Mengurai Paradoks Digitalisme

0
700

Tom Nicholas di buku The death of expertise, mengingatkan zaman digital menjadikan orang tidak lagi sarujuk dengan para ahli. Ini tidak bisa dielakkan memang, hampir semua keinginan orang yang mahir berselancar di internet dapat terpenuhi dengan mudah. Namun, ketidakmendalaman ilmu pengetahuan menjadikan kebanggaan karena euforia atas sesuatu yang baru didapat dari internet. Orang bangga dengan ketidaktahuan. Bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Kampusdesa.or.id–Pada kondisi zaman global seperti saat ini, kehidupan manusia dilengkapi dengan tools untuk mempermudah sendi-sendi kehidupan dalam bentuk digitalisasi, adanya digitalisasi adalah puncak dari revolusi sains umat manusia sebagaimana dikatakan yuval noah harari dalam bukunya Homo sapiens, yang membagi revolusi peradaban manusia kedalam tiga kelompok yaitu revolusi kognitif, pertanian, dan science.

Karena digitalisasi yang pesat maka hampir setiap aspek kehidupan akhirnya berubah tidak terkecuali dengan tatakelola pemerintahan yang sudah harus berbasis pada digitalisasi sebagai upaya adaptasi terhadap perkembangan global, seperti misalnya Indonesia melalui Pertaturan Presiden No. 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Tentu ini menjadi indikator untuk publik bahwa kondisi memang sudah jauh berubah dan didalamnya ada komitment pemerintah yang mampu menunjang pembangunan suatu Negara.

Kalau kita mengacu pada pada data terakhir dari Sekjen APJII, Henri Kasyfi mengemukakan bahwa pengguna internet pada tahun 2019 memperoleh angka 171,17 juta jiwa dari total populasi 264 juta penduduk, atau dengan persentase 64,8% sudah terhubung ke internet, demgan presentase yang hampir separu masyarakat Indonesia tentunya menghandle agar digitalisasi bergerak kearah yang baik bukan hal yang mudah untuk itu kita perlu mengetahui sisi negative dan positif sebagai bahan diskursus dan batu loncatan untuk membenahi diri secara bersama.

Arah Positif Digitalisasi

Digitalisasi yang kita nikmati pada saat ini mengandung nilai positif yang begitu besar. Di mana kita harus memetik hadiah yang terkandung didalamnya, semisalnya menjadi sarana literasi, komunikasi, diplomasi, informasi dan bahkan mampu menunjang perekonomian nasional. Sebab dengan digitalisasi semua manusia di dunia sudah saling terhubung, tidak lagi ada batasan.

Sarana literasi melalui digital harus dibentuk sebagai kawah penggemblengan diri agar kualitas sumber daya manusia meningkat dan memiliki daya saing global.  Sebab, literature dari berbagai universitas ternama di dunia sudah bisa diakses dan belajar langsung tanpa harus kesana, misalnya kuliah umum yang dilakukan oleh universitas ternama pun bisa diakses dan diikuti hanya lewat aplikasi seperti coursera dan edx bahkan ceramah yang berkualitas pun bisa kita dengar secara gratis lewat tedx talk.

Begitu juga dengan sarana komunikasi dan diplomasi, via online sudah memfasilitasinya dengan amat baik, apakah itu melalui FB, IG, WA, E-Mail, dan masih banyak media yang bisa digunakan. Apakah itu untuk menjalin silaturahmi maupun belajar sekaligus praktik bahasa asing, bahkan sampai kepada seminar online dan pengorganisasian massa-pun dapat kita lakukan via aplikasi chat di manapun dan kapanpun dengan jumlah massa yang melampaui saat kita beragitasi dan berpropaganda offline.

Sebagai contoh sekaligus perbandingan aplikasi seperti telegram saja bisa menampung sebanyak 5000 orang lebih dalam sebuah grup yang mereka sebut sebagai super-group artinya seminar online di grup seperti telegram memiliki kekuatan jangkauan massa yang sama besarnya bahkan mungkin melampaui seminar offline yang terkadang persertanya di batasi oleh kuota, waktu, dan geografis.

Baca juga : Revolusi Kecerdasan Digital, Meningkatkan Branding Ala Kampus Desa

Jika dunia pendidikan akhirnya maju karena internet begitupun juga ekonomi nasional, layaknya perekonomian India yang membaik melalui ekonomi digital dan china yang menjadi raksasa karena dunia digital. Demikian juga dengan Indonesia, pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi berasal dari penggunaan digital sebagai titik permulaan penetrasi penggunaan digital di Indonesia. Bahkan pertemuan KTT G-20 yang diadakan di Jepang beberapa bulan yang lalu pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo mengiktikadkan menjadi ekonomi digital terbesar di Asia-Pasifik. Apakah itu melalui unicorn maupun desain fitur digital (kebijakan) seperti yang dilakukan pemerintahan India menggunakan kartu Biometrik untuk program pembangunannya sekaligus memangkas penggelembungan birokrasi dan menutup ruang korupsi, kolusi dan nepotisme atau melaui reformasi dan revolusi bonus demografi besar-besar ala china .

Kita perlu ingat ada tiga perusahaan internet raksasa yang agresif dengan kekuatan globalnya yang luar biasa berasal dari negeri berjuluk tirau bambu ini ada Trio Baidu, Alibaba, dan Tencent, atau BAT yang dikelola secara inovatif yang berhasil menciptakan ekosistem digital multi industri yang menyentuh banyak aspek kehidupan.

Satu lagi tidak lupa China yang bisa kita contoh dalam proses meningkatkan perekonomian nasional mereka dengan digitalisasi, memasuki era revolusi 4.0 china keluar sebagai investor dan pengadopsi teknologi digital terbesar di dunia, dan merupakan rumah bagi sepertiga dari unicorn dunia. China memiliki kekuatan untuk mendorong komersialisasi yang sangat cepat dalam bidang bisnis digital, terlebih lagi negeri ini memiliki bonus demografi yang besar yang sebagai besar dari bonus demografi mereka tertarik untuk terus-menerus meningkatkan kualitas digitalisasi di setiap aspek kehidupan. Kita perlu ingat ada tiga perusahaan internet raksasa yang agresif dengan kekuatan globalnya yang luar biasa berasal dari negeri berjuluk tirau bambu ini ada Trio Baidu, Alibaba, dan Tencent, atau BAT yang dikelola secara inovatif yang berhasil menciptakan ekosistem digital multi industri yang menyentuh banyak aspek kehidupan.

Negativisme Digital

Ibarat dua sisi mata pisau, dunia digital bisa mempersatukan kita sebagai sesama anak bangsa namun juga bisa merusak persatuan kita, harus kita akui tidak setiap tindakan kita di dunia digital berdampak baik bagi kelanjutan persatuan bangsa justru lebih banyak riak-riak konflik yang kita ciptakan ketika garis batas antara kita sudah menghilang, sejak dahulu bangsa kita memamg selalu bermasalah jika dihadapkan pada masalah perbedaan untungnya masih ada batasan dalam hal komunikasi sehingga api tidak cepat meluas sementara di saat ini kita disaat ada ketidakterbasatasan itu yang bertemu dengan ketidakdewasaan, api dengan cepat melebar dan akhirnya kita perlahan memasuki zona disintegrasi senyap.

Disintegrasi senyap bagi saya adalah negativisme yang  pertama dari dunia digital di mana ini terjadi dalam skala sosial yang akan menciptakan sebuah kondisi perpecahaan yang timbul secara perlahan di ruang-ruang media dalam bentuk pertarungan opini yang berisi konten yang memancing emosi ketimbang meluruskan suatu informasi ada tiga peristiwa yang membuat saya yakin adanya disintegasi senyap ini pertama demonstrasi besar-besaran bela agama yang berlangsung berjilid-jilid, kedua demonstrasi hasil Pilpres, dan ketiga demonstrasi aksi tolak rasisme.

Di tiga demonstrasi ini peran dari “the power of netizen“ sangat besar dalam membuat publik terdikhotomi dalam dua kelompok pro dan kontra yang saling bertarung satu-sama lain jauh setelah permasalahan utama diselesaikan sehingga hasilnya ketiga demonstrasi tersebut justru tidak fokus untuk tetap mengawal tuntutan yang sebenarnya namun meluas hingga ke persoalan isu soal ras, suku, dan agama.

Istilah ini merujuk pada suatu wilayah di benua Eropa yang bernama semenanjung Balkan yang harus hancur menjadi banyak negara pasca keruntuhan kesultanan turki dan kemudian hancur kembali pasca keruntuhan Yugoslavia.

Hal ini jika diteruskan dan tidak dipikirkan bersama hasilnya akan membuat Indonesia memasuki zona balkanisasi, sebuah titik di mana terjadinya perpecahan di wilayah yang memiliki keberagaman suku, ras, dan agama kedalam negeri–negeri kecil. Istilah ini merujuk pada suatu wilayah di benua Eropa yang bernama semenanjung Balkan yang harus hancur menjadi banyak negara pasca keruntuhan kesultanan turki dan kemudian hancur kembali pasca keruntuhan Yugoslavia.

Fenomena balkanisasi ini sudah memasuki ranah digital dalam bentuk cyberbalkanisasi, yaitu pemisahan yang nampak di dunia internet kedalam banyak kelompok-kelompok kecil yang lebih ekslusif, di sini terjadi sebuah paradoks di mana dunia digital yang seharusnya untuk memperluas diskusi dan meningkatkan pertukaran informasi justru mendorong diskriminasi dan intoleransi.

Dalam tingkat individual, dunia digital ternyata perlahan mematikan kepakaran kita, dengan mudahnya kita sekarang ini menjauhi pendapat para pakar untuk mendekati dan percaya dengan mereka yang bukan pakar dan masing-masing dari kita pun mengklaim diri sendiri sebagai pakar akibatnya kita menciptakan dan mempercayai sebuah informasi bukan dari sudut kebenarannya akibatnya lingkaran kebencian tetap pada tempatnya dan semakin mengurung kita dalam suasana ketidapercayaan terhadap sesama anak bangsa.

Tom Nicholas dalam bukunya The death of expertise, dia menulis di zaman ini kita memasuki masa-masa yang paling berbahaya di mana tidak pernah ada banyak orang yang memiliki begitu banyak akses ke pengetahuan, namun di sisi lain belum begitu tahan untuk belajar apa pun secara mendalam. Akibatnya orang bangga dengan ketidaktahuan dan bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Matinya kepakaran ini dijelaskan secara apik oleh Tom Nicholas dalam bukunya The death of expertise, dia menulis di zaman ini kita memasuki masa-masa yang paling berbahaya di mana tidak pernah ada begitu banyak orang yang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan namun di sisi lain belum begitu tahan untuk belajar apa pun secara mendalam, akibatnya orang bangga dengan ketidaktahuan dan bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Maka tidak salah jika akhirnya kita memasuki era post-truth, sebuah era di mana kebenaran hanya tinggal nama karena isi dari kebenaran itu sendiri tidak pernah nampak tertimbun oleh banyak informasi yang seolah-olah benar namun nyatanya tidak, apa yang kita sebut sebagai hoax adalah produk utama era post-truth ini.

Kalau sudah begini solusi yang bisa kita lakukan baik di ranah sosial maupun individual adalah memperkuat dialog baik kedalam diri kita (deliberasi) maupun keluar diri kita dalam bentuk diskusi.

Kalau sudah begini solusi yang bisa kita lakukan baik di ranah sosial maupun individual adalah memperkuat dialog baik kedalam diri kita (deliberasi) maupun keluar diri kita dalam bentuk diskusi. Keseimbangan antara deliberasi dan diskusi harus kita dorong sebagai upaya pertama menanggulangi negativism digital karena melalui keseimbangan keduanya upaya mengeser masyarakat menjadi lebih dangkal dalam pikir sedikit demi sedikit akan gagal.

Dan yang selanjutnya adalah penguatan literasi dan tindakan terhadap segala bentuk penyalahgunaan dunia digital dengan kolaborasi dari atas dan bawah yang berkelanjutan dan tidak terjebak pada seremonial semata, kasus-kasus disintegrasi senyap yang mengarah pada cyberbalkanisasi di tingkat sosial dan gejala matinya kepakaran di tingkat individual harus diatasi dengan program yang sistematis yang memetakan setiap peluang kesalahan untuk kemudian menindaknya secara tegas tanpa pandang bulu disamping juga harus menguatkan sisi intelektualitas lewat literasi digital dengan materi yang komprehensif, sistematis, dan teukur dampaknya.

Editor : Mohammad Mahpur