Jumat, Agustus 28, 2026
Beranda blog Halaman 20

Simalakama Perempuan Dalam Bayangan Patriarki

0

Tuhan tentunya tidak salah perintah, apalagi sengaja menyiptakan perempuan sebagai sub-ordinat laki-laki, konco-wingking-nya (teman di balik layar, alias bertugas sebagai garda belakang yang menyiapkan kebutuhan laki-laki). Tidak seperti itu kan? Di hari perempuan sedunia (International Women Day’s), 8 Maret 2021 kemarin, saatnya perempuan memiliki momentum emas agar keluar dari simalakama patriarki, berperan dan diakui secara penuh tanpa dibayangi dosa atas-nama takdir.

KampusDesa.or.idMenjadi seorang perempuan, siapa bisa menolaknya? Dengan seluruh beban yang dipikulnya, kesakitan yang harus diterimanya, andai bisa memilih mungkin orang yang sadar bahwa menjadi perempuan itu berat akan memilih menjadi laki-laki. Kembali lagi, siapa yang bisa menolak takdir?

Sepanjang sejarah peradaban, dunia patriarki, memang lebih meletakkan perempuan sebagai obyek. Lihat saja kitab suci, yang muncul menjadi tokoh sentral selalu laki-laki. Perempuan seolah hanya sebagai pemeran pengganti, jika tidak boleh dianggap sebagai pesakitan, lahir batin.

Dianggap sebagai korban itulah, maka muncullah berbagai gerakan emansipasi yang intinya mengangkat derajat perempuan supaya setara dengan laki-laki. Efek dari munculnya perasaan diperlakukan tidak adil.

Tuhan yang Maha Kasih tidak mungkin meciptakan seorang perempuan hanya untuk menanggung kesakitan

Sebagai orang yang percaya adanya Tuhan, saya tidak ingin berburuk sangka pada Tuhan dengan menuduh Tuhan menciptakan seorang perempuan hanya sebagai korban laki-laki. Tuhan yang Maha Kasih tidak mungkin meciptakan seorang perempuan hanya untuk menanggung kesakitan baik melalui fase-fase hidupnya seperti menstruasi, menyusui dan melahirkan.

Memang dalam kisah kehidupan Adam, laki-laki dikisahkan muncul terlebih dahulu tetapi dalam perjalanan kehidupannya, Adam butuh sosok yang menjadikannya kuat. Sosok yang melengkapi kekurangannya yakni laki-laki yang hanya bisa fokus pada sebuah pekerjaan atau tidak mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu yang sama. Disinilah seorang perempuan memiliki kelebihan, mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Perempuan melengkapi kekurangan laki-laki.

Kesadaran bahwa laki-laki membutuhkan perempuan, sayangnya dalam aplikasinya di dunia timur, harus menghadapi tantangan bahwa laki-laki diciptakan menjunjung tinggi harga diri dan wibawanya. Yang apabila tidak dimiliki maka dia butuh batu pijakan untuk meninggikan dirinya yang bernama perempuan. Dan bertambahlah beban seorang perempuan di dunia timur.

Tidak mengherankan apabila dalam kontruksi pemikiran laki-laki timur, ia seolah pengatur perempuan.

Itu sebabnya perempuan di dunia timur acap mengalami perendahan demi menyelamatkan posisi laki-laki. Tidak mengherankan apabila dalam kontruksi pemikiran laki-laki timur, ia seolah pengatur perempuan. Dan muncullah istilah “Swarga nunut neraka katut “yang melambangkan betapa tergantungnya kehidupan perempuan pada laki-laki.

Membantu Perempuan Menemukan Jati Dirinya

Konsep pemikiran meletakkan perempuan di bawah laki-laki adalah fakta yang tak terbantahkan. Sebagai contoh dalam parlemen, kuota perempuan yang menduduki kursi sebagai anggota legislatif hanya 30% dari jumlah keseluruhan. Dan harus diakui konsep perempuan di bawah laki-laki secara faktual masih berjalan sampai sekarang. Emansipasi yang menjunjung kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan perlu disikapi secara tepat karena seolah ada pertentangan antara perintah Tuhan yang juga mengistimewakan perempuan dengan kenyataan di lapangan. Apakah Tuhan Salah Perintah?

Keluar dari Simalakama Perempuan

Sesungguhnya semua berawal pada pemahaman yang kurang tepat pada kedudukan perempuan di dunia patriarki. Perempuan dianugerahi kemampuan multi-tasking seharusnya mampu melakukan upaya supaya tidak menjadi obyek penderita laki-laki.

Dengan kemampuan otaknya dia lebih bisa bermanuver menghadapi banyak hal temasuk memiliki kecerdikan menghadapi arogansi laki-laki tanpa merendahkan laki-laki supaya selamat.

Sesungguhnya perempuan jauh lebih kuat jiwanya daripada laki-laki. Seharusnya, perempuan andai berbicara tentang kekuasaannya, lebih berkuasa daripada laki-laki. Dengan kemampuan otaknya dia lebih bisa bermanuver menghadapi banyak hal temasuk memiliki kecerdikan menghadapi arogansi laki-laki tanpa merendahkan laki-laki supaya selamat. Namun hal ini hanya bisa terjadi pada perempuan yang berpengetahuan sehingga bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu.

Pada akhirnya simalakama posisi perempuan di alam patriarki tidak akan terjadi apabila perempuan mengerti dan memahami siapa dirinya dengan segenap potensinya. Secara legal formal laki-laki memang tampak lebih berkuasa tetapi faktanya perempuanlah penguasa itu, lebih mampu mengatasi banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki.

Gusdurian, Dialog Lintas Agama dan Lintas Negara

1

Gus Dur tidak saja fenomenal di Indonesia. Buah ketekunan gerakan GUSDURian sebagai kekuatan nilai, jejak perwajahan Gus Dur sebagai sebuah gagasan seputar demokrasi, kemanusiaan, dan keagamaan mulai tumbuh di berbagai negara. Pengaruh beliau tidak mengandang, tetapi semakin bertaburan secara global alias menginternasional.

Kampusdesa.or.id–Isu keagamaan dan krisis kemanusian masih saja berbelit di Indonesia dan Asia Tenggara, bahkan terjadi di masa pandemi COVID-19. Dalam rangka Haul Gus Dur ke-11 yang diinisiasi oleh Gusdurian Kuala Lumpur berkolaborasi dengan Gusdurian Thailand, acara webinar ini mengangkat tema “Gus Dur dan Dialog Lintas Agama”.

Acara yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 20 Februari 2021 ini dibuka oleh Koordinator GUSDURian Kuala Lumpur, perwakilan penggerak GUSDURian Thailand, dan Mbak Alissa Wahid, selaku Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian. Mbak Alissa Wahid menyampaikan rasa senang beliau karena tidak merasa sendiri dalam memperjuangkan nilai-nilai yang telah diteladankan Gus Dur dan semoga dengan acara ini dalam mengumpulkan kembali cerita-cerita Gus Dur yg tercecer di kawasan Asia Tenggara.

Webinar ini diawali dengan penyampaian materi oleh Prof. Rosalia Sciortino dari Institute for Population and Social Research Mahidol University dan Sea-Junction. Beliau membagi materinya ke dalam beberapa poin pembahasan terkait relevansi pemikiran Gus Dur dengan Thailand dan ASEAN serta mahasiswa Indonesia di Thailand.

Prof. Lia menyampaikan bahwa sosok Gus Dur dan pemikirannya sangat relevan dan berpengaruh pada nilai demokrasi dan kemanusian di Asia Tenggara baik Myanmar, Filipina dan Thailand, khususnya Thailand selatan. Gus Dur telah berjuang menolak kekerasan dan diskriminasi kaum minoritas di Asia Tenggara. Demokrasi dalam keluarga yang diusung oleh Gus Dur juga menjadi penting karena itu adalah refleksi demokrasi dalam negara.

Materi kedua disampaikan oleh Mr. Mohammed Imran, dari the Reading Group Singapore. Beliau mengatakan bahwa Singapore tidak memiliki sosok seperti Gus Dur yang dimiliki Indonesia. Namun, beberapa tahun ke belakang ada kelompok Islam progresif yang bergerak dengan meneladankan nilai-nilai seperti yang diajarkan Gus Dur.

Gus Dur mengajarkan kita pada sisi Islam yang moderat, toleran, dan pluralis karena sangat penting menjalani kehidupan harmonis dengan kelompok lain yg berbeda agama dan tidak lupa adanya keberagaman di dalam agama islam itu senditri sehingga perlunya ajakaan dialog intrafaith.

Di sesi ketiga, narasumbernya adalah Mr.Amirul Mukminin berkebangsaan Malaysia. Ia bercerita saat dulu ia belajar di pesantren di Malaysia, ustadznya melarang untuk menjadi seperti Gus Dur yang pluralis dan liberal. Namun, ia tidak meyakini hal tersebut dan saat membaca tulisan Gus Dur, ia yakin dan mulai jatuh cinta dengan prinsip yang dibawakan oleh Gus Dur sebagaimana Rasulullah ajarkan bahwa Islam adalah rahmatalil ‘alamin. Sehingga ia mendirikan Warung Neotradisionalis dengan teman-teman pesantren-nya untuk menggerakan islam seperti nilai-nilai Gus Dur.

Gus Dur mengajarkan bahwa Islam adalah sebagai tauladan dan pelindung agama lain. Gus Dur telah melakukan pendekatan dengan humour atau dalam Bahasa Malaysia, lawak sehingga islam itu dikenal dengan ramah, bukan marah.

Terakhir, dari Ahmad Mufid sebagai Direktur Klasika Lampung. Ia menekankan bahwa Gus Dur telah dulu meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak etintas sehingga jalan satu-satunya mengakomodir hal ini adalah melalui dialog. Oleh karena itu perlunya kita untuk melestarikan budaya dialog tersebut agar tidak mati.

Sesi diskusi tanya jawab yang berlangsung sangat menarik dan interaktif, ada peserta webinar yang menanyakan tekait pengaruh Gus Dur pada kelompok minoritas di negara lain. Mbak Alissa menceritakan bahwa ada twit ada seorang muslim Uyghur di Australia yang mengenal Gus Dur karena Gus Dur telah banyak menolong dan memberikan bantuan dengan muslim minoritas Uyghur.

Selain itu saat Mbak Alissa menyambut pemuka agama dari Mindanau di Filipina, ada seorang tokoh muslim yang menangis karena merasa berutang budi dengan Gus Dur. Gus Dur telah memperjuangkan hak-hak minoritas mereka di Mindanau dan untuk membangun sekolah dan masjid.

Di akhir, Mbak Alissa Wahid menutup dialog dengan menyampaikan, “Melalui diskusi seperti ini dapat memperluas wawasan dan melihat sesuatu dari kacamata yg lebih luas. Bukan bahnya lokalitas namun juga regional yang lebih luas. Dan semoga dapat memperkuat gerakan kita di setiap ruangan tersebut, sehingga semakin memperluas kiprah dan sumbangsih bagi negara dan komunitas dimanapun berada”.

Semoga dialog ini dapat menjadi pioneer dalam penguatan penyebaran 9 nilai utama Gus Dur di Kawasan Asia Tenggara. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita meneruskan. [Childa/Ocha/NH]

Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

0

Pertemuan sesama warga negara di perantauan sungguh menggembirakan. Para mahasiswa muslim Taiwan dari Indonesia berkumpul untuk rekreasi (rihlah) di Yangmingshan Park. Kebersamaan terasa dalam suasana gembira sebagai ajang silaturrahmi. Kami saling bermain menikmati indahnya tamah. Kebersamaan yang tak tertandingi

Taiwan-Kampusdesa.or.id– Sabtu, 13 Februari 2021 sejumlah mahasiswa muslim Taiwan dari Indonesia sampai di Yangmingshan Park. Gelak tawa mewarnai permainan tebak kata berantai. Peserta terlihat kikuk saat memeragakan sholat malam serta berbuka puasa, lalu menyampaikan ke teman berikutnya tanpa perkataan. Orang terakhirlah yang harus menebak dua kata yang dimaksudkan.

Permainan (ice breaking) itu diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan Utara Satu (FORMMIT UTARATU) sebagai bagian dari kegiatan rihlah (rekreasi) ke Flower Clock di Yangmingshan Park, Taiwan. Tercatat sekitar 25 orang berpartisipasi aktif. Ada yang datang sendirian, bersama teman-teman, hingga membawa keluarga. Sebagian besar peserta merupakan mahasiswa yang sedang studi PhD di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Perjalanan Menembus Kota-Kota Taiwan

Para peserta rihlah berkumpul di MRT Gongguan sekitar pukul 8.15 pagi waktu Taiwan. Akhir pekan tidaklah menghalangi partisipan untuk berangkat. Satu per satu peserta berdatangan.

Dari MRT Gongguan station, rombongan menuju Taipei Main Station (Zhengzhou), lanjut dengan bus 260. Perjalanan dari MRT Gongguan station hingga tiba di Yangmingshan Bus Station (YBS) sekitar 45 menit. Pepohonan hijau rindang yang terkadang diselingi mekarnya cherry blossom di sepanjang perjalanan, membuat peserta semakin bersyukur dan mengingat kebesaran Allah. 

Baca juga: Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter 

Rombongan tiba di YBS sekitar pukul 09.00 pagi waktu Taiwan. Setibanya di YBS, dapat dilanjutkan dengan naik bus 125 ke Yangmingshan Park. Bus 125 ini akan ada sekitar pukul 11.00 pagi. Jadi peserta bersepakat untuk berjalan kaki menuju Yangmingshan Park, mengingat jarak tempuh hanya sekitar satu kilometer. Setiba di tujuan, para peserta langsung duduk di paviliun dan menikmati santap siang. Sebagian peserta menikmati makan siang dengan lesehan beralaskan tikar. Sholat dhuhur berjamaah pun terasa khusyu’. Boleh jadi dikarenakan suara alami dari aliran sungai dan udara sejuk.

Pesona Arsitektur China Instagramable

Yangmingshan Park memiliki lahan seluas 1,07 kilometer persegi. Taman berarsitekturkan China ini memiliki bangunan elegan, taman bunga nan eksotis, air mancur buatan, kolam buatan, pavilion, dan beragam sarana-pra sarana yang mayoritas unik dan instagramable. Tidak mengherankan bila para pengunjung menyempatkan untuk mengabadikan momentum tersebut dengan kamera gawai mereka atau berswafoto ria. 

Baca juga Mronjo Kian Serius Kelola Potensi Desa Wisata Melalui Pelatihan

Anak-anak yang dibawa ikut oleh sebagian peserta tampak senang dan berlarian ke sana kemari, mengeksplorasi pesona Yangmingshan Park. Hujan rintik-rintik tidaklah menyurutkan para pengunjung untuk menikmati setiap sudut keelokan Flower Clock. Sepanjang mata memandang, warna-warni bunga yang bermekaran sungguh memanjakan mata. Terlebih lagi keberanekaragaman flora di Yangmingshan Park, seperti: azaleas, Camellia, native cherry, peach, plum, dan pepohonan lainnya turut menambah semangat para pengunjung untuk menikmati dan mengabadikan panorama itu.

Baca juga: Hendry: Fisikawan Eksperimental Bereputasi Internasional dari Ambon (1)

Ukhuwah (Persaudaraan) di Perantauan

“Rihlah ini bertujuan untuk menguatkan ukhuwah serta mempererat silaturahmi di antara peserta,” jelas Iwan Santoso, Gubernur FORMMIT UTARATU. Mahasiswa PhD Manajemen Informasi NTUST Taiwan itu juga sangat mengapresiasi kehadiran dan antusiasme para peserta dalam mengikuti rihlah hingga usai. Ia berharap, semangat ukhuwah dan silaturahmi tetap terjaga erat, meskipun acara telah selesai.

Kebahagiaan terpancar di setiap wajah peserta. Keceriaan tampak nyata dari muka partisipan. “Seru, jadi nambah kenalan,” demikian kata Nur Novilina menanggapi kegiatan rihlah ini. “Bagus untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, terutama sesama perantau,” ujar Noorman singkat. Peserta rihlah lainnya, M Iqbal Hanafri, berharap semoga ukhuwah Islamiyah di antara peserta semakin erat ke depannya.

Adapun Presiden PPI Lunghwa University yang berkesempatan menghadiri rihlah itu, Pevi Ramadhani, mengucapkan terima kasih atas kesempatan silaturahmi dan berharap di lain waktu dapat bersilaturahmi lagi. Tepat sekitar pukul dua siang waktu Taiwan, rombongan berkumpul sejenak sebelum akhirnya berpisah. Benar-benar rihlah yang memperkuat ukhuwah. Semoga juga penuh berkah.

Toko Sejarah, Kampung Pahlawan Nasional di Kota Surabaya

0

Daya tarik wisata sejarah masih sepi peminat, nampaknya semboyan Jas Merah yang diproklamirkan Sukarno puluhan tahun silam masih jauh dalam angan. Sangat miris jika generasi bangsa sudah tidak menganggap keren sejarah dan budayanya sendiri. Maka Gembar gembor wisata nasional tak melulu soal keindahan alam, perlu juga memviralkan wisata sejarah sehingga para penerus bangsa mengerti perjuangan para pejuang. Toko sejarah di Surabaya dalam ulasan ini adalah bukti adanya kampung  para pahlawan, semoga menaikkan minat visitasi tempat bersejarah nasional.
Kampusdesa.or.id- Semua orang Indonesia tahu istilah Kota Pahlawan merupakan julukan untuk Kota Surabaya. Sejarah peristiwa lautan api penyerbuan A.W.S Jenderal Mallaby beserta tentaranya melambungkan citra arak-arek Suroboyo sebagai mercusuar kepahlawanan. Namun tak banyak orang tahu, ada banyak cerita di sudut-sudut kampung Ibu Kota provinsi tersebut, salah satunya ialah Kampung Peneleh, kampungnya para pahlawan nasional.
Toko sejarah itu memiliki jam operasional pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sementara waktu berkunjung ke musium Rumah H.O.S Cokroaminoto juga serupa dengan toko tersebut. Khusus di tengah pandemi saat ini, alangkah baiknya sebelum berkunjung, wisatawan diharap meng konfirmasi kehadiran terlebih dahulu kepada penjaga musium. Hal ini sebagai upaya memaksimal prokes Covid-19.
Denah musium H.O.S Cokroaminoto cukup detail, di depan musium anda akan mendapati reklame besi warna putih berisi denah bagian-bagian rumah. Di dalam bangunan juga terdapat foto-foto anggota kos tempo dulu. Meskipun telah ada sejak zaman belanda, musium itu baru diresmikan oleh Wali Kota Ibu Tri Rismaharini pada tahun 2017.
Jika kita menelusuri jalan peneleh dan berhenti di gang VII Peneleh, akan kita dapati rumah sederhana khas jawa, itulah rumah H.O.S Cokroaminoto. Banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa di sanalah Bapak bangsa itu menerima pemuda untuk ngekos di rumah tersebut, pemuda itu di antaranya adalah Sukarno, Semaun , Muso dan Kartosuwiryo. Maka tak berlebihan jika di kampung ini lah lahirnya tiga mahdzab pergerakan Indonesia, Nasionalisme, Sosialisme dan Agama.
Sangat dekat, kira kira lima langkah dari rumah H.O.S Cokroaminoto terdapat toko buku tua. Sumber sejarah menyebutkan bahwa toko buku yang sebelumnya berfungsi sebagai percetakan kala itu merupakan milik keluarga Abdul Letif Zein. Toko buku tersebut adalah yang tertua di Surabaya  kira kira dibangun sejak tahun 1800 an.
Baca juga:
Bahaya Daring Tanpa Jeda, Digital Detox di Tengah Pandemi Covid-19 Sangat Dianjurkan.
Merdeka Belajar di Tengah COVID-19, Benarkah Anak Hanya Sebatas Burung Dalam Sangkar?
Sumber sejarah menyebutkan bahwa H.O.S Cokroaminoto merupakan tokoh islam yang dikenal sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota atau De Ongekroonde Van Java. Hal itu berkat perjuangan beliau membesarkan Sarikat Dagang Islam tahun 1912.
H.O.S Cokroaminoto merupakan simpatisan Muhammadiyah, begitu pula sang pemilik toko tersebut. Melalui toko buku itu beserta syiar Da’i-Da’i ajaran Muhammadiyah berkembang di Surabaya. Buku-buku tarjih Muhammadiyah, Khutbah Jum’at, souvenir, bendera dan atribut ke Muhammadiyah an lainnya tersedia di toko itu.
Hal yang menakjubkan adalah sudah tiga generasi yang meneruskan usaha toko buku peneleh itu, tentu masih dengan atribut Muhammadiyah. Sayangnya semangat turun temurun menjaga kelestarian toko sejarah tidak berbanding lurus dengan keinginan pemuda saat ini untuk menjaga monumen- monumen sejarah. Padahal Kampung peneleh sebenarnya terletak di pusat Kota Surabaya tapi entah kenapa sangat jarang turis lokal dari kalangan pemuda tertarik untuk mempelajari sejarah bangsanya sendiri khususnya sejarah kampung peneleh, kampungnya para pahlawan nasional.
Toko buku peneleh dan rumah H.O.S Cokroaminoto bukan satu satunya monumen sejarah di wilayah itu. Tidak jauh, kurang lebih 300 meter, terdapat Masjid Plampitan tempat Sang Pencerah K.H Ahmad Dahlan berdakwah. Masjid yang diperkirakan berdiri tahu 1858 itu adalah tempat Sukarno dan H.O.S Cokroaminoto ngintil pengajian K.H Ahmad Dahlan.
Inilah hal yang unik dan otentik, bagaimana tokoh-tokoh besar bangsa ditakdirkan berkumpul dalam ekosistem yang sama, mengusung gagasan besar bernama Bangsa Indonesia. Peristiwa-persitiwa semacam ini adalah ingatan sejarah yang mahal harganya, harus disadari dan digandruingi oleh angkatan muda saat ini. Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah!-Sukarno.

Positif Covid-19, Suka Duka Hidup di Balik Jendela

0

Seorang teman berkata, “Kelak, kamu pasti akan mengingat setiap senja yang telah kamu lalui, dan menyadari betapa kuatnya kamu bisa melewati semua ini.” Demi Tuhan, ini bukanlah perjalanan yang mudah. Perjalanan yang membuat saya bersyukur setiap detiknya. Waktu berjalan begitu lambat. Jarak antara pagi dan petang terasa begitu panjang. Seolah menghitung hari, apa esok masih baik-baik saja atau sebaliknya? Covid-19 menjadi penentu bagi penantian dan Swab PCR test menjadi pintu kepastian.

KampusDesa.or.id–Hingga detik saya menuliskan ini, rasanya masih tidak percaya harus melalui hari-hari panjang itu. Dari Jakarta, ibu saya meminta pulang ke Tulungagung agar tidak terkena Covid-19. Qadarullah, saya malah terkena Covid-19 di Tulungagung. Manusia tidak akan bisa lari dari takdir. 

Ada 8 anggota keluarga saya yang terdampak Covid-19. Mbah Kakung, bulik-paklik, bulik, 2 sepupu, mama saya, dan saya. Mengapa bisa terjadi? Bulik-paklik saya baru menghadiri acara di Surabaya, di mana beliau bertemu dengan Gubernur Jawa Timur. Qadarullah setelah acara selesai ada berita bahwa beliau positif Covid-19. Langsung saja, bulik-paklik melakukan Rapid test Antigen, dan hasilnya reaktif. Keesokan harinya, beliau Swab PCR test. Tiga hari kemudian hasilnya keluar, dan keduanya positif Covid-19.

Sontak keluarga saya heboh. Bagaimana tidak, kami selalu berusaha menaati protokol kesehatan, termasuk tidak pernah absen memakai masker. Lalu, mengapa harus kami yang terdampak Covid-19? Sekali lagi, manusia tidak akan bisa lari dari takdir. Namun, barangkali Tuhan ‘sengaja’ menegur kami dengan Covid-19 ini untuk lebih menyadari betapa lemahnya kami di hadapan Tuhan. 

Dalam hidup, ada banyak hal yang terjadi di luar batas kemampuan kita sebagai manusia, yang membuat kita menyadari betapa lemahnya kita di hadapan Sang Pencipta. 

Singkat cerita, ada 6 tambahan manusia yang positif Covid-19 di keluarga saya. Bulik-paklik yang membawa oleh-oleh Covid-19 dari Surabaya sudah terlebih dahulu melakukan isolasi mandiri di rumah sebelah. Lalu kami, 6 orang yang lain (mbah kung, bulik, 2 sepupu, mama saya dan saya) melakukan isolasi mandiri di rumah bulik, tepatnya di lantai 2. Sementara yang negatif tinggal di rumah yang lain. Dokter melarang pasien positif Covid-19 untuk tinggal satu atap dengan yang negatif. 

Baca juga: New Normal, Dibalik Penularan Covid-19 Tenaga Medis

Hari demi hari kami lalui dengan tidak mudah. Jika biasanya kami dengan leluasa melakukan banyak hal di luar rumah, mau tidak mau harus dibatasi untuk sementara waktu. Lalu bagaimana dengan supply makanan kami? Mbah kung dan (almarhumah) mbah putri mempunyai 6 buah hati (5 putri dan 1 putra). Qadarullah, yang terkena Covid-19 adalah anak pertama, kedua, dan terakhir, sementara 3 anak lainnya membantu kami secara bergantian. Ada yang secara berkala mengirimkan makanan untuk kami, ada juga yang mengirimkan dari jauh, karena kebetulan ada yang tinggal di luar kota. 

Buku ini diproduksi oleh Kampus Desa Indonesia. Ditulis dari berbagai sudut pandang. Cocok untuk referensi lintas disiplin, baik bagi pelajar atau mahasiswa. Silahkan kunjungi link penjelasan buku.

Entah sudah berapa kotak masker yang menemani kami selama isolasi mandiri. Meski ada di dalam rumah, kami diharuskan memakai masker agar tidak terjadi penularan untuk kedua kalinya. Di antara kami berenam, saya adalah orang terakhir yang positif Covid-19. Jadi, saya ketika yang lain sudah berangsur pulih, saya baru memulai untuk berjuang.

Saya ingat betul, hasil Swab PCR test kedua keluar tanggal 14 Januari. Mengapa kedua? Karena Swab PCR test yang pertama saya negatif, namun bergejala. Swab PCR test pertama adalah hari Jum’at, hasilnya keluar hari Minggu. Hari Minggu malam saya mulai bergejala, kepala sangat berat dan saya demam. Dua hari kemudian, dokter meminta untuk Swab PCR test ulang, lalu hari Kamis, tepatnya 14 Januari 2021, hasilnya menunjukkan bahwa positif Covid-19.

 "Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa."
 "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286).

Hasil test Swab PCR test yang biasanya sudah keluar di pagi hari, menjelang petang hasilnya belum juga keluar. “Ah, paling negatif,” pikir saya meremehkan waktu itu. Saya juga merasa sudah baikan. Semula, saya merasa itu adalah flue biasa, karena tepat hari Kamis saya sudah berangsur pulih. Namun paginya, saya merasa ada yang aneh karena indra penciuman saya kurang berfungsi dengan baik. Lebih tepatnya saya tidak bisa membau.

Di situlah saya merasa antara iya dan tidak kalau saya sudah benar-benar pulih. Sekitar setelah adzan Isya’, saya mendapatkan pesan bahwa saya positif Covid-19. Setelah melihat surat hasil Swab PCR test yang tertera nama saya, saya bertanya kepada perawat “Mas, itu bulannya Juni, saya Mei, itu gak salah?”, tanya saya tidak terima.“Benar mbak, itu namanya benar,” tegasnya. “Baiklah, berarti Tuhan tahu saya bisa melewati semua ini.”  ucap saya dalam hati waktu itu.  

Baca juga: Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

Lucunya, gejala yang kami tidaklah sama. Jika saya mengalami demam – kepala pusing (sangat berat) – batuk pilek – badan nyeri – fungsi indra penciuman berkurang – nafsu makan berkurang. Berbeda dengan sepupu saya yang tidak mengalami demam dan nyeri di badan, bahkan nafsu makannya tidak berpengaruh sama sekali, dia tetap enak makan. Sepupu saya yang lain mengalami demam selama 3 hari dan batuk. Setiap orang memiliki gejala berbeda. Ada juga yang saudara yang indra penciumannya tetap berfungsi, namun dia mengalami batuk yang cukup parah.

Mau tidak mau, suka tidak suka, ada satu keadaan dalam hidup yang mengharuskan kita untuk melaluinya. Namun, kita juga harus meyakini bahwa Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.

Dalam kondisi yang tidak mudah, sejatinya yang kita butuhkan adalah dukungan dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kalimat “gimana kondisi kamu hari ini?”, juga pertanyaan kabar “kamu sudah baikan?”, dan motivasi “semangat yaa, kamu pasti bisa melalui ini!” rupanya memberikan energi positif bagi kami. Kesetiaan teman akan teruji ketika kita berada dalam kondisi yang sulit. Tuhan menunjukan dengan sangat gamblang.

Baca juga: Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

Alhamdulillah, kami mempunyai banyak saudara. Mbah kung dan bulik mempunyai banyak kolega, sahabat, dan juga teman, baik dari kalangan birokrat, ulama, dan juga tokoh masyarakat. Mereka tetap hadir dalam segala kondisi, memberikan motivasi baik secara moril dan materil. Benar saja, sejatinya manusia akan tampak ketika kita dalam keadaan terpuruk. Tuhan benar-benar menyingkap siapa sejatinya orang-orang yang ada di sekitar kita, siapa sejatinya orang-orang yang tulus dan tidak, orang-orang yang baik dan tidak, orang-orang yang memanusiakan manusia dan tidak. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah. 

Kesetiaan teman akan teruji ketika kita berada dalam kondisi yang sulit.

Setiap melihat jendela, saya melihat burung-burung beterbangan begitu bebasnya. Ah Tuhan, saya iri! Lirih saya waktu itu. Setiap sore, ada senja yang berbeda. Entah langit berwana biru, siluet merah jambu, atau putih abu-abu. Setiap hari, seperti ada harapan baru yang membuat kami ingin segera pulih. Di sini, saya menyadari pentingnya positive thinking dalam diri. Ketika kita berpikir positif, secara tidak langsung, diri kita akan turut menjadi positif.

Ketika masih ada orang yang berkata, “hallah, Covid-19 itu ndak ada”, semula saya juga cukup menyangsikan keberadaan Covid-19 dan terlalu angkuh untuk meyakini tidak akan positif Covid-19. Namun ternyata, keangkuhan itu langsung mendapatkan teguran dari Tuhan untuk menyadari ketidakberdayaan saya sebagai hamba-Nya.

Hari ini, tepat tanggal 13 Februari 2021, terhitung 1 bulan kurang 1 hari untuk pertama kalinya saya tahu bahwa saya positif Covid-19. Rasanya, perjuangan untuk melalui setiap detik masa karantina masih hangat dalam memori, dan ketika mengingat itu semua, saya hanya ingin mengucap syukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk merangkai kembali asa yang sempat terjeda.

Terimakasih untuk keluarga, sahabat, teman-teman yang senantiasa hadir di setiap kondisi kami. Menurut dr. Rivo Mario Warou Lintuuran, Sp.KJ, salah satu cara mengatasi dampak Covid-19 terhadap para pasien adalah dengan “tetap berkomunikasi”. Sederhananya, komunikasi untuk terus membangun pikiran-pikiran positif yang bisa mendorong pasien untuk segera pulih kembali.

Secara psikologis, orang yang terkena Covid-19 akan.. (bersambung)

Terimakasih Virus Corona

0

Kampusdesa.or.id–Virus Corona sampai hari ini masih menjadi perbincangan publik, meskipun menurut data google trend grafiknya melandai. Virus corona telah memaksa keadaan untuk beradaptasi kebiasan baru. Segala lini bidang dipaksa berubah demi menerapkan dan menyesuaikan situasi pandemi ini.

Pandemi banyak mengambil kebabasan kita, tapi sebenarnya kalau kita pikir-pikir banyak juga yang diberikan oleh pandemi. Seperti cara kerja baru, perubahan ekstrim di dunia pendidikan, dunia kerja, usaha, dan lain sebagainya yang ternyata jauh lebih efektif dan efisien. Lumayan dapat memangkas anggaran baik dari segi transportasi, konsumsi, dan uang sarana prasarana.

Pandemi seperti dua sisi mata uang, ia membawa sambat (keluh kesah) dan bejo (keberuntungan). Tentu, tidak lain dan tidak bukan semua ketentuan yang digariskan di dunia ini pasti ada baik buruknya. Meski begitu banyak batasan-batasan yang diakibatkan oleh pandemi, tapi tanpa kita sadari sesungguhnya banyak juga yang dapat kita ambil karena adanya pandemi.

Hal itu harus kita syukuri karena banyak peluang (opportunity) baru tercipta gegara ada pandemi Covid-19 ini. Beberapa peluang bisnis yang bikin cuan di tengah pandemi, semisal usaha pembuatan masker kain, jual beli via internet dan media sosial (online shop), bisnis makanan beku (frozen food), cemilan kering, atau menjadi reseller dan dropshipper barang-barang elektronik, pakaian maupun kosmetik.

Selain itu saat kesehatan menjadi prioritas dan orang-orang pada sadar bahwa kesehatan lebih penting dari segalanya. Bisnis jasa dan produk kesehatan menjadi mencuat. Terutama berjualan produk kesehatan dan perawatan tubuh untuk meningkatkan imunitas. Di desa-desa banyak yang menjajakan jamu, membuat home industry masker kain, hand sanitizer.

Di masa pandemi juga menjadi keberkahan tersendiri bagi dunia teknologi informasi (IT) dan jasa layanan pengantaran (delivery service). Kita sebagai bagian dari perubahan global tentu tidak boleh diam dan hanya membeli atau memanfaatkan karya orang. Harus muncul berbagai inovasi dan solusi. Seperti jasa pembuatan website sekaligus content writer nya, pengembangan UMKM menjadi aplikasi atau start up-start up baru.

Pandemi Covid-19 diprediksi akan berakhir 5-10 tahun lagi. Saat ini, Indonesia ikut serta melakukan riset vaksin yang diberi nama “vaksin merah putih”. Di ranah lain, teman-teman alumni UIN Malang mencoba untuk mengambil peluang lain di masa pandemi ini. Kita semua tahu aplikasi Ruangguru, Zenius, Quipper, Sekolahmu, dll. Namun masih kurang sana-sani.

Sehingga kami memiliki inisiatif menjawab tantangan dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19 dengan meluncurkan sebuah platform sekolah maupun kuliah daring bernama Edmuku – Edukasi untukmu dan untukku. Pada tanggal 09 Februari 2020 lalu, kami mengekspansi lebih lebar mengajar mitra baru untuk berjejaring dan kerjasama dengan Edmuku. Salah satunya adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Seperti Prof. Abdul Haris bilang, “diam adalah mati”. Maka, kita tidak hanya diam ngaplo saat masa pandemi. Harus punya gebrakan solutif yang tutut serta menyumbang menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi saat ini. []

Cara Melawan Jerat Oligarki

0

Ada beberapa peluang bagaimana rakyat bisa mengorganisasi perlawanan terhadap oligraki. Cara ini dapat menjadi pilihan dalam situasi paradoks. Ada empat jalan yang dapat menjadi ruang perlawanan. Cara ini tetap beradab, tanpa menggunakan cara-cara kekerasan.

Kampusdesa.or.id–Kapitalisme dengan semangat pembangunannya sebenarnya memunculkan paradoks, apa yang kita lihat sebagai sebuah kemajuan dalam bentuknya yang nampak megah sebenarnya sering kali menyimpan banyak cerita tentang adanya penindasan, ironisnya baik mereka yang menjadi korban maupun yang memperjuangkan hak korban akan diusahakan serapi mungkin untuk dibungkam.

Padahal pembungkaman dalam bentuk apapun juga adalah antitesis dari demokrasi, tentunya sungguh sangat ironis jika kebebasan yang selalu saja digaungkan malah mejebak kita pada kondisi yang sebaliknya. Kita boleh bebas-sebebasnya tapi jangan sampai mengkritik, membongkar, apalagi melawan sistem yang menindas.

Kapitalisme memang menyimpan paradoks, terlebih lagi jika ideologi ini tidak terpahami secara holistik. Niat baik untuk menciptakan keseteraan terhadap akses apapun malah dibajak oleh mereka yang kemudian mengakumulasi sumber daya tersebut secara berlebihan dan memakai demokrasi sebagai tameng untuk melindungi hal salah yang telah mereka perbuat.

Kapitalisme memang menyimpan paradoks, terlebih lagi jika ideologi ini  tidak terpahami secara holistik, niat baik untuk menciptakan keseteraan terhadap akses apapun malah dibajak oleh mereka yang kemudian mengakumulasi sumber daya dan kita menyebutkanya dengan kata oligarki

Kita menyebut mereka yang mensabotase tujuan dari segala bentuk pencarian umat manusia terhadap keadilan, kesetaraan,maupun kesejahteraan itu dengan istilah oligarki, apa dan bagaimana sebenarnya mereka itu sangat banyak sekali tafsirannya tapi sangat sedikit sekali yang kemudian membahas secara lebih dalam bagaimana, kapan, dan harus dari mana dalam melawan dominasi oligarki tersebut, di sini saya ingin sedikit membahas bagaimana sebaiknya dasar kita dalam melawan oligarki.

Empat Langkah Melawan Oligraki

Pertama, mulai dari berani untuk berpikir dan berkesadaran terhadap angin surga yang mereka narasikan tentang hidup yang sejahtera, adil, makmur, merdeka, bahkan bebas.  Berpikir dan berkesadaran harus seiring sejalan karena tidak setiap mereka yang berpikir bisa berkesadaran, ataupun mereka yang telah berkesadaran malah tidak berpikir sehingga apa yang mereka buat seringkali tidak taktis.

Baca juga: Pelajaran Hidup Dari Kerelawanan di Chow Kit

Kesadaran dimulai dengan keberanian untuk memiliki pemikiran yang berbeda begitupun sebaliknya dengan berpikir. Disini antara kesadaran dan pemikiran harus  meretas segala angin surga yang di gembar-gemborkan oleh oligarki dan tentakelnya secara taktis

Sebagaimana yang kita sama–sama pahami, perlawanan terhadap oligarki masih belum tuntas karena masih banyak yang terkungkung pada angin surga yang mereka gembar-gemborkan padahal jika kita bepikir secara diagnostik dan sadar secara taktis, apapun angina surga yang mereka gembar-gemborkan masih terjebak pada  polarisasi kehidupan modern yang tunduk pada hukum pasar, dengan logika kuasa untuk mendominasi keuntungan, selama gaya berpikir dan berkesadaran kita masih sama  maka yakinlah perlawanan terhadap oligarkhi tidak akan wujud.

Kedua, harus ada pengorganisaan rakyat disertai dengan pengendalian hasrat, untuk melawan sesuatu yang besar kita harus berorganisasi, tidak setiap manusia bisa menjadi daud yang berhasil menumbangkan goliath hanya dengan sebuah batu bahkan daud sendiripun saat dia berhasil mengalahkan goliath yang pertama dia lakukan menjadi pemimpin dan mengorganisir kaumnya untuk menciptakan peradaban mereka sendiri.

Baca juga: Mengurai Paradoks Digitalisme

Pengorganisasi ini menjadi sangat penting dalam setiap perlawanan, kita sadar untuk melawan tidak akan pernah cukup jika tanpa pernah ambil bagian dalam proses pengorganisasian. Namun pengorganisasian saja tidak cukup. Proses ini sendiri harus diiringi dengan pelatihan untuk mengendalikan hasrat terjebak pada populisme dan hal-hal yang dangkal. Sebelum tujuan itu tercapai, disini lah pengorganisasi mesti diiringi dengan proses ideologisasi yang tidak cukup hanya dengan sebatas tahu, tetapi hingga menginternalisasikan apa yang sama-sama mereka yakini.

Ketiga, lakukan pembangkangan dalam kepatuhan. Artinya bukan dengan kekerasan tapi dengan penarikan sikap percaya terhadap otoritas jika mereka membuat kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat. Disini boikot saja tidak cukup. Harus diiringi juga dengan penyebaran narasi yang massif tentang kebobrokan kebijakan tersebut kepada rakyat kebanyakan dan mendidik rakyat untuk berani ambil sikap dari hal–hal yang paling mungkin bisa mereka lakukan sebagai bentuk protes. Misalnya berhenti membayar pajak atau memboikot pemilu atau syukur-syukur jika mereka mau terlibat dalam long march.

Keempat, jangan pernah lagi memberikan ruang kepada  pemimpin-pemimpin yang sebelumnya pernah membelot kepada kelompok oligarki, perlawanan tidak akan pernah berhasil saat kita dengan muda memberikan pengampunan bahkan memberikan ruang yang lebih lebar terhadap mereka yang jelas – jelas hanya memanfaatkan apa yang sedang ingin capai.

Basis perlawanan harus bisa mendetoksifikasi segala bentuk manusia toxic yang membawa ide-ide populisme,menyuntikkan isu-isu yang dangkal dalam gerakan, atau bermain belakang tanpa sepengetahun anggota.  Jika keempat langkah tersebut kita lakukan dengan konsisten, maka perlawanan kita terhadap oligarki bisa menjadi efektif.