Jumat, Agustus 28, 2026
Beranda blog Halaman 21

Kelas Wanita Cerdas: Membahas Soal Seksualitas

0

Kampusdesa.or.id–Jumat (05/02), Bezaujati.id sebuah organisasi non-profit mengadakan kegiatan kelas wanita cerdas edisi keempat. Kali ini membahas seputar kesehatan reproduksi yang wajib diketahui wanita beserta permasalahannya. Kegiatan ini berlangsung ala webinar via google meet dengan pemateri: dr. Elza Amelia Firdaus, seorang dokter umum RSU dr. Suyudi Paciran Lamongan. Acara yang dimoderatori oleh Amanatul Mubtadiah, S.Si ini dimulai pada jam 19.00 WIB dengan peserta sebanyak 50-an orang, yang berlangsung sangat antusias.

Membahas kesehatan reproduksi baik kesehatan fisik, mental, dan sosial tentu berkaitan erat dengan fungsi, peran, dan sistem reproduksi. Dewasa ini, pengetahun tentang kesehatan reproduksi itu sangat penting, banyak sekali penyakit yang berasal dari gangguan reproduksi dikarenakan misleading, serta tidak sedikit penderitanya berusia masih sangat muda.

Berdasarkan data dari WHO, 30% penderita HIV/AIDS berusia 15-25 tahun dan terdapat 4.500 penyakit menular seksual pra nikah dialami oleh 7.335 remaja. Selain itu, 500 juta remaja usia 14 – 25 tahun telah melakukan intercourse pada usia dibawah 15 tahun, 35% remaja hamil diluar nikah, dan 111 juta kasus PMS (Penyakit Menular Seksual) dialami oleh penderita di usia kurang dari 25 tahun.

Pada pembahasan topik ini, yang paling menarik adalah terkait Couple Psychology. 1) Early marital. Dalam pernikahan, seorang pengantin baru biasanya mempunyai ekspektasi pernikahan yang indah-indah saja. 2) Self Judgment. Karena bertemu dengan seseorang dengan sifat, kebiasaan, dan latar belakang keluarga yang berbeda, maka bisa merasa kaget karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Judgment akan muncul dan merasa memang kita tidak bisa sama karena kita tumbuh dilingkukan yang berbeda. 3) Tolerance. Toleransi akan muncul karena tahu reaksi yang berlebihan itu tidak baik. 4) Harmonization. Harmoni akan tumbuh pada satu tahun pernikahan setelah dihadapkan dengan perbedaan
pada 1-3 bulan pertama.

Di era serba instan, semua bisa diakses via online. Dalam seks yang kurang sehat, selain permasalahan fisik juga psikis. Salah satunya sejala cyber-sex addiction. Yakni lebih suka melihat konten sensual secara online daripada melakukan hubungan secara langsung, biasanya menyembunyikan rahasia dangan menghapus history, dan kurang menikmati “the real sex” karena imajinasinya tinggi terhadap seks. Cyber sex addiction ini sangat berbahaya dan bisa menurunkan keharmonisan karena istrinya tidak dihiraukan.

Bagaimana cara menyembuhkan gangguan cyber-sex? Permasalahan utama biasanya karena kurang aktivitas, jadi paling ampuh adalah melakukan kegiatan, alihkan ke hal-hal yang positif dan produktif. Perlu diingat kalau aktivitas ini dampaknya sangat serius baik bagi otak maupun
keharmonisan rumah tangga.

Selain itu, dalam sesi diskusi ada tiga pertanyaan yang mengarah kepada topik psikologi rumah tangga yang diangkat oleh peserta diskusi. Pertama mengenai mental disorder. Pemateri menyampaikan tidak secara langsung yang kasus kerecekon rumah tangga. Tapi banyak laki-laki yang bertanya bagaimana cara mengurangi ketagihan film porno, atau kartun misalnya sailor moon yg menyebabkan pedofil tinggi. Kebanyakan pasien seperti ini dari kalangan LGBT atau pasien pengidap penyakit gonorea.

Kedua, terkait indikasi sexual transmitting disease? Kalau suami sendiri mengalami itu dan tidak mau diajak kedokter, bagaimana caranya? Jawabbanya, belum tentu orang yang kencing nanah karena sering “jajan”, kita jangan terlalu agresif dan curiga, lebih baik dibawa ke tenaga medis dengan diomongkan baik-baik. Misalnya ada kondiloma (kutil di daerah vagina), apapun harus ditengahi dibawa ke medis. Tidak semua karena jajan di luar.

Terakhir, perihal cara untuk meraih quality sex? Dalam meraih seks yang berkualitas tentu dapat ditempuh dengan jalur komunikasi. Pentingnya diskusi dengan pasangan, karena setiap individu punya preferensi. Intinya harus ada komunikasi yang sifatnya terbuka. Karena banyak perempuan yang tidak mau ngomong di mana G-spot yang dia sukai atau posisi yang tidak nyaman. Semua harus berani dibicarakan dengan suami, jangan pada teman. Dan diusahakan presepsi klimaks keduanya itu jelas.

Pengetahuan berkaitan seksualitas, wanita khususnya akan terus seru untuk dibahas dan tidak perlu dianggap tabu jika itu memang perlu. Komunikasi yang baik dengan pasangan “halal” dan konsuotasi kepada dokter ahli adalah kunci tercapainya keluarga yang harmonis. Tidak jarang perceraian selain karena faktor ekonomi, juga dikarenakan tidak dapat memahami kebutuhan seksual pasangan.

Hendry: Fisikawan Eksperimental Bereputasi Internasional dari Ambon (1)

0

Hendry Izaac Elim adalah Fisikawan asal Ambon yang berhasil mencapai prestasi dan diakui partisipasinya secara internasional terutama dalam fisika eksperimen. Ketertarikan pada fisika eksperimen dimulai dari National University of Singapore. Dia menyukai fisika sejak SMP. Hendry membuat takjub Fisikawan Inggris, Nail Akhmediev, kok ada orang Indonesia begitu berminat pada gelombang soliton. Bahkan dia diakui oleh Akhmediev sebagai murid terbaiknya. Simak kisah sukses Hendry.

Kampusdesa.or.id — Sangat jarang fisikawan di Indonesia yang menguasai bidang nanosciences dengan kekhususan nanomaterial. Hendry Izaac Elim, SSi., MSi., PhD. adalah salah satu diantaranya. Fisikawan kelahiran Ambon, 22 Januari 1969 ini memiliki berjuta pengalaman riset bertaraf Internasional. Salah satunya adalah riset postdoctoral di IMRAM (Institute of Multidisciplinary Research for Advanced Materials), di Universitas Tohoku University, Katahira, Aobaku, Sendai, Jepang, dengan supervisor Prof. Okihiro Sugihara.

Uniknya, fisikawan pengagum Albert Einstein, Murray Gell-Mann, Richard Phillips Feynman dan Steven Tong, ini mengaku belum punya cita-cita pasti sejak kecil. Meskipun demikian, ia mengakui kalau masa kecilnya teramat bahagia.

“Pengetahuan tanpa faith itu buta, faith tanpa pengetahuan itu (juga) buta. Faith itu adalah rasio yang tunduk pada kebenaran.”

Hendry Izaac Elim, SSi., MSi., PhD., Experimental Physics in Nanosciences

“Masa kecil saya sangat bahagia. Saat kecil, saya suka bermain layang-layang, pernah berenang di sungai, mendaki gunung, bermain kelereng, gasing, petak umpet, bermain kartu domino, dan sebagainya. Saat remaja barulah saya aktif dengan mengikuti persekutuan remaja.”

Memang tak banyak yang tahu, kalau ilmuwan penyuka buku berbobot dan hobi mendengarkan musik (pop, jazz, slow-rock, classic) ini lancar membaca saat kelas 1 SD. Dengan rendah hati, dia mengakui bahwa saat itu diajari bapak kok nggak bisa-bisa. Bahkan hingga dimarahi bapak. Namun setelah melihat guru mengajar malah jadi bisa sendiri. Saat SD, Hendry mengakui paling menyukai pelajaran matematika. Ia mulai suka pelajaran fisika setelah SMP. “Ya, mulai SMP dan SMA saya punya kelompok belajar dan belajar fisika bersama teman-teman, tanpa guru.” tutur Hendry.

Baca juga:
Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (1)
Sang Begawan Hematologi, Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro Ph. D

Pengalaman SMA adalah yang paling berkesan. Hendry menjelaskan sewaktu kelas 3 di SMA 1 Ambon, ada teman yang suka bisnis. Nah, ia berlangganan nilai 100 karena sudah mendapatkan soal sekaligus penjelasannya dari teman.

Awal Kisah Menjadi Sarjana Fisikawan       

Memasuki dunia perkuliahan, Hendry bercerita kalau dirinya pernah merasakan kuliah selama 1 tahun di fakultas pertanian (hama dan penyakit tumbuhan) Universitas Pattimura, Ambon melalui jalur PMDK.

Nah, saat inilah, fisikawan yang punya semboyan “bergantung pada kasih Tuhan” ini merasakan kerasnya perjuangan hidup. Hendry bercerita, saat itu papa sudah tidak bekerja dan ibu berjualan barang-barang kelontong (seperti: jam tangan, sandal, sepatu, baju anak-anak dan dewasa), sementara adik-adiknya berjumlah lima orang. Di keluarganya, Hendry anak tertua. Dia enam bersaudara.

Beruntunglah saat itu ada CIDA (Canadian International Development Agency). CIDA adalah bentuk kerjasama antara pemerintah Canada dengan pemerintah Indonesia bagian timur, terutama dengan beragam universitas, seperti: Pattimura, Cendrawasih, Sam Ratulangi, dan beberapa universitas di Kendari. CIDA ingin mendirikan fakultas MIPA di universitas-universitas tersebut. Nah, yang pertama kali mengadakan kerjasama adalah universitas Pattimura.

“Waktu itu, puji Tuhan, IP saya tertinggi, sehingga dosen fisika saya merekomendasikan untuk melanjutkan studi Fisika di Fakultas MIPA UGM. Saya mulai belajar fisika di UGM mulai tahun 1989.

Lalu, apa sih yang membuat Hendry tertarik pada fisika? “Sebenarnya saya suka pada pelajaran fisika matematika. “Ceritanya begini, ketertarikan saya bermula dari saat mempelajari Pengantar Fisika Matematika, lalu berkembang menjadi fisika matematika 1-4 yang dipelajari dari semester 3 hingga 7.”

Kecintaan itu berlanjut pada mata kuliah kalkulus 2. “Dosennya saat itu, (kalau nggak salah) bernama Sri Wahyuni atau Sriningsih, emmm saya agak lupa…. Tapi yang pasti, lumayan cantik sih, he he he….”

Kecintaan Hendry pada dunia fisika tentunya berbeda dengan kisah cintanya pada Susanviani Yapiawan, istrinya. Ia menuturkan kepada Kampus Desa Indonesia pertama kali bertemu istrinya itu di ITB Bandung. Saat itu, ia sedang studi S2 fisika teori di ITB.

Ia bertemu istri di grup pipit English Programme saat mengisi bahasa Inggris di radio Maestro pada September tahun 1997. Kalau ditanya hal apa yang paling ia sukai dari sang Istri, ayah dari Deniel Ezekiel ini mengakui kalau ia menyukai betisnya yang indah. Saat mengetahui bahwa bidadari pujaan hatinya itu terampil bermain piano, maka rasa cintanya pun semakin bertambah.

Rahasia Sukses, Belajar dari Fisikawan UGM

Pria penggila film-film action buatan Hollywood ini menceritakan kalau rajin dan suka baca buku yang berbobot adalah kiatnya untuk sukses.

“Saya suka habiskan uang beasiswa saya untuk memfotokopi buku-buku text-book luar negeri yang bermutu tinggi. Sayangnya saat itu belum ada ebooks. Saya mulai kenal internet saat S2. Ada banyak jurnal-jurnal online di bidang fisika di situs arXiv.org yang berpusat di Los Alamos, USA. Mulai dari fisika komputasi, fisika nuklir, fisika modern, fisika biologi, fisika biofisik, dan hampir semua jurnal ada.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.”

“Kita bisa publish jurnal secara gratis dan suka sharing ilmu. Fisikawan itu suka berbagi-bagi ilmu dan tidak suka menyimpan ilmu.” tuturnya kepada Kampus Desa Indonesia.

Beliau ini jenius, dia hafal semua rumus-rumus fisika dan matematika di luar kepala. Dia tahu konsep dasarnya. Jadi, kita harus tahu darimana asal rumus itu. Nah, ini kunci di dalam belajar fisika. Jadi bukan menghafalkan rumus.”

Fisika itu bukan menghafalkan rumus, kita harus tahu darimana asalnya. Sehingga bisa menurunkan dengan mudah dan bisa mengembangkannya.

Nah, yang paling rumit di fisika adalah mekanika kuantum. Karena berisi fisika matematika yang rumit sebagai tool untuk menyelesaikan berbagai persoalan fisisnya. Misalnya: pada tumbuhan ada klorofil. Bagaimana klorofil itu menyerap dan menyimpan energi foton dari sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi, seperti sistem solar cells. Ini ilustrasi cara berpikir fisikawan. Jelaslah bahwa semua problematika di alam ini tidak dapat dilepaskan dari fisis.

Singapura: Surganya Soliton, Awal Mendalami Fisika di NUS

Setelah S2 di ITB, Hendry melanjutkan studi ke NUS (National University of Singapore) Singapore. Ia mempublikasikan riset-risetnya saat studi S2 di situs arXiv.org. Rupanya Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Hendry. Saat itu, kebetulan ada profesor bernama Dr. Nail Akhmediev, ahli non-linear optics yang berhubungan dengan teori Soliton. Soliton itu gelombang yang biasa dipakai didalam berkomunikasi, yang merambat di serat optik.

Gelombang ini merambat namun amplitudonya tidak pernah mengecil. Ketika berinteraksi dengan sesamanya, gelombang ini tidak berubah. Gelombang soliton ini pertama kali ditemukan di pinggir pantai, saat Russel melihat gelombang laut di salah satu pantai di Inggris.

Dr. Nail Akhmediev tertarik dan berkirim email ke saya. Beliau kaget kok ada orang Indonesia yang tertarik belajar gelombang Soliton. Hendry berkomunikasi ke supervisor di ITB bernama Prof. Dr. Freddy P. Zen. Prof Freddy adalah fisikawan teori di ITB. Beliau merekomendasikan dan mengatakan ke Dr. Nail Akhmediev kalau Hendry adalah salah satu murid terbaiknya.

Ketika itu, Prof. Dr. Freddy P. Zen sedang memiliki proyek kerjasama dengan Prof. Dr. Edy Soewono (ahli matematika di ITB). Dengan dana riset Prof. Dr. Edy Soewono, Dr. Nail Akhmediev diundang untuk presentasi ilmiah selama tiga hari di ITB. Selama tiga hari guest lecture tentang Soliton di ITB, Hendry diminta oleh Prof. DR. Freddy P. Zen dan Prof. Dr. Edy Soewono untuk menemani Dr. Nail Akhmediev. “Nah, saat itu saya ikut hadir, padahal yang kebanyakan hadir adalah fisikawan dan profesor di bidang fisika teori,” ujar Hendry.

Segera setelah mendapatkan informasi adanya NUS research scholarship di Singapura, Hendry secepatnya memutuskan apply secara online di warnet.

“Saya memang belum tahu apa itu NUS (National University of Singapore). Untuk apply saya meminta rekomendasi dari Prof. Dr. Freddy P. Zen dan Prof. Dr. Nail Akhmediev, padahal mereka berdua sedang melakukan riset di ANU (Australian National University) di Canberra.”

“Akhirnya sebulan saya ditelepon untuk interview. Kebetulan sedang berada di Surabaya. Sebulan kemudian diberitahu via email kalau diterima. Saat itu, saya baru menyadari bahwa saya adalah satu-satunya dari Indonesia yang diterima di physics department sebagai post graduate student di NUS.”

“Karir saya di bidang fisika eksperimen baru dimulai di NUS ini. Saya baru mulai belajar dan mengetahui laser yang canggih (seperti nano second laser, femto second laser, dan berbagai continuous wave laser). Saya kebetulan satu-satunya student yang melakukan riset di laboratorium milik Profesor Ji Wei, ahli di bidang non-linear optics of nanomaterials.” cerita Hendry kepada Kampus Desa Indonesia.

Sekadar diketahui, nano second laser dan femto second laser adalah pulse laser dengan energi tinggi. Maksudnya, nano second laser adalah pulse laser dengan 10 pangkat (-9) second, sedangkan femto second laser adalah pulse laser dengan 10 pangkat (-15) second).

Lebih lanjut, Hendry menjelaskan, kalau partikel-partikel nano ini saling menempel satu sama lain (aggregation). Dalam aplikasinya, aggregation ini tidak terlalu bermanfaat. Karena menimbulkan high-scattering atau high-absorption. Untuk menghindari hal ini, kita menshakingnya dengan gelombang ultrasonic di dalam solvent (larutan). Karena partikel-partikel ini lengketnya sangat kuat, kita memakai microparticles bernama beads-milling technique. Diaduk, sehingga microparticles ini “memukul” aggregation dari nanopartikel, sehingga menghancurkan aggregation. Tujuannya adalah untuk membuat nanohybrid particles with high transparency and high refractive index. Ini untuk membuat optical switching pada alat-alat telekomunikasi. Nah, kalau riset yang ini saya lakukan ketika berada di Universitas Tohoku, Sendai Jepang.

Selepas dari Singapura, Hendry berpetualang ke Jepang. Ia bahkan tak pernah mengira, kalau gempa akan menjadi “sahabatnya”. (bersambung).

Ikuti berbagai artikel dan profil keren di laman Dokter Rakyat Kampus Desa Indonesia yang ditulis oleh dr. Dito Anurogo, M. Sc

Perempuan Seharusnya Bisa Keluar dari Budaya Patriarki

0

Budaya patriarki, yakni budaya yang mengunggulkan laki-laki masih menyisakan beragam kisah tentang perempuan yang masih dipinggirkan atau mengalami marginalisasi. Tak terasa perempuan juga ikut melanggengkan budaya patriarki tersebut. Ketidakadilan terhadap perempuan akhirnya tetap mendapat legitimasi atas nama kuasa laki-laki.

Kampusdesa.or.id–Saya saksikan dan saya “niteni” memang “iya” , perempuan kadangkala tidak sadar bahwa dia telah melemahkan dirinya sendiri dan kaumnya.

Di tempat kerja dan lingkungan sosial masih ada perempuan terperangkap dalam perundungan. Perundungnya perempuan dan laki-laki.

Perempuan yang melejit prestasi kerjanya, ada saja tekanan dari atas agar perempuan tersebut tidak banyak diberdayakan di bidang lain. Dibuatlah framing bahwa perempuan tersebut tidak patuh aturan organisasi, instansi atau komunitas. Perempuan lainnya tidak kuasa membela atau bahkan merasa kebetulan temannya tidak diberdayakan. Entahlah.

Perempuan masih merelakan lisannya menggunjing sesama perempuan tentang perilaku kerjanya dan perilaku hidupnya. Perempuan masih memandang dan berujar sinis ke perempuan lainnya ketika ia kalah bagus prestasinya. Perempuan yang semestinya saling mengapresiasi tetapi terjebak dalam sentimen antar-pribadi.

Ada pula hanya sekedar ingin mengungkapkan rasa tidak nyaman melihat perilaku perempuan, gunjingan pun dilancarkan. Nyata-nyata disampaikan di ruang terbuka dengan kesan merendahkan pun juga ada. Ini dengan sesama perempuan. Ini seperti realitas konflik yang menjadikan hubungan antar-perempuan tidak saling mendukung proses keberdayaan. Padahal situasi saling mengapresiasi keberdayaan sesama perempuan akan membantu proses bahu membahu melawan marginalisasi.

Seharusnya perempuan berprestasi yang ditekan oleh upaya marginalisasi kepentingan tertentu layak dibela. Perlakukan perempuan tersebut sebagai wakil kelompok perempuan yang mewakili kesuksesan bersama. Ia bisa menjadi sumber belajar, mengisnpirasi, memberi contoh, dan tempat berkonsultasi sesuai bidang yang digeluti bersama. Tapi, nyatanya kaum perempuan kurang greget menuju ke sana.

Baca juga: Pelajaran Hidup Dari Kerelawanan di Chow Kit

Jika ada perilaku kerjanya atau perilaku hidupnya tidak tepat, tentunya semakin mempererat kebersamaan jika diingatkan dengan suasana kebersamaan. Lebih bijak dan lebih cerdas dari menggunjing dan merundung bukan?

Perempuan kadangkala juga melemahkan dirinya sendiri dengan malas menambah wawasan. Kurang wawasan akan menjadi bahan olok-olok lagi. Kurang pengetahuan menyebabkan perempuan tidak tahu dirinya diperlakukan tidak semestinya. Seperti apa pelabelan, marginalisasi, dan budaya patriarki dalam ujaran dan perilaku mereka tidak tahu. Jika demikian, justru dari perempuan, budaya #patriarki dibudidayakan.

Perempuan Melawan Marginalisasi

Kerap kali perempuan ikut pula melanggengkan pelabelan yang tak menguntungkan. Mengadvokasi dirinya tapi tak tepat.

“Maklum peran multitasking, jadi tidak fokus, suka lupa.” Yang tak punya peran multitasking juga bisa lupa, pernah tak fokus jugakan?

Baca juga: Perempuan Mandiri Itu Tidak Melulu Sibuk di Ranah Publik

Perempuan juga menyetujui budaya patriarki berlangsung di lingkungannya dengan memilih pemimpin tidak melihat kinerjanya, tapi karena jenis kelaminnya. Akhirnya meski tidak kompetens tetapi karena jenis kelaminnya laki-laki, itu yang lebih dikedepankan.

Perempuan yang kerjanya “cekat-ceket” atau energik, dan cepat tuntas banyak juga.

Astatik Bestari

Iyo, enak wong lanang sing mimpin, cekat ceket“. Perempuan yang kerjanya “cekat-ceket” atau energik, dan cepat tuntas banyak juga. Mereka yang berani menjadi pemimpin sudah memiliki keahlian itu, dan terbukti.

Gara-gara budaya patriarki inilah perempuan diajak meminggirkan / memarginalisasi kaumnya sendiri sedemikian tidak menyadarinya. Perempuan yang berpotensi lebih baik kinerjanya dari laki-laki diupayakan tidak diberdayakan di bidang lain, terkendala naik jabatan dengan dalih “pantes wong lanang sing njabat” Anehnya perempuan yang lain tidak berkutik untuk memperjuangkan.

Baca juga: Perempuan di Balik Sekolah Rakyat dan Wisata Desa Petung Ulung Nganjuk

Nah, ilmu pengetahuan sepertinya yang mampu menolong perempuan agar bisa menjaga dirinya sendiri, memperjuangkan kaumnya, berbuat dan berkarya lebih banyak untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Pemberdayaan perempuan melalui peningkatan pencapaian kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dapat menyadarkan perempuan dan memberi kesempatan bagi perjuangan mereka.

Oleh karena itu, janganlah perempuan terperangkap dalam budaya patriarki dan justru rame-rame mengamininya. Lebih menarik jika perempuan juga turut menyadari proses saling berdaya adalah kekuatan bersama bagi setiap perempuan untuk selalu bergotong royong dalam melawan budaya patriarki dengan cara penuh kerja keras, dan tentunya berdiri di atas prestasi.

Baca artikel lain dari Astatik Bestari di laman Kamipus Desa Indonesia

Kuliner Iwak Kali, Sensasi Lezat Menu Desa

0

Menu kuliner iwak kali, alias ikan sungai menjadi idaman bagi orang-orang desa, bahkan orang kota sekalipun. Ikan yang gurih, lezat, dan organik menjadi khas. Ikan ini menjadi sensasi lezat menu desa. Apalagi disantap sehabis hujan-hujanan.


Kampusdesa.or.id — Menu ini banyak dicari di beberapa sudut kota dan desa. Iwak kali (baca: ikan sungai) adalah jenis ikan yang dicari di sungai-sungai dangkal. Iwak kali dapat dicari dengan teknik memancing, menjala, gogo, atau bahkan dengan cara yang agak konyol, dengan racun ikan dan strum aki. Iwak kali menjadi menu lezat andalan banyak orang. Biasanya iwak kali ini lebih murah dan mudah didapat disaat musim penghujan.

Sensasi lezat menu iwak kali dapat dimasak jika waktu hujan. Apalagi kalau setelah bermain hujan-hujanan, saya dulu kerap dimasakkan ibu saya dengan menu iwak kali. Apalagi setelah waktu bermain hujan-hujan, wuih, kita bisa mendapatkan sensasi lezat saat makan.

Baca juga: Gelas Dan Teko Bambu

Menu desa yang lezat ini sekarang naik popularitasnya. Apalagi sekarang sudah menjadi trend kuliner masa kini yang banyak diburu pecinta kuliner. Kami pun sekeluarga juga berusaha memburunya. Warung iwak kali kami buru saat berada di Jombang. Alasan berburu iwak kali tidak lain karena sensasi rasanya menjadi pengingat kami sebagai menu desa yang ngangeni.

Kali ini iwak kali yang kami buru ada di desa Banjarsari, Kec. Bandar, Kabupaten Jombang. Tempatnya lumayan berjarak dengan jalur provinsi. Arah menuju warung iwak kali dapat anda temput dari jalur provinsi di titik jalan Perak, Kab. Jombang. Jika dari arah Kertosono, Anda akan mengambil jalur setelah buk miring. Jika dari arah Surabaya, berarti sebelum buk miring Anda harus bertanya untuk mengambil arah ke kanan, atau ke utara.

Arah Warung Kuliner Iwak Kali
Anda bisa mencari jalur dari jem7batan miring (baca:buk miring) Perak, ke arah timur, kira-kira seratus meter. Silahkan anda bertanya menuju arah Banjarsari. Arah utara. Kira-kira 2 kilometer, anda akan sampai ke makam umum Banjarsari. Nah, tempat warung iwak kali ada di belakang (sebelah barat makam). Masuklah di selatan pagar makam tersebut.

Baca juga: Sambal Bledeg Mbak Atik

Jangan khawatir, meski di dekat makam, tempat ini ramah dan nyaman karena berada juga di pinggir sawah. Sembari menikmati sensasi lezat menu desa, kita dapat memanjakan mata dengan pemandangan pematang sawah. Angin sumilir menerpa warung dan menambah sensasi lezat saat menyantap iwak kali.

Menu Desa yang Kami Pesan


Warung iwak kali bu Yanti adalah brand khas orang desa. Kami pesan iwak wader dan mujair. Ada beberapa menu yang kami ketahui antara lain;

  • Iwak wader
  • Iwak mujair
  • Iwak kuthuk/gabus
  • Pecel madiun
  • Lodeh, dan lain sebagainya.

Adapun menu sambelnya ada berapa racikan;

  • Sambel trasi
  • Sayur kangkung
  • Timun
  • Irisan terong mentah
  • Tahu

Pokoknya muanjur lezat. Sayang waktu kami memesan tingkat kepedasannya, amat sangat kurang pedas. Ceritanya begini. Ada seorang teman kami yang tidak suka pedas. Kami bilang kepada peracik sambelnya, yang satu lomboknya tiga saja. Eh, ternyata semua sambalnya diberi lombok tiga. Kami yang suka pedas pun menjadi agak kecewa bro.

Tapi karena kami juga lapar, kami pun tidak memedulikan seberapa sambel pedas yang kurang pedas menurut lidah kami masing-masing. Yang penting menu ikan wadernya terasa renyah dan gurih. Sungguh menambah kelezatan pada setiap puluk-an nasi yang kami rahap di mulut. Suasana mendung menambah suhu di dekat sawat itu sangat pas sehingga tidak menambah gerah saat menyantap sensai lezat menu desa, iwak wader.

Harga Menu Warung Iwak Kali
Harga yang kami bayar untuk menu mujair dan ikan wader kira-kira menghabiskan uang sebesar Rp. 125.000,- dengan 5 porsi, termasuk harga minumnya. Diperkirakan harga setiap porsi plus minum Rp. 25.000,-. Ini perkiraan maksimalnya karena saya tidak bertanya secara detil masing-masing harga. Ya, maklum kami makan ditraktik oleh seorang teman.

Apakah Anda menyukai kuliner dengan menu desa dengan beragam ikan sungai yang lebih organik. Silahkan mampir di warung iwak kali di seputaran Perak, Jombang. Utamanya Anda yang melintasi jalur tersebut.

Woke. Itu saja deh. Bagi anda yang suka kuliner, silahkan menuju tempat kuliner yang menunya sambel deso. Kuliner yang layak dicoba bagi anda yang sedang perjalanan dan kebetulan melintasi jalur Perak, Kabupaten Jombang.

Kunjungi juga tulisan kritis dan inspiratif dari Mohammad Mahpur di Kampus Desa Indonesia.

Manajemen Fakir, Kiat Sukses dalam Keterbatasan

0

Manajemen fakir menekankan pada kesederhanaan. Untuk sukses dalam berusaha, tidak perlu memaksa dengan modal besar, apalagi harus berhutang. Asalkan memiliki daya juang dengan tekun dan sabar, seorang yang ingin sukses dapat memanfaatkan sumber daya dirinya untuk mengembangkan cita-cita suksesnya. Pengalaman ini dapat dirangkum dalam suatu episode bersepeda dengan bekal seadanya, tetapi tetap bisa mencapai tujuan suksesnya.

Kampusdesa.or.id–Saya mikir agak bingung. Fakir itu lebih beruntung dari miskin. Fakir dianggap orang yang serba terbatas dalam memenuhi sandang, pangan, dan papan alias tidak cukup untuk dikatakan sebagai kebutuhan yang sederhana. Fakir dianggap punya sesuatu tapi selalu mearasa kekurangan. Sedangkan miskin adalah seseorang yang blas ra duwe opo-opo. Lalu hubungannya dengan manajemen fakir di mana manajemen semestinya surplus kaya.

Begini ceritanya. Baru saja seorang survival jalanan berkunjung ke rumah. Sehari sebelumnya dia mengontak saya melalui whatsapp. “Pak Mahpur,  ada di rumah? Saya pinging silaturrahmi.” Saya tak langsung menjawab. Maklum, nomer tersebut tak bernama karena saya tak menyimpannya. Saya jawab, “ya. Ada. Silahkan.” Semoga saja memang saya tidak ada jadwal mendadak. Di pikiran saya sudah terpatok akan ada tamu datang. Tapi sampai malam belum juga ada yang datang. “Sudahlah, paling tidak jadi.” Saya mulai membebaskan pikiran saya dari kedatangan seseorang.

Waktupun berjalan hingga memasuki hari berikutnya. Nada dering Mahabarataku terdengar sangat pagi. “Assalamu’alaikum Pak. Ada di rumahkah sekarang. Saya sampai di rumah Bapak 3 jam lagi. Saya sudah di Batu.” Suara dibalik telpon pintar kemudian lenyap setelah saya jawab, “iya saya tidak kemana-mana.” Saya pun melanjutkan memainkan jempol melihat pesan whatsapp. Eh, dia tadi mengirim pesan tetapi belum sempat saya baca. Saya jawab pesan whatsapp tersebut, “loh….”

Dia kirim gambar dengan sepeda gunung dan sejumlah bekal. Saya agak terkejut. Dia tinggal di Kediri dan membawa sepeda gunung. Wah, saya kira dia memang pecinta bersepeda. Ya sudahlah, pikir saya. Setelah sampai di depan rumah, saya persilahkan masuk dan dia langsung peregangan dan berseloroh, “aduh pak, saya rebahan di lantai dan lesehan saja. Ternyata juga lumayan. Aduh.” Dia menunjukkan gerak dan kalimat capek setelah melalui medan naik turun gunung.

Dia pun kemudian mencoba menghibur diri sebagai cara mindfullnes. “Tidak masalah pak, ini saya berniat untuk menggunakan manajemen fakir. Saya nikmati saja deh. Bagaimana saat menanjak, memang penuh perjuangan. Apalagi medan yang dilalui melalui jalur Ngantang, Pujon, Batu. Menuju puncak ini memang butuh perjuangan di kaki. Setelah tanjakan selesai, lalu jalur turun seperti lega banget. Saya coba merasakannya dan baru bisa bersyukur luar biasa ketika setelah track menanjak dan kemudian turun, rasanya penuh kebahagiaan. Saya ini sedang menerapkan latihan manajemen fakir pak.”

Baca juga: Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja

Kata-kata manajemen fakir itu selalu diulang-ulang sampai saya kemudian bertanya, “apa to yang kamu maksud manajemen fakir.” Dia menyahut, “ya kita berjalan saja ke tujuan kita. Membawa uang seadanya, bahkan bekal pun seadanya. Entah apa yang terjadi di perjalanan, kita akan selesaikan di perjalanan tersebut. Kalau capek, ya nanti istirahat di mana saja. Bisa di mushola, tempat istirahat di sekitar rute, di rumah penduduk setempat, atau kalau kita punya teman, dia bisa menjadi satu diantara pilihan singgah untuk istirahat.”

Semua serba seadanya. Itu yang disebut dengan manajemen fakir

Semua serba seadanya. Itu yang disebut dengan manajemen fakir yang disampaikan oleh tamu saya. Nah, bagaimana penjelasan dan implikasi terhadap manajemen itu. Padahal manajemen diperuntukkan untuk tujuan yang mendatangkan keuntungan, tetapi ini malah membuat percobaan latihan menjadi seorang fakir. Waduh, bikin bertolak belakang dan kontroversial banget.

Manajemen fakir itu saya dengar dan dikisahkan dari beberapa orang yang menjalani laku ruhani, laku kadigdayan,  para peziarah, atau orang-orang yang punya niat perjalanan keliling wilayah dengan semangat tertentu. Saya beberapa kali mendengar model tirakat sepertinya, khusus bagi sejumlah teman yang menjalani riyadhoh (latihan ilmu ruhani). Ada yang tirakatnya berjalan kaki tanpa membawa bekal. Mereka harus bisa bertahan hidup di sepanjang perjalanan. Tanpa bekal adalah syarat yang harus dipenuhi karena di sinilah salah satu ujiannya. Dalam serba keterbatasan, mereka harus berani berjalan untuk mencapai tujuan tirakat.

Mulailah Usaha Dengan Kekuatan Sendiri

Kalau orang dengan pikiran rasional, jelas tidak akan sanggup. Tapi beberapa pelaku tirakat tanpa bekal ini banyak sekali yang sanggup bertahan hidup dan mencapai tujuan tirakat. Mereka akan mengandalkan kebaikan orang lain. Singgah menginap dimanapun. Bisa di mushola, masjid, rumah penduduk, atau bahkan di gardu pos kampling. Semua serba mungkin. Soal makan, mereka akan juga tergantung pada kepedulian orang di sepanjang perjalanan. Bahkan, ada yang mencari sisa-sisa makanan di pasar. Semua dianggap mungkin agar bisa makan. Ada juga yang ekstrem memiliki pantangan minta makan ke seseorang. Mereka hanya menerima kalau diberi.

Baca juga: Bisnis Gagasan, Tak Harus Kampusnya Bergedung

Nah, para pengelana tersebut ternyata tidak juga kelaparan. Banyak sekali orang peduli memberi makan, memberi persinggahan, memberi tumpangan, bahkan menerima persaudaraan. Meski juga ada yang mengalami cobaan. Apa artinya? Dalam merintis usaha, memulai dengan yang sederhana adalah jalan untu belajar melampaui keterbatasan. Pasti bisa. Tidak perlu berhutang demi obsesi bisnis besar dengan hutang besar karena kita belum terbiasa menghadapi uang yang besar.

Jalan terjal atau menanjak itu perlu kita jalani, saatnya mendapatkan jalan mulus dan turun, wuih rasanya plong, bisa bersyukur bagaimana antara usaha keras dan hasil bisa dirasakan betul.

Sebagaimana dikatakan oleh tamu saya tadi, jalan terjal atau menanjak itu perlu kita jalani, saatnya mendapatkan jalan mulus dan turun, wuih rasanya plong, bisa bersyukur bagaimana antara usaha keras dan hasil bisa dirasakan betul. Jika jalan ini dilalui, maka pebisnis pemula akan lebih tahu jalan terjal sehingga tidak gegabah. Mereka akan mampu belajar bisnis dari pernik, pernik kecil dulu. Dirasakan, dihitung, dan disisakan labanya untuk dikembangkan perlahan-lahan. Inilah usaha yang dilakukan dengan kekuatan sendiri.

Memahami Peluang dan Keberuntungan

Ada hikmah lagi dari perjalanan tersebut yakni orang yang bepergian dengan manajemen fakir ditopang oleh kepercayaan dan kepasrahan diri. Itu modal penting. Tanpa percaya dan kebiasaan pasrah, yang ada keraguan, rasionalisasi, dan pesimis. Bagi orang yang terbiasa hidup dalam perhitungan, bepergian hanya dengan modal pas-pasan, jelas tidak masuk akal. Makan perlu biaya, minum, dan kebutuhan lainnya jelas membutuhkan biaya.

Baca juga: Ngece Pahlawan Devisa

Tetapi bagi mereka yang tekadnya bulat, bepergian tanpa bekal ini toh bisa dijalani dengan baik. Selalu ada saja orang yang bisa disinggahi, peduli, dan mau berbagi membantu. Kepercayaan dan kepasrahan serta optimis menjadikan mereka terbuka bahwa dalam setiap perjalanan selalu ditemukan peluang, bahkan keberuntungan diri. Berdasarkan manajemen fakir, keterbatasan membutuhkan kepercayaan dan kepasrahan. Dua hal ini memancarkan energi peluang dan keberuntungan pada saat proses usaha kita dipenuhi dengan optimisme.

Kepercayaan dan kepasrahan serta optimis menjadikan mereka terbuka bahwa dalam setiap perjalanan selalu ditemukan peluang, bahkan keberuntungan diri.

Oleh karena itu, keterbatasan yang diliputi oleh kepercayaan, kepasrahan, dan optimisme akan menemukan jalan lahirnya peluang dan keberuntungan. Latihan manajemen fakir ini membelajari seseorang untuk berani menjalani usaha meski masih tidak punya modal besar. Dalam prosesnya, pelaku usaha akan belajar menemukan peluang dan nilai  keberuntungan. Ini sangat penting karena minim kerugian karena memang dimulai dari modal juang dulu ketimbang modal uang. Ini menjadi ketrampilan membangun mentalitas untuk setia dan tekun menjalani proses.

Ini akan berbeda dengan para sarjana yang biasanya meminta gaji besar saat lulus kuliah, atau pekerja yang sebentar kerja sudah loyo dan segera pingin pindak kerja lantaran ingin posisi enak. Manajemen fakir mendasari bahwa mentalitas perlu diuji dalam situasi penderitaan yang waktunya tidak singkat. Jika dilalui denga syukur dan sabar, akan lahir peluang dan keuntungan.

Manajemen fakir mendasari bahwa mentalitas perlu diuji dalam situasi penderitaan yang waktunya tidak singkat. Jika dilalui denga syukur dan sabar, akan lahir peluang dan keuntungan.

Silaturahim dan Teknik Berjejaring

Silaturrahim akan menambah rizki. Ini sebatas mitos hadits atau dapat ditemukan faktanya. Bagi si pengelana tadi, dia bersemangat untuk menjalin silaturahim, termasuk ke saya. Di sini kami mendiskusikan pekerjaan, peluang, dan jaringan. Kisah saling dipertukarkan. Informasi saling diberikan. Dia datangi koleganya dengan latar profesi berbeda. Dari sini melahirkan kesempatan baru. Ternyata si pengelana ini juga orang yang dekat dengan saya yang sedang mengembangkan pendidikan di Kediri. Saya sarankan dia bisa join. Ternyata sebagian kenalan saya pun terhubung dengan dia.

Jadi, silaturahim yang baik dapat menjadi potensi bertukar profesi, mencari sumber tambahan dengan bertukar barang dagangan, atau saling merekomendasikan peluang dari banyak sisi.

Nah, ini dapat melahirkan jaringan dan jika ditindaklanjuti maka akan menjadi kesempatan baru. Peluang ini tentu bisa mendatangkan rizki jika diambil untuk mengembangkan profesinya. Jadi, silaturahim yang baik dapat menjadi potensi bertukar profesi, mencari sumber tambahan dengan bertukar barang dagangan, atau saling merekomendasikan peluang dari banyak sisi. Bisa juga model paling sederhana, yakni sebatas berbagi cerita sukses dan cerita hikmah lainnya, akan membantu seseorang memutar refleksi kesadaran tentang keberadaan.

Di level ini pun proses saling berefleksi akan menambah kualitas pemaknaan diri menjadi lebih aktual, mampu mengenali kebaikan diri, dan dapat menumbuhkan optimisme dalam membangun proses kehidupan diri. Ini dapat menjadi sarana mindfullnes, yakni kemampuan menyadari setiap proses kehidupan menjadi lebih nyata, berkualitas, dan dapat mereproduksi mental positif yang menyehatkan emosi serta pikiran manusia.

Lihat juga video: [Live] PSIKOLOGI KITA | KUALITAS KEHIDUPAN : PETA KESADARAN – YouTube

Dalam perjalanan seperti ini, karena bekal pas-pasan, pelaku pasti melepaskan ego. Dia harus ramah, bahkan dia akan singgah di manapun. Karenanya, jiwa silaturrahim perlu hadir. Dia mau tidak mau membutuhkan persinggahan agar dia diberkahi kemurahan hati orang lain. Dia pun perlu mengubah mindset di sepanjang perjalanan dan menjalin silaturahim dengan siapapun untuk mendatangkan kebaikan untuk selalu bisa menyesuaikan diri dan diterima orang lain. Tanpa ini semua, tirakat bepergian dengan bekal seadanya, niscaya para pejalan ini akan terhambat survival-nya, dan berbagai kebutuhan dirinya jelas akan lebih sulit dipenuhi. Inilah sifat yang penting bagi manajemen fakir.

Dan begitulah kira-kira kesimpulan refleksi saya setelah tamu saya yang bersepeda dari Kediri ke Malang. Turut senang saya menjadi bagian dari tujuan tersebut. Semoga perjalanan yang sudah dilalui sekarang dapat menjadi resolusi di tahun 2021. Semangat untuk inspirasinya, Saifuddin Zuhri.

Bagaimana yang lain, mau mencoba?

Menggali Potensi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal, Bagaimana Memulainya?

0

Kampusdesa.or.id–Lamongan (22/01), Diaspora Muda Lamongan mengadakan kegiatan seminar daring (Webinar) Vol. 13. Situasi pandemi Covid-19 tidak menyulut semangat pemuda Lamongan dalam diskusi kepariwisataan bersama Miftach Alamudin, S. Ap. (Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan) dengan topik “Menggali Potensi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal. Bagaimana Memulainya?”.

Acara yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Meeting ini dimoderatori oleh Auliya Niswatul F. pengurus Divisi Kajian Strategis Diaspora Muda Lamongan. Acara dibuka dan diawali dengan sambutan dari Abdul Jalil, ketua umum Diaspora Muda Lamongan. Dalam sambutannya ia mengapresiasi pemateri dan peserta yang hadir dalam kegiatan webinar mengenai pariwisata. Pria yang akrab disapa Abil ini juga memberikan motivasi kepada teman-teman muda pentingnya berinovasi dan membuat terobosan terbaru, sebagai peran pemuda dalam membangun daerah untuk mendukung berbagai sektor di tanah kelahirannya.

Masuk ke materi, Pak Udin menyampaikan bahwa sektor pariwisata Kabupaten Lamongan kekurangannya cuma satu, kurangnya inovasi dan promosi sehingga hal ini yang menyebabkan sektor pariwisata kita masih lemah. Beliau mengatakan sangat membutuhkan aspirasi dan inovasi serta ide-ide kreatif dari para pemuda untuk mempromosikan pariwisata yang ada di Kabupaten Lamongan. Saat ini data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hanya mengelola dua objek wisata di Lamongan yakni wisata Waduk Gondang dan Makam Sunan Drajat.

Beliau juga menjelaskan bahwa tidak dipungkiri Lamongan ini masih kurang daya saingnya jika dibandingkan dengan kota atau kabupaten sekitar. Hal ini disebabkan karena kurangnya promosi dan budaya masyarakat lamongan yang suka “Grudak-Gruduk” sehingga kalo ada tempat wisata baru hanya ramai di awal saja, orang-orang hanya mengunjungi karena penasaran, setelahnya kemudian bisa ditinggalkan begitu saja. Kurangnya inovasi membuat tempat-tempat wisata mulai ditinggalkan atau kehilangan daya tariknya.

Pak Udin juga mengatakan bahwa Lamongan ini sebetulnya memiliki potensi pariwisata dan kebudayaan atau kearifan lokal sangat kuat. Pak Udin juga mengatakan bahwa Lamongan ini sebetulnya memiliki potensi pariwisata dan kebudayaan atau kearifan lokal sangat kuat dan hal itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Seperti tradisi Pengantin Bekasri, Tari Boran, Situs Candi dan potensi-potensi pariwisata yang ada di desa-desa itu bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Pada sesi tanya jawab ada pertanyaan dari Faiq Rusdi tentang bagaimana cara mengelola cagar budaya yang termasuk situs sejarah sebagai tempat pariwisata. Menurut Pak Udin sebagai pihak pemerintah daerah, beliau mengatakan bahwa saat ini yang menjadi pilot project Dinas Pariwisata dan Kebudayaan adalah melestarikan situs cagar budaya dengan mengangkat Candi Pataan sebagai cagar budaya warisan. Candi Pataan dikembangkan sebagai pariwisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Dalam hal pihak Balai Pelestari Cagar Budaya yang memiliki wewenang untuk meneliti dan melestarikan.

Selanjutnya terkait wisata yg ada di desa, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setiap tahunnya melaksanakan pembinaan dengan kelompok sadar wisata. Bagi desa yang ingin mengembangkan pariwisatanya itu tidak serta merta dibiarkan begitu saja namun ada tindak lanjutnya dari pemerintah daerah dengan dibentuknya kelompok tersebut. Jadi kelompok ini terbentuk sebelum desa pariwisata ada. Kelompok sadar wisata ini akan mendapat fasilitas pelatihan, promosi dan lain sebagainya. Adanya desa pariwisata terealisasi karena adanya good will dari pemerintahan desa setempat bukan atas inisiatif atau paksaan dari pemerintah daerah.

Jika melihat kondisi hari ini, digitalisasi segala sektor yang sudah masif sehingga syarat akan persaingan Kabupaten Lamongan memang lemah dan kalah dari segi pemanfaatan sosial media. Menurut Pak Udin mulai sekarang akan memanfaatkan perang sosial media untuk sosialisasi dan promosi segala sektor utamanya pariwisata yang ada di Kabupaten Lamongan.

Beliau mengharapkan dengan sangat peran pemuda untuk membangun inovasi dan meminta kepada para pemuda untuk menjadi influencer pengembangan pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Lamongan. Pemerintah daerah setempat membutuhkan inovator-inovator muda
atau sentuhan tangan dingin anak muda untuk membantu meningkatkan kemajuan Kabupaten Lamongan.

Lebih lanjut Pak Udin juga menjelaskan jika ingin membangun wisata di desa maka perlu dilihat dari berbagai sisi, tidak hanya melihat potensi tempatnya yang Instagramable. Misal dari segi aksesibilitasnya atau jalan menuju lokasi wisatanya seperti apa. Perlu dilakukan analisa terlebih
dahulu sehingga tidak hanya ikut-ikutan trend mendirikan wisata di desa. Beliau mengatakan bahwa potensi pariwisata di desa itu tidak bisa diciptakan sama, pasti berbeda-beda potensinya.

Sebelum sesi diskusi berakhir Pak Udin memberikan closing statement yang sangat menarik untuk di simak bahwa webinar ini semoga tidak hanya menjadi ajang ngobrol atau diskusi tetapi bisa menghasilkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mana relaisasi dan aksi nyatanya sangat
ditunggu oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan.

Interaksionisme Simbolik; Antara Lonte dan Merdeka Belajar

0
METODE PENELITIAN KUALITATIF ITU BANYAK MACAMNYA, SALAH SATUNYA ADALAH INTERAKSIONISME SIMBOLIK. BERIKUT PETIKAN YANG MENJADI KATA KUNCI DARI MAKNA INTERAKSIONISME SIMBOLIK. DI SINI METODE INI DIUMPAMAKAN, MENGAPA NIKITA MIRZANI YANG DIHUJAT SEBAGAI LONTE JUSTRU MENDAPAT SIMPATISAN DARIPADA PEMBELA IMAM BESAR? BERIKUT REVIEW BUKU YANG TERSAJI BERIKUT INI.

Kampusdesa.or.id–Bertemu lagi dengan buku baru ya. Ini tentang metodologi penelitian dalam psikologi dan pendidikan.

Ok. Saya mulai dari kisah tentang, lonte lo. Kata yang terlontar oleh seorang pembela imam besar sempat santer beberapa waktu lalu. Kata yang menyerang sosok artis ternama di negeri ini, Nikita Mirzani. Si Nikita Mirzani waktu itu seperti menjadi sosok anti-kemapanan yang menjadi wacana tanding sosok imam besar. Dia menceburkan diri sebagai simbol amoral vis a vis moralis ala imam besar. Tapi amoralnya Nikita Mirzani yang boleh jadi seronok, justru menjadi simbol antitesis moralitas imam besar. Bahkan Nikita Mirzani justru menjadi sosok yang mampu mereduksi moralitas imam besar. Dia banyak dukungan dan simpatisan.

Sudut pandang seseorang akan berbeda dalam membuat makna dan menentukan perilaku. Mana mungkin sosok yang dilontekan justru mendapat simpatisan. Yah, karena lonte ditempatkan sebagai sudut pandang perlawanan dan pemihakan, sementara simbol agama yang semestinya mendapat pujian, justru diserang habis²an. Nah, simbol akan berbeda maknanya jika carapandangnya berbeda.

Ok. Itu kasus pertama untuk mencoba memahami konteks buku ini.

Saat di bangku sekolah dan kuliah, pernahkah Anda berebut menghindari tempat duduk terdepan. Duduk di depan penuh resiko. Jadi sasaran tunjuk guru dan dosen. Kalau ngantuk pasti kelihatan duluan. Duduk di depan berarti murid atau mahasiswa itu umumnya yang pintar-pintar. Meskipun tidak pintar amat, mereka biasanya teman-teman yang memiliki disiplin yang lebih baik.

Kalau saya, selalu menghindari duduk di depan selama di bangku-bangku sekolah. Heee…

Baca juga Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Nah, guru perlu tahu itu. Guru perlu memahami bagaimana siswa menandai simbolis dirinya. Kalau dia pintar atau disiplin, dia akan mengambil tempat di depan, lebih dekat dengan gurunya. Penyimbolan ini menunjukkan jika si murid memiliki semangat yang kuat untuk berkomunikasi secara baik dengan gurunya. Bagi yang sengaja memilih duduk di belakang, boleh jadi dia mengambil jarak, dan memaknai dirinya sebagai simbol murid yang menghindari guru, agar tidak ketahuan jikalau belum mengerjakan PR, minimal tidak serta-merta menjadi obyek pandang utama. Duduk di belakang menyimbolkan kondisi dan keinginan tertentu bagi si murid.

Ketika kita ingin memahami relasi belajar yang merdeka, maka simbol-simbol guru dan muridlah yang perlu dipahami dan diciptakan dengan makna yang merdeka, baru merdeka belajar dapat diwujudkan,

Relasi guru murid selalu berebut simbol itu. Oleh karenanya, ketika kita ingin memahami relasi belajar yang merdeka, maka simbol-simbol guru dan muridlah yang perlu dipahami dan diciptakan dengan makna yang merdeka, baru merdeka belajar dapat diwujudkan, tetapi jika tidak maka proses belajar akan lebih searah dan tetap membelenggu relasi merdeka itu sendiri.

Untuk memahami makna berbagai simbol, khususnya dalam proses pendidikan sehingga tercipta perilaku yang produktif, setidaknya para guru perlu memahami cara kerja interaksionisme simbolik. Ada tiga hal mendasar yang perlu dipahami, yakni,

Pertama, interaksi. Hubungan guru murid sangat ditentukan oleh konsep simbol dari masing-masing orang. Jika guru menyimbolkan dirinya sebagai ororitas tunggal, maka selamanya guru akan menjadi penguasa kelas. Apalagi jika murid sudah terjebak sebagai sosok yang memaknai simbol diri dalam kepatuhan sub-ordinat, selamnya murid juga akan cenderung patuh atas kebenaran tunggal guru. Di sini, guru bisa menjadi momok dalam setiap proses belajar.

Baca juga Tak Seiman, Tapi Sejalan; Perjalanan Psikologis Gusdurian

Sebaliknya, jika guru dan murid berhubungan setara untuk saling mengisi, maka proses belajar akan berjalan dengan simbol saling melengkapi tujuan. Nah, perubahan penting dalam proses merdeka belajar dapat dicapai pada bagaimana simbol-simbol hubungan itu juga dikonsepsikan oleh guru dan murid dalam kerangka posisi yang menciptakan kemerdekaan? Tentu ini sangat penting mengubah simbol diri jika ingin menciptakan model merdeka belajar.

Kedua, makna. Interaksi menentukan makna. Jika interaksi terjadi antara guru dan murid dalam budaya subordinasi, maka posisi searah memiliki peran dalam proses pemahaman guru-murid. Jika makna terbentuk sub-ordinat, maka proses belajar pun akan timpang. Pengandaian ini memberikan pengakuan keberadaan yang tidak seimbang sehingga akan selalu melahirkan sudut pandang yang kontraproduktif, kecuali seorang murid memang menyukai cara seperti ini, maka semakin baik gurunya, maka semakin patuh muridnya, akan mencapai ekspektasi gurunya. Makna ini akan melahirkan anak-anak yang pandai secara akademik. Tentu ini akan bertolak-belakang dengan makna merdeka belajar. Merdeka belajar akan muncul ketika makna utama dibangun oleh murid, tentunya dengan model interaksi yang mendahulukan konsepsi makna dari murid yang lebih dikedepankan.

Baca juga: Siswa Radikal, Fenomena Survey atau Tamparan Pada Guru

Ketiga, perilaku. Makna adalah sudut pandang dari model interaksi yang dibangun seseorang. Jika lonte dimaknai sebagai sudut pandang perlawanan, maka konsep lonte adalah simbol tentang keberanian sosok seperti Nikita Mirzani untuk menyodok relasi kontraproduktif yang dihadirkan pembela imam besar sebagai sosok yang perlu dikendalikan dan dijinakkan. Begitu juga perilaku merdeka belajar, jika relasi masih sub-ordinat dan murid sebagai anak dengan disiplin atas-nama kepatuhan, maka merdeka belajar akan sulit melahirkan kemerdekaan konsep tentang otonomi siswa. Merdeka belajar berarti adalah perilakunya juga merdeka. Artinya, sekumpulan siswa akan memiliki karya yang beragam karena keragaman otonomi dalam berinterasi, membuat makna dan bertindak.

Kehadiran orang lain selalu dipandang dari sisi realitas simbolik dibalik setiap penampakan seseorang. Di situlah makna dibentuk dan perilaku tertentu akan muncul dalam konteks tranformasi simbol-simbol yang ada.

So, buku ini memberi dasar filosofi bagaimana memahami cara kerja interaksionisme simbolik. Buku ini memberikan dasar filosofi interaksi seseorang sudah sejak lama dipikir oleh para filosof sebagai dasar didalam memahami orang lain. Kehadiran orang lain selalu dipandang dari sisi realitas simbolik dibalik setiap penampakan seseorang. Di situlah makna dibentuk dan perilaku tertentu akan muncul dalam konteks tranformasi simbol-simbol yang ada.

Baca juga : Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Pun, buku ini juga secara metodologis dapat digunakan sebagai teknik membongkar relasi dengan menguak simbol-simbol dibalik layar yang ditampakkan seseorang. Sebagaimana lagunya Akhmad Albar,

“Dunia ini, panggung sandiwara.”

Buku ini sangat baik dipelajari oleh guru, agar dapat menguak aneka simbol yang selama ini menjadi mitos dalam dunia pendidikan. Dengan memahami aneka simbol, seorang guru akan tahu apa semestinya yang dibutuhkan untuk merenovasi rumah pembelajaran mereka. Bahkan, jika merdeka belajar adalah makna baru dalam dunia pembelajaran, cara pandang itu hanya bisa dijadikan sebagai paradigma baru dalam pendidikan, manakala para guru bisa meriset perubahan mindset baru tentang kebutuhan simbol-simbol baru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tanpa itu, mustahil merdeka belajar dijadikan sebagai habitus baru dalam pendidikan.

Milikilah buku ini, untuk berbodong-bondong mengubah simbol demi menginovasi cara baru pendidikan kita? Anda bisa belajar memahami relasi simbolik (interaksionisme simbolik) dengan belajar melakukan penelitian di kelas menggunakan panduan buku ini.

Buku Interaksionisme simbolik ini dapat dibeli secara online di Intrans Publishing.

12 Ciri Anak dengan Autism yang Wajib Anda Ketahui

1

Anggapan negatif masih sering disematkan kepada anak dengan autism. Anggapan tersebut muncul lantaran minimnya pemahaman terhadap ciri-ciri autism. Setali tiga uang, penanganan kerap terlambat juga disebabkan oleh hal ini. Pengenalan terhadap ciri autism sedini mungkin sangat dibutuhkan, supaya anak tidak mengalami keterlambatan tumbuh kembang.

Kampusdesa.or.id-Mengenali ciri-ciri autism menjadi salah satu subtema yang dibahas oleh Tri Gunadi dalam webinar (website seminar) yang diprakarsai oleh Asah Pena. Tri Gunadi merupakan dosen vokasi di Universitas Indonesia, konsultan program anak berkebutuhan khusus, yang juga menjadi CEO Yamet Child Development Center dan Yamet School.  Pemaparannya yang runtut dan jelas, disampaikan dengan menarik, dapat dengan mudah dipahami.

“Anak autis merupakan anak yang senang dengan kesendirian atau cuek, sehingga tidak peduli dengan lingkungannya”

Webinar dimulai dengan perkenalan diri, dilanjutkan dengan mendefinisikan yang dimaksud dengan autism. Istilah ini berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan isme yang berarti aliran atau senang. Anak autis merupakan anak yang senang dengan kesendirian atau cuek, sehingga tidak peduli dengan lingkungannya. Jadi, Autis berarti gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan gangguan komunikasi dan sosialisasi anak terganggu sebelum berusia 3 tahun.

Autis bukanlah penyakit, maka tidak selayaknya disebut “penderita autis”, sebut saja “anak dengan autis”. Maka, sebaiknya tidak bertanya “Kapan anak saya akan sembuh?”. Tetapi, gantilah dengan kalimat tanya “Kapan anak saya mampu mengejar ketertinggalan perkembangannya?”

Baca Juga:

Salah Persepsi Tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Stereotip Salah Kaprah terhadap Orang Tua ABK

Perkembangan anak autis sendiri ada dua macam. Pertama, anak sudah tampak ciri-ciri autistiknya setelah dia lahir. Kedua, anak berkembang normal hingga usia 2-3 tahun, lalu mulai muncul ciri-ciri autistiknya. Bila tanda-tanda autistiknya sudah tampak sejak bayi, jangan menunggu sampai anak berusia usia 3 tahun. Karena, semakin dini ditangani semakin cepat pula gangguan perkembangannya diatasi.

Menurut Tri Gunadi, ciri-ciri ASD meliputi; pertama, anak tidak ada atau minim dalam hal kontak mata. Ciri sangat umum yang menandai anak dengan autisme. Kedua, tidak mampu berkomunikasi dua arah. Anak mungkin bisa berbicara, tetapi tidak digunakan untuk berkomunikasi, tidak merespon saat ditanya dan sebagainya. Ketiga, tidak mau kontak dengan orang lain. Anak biasanya tidak mau dipeluk, tidak mau digandeng, tidak mau bonding meski dengan orang tuanya sendiri.

Ciri yang keempat adalah tidak bermain sebagaimana mestinya. Misalnya mobil-mobilan tidak dijalankan sebagaimana biasanya, namun dibalik dan diputar-putar rodanya. Ciri berikutnya, anak tiba-tiba tertawa pada situasi yang tidak tepat. Misalnya tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Ciri keenam, komunikasi yang dilakukan anak bukan bahasa verbal. Bila anak membutuhkan bantuan, dia akan menarik tangan orang lain dan mengarahkan pada benda yang diinginkanya. Ciri ketujuh, anak tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain, bahkan dengan teman yang sebaya dengannya. Tidak mengerti peraturan dalam permainan berkelompok.

Baca Juga:

Ini Lima Sikap Orangtua yang Menentukan Tumbuhkembang Anak Autisnya

Ciri selanjutnya, anak mengulang-ulang kata tertentu. Alih-alih menjawab pertanyaan, dia justru mengulangi pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Fenomena seperti ini disebut membeo atau ekolalia. Ciri kesembilan, anak hanya mau bergabung dengan kelompok bila didesak atau didorong. Dia lebih suka menyendiri dan asyik dengan dunianya sendiri.

Ciri khas lain dari ASD adalah kesukaannya pada benda yang berputar atau senang memutar benda. Dia bisa lekat dengan benda berputar seperti kipas angin, roda, dan sejenisnya. Anak dengan ASD yang hiperaktif bisa berhenti dan fokus saat melihat benda yang berputar, meski tidak semua anak autis mempunyai ciri ini.

Tambahan lagi, anak autis mempunyai ciri kemauan tetap. Semisal, tidak mau ganti pakaian kesukaannya. Dia juga rigid atau kaku. Kebiasaan lainnya adalah suka menjejer benda. Mainan tidak digunakan sesuai fungsinya, tetapi hanya dijejer-jejer saja. Selain itu dia benci dengan perubahan. Misalnya ada guru yang tidak hadir karena sakit, dia akan marah bahkan tantrum karena adanya perubahan jadwal kegiatan pembelajaran.

Ciri terakhir dari ASD adalah adanya pengucapan kata berulang dan itu-itu saja, baik itu kata yang mengandung arti ataupun kata yang tidak mengandung arti. Kata yang diucapkan kadang kedengaran aneh sehingga banyak yang menyebutnya sebagai ‘bahasa planet’. Tak jarang juga mengucapkan kata-kata jorok berulang-ulang tanpa sanggup untuk mengontrolnya.

Bila anak Anda memiliki ciri-ciri di atas, maka jangan menunggu berkonsultasi dengan ahli tumbuh kembang anak. Semakin cepat Anda mengetahui dan semakin cepat anak ditangani, ketertinggalannya diharapkan akan cepat terkejar. Sering kali kejadian, ada orang tua menundanya karena mendengarkan komentar orang-orang yang tidak berkompeten dalam bidang tumbuh kembang anak. Akibatnya anak dengan autism tersebut menjadi terlambat dan sulit mengejar ketertinggalannya.