Selasa, Agustus 25, 2026
Beranda blog

Kesalahan Berpikir Netizen 4.0, Lima di antaranya Sering Kamu Alami.

0

Secuil fakta yang buruk akan mampu menutupi segudang fakta kebaikan seseorang. Hal itu terjadi ketika individu mengalami Distorsi Kognitif, yaitu pembenaran irasional tak sesuai realita. Rupanya leluhur bangsa ini sudah menyadari akan kesalahan berpikir yang turun temurun akan sering terjadi dengan mengabadikannya dalam sebuah seni kata ” Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga “.

Kampusdesa.or.id-Otomasisasi teknologi cyber 4.0 terhadap setiap inchi kehidupan  membuat individu di masa ini cepat dalam membagikan informasi. Akan tetapi adaptasi masyarakat untuk mengelola kecepatan jaringan komunikasi perlu dipertanyakan dan dibahas mendalam. Jika tidak, pecahan informasi yang salah pemaknaan dapat menjadi Hoaks dan sentimen emosi antar netizen. Terlalu remeh jika bangsa ini masih berkutat soal Hoaks dan Isu isu sensasional. Saat nya belajar mandiri dengan mengenali kesalahan berpikir sehingga kita bisa bangkit lebih produktif menjajaki peluang Revolusi Industri di Pemerintahan yang baru ini.

Berpikir adalah sesuatu yang pasti dilakukan oleh manusia bahkan menjadi pembeda yang paling mendasar antara hewan dengan manusia. Kesalahan berpikir dapat terjadi pada seluruh jenjang usia, dari anak sekolah, pegawai bahkan ilmuwan pun bisa terjebak dalam kelalaian berpikir. Akan selalu ada kejadian yang tidak diharapkan dan mood negatif disetiap masa kehidupan sehingga setiap individu pasti pernah mengalami kesalahan berpikir. David Burns seorang Psikiater dan ahli Cognitive Behavioral Therapy dari Stanford University menyebutnya sebagai Thinking Errors Pattern atau dalam istilah psikologi disebut Cognitive Distortions.

Bagaimana kesalahan berpikir terjadi?

Karunia tuhan yang pertama kali digunakan untuk menerima informasi adalah panca indera. Melalui indera tersebut informasi dilangsungkan ke dalam internal map, otak akan memberikan makna terhadap masing masing informasi yang kita terima. Pemberian makna oleh otak merujuk pada Historical Files individu yang berisi tentang keyakinan suatu norma perilaku berdasarkan pengalaman masa lalu.

Keyakinan masa lalu ini menciptakan nilai atau frame of mind yang terulang ulang di bawah alam sadar manusia. Makna yang diproses melalui otak tadi akan berhubungan dengan central nervous system atau pusat syaraf. Dari pusat syaraf akan menghasilkan sebuah perasaan yang menghantarkan individu pada suatu reaksi berbentuk perilaku. Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh kejadian masa lalu.

Dalam proses pemberian makna yang sudah di jelaskan tersebut, terdapat celah terjadinya suatu kesalahan dalam penerjemahaan makna yang disebut thinking error pattern. Terdapat foggy atau kabut yang menyebabkan otak meleset dalam pemberian makna sehingga sesuatu yang kita yakini tidak sesuai dengan realita. Banyak faktor yang memicu terbentuknya foggy, selain berasal dari ingatan realita masa lalu, foggy bisa disebabkan oleh stress, kurang energi, gaya berpikir childish, cemas dan kondisi negatif.

Ketika gaya berpikir individu semakin dominan dalam melibatkan masa lalu maka foggy akan semakin tinggi, sebab realita masa lalu dan kini merupakan hal yang berbeda. Masa lalu memang bisa digunakan sebagai prediksi pengambilan keputusan namun perlu diimbangi dengan identifikasi fakta dan realita yang sedang terjadi sehingga kesalahan interpretasi informasi bisa dihindarkan.

Menurut Mahrus Affif seorang Behavioral  Specialist dalam seminar Online “ Thinking Error Pattern and Teenager “ (Inmed, 25 Oktober 2019), Kurang lebih 80 % orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Jika hal ini tidak dibenahi, individu akan larut dalam kesalahan berpikirnya dimana kesalahan berpikir itu dijadikan argumen utama untuk membenarkan perilaku individu yang salah tersebut. Orang akan mengambil sudut pandang irasional terhadap peristiwa tertentu sehingga menyebabkan pikiran dan emosi yang tidak dapat dikendalikan, parahnya hal ini bersifat kebiasaan. David Burns dalam bukunya The Feeling Good menjelaskan sepuluh jenis kesalahan berfikir, lima diantaranya akan diulas dalam tulisan ini.

Kurang lebih 80 %  orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil.

Yang pertama adalah Over Generalization. Hal ini terjadi ketika anda menyimpulkan suatu perkara yang buruk berdasarkan satu buah bukti saja. Tidak hanya itu, anda akan membesar besarkan masalah itu dan melabeli hal tersebut dengan rumor negatif. Jenis kesalahan berpikir ini akan membuat orang menggunakan kata “ Biasanya” atau “ tidak pernah “ sebagai kata kunci.

Contoh:  ketika anda melihat berita seorang artis sedang menangis karena tertimpa suatu musibah. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wah biasanya itu cuman akting saja” sehingga kemudian anda mencibir dan merendahkan artis tersebut.

Suatu ketika anda melihat Bapak Paruh baya yang tidak rupawan menjemput wanita muda cantik di sebuah caffe. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wahh jangan jangan wanita simpanan nih, biasanya seperti itu”. Lantas anda berbisik bisik dengan teman nongkrong dan menganggap wanita tersebut seorang yang gampangan.

Kedua adalah Black and White Thinking. Gaya berpikir ini terjadi ketika individu membagi dirinya dalam dua kategori yaitu “ aku benar benar baik” atau “ aku benar benar buruk”. Hal ini teradi karena sikap perfeksionis yang dominan, memikirkan diri sendiri ditambah lagi merasa dirinya harus berpengaruh dalam kelompoknya, sehingga ketika suatu hal terjadi tidak sesuai standar atau ekpektasi, maka individu akan menganggap dirinya tidak berguna. Tidak ada pilihan ketiga dan tidak ada tempat untuk berbuat salah.

Contoh: Arif adalah seorang ketua team player basket. Saat pertandingan, Arif tidak berhasil membawa teamnya menuju kemenangan. Akhirnya ia murung dan merasa bahwa ia adalah orang yang tidak berguna. Ia malu dan menganggap semua itu terjadi karena kesalahannya semata.

Ketiga ialah Jumping to Conclusion atau labeling. Pernahkah anda menjustifikasi orang lain tanpa di dukung informasi yang jelas? itulah yang disebut labeling. Individu mendeskripsikan seseorang dengan fakta yang tidak sempurna, ada sebagian realita seseorang yang disembunyikan. Hal ini adalah proyeksi bahwa diri kita sedang marah , cemas , frustasi atau sedang tidak percaya diri. Bahkan, ketika anda memberi label negatif kepada seseorang, hal itu akan membuat anda tidak nyaman dan sulit membangun komunikasi yang positif. Pada kasus ekstrim, memberi label negatif  terhadap seseorang mampu mengubah identitas sosial dan konsep diri individu.

Contoh: Ulum adalah mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, ia dibimbing oleh Dosen A. Setiap kali bimbingan, Dosen A selalu emosi dan memarahi ulum yang selalu datang terlambat. Akhirnya Ulum menyebarkan rumor kepada temannya bahwa Dosen A adalah Dosen yang Killer. Nah, ini lah yang disebut Jumping to Conclusion, ulum hanya mensifati Dosen A berdasarkan perasaan yang mewakili dirinya bahwa dosen A selalu memarahi Ulum. Padahal Jika mahasiswa datang tepat waktu, Dosen tersebut akan bersikap ramah dan lembut. Nah Sifat ramah dan lembut disembunyikan oleh Ulum sehingga terbentuklah labeling yang tidak adil.

Apakah kita tidak boleh melabeli seseorang? boeh asal dengan fakta yang jelas dan adil. Contoh: Dosen ini killer ketika melihat mahasiswa yang melanggar aturan. nah ini labeling yang diperbolehkan.

Ke Empat adalah Victim Mentality atau Blaming. Kesalahan berfikir pada jenis ini akan membuat orang hidup dengan sejuta keluhan. Individu akan mengkritik dan menyalahkan orang lain atas hal buruk yang menimpa dirinya. Artinya tidak ada niatan untuk memperbaiki diri justru menganggap orang lain lah akar dari semua masalah.

Contoh : Yoyo adalah pengangguran, setiap bertemu teman temanya  ia selalu mengkritik pemerintah atas kondisinya, seakan akan Yoyo dirugikan oleh Negara. (Padahal Yoyo terlalu cepat menyerah mencari pekerjaan dan tidak mau meng upgrade skillnya).

Amin mendapat nilai jelek di bidang Matematika, ia menyalahkan gurunya bahwa gurunya tidak cermat dalam mengajar. (Padahal Amin sendiri sering bolos sekolah).

Ke Lima adalah Discounting, orang yang memiliki kecenderungan seperti ini akan selalu mengeluarkan statement negatif tentang kelebihan dirinya. Maksudnya ialah individu tidak apresiatif terhadap prestasinya sendiri, mendiskon segala pencapaian yang ia buat. Pribadi ini menunjukkan bahwa ia memiliki konsep diri yang lemah dan kepercayaan diri rendah.

Contoh: Arif mendapat nilai 70 dalam pelajaran Bahasa, kemudian gurunya memberi pujian “ wah arif kamu hebat ya, pintar dan cerdas”. Akan tetapi Arif berfikir dalam hati “ aiiih apa apaan sih, pasti bohong itu bu guru. Padahal yang lain banyak yang lebih pinter ”.

Kecepatan sistem informasi yang setiap detik dapat berubah, tanpa batas dan selalu ada identitas anonim akan menyebarkan ranjau ranjau Distorsi Kognitif bagi Netizen. Terutama bagi Rakyat +62 yang minat bacanya masih tergolong rendah. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengindari kesalahan berfikir?.

Mulailah dengan membudayakan One Day One Page, membaca buku akan melatih reasoning otak kita menjadi lebih awas dalam mengelola informasi. Kemudian gunakan aturan Lima menit, gunakan waktu tersebut untuk mengecek informasi di media atau fakta di lapangan melalui sumber yang kredibel dan selama lima menit tersebut usahakan untuk tidak mengomentari apapun.

Kenali pola kesalahan berpikir yang berkembang di masyarakat, setelah mengenali pola , cobalah untuk mengkategorisasikan jenis kesalahan berpikir yang dirasa sangat berpotensi terjadi pada diri anda. Latihlah pikiran anda untuk melawan jenis kesalahan berpikir tersebut, gunakan humor humor untuk membuat pikiran anda stabil. Yang terpenting jadilah pribadi yang suportif, bijak dan sabar dalam segala situasi.

Hubungan Harmonis Netizen sangat mahal harganya, dan sangat remeh jika kesalahan berpikir yang beredar di masyarakat membuat konflik dan buruk sangka . Buku “Feeling Good: the new mood therapy,” dan  “When Panic Attacks” yang ditulis  David Burns dapat menjadi rujukan bagaimana merawat akal sehat ditengah pusaran peradaban Revolusi 4.0. Bangsa yang hebat berawal dari akal sehat yang selalu dirawat.

Membaca Busu; Jejaring Pemberdayaan Masyarakat Desa Adat dan Pelestarian Alam

Kampusdesa.or.id–Dusun Adat Busu di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, terlihat biasa-biasa saja dari luar. Namun di balik lereng hutan bambu yang tenang itu, terjalin jejaring pemberdayaan yang unik. Warga Busu membangun Gubuk Baca Busu sebagai pusat kegiatan belajar bersama, sekaligus laboratorium sosial dan budaya. Di sini anak-anak dan orang tua belajar membaca, bercerita, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan. Jejaring tokoh lokal – dari guru hidup hingga penjaga hutan – menjadi penggerak utama, mengubah Gubuk Baca Busu menjadi sumber harapan berkelanjutan. Faktor manusia dan  makna yang mereka bangun bersama inilah yang menjaga pembangunan desa menjadi berkelanjutan. Sebagaimana analisis Sarjiyanto et al. (2022) tentang pemberdayaan komunitas yang memperkuat nilai sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Busu menemukan konteks komunitas dan keterlibatan partisipatif dalam pemberdayaan.

Kemajuan dan kelangsungan pemberdayaan Dusun Adat Busu menarik minat relawan KATI (Kampus Alam Tegalsari Indonesia), dan Kampus Desa Indonesia menjadi sumber belajar mereka. Mereka latihan membaca Busu melalui observasi dan turun lapangan. Melalui pengalaman Busu, para relawan yang mereka sebut sebagai  program  Akademi Rancang Karya dan Aksi Nyata (Arkana). Mereka menyiapkan diri untuk mendengar Busu dan memahami desa tersebut dalam kerangka kesadaran konservasi alam. Para relawan melatih dirinya untuk menemukan emas inspirasi dari Busu agar mereka dapat merekam spirit dalam merawat alam dan budaya serta tradisi masyarakat. Pendekatan ini mereka latih sebagai cara memahami sudut pandang peran aktif dan nilai-nilai yang menjadi spirit penjagaan alam Busu. Latihan tersebut dapat menjadi sarana menciptakan kesadaran kritis Generasi Z yang belum banyak terlatih di kelas-kelas formal. Melalui FGD dengan obyek studi Busu, mereka mencoba menemukan jalur analisis jejaring sosial (Social Network Analysis) dan spirit pemberdayaan berkelanjutan.

Skema jejaring sosial Desa Adat Busu: Tokoh kunci (tengah) menghubungkan kelompok (kanan-kiri) dalam jaringan pendidikan, budaya, dan lingkungan. Jejaring tokoh lokal di Busu (guru agama, tokoh adat, fasilitator Gubuk Baca) saling berhubungan dalam kegiatan sehari-hari, menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya dan alam desa.

Hsil pembacaan mereka kami kompilasi dan reproduksi menggunakan generator AI, dengan memberikan bahan hasil diskusi kelompok mereka dengan pendekatan konstruktifisme kritis. Bahan lain termasuk sumber online tentang Busu menjadi bagian penting untuk melengkapi narasi kritis bagaimana kisah Busu terbaca dalam alur analisis jejaring aktor (Social Network Analysis) dan nilai-nilai penting yang muncul secara otentik terhadap praktik baik masyarakat Busu.

Jejaring Tokoh Lokal dan Peran Pemberdayaan

Keberlanjutan lahir bukan dari program, tetapi dari orang-orang yang merawat makna bersama.

Di Dusun Busu, tokoh adat, guru agama, dan relawan Gubuk Baca berperan saling melengkapi. Jejaring ini mirip dengan klaster yang terhubung: tokoh adat menggawangi napak tilas budaya, guru mengajarkan kearifan lokal, dan fasilitator Gubuk Baca menerjemahkan pengetahuan ke dalam aktivitas anak-anak. Mereka menjalankan pemberdayaan berbasis komunitas di lapangan, yang menurut Sarjiyanto et al. (2022) menjadi bagian pendekatan dengan menguatkan nilai sosial dan budaya komunitas. Misalnya, kegiatan budaya “Mapak Surup” diawasi tokoh adat, sementara Gus Irul (kepala Gubuk Baca) menghubungkan warga dengan relawan. Kolaborasi seperti ini sesuai prinsip sense of community (McMillan & Chavis, 1986) dan memberdayakan (Rappaport, 1987). Menurut relawan mereka memiliki hubungan saling percaya dan saling mengawasi lingkungan sosial mereka. Para relawan belajar bahwa, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat harus lahir dari kepercayaan yang tulus.

Baca juga: Bacarita, Komunitas Baca dan Cerita Hadir di Pesantren Karanggenting

Anak-anak belajar sambil bermain di alam terbuka. Kelas alam dan cerita rakyat menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai desa. Perpaduan belajar membaca dan praktik budaya di Gubuk Baca Busu menumbuhkan sense of community (McMillan & Chavis, 1986) – rasa memiliki dan saling peduli yang kuat. Membaca dan praktik budaya di Gubuk Baca Busu menumbuhkan sense of community (McMillan & Chavis, 1986) – rasa memiliki dan saling peduli yang kuat.

Pendidikan Komunitas dan Transformasi Nilai

Anak-anak datang untuk belajar membaca, tetapi pulang dengan identitas sebagai penjaga budaya dan alam. Anak-anak terpantik untuk bertansformasi secara kolektif menjadi lebih matang dengan akar pengalaman hidup berkelanjutan. Mereka lebih percaya diri.

Para relawan menyadari bahwa Gubuk Baca Busu bukan perpustakaan biasa. Di sini kegiatan membaca digabungkan dengan pembelajaran berbasis alam dan budaya. Anak-anak belajar menulis puisi, menanam bambu, atau memasak tradisional, yang sekaligus menanamkan kebanggaan identitas lokal. Setiap kegiatan memantik transformasi psikologis. Anak-anak mengalami peningkatan rasa percaya diri, kedekatan antar-anggota komunitas, serta peduli lingkungan. Dalam literatur psikologi komunitas, proses ini membantu membangun empowerment individual dan kolektif. Warga merasa “mampu” mengubah hidupnya (Rappaport, 1987) dan menjalani hidup berkelanjutan dengan tetap mampu berdialog secara bijak dan ramah dengan alam sekitar.

Para relawan menemukan dan memahami bahwa Gubuk Baca Busu membantu anak-anak mengenal desa mereka. Para siswa tidak hanya menghafal huruf, tetapi juga mengenal cerita Busu zaman dulu, legenda hutan, dan praktik gotong royong. Pendekatan pendidikan seperti ini sejajar dengan pemberdayaan berbasis komunitas yang menekankan pembelajaran dari, oleh, dan untuk masyarakat (Sarjiyanto et al., 2022). Melalui kegiatan kreatif, anak-anak pulang membawa pengetahuan sekaligus tanggung jawab menjaga kampung. Para relawan tahu bahwa, itulah sekolah hidup yang sesungguhnya, lebih dari belajar di kelas-kelas formal yang mengisolasi anak-anak dari pengalaman riil kehidupannya.

Baca juga: Pelatihan Budidaya Kopi, Ada Celah Bersyukur

Hutan Bambu Adat: Sumber Kehidupan dan Keberlanjutan

Para relawan memiliki sudut pandang baru bahwa hutan bambu (Alas Among) di sekeliling Busu bukan sekadar hiasan. Ia adalah sumber kehidupan dan identitas. Hutan ini menyediakan bahan bangunan, air bersih, hingga inspirasi budaya (misalnya mengenal filosofi bambu dalam tradisi setempat). Warga Busu menyadari bahwa menebang bambu sembarangan bisa mengancam keberlangsungan sumber air desa. Prinsip pelestarian ini dipegang teguh dalam norma adat Desa Slamparejo (Putri & Wardhana, 2024) yang mana setiap tindakan warga diarahkan demi kebaikan bersama.

Masyarakat menjaga bambu karena mereka menjaga kehidupan.

Pelestarian Hutan Adat Busu menunjukkan keselarasan dengan teori pemberdayaan keberlanjutan. Ketika masyarakat merasa memiliki dan berdaya atas sumber daya lokal, konservasi menjadi bagian otomatis dari rutinitas (Rappaport, 1987). Hutan bambu tidak hanya menjaga ekosistem (mengurangi erosi, melindungi mata air), tetapi juga menginspirasi pendidikan ekologi di Gubuk Baca. Anak-anak diajak eksplorasi alam. Mereka belajar menghargai tumbuhan di kebun baca dan merasakan kearifan lokal alam. Hubungan ini memperkuat identitas ekologis komunitas, yakni menegaskan masyarakat pedesaan Busu mampu membentuk rasa cinta lingkungan sejak dini.

Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup

Dalam perspektif psikologi komunitas, para relawan diajak membuka diri bahwa pengalaman kolektif inilah yang menciptakan empowerment. Komunitas tidak sekadar mengeluh, tetapi aktif berkreasi demi masa depan mereka. Berdasarkan pengetahuan tersebut, relawan Arkana menemukan kesadaran bahwa Gubuk Baca Busu dan para tokoh lokalnya mengajarkan generasi muda bahwa kekayaan desa ada pada manusia dan alamnya. Hasilnya adalah model pemberdayaan berkelanjutan. Tidak perlu program mahal, asalkan nilai bersama diwariskan secara konsisten, jejaring sosial yang kuat, pembelajaran berbasis komunitas, dan semangat menjaga alam bertransformasi menjadi modal sosial (Rappaport, 1987) yang membuat Dusun Adat Busu bertahan dan berkembang. Ketika aktor berkolaborasi, nilai, budaya, tradisi/adat menjadi spirit berdampak, keberlangsungan keberdayaan komunitas lebih awet.

Daftar acuan dan sumber
Rappaport, J. (1987). Empowerment: The politics of alternative development. New York: Columbia University Press.
Sarjiyanto, A., Sarwoto, E., & Darma, T. S. (2022). The Sustainability of Community Empowerment as Development Strategies: The Experience of Indonesia. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 9(3), 207–218. http://dx.doi.org/10.18415/ijmmu.v9i3.3604
Suryandharu, T. (2023, 11 Desember). Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup. Kampus Desa Indonesia. https://kampusdesa.or.id/menanam-bibit-kopi-menanam-pengharapan-hidup/
(Redaksi Kampus Desa Indonesia). (2024, Juni 2). Bacarita, Komunitas Baca dan Cerita Hadir di Pesantren Karanggenting. Kampus Desa Indonesia. https://kampusdesa.or.id/bacarita-komunitas-baca-dan-cerita-hadir-di-pesantren-karanggenting/
Putri, E. S., & Wardhana, H. I. (2024). Peran masyarakat adat dalam pelestarian hutan bambu di Dusun Busu Desa Slamparejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(12), 52-63. Diambil kembali dari http://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/index

Urip, Sakderma Ngrumati Pengarepan

Kampusdesa.or.id — Semalam, di desa Kucur, hujan rintik saat teman-teman itu datang. Jagongan diawali dengan Pak Jumali, mengisahkan pengalamannya ikut dalam giat Festival Kopi di Ciputra World Mall, Surabaya, bulan lalu.

“Ya senang. Bisa ketemu banyak orang. Produk kopinya Koetjoer dapat nilai baik oleh pengunjung yang mencicipi. Saya juga ditanya beberapa mahasiswa UK Petra, suka-dukanya menjadi petani kopi.”

“Mereka bertanya, mengapa saya kok bertanam kopi? Ya saya jawab, ya ini penggawean saya. Saya senang menanam kopi. Karena dulu di desa Kucur, banyak tanaman kopi. Tapi trus diganti dengan jeruk, karena harganya kopi rendah dan jeruk harganya lebih mahal.”

“Tanaman buah jeruk butuh banyak biaya. Sekarang harga kopi sudah meningkat, apalagi kita bisa mengolah sendiri, jadinya harganya ya lebih baik. Tanaman kopi juga tidak membutuhkan biaya yang sebesar tanaman jeruk. Jadi, ya saya senang dengan menanam kopi ini,” sorot mata Pak Jumali berbinar.

Lonjakan Permintaan Kopi dan Ikhtiar Menyediakan Rumah Jemur Bersama

Cerita di bazar di Surabaya dilanjutkan oleh Mas Ali. “Iya, kemarin itu Mas Teo, dia yang mencicipi kopi kita pas cupping coffee, sempat bertanya, ada berapa stoknya di rumah? Ya saya bilang, ada kalau 10–15 Kg-an. Lalu dijawab lagi, ya sudah saya mau itu. Dikirim semua saja,” ujarnya menambahkan cerita.

“Ya, kalau dikirim semua, nanti kita gak bisa produksi kopi bubuk kemasan,” sambungnya.

“Setelah dihitung-hitung, ya kalau untuk memenuhi pesanan mereka, kita membutuhkan sekitar 4 ton greenbean kopi arabika. Masalahnya, rumah jemur kita tidak mencukupi. Rumah jemur kita hanya mampu untuk produksi sekitar setengah ton saja…”

“Ya, berarti kita perlu nambah panenan lagi,” tukas Pak Josari. Pak Josari baru pertama kali ikut pertemuan.

“Nah, itulah masalah yang mau kita bahas,” balas Mas Ali.

Baca juga: Roasting Kopi dan Secangkir Kopi Bagi Petani Kopi

“Sebelum ke Surabaya, sudah ada beberapa teman yang minta produk kopi arabika kita. Ada kalau 4–5 orang. Semua minta dikirimi. Malah, kalau bisa rutin setiap bulan.”

“Setelah dihitung-hitung, ya kalau untuk memenuhi pesanan mereka, kita membutuhkan sekitar 4 ton greenbean kopi arabika. Masalahnya, rumah jemur kita tidak mencukupi. Rumah jemur kita hanya mampu untuk produksi sekitar setengah ton saja,” pandangan mata Mas Ali menyapu rekan-rekan yang hadir.

“Iya, Mas. Di dusun Godean, ada 3 rumah green house yang dulu buat menanam sayur hidroponik. Agak lama kelihatan nganggur. Trus saya coba tanyakan. Eeh, ternyata dalam waktu dekat ini mau dipakai lagi buat menanam melon hidroponik,” tambah Pak Supadi.

Mendadak, ruangan menjadi sepi. Mereka saling pandang, berharap ada jawaban.

“Kalau di rumah, ada dak lantai jemur pakaian di belakang. Mungkin bisa dipakai,” tiba-tiba Mas Yudas menawarkan.

Beberapa saat, mereka masih saling pandang. “Boleh ya dipakai?” Mas Ali mencoba meyakinkan.

“Ya ndak apa-apa. Nanti saya tak matur Bapak. Bapak kan juga menanam kopi,” Mas Yudas mencoba meyakinkan.

“Kalau dari jadwal panen, kita panen arabika itu akhir Mei atau awal Juli. Jadi, bulan ini kita persiapan untuk membuat rumah jemur ya. Kita pakai plastik seperti yang kemarin dibelikan oleh Mas Didik. Itu plastiknya lebih tebal,” sambung Mas Ali.

Merumuskan Harga yang Adil demi Menjaga Harapan Petani

“Nah, rumah jemur sudah. Sekarang kita tentukan harganya. Pengalaman kemarin kita menetapkan harga agak ketinggian. Ya, tujuannya waktu itu biar teman-teman anggota petani mau jual buah kopi cherry-nya. Karena kita sendiri belum pernah beli cherry. Dan di Kucur ini, jarang orang jual biji kopi cherry,” ujar Mas Ali.

“Seolah, mereka sedang gayemi lelaku, Urip, sakderma ngrumati pengarepan… Rahayu.”

“Kita sedikit naikkan harganya biar bisa menarik buat petani lainnya. Tapi, ya itu tadi, jatuhnya harga kopi kita jadi sedikit lebih tinggi dibanding dari kelompok tani lainnya.”

Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup

“Selain itu, tahun kemarin kita belum sempat menghitung biaya tenaga kerja untuk pengolahan pasca-panen,” sambung Mas Ali.

“Bagaimana kalau nanti kita perhitungkan dengan harga borongan saja ya, Pak? Per kilo borongannya Rp1.500?”

Biasanya, Pak Supadi yang mengolah hasil panenan anggota, bersama Pak Jumali dan Pak Mulyono. “Iya, Mas, ndak apa-apa. Syukurlah kalau kita sudah bisa menyisihkan buat uang lelah teman-teman juga,” timpal Pak Supadi.

“Tahun kemarin, kita anggap masih belajaran dulu. Ya, memang kita perlu banyak belajar,” tambah Pak Supadi lagi.

Di luar, hujan sudah mereda. Hawa sejuknya semakin terasa. Namun di dalam ruangan, berlimpah kehangatan. Mereka saling membagikan sekaligus menerima kabar suka-duka. Perjalanan menyatukan pengharapan bersama.

Seolah, mereka sedang gayemi lelaku, Urip, sakderma ngrumati pengarepan

Rahayu.

Minum Anti-Aging atau Belajar Menua Saja

Kampusdesa.or.id–Rumah model srotong khas hunian jawa melindungi seorang tua renta yang konon baru merayakan ulang tahun ke-100. Jabat tangan saya menandai saksi sosok mbah Saijah dari saudara mbah perempuan saya di usia seabadnya. Setiap lebaran, saya selalu menyempatkan riyayan ke rumahnya. Kata yang selalu berulang, “kowe anake sopo?” Ya, mbah ini sudah terkena dimensia (pikun) sebagai salah satu efek menua.

Apakah Mbah Saijah kenal ramuan anti-aging (penuaan)? Pastinya tidak. Mana mungkin  beliau kenal sponsor atau gaya hidup melambatkan penuaan? Kesehariannya sebagai pedagang pasar tradisional lebih menyibukkan dengan percaturan harga sembako dan komoditas orang desa. Baginya tak pernah berpikir berdandan dan menyibak wajah agar tetap kinclong-glowing. Melayani konsumen baginya adalah mantra harian agar tokonya tetap mendapatkan pelanggan yang puas. Jangankan berpikir dandanan, plek-ketiplek laku dan jiwanya adalah bukan tentang ramuan anti-penuaan, tetapi transaksi agar dapat untung dan berhikmad melayani pelanggan.

Realitas Aging

Mengenal usia adalah bagian dari kesadaran tentang hidup dan menandai kewarasan jiwa. Bagi yang hanyut mengisi hidup tidak setiap saat kita mampu menemu-kenali usia. Saat ulang tahun, sadar usia bertambah tetapi bukan menyadari proses menua, tetapi party dan worthed-nya seorang diri. Alih-alih menemukenali usia, kebahagiaan karena kehadirannya masih ada orang di sekitar yang menyanjung kita. Sebuah kesejahteraan subyektif ketika momen ulang tahun tersebut mendapatkan apresiasi sekitar. Ya, ada bahagia tetapi mindfullnes (kesadaran utuhnya) belum tentu menemukan bahwa menua adalah situasi fisik mental yang dapat mengancam kesiapan menerima menurunnya performa fisik-mental seseorang.

“Pertambahan usia dan perubahan fisik, gejala masuk angin, dan mampirnya penyakit seolah hilang saat ulang tahun kelahiran”

Bagi saya yang tumbuh bukan dari kebiasaan party, jarang mendapatkan ucapan ulang tahun karena hidup dalam budaya desa kurang terbiasa. Antara malu dan bangga karena mendapat perhatian ucapan ulang tahun, namun ada pukulan telak dari istri dan anak saya yang mengatakan, “ayah ki ojo ketoro tuwek to.” Padahal masih ada saja yang berkomentar, “kok pancet enom pak.” Rambut-pun sudah merontok dan beruban. Pertambahan usia dan perubahan fisik, gejala masuk angin, dan mampirnya penyakit seolah hilang saat ulang tahun kelahiran. Bagi saya satu sisi bangga dikomentari masih muda, tapi di sisi lain, komentar menua tidak bisa saya hindari. Memang penuh pertentangan.

Baca juga: Tambang Emas Trenggalek, Ora Ritek!

Apakah Harus Minum Anti-penuaan?

Apakah sebaiknya saya minum ramuan anti-penuaan? Sekarang ada banyak metode yang digunakan untuk menyiasati tua. Ada model pendekatan glowingisasi. Cara eksternal melalui perawatan menggunakan aneka kosmetika kecantikan. Ada juga pilihan menggunakan sejenis stem sell, atau metode lain yang lebih modern. Cara tradisionalpun tidak kalah hebohnya. Ada ramuan kuwat, jamu awet muda, jamu singset dan sebagainya. Saya pun kadang coba-coba menggunakan masker ampas kopi, bilasan eco-enzim, dan keisengan dengan latah seolah masuk dalam paparan pesan tersembunyi iklan menolak tua.

Bagi mbah Saijah dan orang lanjut usia lainnya di desa, mereka lebih banyak berurusan dengan perjuangan hidup dan tidak peduli apakah perlu minum ramuan anti-tua. Mereka tenggelam dalam menata penghidupan, berjuang untuk anak-anaknya dan tidak menghiraukan perawatan tubuh. Meski demikian, mereka tidak pernah mau menyerah. Bahkan tidak mengenal ramuan anti penuaan. Mereka seolah tidak merasa tua karena tidak mau dimanjakan oleh anak-anaknya. Sebelum pikun di usia tuanya, tetap tidak mengenal pensiun dan tetap pergi ke pasar. Mbah Saijah adalah contoh dari fenomena tua yang wajib dialami oleh siapa saja meski secara mental tidak mau dianggap tua dengan penurunan performa fisiknya.

Baca juga: Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Di lain sisi mereka juga menerima tuanya sebagai identitas kasepuhan, yakni identitas yang menerima bahwa dia menjadi orang yang dituakan di jajaran anak-kadang (turun) nya. Mereka kadang juga sudah memahami berbagai gangguan kesehatan. Banyak yang berseloroh, “ya saya ini sudah tua, jadi beberapa aktifitasnya tidak lagi seperti dulu. Berobat ke dokter dan dukun alternatif mereka lakukan” Di sini, mereka tetap tidak mengelak atas usia tuanya. Bagi mereka mengenali tua berarti menerima perjalanannya merawat diri dengan aneka literasi perawatan dan aktifitas diri.

Tips Belajar Menua

Leberan ini, saya merenung bahwa menua adalah mutlak, meski secara mental kita mengelak dan sebagian tidak mau pensiuan. Saya seolah tidak lagi berpikir tentang perlunya minum ramuan anti-penuaan. Saya merenungi bahwa fenomena menua adalah soal kesiapan dengan berbagai kondisi tubuh yang terbatas dan bahkan sebagian di antaranya sudah harus menghonsumsi obat untuk menjaga kesehatannya. Lebih dari batas pengalaman menjelang kematian (near-death-experience), tetapi tentang menjalani tua apakah tetap beraktifitas dalam keterbatasan sekaligus menerima beraneka rupa gangguan kesehatan yang sudah menghampiri. Lebaran kali ini adalah belajar tentang menjalani tua, bukan sebagai pengalaman menyiapkan kematian. Tua adalah realitas yang perlu dipelajari.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Apa saja yang perlu disiapkan dari kita semua dalam menjalani penuaan;

“Meski anti-penuaan mampu melambatkan fungsi biologis, tua adalah waktu pasti dan butuh kebijaksanaan diri di tengah melambannya erforma diri.”

Kesadaran tentang performa. Menerima kelambanan fisik adalah realitas yang perlu diterima dan dijalani. Boleh jadi merawat melalui intervensi anti-penuaan dapat memperlambat kerutan kulit, bahkan masih menyisakan tenaganya untuk tetap beraktifias. Tua tetap kita alami. Sebuah hasil penelitian tinjauan sistematis dan meta-analisi menggambarkan persepsi penerimaan diri (self-perception of ageing) positif sangat membantu kesejahteraan psikologis manula (Ho & Fuller-Thomson, 2025; Ugwu & Idemudia, 2025). Ada yang masih dapat beraktifitas (penuaan aktif), tetapi ada yang memilih menjalaninya dengan akfitias ringan di rumah karena tidak lagi ada media bekerja. Mereka minum obat, menjalani gangguan kesehatan dengan beragam cara. Mereka harus menjalaninya, baik fisik yang sehat atau tidak. Meski anti-penuaan mampu melambatkan fungsi biologis, tua adalah waktu pasti dan butuh kebijaksanaan diri di tengah melambannya performa diri.

Kebiasaan fisiologi adalah modal menua. Modal aktifitas fisik dan aktualisasi kerja sebaiknya perlu tempaan sejak usia dewasa. Bagi mbah Saijah yang tidak kenal pensiuan, akfifitas dagang menjadi ruang aktual tanpa batas sehingga tidak ada sindrom paska kerja (post power syndrom). Ada yang tetap berkebun, bertani ringan, atau aktitas lanjutan yang mereka tetap bisa lakukan. Setiap orang perlu menyiapkan kebiasaan fisiologi yang tidak boleh terputus gara-gara istilah pensiun. Jika ada yang kerjanya mengenal pensIun, sebaiknya perlu sejak dini menyiapkan aktifitas yang tidak memutus seketika aktifitas fisiologis (Jiang et al., 2026). Pendekatan bio-psikososial yang mengitegrasikan faktor biologis, psikologis dan lingkungan sosial sangat membantu kualitas hidup menua (Grigoraș et al., 2025). Ini menjadi modal menua yang sehat dan menghindari kekagetan karena kehilangan sirkle yang membikin worthed hilang tak terkendali.

Belajar bersahabat dengan sakit. Saya melihat mereka banyak yang sudah sakit, tetapi mau menjalaninya dengan seimbang. Bagi mereka bersahabat dengan sakit memberikan sinar mengenai penerimaan diri karena mereka ingin tetap menjaga mental dan tubuhnya waras. Perawatan dan kemampuan mengakses layanan kesehatan fisik yang positif memang berimplikasi pada kualitas hidup dan salah satu faktor menua yang sukses (Hu et al., 2026).

“Mereka tetap seharusnya diberi ruang kerja seperti di Jepang. Menua bukan lagi  antri kematian”

Menjaga ruang relasi sosial. Bagi mereka yang sudah menua, bertemu dengan orang lain memberikan kebermaknaan yang menyeimbangkan penuaan mereka lepas dari isolasi sosial. Ada yang aktif di mushola, masjid, klub senam lansia, saling kunjung dan berbagai cerita, dan relasi yang damai dengan anak cucu menjadi medan kesejahteraan mereka sehingga kehadirannya tetap dapat bermakna secara sosial. Riset Jiang et al. (2026) menemukan relasi sosial ini meningkatkan kepuasan hidup lansia. Bahkan  mereka tetap seharusnya diberi ruang kerja seperti di Jepang. Menua bukan lagi  antri kematian.

Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Menua membutuhkan pengertian lingkungan. Para manula membutuhkan dukungan. Hubungan positif dengan anak cucu sebelum menua penting mereka jaga. Hal ini adalah modal agar anak-cucu dan orang dekat kita tetap wellcome terhadap penuaan seseorang. Begitu juga anak-cucu pun perlu belajar menerima dan belajar menjadi pelindung penuaan para orang tua. Dukungan sosial yang positif meningkatkan kualitas penuaan melampaui ramuan anti-penuaan (Grigoraș et al., 2025; Jiang et al., 2026). Termasuk memberi ruang kerja sesuai porsinya adalah bentu dukungan sosial. Ini tentang semesta yang menentukan keberuntungan holistik dari kehidupan komunal kita. Belajar bersama orang yang menua dengan keunikannya turut menjaga kohesi dan kedamaian sebuah keluarga serta bangsa.

Penutup; Menua Bukan Antri Mati

Menua bukan tentang mengantri kematian. Menua ada masa bagi siapa saja. Kita tidak boleh terjebak pada ego dan obsesi bahwa tua seolah bukan atau belum menjadi masa bagi orang-orang yang masih merasa muda. Apalagi dominasi bonus demografi seperti masa spesial bagi generasi produktif mendatang. Melibatkan orang yang sudah menua dalam keseharian hidup ada jalan bagi kesehatan mental holistik bagi sebuah masyarakat. Artinya, menua mengajak mereka tetap merasa hidup dan aktual.

Mari belajar menua, meski kita belum masuk pada masanya.

Daftar rujukan

Grigoraș, G., Ilie, A. C., Turcu, A. M., Albișteanu, S. M., Lungu, I. D., Ștefăniu, R., Pîslaru, A. I., Gavrilovici, O., & Alexa, I. D. (2025). Resilience and Intrinsic Capacity in Older Adults: A Review of Recent Literature. In Journal of Clinical Medicine (Vol. 14, Number 21). https://doi.org/10.3390/jcm14217729

Ho, M., & Fuller-Thomson, E. (2025). Reclaiming wellness: Key factors in restoring optimal well-being in the Canadian Longitudinal Study on Aging. PLOS ONE, 20(9 September). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0329800

Hu, E., Wang, H., Yao, J., Liao, M., & Chen, W. (2026). Impact of digital health interventions on quality of life and mental health in older adults with chronic diseases: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Aging, 6. https://doi.org/10.3389/fragi.2025.1737277

Jiang, J., Cheong, A. T., Sazlina, S. G., Lee, K., Chu, D., Yang, L., Li, S., Wu, S., Shunmugam, R. H., & Xu, H. (2026). Levels of active ageing and its influencing factors among older adults: a scoping review. BMC Public Health. https://doi.org/10.1186/s12889-025-25820-4

UgwHu, L. E., & Idemudia, E. S. (2025). Perceptions of Ageing and Psychological Well-Being in Older Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Research on Aging. https://doi.org/10.1177/01640275251391173

Tambang Emas Trenggalek, Ora Ritek!

Kampusdesa.or.id-Upaya mengedukasi masyarakat, khsususnya generasi muda lewat film dipandang lebih efektif karena dampak dari komunikasi audio-visual jauh lebih terasa bagi masyarakat. Karena itulah kehadiran film yang digarap oleh anak-anak muda dari desa juga punya dampak yang amat besar dan luas bagi kedaran masyarakat di pedesaan. Film ini merefleksikan respon masyarakat mengenai eksplorasi tambang emas Trenggalek yang penuh kontroversi.

Baca juga: Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Hal itu disampaikan oleh Nurani Soyomukti, salah satu pemantik diskusi dalam acara nontin bareng (Nobar) Film dokumenter yang meraih prestasi sebagai film Dokumenter Panjang Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Penulis dan pegiat literasi Trenggalek tersebut bukan hanya memberikan apresiasi dan memuji kualitas film documenter yang disutradarai oleh Alvina NA (27), yang juga warga Trenggalek, tepatnya Desa Pule, Kecamatan Pule.

Film dan Suara Masyarakat

“Ini adalah film dokumenter bertema lingkungan hidup terbaik yang pernah saya tonton, menguak isu yang menjadi jantung kapitalisme sebagai sistem ekonomi penjajahan yang terus berlangsung dan film ini berhasil menjadi alat dan media pengorganisiran, meningkatkan kesadaran dan perlawanan warga Trenggalek terkait tambang Emas yang akan merusak alam Trenggalek”, tegas alumni FISIP Universitas Jember.

Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Dalam acara yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Trenggalek ini, Nurani juga mengulas sejarah munculnya film-film kritis yang tidak muncul begitu saja. Peran para pekerja film yang kritis pada level global dan nasional, juga mempengaruhi semangat para pekerja film lokal. Nurani menyebut analisa Ed Rampell yang menulis sebuah esai di Sosialist Review yang berjudul “Is Hollywood Turning to the Left?”

“Menurut tulisan itu, film-film radikal dan kritis terhadap kebijakan pemerintah AS bermunculan, terutama pasca black September, lalu juga berpengaruh terhadap para sineas di Indonesia yang bahkan mengorganisir diri memajukan peran film untuk tema-tema kemanusiaan,” kata Nurani. Ia menyebut era media baru memungkinkan anak-anak muda di manapun tempatnya, termasuk di desa untuk membuat film-film sebagai media menyuarakan pikiran mereka dengan kualitas sinematografis yang tak kalah berkualitas dengan film-film dari kota.

Sementara itu, Alvina sebagai sutradara film tersebut memamaparkan bagaimana ide pembuatan film itu dan bagaimana pengalaman yang ia dapat selama proses penggarapannya. Film yang diproduksi oleh tim kolaborasi dari berbagai komunitas, seperti Serikat Suket yang bergerak di bidang kesenian, serta Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), ini memang dimaksudkan secara tegas sebagai sarana edukasi untuk menguak dampak buruk tambang emas jika nantinya terjadi eksploitasi alam. Film ini ingin mendokumentasikan bagaimana penolakan warga itu nyata dan mereka punya alasan yang lebih masuk akal sesuai pandangan mereka tentang pentingnya ruang hidup yang lebih penting dari tambang emas.

Tambah Emas dan Suara Penolakan Perempuan

Ketika ditanya moderator tentang yang paling berkesan dari proses penggarapan film ini, Vina merasa tersentuh dengan ibu-ibu yang ketika diwawancarai mengungkapkan penolakannya terhadap tambang emas Trenggalek dalam bahasa mereka sendiri. “Pada saat mereka sedang berkumpul sesama perempuan dan mereka membicarakan dampak tambang emas yang mengancam ruang hidup mereka, itu hal yang menyentuh sesama perempuan yang memang merasakan dampaknya yang lebih kuat”, tutur alumni Fakultas Pertanian Universitas Jember itu.

Bedah film. Nurani Soyomukti (kiri) menjadi narasumber bedah film bersama PC PMII Trenggalek

Lebih jauh, Vina mengatakan bahwa ada aspek gender dari dampak tambang emas yang akan merusak alam. Menurutnya, ketika air langka nantina gara-gara gunung dan bukit habis ditambang, pihak perempuanlah yang akan merasakan langsung yang bersentuhan dengan keseharian mereka. “Bayangkan, ketika sedang menstruasi, lalu butuh air untuk membersihkan tubuh, lalu harus pakai air galon yang beli karena air dari tanah terpapar limbah atau langka, pasti kaum perempuan secara perasaan akan yang paling kuat pengalamannya”, tutur jurnalis Kabar Trenggalek itu [Trenggalek, 15 Maret 2026.].

Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Kampusdesa.or.id–“Kebahagiaan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya!”, tulis Kahlil Gibran dalam ‘The Prophet’. Siapakah yang mampu membuka kedok atau topeng jiwa itu kalau bukan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran kita?

Kebahagiaan atau kesedihan itu adalah respon terhadap situasi dan kondisi. Situasi disusun oleh materi-materi yang saling berhubungan. Ada kenyataan. Ada fakta. Fakta material itu bisa berupa benda (barang). Materi  itu bisa hal-hal kepemilikan, misal uang, rumah atau barang-barang lainnya.

Materi itu ada yang terlihat berdiri sendiri, ada juga yang terlihat saling berhubungan. Manusia yang punya kesadaran lebih tinggi biasanya lebih mampu menjelaskan hubungan-hubungan itu, baik hukum sebab akibat maupun hukum-hukum kehidupan lainnya.

Ilmu tentang hubungan antara materi-materi dalam kehidupan dinamakan materialisme-dialektika. Tapi jangan salah paham bahwa  ini adalah ilmu yang membuat manusia matre atau gila harta. Justru sebaliknya, ia membuat manusia bahkan bisa “bunuh diri kelas”—seperti Tan Malaka yang rela keluar dari kenyamanan kelas bangsawan untuk menuju tokoh berlawan yang hidupnya susah karena melawan penjajah, jadi buron dan harus sering sembunyi, serta tak jarang mengalami kesulitan hidup.

Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Pemahaman tentang hukum sebab akibat dalam hidup ini bisa dikembangkan lebih jauh. Anak kecil mungkin tahu bahwa uang bisa ditukar dengan permen. Tapi dia mungkin belum tahu bagaimana dampak sosial-budaya dari mempertukarkan harga diri dengan uang.

Rakyat Indonesia umumnya mungkin tahu bahwa nilai suara mereka bisa ditukar dengan uang saat pemungutan suara dalam Pemilu, Pilkada, atau Pilkades. Tapi mungkin jarang yang sampai pada level berpikir tentang hakekat politik yang menurunkan derajat dan martabat individu pemilih. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah terlarang oleh hukum.

Dunia Material

Dunia ini material. Manusia punya otak untuk menjelaskan dunianya. Otak adalah organ tubuh yang paling seksi—menurut saya. Dan kata Kahlil Gibran lagi, “dunia adalah surga dengan pikiran kita sebagai pintu gerbangnya!”

Tanpa pikiran, dunia mungkin bagi orang yang gagal memenuhi nafsu dan kehendaknya, adalah neraka. Tapi belum tentu bagi para pencari kebahagiaan yang dibantu oleh akal. Akal, kata Imam Al-Ghazali, adalah salah satu alat untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Akal adalah sarana penyucia jiwa (tazkiyatun nafs).

Orang (manusia) itu juga materi. Manusia tentu saja adalah materi yang punya perasaan dan pikiran. Ada tubuh, ada pikiran.  Nah, pikiran inilah yang merespon dan membangun pemahaman tentang materi. Materi di luar tubuh diterima oleh indra, lalu indra mengirimkannya ke otak. Di otaklah materi dan kenyataan dipahami. Munculah perasaan, termasuk perasaan bahagia atau perasaan sedih.

Ya, perasaan sangat tergantung pada pikiran dan cara berpikir. Cara merasa tergantung pada cara berpikir.

Kehadiran materi di hadapan kita tidak secara otomatis langsung membuat kita bahagia karena pikiran akan meresponnya dengan berusaha untuk memahaminya, dan memaknainya

Di sinilah kenapa kemudian ada saja yang bilang bahwa orang kaya belum tentu bahagia, dan orang miskin belum tentu susah. Artinya, kehadiran materi di hadapan kita tidak secara otomatis langsung membuat kita bahagia karena pikiran akan meresponnya dengan berusaha untuk memahaminya, dan memaknainya.

Baca juga: Dialog Hindu Muslim; Ada dalam Kearifan Jedong

Misal, ada orang yang tiba-tiba datang untuk memberi anda uang. Tidak otomatis akan langsung menghadirkan rasa bahagia. Masih muncul pertanyaan dalam pikiran. Akan muncul pertanyaan, untuk apa uang itu diberikan? Apa alasannya? Dari mana uang itu didapat.

Seorang istri yang tiba-tiba diberi uang oleh suaminya dengan jumlah yang berbeda dari biasanya pun juga bertanya. Misal, tiba-tiba suaminya memberikan uang banyak. Si istri bertanya, “dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini, Mas?”

Bayangkan jika si suami menjawab begini, “kamu tak usah tanya dari mana  uang sepuluh juta itu aku dapat. Yang penting kamu menerimanya, soal dari mana aku mendapatkannya kamu tak perlu tahu!”

Dugaan saya, si istri malah sedih. Bahkan bisa jadi ia menolak untuk menerima uang itu jika belum ada penjelasan yang menyatakan bahwa duit itu didapat dengan cara yang baik. Tapi bisa juga sebaliknya, si istri bisa cuek saja tentang asal-usul duit itu—asal suaminya memberi uang, ya itulah yang bisa membuatnya bahagia.

Seorang laki-laki pejabat bisa mendapatkan banyak uang dan istrinya yang ibu-ibu sosialita juga tak peduli bagaimana suaminya mendapatkan uang itu. Ia bahagia sepanjang menjadi istri seorang pejabat yang pendapatannya lumayan besar, baik dari gaji pokok, tunjangan, honor, dan entah dari mana lagi asalnya. Namun suatu saat, ternyata suaminya terciduk petugas pemberantasan korupsi. Lalu suaminya terjerat kasus hukum, dan akhirnya divonis bersalah, lalu masuk penjara selama beberapa tahun.

Pikiran dan Makna Hidup

Banyak kisah hidup yang ternyata kalau pikiran kita mampu menjangkaunya, akan bisa memberikan pemaknaan kita terhadap hidup—terhadap posisi dan peran, terhadap kemanfaatan sebagai manusia. Berpikir mendalam dan luas, terkait hubungan-hubungan antar manusia,  tentang manusia dengan tuhannya, bisa menghadirkan cara pandang baru tentang kebahagiaan.

Memahami bagaimana pikiran dan perasaan bekerja, bagaimana memahami alur hidup, hukum-hukumnya, kontradiksi (baik kontradiksi pokok atau kontradiksi khusus, atau mutasi kontradiksi), dengan tingkat pendalaman yang lebih tinggi, akan bisa menambah cara pandang kita tentang kebahagiaan dan kesedihan. Orang dengan tingkat pengetahuan (ma’rifat) yang lebih tinggi, bisa jadi cara menemukan kebahagiaannya akan jauh berbeda dengan orang yang tidak berpikir—apalagi orang yang hanya tahu kalau keinginannya terpenuhi seneng, dan kalau keinginannya gagal akan marah.

Baca juga: KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Kebiasaan merasakan sesuatu itu dibentuk sejak lahir dan tumbuh, sepanjang hidup dan sepanjang ia mengalami dan menjalani keadaan.

Manusia dengan Keingingan

Dalam diri itu manusia itu yang nyata adalah kebutuhan dan keinginan. Bagaimana keinginan-keinginan ini bisa dipenuhi (atau tidak) dan bagaimana ia membiasakan diri dalam menghadapi gagal atau berhasilnya keinginan dalam perjalanan hidup. Itulah yang akan membentuk bagaimana ia merespon kenyataan dan keadaan yang dihadapi.

Sejak bayi hingga tumbuh menjadi orag dewasa, kita selalu belajar membiasakan perasaan dan membentuk karakter dari pembiasaan perasaan dan pikiran kita akibat dari cara kita merespon keinginan dan kebutuhan.

Saya pernah membaca buku Sigmund Freud yang berjudul  “Civilization and Its Discontents”. Dalam buku itu, Freud jelas-jelas mendiskusikan bagaimana peradaban manusia terbentuk dari cara-cara makhluk yang punya kebutuhan dan keinginan ini belajar mengalami kegagalan-kegagalan dalam mewujudkan keinginan. Sejak bayi hingga tumbuh menjadi orag dewasa, kita selalu belajar membiasakan perasaan dan membentuk karakter dari pembiasaan perasaan dan pikiran kita akibat dari cara kita merespon keinginan dan kebutuhan.

Oya, ini pertanyaan untuk para Jomblo. Saat remaja kamu pernah ‘nembak’ cewek lalu ditolak? Dan berapa kali kamu mengalaminya hingga akhirnya hingga saat ini kamu tak juga mendapatkan jodoh. Bagaimana kamu menyalurkan kegagalan-kegagalan, menyalurkan kebutuhan dan keinginan yang ingin dipenuhi. Atau memakai kepuasan dan pemuasan pengganti?

Baca juga: Broken Strings dalam Sebait Jiwa dan Sastra

Saya ingin mencontohkan kisah saya sendiri: Awal kelas 2 SMA saya  “nembak” cewek. Di hari sabtu. Hari senin dijawab. Cinta saya  ditolak. Bagaimana saya mengatasi perasaan itu?—ini harus dianalisa. Caranya, ya cari kepuasan dan pemuasan pengganti. Ya menyublimasi keinginan. Ya menganalisasi energi ke bentuk lain.

Nama gadis itu adalah “Rino Fatmasari”—saya ‘tembak’ dengan puisi berjudul “Bunga Fatma”

Misalnya: Saya langsung lari ke dunia puisi. Dunia kata-kata. Sebenarnya, aku “nembak” cewek itu  juga lewat puisi. Nama gadis itu adalah “Rino Fatmasari”—saya ‘tembak’ dengan puisi berjudul “Bunga Fatma”. Jadi, mulainya memang sudah berbau puisi. Dan pelariannya ya puisi. Jadi amat mudah.

Sejak kecil saya  terbiasa menekan kebutuhan dan keinginan. Biasalah kita-kita, mungkin seperti Anda dan mereka yang lahir dari anak kelas bawah—apalagi aku juga dari keluarga yang agak broken home. Sudah terbiasa ingin makan enak tidak bisa dipenuhi. Sudah terbiasa, di masa kecil, misalnya ingin  punya banyak mainan kayak anaknya tetangga dan saudara yang kaya, tidak bisa beli. Terbiasa tidak ekspresif. Terbiasa harus sering ngalah pada keadaan.

Jika keinginan tak tercapai tidak kecewa berat, tetapi langsung ada harapan lain. Ada hiburan. Ada pengalihan. Ada penguapan (sublimasi). Semua itu tergantung pada bangunan-bangunan dasar dalam jiwa (psikis) seseorang.

Tapi beruntunglah ada orang yang saat-saat mengalami kegagalan-kegagalan keinginan itu, tidak terbangun bentukan psikis yang berbahaya bagi perkembangan. Artinya, jika keinginan tak tercapai tidak kecewa berat, tetapi langsung ada harapan lain. Ada hiburan. Ada pengalihan. Ada penguapan (sublimasi). Semua itu tergantung pada bangunan-bangunan dasar dalam jiwa (psikis) seseorang.

Baca juga: Broken Strings dalam Sebait Jiwa dan Sastra

Ada juga orang yang, misalnya, keinginan dan kebutuhannya gagal, langsung melihat jalan gelap, tidak ada harapan. Seakan semua habis. Dan hal itu memunculkan keputusan untuk mengakhiri hidup. Sebab hidup dilihat sebagai sebuah kegelapan, yang baginya tak ada lagi sesuatu yang diharapkan. Makanya, salah satu cara kita mempertahankan hidup itu adalah adanya harapan yang ada di pikiran.

Kebahagiaan dan Kesedihan Ditentukan Pikiran

Jadi, di sini, kebahagiaan dan kesedihan itu sekali lagi lebih banyak ditentukan oleh situasi pikiran. Orang yang pikirannya sempit, akan lebih banyak putus asa. Orang yang pikirannya luas, terbuka lebar baginya untuk mencari  berbagai jenis kebahagiaan. Karena harapan-harapan dalam pikirannya akan membuat ia melihat kemungkinan-kemungkinan  munculnya apa-apa hal-hal yang diinginkan.

Ia melihat peluang adanya hal-hal baru yang menarik minat dan keinginan. Bahkan pikiran yang berkembang luas bisa memberi pemaknaan baru terhadap hal-hal yang jarang diinginkan oleh orang-orang yang jarang berpikir. Munculnya referensi-referensi baru terkait suatu hal, benda dan bentuk kegiatan, akan membuat kita menemukan banyak hal yang membuat kita bahagia.

Belajar di sini bisa berarti membuka wawasan-wawasan dan pemahaman baru. Bisa juga berupa proses memperbaharui perasaan dan  pikiran kita

Keinginan, minat, tujuan hidup, dan kemampuan diri dalam memaknai realitas akan terus berkembang ketika kita terus mengembangkan pikiran kita dan bahkan terus belajar. Belajar di sini bisa berarti membuka wawasan-wawasan dan pemahaman baru. Bisa juga berupa proses memperbaharui perasaan dan  pikiran kita, membangun suatu fondasi psikis  agar kita tidak gampang kecewa, sedih, atau marah.

Kita tidak marah karena kita tahu kenapa kita gagal, dan kita bisa menjelaskan kenapa hal itu gagal. Kita tidak kecewa karena kita tahu bahwa sesuatu itu terjadi tanpa sebab. Kita  memilih suatu dan punya tujuan atau target yang berbeda dengan orang lain karena punya alasan kenapa kita memilih hal  itu. Dan kita akan terus mampu berjuang untuk menggagalkan hal-hal yang tidak membuat kita bahagia.*

Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Kampusdesa.or.idPeringatan Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day 2026 yang mengusung tema Give to Gain bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Tema global ini membawa pesan timbal balik yang jelas bahwa apa yang kita berikan hari ini akan menentukan apa yang kita dapatkan di masa depan. Dalam ranah pendidikan peringatan ini memanggil kita untuk melakukan refleksi tajam terhadap sebuah ironi besar yang sedang terjadi di depan mata kita setiap hari.

Saat ini umat Islam menjalankan ibadah puasa dan berbagai program kebaikan digulirkan. Salah satu program nasional yang sedang berjalan adalah Makan Bergizi Gratis yang didistribusikan ke sekolah dan pesantren. Tujuan program ini sangat baik yaitu memberikan asupan gizi yang layak bagi para murid. Namun pelaksanaannya di lapangan justru memicu masalah baru yang mengancam masa depan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sebagai pemasok utama terus membanjiri lingkungan pendidikan dengan kemasan plastik sekali pakai dari makanan kering.

Kontradiksi Sekolah Adiwiyata

Kita menghadapi kenyataan bahwa institusi pendidikan yang seharusnya menjadi pusat keteladanan justru berubah menjadi penyumbang sampah plastik dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah kontradiksi yang menuntut tindakan nyata dan tidak bisa sekadar diselesaikan dengan jargon atau slogan.

Panduan tersebut memandatkan agar pendidikan perubahan iklim bermuara pada aksi nyata untuk memecahkan permasalahan di lingkungan sekolah dan membentuk gaya hidup rendah karbon.

Pemerintah sebenarnya telah merespons isu krisis iklim dengan menerbitkan Panduan Implementasi Pendidikan Perubahan Iklim untuk Satuan Pendidikan dan Pemangku Kepentingan pada tahun 2024 melalui Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan. Dokumen ini secara tegas mengarahkan satuan pendidikan untuk membangun kesadartahuan dan kapasitas seluruh warga sekolah dalam merespons krisis lingkungan. Panduan tersebut memandatkan agar pendidikan perubahan iklim bermuara pada aksi nyata untuk memecahkan permasalahan di lingkungan sekolah dan membentuk gaya hidup rendah karbon.

Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Namun panduan resmi tersebut seolah kehilangan tajinya ketika berhadapan dengan realita logistik harian. Lomba Sekolah Adiwiyata dan berbagai kompetisi kepedulian lingkungan terus digelar secara meriah. Sayangnya semua itu sering kali hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Gelar pahlawan lingkungan menjadi tidak bermakna ketika sekolah masih memberikan izin masuk bagi ribuan kemasan plastik sekali pakai setiap harinya tanpa ada skema pengelolaan atau pengurangan yang terukur. Kita mengajarkan teori kelestarian alam di dalam kelas tetapi di luar kelas murid melihat pembiaran terhadap perusakan lingkungan atas nama kepraktisan program gizi.

Untuk membedah kebuntuan ini kita perlu melihat akar masalahnya dari sudut pandang yang lebih mendalam. Solusi spiritual dan moral sebenarnya telah dipaparkan dengan sangat bernas dalam webinar SIKURMA (Sinau Kurikulum Ma’arif) sesi 14 yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif F PCNU Jombang pada bulan Ramadan 1447 H ini. Dalam forum tersebut materi tentang Implementasi Ekoteologi di Satuan Pendidikan dengan Pendekatan KBC disampaikan oleh pemateri Hj. Maftuhah Mustiqowati. Paparan ini memberikan pijakan yang sangat kuat bagi kita untuk mengevaluasi perilaku konsumtif di sekolah.

Ekoteologi dan Tanggungjawab Pendidikan

Ajaran Al-Qur’an khususnya Surat Al Baqarah ayat 30 yang menetapkan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas merawat bumi bukan merusaknya.

Dalam Webinar tema Ekoteologi ini menegaskan pemahaman agama yang melihat bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga karena merupakan amanah langsung dari Tuhan. Landasan ini berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an khususnya Surat Al Baqarah ayat 30 yang menetapkan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas merawat bumi bukan merusaknya.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Dari perspektif ekoteologi membuang sampah plastik sembarangan dan mendukung sistem distribusi yang merusak alam bukanlah sekadar pelanggaran tata tertib sekolah. Tindakan tersebut adalah sebuah dosa ekologis dan bentuk pengingkaran terhadap ajaran agama. Ramadan adalah bulan yang melatih pengendalian diri. Apabila kita tidak mampu mengendalikan timbulan sampah dari makanan yang kita konsumsi maka nilai ibadah kita patut dipertanyakan. Kita memberi makan raga para murid tetapi di saat bersamaan kita meracuni bumi yang kelak akan menjadi tempat mereka hidup dan berkembang. Ini adalah pelanggaran moral yang harus segera dihentikan.

Dalam konteks inilah tema Give to Gain pada IWD 2026 menemukan urgensinya. Perempuan memiliki peran paling depan sebagai inisiator perubahan. Sebagai ibu pendidik pengelola sekolah dan pemangku kebijakan, perempuan memiliki kekuatan untuk mengoreksi sistem yang salah arah ini. Perempuan terbiasa mengelola kehidupan dan memastikan keberlanjutan ruang hidup keluarganya. Insting merawat ini harus diperluas ke ranah kebijakan publik dan manajemen sekolah.

Perempuan Bersuara

Perempuan di sektor pendidikan harus mengambil sikap tegas. Kita tidak boleh diam dan menerima begitu saja kiriman logistik yang berpotensi menjadi limbah abadi. Semangat Give to Gain menuntut kita untuk memberikan suara penolakan terhadap kemasan plastik sekali pakai agar kita mendapatkan masa depan lingkungan yang sehat.

Pihak sekolah harus mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk merevisi standar operasional pengemasan mereka. Gunakan wadah guna ulang yang bisa dicuci dan dipakai kembali.

Terdapat beberapa langkah solutif yang bisa segera dieksekusi oleh satuan pendidikan. Pertama pihak sekolah harus mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk merevisi standar operasional pengemasan mereka. Gunakan wadah guna ulang yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Pemerintah dan penyedia jasa tidak boleh menyelesaikan urusan gizi dengan menciptakan bencana ekologi di sekolah.

Kedua jadikan panduan perubahan iklim tahun 2024 dan materi Ekoteologi dari webinar SIKURMA sesi 14 LP Ma’arif PCNU Jombang tersebut sebagai kurikulum nyata yang dipraktikkan langsung. Integrasikan kedua dokumen tersebut ke dalam kebijakan harian pesantren dan sekolah. Murid harus diajak membedah masalah sampah ini secara kritis dan dilibatkan dalam mencari jalan keluarnya.

Baca juga: Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI

Ketiga lakukan audit sampah harian secara terbuka. Biarkan murid mencatat dan melihat sendiri jumlah sampah yang dihasilkan oleh komunitas mereka. Fakta visual ini akan menjadi metode pembelajaran yang jauh lebih efektif daripada ceramah panjang lebar di dalam kelas. Kesadaran akan tumbuh ketika murid menyadari bahwa setiap tindakan kecil mereka berdampak langsung pada kelestarian rumah bersama.

Jika institusi pendidikan gagal menyelaraskan program kesehatan dengan kelestarian lingkungan maka kita sedang mendidik generasi yang rapuh.

Pendidikan yang sejati selalu berorientasi pada masa depan. Jika institusi pendidikan gagal menyelaraskan program kesehatan dengan kelestarian lingkungan maka kita sedang mendidik generasi yang rapuh. Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Mari kita wujudkan makna Give to Gain melalui tindakan nyata. Berikan ketegasan dalam memegang prinsip kelestarian alam hari ini agar kelak peradaban kita mendapatkan generasi murid yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia dalam memperlakukan bumi.

Tindakan nyata adalah bukti dari ilmu yang bermanfaat. Mari bersikap tegas menolak kerusakan dan jadilah pelopor perbaikan lingkungan mulai dari sekolah kita sendiri.

Dialog Hindu Muslim; Ada dalam Kearifan Jedong

Kampusdesa.or.idBagaimana masyarakat dapat berbagi ruang dalam menjalankan agama yang berbeda ditengah keragaman kepentingan upacara hari raya dua agama yang berdekatan. Bahkan nyaris satu agama ingin merayakan dengan gebyar, agama lainnya butuh ketenangan. Begitu sebaliknya. Dua kontradiksi dengan kebutuhan yang bertolak belakang. Jika berpikir ekstrem dengan dorongan laten masing-masing agama, situasi tersebut akan menimbulkan kepentingan yang melahirkan berdebatan dan keinginan untuk mendapatkan keistimewaan satu dengan lainnya.  Kami harus unggul karena ini menjalankan perintah agama. Hari raya harus meriah dan siapapun tidak boleh melarang. Pada pihak lain, kami juga butuh kekhusuk’an agar ibadahnya sempurna. Dua pertentangan ini sangat potensial menjadi tarik-ulur kepentingan dan bisa menjadi konflik di masyarakat.

Jedong dengan warga yang beragam, yakni jumlah umat Hindu yang banyak, Kristiani, dan juga umat Muslim yang sudah merasa mayoritas, mereka mampu melampaui sekat kepentingan tersebut.

Jedong dengan warga yang beragam, yakni jumlah umat Hindu yang banyak, Kristiani, dan juga umat Muslim yang sudah merasa mayoritas, mereka mampu melampaui sekat kepentingan tersebut. Mereka berkumpul di rumah Kepala Desa Jedong, Wagir, Kabupaten Malang (Rabu, 28 Januari 2026) duduk bersama untuk memahami situasi tersebut dan memaknainya sebagai rasa tanggungjawab bersama. Bahwa dua kepentingan yang kontradiksi tersebut justru membutuhkan kedewasaan jalan keluar.

Siapa yang Harus Mengalah dalam Hidup Toleran

Al-kisah,  di akhir ramadhan bagi umat muslim dan di awal Nyepi bagi umat Hindu adalah awal bincangnya. Di akhir ramadhan, umat muslim membutuhkan keramaian dengan tradisi takbiran dan speaker masjid nyaring sepanjang hari. Sementara di hari itu, umat Hindu sedang ibadah Nyepi yang membutuhkan ketenangan. Di waktu itu, umat muslim tentu sedang memeriahkan akhir puasa sebagai waktu bebas dan disebut sebagai kemenangan. Tentu sebagai mayoritas, mengendalikan takbiran menjadi rumit karena setiap orang sudah banyak mengikuti tradisi takbir keliling. Dentuman mercon merajalela, dan suara soundsystem menjadi semarak jelang idul fitri. Bagi umat Hindu yang butuh ketenangan sebagai waktu Nyepi menjadi dilematis. Sebuah cara sulit bagi masyarakat yang harus berbagi ruang sunyi dan ruang ramai, baik Hindu dan Muslim.

Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang

Bagi umat Hindu, mereka merayakan kirab ogoh-ogoh, yang ramai, membutuhkan musik terbuka di malam hari ketika umat muslim sedang membutuhkan kekhusukan ibadah puasa dan sholat tarawih. Ogoh-ogoh menjadi simbol bagi dunia kejahatan (Bhuta Kala)  yang perlu  ditunjukkan ke masyarakat. Perayaan publik ini di Jedong juga tidak bisa diindahkan dan sudah menjadi tontonan banyak orang. Meniadakan upacara ogoh-ogoh seperti mereduksi keyakinan  dan agama menjadi tidak lengkap.  Umat Hindu juga menghadapi dilema. Meniadakan upacara tidak mungkin, tapi merayakan berhadapan dengan dibutuhkannya etika menghormati kekhusukan ibadah puasa dan  tarawih.

Siapa yang mengalah? Ternyata masing-masing perwakilan tokoh Muslim dan Hindu memiliki keputusan dan penghormatan sebagai jalan tengah dilema.  Bagi umat Hindu, mereka mengambil sikap jalan tengah. Tidak meniadakan sama sekali kirab ogoh-ogoh. Salah satu tokoh umat Hindu menyampaikan, “kami merasa kebingungan, tetapi kami tetap mengupayakan adanya cara merayakan dan menghormati ibadah puasa umat muslim.” Ogoh-ogoh di bulan  puasa (dua hari sebelum idul fitri) tetap kami lakukan tanpa soundsystem besar, tetapi menggunakan kentongan. Mereka hanya menggunakan soundsystem di jalur terakhir pemberhentian, yakni di lapangan, karena membutuhkan suara besar agar dapat menjangkau para peserta perayaan. Ada cara baru untuk menghormati umat muslim yang sedang khusu’ puasa.

Baca juga: Gathering Harmoni Lintas Suku dan Iman Digelar di Balewiyata

Bagi umat muslim, melalui tokoh agamanya menyampaikan untuk menghormati Nyepi. Salah satunya adalah mengondisikan agar takbiran dan speaker tempat ibadah dapat dikondisikan tidak mengganggu. Mereka mengordinasikan mushola dan masjid  menurunkan suara speaker (speaker dalam) dan menata agar jalur takbiran tidak melintasi jalur umum (saat lewat speaker takbiran dimatikan) di Jedong. Bagi tokoh muslim, mereka perlu menghargai dan menghormati perayaan Nyepi  (ogoh-ogoh dan hari nyepi-berdiam di rumah) menjadi perhatian penting .

Mengimajinasikan Toleransi Beragama

Kehadiran identitas agama lain di sekumpulan kehidupan masyarakat yang berbeda memerlukan cara pandang orang lain. Penghilatan kehadiran kelompok agama yang berbeda meniscayakan adanya cara pandang kedalam dan keluar. Kedalam membutuhkan pelayanan ego kolektif dalam menunjukkan kehadiran entitas agama sendiri yang tidak bisa dipungkiri telah ada sebagai tradisi perayaan. Sebuah konsekuensi kepuasan kolektif, namun ketika entitas lain juga kentara besar, maka memandang kehadiran entitas lain membutuhkan penerimaan eksternal.  Ketika cara pandang tersebut mendorong keterbukaan, maka meniadakan entitas kelompok lain menjadi beban komunitas agar tidak terjadi persilangan konflik. Sebentuk cara pandang keluar menjadi bagian dari pengertian terbuka. Di sinilah bahwa menerima kelompok lain yang mengada dalam sebuah desa mendorong perlunya menerima pengakuan kehadirannya untuk menghindari konflik yang saya sebut sebagai pedulinya the others perspective.

Ketika cara pandang tersebut mendorong keterbukaan, maka meniadakan entitas kelompok lain menjadi beban komunitas agar tidak terjadi persilangan konflik.

Dalam pada itu, perdamaian lebih diutamakan daripada memaksakan sentimen agama dan kepuasan terhadap perayaan hari raya masing-masing agama. Pada kenyataannya, ketika para tokoh di Jedong masing-masing berkehendak melihat kehadiran kelompok lain yang tidak bisa diabaikan, maka kepentingan kelangsungan kerukunan sebuah desa mampu mengerem (mengendalikan) sentimen dan kepuasan ego kelompok agama. Artinya, kepentingan menjaga perdamaian yang lebih besar sebagai nilai menghindari konflik yang berarti, para tokoh agama merasa penting mengelola sharing ruang publik keagamaan. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dalam mengembangkan kesepakatan masa depan. Mereka kemudian menekan agar ekspresi keagamaan minimal dapat dikurangi dan bahkan disharingkan demi mencapai pembagian kenyamanan bersama, meskipun tidak sepenuhnya memenuhi kepentingan utuh keberagamaannya.

Baca juga: Perempuan dan Kerja Toleransi

Toleransi Beragama; Mengedepankan Cara Bijaksana

Menjaga konflik yang berarti menjadi perhatian dan mereka mengedepankan cara bijaksana. Salah seorang dari mereka mengatakan, jika ada umat mereka ternyata dianggap mengganggu, maka jangan menegur mereka yang berpotensi menimbulkan ketersinggungan. Biarlah tokoh agama sendiri yang mewakili menegur mereka dengan bahasa moral keagamaannya. Ini menunjukkan bahwa cara bijaksana adalah media yang penting dalam menjaga imajinasi toleransi beragama. Upaya menciptakan konflik harus diwaspadai dan moralitas yang melahirkan stimulus konflik perlu dikelola oleh kelompok agama masing-masing.

Nyepi ini tentang kami yang harus mampu mengendalikan diri. Keluasan Nyepi terletak pada kekhusu’an untuk benar-benar sepi dari segala ego diri.

Bahkan bagi mereka, jika memang itu tidak bisa dipenuhi dan masih ada riak dan keramaian di ruang publik, mereka lebih mengutamakan kebijaksanaan diri. Seorang pemuka Hindu mengatakan, bahwa Nyepi sebenarnya bukan tentang mengatur dan mengarahkan orang lain untuk menghormati, apalagi mengistimewakan pengharapan penghargaan atas ibadah Nyepi. Ibarat seorang muslim yang berpuasa, tetapi memaksa orang lain untuk mati-matian menghormati puasanya.  Mereka mengatakan, bahwa Nyepi ini tentang kami yang harus mampu mengendalikan diri. Keluasan Nyepi terletak pada kekhusu’an untuk benar-benar sepi dari segala ego diri.  Oleh karena itu, mereka akan kembali kepada benar-benar totalitas untuk tidak tergantu oleh gangguan keramaian. Toleransi beragama menempatkan kesadaran diri sebagai kunci damai.

Broken Strings dalam Sebait Jiwa dan Sastra

Kampusdesa.or.id — Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat Indonesia. Telah dirilis pada 10 Oktober 2025, memoar ini berfokus pada pengalaman pribadi penulis sebagai korban child grooming.  Kejadian ini dialami 15 tahun yang lalu saat ia masih berumur 15 tahun. Fenomena child grooming sangat rentan terjadi di lingkungan kita, terutama terjadi pada anak di bawah umur. Inilah yang menjadi alasan buku ini perlu dibedah melalui beberapa perspektif dan dijadikan kajian sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Kampus Desa Indonesia berkolaborasi dengan komunitas Ruwang Buku dan Rumah Budaya Ratna menginisiasi kegiatan bedah buku “Broken Strings” dalam prespektif psikologi dan sastra. Kolaborasi ini mendatangkan 2 pakar, Yusuf Ratu Agung, Dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan M. Anwar Mas’adi, Dosen Fakultas Humaniora di kampus serupa. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Budaya Ratna dan bersifat umum. Peserta yang hadir hampir dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pekerja, aktivis literasi maupun aktivis sosial yang berada di kota Malang.

Psikologi dan Manipulasi Kekerasan

Dalam sudut pandang psikologi, Yusuf Ratu Agung menyampaikan bahwa “Child grooming sering tidak dimulai dari kekerasan yang kasat mata, melainkan dari gaslighting yang sangat subtil. Pelaku perlahan membuat korban meragukan perasaan, ingatan, dan penilaiannya sendiri. Setiap konflik dibalikkan seolah korban yang berlebihan, sensitif, atau selalu salah. Dalam jangka waktu tertentu, korban belajar untuk menyalahkan diri sendiri atas hampir semua hal dan mulai bergantung secara emosional pada pelaku sebagai satu-satunya sumber validasi dan kebenaran.” 

Baca juga: KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Lebih lanjut lagi, Agung menekankan bahwa “Pada fase awal, hubungan kerap terasa sangat manis melalui love bombing perhatian intens, janji masa depan, dan rasa ‘dipilih secara istimewa’. Fase ini sering menutupi red flags penting, seperti pembatasan relasi dengan keluarga dan teman. Pada korban remaja, isolasi ini kerap tidak disadari sebagai bentuk kontrol karena dibingkai sebagai cinta, kecemburuan, atau kepedulian diterima tanpa kritis karena kondisi mabuk asmara.”

Dari sudut pandang psikologi, grooming meninggalkan trauma relasional yang kompleks. Korban mengalami kebingungan emosional, self-blame, denial terhadap kekerasan yang dialami, hingga bargaining berpikir bahwa jika ia berubah atau lebih sabar, relasi akan membaik. Proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun dan baru disadari saat korban telah dewasa, sebagaimana yang dialami oleh Aurelie yang mulai memahami pola kekerasan tersebut di usia 30-an.

Relasi kuasa menjadi kunci utama pelaku memegang kendali atas keputusan, emosi, bahkan identitas korban.

Pelaku menguasai korban melalui isolasi sosial yang dibungkus dengan narasi “perlindungan”. Korban dibuat merasa aman, diperhatikan, dan dijaga, padahal secara bersamaan ia dikunci dari dunia luar. Relasi kuasa menjadi kunci utama pelaku memegang kendali atas keputusan, emosi, bahkan identitas korban. Perilaku yang tampak protektif ini menciptakan kebingungan psikologis korban sulit membedakan mana perhatian tulus dan mana manipulasi yang sengaja dirancang untuk mengontrol hidupnya.

Pemateri menekankan bahwa pemulihan tidak bisa dilepaskan dari proses self-love dan acceptance. Korban perlu menerima bahwa apa yang dialami bukan kesalahannya, serta belajar membangun ulang relasi yang sehat dengan diri sendiri. Buku Broken Strings hadir sebagai panduan reflektif untuk mengenali pola relasi toksik, membantu korban agar tidak mengulang siklus yang sama, sekaligus berperan sebagai media edukasi dan pencegahan melalui komunikasi yang terbuka dan sadar relasi kuasa.

Broken String dan Estetika Fragmentasi

Dalam sudut pandang sastra, Anwar Mas’adi menegaskan bahwa “Buku ini berfungsi sebagai alarm dini bagi orang tua dan lingkungan terdekat. Perubahan perilaku anak menjadi lebih tertutup, menjaga rahasia berlebihan, atau tiba-tiba menunjukkan kebencian terhadap keluarga bukan sekadar fase remaja yang wajar. Dalam konteks grooming, tanda-tanda ini sering kali merupakan hasil manipulasi psikologis yang disengaja.”

Melalui deskripsi sensorik yang detail, pembaca tidak hanya memahami trauma secara kognitif, tetapi juga merasakannya secara fisik: sesak, bingung, dan lelah.

Judul Senar Putus (Broken String) menjadi simbol runtuhnya identitas Aurelie selama fase grooming dari kepercayaan palsu, keterikatan emosional, hingga abuse yang berlapis. Metafora ini merepresentasikan bagaimana diri korban perlahan kehilangan ketegangan sehatnya, hingga akhirnya rapuh dan terputus. Melalui deskripsi sensorik yang detail, pembaca tidak hanya memahami trauma secara kognitif, tetapi juga merasakannya secara fisik: sesak, bingung, dan lelah. Pendekatan ini membuat trauma tidak sekadar diceritakan, tetapi dialami bersama pembaca.

Baca juga: Saweran dan Ekstase Panggung

Secara naratif, Broken String tidak selalu hadir sebagai cerita linear yang rapi. Potongan ingatan, emosi yang meloncat, dan repetisi tertentu justru mencerminkan cara trauma bekerja dalam ingatan korban. Dalam kajian sastra, ini disebut sebagai estetika fragmentasi di mana bentuk teks meniru kondisi batin tokohnya. Dengan begitu, trauma tidak hanya diceritakan, tetapi diwujudkan lewat struktur narasi. Buku ini mengajak orang tua untuk lebih peka, hadir tanpa menghakimi, dan membangun komunikasi yang aman agar anak tidak terjebak dalam relasi yang merusak tanpa disadari.

Sesi ngobrol santai ini ditutup dengan refleksi singkat yang disampaikan oleh Rektor Kampus Desa Indonesia, Mohammad Mahpur. Beliau menyampaikan bahwa narasi child grooming ini menyingkap bagaimana korban dikendalikan, bukan melalui paksaan yang kasat mata, melainkan lewat isolasi sosial yang dibungkus sebagai perhatian dan ilusi rasa dilindungi.

Manipulasi yang berlangsung terus-menerus membuat korban sulit mengenali kekerasan yang dialami, karena kontrol tampil sebagai kasih, dan dominasi menyamar sebagai perlindungan.

Relasi kuasa menjadi fondasi utama yang memungkinkan manipulasi psikologis bekerja secara efektif. Pelaku memposisikan diri sebagai satu-satunya sumber rasa aman, validasi, dan arah hidup, sementara akses korban terhadap keluarga, teman, dan realitas alternatif perlahan diputus. Dalam kondisi ini, korban mengalami kebingungan emosional yang mendalam antara merasa aman dan terkurung hingga daya kritisnya melemah dan ketergantungan terbentuk. Manipulasi yang berlangsung terus-menerus membuat korban sulit mengenali kekerasan yang dialami, karena kontrol tampil sebagai kasih, dan dominasi menyamar sebagai perlindungan.

Bagi generasi muda, buku ini menjadi edukasi yang penting, khususnya anak-anak dan remaja di bawah umur untuk selalu dan lebih berhati-hati serta meningkatkan kesadaran terhadap pola relasi yang tidak sehat. Pemahaman sejak dini membantu mereka mengenali tanda-tanda manipulasi, membedakan perhatian yang tulus dengan kontrol terselubung, serta berani menjaga batas diri dan mencari bantuan ketika merasa tidak aman. Kesadaran ini menjadi langkah awal pencegahan agar anak tidak mudah terjebak dalam relasi yang membahayakan.

Penulis : Ulul Fahmi Rosyida, S.Psi. (Mahasiswa Program Magister Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya)
Editor : Faatihatul Ghaybiyyah, M.Psi.