Malang, 19 Oktober 2025 | Kampusdesa.or.id – Anak-anak Dusun Sempu latihan budidaya ikan lele melalui pendampingan dosen dan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tim Qoryah Toyyibah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan inovasi pembelajaran kontekstual di SDN 03 Gadingkulon, Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, tim melaksanakan kegiatan pembelajaran budidaya ikan lele dengan memanfaatkan galon bekas, sebagai bentuk edukasi kreatif bagi anak-anak desa sekaligus langkah konkret pemberdayaan lingkungan sekolah yang telah lama terbengkalai.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut program revitalisasi aset publik yang telah berjalan sejak pertengahan tahun. Melalui kolaborasi dengan komunitas Pesona Anak Bangsa (PAB) dan Kementrian Desa dan Lingkungan DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim MALANG serta dukungan penuh dari perangkat desa, pembelajaran berbasis praktik ini melibatkan tujuh anak dari tingkat SD dan SMP dengan suasana penuh semangat dan keceriaan.
Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan langkah-langkah sederhana membuat kolam mini dari galon air bekas. Mereka belajar melubangi galon untuk sirkulasi udara, mencuci wadah, mengisi air bersih, hingga menyiapkan tempat bagi bibit ikan lele yang baru datang dari peternak lokal.
Belajar Otentik, Bukunya Pengalaman Langsung
“Ide ini muncul karena ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian melalui kegiatan nyata,” ujar Fiqhan Khoirul Álim, salah satu fasilitator kegiatan.
Setiap anak mendapatkan satu galon berisi sekitar 50 bibit ikan lele yang menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Mereka juga membuat jadwal harian pemberian pakan pagi dan sore yang akan mereka tandai sendiri di buku catatan.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya, tetapi juga diajak memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya. Mereka juga memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan. Mereka tampak antusias, bahkan berlomba-lomba membantu teman yang kesulitan saat memindahkan bibit lele ke galon masing-masing.
“Awalnya kami kira cuma belajar teori. Ternyata benar-benar langsung praktik, bahkan bisa pegang ikan lelenya,” ujar salah satu peserta dengan gembira.
Ketua RT setempat turut yang membantu penyediaan bahan dan alat sederhana untuk melubangi galon. Ia mengapresiasi ide pembelajaran ini karena tidak hanya menghidupkan kembali aset sekolah. Pembelajaran ini mengajarkan anak-anak pentingnya memanfaatkan sumber daya sekitar secara bijak.
Membangun Ekosistem Edukatif, Melawan Kesepian
Selain memperkenalkan konsep urban farming, kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju terbentuknya ekosistem lingkungan edukatif di sekitar sekolah. Sebelumnya, area tersebut telah dimanfaatkan warga untuk menanam cabai, terong, dan bawang. Dengan hadirnya kolam lele mini, kawasan sekolah kini menjadi laboratorium kecil yang hidup dan bermanfaat.

Setelah praktik selesai, anak-anak berdiskusi tentang cara merawat ikan, mengganti air, serta menjaga kebersihan kolam. Mereka juga belajar bahwa ikan lele membutuhkan perhatian dan kedisiplinan, karena jika lalai memberi makan, ikan dapat saling memangsa.
Melalui pembelajaran sederhana ini, anak-anak Dusun Sempu tidak hanya belajar ilmu budidaya, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan. “Kami ingin kegiatan seperti ini berlanjut, agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak meski tidak lagi aktif secara formal,” tutur Menyingari Alfianoor Ibrahim, koordinator lapangan kegiatan.
Program budidaya lele ini menjadi simbol kecil dari gerakan besar revitalisasi SDN 03 Gadingkulon—sebuah upaya nyata mengubah bangunan sepi menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan yang hidup kembali.
Penulis: Fiqhan Khoirul Álim. Aktifis pemberdaya masyarakat sekaligus relawan penggerak Kampus Desa Indonesia. Alumni Fellowship Program For Indonesian Youth Villagers Kampus Desa Indonesia



