Senin, Mei 4, 2026
Beranda blog Halaman 20

Gusdurian, Dialog Lintas Agama dan Lintas Negara

1

Gus Dur tidak saja fenomenal di Indonesia. Buah ketekunan gerakan GUSDURian sebagai kekuatan nilai, jejak perwajahan Gus Dur sebagai sebuah gagasan seputar demokrasi, kemanusiaan, dan keagamaan mulai tumbuh di berbagai negara. Pengaruh beliau tidak mengandang, tetapi semakin bertaburan secara global alias menginternasional.

Kampusdesa.or.id–Isu keagamaan dan krisis kemanusian masih saja berbelit di Indonesia dan Asia Tenggara, bahkan terjadi di masa pandemi COVID-19. Dalam rangka Haul Gus Dur ke-11 yang diinisiasi oleh Gusdurian Kuala Lumpur berkolaborasi dengan Gusdurian Thailand, acara webinar ini mengangkat tema “Gus Dur dan Dialog Lintas Agama”.

Acara yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 20 Februari 2021 ini dibuka oleh Koordinator GUSDURian Kuala Lumpur, perwakilan penggerak GUSDURian Thailand, dan Mbak Alissa Wahid, selaku Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian. Mbak Alissa Wahid menyampaikan rasa senang beliau karena tidak merasa sendiri dalam memperjuangkan nilai-nilai yang telah diteladankan Gus Dur dan semoga dengan acara ini dalam mengumpulkan kembali cerita-cerita Gus Dur yg tercecer di kawasan Asia Tenggara.

Webinar ini diawali dengan penyampaian materi oleh Prof. Rosalia Sciortino dari Institute for Population and Social Research Mahidol University dan Sea-Junction. Beliau membagi materinya ke dalam beberapa poin pembahasan terkait relevansi pemikiran Gus Dur dengan Thailand dan ASEAN serta mahasiswa Indonesia di Thailand.

Prof. Lia menyampaikan bahwa sosok Gus Dur dan pemikirannya sangat relevan dan berpengaruh pada nilai demokrasi dan kemanusian di Asia Tenggara baik Myanmar, Filipina dan Thailand, khususnya Thailand selatan. Gus Dur telah berjuang menolak kekerasan dan diskriminasi kaum minoritas di Asia Tenggara. Demokrasi dalam keluarga yang diusung oleh Gus Dur juga menjadi penting karena itu adalah refleksi demokrasi dalam negara.

Materi kedua disampaikan oleh Mr. Mohammed Imran, dari the Reading Group Singapore. Beliau mengatakan bahwa Singapore tidak memiliki sosok seperti Gus Dur yang dimiliki Indonesia. Namun, beberapa tahun ke belakang ada kelompok Islam progresif yang bergerak dengan meneladankan nilai-nilai seperti yang diajarkan Gus Dur.

Gus Dur mengajarkan kita pada sisi Islam yang moderat, toleran, dan pluralis karena sangat penting menjalani kehidupan harmonis dengan kelompok lain yg berbeda agama dan tidak lupa adanya keberagaman di dalam agama islam itu senditri sehingga perlunya ajakaan dialog intrafaith.

Di sesi ketiga, narasumbernya adalah Mr.Amirul Mukminin berkebangsaan Malaysia. Ia bercerita saat dulu ia belajar di pesantren di Malaysia, ustadznya melarang untuk menjadi seperti Gus Dur yang pluralis dan liberal. Namun, ia tidak meyakini hal tersebut dan saat membaca tulisan Gus Dur, ia yakin dan mulai jatuh cinta dengan prinsip yang dibawakan oleh Gus Dur sebagaimana Rasulullah ajarkan bahwa Islam adalah rahmatalil ‘alamin. Sehingga ia mendirikan Warung Neotradisionalis dengan teman-teman pesantren-nya untuk menggerakan islam seperti nilai-nilai Gus Dur.

Gus Dur mengajarkan bahwa Islam adalah sebagai tauladan dan pelindung agama lain. Gus Dur telah melakukan pendekatan dengan humour atau dalam Bahasa Malaysia, lawak sehingga islam itu dikenal dengan ramah, bukan marah.

Terakhir, dari Ahmad Mufid sebagai Direktur Klasika Lampung. Ia menekankan bahwa Gus Dur telah dulu meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak etintas sehingga jalan satu-satunya mengakomodir hal ini adalah melalui dialog. Oleh karena itu perlunya kita untuk melestarikan budaya dialog tersebut agar tidak mati.

Sesi diskusi tanya jawab yang berlangsung sangat menarik dan interaktif, ada peserta webinar yang menanyakan tekait pengaruh Gus Dur pada kelompok minoritas di negara lain. Mbak Alissa menceritakan bahwa ada twit ada seorang muslim Uyghur di Australia yang mengenal Gus Dur karena Gus Dur telah banyak menolong dan memberikan bantuan dengan muslim minoritas Uyghur.

Selain itu saat Mbak Alissa menyambut pemuka agama dari Mindanau di Filipina, ada seorang tokoh muslim yang menangis karena merasa berutang budi dengan Gus Dur. Gus Dur telah memperjuangkan hak-hak minoritas mereka di Mindanau dan untuk membangun sekolah dan masjid.

Di akhir, Mbak Alissa Wahid menutup dialog dengan menyampaikan, “Melalui diskusi seperti ini dapat memperluas wawasan dan melihat sesuatu dari kacamata yg lebih luas. Bukan bahnya lokalitas namun juga regional yang lebih luas. Dan semoga dapat memperkuat gerakan kita di setiap ruangan tersebut, sehingga semakin memperluas kiprah dan sumbangsih bagi negara dan komunitas dimanapun berada”.

Semoga dialog ini dapat menjadi pioneer dalam penguatan penyebaran 9 nilai utama Gus Dur di Kawasan Asia Tenggara. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita meneruskan. [Childa/Ocha/NH]

Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

0

Pertemuan sesama warga negara di perantauan sungguh menggembirakan. Para mahasiswa muslim Taiwan dari Indonesia berkumpul untuk rekreasi (rihlah) di Yangmingshan Park. Kebersamaan terasa dalam suasana gembira sebagai ajang silaturrahmi. Kami saling bermain menikmati indahnya tamah. Kebersamaan yang tak tertandingi

Taiwan-Kampusdesa.or.id– Sabtu, 13 Februari 2021 sejumlah mahasiswa muslim Taiwan dari Indonesia sampai di Yangmingshan Park. Gelak tawa mewarnai permainan tebak kata berantai. Peserta terlihat kikuk saat memeragakan sholat malam serta berbuka puasa, lalu menyampaikan ke teman berikutnya tanpa perkataan. Orang terakhirlah yang harus menebak dua kata yang dimaksudkan.

Permainan (ice breaking) itu diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan Utara Satu (FORMMIT UTARATU) sebagai bagian dari kegiatan rihlah (rekreasi) ke Flower Clock di Yangmingshan Park, Taiwan. Tercatat sekitar 25 orang berpartisipasi aktif. Ada yang datang sendirian, bersama teman-teman, hingga membawa keluarga. Sebagian besar peserta merupakan mahasiswa yang sedang studi PhD di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Perjalanan Menembus Kota-Kota Taiwan

Para peserta rihlah berkumpul di MRT Gongguan sekitar pukul 8.15 pagi waktu Taiwan. Akhir pekan tidaklah menghalangi partisipan untuk berangkat. Satu per satu peserta berdatangan.

Dari MRT Gongguan station, rombongan menuju Taipei Main Station (Zhengzhou), lanjut dengan bus 260. Perjalanan dari MRT Gongguan station hingga tiba di Yangmingshan Bus Station (YBS) sekitar 45 menit. Pepohonan hijau rindang yang terkadang diselingi mekarnya cherry blossom di sepanjang perjalanan, membuat peserta semakin bersyukur dan mengingat kebesaran Allah. 

Baca juga: Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter 

Rombongan tiba di YBS sekitar pukul 09.00 pagi waktu Taiwan. Setibanya di YBS, dapat dilanjutkan dengan naik bus 125 ke Yangmingshan Park. Bus 125 ini akan ada sekitar pukul 11.00 pagi. Jadi peserta bersepakat untuk berjalan kaki menuju Yangmingshan Park, mengingat jarak tempuh hanya sekitar satu kilometer. Setiba di tujuan, para peserta langsung duduk di paviliun dan menikmati santap siang. Sebagian peserta menikmati makan siang dengan lesehan beralaskan tikar. Sholat dhuhur berjamaah pun terasa khusyu’. Boleh jadi dikarenakan suara alami dari aliran sungai dan udara sejuk.

Pesona Arsitektur China Instagramable

Yangmingshan Park memiliki lahan seluas 1,07 kilometer persegi. Taman berarsitekturkan China ini memiliki bangunan elegan, taman bunga nan eksotis, air mancur buatan, kolam buatan, pavilion, dan beragam sarana-pra sarana yang mayoritas unik dan instagramable. Tidak mengherankan bila para pengunjung menyempatkan untuk mengabadikan momentum tersebut dengan kamera gawai mereka atau berswafoto ria. 

Baca juga Mronjo Kian Serius Kelola Potensi Desa Wisata Melalui Pelatihan

Anak-anak yang dibawa ikut oleh sebagian peserta tampak senang dan berlarian ke sana kemari, mengeksplorasi pesona Yangmingshan Park. Hujan rintik-rintik tidaklah menyurutkan para pengunjung untuk menikmati setiap sudut keelokan Flower Clock. Sepanjang mata memandang, warna-warni bunga yang bermekaran sungguh memanjakan mata. Terlebih lagi keberanekaragaman flora di Yangmingshan Park, seperti: azaleas, Camellia, native cherry, peach, plum, dan pepohonan lainnya turut menambah semangat para pengunjung untuk menikmati dan mengabadikan panorama itu.

Baca juga: Hendry: Fisikawan Eksperimental Bereputasi Internasional dari Ambon (1)

Ukhuwah (Persaudaraan) di Perantauan

“Rihlah ini bertujuan untuk menguatkan ukhuwah serta mempererat silaturahmi di antara peserta,” jelas Iwan Santoso, Gubernur FORMMIT UTARATU. Mahasiswa PhD Manajemen Informasi NTUST Taiwan itu juga sangat mengapresiasi kehadiran dan antusiasme para peserta dalam mengikuti rihlah hingga usai. Ia berharap, semangat ukhuwah dan silaturahmi tetap terjaga erat, meskipun acara telah selesai.

Kebahagiaan terpancar di setiap wajah peserta. Keceriaan tampak nyata dari muka partisipan. “Seru, jadi nambah kenalan,” demikian kata Nur Novilina menanggapi kegiatan rihlah ini. “Bagus untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, terutama sesama perantau,” ujar Noorman singkat. Peserta rihlah lainnya, M Iqbal Hanafri, berharap semoga ukhuwah Islamiyah di antara peserta semakin erat ke depannya.

Adapun Presiden PPI Lunghwa University yang berkesempatan menghadiri rihlah itu, Pevi Ramadhani, mengucapkan terima kasih atas kesempatan silaturahmi dan berharap di lain waktu dapat bersilaturahmi lagi. Tepat sekitar pukul dua siang waktu Taiwan, rombongan berkumpul sejenak sebelum akhirnya berpisah. Benar-benar rihlah yang memperkuat ukhuwah. Semoga juga penuh berkah.

Toko Sejarah, Kampung Pahlawan Nasional di Kota Surabaya

0

Daya tarik wisata sejarah masih sepi peminat, nampaknya semboyan Jas Merah yang diproklamirkan Sukarno puluhan tahun silam masih jauh dalam angan. Sangat miris jika generasi bangsa sudah tidak menganggap keren sejarah dan budayanya sendiri. Maka Gembar gembor wisata nasional tak melulu soal keindahan alam, perlu juga memviralkan wisata sejarah sehingga para penerus bangsa mengerti perjuangan para pejuang. Toko sejarah di Surabaya dalam ulasan ini adalah bukti adanya kampung  para pahlawan, semoga menaikkan minat visitasi tempat bersejarah nasional.
Kampusdesa.or.id- Semua orang Indonesia tahu istilah Kota Pahlawan merupakan julukan untuk Kota Surabaya. Sejarah peristiwa lautan api penyerbuan A.W.S Jenderal Mallaby beserta tentaranya melambungkan citra arak-arek Suroboyo sebagai mercusuar kepahlawanan. Namun tak banyak orang tahu, ada banyak cerita di sudut-sudut kampung Ibu Kota provinsi tersebut, salah satunya ialah Kampung Peneleh, kampungnya para pahlawan nasional.
Toko sejarah itu memiliki jam operasional pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sementara waktu berkunjung ke musium Rumah H.O.S Cokroaminoto juga serupa dengan toko tersebut. Khusus di tengah pandemi saat ini, alangkah baiknya sebelum berkunjung, wisatawan diharap meng konfirmasi kehadiran terlebih dahulu kepada penjaga musium. Hal ini sebagai upaya memaksimal prokes Covid-19.
Denah musium H.O.S Cokroaminoto cukup detail, di depan musium anda akan mendapati reklame besi warna putih berisi denah bagian-bagian rumah. Di dalam bangunan juga terdapat foto-foto anggota kos tempo dulu. Meskipun telah ada sejak zaman belanda, musium itu baru diresmikan oleh Wali Kota Ibu Tri Rismaharini pada tahun 2017.
Jika kita menelusuri jalan peneleh dan berhenti di gang VII Peneleh, akan kita dapati rumah sederhana khas jawa, itulah rumah H.O.S Cokroaminoto. Banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa di sanalah Bapak bangsa itu menerima pemuda untuk ngekos di rumah tersebut, pemuda itu di antaranya adalah Sukarno, Semaun , Muso dan Kartosuwiryo. Maka tak berlebihan jika di kampung ini lah lahirnya tiga mahdzab pergerakan Indonesia, Nasionalisme, Sosialisme dan Agama.
Sangat dekat, kira kira lima langkah dari rumah H.O.S Cokroaminoto terdapat toko buku tua. Sumber sejarah menyebutkan bahwa toko buku yang sebelumnya berfungsi sebagai percetakan kala itu merupakan milik keluarga Abdul Letif Zein. Toko buku tersebut adalah yang tertua di Surabaya  kira kira dibangun sejak tahun 1800 an.
Baca juga:
Bahaya Daring Tanpa Jeda, Digital Detox di Tengah Pandemi Covid-19 Sangat Dianjurkan.
Merdeka Belajar di Tengah COVID-19, Benarkah Anak Hanya Sebatas Burung Dalam Sangkar?
Sumber sejarah menyebutkan bahwa H.O.S Cokroaminoto merupakan tokoh islam yang dikenal sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota atau De Ongekroonde Van Java. Hal itu berkat perjuangan beliau membesarkan Sarikat Dagang Islam tahun 1912.
H.O.S Cokroaminoto merupakan simpatisan Muhammadiyah, begitu pula sang pemilik toko tersebut. Melalui toko buku itu beserta syiar Da’i-Da’i ajaran Muhammadiyah berkembang di Surabaya. Buku-buku tarjih Muhammadiyah, Khutbah Jum’at, souvenir, bendera dan atribut ke Muhammadiyah an lainnya tersedia di toko itu.
Hal yang menakjubkan adalah sudah tiga generasi yang meneruskan usaha toko buku peneleh itu, tentu masih dengan atribut Muhammadiyah. Sayangnya semangat turun temurun menjaga kelestarian toko sejarah tidak berbanding lurus dengan keinginan pemuda saat ini untuk menjaga monumen- monumen sejarah. Padahal Kampung peneleh sebenarnya terletak di pusat Kota Surabaya tapi entah kenapa sangat jarang turis lokal dari kalangan pemuda tertarik untuk mempelajari sejarah bangsanya sendiri khususnya sejarah kampung peneleh, kampungnya para pahlawan nasional.
Toko buku peneleh dan rumah H.O.S Cokroaminoto bukan satu satunya monumen sejarah di wilayah itu. Tidak jauh, kurang lebih 300 meter, terdapat Masjid Plampitan tempat Sang Pencerah K.H Ahmad Dahlan berdakwah. Masjid yang diperkirakan berdiri tahu 1858 itu adalah tempat Sukarno dan H.O.S Cokroaminoto ngintil pengajian K.H Ahmad Dahlan.
Inilah hal yang unik dan otentik, bagaimana tokoh-tokoh besar bangsa ditakdirkan berkumpul dalam ekosistem yang sama, mengusung gagasan besar bernama Bangsa Indonesia. Peristiwa-persitiwa semacam ini adalah ingatan sejarah yang mahal harganya, harus disadari dan digandruingi oleh angkatan muda saat ini. Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah!-Sukarno.

Positif Covid-19, Suka Duka Hidup di Balik Jendela

0

Seorang teman berkata, “Kelak, kamu pasti akan mengingat setiap senja yang telah kamu lalui, dan menyadari betapa kuatnya kamu bisa melewati semua ini.” Demi Tuhan, ini bukanlah perjalanan yang mudah. Perjalanan yang membuat saya bersyukur setiap detiknya. Waktu berjalan begitu lambat. Jarak antara pagi dan petang terasa begitu panjang. Seolah menghitung hari, apa esok masih baik-baik saja atau sebaliknya? Covid-19 menjadi penentu bagi penantian dan Swab PCR test menjadi pintu kepastian.

KampusDesa.or.id–Hingga detik saya menuliskan ini, rasanya masih tidak percaya harus melalui hari-hari panjang itu. Dari Jakarta, ibu saya meminta pulang ke Tulungagung agar tidak terkena Covid-19. Qadarullah, saya malah terkena Covid-19 di Tulungagung. Manusia tidak akan bisa lari dari takdir. 

Ada 8 anggota keluarga saya yang terdampak Covid-19. Mbah Kakung, bulik-paklik, bulik, 2 sepupu, mama saya, dan saya. Mengapa bisa terjadi? Bulik-paklik saya baru menghadiri acara di Surabaya, di mana beliau bertemu dengan Gubernur Jawa Timur. Qadarullah setelah acara selesai ada berita bahwa beliau positif Covid-19. Langsung saja, bulik-paklik melakukan Rapid test Antigen, dan hasilnya reaktif. Keesokan harinya, beliau Swab PCR test. Tiga hari kemudian hasilnya keluar, dan keduanya positif Covid-19.

Sontak keluarga saya heboh. Bagaimana tidak, kami selalu berusaha menaati protokol kesehatan, termasuk tidak pernah absen memakai masker. Lalu, mengapa harus kami yang terdampak Covid-19? Sekali lagi, manusia tidak akan bisa lari dari takdir. Namun, barangkali Tuhan ‘sengaja’ menegur kami dengan Covid-19 ini untuk lebih menyadari betapa lemahnya kami di hadapan Tuhan. 

Dalam hidup, ada banyak hal yang terjadi di luar batas kemampuan kita sebagai manusia, yang membuat kita menyadari betapa lemahnya kita di hadapan Sang Pencipta. 

Singkat cerita, ada 6 tambahan manusia yang positif Covid-19 di keluarga saya. Bulik-paklik yang membawa oleh-oleh Covid-19 dari Surabaya sudah terlebih dahulu melakukan isolasi mandiri di rumah sebelah. Lalu kami, 6 orang yang lain (mbah kung, bulik, 2 sepupu, mama saya dan saya) melakukan isolasi mandiri di rumah bulik, tepatnya di lantai 2. Sementara yang negatif tinggal di rumah yang lain. Dokter melarang pasien positif Covid-19 untuk tinggal satu atap dengan yang negatif. 

Baca juga: New Normal, Dibalik Penularan Covid-19 Tenaga Medis

Hari demi hari kami lalui dengan tidak mudah. Jika biasanya kami dengan leluasa melakukan banyak hal di luar rumah, mau tidak mau harus dibatasi untuk sementara waktu. Lalu bagaimana dengan supply makanan kami? Mbah kung dan (almarhumah) mbah putri mempunyai 6 buah hati (5 putri dan 1 putra). Qadarullah, yang terkena Covid-19 adalah anak pertama, kedua, dan terakhir, sementara 3 anak lainnya membantu kami secara bergantian. Ada yang secara berkala mengirimkan makanan untuk kami, ada juga yang mengirimkan dari jauh, karena kebetulan ada yang tinggal di luar kota. 

Buku ini diproduksi oleh Kampus Desa Indonesia. Ditulis dari berbagai sudut pandang. Cocok untuk referensi lintas disiplin, baik bagi pelajar atau mahasiswa. Silahkan kunjungi link penjelasan buku.

Entah sudah berapa kotak masker yang menemani kami selama isolasi mandiri. Meski ada di dalam rumah, kami diharuskan memakai masker agar tidak terjadi penularan untuk kedua kalinya. Di antara kami berenam, saya adalah orang terakhir yang positif Covid-19. Jadi, saya ketika yang lain sudah berangsur pulih, saya baru memulai untuk berjuang.

Saya ingat betul, hasil Swab PCR test kedua keluar tanggal 14 Januari. Mengapa kedua? Karena Swab PCR test yang pertama saya negatif, namun bergejala. Swab PCR test pertama adalah hari Jum’at, hasilnya keluar hari Minggu. Hari Minggu malam saya mulai bergejala, kepala sangat berat dan saya demam. Dua hari kemudian, dokter meminta untuk Swab PCR test ulang, lalu hari Kamis, tepatnya 14 Januari 2021, hasilnya menunjukkan bahwa positif Covid-19.

 "Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa."
 "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286).

Hasil test Swab PCR test yang biasanya sudah keluar di pagi hari, menjelang petang hasilnya belum juga keluar. “Ah, paling negatif,” pikir saya meremehkan waktu itu. Saya juga merasa sudah baikan. Semula, saya merasa itu adalah flue biasa, karena tepat hari Kamis saya sudah berangsur pulih. Namun paginya, saya merasa ada yang aneh karena indra penciuman saya kurang berfungsi dengan baik. Lebih tepatnya saya tidak bisa membau.

Di situlah saya merasa antara iya dan tidak kalau saya sudah benar-benar pulih. Sekitar setelah adzan Isya’, saya mendapatkan pesan bahwa saya positif Covid-19. Setelah melihat surat hasil Swab PCR test yang tertera nama saya, saya bertanya kepada perawat “Mas, itu bulannya Juni, saya Mei, itu gak salah?”, tanya saya tidak terima.“Benar mbak, itu namanya benar,” tegasnya. “Baiklah, berarti Tuhan tahu saya bisa melewati semua ini.”  ucap saya dalam hati waktu itu.  

Baca juga: Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

Lucunya, gejala yang kami tidaklah sama. Jika saya mengalami demam – kepala pusing (sangat berat) – batuk pilek – badan nyeri – fungsi indra penciuman berkurang – nafsu makan berkurang. Berbeda dengan sepupu saya yang tidak mengalami demam dan nyeri di badan, bahkan nafsu makannya tidak berpengaruh sama sekali, dia tetap enak makan. Sepupu saya yang lain mengalami demam selama 3 hari dan batuk. Setiap orang memiliki gejala berbeda. Ada juga yang saudara yang indra penciumannya tetap berfungsi, namun dia mengalami batuk yang cukup parah.

Mau tidak mau, suka tidak suka, ada satu keadaan dalam hidup yang mengharuskan kita untuk melaluinya. Namun, kita juga harus meyakini bahwa Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.

Dalam kondisi yang tidak mudah, sejatinya yang kita butuhkan adalah dukungan dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kalimat “gimana kondisi kamu hari ini?”, juga pertanyaan kabar “kamu sudah baikan?”, dan motivasi “semangat yaa, kamu pasti bisa melalui ini!” rupanya memberikan energi positif bagi kami. Kesetiaan teman akan teruji ketika kita berada dalam kondisi yang sulit. Tuhan menunjukan dengan sangat gamblang.

Baca juga: Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

Alhamdulillah, kami mempunyai banyak saudara. Mbah kung dan bulik mempunyai banyak kolega, sahabat, dan juga teman, baik dari kalangan birokrat, ulama, dan juga tokoh masyarakat. Mereka tetap hadir dalam segala kondisi, memberikan motivasi baik secara moril dan materil. Benar saja, sejatinya manusia akan tampak ketika kita dalam keadaan terpuruk. Tuhan benar-benar menyingkap siapa sejatinya orang-orang yang ada di sekitar kita, siapa sejatinya orang-orang yang tulus dan tidak, orang-orang yang baik dan tidak, orang-orang yang memanusiakan manusia dan tidak. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah. 

Kesetiaan teman akan teruji ketika kita berada dalam kondisi yang sulit.

Setiap melihat jendela, saya melihat burung-burung beterbangan begitu bebasnya. Ah Tuhan, saya iri! Lirih saya waktu itu. Setiap sore, ada senja yang berbeda. Entah langit berwana biru, siluet merah jambu, atau putih abu-abu. Setiap hari, seperti ada harapan baru yang membuat kami ingin segera pulih. Di sini, saya menyadari pentingnya positive thinking dalam diri. Ketika kita berpikir positif, secara tidak langsung, diri kita akan turut menjadi positif.

Ketika masih ada orang yang berkata, “hallah, Covid-19 itu ndak ada”, semula saya juga cukup menyangsikan keberadaan Covid-19 dan terlalu angkuh untuk meyakini tidak akan positif Covid-19. Namun ternyata, keangkuhan itu langsung mendapatkan teguran dari Tuhan untuk menyadari ketidakberdayaan saya sebagai hamba-Nya.

Hari ini, tepat tanggal 13 Februari 2021, terhitung 1 bulan kurang 1 hari untuk pertama kalinya saya tahu bahwa saya positif Covid-19. Rasanya, perjuangan untuk melalui setiap detik masa karantina masih hangat dalam memori, dan ketika mengingat itu semua, saya hanya ingin mengucap syukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk merangkai kembali asa yang sempat terjeda.

Terimakasih untuk keluarga, sahabat, teman-teman yang senantiasa hadir di setiap kondisi kami. Menurut dr. Rivo Mario Warou Lintuuran, Sp.KJ, salah satu cara mengatasi dampak Covid-19 terhadap para pasien adalah dengan “tetap berkomunikasi”. Sederhananya, komunikasi untuk terus membangun pikiran-pikiran positif yang bisa mendorong pasien untuk segera pulih kembali.

Secara psikologis, orang yang terkena Covid-19 akan.. (bersambung)

Terimakasih Virus Corona

0

Kampusdesa.or.id–Virus Corona sampai hari ini masih menjadi perbincangan publik, meskipun menurut data google trend grafiknya melandai. Virus corona telah memaksa keadaan untuk beradaptasi kebiasan baru. Segala lini bidang dipaksa berubah demi menerapkan dan menyesuaikan situasi pandemi ini.

Pandemi banyak mengambil kebabasan kita, tapi sebenarnya kalau kita pikir-pikir banyak juga yang diberikan oleh pandemi. Seperti cara kerja baru, perubahan ekstrim di dunia pendidikan, dunia kerja, usaha, dan lain sebagainya yang ternyata jauh lebih efektif dan efisien. Lumayan dapat memangkas anggaran baik dari segi transportasi, konsumsi, dan uang sarana prasarana.

Pandemi seperti dua sisi mata uang, ia membawa sambat (keluh kesah) dan bejo (keberuntungan). Tentu, tidak lain dan tidak bukan semua ketentuan yang digariskan di dunia ini pasti ada baik buruknya. Meski begitu banyak batasan-batasan yang diakibatkan oleh pandemi, tapi tanpa kita sadari sesungguhnya banyak juga yang dapat kita ambil karena adanya pandemi.

Hal itu harus kita syukuri karena banyak peluang (opportunity) baru tercipta gegara ada pandemi Covid-19 ini. Beberapa peluang bisnis yang bikin cuan di tengah pandemi, semisal usaha pembuatan masker kain, jual beli via internet dan media sosial (online shop), bisnis makanan beku (frozen food), cemilan kering, atau menjadi reseller dan dropshipper barang-barang elektronik, pakaian maupun kosmetik.

Selain itu saat kesehatan menjadi prioritas dan orang-orang pada sadar bahwa kesehatan lebih penting dari segalanya. Bisnis jasa dan produk kesehatan menjadi mencuat. Terutama berjualan produk kesehatan dan perawatan tubuh untuk meningkatkan imunitas. Di desa-desa banyak yang menjajakan jamu, membuat home industry masker kain, hand sanitizer.

Di masa pandemi juga menjadi keberkahan tersendiri bagi dunia teknologi informasi (IT) dan jasa layanan pengantaran (delivery service). Kita sebagai bagian dari perubahan global tentu tidak boleh diam dan hanya membeli atau memanfaatkan karya orang. Harus muncul berbagai inovasi dan solusi. Seperti jasa pembuatan website sekaligus content writer nya, pengembangan UMKM menjadi aplikasi atau start up-start up baru.

Pandemi Covid-19 diprediksi akan berakhir 5-10 tahun lagi. Saat ini, Indonesia ikut serta melakukan riset vaksin yang diberi nama “vaksin merah putih”. Di ranah lain, teman-teman alumni UIN Malang mencoba untuk mengambil peluang lain di masa pandemi ini. Kita semua tahu aplikasi Ruangguru, Zenius, Quipper, Sekolahmu, dll. Namun masih kurang sana-sani.

Sehingga kami memiliki inisiatif menjawab tantangan dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19 dengan meluncurkan sebuah platform sekolah maupun kuliah daring bernama Edmuku – Edukasi untukmu dan untukku. Pada tanggal 09 Februari 2020 lalu, kami mengekspansi lebih lebar mengajar mitra baru untuk berjejaring dan kerjasama dengan Edmuku. Salah satunya adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Seperti Prof. Abdul Haris bilang, “diam adalah mati”. Maka, kita tidak hanya diam ngaplo saat masa pandemi. Harus punya gebrakan solutif yang tutut serta menyumbang menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi saat ini. []

Cara Melawan Jerat Oligarki

0

Ada beberapa peluang bagaimana rakyat bisa mengorganisasi perlawanan terhadap oligraki. Cara ini dapat menjadi pilihan dalam situasi paradoks. Ada empat jalan yang dapat menjadi ruang perlawanan. Cara ini tetap beradab, tanpa menggunakan cara-cara kekerasan.

Kampusdesa.or.id–Kapitalisme dengan semangat pembangunannya sebenarnya memunculkan paradoks, apa yang kita lihat sebagai sebuah kemajuan dalam bentuknya yang nampak megah sebenarnya sering kali menyimpan banyak cerita tentang adanya penindasan, ironisnya baik mereka yang menjadi korban maupun yang memperjuangkan hak korban akan diusahakan serapi mungkin untuk dibungkam.

Padahal pembungkaman dalam bentuk apapun juga adalah antitesis dari demokrasi, tentunya sungguh sangat ironis jika kebebasan yang selalu saja digaungkan malah mejebak kita pada kondisi yang sebaliknya. Kita boleh bebas-sebebasnya tapi jangan sampai mengkritik, membongkar, apalagi melawan sistem yang menindas.

Kapitalisme memang menyimpan paradoks, terlebih lagi jika ideologi ini tidak terpahami secara holistik. Niat baik untuk menciptakan keseteraan terhadap akses apapun malah dibajak oleh mereka yang kemudian mengakumulasi sumber daya tersebut secara berlebihan dan memakai demokrasi sebagai tameng untuk melindungi hal salah yang telah mereka perbuat.

Kapitalisme memang menyimpan paradoks, terlebih lagi jika ideologi ini  tidak terpahami secara holistik, niat baik untuk menciptakan keseteraan terhadap akses apapun malah dibajak oleh mereka yang kemudian mengakumulasi sumber daya dan kita menyebutkanya dengan kata oligarki

Kita menyebut mereka yang mensabotase tujuan dari segala bentuk pencarian umat manusia terhadap keadilan, kesetaraan,maupun kesejahteraan itu dengan istilah oligarki, apa dan bagaimana sebenarnya mereka itu sangat banyak sekali tafsirannya tapi sangat sedikit sekali yang kemudian membahas secara lebih dalam bagaimana, kapan, dan harus dari mana dalam melawan dominasi oligarki tersebut, di sini saya ingin sedikit membahas bagaimana sebaiknya dasar kita dalam melawan oligarki.

Empat Langkah Melawan Oligraki

Pertama, mulai dari berani untuk berpikir dan berkesadaran terhadap angin surga yang mereka narasikan tentang hidup yang sejahtera, adil, makmur, merdeka, bahkan bebas.  Berpikir dan berkesadaran harus seiring sejalan karena tidak setiap mereka yang berpikir bisa berkesadaran, ataupun mereka yang telah berkesadaran malah tidak berpikir sehingga apa yang mereka buat seringkali tidak taktis.

Baca juga: Pelajaran Hidup Dari Kerelawanan di Chow Kit

Kesadaran dimulai dengan keberanian untuk memiliki pemikiran yang berbeda begitupun sebaliknya dengan berpikir. Disini antara kesadaran dan pemikiran harus  meretas segala angin surga yang di gembar-gemborkan oleh oligarki dan tentakelnya secara taktis

Sebagaimana yang kita sama–sama pahami, perlawanan terhadap oligarki masih belum tuntas karena masih banyak yang terkungkung pada angin surga yang mereka gembar-gemborkan padahal jika kita bepikir secara diagnostik dan sadar secara taktis, apapun angina surga yang mereka gembar-gemborkan masih terjebak pada  polarisasi kehidupan modern yang tunduk pada hukum pasar, dengan logika kuasa untuk mendominasi keuntungan, selama gaya berpikir dan berkesadaran kita masih sama  maka yakinlah perlawanan terhadap oligarkhi tidak akan wujud.

Kedua, harus ada pengorganisaan rakyat disertai dengan pengendalian hasrat, untuk melawan sesuatu yang besar kita harus berorganisasi, tidak setiap manusia bisa menjadi daud yang berhasil menumbangkan goliath hanya dengan sebuah batu bahkan daud sendiripun saat dia berhasil mengalahkan goliath yang pertama dia lakukan menjadi pemimpin dan mengorganisir kaumnya untuk menciptakan peradaban mereka sendiri.

Baca juga: Mengurai Paradoks Digitalisme

Pengorganisasi ini menjadi sangat penting dalam setiap perlawanan, kita sadar untuk melawan tidak akan pernah cukup jika tanpa pernah ambil bagian dalam proses pengorganisasian. Namun pengorganisasian saja tidak cukup. Proses ini sendiri harus diiringi dengan pelatihan untuk mengendalikan hasrat terjebak pada populisme dan hal-hal yang dangkal. Sebelum tujuan itu tercapai, disini lah pengorganisasi mesti diiringi dengan proses ideologisasi yang tidak cukup hanya dengan sebatas tahu, tetapi hingga menginternalisasikan apa yang sama-sama mereka yakini.

Ketiga, lakukan pembangkangan dalam kepatuhan. Artinya bukan dengan kekerasan tapi dengan penarikan sikap percaya terhadap otoritas jika mereka membuat kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat. Disini boikot saja tidak cukup. Harus diiringi juga dengan penyebaran narasi yang massif tentang kebobrokan kebijakan tersebut kepada rakyat kebanyakan dan mendidik rakyat untuk berani ambil sikap dari hal–hal yang paling mungkin bisa mereka lakukan sebagai bentuk protes. Misalnya berhenti membayar pajak atau memboikot pemilu atau syukur-syukur jika mereka mau terlibat dalam long march.

Keempat, jangan pernah lagi memberikan ruang kepada  pemimpin-pemimpin yang sebelumnya pernah membelot kepada kelompok oligarki, perlawanan tidak akan pernah berhasil saat kita dengan muda memberikan pengampunan bahkan memberikan ruang yang lebih lebar terhadap mereka yang jelas – jelas hanya memanfaatkan apa yang sedang ingin capai.

Basis perlawanan harus bisa mendetoksifikasi segala bentuk manusia toxic yang membawa ide-ide populisme,menyuntikkan isu-isu yang dangkal dalam gerakan, atau bermain belakang tanpa sepengetahun anggota.  Jika keempat langkah tersebut kita lakukan dengan konsisten, maka perlawanan kita terhadap oligarki bisa menjadi efektif.

Kelas Wanita Cerdas: Membahas Soal Seksualitas

0

Kampusdesa.or.id–Jumat (05/02), Bezaujati.id sebuah organisasi non-profit mengadakan kegiatan kelas wanita cerdas edisi keempat. Kali ini membahas seputar kesehatan reproduksi yang wajib diketahui wanita beserta permasalahannya. Kegiatan ini berlangsung ala webinar via google meet dengan pemateri: dr. Elza Amelia Firdaus, seorang dokter umum RSU dr. Suyudi Paciran Lamongan. Acara yang dimoderatori oleh Amanatul Mubtadiah, S.Si ini dimulai pada jam 19.00 WIB dengan peserta sebanyak 50-an orang, yang berlangsung sangat antusias.

Membahas kesehatan reproduksi baik kesehatan fisik, mental, dan sosial tentu berkaitan erat dengan fungsi, peran, dan sistem reproduksi. Dewasa ini, pengetahun tentang kesehatan reproduksi itu sangat penting, banyak sekali penyakit yang berasal dari gangguan reproduksi dikarenakan misleading, serta tidak sedikit penderitanya berusia masih sangat muda.

Berdasarkan data dari WHO, 30% penderita HIV/AIDS berusia 15-25 tahun dan terdapat 4.500 penyakit menular seksual pra nikah dialami oleh 7.335 remaja. Selain itu, 500 juta remaja usia 14 – 25 tahun telah melakukan intercourse pada usia dibawah 15 tahun, 35% remaja hamil diluar nikah, dan 111 juta kasus PMS (Penyakit Menular Seksual) dialami oleh penderita di usia kurang dari 25 tahun.

Pada pembahasan topik ini, yang paling menarik adalah terkait Couple Psychology. 1) Early marital. Dalam pernikahan, seorang pengantin baru biasanya mempunyai ekspektasi pernikahan yang indah-indah saja. 2) Self Judgment. Karena bertemu dengan seseorang dengan sifat, kebiasaan, dan latar belakang keluarga yang berbeda, maka bisa merasa kaget karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Judgment akan muncul dan merasa memang kita tidak bisa sama karena kita tumbuh dilingkukan yang berbeda. 3) Tolerance. Toleransi akan muncul karena tahu reaksi yang berlebihan itu tidak baik. 4) Harmonization. Harmoni akan tumbuh pada satu tahun pernikahan setelah dihadapkan dengan perbedaan
pada 1-3 bulan pertama.

Di era serba instan, semua bisa diakses via online. Dalam seks yang kurang sehat, selain permasalahan fisik juga psikis. Salah satunya sejala cyber-sex addiction. Yakni lebih suka melihat konten sensual secara online daripada melakukan hubungan secara langsung, biasanya menyembunyikan rahasia dangan menghapus history, dan kurang menikmati “the real sex” karena imajinasinya tinggi terhadap seks. Cyber sex addiction ini sangat berbahaya dan bisa menurunkan keharmonisan karena istrinya tidak dihiraukan.

Bagaimana cara menyembuhkan gangguan cyber-sex? Permasalahan utama biasanya karena kurang aktivitas, jadi paling ampuh adalah melakukan kegiatan, alihkan ke hal-hal yang positif dan produktif. Perlu diingat kalau aktivitas ini dampaknya sangat serius baik bagi otak maupun
keharmonisan rumah tangga.

Selain itu, dalam sesi diskusi ada tiga pertanyaan yang mengarah kepada topik psikologi rumah tangga yang diangkat oleh peserta diskusi. Pertama mengenai mental disorder. Pemateri menyampaikan tidak secara langsung yang kasus kerecekon rumah tangga. Tapi banyak laki-laki yang bertanya bagaimana cara mengurangi ketagihan film porno, atau kartun misalnya sailor moon yg menyebabkan pedofil tinggi. Kebanyakan pasien seperti ini dari kalangan LGBT atau pasien pengidap penyakit gonorea.

Kedua, terkait indikasi sexual transmitting disease? Kalau suami sendiri mengalami itu dan tidak mau diajak kedokter, bagaimana caranya? Jawabbanya, belum tentu orang yang kencing nanah karena sering “jajan”, kita jangan terlalu agresif dan curiga, lebih baik dibawa ke tenaga medis dengan diomongkan baik-baik. Misalnya ada kondiloma (kutil di daerah vagina), apapun harus ditengahi dibawa ke medis. Tidak semua karena jajan di luar.

Terakhir, perihal cara untuk meraih quality sex? Dalam meraih seks yang berkualitas tentu dapat ditempuh dengan jalur komunikasi. Pentingnya diskusi dengan pasangan, karena setiap individu punya preferensi. Intinya harus ada komunikasi yang sifatnya terbuka. Karena banyak perempuan yang tidak mau ngomong di mana G-spot yang dia sukai atau posisi yang tidak nyaman. Semua harus berani dibicarakan dengan suami, jangan pada teman. Dan diusahakan presepsi klimaks keduanya itu jelas.

Pengetahuan berkaitan seksualitas, wanita khususnya akan terus seru untuk dibahas dan tidak perlu dianggap tabu jika itu memang perlu. Komunikasi yang baik dengan pasangan “halal” dan konsuotasi kepada dokter ahli adalah kunci tercapainya keluarga yang harmonis. Tidak jarang perceraian selain karena faktor ekonomi, juga dikarenakan tidak dapat memahami kebutuhan seksual pasangan.

Hendry: Fisikawan Eksperimental Bereputasi Internasional dari Ambon (1)

0

Hendry Izaac Elim adalah Fisikawan asal Ambon yang berhasil mencapai prestasi dan diakui partisipasinya secara internasional terutama dalam fisika eksperimen. Ketertarikan pada fisika eksperimen dimulai dari National University of Singapore. Dia menyukai fisika sejak SMP. Hendry membuat takjub Fisikawan Inggris, Nail Akhmediev, kok ada orang Indonesia begitu berminat pada gelombang soliton. Bahkan dia diakui oleh Akhmediev sebagai murid terbaiknya. Simak kisah sukses Hendry.

Kampusdesa.or.id — Sangat jarang fisikawan di Indonesia yang menguasai bidang nanosciences dengan kekhususan nanomaterial. Hendry Izaac Elim, SSi., MSi., PhD. adalah salah satu diantaranya. Fisikawan kelahiran Ambon, 22 Januari 1969 ini memiliki berjuta pengalaman riset bertaraf Internasional. Salah satunya adalah riset postdoctoral di IMRAM (Institute of Multidisciplinary Research for Advanced Materials), di Universitas Tohoku University, Katahira, Aobaku, Sendai, Jepang, dengan supervisor Prof. Okihiro Sugihara.

Uniknya, fisikawan pengagum Albert Einstein, Murray Gell-Mann, Richard Phillips Feynman dan Steven Tong, ini mengaku belum punya cita-cita pasti sejak kecil. Meskipun demikian, ia mengakui kalau masa kecilnya teramat bahagia.

“Pengetahuan tanpa faith itu buta, faith tanpa pengetahuan itu (juga) buta. Faith itu adalah rasio yang tunduk pada kebenaran.”

Hendry Izaac Elim, SSi., MSi., PhD., Experimental Physics in Nanosciences

“Masa kecil saya sangat bahagia. Saat kecil, saya suka bermain layang-layang, pernah berenang di sungai, mendaki gunung, bermain kelereng, gasing, petak umpet, bermain kartu domino, dan sebagainya. Saat remaja barulah saya aktif dengan mengikuti persekutuan remaja.”

Memang tak banyak yang tahu, kalau ilmuwan penyuka buku berbobot dan hobi mendengarkan musik (pop, jazz, slow-rock, classic) ini lancar membaca saat kelas 1 SD. Dengan rendah hati, dia mengakui bahwa saat itu diajari bapak kok nggak bisa-bisa. Bahkan hingga dimarahi bapak. Namun setelah melihat guru mengajar malah jadi bisa sendiri. Saat SD, Hendry mengakui paling menyukai pelajaran matematika. Ia mulai suka pelajaran fisika setelah SMP. “Ya, mulai SMP dan SMA saya punya kelompok belajar dan belajar fisika bersama teman-teman, tanpa guru.” tutur Hendry.

Baca juga:
Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (1)
Sang Begawan Hematologi, Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro Ph. D

Pengalaman SMA adalah yang paling berkesan. Hendry menjelaskan sewaktu kelas 3 di SMA 1 Ambon, ada teman yang suka bisnis. Nah, ia berlangganan nilai 100 karena sudah mendapatkan soal sekaligus penjelasannya dari teman.

Awal Kisah Menjadi Sarjana Fisikawan       

Memasuki dunia perkuliahan, Hendry bercerita kalau dirinya pernah merasakan kuliah selama 1 tahun di fakultas pertanian (hama dan penyakit tumbuhan) Universitas Pattimura, Ambon melalui jalur PMDK.

Nah, saat inilah, fisikawan yang punya semboyan “bergantung pada kasih Tuhan” ini merasakan kerasnya perjuangan hidup. Hendry bercerita, saat itu papa sudah tidak bekerja dan ibu berjualan barang-barang kelontong (seperti: jam tangan, sandal, sepatu, baju anak-anak dan dewasa), sementara adik-adiknya berjumlah lima orang. Di keluarganya, Hendry anak tertua. Dia enam bersaudara.

Beruntunglah saat itu ada CIDA (Canadian International Development Agency). CIDA adalah bentuk kerjasama antara pemerintah Canada dengan pemerintah Indonesia bagian timur, terutama dengan beragam universitas, seperti: Pattimura, Cendrawasih, Sam Ratulangi, dan beberapa universitas di Kendari. CIDA ingin mendirikan fakultas MIPA di universitas-universitas tersebut. Nah, yang pertama kali mengadakan kerjasama adalah universitas Pattimura.

“Waktu itu, puji Tuhan, IP saya tertinggi, sehingga dosen fisika saya merekomendasikan untuk melanjutkan studi Fisika di Fakultas MIPA UGM. Saya mulai belajar fisika di UGM mulai tahun 1989.

Lalu, apa sih yang membuat Hendry tertarik pada fisika? “Sebenarnya saya suka pada pelajaran fisika matematika. “Ceritanya begini, ketertarikan saya bermula dari saat mempelajari Pengantar Fisika Matematika, lalu berkembang menjadi fisika matematika 1-4 yang dipelajari dari semester 3 hingga 7.”

Kecintaan itu berlanjut pada mata kuliah kalkulus 2. “Dosennya saat itu, (kalau nggak salah) bernama Sri Wahyuni atau Sriningsih, emmm saya agak lupa…. Tapi yang pasti, lumayan cantik sih, he he he….”

Kecintaan Hendry pada dunia fisika tentunya berbeda dengan kisah cintanya pada Susanviani Yapiawan, istrinya. Ia menuturkan kepada Kampus Desa Indonesia pertama kali bertemu istrinya itu di ITB Bandung. Saat itu, ia sedang studi S2 fisika teori di ITB.

Ia bertemu istri di grup pipit English Programme saat mengisi bahasa Inggris di radio Maestro pada September tahun 1997. Kalau ditanya hal apa yang paling ia sukai dari sang Istri, ayah dari Deniel Ezekiel ini mengakui kalau ia menyukai betisnya yang indah. Saat mengetahui bahwa bidadari pujaan hatinya itu terampil bermain piano, maka rasa cintanya pun semakin bertambah.

Rahasia Sukses, Belajar dari Fisikawan UGM

Pria penggila film-film action buatan Hollywood ini menceritakan kalau rajin dan suka baca buku yang berbobot adalah kiatnya untuk sukses.

“Saya suka habiskan uang beasiswa saya untuk memfotokopi buku-buku text-book luar negeri yang bermutu tinggi. Sayangnya saat itu belum ada ebooks. Saya mulai kenal internet saat S2. Ada banyak jurnal-jurnal online di bidang fisika di situs arXiv.org yang berpusat di Los Alamos, USA. Mulai dari fisika komputasi, fisika nuklir, fisika modern, fisika biologi, fisika biofisik, dan hampir semua jurnal ada.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.” tuturnya kepada Kampus Desa Indonesia.

Beliau ini jenius, dia hafal semua rumus-rumus fisika dan matematika di luar kepala. Dia tahu konsep dasarnya. Jadi, kita harus tahu darimana asal rumus itu. Nah, ini kunci di dalam belajar fisika. Jadi bukan menghafalkan rumus.”

Fisika itu bukan menghafalkan rumus, kita harus tahu darimana asalnya. Sehingga bisa menurunkan dengan mudah dan bisa mengembangkannya.

Nah, yang paling rumit di fisika adalah mekanika kuantum. Karena berisi fisika matematika yang rumit sebagai tool untuk menyelesaikan berbagai persoalan fisisnya. Misalnya: pada tumbuhan ada klorofil. Bagaimana klorofil itu menyerap dan menyimpan energi foton dari sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi, seperti sistem solar cells. Ini ilustrasi cara berpikir fisikawan. Jelaslah bahwa semua problematika di alam ini tidak dapat dilepaskan dari fisis.

Singapura: Surganya Soliton, Awal Mendalami Fisika di NUS

Setelah S2 di ITB, Hendry melanjutkan studi ke NUS (National University of Singapore) Singapore. Ia mempublikasikan riset-risetnya saat studi S2 di situs arXiv.org. Rupanya Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Hendry. Saat itu, kebetulan ada profesor bernama Dr. Nail Akhmediev, ahli non-linear optics yang berhubungan dengan teori Soliton. Soliton itu gelombang yang biasa dipakai didalam berkomunikasi, yang merambat di serat optik.

Gelombang ini merambat namun amplitudonya tidak pernah mengecil. Ketika berinteraksi dengan sesamanya, gelombang ini tidak berubah. Gelombang soliton ini pertama kali ditemukan di pinggir pantai, saat Russel melihat gelombang laut di salah satu pantai di Inggris.

Dr. Nail Akhmediev tertarik dan berkirim email ke saya. Beliau kaget kok ada orang Indonesia yang tertarik belajar gelombang Soliton. Hendry berkomunikasi ke supervisor di ITB bernama Prof. Dr. Freddy P. Zen. Prof Freddy adalah fisikawan teori di ITB. Beliau merekomendasikan dan mengatakan ke Dr. Nail Akhmediev kalau Hendry adalah salah satu murid terbaiknya.

Ketika itu, Prof. Dr. Freddy P. Zen sedang memiliki proyek kerjasama dengan Prof. Dr. Edy Soewono (ahli matematika di ITB). Dengan dana riset Prof. Dr. Edy Soewono, Dr. Nail Akhmediev diundang untuk presentasi ilmiah selama tiga hari di ITB. Selama tiga hari guest lecture tentang Soliton di ITB, Hendry diminta oleh Prof. DR. Freddy P. Zen dan Prof. Dr. Edy Soewono untuk menemani Dr. Nail Akhmediev. “Nah, saat itu saya ikut hadir, padahal yang kebanyakan hadir adalah fisikawan dan profesor di bidang fisika teori,” ujar Hendry.

Segera setelah mendapatkan informasi adanya NUS research scholarship di Singapura, Hendry secepatnya memutuskan apply secara online di warnet.

“Saya memang belum tahu apa itu NUS (National University of Singapore). Untuk apply saya meminta rekomendasi dari Prof. Dr. Freddy P. Zen dan Prof. Dr. Nail Akhmediev, padahal mereka berdua sedang melakukan riset di ANU (Australian National University) di Canberra.”

“Akhirnya sebulan saya ditelepon untuk interview. Kebetulan sedang berada di Surabaya. Sebulan kemudian diberitahu via email kalau diterima. Saat itu, saya baru menyadari bahwa saya adalah satu-satunya dari Indonesia yang diterima di physics department sebagai post graduate student di NUS.”

“Karir saya di bidang fisika eksperimen baru dimulai di NUS ini. Saya baru mulai belajar dan mengetahui laser yang canggih (seperti nano second laser, femto second laser, dan berbagai continuous wave laser). Saya kebetulan satu-satunya student yang melakukan riset di laboratorium milik Profesor Ji Wei, ahli di bidang non-linear optics of nanomaterials.” cerita Hendry kepada Kampus Desa Indonesia.

Sekadar diketahui, nano second laser dan femto second laser adalah pulse laser dengan energi tinggi. Maksudnya, nano second laser adalah pulse laser dengan 10 pangkat (-9) second, sedangkan femto second laser adalah pulse laser dengan 10 pangkat (-15) second).

Lebih lanjut, Hendry menjelaskan, kalau partikel-partikel nano ini saling menempel satu sama lain (aggregation). Dalam aplikasinya, aggregation ini tidak terlalu bermanfaat. Karena menimbulkan high-scattering atau high-absorption. Untuk menghindari hal ini, kita menshakingnya dengan gelombang ultrasonic di dalam solvent (larutan). Karena partikel-partikel ini lengketnya sangat kuat, kita memakai microparticles bernama beads-milling technique. Diaduk, sehingga microparticles ini “memukul” aggregation dari nanopartikel, sehingga menghancurkan aggregation. Tujuannya adalah untuk membuat nanohybrid particles with high transparency and high refractive index. Ini untuk membuat optical switching pada alat-alat telekomunikasi. Nah, kalau riset yang ini saya lakukan ketika berada di Universitas Tohoku, Sendai Jepang.

Selepas dari Singapura, Hendry berpetualang ke Jepang. Ia bahkan tak pernah mengira, kalau gempa akan menjadi “sahabatnya”. (bersambung).

Ikuti berbagai artikel dan profil keren di laman Dokter Rakyat Kampus Desa Indonesia yang ditulis oleh dr. Dito Anurogo, M. Sc