Senin, Mei 4, 2026
Beranda blog Halaman 21

Perempuan Seharusnya Bisa Keluar dari Budaya Patriarki

0

Budaya patriarki, yakni budaya yang mengunggulkan laki-laki masih menyisakan beragam kisah tentang perempuan yang masih dipinggirkan atau mengalami marginalisasi. Tak terasa perempuan juga ikut melanggengkan budaya patriarki tersebut. Ketidakadilan terhadap perempuan akhirnya tetap mendapat legitimasi atas nama kuasa laki-laki.

Kampusdesa.or.id–Saya saksikan dan saya “niteni” memang “iya” , perempuan kadangkala tidak sadar bahwa dia telah melemahkan dirinya sendiri dan kaumnya.

Di tempat kerja dan lingkungan sosial masih ada perempuan terperangkap dalam perundungan. Perundungnya perempuan dan laki-laki.

Perempuan yang melejit prestasi kerjanya, ada saja tekanan dari atas agar perempuan tersebut tidak banyak diberdayakan di bidang lain. Dibuatlah framing bahwa perempuan tersebut tidak patuh aturan organisasi, instansi atau komunitas. Perempuan lainnya tidak kuasa membela atau bahkan merasa kebetulan temannya tidak diberdayakan. Entahlah.

Perempuan masih merelakan lisannya menggunjing sesama perempuan tentang perilaku kerjanya dan perilaku hidupnya. Perempuan masih memandang dan berujar sinis ke perempuan lainnya ketika ia kalah bagus prestasinya. Perempuan yang semestinya saling mengapresiasi tetapi terjebak dalam sentimen antar-pribadi.

Ada pula hanya sekedar ingin mengungkapkan rasa tidak nyaman melihat perilaku perempuan, gunjingan pun dilancarkan. Nyata-nyata disampaikan di ruang terbuka dengan kesan merendahkan pun juga ada. Ini dengan sesama perempuan. Ini seperti realitas konflik yang menjadikan hubungan antar-perempuan tidak saling mendukung proses keberdayaan. Padahal situasi saling mengapresiasi keberdayaan sesama perempuan akan membantu proses bahu membahu melawan marginalisasi.

Seharusnya perempuan berprestasi yang ditekan oleh upaya marginalisasi kepentingan tertentu layak dibela. Perlakukan perempuan tersebut sebagai wakil kelompok perempuan yang mewakili kesuksesan bersama. Ia bisa menjadi sumber belajar, mengisnpirasi, memberi contoh, dan tempat berkonsultasi sesuai bidang yang digeluti bersama. Tapi, nyatanya kaum perempuan kurang greget menuju ke sana.

Baca juga: Pelajaran Hidup Dari Kerelawanan di Chow Kit

Jika ada perilaku kerjanya atau perilaku hidupnya tidak tepat, tentunya semakin mempererat kebersamaan jika diingatkan dengan suasana kebersamaan. Lebih bijak dan lebih cerdas dari menggunjing dan merundung bukan?

Perempuan kadangkala juga melemahkan dirinya sendiri dengan malas menambah wawasan. Kurang wawasan akan menjadi bahan olok-olok lagi. Kurang pengetahuan menyebabkan perempuan tidak tahu dirinya diperlakukan tidak semestinya. Seperti apa pelabelan, marginalisasi, dan budaya patriarki dalam ujaran dan perilaku mereka tidak tahu. Jika demikian, justru dari perempuan, budaya #patriarki dibudidayakan.

Perempuan Melawan Marginalisasi

Kerap kali perempuan ikut pula melanggengkan pelabelan yang tak menguntungkan. Mengadvokasi dirinya tapi tak tepat.

“Maklum peran multitasking, jadi tidak fokus, suka lupa.” Yang tak punya peran multitasking juga bisa lupa, pernah tak fokus jugakan?

Baca juga: Perempuan Mandiri Itu Tidak Melulu Sibuk di Ranah Publik

Perempuan juga menyetujui budaya patriarki berlangsung di lingkungannya dengan memilih pemimpin tidak melihat kinerjanya, tapi karena jenis kelaminnya. Akhirnya meski tidak kompetens tetapi karena jenis kelaminnya laki-laki, itu yang lebih dikedepankan.

Perempuan yang kerjanya “cekat-ceket” atau energik, dan cepat tuntas banyak juga.

Astatik Bestari

Iyo, enak wong lanang sing mimpin, cekat ceket“. Perempuan yang kerjanya “cekat-ceket” atau energik, dan cepat tuntas banyak juga. Mereka yang berani menjadi pemimpin sudah memiliki keahlian itu, dan terbukti.

Gara-gara budaya patriarki inilah perempuan diajak meminggirkan / memarginalisasi kaumnya sendiri sedemikian tidak menyadarinya. Perempuan yang berpotensi lebih baik kinerjanya dari laki-laki diupayakan tidak diberdayakan di bidang lain, terkendala naik jabatan dengan dalih “pantes wong lanang sing njabat” Anehnya perempuan yang lain tidak berkutik untuk memperjuangkan.

Baca juga: Perempuan di Balik Sekolah Rakyat dan Wisata Desa Petung Ulung Nganjuk

Nah, ilmu pengetahuan sepertinya yang mampu menolong perempuan agar bisa menjaga dirinya sendiri, memperjuangkan kaumnya, berbuat dan berkarya lebih banyak untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Pemberdayaan perempuan melalui peningkatan pencapaian kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dapat menyadarkan perempuan dan memberi kesempatan bagi perjuangan mereka.

Oleh karena itu, janganlah perempuan terperangkap dalam budaya patriarki dan justru rame-rame mengamininya. Lebih menarik jika perempuan juga turut menyadari proses saling berdaya adalah kekuatan bersama bagi setiap perempuan untuk selalu bergotong royong dalam melawan budaya patriarki dengan cara penuh kerja keras, dan tentunya berdiri di atas prestasi.

Baca artikel lain dari Astatik Bestari di laman Kamipus Desa Indonesia

Kuliner Iwak Kali, Sensasi Lezat Menu Desa

0

Menu kuliner iwak kali, alias ikan sungai menjadi idaman bagi orang-orang desa, bahkan orang kota sekalipun. Ikan yang gurih, lezat, dan organik menjadi khas. Ikan ini menjadi sensasi lezat menu desa. Apalagi disantap sehabis hujan-hujanan.


Kampusdesa.or.id — Menu ini banyak dicari di beberapa sudut kota dan desa. Iwak kali (baca: ikan sungai) adalah jenis ikan yang dicari di sungai-sungai dangkal. Iwak kali dapat dicari dengan teknik memancing, menjala, gogo, atau bahkan dengan cara yang agak konyol, dengan racun ikan dan strum aki. Iwak kali menjadi menu lezat andalan banyak orang. Biasanya iwak kali ini lebih murah dan mudah didapat disaat musim penghujan.

Sensasi lezat menu iwak kali dapat dimasak jika waktu hujan. Apalagi kalau setelah bermain hujan-hujanan, saya dulu kerap dimasakkan ibu saya dengan menu iwak kali. Apalagi setelah waktu bermain hujan-hujan, wuih, kita bisa mendapatkan sensasi lezat saat makan.

Baca juga: Gelas Dan Teko Bambu

Menu desa yang lezat ini sekarang naik popularitasnya. Apalagi sekarang sudah menjadi trend kuliner masa kini yang banyak diburu pecinta kuliner. Kami pun sekeluarga juga berusaha memburunya. Warung iwak kali kami buru saat berada di Jombang. Alasan berburu iwak kali tidak lain karena sensasi rasanya menjadi pengingat kami sebagai menu desa yang ngangeni.

Kali ini iwak kali yang kami buru ada di desa Banjarsari, Kec. Bandar, Kabupaten Jombang. Tempatnya lumayan berjarak dengan jalur provinsi. Arah menuju warung iwak kali dapat anda temput dari jalur provinsi di titik jalan Perak, Kab. Jombang. Jika dari arah Kertosono, Anda akan mengambil jalur setelah buk miring. Jika dari arah Surabaya, berarti sebelum buk miring Anda harus bertanya untuk mengambil arah ke kanan, atau ke utara.

Arah Warung Kuliner Iwak Kali
Anda bisa mencari jalur dari jem7batan miring (baca:buk miring) Perak, ke arah timur, kira-kira seratus meter. Silahkan anda bertanya menuju arah Banjarsari. Arah utara. Kira-kira 2 kilometer, anda akan sampai ke makam umum Banjarsari. Nah, tempat warung iwak kali ada di belakang (sebelah barat makam). Masuklah di selatan pagar makam tersebut.

Baca juga: Sambal Bledeg Mbak Atik

Jangan khawatir, meski di dekat makam, tempat ini ramah dan nyaman karena berada juga di pinggir sawah. Sembari menikmati sensasi lezat menu desa, kita dapat memanjakan mata dengan pemandangan pematang sawah. Angin sumilir menerpa warung dan menambah sensasi lezat saat menyantap iwak kali.

Menu Desa yang Kami Pesan


Warung iwak kali bu Yanti adalah brand khas orang desa. Kami pesan iwak wader dan mujair. Ada beberapa menu yang kami ketahui antara lain;

  • Iwak wader
  • Iwak mujair
  • Iwak kuthuk/gabus
  • Pecel madiun
  • Lodeh, dan lain sebagainya.

Adapun menu sambelnya ada berapa racikan;

  • Sambel trasi
  • Sayur kangkung
  • Timun
  • Irisan terong mentah
  • Tahu

Pokoknya muanjur lezat. Sayang waktu kami memesan tingkat kepedasannya, amat sangat kurang pedas. Ceritanya begini. Ada seorang teman kami yang tidak suka pedas. Kami bilang kepada peracik sambelnya, yang satu lomboknya tiga saja. Eh, ternyata semua sambalnya diberi lombok tiga. Kami yang suka pedas pun menjadi agak kecewa bro.

Tapi karena kami juga lapar, kami pun tidak memedulikan seberapa sambel pedas yang kurang pedas menurut lidah kami masing-masing. Yang penting menu ikan wadernya terasa renyah dan gurih. Sungguh menambah kelezatan pada setiap puluk-an nasi yang kami rahap di mulut. Suasana mendung menambah suhu di dekat sawat itu sangat pas sehingga tidak menambah gerah saat menyantap sensai lezat menu desa, iwak wader.

Harga Menu Warung Iwak Kali
Harga yang kami bayar untuk menu mujair dan ikan wader kira-kira menghabiskan uang sebesar Rp. 125.000,- dengan 5 porsi, termasuk harga minumnya. Diperkirakan harga setiap porsi plus minum Rp. 25.000,-. Ini perkiraan maksimalnya karena saya tidak bertanya secara detil masing-masing harga. Ya, maklum kami makan ditraktik oleh seorang teman.

Apakah Anda menyukai kuliner dengan menu desa dengan beragam ikan sungai yang lebih organik. Silahkan mampir di warung iwak kali di seputaran Perak, Jombang. Utamanya Anda yang melintasi jalur tersebut.

Woke. Itu saja deh. Bagi anda yang suka kuliner, silahkan menuju tempat kuliner yang menunya sambel deso. Kuliner yang layak dicoba bagi anda yang sedang perjalanan dan kebetulan melintasi jalur Perak, Kabupaten Jombang.

Kunjungi juga tulisan kritis dan inspiratif dari Mohammad Mahpur di Kampus Desa Indonesia.

Manajemen Fakir, Kiat Sukses dalam Keterbatasan

0

Manajemen fakir menekankan pada kesederhanaan. Untuk sukses dalam berusaha, tidak perlu memaksa dengan modal besar, apalagi harus berhutang. Asalkan memiliki daya juang dengan tekun dan sabar, seorang yang ingin sukses dapat memanfaatkan sumber daya dirinya untuk mengembangkan cita-cita suksesnya. Pengalaman ini dapat dirangkum dalam suatu episode bersepeda dengan bekal seadanya, tetapi tetap bisa mencapai tujuan suksesnya.

Kampusdesa.or.id–Saya mikir agak bingung. Fakir itu lebih beruntung dari miskin. Fakir dianggap orang yang serba terbatas dalam memenuhi sandang, pangan, dan papan alias tidak cukup untuk dikatakan sebagai kebutuhan yang sederhana. Fakir dianggap punya sesuatu tapi selalu mearasa kekurangan. Sedangkan miskin adalah seseorang yang blas ra duwe opo-opo. Lalu hubungannya dengan manajemen fakir di mana manajemen semestinya surplus kaya.

Begini ceritanya. Baru saja seorang survival jalanan berkunjung ke rumah. Sehari sebelumnya dia mengontak saya melalui whatsapp. “Pak Mahpur,  ada di rumah? Saya pinging silaturrahmi.” Saya tak langsung menjawab. Maklum, nomer tersebut tak bernama karena saya tak menyimpannya. Saya jawab, “ya. Ada. Silahkan.” Semoga saja memang saya tidak ada jadwal mendadak. Di pikiran saya sudah terpatok akan ada tamu datang. Tapi sampai malam belum juga ada yang datang. “Sudahlah, paling tidak jadi.” Saya mulai membebaskan pikiran saya dari kedatangan seseorang.

Waktupun berjalan hingga memasuki hari berikutnya. Nada dering Mahabarataku terdengar sangat pagi. “Assalamu’alaikum Pak. Ada di rumahkah sekarang. Saya sampai di rumah Bapak 3 jam lagi. Saya sudah di Batu.” Suara dibalik telpon pintar kemudian lenyap setelah saya jawab, “iya saya tidak kemana-mana.” Saya pun melanjutkan memainkan jempol melihat pesan whatsapp. Eh, dia tadi mengirim pesan tetapi belum sempat saya baca. Saya jawab pesan whatsapp tersebut, “loh….”

Dia kirim gambar dengan sepeda gunung dan sejumlah bekal. Saya agak terkejut. Dia tinggal di Kediri dan membawa sepeda gunung. Wah, saya kira dia memang pecinta bersepeda. Ya sudahlah, pikir saya. Setelah sampai di depan rumah, saya persilahkan masuk dan dia langsung peregangan dan berseloroh, “aduh pak, saya rebahan di lantai dan lesehan saja. Ternyata juga lumayan. Aduh.” Dia menunjukkan gerak dan kalimat capek setelah melalui medan naik turun gunung.

Dia pun kemudian mencoba menghibur diri sebagai cara mindfullnes. “Tidak masalah pak, ini saya berniat untuk menggunakan manajemen fakir. Saya nikmati saja deh. Bagaimana saat menanjak, memang penuh perjuangan. Apalagi medan yang dilalui melalui jalur Ngantang, Pujon, Batu. Menuju puncak ini memang butuh perjuangan di kaki. Setelah tanjakan selesai, lalu jalur turun seperti lega banget. Saya coba merasakannya dan baru bisa bersyukur luar biasa ketika setelah track menanjak dan kemudian turun, rasanya penuh kebahagiaan. Saya ini sedang menerapkan latihan manajemen fakir pak.”

Baca juga: Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja

Kata-kata manajemen fakir itu selalu diulang-ulang sampai saya kemudian bertanya, “apa to yang kamu maksud manajemen fakir.” Dia menyahut, “ya kita berjalan saja ke tujuan kita. Membawa uang seadanya, bahkan bekal pun seadanya. Entah apa yang terjadi di perjalanan, kita akan selesaikan di perjalanan tersebut. Kalau capek, ya nanti istirahat di mana saja. Bisa di mushola, tempat istirahat di sekitar rute, di rumah penduduk setempat, atau kalau kita punya teman, dia bisa menjadi satu diantara pilihan singgah untuk istirahat.”

Semua serba seadanya. Itu yang disebut dengan manajemen fakir

Semua serba seadanya. Itu yang disebut dengan manajemen fakir yang disampaikan oleh tamu saya. Nah, bagaimana penjelasan dan implikasi terhadap manajemen itu. Padahal manajemen diperuntukkan untuk tujuan yang mendatangkan keuntungan, tetapi ini malah membuat percobaan latihan menjadi seorang fakir. Waduh, bikin bertolak belakang dan kontroversial banget.

Manajemen fakir itu saya dengar dan dikisahkan dari beberapa orang yang menjalani laku ruhani, laku kadigdayan,  para peziarah, atau orang-orang yang punya niat perjalanan keliling wilayah dengan semangat tertentu. Saya beberapa kali mendengar model tirakat sepertinya, khusus bagi sejumlah teman yang menjalani riyadhoh (latihan ilmu ruhani). Ada yang tirakatnya berjalan kaki tanpa membawa bekal. Mereka harus bisa bertahan hidup di sepanjang perjalanan. Tanpa bekal adalah syarat yang harus dipenuhi karena di sinilah salah satu ujiannya. Dalam serba keterbatasan, mereka harus berani berjalan untuk mencapai tujuan tirakat.

Mulailah Usaha Dengan Kekuatan Sendiri

Kalau orang dengan pikiran rasional, jelas tidak akan sanggup. Tapi beberapa pelaku tirakat tanpa bekal ini banyak sekali yang sanggup bertahan hidup dan mencapai tujuan tirakat. Mereka akan mengandalkan kebaikan orang lain. Singgah menginap dimanapun. Bisa di mushola, masjid, rumah penduduk, atau bahkan di gardu pos kampling. Semua serba mungkin. Soal makan, mereka akan juga tergantung pada kepedulian orang di sepanjang perjalanan. Bahkan, ada yang mencari sisa-sisa makanan di pasar. Semua dianggap mungkin agar bisa makan. Ada juga yang ekstrem memiliki pantangan minta makan ke seseorang. Mereka hanya menerima kalau diberi.

Baca juga: Bisnis Gagasan, Tak Harus Kampusnya Bergedung

Nah, para pengelana tersebut ternyata tidak juga kelaparan. Banyak sekali orang peduli memberi makan, memberi persinggahan, memberi tumpangan, bahkan menerima persaudaraan. Meski juga ada yang mengalami cobaan. Apa artinya? Dalam merintis usaha, memulai dengan yang sederhana adalah jalan untu belajar melampaui keterbatasan. Pasti bisa. Tidak perlu berhutang demi obsesi bisnis besar dengan hutang besar karena kita belum terbiasa menghadapi uang yang besar.

Jalan terjal atau menanjak itu perlu kita jalani, saatnya mendapatkan jalan mulus dan turun, wuih rasanya plong, bisa bersyukur bagaimana antara usaha keras dan hasil bisa dirasakan betul.

Sebagaimana dikatakan oleh tamu saya tadi, jalan terjal atau menanjak itu perlu kita jalani, saatnya mendapatkan jalan mulus dan turun, wuih rasanya plong, bisa bersyukur bagaimana antara usaha keras dan hasil bisa dirasakan betul. Jika jalan ini dilalui, maka pebisnis pemula akan lebih tahu jalan terjal sehingga tidak gegabah. Mereka akan mampu belajar bisnis dari pernik, pernik kecil dulu. Dirasakan, dihitung, dan disisakan labanya untuk dikembangkan perlahan-lahan. Inilah usaha yang dilakukan dengan kekuatan sendiri.

Memahami Peluang dan Keberuntungan

Ada hikmah lagi dari perjalanan tersebut yakni orang yang bepergian dengan manajemen fakir ditopang oleh kepercayaan dan kepasrahan diri. Itu modal penting. Tanpa percaya dan kebiasaan pasrah, yang ada keraguan, rasionalisasi, dan pesimis. Bagi orang yang terbiasa hidup dalam perhitungan, bepergian hanya dengan modal pas-pasan, jelas tidak masuk akal. Makan perlu biaya, minum, dan kebutuhan lainnya jelas membutuhkan biaya.

Baca juga: Ngece Pahlawan Devisa

Tetapi bagi mereka yang tekadnya bulat, bepergian tanpa bekal ini toh bisa dijalani dengan baik. Selalu ada saja orang yang bisa disinggahi, peduli, dan mau berbagi membantu. Kepercayaan dan kepasrahan serta optimis menjadikan mereka terbuka bahwa dalam setiap perjalanan selalu ditemukan peluang, bahkan keberuntungan diri. Berdasarkan manajemen fakir, keterbatasan membutuhkan kepercayaan dan kepasrahan. Dua hal ini memancarkan energi peluang dan keberuntungan pada saat proses usaha kita dipenuhi dengan optimisme.

Kepercayaan dan kepasrahan serta optimis menjadikan mereka terbuka bahwa dalam setiap perjalanan selalu ditemukan peluang, bahkan keberuntungan diri.

Oleh karena itu, keterbatasan yang diliputi oleh kepercayaan, kepasrahan, dan optimisme akan menemukan jalan lahirnya peluang dan keberuntungan. Latihan manajemen fakir ini membelajari seseorang untuk berani menjalani usaha meski masih tidak punya modal besar. Dalam prosesnya, pelaku usaha akan belajar menemukan peluang dan nilai  keberuntungan. Ini sangat penting karena minim kerugian karena memang dimulai dari modal juang dulu ketimbang modal uang. Ini menjadi ketrampilan membangun mentalitas untuk setia dan tekun menjalani proses.

Ini akan berbeda dengan para sarjana yang biasanya meminta gaji besar saat lulus kuliah, atau pekerja yang sebentar kerja sudah loyo dan segera pingin pindak kerja lantaran ingin posisi enak. Manajemen fakir mendasari bahwa mentalitas perlu diuji dalam situasi penderitaan yang waktunya tidak singkat. Jika dilalui denga syukur dan sabar, akan lahir peluang dan keuntungan.

Manajemen fakir mendasari bahwa mentalitas perlu diuji dalam situasi penderitaan yang waktunya tidak singkat. Jika dilalui denga syukur dan sabar, akan lahir peluang dan keuntungan.

Silaturahim dan Teknik Berjejaring

Silaturrahim akan menambah rizki. Ini sebatas mitos hadits atau dapat ditemukan faktanya. Bagi si pengelana tadi, dia bersemangat untuk menjalin silaturahim, termasuk ke saya. Di sini kami mendiskusikan pekerjaan, peluang, dan jaringan. Kisah saling dipertukarkan. Informasi saling diberikan. Dia datangi koleganya dengan latar profesi berbeda. Dari sini melahirkan kesempatan baru. Ternyata si pengelana ini juga orang yang dekat dengan saya yang sedang mengembangkan pendidikan di Kediri. Saya sarankan dia bisa join. Ternyata sebagian kenalan saya pun terhubung dengan dia.

Jadi, silaturahim yang baik dapat menjadi potensi bertukar profesi, mencari sumber tambahan dengan bertukar barang dagangan, atau saling merekomendasikan peluang dari banyak sisi.

Nah, ini dapat melahirkan jaringan dan jika ditindaklanjuti maka akan menjadi kesempatan baru. Peluang ini tentu bisa mendatangkan rizki jika diambil untuk mengembangkan profesinya. Jadi, silaturahim yang baik dapat menjadi potensi bertukar profesi, mencari sumber tambahan dengan bertukar barang dagangan, atau saling merekomendasikan peluang dari banyak sisi. Bisa juga model paling sederhana, yakni sebatas berbagi cerita sukses dan cerita hikmah lainnya, akan membantu seseorang memutar refleksi kesadaran tentang keberadaan.

Di level ini pun proses saling berefleksi akan menambah kualitas pemaknaan diri menjadi lebih aktual, mampu mengenali kebaikan diri, dan dapat menumbuhkan optimisme dalam membangun proses kehidupan diri. Ini dapat menjadi sarana mindfullnes, yakni kemampuan menyadari setiap proses kehidupan menjadi lebih nyata, berkualitas, dan dapat mereproduksi mental positif yang menyehatkan emosi serta pikiran manusia.

Lihat juga video: [Live] PSIKOLOGI KITA | KUALITAS KEHIDUPAN : PETA KESADARAN – YouTube

Dalam perjalanan seperti ini, karena bekal pas-pasan, pelaku pasti melepaskan ego. Dia harus ramah, bahkan dia akan singgah di manapun. Karenanya, jiwa silaturrahim perlu hadir. Dia mau tidak mau membutuhkan persinggahan agar dia diberkahi kemurahan hati orang lain. Dia pun perlu mengubah mindset di sepanjang perjalanan dan menjalin silaturahim dengan siapapun untuk mendatangkan kebaikan untuk selalu bisa menyesuaikan diri dan diterima orang lain. Tanpa ini semua, tirakat bepergian dengan bekal seadanya, niscaya para pejalan ini akan terhambat survival-nya, dan berbagai kebutuhan dirinya jelas akan lebih sulit dipenuhi. Inilah sifat yang penting bagi manajemen fakir.

Dan begitulah kira-kira kesimpulan refleksi saya setelah tamu saya yang bersepeda dari Kediri ke Malang. Turut senang saya menjadi bagian dari tujuan tersebut. Semoga perjalanan yang sudah dilalui sekarang dapat menjadi resolusi di tahun 2021. Semangat untuk inspirasinya, Saifuddin Zuhri.

Bagaimana yang lain, mau mencoba?

Menggali Potensi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal, Bagaimana Memulainya?

0

Kampusdesa.or.id–Lamongan (22/01), Diaspora Muda Lamongan mengadakan kegiatan seminar daring (Webinar) Vol. 13. Situasi pandemi Covid-19 tidak menyulut semangat pemuda Lamongan dalam diskusi kepariwisataan bersama Miftach Alamudin, S. Ap. (Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan) dengan topik “Menggali Potensi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal. Bagaimana Memulainya?”.

Acara yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Meeting ini dimoderatori oleh Auliya Niswatul F. pengurus Divisi Kajian Strategis Diaspora Muda Lamongan. Acara dibuka dan diawali dengan sambutan dari Abdul Jalil, ketua umum Diaspora Muda Lamongan. Dalam sambutannya ia mengapresiasi pemateri dan peserta yang hadir dalam kegiatan webinar mengenai pariwisata. Pria yang akrab disapa Abil ini juga memberikan motivasi kepada teman-teman muda pentingnya berinovasi dan membuat terobosan terbaru, sebagai peran pemuda dalam membangun daerah untuk mendukung berbagai sektor di tanah kelahirannya.

Masuk ke materi, Pak Udin menyampaikan bahwa sektor pariwisata Kabupaten Lamongan kekurangannya cuma satu, kurangnya inovasi dan promosi sehingga hal ini yang menyebabkan sektor pariwisata kita masih lemah. Beliau mengatakan sangat membutuhkan aspirasi dan inovasi serta ide-ide kreatif dari para pemuda untuk mempromosikan pariwisata yang ada di Kabupaten Lamongan. Saat ini data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hanya mengelola dua objek wisata di Lamongan yakni wisata Waduk Gondang dan Makam Sunan Drajat.

Beliau juga menjelaskan bahwa tidak dipungkiri Lamongan ini masih kurang daya saingnya jika dibandingkan dengan kota atau kabupaten sekitar. Hal ini disebabkan karena kurangnya promosi dan budaya masyarakat lamongan yang suka “Grudak-Gruduk” sehingga kalo ada tempat wisata baru hanya ramai di awal saja, orang-orang hanya mengunjungi karena penasaran, setelahnya kemudian bisa ditinggalkan begitu saja. Kurangnya inovasi membuat tempat-tempat wisata mulai ditinggalkan atau kehilangan daya tariknya.

Pak Udin juga mengatakan bahwa Lamongan ini sebetulnya memiliki potensi pariwisata dan kebudayaan atau kearifan lokal sangat kuat. Pak Udin juga mengatakan bahwa Lamongan ini sebetulnya memiliki potensi pariwisata dan kebudayaan atau kearifan lokal sangat kuat dan hal itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Seperti tradisi Pengantin Bekasri, Tari Boran, Situs Candi dan potensi-potensi pariwisata yang ada di desa-desa itu bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Pada sesi tanya jawab ada pertanyaan dari Faiq Rusdi tentang bagaimana cara mengelola cagar budaya yang termasuk situs sejarah sebagai tempat pariwisata. Menurut Pak Udin sebagai pihak pemerintah daerah, beliau mengatakan bahwa saat ini yang menjadi pilot project Dinas Pariwisata dan Kebudayaan adalah melestarikan situs cagar budaya dengan mengangkat Candi Pataan sebagai cagar budaya warisan. Candi Pataan dikembangkan sebagai pariwisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Dalam hal pihak Balai Pelestari Cagar Budaya yang memiliki wewenang untuk meneliti dan melestarikan.

Selanjutnya terkait wisata yg ada di desa, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setiap tahunnya melaksanakan pembinaan dengan kelompok sadar wisata. Bagi desa yang ingin mengembangkan pariwisatanya itu tidak serta merta dibiarkan begitu saja namun ada tindak lanjutnya dari pemerintah daerah dengan dibentuknya kelompok tersebut. Jadi kelompok ini terbentuk sebelum desa pariwisata ada. Kelompok sadar wisata ini akan mendapat fasilitas pelatihan, promosi dan lain sebagainya. Adanya desa pariwisata terealisasi karena adanya good will dari pemerintahan desa setempat bukan atas inisiatif atau paksaan dari pemerintah daerah.

Jika melihat kondisi hari ini, digitalisasi segala sektor yang sudah masif sehingga syarat akan persaingan Kabupaten Lamongan memang lemah dan kalah dari segi pemanfaatan sosial media. Menurut Pak Udin mulai sekarang akan memanfaatkan perang sosial media untuk sosialisasi dan promosi segala sektor utamanya pariwisata yang ada di Kabupaten Lamongan.

Beliau mengharapkan dengan sangat peran pemuda untuk membangun inovasi dan meminta kepada para pemuda untuk menjadi influencer pengembangan pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Lamongan. Pemerintah daerah setempat membutuhkan inovator-inovator muda
atau sentuhan tangan dingin anak muda untuk membantu meningkatkan kemajuan Kabupaten Lamongan.

Lebih lanjut Pak Udin juga menjelaskan jika ingin membangun wisata di desa maka perlu dilihat dari berbagai sisi, tidak hanya melihat potensi tempatnya yang Instagramable. Misal dari segi aksesibilitasnya atau jalan menuju lokasi wisatanya seperti apa. Perlu dilakukan analisa terlebih
dahulu sehingga tidak hanya ikut-ikutan trend mendirikan wisata di desa. Beliau mengatakan bahwa potensi pariwisata di desa itu tidak bisa diciptakan sama, pasti berbeda-beda potensinya.

Sebelum sesi diskusi berakhir Pak Udin memberikan closing statement yang sangat menarik untuk di simak bahwa webinar ini semoga tidak hanya menjadi ajang ngobrol atau diskusi tetapi bisa menghasilkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mana relaisasi dan aksi nyatanya sangat
ditunggu oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan.

Interaksionisme Simbolik; Antara Lonte dan Merdeka Belajar

0
METODE PENELITIAN KUALITATIF ITU BANYAK MACAMNYA, SALAH SATUNYA ADALAH INTERAKSIONISME SIMBOLIK. BERIKUT PETIKAN YANG MENJADI KATA KUNCI DARI MAKNA INTERAKSIONISME SIMBOLIK. DI SINI METODE INI DIUMPAMAKAN, MENGAPA NIKITA MIRZANI YANG DIHUJAT SEBAGAI LONTE JUSTRU MENDAPAT SIMPATISAN DARIPADA PEMBELA IMAM BESAR? BERIKUT REVIEW BUKU YANG TERSAJI BERIKUT INI.

Kampusdesa.or.id–Bertemu lagi dengan buku baru ya. Ini tentang metodologi penelitian dalam psikologi dan pendidikan.

Ok. Saya mulai dari kisah tentang, lonte lo. Kata yang terlontar oleh seorang pembela imam besar sempat santer beberapa waktu lalu. Kata yang menyerang sosok artis ternama di negeri ini, Nikita Mirzani. Si Nikita Mirzani waktu itu seperti menjadi sosok anti-kemapanan yang menjadi wacana tanding sosok imam besar. Dia menceburkan diri sebagai simbol amoral vis a vis moralis ala imam besar. Tapi amoralnya Nikita Mirzani yang boleh jadi seronok, justru menjadi simbol antitesis moralitas imam besar. Bahkan Nikita Mirzani justru menjadi sosok yang mampu mereduksi moralitas imam besar. Dia banyak dukungan dan simpatisan.

Sudut pandang seseorang akan berbeda dalam membuat makna dan menentukan perilaku. Mana mungkin sosok yang dilontekan justru mendapat simpatisan. Yah, karena lonte ditempatkan sebagai sudut pandang perlawanan dan pemihakan, sementara simbol agama yang semestinya mendapat pujian, justru diserang habis²an. Nah, simbol akan berbeda maknanya jika carapandangnya berbeda.

Ok. Itu kasus pertama untuk mencoba memahami konteks buku ini.

Saat di bangku sekolah dan kuliah, pernahkah Anda berebut menghindari tempat duduk terdepan. Duduk di depan penuh resiko. Jadi sasaran tunjuk guru dan dosen. Kalau ngantuk pasti kelihatan duluan. Duduk di depan berarti murid atau mahasiswa itu umumnya yang pintar-pintar. Meskipun tidak pintar amat, mereka biasanya teman-teman yang memiliki disiplin yang lebih baik.

Kalau saya, selalu menghindari duduk di depan selama di bangku-bangku sekolah. Heee…

Baca juga Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Nah, guru perlu tahu itu. Guru perlu memahami bagaimana siswa menandai simbolis dirinya. Kalau dia pintar atau disiplin, dia akan mengambil tempat di depan, lebih dekat dengan gurunya. Penyimbolan ini menunjukkan jika si murid memiliki semangat yang kuat untuk berkomunikasi secara baik dengan gurunya. Bagi yang sengaja memilih duduk di belakang, boleh jadi dia mengambil jarak, dan memaknai dirinya sebagai simbol murid yang menghindari guru, agar tidak ketahuan jikalau belum mengerjakan PR, minimal tidak serta-merta menjadi obyek pandang utama. Duduk di belakang menyimbolkan kondisi dan keinginan tertentu bagi si murid.

Ketika kita ingin memahami relasi belajar yang merdeka, maka simbol-simbol guru dan muridlah yang perlu dipahami dan diciptakan dengan makna yang merdeka, baru merdeka belajar dapat diwujudkan,

Relasi guru murid selalu berebut simbol itu. Oleh karenanya, ketika kita ingin memahami relasi belajar yang merdeka, maka simbol-simbol guru dan muridlah yang perlu dipahami dan diciptakan dengan makna yang merdeka, baru merdeka belajar dapat diwujudkan, tetapi jika tidak maka proses belajar akan lebih searah dan tetap membelenggu relasi merdeka itu sendiri.

Untuk memahami makna berbagai simbol, khususnya dalam proses pendidikan sehingga tercipta perilaku yang produktif, setidaknya para guru perlu memahami cara kerja interaksionisme simbolik. Ada tiga hal mendasar yang perlu dipahami, yakni,

Pertama, interaksi. Hubungan guru murid sangat ditentukan oleh konsep simbol dari masing-masing orang. Jika guru menyimbolkan dirinya sebagai ororitas tunggal, maka selamanya guru akan menjadi penguasa kelas. Apalagi jika murid sudah terjebak sebagai sosok yang memaknai simbol diri dalam kepatuhan sub-ordinat, selamnya murid juga akan cenderung patuh atas kebenaran tunggal guru. Di sini, guru bisa menjadi momok dalam setiap proses belajar.

Baca juga Tak Seiman, Tapi Sejalan; Perjalanan Psikologis Gusdurian

Sebaliknya, jika guru dan murid berhubungan setara untuk saling mengisi, maka proses belajar akan berjalan dengan simbol saling melengkapi tujuan. Nah, perubahan penting dalam proses merdeka belajar dapat dicapai pada bagaimana simbol-simbol hubungan itu juga dikonsepsikan oleh guru dan murid dalam kerangka posisi yang menciptakan kemerdekaan? Tentu ini sangat penting mengubah simbol diri jika ingin menciptakan model merdeka belajar.

Kedua, makna. Interaksi menentukan makna. Jika interaksi terjadi antara guru dan murid dalam budaya subordinasi, maka posisi searah memiliki peran dalam proses pemahaman guru-murid. Jika makna terbentuk sub-ordinat, maka proses belajar pun akan timpang. Pengandaian ini memberikan pengakuan keberadaan yang tidak seimbang sehingga akan selalu melahirkan sudut pandang yang kontraproduktif, kecuali seorang murid memang menyukai cara seperti ini, maka semakin baik gurunya, maka semakin patuh muridnya, akan mencapai ekspektasi gurunya. Makna ini akan melahirkan anak-anak yang pandai secara akademik. Tentu ini akan bertolak-belakang dengan makna merdeka belajar. Merdeka belajar akan muncul ketika makna utama dibangun oleh murid, tentunya dengan model interaksi yang mendahulukan konsepsi makna dari murid yang lebih dikedepankan.

Baca juga: Siswa Radikal, Fenomena Survey atau Tamparan Pada Guru

Ketiga, perilaku. Makna adalah sudut pandang dari model interaksi yang dibangun seseorang. Jika lonte dimaknai sebagai sudut pandang perlawanan, maka konsep lonte adalah simbol tentang keberanian sosok seperti Nikita Mirzani untuk menyodok relasi kontraproduktif yang dihadirkan pembela imam besar sebagai sosok yang perlu dikendalikan dan dijinakkan. Begitu juga perilaku merdeka belajar, jika relasi masih sub-ordinat dan murid sebagai anak dengan disiplin atas-nama kepatuhan, maka merdeka belajar akan sulit melahirkan kemerdekaan konsep tentang otonomi siswa. Merdeka belajar berarti adalah perilakunya juga merdeka. Artinya, sekumpulan siswa akan memiliki karya yang beragam karena keragaman otonomi dalam berinterasi, membuat makna dan bertindak.

Kehadiran orang lain selalu dipandang dari sisi realitas simbolik dibalik setiap penampakan seseorang. Di situlah makna dibentuk dan perilaku tertentu akan muncul dalam konteks tranformasi simbol-simbol yang ada.

So, buku ini memberi dasar filosofi bagaimana memahami cara kerja interaksionisme simbolik. Buku ini memberikan dasar filosofi interaksi seseorang sudah sejak lama dipikir oleh para filosof sebagai dasar didalam memahami orang lain. Kehadiran orang lain selalu dipandang dari sisi realitas simbolik dibalik setiap penampakan seseorang. Di situlah makna dibentuk dan perilaku tertentu akan muncul dalam konteks tranformasi simbol-simbol yang ada.

Baca juga : Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Pun, buku ini juga secara metodologis dapat digunakan sebagai teknik membongkar relasi dengan menguak simbol-simbol dibalik layar yang ditampakkan seseorang. Sebagaimana lagunya Akhmad Albar,

“Dunia ini, panggung sandiwara.”

Buku ini sangat baik dipelajari oleh guru, agar dapat menguak aneka simbol yang selama ini menjadi mitos dalam dunia pendidikan. Dengan memahami aneka simbol, seorang guru akan tahu apa semestinya yang dibutuhkan untuk merenovasi rumah pembelajaran mereka. Bahkan, jika merdeka belajar adalah makna baru dalam dunia pembelajaran, cara pandang itu hanya bisa dijadikan sebagai paradigma baru dalam pendidikan, manakala para guru bisa meriset perubahan mindset baru tentang kebutuhan simbol-simbol baru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tanpa itu, mustahil merdeka belajar dijadikan sebagai habitus baru dalam pendidikan.

Milikilah buku ini, untuk berbodong-bondong mengubah simbol demi menginovasi cara baru pendidikan kita? Anda bisa belajar memahami relasi simbolik (interaksionisme simbolik) dengan belajar melakukan penelitian di kelas menggunakan panduan buku ini.

Buku Interaksionisme simbolik ini dapat dibeli secara online di Intrans Publishing.

12 Ciri Anak dengan Autism yang Wajib Anda Ketahui

1

Anggapan negatif masih sering disematkan kepada anak dengan autism. Anggapan tersebut muncul lantaran minimnya pemahaman terhadap ciri-ciri autism. Setali tiga uang, penanganan kerap terlambat juga disebabkan oleh hal ini. Pengenalan terhadap ciri autism sedini mungkin sangat dibutuhkan, supaya anak tidak mengalami keterlambatan tumbuh kembang.

Kampusdesa.or.id-Mengenali ciri-ciri autism menjadi salah satu subtema yang dibahas oleh Tri Gunadi dalam webinar (website seminar) yang diprakarsai oleh Asah Pena. Tri Gunadi merupakan dosen vokasi di Universitas Indonesia, konsultan program anak berkebutuhan khusus, yang juga menjadi CEO Yamet Child Development Center dan Yamet School.  Pemaparannya yang runtut dan jelas, disampaikan dengan menarik, dapat dengan mudah dipahami.

“Anak autis merupakan anak yang senang dengan kesendirian atau cuek, sehingga tidak peduli dengan lingkungannya”

Webinar dimulai dengan perkenalan diri, dilanjutkan dengan mendefinisikan yang dimaksud dengan autism. Istilah ini berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan isme yang berarti aliran atau senang. Anak autis merupakan anak yang senang dengan kesendirian atau cuek, sehingga tidak peduli dengan lingkungannya. Jadi, Autis berarti gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan gangguan komunikasi dan sosialisasi anak terganggu sebelum berusia 3 tahun.

Autis bukanlah penyakit, maka tidak selayaknya disebut “penderita autis”, sebut saja “anak dengan autis”. Maka, sebaiknya tidak bertanya “Kapan anak saya akan sembuh?”. Tetapi, gantilah dengan kalimat tanya “Kapan anak saya mampu mengejar ketertinggalan perkembangannya?”

Baca Juga:

Salah Persepsi Tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Stereotip Salah Kaprah terhadap Orang Tua ABK

Perkembangan anak autis sendiri ada dua macam. Pertama, anak sudah tampak ciri-ciri autistiknya setelah dia lahir. Kedua, anak berkembang normal hingga usia 2-3 tahun, lalu mulai muncul ciri-ciri autistiknya. Bila tanda-tanda autistiknya sudah tampak sejak bayi, jangan menunggu sampai anak berusia usia 3 tahun. Karena, semakin dini ditangani semakin cepat pula gangguan perkembangannya diatasi.

Menurut Tri Gunadi, ciri-ciri ASD meliputi; pertama, anak tidak ada atau minim dalam hal kontak mata. Ciri sangat umum yang menandai anak dengan autisme. Kedua, tidak mampu berkomunikasi dua arah. Anak mungkin bisa berbicara, tetapi tidak digunakan untuk berkomunikasi, tidak merespon saat ditanya dan sebagainya. Ketiga, tidak mau kontak dengan orang lain. Anak biasanya tidak mau dipeluk, tidak mau digandeng, tidak mau bonding meski dengan orang tuanya sendiri.

Ciri yang keempat adalah tidak bermain sebagaimana mestinya. Misalnya mobil-mobilan tidak dijalankan sebagaimana biasanya, namun dibalik dan diputar-putar rodanya. Ciri berikutnya, anak tiba-tiba tertawa pada situasi yang tidak tepat. Misalnya tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Ciri keenam, komunikasi yang dilakukan anak bukan bahasa verbal. Bila anak membutuhkan bantuan, dia akan menarik tangan orang lain dan mengarahkan pada benda yang diinginkanya. Ciri ketujuh, anak tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain, bahkan dengan teman yang sebaya dengannya. Tidak mengerti peraturan dalam permainan berkelompok.

Baca Juga:

Ini Lima Sikap Orangtua yang Menentukan Tumbuhkembang Anak Autisnya

Ciri selanjutnya, anak mengulang-ulang kata tertentu. Alih-alih menjawab pertanyaan, dia justru mengulangi pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Fenomena seperti ini disebut membeo atau ekolalia. Ciri kesembilan, anak hanya mau bergabung dengan kelompok bila didesak atau didorong. Dia lebih suka menyendiri dan asyik dengan dunianya sendiri.

Ciri khas lain dari ASD adalah kesukaannya pada benda yang berputar atau senang memutar benda. Dia bisa lekat dengan benda berputar seperti kipas angin, roda, dan sejenisnya. Anak dengan ASD yang hiperaktif bisa berhenti dan fokus saat melihat benda yang berputar, meski tidak semua anak autis mempunyai ciri ini.

Tambahan lagi, anak autis mempunyai ciri kemauan tetap. Semisal, tidak mau ganti pakaian kesukaannya. Dia juga rigid atau kaku. Kebiasaan lainnya adalah suka menjejer benda. Mainan tidak digunakan sesuai fungsinya, tetapi hanya dijejer-jejer saja. Selain itu dia benci dengan perubahan. Misalnya ada guru yang tidak hadir karena sakit, dia akan marah bahkan tantrum karena adanya perubahan jadwal kegiatan pembelajaran.

Ciri terakhir dari ASD adalah adanya pengucapan kata berulang dan itu-itu saja, baik itu kata yang mengandung arti ataupun kata yang tidak mengandung arti. Kata yang diucapkan kadang kedengaran aneh sehingga banyak yang menyebutnya sebagai ‘bahasa planet’. Tak jarang juga mengucapkan kata-kata jorok berulang-ulang tanpa sanggup untuk mengontrolnya.

Bila anak Anda memiliki ciri-ciri di atas, maka jangan menunggu berkonsultasi dengan ahli tumbuh kembang anak. Semakin cepat Anda mengetahui dan semakin cepat anak ditangani, ketertinggalannya diharapkan akan cepat terkejar. Sering kali kejadian, ada orang tua menundanya karena mendengarkan komentar orang-orang yang tidak berkompeten dalam bidang tumbuh kembang anak. Akibatnya anak dengan autism tersebut menjadi terlambat dan sulit mengejar ketertinggalannya.

Bullying, Benarkah Menyisakan Trauma Seumur Hidup?

0

Bullying kian marak terjadi. Tidak peduli siapa korbannya, pem-bully tetap saja beraksi. “Gak apa-apa, nangis aja. Nangis itu gak apa-apa. Sedih itu boleh kok!” Kata saya kepadanya. “Ibu tau dari mana kalo itu saya?” Tanya dia penasaran. Semula, dia hanya mengisyaratkan ceritanya dengan nama si A, si B, dan si C. Namun dari bahasanya, tampak jelas bahwa dia sedang memproyeksikan dirinya sendiri. Hari itu, materi kuliah membahas tentang bullying. Setelah perkuliahan usai, ada salah satu mahasiswi yang menghubungi saya, “Ibu, boleh saya curhat sebentar?” tulis dia kepada saya.

Kampusdesa.or.id – Bullying, kata yang tidak asing terdengar di telinga kita. Bahkan saat ini, semakin marak terjadi. Bukan hanya terjadi pada anak-anak di sekolah, namun juga terjadi pada mahasiswa di bangku kuliah. Mahasiswa saya contohnya.

Apa itu bullying? Menurut Olweus (1993), bullying merupakan penyalahgunaan kekuasaan secara sistematis dan didefinisikan sebagai perilaku agresif atau tindakan merugikan yang disengaja oleh teman sebaya yang dilakukan berulang kali dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan, baik aktual maupun yang dipersepsikan, antara korban dan pelaku intimidasi.

“Orang yang mencintai diri sendiri, tidak menyakiti orang lain. Semakin kita membenci diri kita sendiri, semakin kita ingin orang lain menderita.” -Dan Pearce

Secara psikologis, bullying terbagi menjadi tiga bentuk, diantaranya adalah bullying secara fisik, verbal, dan non-verbal. Contoh bullying secara fisik adalah menampar, menginjak kaki, dan meludahi. Memaki, menghina, mempermalukan di depan umum merupakan contoh bullying secara verbal. Sedangkan contoh bullying secara non-verbal adalah melihat dengan sinis dan menunjukkan ekspresi yang merendahkan.

“Seorang pem-bully berkelahi dengan orang yang lebih kecil dan lebih lemah darinya karena menurutnya itu menyenangkan.” – Tamora Pierce

Nah, bentuk bullying yang dialami mahasiswa saya adalah bentuk bullying secara verbal. dia dipermalukan di depan umum oleh teman-temannya, tepatnya dipermalukan dalam dunia maya, yang lebih sering kita dengar dengan nama cyberbullying. 

Singkat cerita, hari itu materi kuliah membahas tentang bullying. Setelah perkuliahan usai, ada salah satu mahasiswi yang menghubungi saya,

“Ibu, boleh saya curhat sebentar?” Tulis dia kepada saya.

“Boleh dong, silakan,” Jawab saya

Lalu dia bercerita panjang lebar perihal isi hatinya,

“Gak apa-apa, nangis aja. Nangis itu gak apa-apa. Sedih itu boleh kok!” Sahut saya kepadanya.

“Ibu tau dari mana kalo itu saya?” Tanya dia.

Semula, dia malu mengakui bahwa itu adalah dirinya. Jadi, sedikit banyak ada emosi yang tertahan di dalamnya. Dia hanya mengisyaratkan ceritanya dengan nama si A, si B, dan si C, namun dari bahasanya, tampak jelas bahwa dia sedang memproyeksikan dirinya sendiri.

“Udah, nangis aja kalo mau nangis, sini peluk!” Jawab saya dengan membubuhi ‘emoticon hug’ untuknya. Lalu, dia menangis sejadinya!

Kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya, ternyata menyisakan trauma jangka panjang. Bagaimana tidak, perlakuan buruk teman-temannya telah tersimpan dalam memori jangka panjangnya. Dan, setiap kali mengingatnya, dia menangis dan menangis, menyisakan trauma seumur hidup!

Bullying lainnya dialami oleh mahasiswa saya ketika dia masih duduk di bangku SMP. Bayangkan, bangku SMP hingga bangku kuliah, ada jarak berapa tahun dan dia masih mengingatnya dengan baik!

“Saya dikucilkan, bu! Karena itu, saya jadi takut untuk berangkat ke sekolah! Saya jadi gak mau sekolah karena takut dengan teman-teman saya!” Jelasnya.

“Usually people don’t see beyond the surface of things and cannot understand more other than the obvious; they are used to judging a book by its cover, and that is why they don’t hesitate to bully.” -Maria Karvouni

Benar saja, seringkali seseorang hanya melihat dari ‘cover’ atau ‘sampul’ sebuah buku, hingga lupa bahwa ada isi buku yang masih bias ditelaah lebih jauh. Menilai dari luar inilah yang membuat orang yang ‘merasa’ lebih kuat menjadi berlaku semaunya sendiri. Padahal, sudah jelas bahwa setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan, sesuai dengan porsinya masing-masing.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dieter & Suzet (2015) dalam jurnal Archives of Disease in Childhood menunjukkan bahwa bullying mempunyai efek jangka panjang, diantaranya adalah korban bullying berada pada peningkatan risiko depresi dewasa muda, berisiko lebih tinggi mengalami pengalaman psikotik pada usia 18 tahun, lebih cenderung memiliki kesehatan umum yang buruk, sakit tubuh serta mengembangkan penyakit serius di masa dewasa muda, status kesehatan yang lebih buruk dan pemulihan yang lambat dari penyakit, serta memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri di masa dewasa muda.

Lalu, ketika saya bertanya kepadanya, “Gimana cara kamu ngatasi itu?” 

“Orang tua saya menguatkan saya bu! Pelan-pelan saya mulai berani ke sekolah dan saya menemukan teman-teman yang bisa mengerti saya!”, Jawabnya.

“Bullying is a horrible thing. It sticks with you forever. It poisons you.
But only if you let it.” -Heather Brewer

Family support (dukungan keluarga) dan social support (dukungan sosial) mempunyai peran penting dalam proses healing (penyembuhan) korban bullying. Bagaimanapun, bullying merupakan hal yang mengerikan dan melekat seumur hidup jika kita membiarkannya! Tugas kita adalah menjauhkan diri dari orang-orang yang akan merusak kesehatan mental kita.

“Gak perlu buang waktu dan tenaga hanya untuk orang-orang yang benci kamu. Fokus pada orang-orang yang kamu cintai dan mencintai kamu! Fokus pada pengembangan diri kamu, potensi kamu! Orang-orang tidak baik di manapun tetep ada, seenggaknya kamu udah belajar gimana cara ngatasi orang-orang seperti itu! Okay! Kamu kuat, kamu hebat!” Begitulah kurang lebih pesan saya kepadanya dan perlahan, air mata itu terhenti.

Kadang, kita hanya perlu didengarkan,
dikuatkan, dan dipastikan bahwa kita baik-baik saja.
-Haniffa Iffa

Korupsi Merajalela, Pendidikan Harus Bagaimana?

0

Publik kembali ditampar oleh kasus korupsi. Kali ini yang bikin menyayat hati adalah sasarannya, yaitu bansos untuk masyarakat terdampak Covid-19. Ternyata, korupsi tetap menjadi pekerjaan berat bangsa ini. Kasus-kasus baru terus bermunculan seolah tak peduli lagi pada hukuman dan moral. Bagaimana peran yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan?

Kampusdesa.or.id-Korupsi bisa diibaratkan tumor ganas. Bila tidak segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat sedini mungkin, akibatnya bisa fatal. Si penderita bisa meninggal mendadak atau paling tidak mengalami kondisi kritis tanpa diduga. Begitupun korupsi bagi demokrasi.

Sejatinya, korupsi bukanlah penyakit demokrasi saja, sistem pemerintahan lain juga tidak lepas dari inveksi penyakit mematikan ini. Arab Saudi misalnya, dilansir liputan6.com, sebanyak 298 pejabatnya tersandung kasus korupsi. Begitu juga Thailand. Negeri Gajah Putih ini belakangan malah sibuk dengan skandal anggota kerajaannya.

Di Indonesia, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang korupsi oleh media massa. Terbaru, kita dikagetkan dengan kasus korupsi Menteri Sosial, Juliari P. Batubara terhadap Bantuan Sosial (Bansos) untuk masyarakat terdampak Covid-19. Kasus yang membuat masyarakat geram ini sedang dikembangkan lebih lanjut penyelidikannya oleh pihak berwajib.

Baca Juga:

Ketika Pendidikan Anti Korupsi Menjadi PR Bagi Guru

Sebenarnya bermacam upaya sudah dilakukan untuk menanggulangi korupsi di negara kita. Mulai dari pembentukan KPK, revisi UU, pengkajian hukuman mati, hingga pendidikan anti korupsi. Namun, tetap saja, kasus-kasus baru terus bermunculan. Dari sini dapat kita katakan bahwa korupsi merupakan penyakit yang kompleks dan membutuhkan cara yang kompleks pula untuk menyembuhkannya.

Sebab begitu luasnya cakupan garapan untuk menyembuhkan korupsi, tentu membahasnya dalam tulisan singkat ala kadarnya seperti ini tidaklah tepat dan memadai. Untuk itu, saya akan fokus saja pada salah satu sisi yang sesuai dengan kapasitas saya, yaitu pendidikan.

Akar Masalah Korupsi

Bila kita telisik lebih dalam, akar penyebab munculnya tindakan korupsi sebagaimana dikatakan mantan wakil ketua KPK, Busyro Muqoddas, adalah lemahnya integritas, kejujuran, dan moral. Senada, Romli Atmasasmita, Guru Besar Universitas Padjajaran juga mengatakan bahwa ternyata akar masalah korupsi ada pada diri kita masing-masing (Sindonews.com).

Lebih lanjut, Romli menyatakan korupsi bukanlah kesalahan komponen politik semata, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat yang telah melupakan pentingnya pendidikan sejak SD sampai perguruan tinggi, proses rekrutmen dalam pekerjaan sampai pada purnatugas, baik di birokrasi maupun swasta.

Lemahnya integritas, kejujuran, dan moral merupakan cerminan ada yang kurang tepat (jika enggan berkata salah) dengan sistem pendidikan kita.

Nah, berkaca pada dua pernyataan pakar tersebut, dapat kita katakan bahwa pendidikan memainkan peran sentral di sini. Lemahnya integritas, kejujuran, dan moral merupakan cerminan ada yang kurang tepat (jika enggan berkata salah) dengan sistem pendidikan kita. Baik itu pendidikan formal melalui lembaga pendidikan, maupun pendidikan paling mendasar, yaitu keluarga. Termasuk pula pendidikan dalam proses pelaksanaan tugas di birokrasi maupun swasta.

Kekurangtepatan tersebut adalah masih belum diprioritaskannya pendidikan nilai. Sungguhpun, secara legalitas, sistem pendidikan kita sudah menaruh perhatian pada tiga domain dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, dalam praktiknya, domain afektif belum mendapatkan porsi yang semestinya. Jikapun sudah, mungkin metodenya yang perlu dikaji ulang.

Penguatan Pendidikan Nilai: Belajar dari Pesantren

Untuk menemukan metode yang tepat, kita harus kembali menengok karakteristik dari masing-masing domain. Kognitif misalnya, domain ini berhubungan dengan akal atau intelek. Pengembangannya jelas membutuhkan metode yang merangsang rasa ingin tahu, menajamkan analisis kritis, berbasis mengalami, dan seterusnya.

Banyak pendidik yang mengajarkan nilai atau karakter tapi hanya sebatas pada retorika dan hapalan konsep. Aspek keteladanan dan praktik pengalaman langsung kurang ditekankan.

Sementara afektif berhubungan dengan psikis, jiwa, dan emosi. Tentu tidak bisa dikembangkan hanya menggunakan metode hapalan atau drill. Inilah yang sering kali luput dari perhatian. Banyak pendidik yang mengajarkan nilai atau karakter tapi hanya sebatas pada retorika dan hapalan konsep. Aspek keteladanan dan praktik pengalaman langsung kurang ditekankan.

Baca Juga:

OTT; Musibah Terdahsyat Lombok Paska Gempa

Setali tiga uang, proses penilaian atau evaluasinya juga berbasis pada ingatan. Akhirnya, proses pengembangan domain afektif tak jauh beda (atau sama?) dengan domain kognitif. Lulusan pendidikan kita pun menjadi manusia yang fasih berkata-kata tapi lemah dalam tindakan nyata. Kata pepatah Jawa, “Suwal bedah ra iso ndondomi, iso kojah ra iso ngelakoni”.

Lihat saja para koruptor, mereka bukanlah orang yang tak berpendidikan. Gelar akademik tersemat mentereng di samping nama mereka. Tentu mereka akan fasih bila ditanya apa itu definisi jujur, apa itu definisi disiplin, apa itu definisi amanah, dan seterusnya.

Pendidikan nilai di pesantren tidak hanya mengajarkan konsep, tapi aplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya diajarkan bahwa tawadlu’ kepada guru itu penting, tapi juga bagaimana praktik tawadlu’ itu.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari pesantren. Pendidikan nilai di pesantren tidak hanya mengajarkan konsep, tapi aplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya diajarkan bahwa tawadlu’ kepada guru itu penting, tapi juga bagaimana praktik tawadlu’ itu. Tidak tanggung-tanggung, para kiai sendiri yang mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak awal, santri sudah didoktrin bahwa bekal untuk kehidupan akhirat lebih penting dibanding urusan dunia. Meskipun, santri juga tidak boleh mengabaikan kehidupan dunia. Intinya, santri diajarkan untuk seimbang dalam menempatkan keduanya. Makanya, tidak sulit kita temui pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu duniawi seperti dagang, teknologi, kerajinan tangan, tai, dan ternak kepada para santrinya.

Tidak hanya itu, para kiai juga mengkombinasikan upaya lahiriah tersebut dengan upaya batiniah atau spiritual yakni melalui doa dan tirakat. Kombinasi inilah yang jarang kita jumpai di institusi pendidikan formal. Bahkan, di lingkungan keluarga sekalipun. Seolah-olah jika anak sudah dimasukkan ke sekolah, tanggungjawab orangtua untuk mendidik gugur dengan sendirinya.

Akhirnya, bila pendidikan nilai dikuatkan sedini mungkin, kemungkinan intensitas seseorang untuk melakukan korupsi dapat diperkecil. Yang bersangkutan akan selalu ingat dan waspada bahwa segala tindak-tanduknya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Juga, ia meyakini bahwa kebahagiaan tidak akan didapat dengan cara merampas hak yang bukan miliknya.