Selasa, Januari 20, 2026
spot_img
BerandaMenguatkan Enggagement, Bukan To The Point

Menguatkan Enggagement, Bukan To The Point

Kampusdesa.or.id–“Tidak bisa dan tidak mau. Susah pak untuk dikumpulkan dan tidak punya waktu mereka untuk diajak pertemuan.” Suara tersebut menjadi isi pembicaraan saat berkumpul dengan mahasiwa yang kami kunjungi di beberapa kelompok KKM. Mahasiswa mencontohkan tawaran untuk sertifikasi halal ke beberapa kelompok usaha mikro, mereka menolak tidak mau karena alasan susah atau tidak membutuhkankan. Selain itu, mereka menginformasikan jika orang-orang kesusahan terlibat dalam kegiatan yang mereka akan selenggarakan selama KKM.

Mencairkan hubungan secara lokal

Al-kisah, pengalaman saya mengajak ibu penggerak PKK untuk berperan sebagai penyuluh dan guru lokal Sekolah Rakyat Ngasuh Anak Sing Becik. Seorang ibu tersebut menolak dan menyatakan tidak sanggup dan merasa belum bisa dan berani dalam memberikan materi khusus berdasarkan pengalamannya. Saya merasa bingung. Akhirnya saya menunda dulu keinginan tersebut. Saya terus menjalin komunikasi dulu dengan berbagai pertemuan informal dan sering mengunjungi ke rumahnya. Berbagai bahasan kami bicarakan baik yang kami anggap penting atau pengalaman beragam sebagai bumbu komunikasi yang kurang penting.

Ternyata, pembicaraan yang sering kami lakukan bersama, perlahan memantik sikap baru yang tidak saya sengaja menjadi perubahan positif.

Ada saat yang tepat kami membahas berbagai pengalaman positif yang dia punyai. Termasuk solusi terhadap anak yang tidak mau sekolah setelah lulus SMP dan langsung bekerja. Setelah omong kobot (pembicaraan yang mengalir dan kita anggap sebagai bunga-bunga komunikasi), seorang ibu tersebut memberitahukan anaknya akan melanjutkan ke SMK dan tidak jadi memilih bekerja.  Saya heran, ternyata pembicaraan seputar pengasuhan yang baik dengan membahas berbagai persoalan yang mereka hadapi bersama menumbuhkan perubahan sikap dan keputusan sang ibu. Ternyata, pembicaraan yang sering kami lakukan bersama, perlahan memantik sikap baru yang tidak saya sengaja menjadi perubahan positif.

Baca juga: Memecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

Mencairkan hubungan dengan demikian menjadi cara terlibat dan membaurkan semangat perubahan dan kooperatif warga. Ibu tersebut akhirnya mau terlibat menjadi guru lokal yang siap belajar. Kooperasi ibu tersebut membutuhkan konsolidasi dan pencairan hubungan sehinga kita saling bertukar bahan untuk memberikan suplay kedua belah pihak. Di sini setiap pihak masih dalam tahap mengupayakan keingingan dan ide-ide yang boleh jadi masih terjadi ketimpangan. Di sini pula setiap pihak membutuhkan berbagai bahasa untuk mendapatkan kesamarata-setara dalam mengukur pemahaman dan suplay sumberdaya. Tanpa ruang yang saling terkomunikasikan, maka kepentingan perubahan masih berlaku sepihak. Penawaran to the poin dengan demikian seperti menohok dan memaksa orang berubah dan bergabung tanpa syarat. Tentu akan berat bagi pihak lain yang belum memberikan posisi atas kemauan bersama. Dengan demikian terlibat dan membaur menjadi langkah awal untuk mendapatkan kesaling-pemahaman.

Memahami habituasi dan motivasi mereka

Agar terhindar dari situ, pendatang pengabdi/pemberdaya lebih banyak menemukan dulu bahasa tutur mereka melalui jagongan. Berbicara saling mengenal lebih dulu. Berbagi cerita. Kita kemudian menjadi lebih tahu olah bahasa masyarakat lokalnya. Sebagai pendatang, kita pun perlu memahami budaya mereka dan habituasi (kebiasaan positif) dalam memainkan imajinasi mereka.

Di awal pengabdian, memahami bahasa, budaya, dan habituasi masyarakat menjadi penting untuk mendapatkan potensi gerakan.  Oleh karena itu, siapapun di antara kita, langsung menawari kegiatan ini dan itu justru menjadi bumerang. Bahkan ada banyak pengalaman, banyak masyarakat menganggap kita membawa uang. Atau masyarakat langsung mengatakan, buat apa kalau hanya pelatihan-pelatihan. Mereka kemudian menyodorkan berbagai tawaran sarana dan prasarana dengan harga materi tertentu. Kadang, buat apa mereka paham sesuatu, yang penting uangnya ada maka kegiatan berjalan.  Agar terhindar dari situ, pendatang pengabdi/pemberdaya lebih banyak menemukan dulu bahasa tutur mereka melalui jagongan. Berbicara saling mengenal lebih dulu. Berbagi cerita. Kita kemudian menjadi lebih tahu olah bahasa masyarakat lokalnya. Sebagai pendatang, kita pun perlu memahami budaya mereka dan habituasi (kebiasaan positif) dalam memainkan imajinasi mereka. Lama-kelamaan kita dapat memetakan habituasi bergerak dan potensi apa yang memicu kerjasama antara pendatang (mahasiswa KKM) dan masyarakat lokal.

Mengenal dan memanfaatkan medan sosial warga

Saling kenal menjadi kunci. Beberapa kasus saya temukan di titik pengabdian mahasiswa (KKM). Mereka langsung  menohok dan warga mengajak mahasiswa membangun parit. Ternyata setelah ditelisik, ada kesalahan perkenalan di awal. Entah darimana, apakah dari sisi mahasiswa atau dari sisi masyarakat lokal. Tetapi yang lebih penting adalah setiap perjumpaan menciptakan persepsi dan keinginannya masing-masing. Mereka belum saling kenal satu dengan yang lain tentang sumberdaya yang akan mereka bagi atau kerjasamakan. Kenali beberapa tokoh kunci dan berbagai pengalaman positif terhadap yang mereka miliki menjadi penting untuk membangun kedekatan.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Jagongan dan cangkrukan dapat dilakukan dengan niatan silaturrahmi ke orang-orang yang berpengaruh sekaligus tepat. Jagongan dan cangkrukan adalah kegiatan santai yang mengambil tempat di lokasi tertentu. Mereka biasanya memiliki tempat khusus di ruang publik warga. Seperti di rumah warga, di pos-ronda, di tempat khusus biasanya mereka berkumpul. Pengabdi dapat mengenalkan diri dan kemudian buat berbagai pertanyaan dan minta warga lokal bercerita berbagai inspirasi lokal yang bermanfaat. Dari yang remeh temeh hingga kegiatan penting warga. Dengarkan dengan baik dan beri umpan balik sekaligus menimbang peluang pengabdi di mana. Jika mulai tergambar, pengabdi dapat mulai memprospek peluang tersebut untuk anda dapat melibatkan diri dalam peran-peran penting warga.

Mencari peluang simpati

Dari situ seorang pengabdi mulai menemukan simpati. Tawarin sebuah proses, bukan ongkos finansial.  Ketika sudah mulai menemukan peluang, pengabdi dapat mulai memahami sudut pandang orang lokal. Di situlah pengabdi/pemberdaya mencoba menawarkan keterlibatan. Waspadai untuk tidak terburu-buru memberikan janji material atau finansial. Jika pengabdi memiliki kesanggupan peran, anda dapat menawarkan dari  sumberdaya yang sudah ada (ilmu, bakat, keahlian, dan pengalaman). Jika ide pengabdi/pemberdaya mulai menemukan kebermaknaan di masyarakat, maka pengabdi mulai mendapatkan simpati. Ini adalah peluang emas.

Untuk itu, proses komunikasi yang ramah terhadap orang lokal perlu menjadi perhatian utama agar kita kenal dan mereka kenal.

Enggagement memiliki makna penting  untuk memulai pengabdian. Wajar karena kita menjadi pendatang yang belum memiliki kepercayaan pada orang baru. Untuk itu, proses komunikasi yang ramah terhadap orang lokal perlu menjadi perhatian utama agar kita kenal dan mereka kenal.  Hubungan tersebut menjembatani pemahaman, saling butuh, dan inisiatif kerjasama mulai menemukan jalannya.

Selamat mengabdi untuk negeri

Mohammad Mahpur
Mohammad Mahpur
Ilmuan Psikologi Sosial, Peace Activist and Gusdurian Advisor, Writer, Pemberdaya Masyarakat dan Komunitas. Founder Kampus Desa Indonesia. Memberikan beberapa pelatihan gender, moderasi beragama, dan metodologi penelitian kualitatif, khusus pendekatan PAR
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments