Kampusdesa.or.id–“Semesta Mengabdi” DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi aksi nyata gerakan mahasiswa sejak 17 Agustus 2025 di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Fiqhan, Menteri Desa dan Lingkungan Hidup DEMA menemukan tantangan sekaligus harta karun tersembunyi. Gerak ini melahirkan Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI), semangat edukasi dan kolaborasi pembelajaran berbasis alam. Cara ini mengembalikan kecerdasan alam dan semangat konservasi orang desa yang mulai tergadaikan oleh cara hidup baru.
Sidodadi adalah desa dengan kekayaan alam dan budaya yang kuat, namun menghadapi ancaman ekologis yang serius, seperti pendangkalan sungai, banjir tahunan, dan erosi. Alih-alih memilih jalan pintas melalui wisata massal yang berpotensi merusak lingkungan dan melemahkan peran masyarakat, tim pengabdian memilih pendekatan yang revolusioner.
Pendekatan Revolusioner: Eduwisata Berbasis Konservasi
Kami merancang program dengan menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Development), sebuah filosofi pengabdian yang berfokus pada penggalian potensi komunitas lokal. Fiqhan menegaskan, tujuannya bukan menjadikan masyarakat sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama dalam model eduwisata berbasis konservasi.
Puncak dari rangkaian program Semesta Mengabdi ini adalah peresmian Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI). Ini bukanlah kampus konvensional. KATI adalah kampus alam tanpa dinding yang menjadi manifestasi nyata dari tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) yang sepenuhnya berorientasi pada konservasi.
Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas
Konsep KATI sangatlah radikal dan visioner, sebagaimana berikut ini yakni;
- Alam sebagai ruang belajar: kami menggeser ruang kelas tradisional menjadikan kelas alam Sidodadi sebagai sumber kurikulum dan lokasi pembelajaran utama.
- Masyarakat sebagai dosen: Kati mengakui pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adalah guru, dosen, pengajar utama yang mereka juga memiliki kuasa mentransfer kecerdasan alam kepada generasi baru.
- Aksi konservasi sebagai laboratorium ilmiah: Setiap kegiatan pelestarian dan penanaman langsung di lapangan berfungsi sebagai laboratorium nyata untuk penelitian dan pengujian ilmiah.
KATI dengan demikian dapat menjadi pusat riset lapangan, pengabdian jangka panjang, dan model kampus alternatif yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kati memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengasah kecerdasan alam mereka. Kati menampung berbagai peran kolaborasi dari lembaga pendidikan lain, seperti sekolah, perguruan tinggi, atau para pegiat alam untuk menjadi mitra pembelajar.
Capaian dan Proyek Masa Depan KATI: Ruang Belajar Generasi Baru
Dalam kurun waktu empat bulan pengabdian, tim Semesta Mengabdi menghasilkan capaian konkret yang menjadi fondasi operasional KATI dan dampaknya di masyarakat. Capaian ini tidak hanya berbentuk konsep, tetapi aksi nyata berbasis data lapangan.
Melalui program bidang pendidikan, seperti ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, Kati mengajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah. Melalui KATI dan kecerdasan alam generasi muda Sidodadi melatih dirinya sendiri berkomunikasi secara global dan mengangkat sumber daya alam mereka. Cara belajar demikian menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan berbasis komoditas hayati—menjaga alam sambil membangun masa depan.
Ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, diajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah
Visi Jangka Panjang: Dari Desa ke Laboratorium Nasional
Sebagaimana Mahpur, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggarisbawahi, KATI adalah wadah berdaya masyarakat dan dapat menjadi tempat Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan UIN Malang.
Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk
Di masa depan, KATI akan berkembang menjadi pusat konservasi dan pendidikan lingkungan jangka panjang. Fiqhan dan tim berkomitmen untuk mengembangkan kelas alam, laboratorium sungai, pelatihan riset desa, serta program eduwisata konservasi yang melibatkan masyarakat secara penuh. KATI adalah model kampus masa depan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi pada pengalaman nyata di alam.
Peresmian KATI adalah puncak dari sebuah pengabdian dan awal dari komitmen baru untuk menjadikan Sidodadi sebagai desa konservasi yang mandiri dan berkelanjutan. Kunjungi dan jadilah bagian dari revolusi belajar tanpa dinding ini!



