tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Mereka menekankan pentingnya menjadikan rumah ibadah sebagai ruang aman yang ramah bagi anak, perempuan, dan penyandang disabilitas, tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga dari sisi sosial dan psikologis.
Isu kemiskinan dan ketahanan pangan juga mendapat perhatian serius. Peserta menyoroti ketimpangan akses pangan di wilayah perkotaan dan pentingnya pengelolaan limbah makanan secara kolaboratif sebagai bagian dari tanggung jawab sosial lintas iman dan lintas sektor.
Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan
Mahpur dari Kampus Desa menegaskan bahwa pendidikan berbasis komunitas dan pengakuan terhadap keahlian lokal dapat menjadi solusi alternatif atas persoalan sosial di masyarakat.
“Kita belajar, kita yang mengajar, kita yang memberi gelar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kampus Desa mendorong sertifikasi mandiri berbasis keahlian lokal yang belum terakomodasi dalam sistem sertifikasi nasional. Kampus Desa juga membuka ruang kolaborasi bagi dosen yang ingin mengimplementasikan ilmunya secara langsung di desa.
Baca juga: Menginspirasi Anak-Anak Melalui Permainan dan Pendidikan
“Kami mengangkat keahlian lokal di desa-desa dan menyusunnya menjadi sertifikasi mandiri. Kampus Desa juga siap menjembatani dosen agar ilmunya benar-benar berdampak di masyarakat,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mahpur juga berbagi pengalaman praktik toleransi di lingkungan Balewiyata GKJW. Ia menyebut gereja tersebut telah memfasilitasi umat Muslim untuk beribadah di sela-sela kegiatan. Mereka bisa sholat di ruangan Gus Dur.
Dari kalangan akademisi, Aprilia Mega dari PSGAD UIN Malang menegaskan bahwa pendekatan inklusi sosial menuntut keterbukaan lintas iman dan lintas sektor.
“Kami membahas inklusi sosial secara menyeluruh, mulai dari kekerasan, kemiskinan, disabilitas, hingga pangan. Karena itu, ruang dialog lintas agama seperti ini sangat penting,” katanya.
Tidak dipungkiri, sebagaimana pernyataan Susiana dan Fahrur, dari komunitas Baha’i Malang Raya, “kerja keagamaan itu membutuhkan kesatuan tujuan. Sebagaimana kita menuju satu Tuhan. Keragaman tanpa kesatuan menjadi pincang. Kesatuan ini perlu kita yakini sebagai modal perdamaian.” Jamaah Ahmadiyah juga menambahkan bahwa “jejaring lintas organisasi harus dibangun tanpa memandang perbedaan latar belakang demi kemaslahatan bersama.”
Diskusi juga menghasilkan usulan agar isu perundungan berbasis agama, khususnya di lingkungan pendidikan, menjadi agenda prioritas pada pertemuan berikutnya. Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, menekankan pentingnya pembaruan dan keberlanjutan gerakan lintas iman.
“Ruang lintas iman harus terus diperbarui dengan wajah-wajah baru agar tetap relevan. Jejaring ini juga harus berfungsi sebagai mekanisme respons cepat ketika terjadi persoalan sosial,” tegasnya.
Redy Saputro berharap pertemuan ini menjadi titik awal penguatan sinergi lintas iman dan lintas suku yang berkelanjutan demi merawat harmoni keberagaman Indonesia (Helina).



