Senin, Januari 19, 2026
spot_img
Beranda blog

Kesalahan Berpikir Netizen 4.0, Lima di antaranya Sering Kamu Alami.

0

Secuil fakta yang buruk akan mampu menutupi segudang fakta kebaikan seseorang. Hal itu terjadi ketika individu mengalami Distorsi Kognitif, yaitu pembenaran irasional tak sesuai realita. Rupanya leluhur bangsa ini sudah menyadari akan kesalahan berpikir yang turun temurun akan sering terjadi dengan mengabadikannya dalam sebuah seni kata ” Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga “.

Kampusdesa.or.id-Otomasisasi teknologi cyber 4.0 terhadap setiap inchi kehidupan  membuat individu di masa ini cepat dalam membagikan informasi. Akan tetapi adaptasi masyarakat untuk mengelola kecepatan jaringan komunikasi perlu dipertanyakan dan dibahas mendalam. Jika tidak, pecahan informasi yang salah pemaknaan dapat menjadi Hoaks dan sentimen emosi antar netizen. Terlalu remeh jika bangsa ini masih berkutat soal Hoaks dan Isu isu sensasional. Saat nya belajar mandiri dengan mengenali kesalahan berpikir sehingga kita bisa bangkit lebih produktif menjajaki peluang Revolusi Industri di Pemerintahan yang baru ini.

Berpikir adalah sesuatu yang pasti dilakukan oleh manusia bahkan menjadi pembeda yang paling mendasar antara hewan dengan manusia. Kesalahan berpikir dapat terjadi pada seluruh jenjang usia, dari anak sekolah, pegawai bahkan ilmuwan pun bisa terjebak dalam kelalaian berpikir. Akan selalu ada kejadian yang tidak diharapkan dan mood negatif disetiap masa kehidupan sehingga setiap individu pasti pernah mengalami kesalahan berpikir. David Burns seorang Psikiater dan ahli Cognitive Behavioral Therapy dari Stanford University menyebutnya sebagai Thinking Errors Pattern atau dalam istilah psikologi disebut Cognitive Distortions.

Bagaimana kesalahan berpikir terjadi?

Karunia tuhan yang pertama kali digunakan untuk menerima informasi adalah panca indera. Melalui indera tersebut informasi dilangsungkan ke dalam internal map, otak akan memberikan makna terhadap masing masing informasi yang kita terima. Pemberian makna oleh otak merujuk pada Historical Files individu yang berisi tentang keyakinan suatu norma perilaku berdasarkan pengalaman masa lalu.

Keyakinan masa lalu ini menciptakan nilai atau frame of mind yang terulang ulang di bawah alam sadar manusia. Makna yang diproses melalui otak tadi akan berhubungan dengan central nervous system atau pusat syaraf. Dari pusat syaraf akan menghasilkan sebuah perasaan yang menghantarkan individu pada suatu reaksi berbentuk perilaku. Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh kejadian masa lalu.

Dalam proses pemberian makna yang sudah di jelaskan tersebut, terdapat celah terjadinya suatu kesalahan dalam penerjemahaan makna yang disebut thinking error pattern. Terdapat foggy atau kabut yang menyebabkan otak meleset dalam pemberian makna sehingga sesuatu yang kita yakini tidak sesuai dengan realita. Banyak faktor yang memicu terbentuknya foggy, selain berasal dari ingatan realita masa lalu, foggy bisa disebabkan oleh stress, kurang energi, gaya berpikir childish, cemas dan kondisi negatif.

Ketika gaya berpikir individu semakin dominan dalam melibatkan masa lalu maka foggy akan semakin tinggi, sebab realita masa lalu dan kini merupakan hal yang berbeda. Masa lalu memang bisa digunakan sebagai prediksi pengambilan keputusan namun perlu diimbangi dengan identifikasi fakta dan realita yang sedang terjadi sehingga kesalahan interpretasi informasi bisa dihindarkan.

Menurut Mahrus Affif seorang Behavioral  Specialist dalam seminar Online “ Thinking Error Pattern and Teenager “ (Inmed, 25 Oktober 2019), Kurang lebih 80 % orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Jika hal ini tidak dibenahi, individu akan larut dalam kesalahan berpikirnya dimana kesalahan berpikir itu dijadikan argumen utama untuk membenarkan perilaku individu yang salah tersebut. Orang akan mengambil sudut pandang irasional terhadap peristiwa tertentu sehingga menyebabkan pikiran dan emosi yang tidak dapat dikendalikan, parahnya hal ini bersifat kebiasaan. David Burns dalam bukunya The Feeling Good menjelaskan sepuluh jenis kesalahan berfikir, lima diantaranya akan diulas dalam tulisan ini.

Kurang lebih 80 %  orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil.

Yang pertama adalah Over Generalization. Hal ini terjadi ketika anda menyimpulkan suatu perkara yang buruk berdasarkan satu buah bukti saja. Tidak hanya itu, anda akan membesar besarkan masalah itu dan melabeli hal tersebut dengan rumor negatif. Jenis kesalahan berpikir ini akan membuat orang menggunakan kata “ Biasanya” atau “ tidak pernah “ sebagai kata kunci.

Contoh:  ketika anda melihat berita seorang artis sedang menangis karena tertimpa suatu musibah. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wah biasanya itu cuman akting saja” sehingga kemudian anda mencibir dan merendahkan artis tersebut.

Suatu ketika anda melihat Bapak Paruh baya yang tidak rupawan menjemput wanita muda cantik di sebuah caffe. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wahh jangan jangan wanita simpanan nih, biasanya seperti itu”. Lantas anda berbisik bisik dengan teman nongkrong dan menganggap wanita tersebut seorang yang gampangan.

Kedua adalah Black and White Thinking. Gaya berpikir ini terjadi ketika individu membagi dirinya dalam dua kategori yaitu “ aku benar benar baik” atau “ aku benar benar buruk”. Hal ini teradi karena sikap perfeksionis yang dominan, memikirkan diri sendiri ditambah lagi merasa dirinya harus berpengaruh dalam kelompoknya, sehingga ketika suatu hal terjadi tidak sesuai standar atau ekpektasi, maka individu akan menganggap dirinya tidak berguna. Tidak ada pilihan ketiga dan tidak ada tempat untuk berbuat salah.

Contoh: Arif adalah seorang ketua team player basket. Saat pertandingan, Arif tidak berhasil membawa teamnya menuju kemenangan. Akhirnya ia murung dan merasa bahwa ia adalah orang yang tidak berguna. Ia malu dan menganggap semua itu terjadi karena kesalahannya semata.

Ketiga ialah Jumping to Conclusion atau labeling. Pernahkah anda menjustifikasi orang lain tanpa di dukung informasi yang jelas? itulah yang disebut labeling. Individu mendeskripsikan seseorang dengan fakta yang tidak sempurna, ada sebagian realita seseorang yang disembunyikan. Hal ini adalah proyeksi bahwa diri kita sedang marah , cemas , frustasi atau sedang tidak percaya diri. Bahkan, ketika anda memberi label negatif kepada seseorang, hal itu akan membuat anda tidak nyaman dan sulit membangun komunikasi yang positif. Pada kasus ekstrim, memberi label negatif  terhadap seseorang mampu mengubah identitas sosial dan konsep diri individu.

Contoh: Ulum adalah mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, ia dibimbing oleh Dosen A. Setiap kali bimbingan, Dosen A selalu emosi dan memarahi ulum yang selalu datang terlambat. Akhirnya Ulum menyebarkan rumor kepada temannya bahwa Dosen A adalah Dosen yang Killer. Nah, ini lah yang disebut Jumping to Conclusion, ulum hanya mensifati Dosen A berdasarkan perasaan yang mewakili dirinya bahwa dosen A selalu memarahi Ulum. Padahal Jika mahasiswa datang tepat waktu, Dosen tersebut akan bersikap ramah dan lembut. Nah Sifat ramah dan lembut disembunyikan oleh Ulum sehingga terbentuklah labeling yang tidak adil.

Apakah kita tidak boleh melabeli seseorang? boeh asal dengan fakta yang jelas dan adil. Contoh: Dosen ini killer ketika melihat mahasiswa yang melanggar aturan. nah ini labeling yang diperbolehkan.

Ke Empat adalah Victim Mentality atau Blaming. Kesalahan berfikir pada jenis ini akan membuat orang hidup dengan sejuta keluhan. Individu akan mengkritik dan menyalahkan orang lain atas hal buruk yang menimpa dirinya. Artinya tidak ada niatan untuk memperbaiki diri justru menganggap orang lain lah akar dari semua masalah.

Contoh : Yoyo adalah pengangguran, setiap bertemu teman temanya  ia selalu mengkritik pemerintah atas kondisinya, seakan akan Yoyo dirugikan oleh Negara. (Padahal Yoyo terlalu cepat menyerah mencari pekerjaan dan tidak mau meng upgrade skillnya).

Amin mendapat nilai jelek di bidang Matematika, ia menyalahkan gurunya bahwa gurunya tidak cermat dalam mengajar. (Padahal Amin sendiri sering bolos sekolah).

Ke Lima adalah Discounting, orang yang memiliki kecenderungan seperti ini akan selalu mengeluarkan statement negatif tentang kelebihan dirinya. Maksudnya ialah individu tidak apresiatif terhadap prestasinya sendiri, mendiskon segala pencapaian yang ia buat. Pribadi ini menunjukkan bahwa ia memiliki konsep diri yang lemah dan kepercayaan diri rendah.

Contoh: Arif mendapat nilai 70 dalam pelajaran Bahasa, kemudian gurunya memberi pujian “ wah arif kamu hebat ya, pintar dan cerdas”. Akan tetapi Arif berfikir dalam hati “ aiiih apa apaan sih, pasti bohong itu bu guru. Padahal yang lain banyak yang lebih pinter ”.

Kecepatan sistem informasi yang setiap detik dapat berubah, tanpa batas dan selalu ada identitas anonim akan menyebarkan ranjau ranjau Distorsi Kognitif bagi Netizen. Terutama bagi Rakyat +62 yang minat bacanya masih tergolong rendah. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengindari kesalahan berfikir?.

Mulailah dengan membudayakan One Day One Page, membaca buku akan melatih reasoning otak kita menjadi lebih awas dalam mengelola informasi. Kemudian gunakan aturan Lima menit, gunakan waktu tersebut untuk mengecek informasi di media atau fakta di lapangan melalui sumber yang kredibel dan selama lima menit tersebut usahakan untuk tidak mengomentari apapun.

Kenali pola kesalahan berpikir yang berkembang di masyarakat, setelah mengenali pola , cobalah untuk mengkategorisasikan jenis kesalahan berpikir yang dirasa sangat berpotensi terjadi pada diri anda. Latihlah pikiran anda untuk melawan jenis kesalahan berpikir tersebut, gunakan humor humor untuk membuat pikiran anda stabil. Yang terpenting jadilah pribadi yang suportif, bijak dan sabar dalam segala situasi.

Hubungan Harmonis Netizen sangat mahal harganya, dan sangat remeh jika kesalahan berpikir yang beredar di masyarakat membuat konflik dan buruk sangka . Buku “Feeling Good: the new mood therapy,” dan  “When Panic Attacks” yang ditulis  David Burns dapat menjadi rujukan bagaimana merawat akal sehat ditengah pusaran peradaban Revolusi 4.0. Bangsa yang hebat berawal dari akal sehat yang selalu dirawat.

Gathering Harmoni Lintas Suku dan Iman Digelar di Balewiyata

0

Kampusdesa.or.id — Berbagai komunitas lintas iman dan lintas suku di Malang Raya memperkuat jejaring kolaborasi melalui kegiatan Gathering Harmoni Lintas Suku dan Iman: Refleksi Bersama untuk Harmoni Keberagaman Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 13 Januari 2026, bertempat di Balewiyata GKJW Kota Malang. Forum ini menjadi ruang perjumpaan, refleksi, dan dialog bersama dalam merespons persoalan sosial yang semakin kompleks, mulai dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan rumah ibadah ramah anak dan disabilitas, hingga isu kemiskinan dan ketahanan pangan.

Baca juga: Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Tim Balewiyata GKJW bersama Peace Leader Indonesia dan diikuti hampir 50 peserta dari lebih dari 15 komunitas. Para peserta berasal dari kalangan akademisi, organisasi keagamaan, komunitas pemuda lintas iman, serta gerakan masyarakat sipil di Malang Raya dan Pasuruan. Hadir dalam forum ini dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Koppatara, Gusdurian, Kampus Desa, komunitas pemuda lintas iman, serta perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muslimat NU, Jamaah Ahmadiyah, komunitas Buddha dan Hindu, hingga perwakilan aliran kepercayaan.

Balewiyata sebagai Ruang Belajar dan Dialog Lintas Iman

Perwakilan Balewiyata GKJW, Pdt Hardiyan Triasmoroadi, menjelaskan bahwa Balewiyata secara filosofis berarti rumah pengajaran. Secara historis, Balewiyata berfungsi sebagai ruang pendidikan bagi calon pendeta GKJW. Namun, seiring perkembangan zaman, Balewiyata kini membuka diri sebagai ruang pembelajaran dan dialog lintas iman yang inklusif.

“Balewiyata berarti rumah pengajaran. Dulu kami fokus pada pendidikan calon pendeta, tetapi sekarang kami mengembangkannya menjadi ruang studi intensif lintas iman, termasuk bagi perempuan dan kelompok masyarakat lainnya,” jelas Pdt Hardiyan Triasmoroadi.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Ia menegaskan bahwa ruang perjumpaan lintas iman dan lintas suku menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tantangan sosial dan dinamika global. Menurutnya, situasi geopolitik dan sosial yang semakin kompleks berpotensi memicu ketegangan di tingkat lokal apabila masyarakat tidak memiliki ruang dialog yang sehat.

Situasi bersama dengan berbagai latar belakang profesi dan kelompok berbagai agama

“Komunitas lintas iman perlu hadir untuk menyulut semangat kebersamaan. Pertemuan seperti ini tidak boleh berhenti pada diskusi, tetapi harus menghasilkan langkah nyata yang berdampak bagi masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Pdt. Hardiyan Triasmoroadi menyampaikan bahwa Balewiyata secara rutin menggelar diskusi tematik setiap Kamis keempat setiap bulan. Forum ini membahas berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Kami secara konsisten mendiskusikan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, rumah ibadah ramah anak dan disabilitas, kemiskinan, serta persoalan pangan. Isu-isu ini tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja,” ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Iman untuk Menjawab Persoalan Sosial

Dalam sesi diskusi, para peserta secara aktif membahas tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Mereka menekankan pentingnya menjadikan rumah ibadah sebagai ruang aman yang ramah bagi anak, perempuan, dan penyandang disabilitas, tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga dari sisi sosial dan psikologis.

Isu kemiskinan dan ketahanan pangan juga mendapat perhatian serius. Peserta menyoroti ketimpangan akses pangan di wilayah perkotaan dan pentingnya pengelolaan limbah makanan secara kolaboratif sebagai bagian dari tanggung jawab sosial lintas iman dan lintas sektor.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Mahpur dari Kampus Desa menegaskan bahwa pendidikan berbasis komunitas dan pengakuan terhadap keahlian lokal dapat menjadi solusi alternatif atas persoalan sosial di masyarakat.

“Kita belajar, kita yang mengajar, kita yang memberi gelar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Kampus Desa mendorong sertifikasi mandiri berbasis keahlian lokal yang belum terakomodasi dalam sistem sertifikasi nasional. Kampus Desa juga membuka ruang kolaborasi bagi dosen yang ingin mengimplementasikan ilmunya secara langsung di desa.

Baca juga: Menginspirasi Anak-Anak Melalui Permainan dan Pendidikan

“Kami mengangkat keahlian lokal di desa-desa dan menyusunnya menjadi sertifikasi mandiri. Kampus Desa juga siap menjembatani dosen agar ilmunya benar-benar berdampak di masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mahpur juga berbagi pengalaman praktik toleransi di lingkungan Balewiyata GKJW. Ia menyebut gereja tersebut telah memfasilitasi umat Muslim untuk beribadah di sela-sela kegiatan. Mereka bisa sholat di ruangan Gus Dur.

Dari kalangan akademisi, Aprilia Mega dari PSGAD UIN Malang menegaskan bahwa pendekatan inklusi sosial menuntut keterbukaan lintas iman dan lintas sektor.

“Kami membahas inklusi sosial secara menyeluruh, mulai dari kekerasan, kemiskinan, disabilitas, hingga pangan. Karena itu, ruang dialog lintas agama seperti ini sangat penting,” katanya.

Tidak dipungkiri, sebagaimana pernyataan Susiana dan Fahrur, dari komunitas Baha’i Malang Raya, “kerja keagamaan itu membutuhkan kesatuan tujuan. Sebagaimana kita menuju satu Tuhan. Keragaman tanpa kesatuan menjadi pincang. Kesatuan ini perlu kita yakini sebagai modal perdamaian.” Jamaah Ahmadiyah juga menambahkan bahwa “jejaring lintas organisasi harus dibangun tanpa memandang perbedaan latar belakang demi kemaslahatan bersama.”

Diskusi juga menghasilkan usulan agar isu perundungan berbasis agama, khususnya di lingkungan pendidikan, menjadi agenda prioritas pada pertemuan berikutnya. Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, menekankan pentingnya pembaruan dan keberlanjutan gerakan lintas iman.

“Ruang lintas iman harus terus diperbarui dengan wajah-wajah baru agar tetap relevan. Jejaring ini juga harus berfungsi sebagai mekanisme respons cepat ketika terjadi persoalan sosial,” tegasnya.

Redy Saputro berharap pertemuan ini menjadi titik awal penguatan sinergi lintas iman dan lintas suku yang berkelanjutan demi merawat harmoni keberagaman Indonesia (Helina).

Menguatkan Enggagement, Bukan To The Point

0

Kampusdesa.or.id–“Tidak bisa dan tidak mau. Susah pak untuk dikumpulkan dan tidak punya waktu mereka untuk diajak pertemuan.” Suara tersebut menjadi isi pembicaraan saat berkumpul dengan mahasiwa yang kami kunjungi di beberapa kelompok KKM. Mahasiswa mencontohkan tawaran untuk sertifikasi halal ke beberapa kelompok usaha mikro, mereka menolak tidak mau karena alasan susah atau tidak membutuhkankan. Selain itu, mereka menginformasikan jika orang-orang kesusahan terlibat dalam kegiatan yang mereka akan selenggarakan selama KKM.

Mencairkan hubungan secara lokal

Al-kisah, pengalaman saya mengajak ibu penggerak PKK untuk berperan sebagai penyuluh dan guru lokal Sekolah Rakyat Ngasuh Anak Sing Becik. Seorang ibu tersebut menolak dan menyatakan tidak sanggup dan merasa belum bisa dan berani dalam memberikan materi khusus berdasarkan pengalamannya. Saya merasa bingung. Akhirnya saya menunda dulu keinginan tersebut. Saya terus menjalin komunikasi dulu dengan berbagai pertemuan informal dan sering mengunjungi ke rumahnya. Berbagai bahasan kami bicarakan baik yang kami anggap penting atau pengalaman beragam sebagai bumbu komunikasi yang kurang penting.

Ternyata, pembicaraan yang sering kami lakukan bersama, perlahan memantik sikap baru yang tidak saya sengaja menjadi perubahan positif.

Ada saat yang tepat kami membahas berbagai pengalaman positif yang dia punyai. Termasuk solusi terhadap anak yang tidak mau sekolah setelah lulus SMP dan langsung bekerja. Setelah omong kobot (pembicaraan yang mengalir dan kita anggap sebagai bunga-bunga komunikasi), seorang ibu tersebut memberitahukan anaknya akan melanjutkan ke SMK dan tidak jadi memilih bekerja.  Saya heran, ternyata pembicaraan seputar pengasuhan yang baik dengan membahas berbagai persoalan yang mereka hadapi bersama menumbuhkan perubahan sikap dan keputusan sang ibu. Ternyata, pembicaraan yang sering kami lakukan bersama, perlahan memantik sikap baru yang tidak saya sengaja menjadi perubahan positif.

Baca juga: Memecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

Mencairkan hubungan dengan demikian menjadi cara terlibat dan membaurkan semangat perubahan dan kooperatif warga. Ibu tersebut akhirnya mau terlibat menjadi guru lokal yang siap belajar. Kooperasi ibu tersebut membutuhkan konsolidasi dan pencairan hubungan sehinga kita saling bertukar bahan untuk memberikan suplay kedua belah pihak. Di sini setiap pihak masih dalam tahap mengupayakan keingingan dan ide-ide yang boleh jadi masih terjadi ketimpangan. Di sini pula setiap pihak membutuhkan berbagai bahasa untuk mendapatkan kesamarata-setara dalam mengukur pemahaman dan suplay sumberdaya. Tanpa ruang yang saling terkomunikasikan, maka kepentingan perubahan masih berlaku sepihak. Penawaran to the poin dengan demikian seperti menohok dan memaksa orang berubah dan bergabung tanpa syarat. Tentu akan berat bagi pihak lain yang belum memberikan posisi atas kemauan bersama. Dengan demikian terlibat dan membaur menjadi langkah awal untuk mendapatkan kesaling-pemahaman.

Memahami habituasi dan motivasi mereka

Agar terhindar dari situ, pendatang pengabdi/pemberdaya lebih banyak menemukan dulu bahasa tutur mereka melalui jagongan. Berbicara saling mengenal lebih dulu. Berbagi cerita. Kita kemudian menjadi lebih tahu olah bahasa masyarakat lokalnya. Sebagai pendatang, kita pun perlu memahami budaya mereka dan habituasi (kebiasaan positif) dalam memainkan imajinasi mereka.

Di awal pengabdian, memahami bahasa, budaya, dan habituasi masyarakat menjadi penting untuk mendapatkan potensi gerakan.  Oleh karena itu, siapapun di antara kita, langsung menawari kegiatan ini dan itu justru menjadi bumerang. Bahkan ada banyak pengalaman, banyak masyarakat menganggap kita membawa uang. Atau masyarakat langsung mengatakan, buat apa kalau hanya pelatihan-pelatihan. Mereka kemudian menyodorkan berbagai tawaran sarana dan prasarana dengan harga materi tertentu. Kadang, buat apa mereka paham sesuatu, yang penting uangnya ada maka kegiatan berjalan.  Agar terhindar dari situ, pendatang pengabdi/pemberdaya lebih banyak menemukan dulu bahasa tutur mereka melalui jagongan. Berbicara saling mengenal lebih dulu. Berbagi cerita. Kita kemudian menjadi lebih tahu olah bahasa masyarakat lokalnya. Sebagai pendatang, kita pun perlu memahami budaya mereka dan habituasi (kebiasaan positif) dalam memainkan imajinasi mereka. Lama-kelamaan kita dapat memetakan habituasi bergerak dan potensi apa yang memicu kerjasama antara pendatang (mahasiswa KKM) dan masyarakat lokal.

Mengenal dan memanfaatkan medan sosial warga

Saling kenal menjadi kunci. Beberapa kasus saya temukan di titik pengabdian mahasiswa (KKM). Mereka langsung  menohok dan warga mengajak mahasiswa membangun parit. Ternyata setelah ditelisik, ada kesalahan perkenalan di awal. Entah darimana, apakah dari sisi mahasiswa atau dari sisi masyarakat lokal. Tetapi yang lebih penting adalah setiap perjumpaan menciptakan persepsi dan keinginannya masing-masing. Mereka belum saling kenal satu dengan yang lain tentang sumberdaya yang akan mereka bagi atau kerjasamakan. Kenali beberapa tokoh kunci dan berbagai pengalaman positif terhadap yang mereka miliki menjadi penting untuk membangun kedekatan.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Jagongan dan cangkrukan dapat dilakukan dengan niatan silaturrahmi ke orang-orang yang berpengaruh sekaligus tepat. Jagongan dan cangkrukan adalah kegiatan santai yang mengambil tempat di lokasi tertentu. Mereka biasanya memiliki tempat khusus di ruang publik warga. Seperti di rumah warga, di pos-ronda, di tempat khusus biasanya mereka berkumpul. Pengabdi dapat mengenalkan diri dan kemudian buat berbagai pertanyaan dan minta warga lokal bercerita berbagai inspirasi lokal yang bermanfaat. Dari yang remeh temeh hingga kegiatan penting warga. Dengarkan dengan baik dan beri umpan balik sekaligus menimbang peluang pengabdi di mana. Jika mulai tergambar, pengabdi dapat mulai memprospek peluang tersebut untuk anda dapat melibatkan diri dalam peran-peran penting warga.

Mencari peluang simpati

Dari situ seorang pengabdi mulai menemukan simpati. Tawarin sebuah proses, bukan ongkos finansial.  Ketika sudah mulai menemukan peluang, pengabdi dapat mulai memahami sudut pandang orang lokal. Di situlah pengabdi/pemberdaya mencoba menawarkan keterlibatan. Waspadai untuk tidak terburu-buru memberikan janji material atau finansial. Jika pengabdi memiliki kesanggupan peran, anda dapat menawarkan dari  sumberdaya yang sudah ada (ilmu, bakat, keahlian, dan pengalaman). Jika ide pengabdi/pemberdaya mulai menemukan kebermaknaan di masyarakat, maka pengabdi mulai mendapatkan simpati. Ini adalah peluang emas.

Untuk itu, proses komunikasi yang ramah terhadap orang lokal perlu menjadi perhatian utama agar kita kenal dan mereka kenal.

Enggagement memiliki makna penting  untuk memulai pengabdian. Wajar karena kita menjadi pendatang yang belum memiliki kepercayaan pada orang baru. Untuk itu, proses komunikasi yang ramah terhadap orang lokal perlu menjadi perhatian utama agar kita kenal dan mereka kenal.  Hubungan tersebut menjembatani pemahaman, saling butuh, dan inisiatif kerjasama mulai menemukan jalannya.

Selamat mengabdi untuk negeri

Memecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

0

Kampusdesa.or.id–Minggu pertama mahasiswa KKM adalah waktu untuk menemukan jatidiri kegiatan. Apakah berhasil mendapatkan enggagement di masyarakat dan kemudian bergerak untuk meningkatkan level perubahan dari yang kecil-kecil yang mereka temukan atau mereka terjebak pada kerja administratif dan siklus teknis administratif masyarakat. Spirit inovasi, transformasi, dan meningkatkan level keberdayaan adalah bagian penting dari pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang.

Mereka membutuhkan tempat mengurai pilihan, tantangan, dan harapan untuk mendapatkan peluang menemukan perubahan (pemberdayaan). Dari mengeluh menjadi tertantang, dari banyaknya pilihan menjadi dapat menentukan prioritas dan memastikan peluang, dari kebuntuhan mendapatkan inspirasi. Untuk itu, kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang. Mereka akan menjadi tukang piket, administrasi desa, jadi pengganti/pelengkap pengganti mengajar TPQ atau tenaga suruhan saja. Mereka terseret arus kemapanan kerja pesuruh, bahkan buruh. No-way.

Baca juga: Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Saat berdiskusi, mendengar, dan mengulik cerita mahasiswa, mereka merasa senang ketika ada pengurai kebuntuan. Bukan sekedar senang, yang lebih penting dari itu adalah fokus dan ketemu pintu masuknya pemberdayaan. Diskusi dengan pendamping menjadi penting. Bagi kita DPL, boleh jadi sepele, tapi bagi mahasiswa, membantu mengurai berbagai alokasi kegiatan yang mereka identifikasi dan fokus lebih strategis adalah perjuangan dan disitulah mereka belajar. Kehadiran dosen menjadi sumbu memantik ledakan kesempatan, kecuali mahasiswanya memiliki ketrampilan tacit knowledge (pengetahuan sintesis antara ilmu dan implementasi di lapangan) sebagai bakat melekat.

Tidak harus seminar, buat ruang bersama mencerahkan

Al-kisah. Saat mereka bercerita terkait dengan sosialisasi narkoba dan keuangan keluarga. Ketemu ide yang mencerahkan. Pemdes meminta mereka penyuluhan. Mahasiswa membayangkan penyuluhan dengan cara seminar atau forum resmi. Tapi cara itu akan menjadi counter culture yang menjadi konflik judgement dan melahirkan respon reaktif. Kita tidak tahu kultur mereka tentang minum dan aneka rupa narkoba. Sosialisasi ini bisa menjadi antitesis yang menimbulkan frksi dan pertentangan budaya. Maka pendekatan preventif dan tidak langsung justru menjadi penting. Maka ada kesepakatan untuk menciptakan ruang sehat bagi anak-anak dan remaja agar mereka dikenalkan mengonsumsi makan dan minum yang sehat. Ini kesimpulan mempengaruhi jangka panjang.

Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya.

Peluangnya adalah justru menggunakan pintu masuk dengan memberikan pendekatan pada anak-anak dan remaja melalui senam dan bantengan. Mereka terlibat pada mendorong kesempatan untuk berdaya, berkarya, dan bergerak sehat. Mereka perlu diajak bergerak dengan karya dan kebajikan. Bukan nasihat no-drug. Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya. Termasuk bantengan yang sehat itu bernilai seni dan olahraga, makan bergizi, dan lain-lain. Mereka diajak bahwa sosialisasi narkoba bukan menceramahi para pemuda dan orang tua. Lah, justru ini melawan kultur. Akan tertolak karena kita memusuhi budaya mapan masyarakat, meskipun itu kita anggap jelek.

Baca juga: KATI; Eduwitasa Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Anak-anak sebagai pintu masuk keterlibatan

Pintu masuk ke anak untuk mempengaruhi orang tua
Tantangan lain, literasi finansial tradisional lebih diutamakan daripada pendekatan akuntansi modern. Ini pendekatan literasi keunangan ramah budaya. Dalam diskusi dengan kelompok KKM, kalau mereka diajari akuntasi modern sederhana, potensi penolakan ada, karena dasar berpikir dan berperilaku belum ada. Butuh proses panjang. Yang lebih penting dari itu adalah membangun mindset uang aman lebih dulu yang mudah berdasarkan pengalaman dan imajinasi orang lokal. Misalnya dengan membuat tabungan (jawa: celengan) untuk tandon uang aman.

Misalnya para ibu-ibu yang jualan dan sedang nongkrong di titik kumpul tertentu, mahasiswa dapat memfasilitasi mendiskusikan apa saja hal kecil yang mereka pilih untuk mendapatkan ide bersama. Atau di pengajian membuat gerakan sisakan uang aman di botol bekas. Simpan dan lupakan. Bisa dengan mengikuti tanggal atau dibalik. Misal, tanggal satu memasukkan uang aman tiga puluh ribu, hingga tanggal 30 satu ribu. Setiap sehari jualan, mereka diajak membuat gerakan sisihkan dan amankan serta lupakan. Mereka diajak berbuat dengan perilaku sederhana, bisa dilakukan, dan mudah.

Gerakan ini bisa dimulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua.

Jika tidak bisa langsung ke orang tua, gerakan mereka bisa memulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua. Misal, mereka menyepakati membuat celengan tematik bersama keluarga. Anak-anak yang mengikuti les-lesan, atau bermain-main, mahasiswa dapat mendorong untuk menciptakan celengan masa depan. Nah, spirit ini yang dapat tumbuh mekar untuk menciptakan mindset uang aman dengan cara lokal. Tentu perlu kita mempertimbangkan sudut pandang orang lokal agar mereka dapat beride yang relevan dengan pemaknaan mereka.

Akhiran. Mahasiswa di minggu pertama ini sangat butuh teman mengurai fokus pemberdayaan mereka. Banyak ide yang tumplek-blek. Jika tidak dibantu mengurai, mereka akan terjebak dengan rutinitas dan kerja pragmatis. KKM berdampak-bergerak adalah belajar hadir terlibat dalam mental lokal tetapi mampu menciptakan pengaruh inspiratif, inovatif, dan berdaya. Setidaknya, hal ini adalah pengalaman penting kepemimpinan mereka, bukan pengganti kerja orang lokal semata, tetapi mitra berdaya yang lahir dari kesepakatan dalam komunikasi terlibat

Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Kampusdesa.or.id–Kumandang adzan maghrib baru saja berlalu. Heri Kuswandi (62) bergegas menuju sebuah bangunan gedung di dekat rumahnya. Mesin jahit ‘jadul’ (tenaga pancal) di rumahnya, diusungnya ke gedung pertemuan. Tak lama berselang 15 warga lainnya datang menyusul. Mereka adalah warga RT 02/RW 03 Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Sekitar dua minggu, mereka bergotong royong menyiapkan perayaan Natal Oikumene. Natal bersama warga Kristiani. Warga RT tercatat 102 KK, dengan warga Kristiani (Katolik dan Kristen) sejumlah 16 KK. Namun perayaan Natal menjadi ‘gawe’ segenap warga. Bagaimana bisa 16 KK beragama Kristiani dapat didukung oleh KK yang lainnya. Kampung bhinneka bukanlah mitos. Nyata ada di Kota Malang.

“Tahun ini menjadi perayaan Natal Oikumene kedua kami. Perayaan ini dihadiri semua warga RT. Berhubung perayaan Natal memerlukan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, maka warga RT memutuskan dalam rapat warga bahwa kegiatan keagamaan harus masuk agenda RT, sebagaimana Agustusan yang juga dibiayai RT. Warga mengambil kesepakatan bahwa baik kegiatan Idul Fitri, Natal, dan Maulid, maka RT harus membiayai semuanya dan semua warga terlibat dalam kerja bakti untuk kegiatan tersebut.” Begitulah Ketua RT 02 Imam Kuswoyo (62) menyampaikan keputusannya pada warga, saat menceritakan perayaan Natal yang para warga tanpa kecuali turut menghadirinya.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Salah seorang warga Heri Kuswandi juga menuturkan, “usai pulang kerja di jasa kurir, setiap sore sekira 10-15 warga terlibat kerja bakti di gedung pertemuan.” Kerja bakti warga mereka lakukan sejak pertengahan Desember, mereka datang silih berganti. Sebuah gedung kosong yang diijinkan oleh pemiliknya dipakai untuk kegiatan warga, ‘disulap’ warga menjadi gedung pertemuan.

Natal Tidak Hanya Milik Umat Kristiani

Heri menjahit kain penutup meja. Imam Kuswoyo dan warga pria lainnya mengecat dinding, membuat dekor, mengecat dan memperbaiki kursi yang rusak dan membuat meja tempat makan, menyiapkan panggung, ada pula yang membuat kandang Natal. Sementara itu, para ibu bergantian menyiapkan minuman teh, kopi, dan kudapan ringan. Mereka ikhlas memberi dari yang mereka miliki. Ketika H-7, gedung yang sehari-hari nampak kosong itu, kian ramai. Para ibu mulai berlatih bersama, mempersiapkan diri sebagai pengisi acara.

Kampung terasa begitu bergairah. Perayaan Natal Oikumene di RT 02/RW 03 kelurahan Bandulan itu, berlangsung semarak (28/12). “Puji syukur, perayaan Natal berlangsung lancar. Banyak berkah berlimpah. Sajian 200 kotak kue, merupakan sumbangan ibu-ibu jamaah tahlil,” ujar Imam, umat Gereja Katolik St. Vincentius a Paulo, Malang.

“Pada hari H, para ibu memasak hidangan di kediaman kami, seperti capcay, fuyunghai, sate bakmi goreng, acar, goreng kerupuk. Sementara bapak-bapaknya menyiapkan perlengkapan di lokasi perayaan,” begitu Maria Kristiani, Ketua PKK RT 02/RW 03, sapaan akrab Bu Anik Imam, melengkapi cerita di balik persiapan Natal.

Baca juga: Patuwen Kopi, Setetes Tinta Sejarah dalam Festival Kopi 2025 GKJW

Perayaan dihadiri sekitar 200-an orang, baik dari warga setempat maupun undangan. “Kami juga mengundang semua Ketua RT di RW 03, pengurus RW, perwakilan dari kelurahan dan perwakilan dari gereja masing-masing warga kristian. Di samping itu, hadir pula Komunitas lintas agama Bandulan Bersatu (Kober). Rm. Petrus Maria Handoko, CM selaku pimpinan Gereja Katolik Paroki St. Vincentius a Paulo juga menyempatkan waktu untuk hadir,” tutur Imam dengan sorot matanya berbinar. “Kami bersyukur bahwa sukacita Natal ini bisa dirasakan oleh banyak pihak. Kerukunan dan saling menghargai tak hanya saat kegiatan perayaan. Warga di sini, punya kebiasaan berkunjung ke rumah warga kristiani saat Natal. Nanti kalau pas Idul Fitri, gantian, warga kristiani yang keliling mengunjungi warga Muslim, menyampaikan selamat,” tuturnya lagi.

Usai gawe perayaan Natal Oikumene, mereka tenggelam lagi dalam kesibukan menyambut malam pergantian tahun baru. Mereka seperti ingin memeluk erat hangatnya kebersamaan itu. Warga setempat telah menemukan kunci hidup bahagia. Yakni, dengan membuat sesamanya berbahagia.

Kampung Bhinneka itu nyata adanya.

Muslim Indonesia di Hari Natal

0

Kampusdesa.or.id–Sejak menginisiasi perjumpaan Natal damai di tahun 2017 bersama Gusdurian Malang, kehadiran saya di gereja seperti rumah baru bagi ke-Indonesiaan saya. Setelah kunjungan Natal damai tempo itu, ketakutan saya dan sak-wasangka tentang kristen tidak ada lagi. Keimanan tanpa rasa takut menjadi momen baru. Gereja tidak lagi berjarak bagi saya. Meskipun saya muslim, tidak ada perasaan curiga dan friksi batin yang sudah biasa menjadi hoaks keimanan, manakala banyak orang muslim yang masih berjibaku dengan metanarasi prasangka, minorisasi iman dengan cara pandang melainkan. Kristen bagi saya adalah bagian dari suara yang dapat saya maklumi bahwa setiap manusia selalu punya cara beriman dengan horison kehidupannya. Dengan demikian bagi saya gereja adalah rumah kehidupan bagi orang-orang yang meyakini bahwa ketuhanan adalah jalan dan pilihan tanpa penyeragaman. Rasa takut dengan konstruksi iman yang melainkan menjadi pupus bagi cara pandang saya. Di situ saya merasa lebih dewasa dalam melihat gereja dan keindonesiaan saya.

Sudah sekian kali saya menerima undangan dalam perhelatan perayaan Natal di gereja. Temasuk Natal di tahun 2025 ini. Saya menerima secara resmi di dua gereja. Gereja Kristen Jawi Wetan di Lawang dan Kedungkandang. Karena waktunya berbarengan, saya memilih hadir di perayaan Natal GKJW Lawang. Sudah kesekian kalinya saya hadir di jemaat Lawang. Bagi mereka kehadiran saya yang muslim dan kebetulan saya juga mereka anggap bagian dari Nahdlatul Ulama Kota Malang, mereka merasa kehadiran ini melengkapi sudut pandang mereka untuk menciptakan representasi toleransi beragama tidak saja sebagai pribadi. Mereka menjadikan perspektif keterwakilan bahwa orang-orang NU adalah pribadi yang mampu mewakili warna yang menerima keberagaman sebagai entitas keindonesiaan. Ketika kami saling hadir, identitas agama adalah warna yang menyatu dalam memahami keniscayaan kami bahwa hubungan persaudaraan menjadi bagian dari perasaan gembira karena dapat saling menghadiri perayaan hari suci antara kita. Identitas kami tidak rapuh karena satu dengan yang lain dapat saling menghargai. Penghargaan ini tembus karena kami merasa terhubung dalam hubungan pertemaan dan persaudaraan melampaui batas eksklusif cara beriman.

Mudah Tapi Perlu Latihan

Alkisah, ada seorang sarjana pendidikan agama Islam dan sedang menempuh paska sarjana sedang melakukan riset tentang hubungan lintas agama pada Forum Komunikasi antarUmat Bergama (FKAUB) Malang Raya bertanya kepada saya. “Menurut bapak, bagaimana kita makan dari menu yang mereka sajikan ini?” Padahal dia sudah sering keluar masuk di lingkungan gereja Katolik karena sebagian besar rapat dan pertemuan FKAUB sering menggunakan ruang pertemuan di gereja tersebut. Sebelum acara atau setelah acara rapat, kami biasanya menikmati jamuan dari gereja. Saya terkejut dalam hati. Bagi saya, pikiran tersebut sudah tidak muncul. Apakah karena saya sering mengalami jamuan tersebut sehingga tidak berpikir dan khawatir. Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jamuan makan yang tersaji untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim. Suatu contoh di Klenteng, mereka memastikan ketika menjamu orang muslim, menunya seputar soto daging ayam atau sapi dan sajian yang umum boleh  (halal) bagi orang muslim. Pengalaman ini saya ceritakan ke si dia tadi bahwa bagi mereka sudah memahami batasan mengenai yang boleh dan tidak bagi orang muslim. Artinya, kisah tersebut mengandaikan proses dialog penting yang muncul secara informal mengenai batasan antara aku dan kamu dalam hubungan lintas agama.

Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jika jamuan makan yang disajikan untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim.

Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang

Saya tidak lagi merisaukan hal demikian, tetapi bagi anak muda tersebut yang baru dan belum pernah mendapatkan dialog-dialog lintas batas tersebut, keragu-raguan menjadi awal dari mendapatkan jawaban tentang batas-batas yang diolah dalam kesadaran kritis. Hari ini, bagi saya hal demikian tidaklah menjadi kekhawatiran saya. Hal tersebut menjadi kesadaran baru saya bahwa keumuman tentang kekitaan sudah dipahami bagi agama-agama yang lain. Meski tidak lengkap, masing-masing dari kami dapat bisa saling mengonfirmasi untuk saling memahami dan memberitahu mengenai batasan praktik beragama diantara kami. Bahkan, saya sering meminta tempat sholat di lingkungan gereja tersebut ketika waktu maghrib atau waktu lain yang mengharuskan saya sholat. Hal ini saya lakukan karena saya yang butuh dan saya tidak menunggu pemakluman atas waktu sholat itu dari teman-teman agama lain. Saya harus asertif dan tetap berada dalam dialog interpersonal yang tidak berjarak. Keragu-raguan dapat teratasi.

Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka.

Saya perlu sampaikan lagi saat di sebuah pertemuan di lingkungan gereja Katolik, saya meminta seorang romo tempat sholat. Romo tersebut juga agak kebingungan. Saya segera menimpali, tunjukkan saya ruangan dan saya akan sholat di situ. Tentang ini dan itu menjadi urusan saya. Selesailah persoalan. Kadang saya juga sering prepare sajadah sebagai solusi. Hal demikian bagi saya sudah terbiasa. Jika saya tidak diperhatikan terkait dengan kepentingan sholat, maka saya harus punya solusi dan tidak menghakimi dalam berbagai prasangka yang mengerdilkan hubungan tersebut kedalam masa lalu cara pandang saya tentang aku dan yang lain. Ini adalah modal bagi saya untuk dapat menyelesaikan pokok iman saya dan tempat kehadiran saya dalam ruang perbedaan agama. Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka. Jika hal ini tidak diolah, kita belum cukup untuk dewasa atas nama perbedaan agama.

Kesadaran ini sebenarnya mudah kalau pergaulan mendalam dapat dirajut dalam pengalaman yang mendalam juga dalam hubungan lintas-agama. Hal ini tidak juga mudah di kalangan orang-orang NU. Tidak semua dapat menerima keterbukaan tersebut, bahkan bagi sosok-sosok yang alim di NU. Saya pun tidak begitu banyak mendapat teman di NU yang turut hadir dalam perjumpaan dari dalam gereja tersebut. Bahkan saya cenderung masih seorang diri ketika mendapat undangan perayaan Natal tersebut. Hanya orang-orang NU khusus yang sudah punya pengalaman demikian yang bisa hadir dalam jamuan-jamuan hari Natal tersebut. Hanya teman-teman NU yang masuk dalam jejaring FKAUB dan lintas agama aktif, termasuk kalangan muda NU yang sering mengikuti kegiatan Gusdurianlah, teman GP Anshor, perwakilan UDARTA Pasuruan (Pondok Ngalah) yang seringkali saya temukan dan menjadi kebiasaan mereka dengan bebas friksilah yang dapat menerima pengalam tersebut. Artinya, pengalaman menjadi bagian penting untuk menerima sejenis kesanggupan hadir dalam jamuan-jamuan di tempat ibadah seperti hadir dalam perayaan Natal.

Natal Mereka adalah Muslim Saya

Saya memaknai kemampuan tersebut sebagai bagian penting pengalaman kemusliman saya. Ada ruang kesadaran antah-berantah yang memang terasa kontradiksi diantara kecemburuan, sak-wasangka, dan negasi keimanan yang tetap tersisa. Suatu contoh bahwa saya dimanfaatkan atau saling memanfaatkan. Kecurigaan di sana-sini yang menjadi narasi bagi orang muslim lain yang menganggap hal ini telah melampaui batas. Bahkan saya pun pernah ditegur dari kalangan orang NU terkait kegiatan kunjungan ke tempat-tempat ibadah di luar Islam sebagai kegiatan yang melampaui batas. Tetapi saya teringat selalu dengan Gus Dur yang sudah berani membebaskan diri dari kerancauan prasangka tersebut. Gus Dur menempatkan perbedaan tersebut dalam kerangka kewarganegaraan yang setiap orang wajib menghormati pilihan dan perbedaan. Gus Dur menghargai dalam kerangka konstitusional warga Indonesia. Justru hal ini memperkuat bahwa seorang muslim perlu belajar mendewasakan diri dalam mewarnai berbagai penghargaan sesama warga negara Indonesia.

Baca juga: Barikan Anak Nusantara ke-3: Merajut Persaudaraan Sejati di Malang

Ketika representasi muslim saya dilihat sebagai simbol bagi usaha merepresentasikan kemampuan hadir dalam cermin hubungan toleransi, maka undangan dari orang Kristen saya terima sebagai bagian dari menghargai kebutuhan saling merawat perbedaan. Saya menjadi muslim dengan kesadaran ke-Indonesiaan. Oleh karena itu saya membutuhkan perspektif yang lebih luas guna membuat identitas saya tidak saklek dan dibatasi dengan pembeda-pembeda agama. Cara demikian bagi saya memberikan pengalaman baru bahwa interaksi lintas agama tidak semata sebuah hubungan yang berjarak. Sebagai seorang muslim, gereja bukanlah tempat yang saya lihat dalam narasi yang berjarak, tetapi saya tempatkan sebagai bagian penting perkenalan saya tentang hakikat perbedaan. Saya menjadi tahu cara mereka beriman. Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya. Oleh karena itu, apapun yang disucikan mereka adalah buah dari pengetahuan saya tentang orang lain dalam kesatuan identitas keagamaannya. Inilah yang melengkapi kesadaran kritis saya dalam menerima perbedaan agama.

Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya.

Natal mereka adalah muslim saya bermakna perhatian dan kepedulian saya sebagai seorang muslim untuk menerima Natal sebagai penghargaan kesucian mereka. Termasuk bagian dari media orang lain yang beriman Kristiani untuk menjadikan hari Natal sebagai bagian dari cara mereka berbahagia dalam iman. Ini juga terjadi pada saya yang menjadikan hari raya idul fitri sebagai hari kegembiraan atas kemenangan diri menjadi manusia yang beriman. Natal mereka adalah muslim saya menjadi bagian dari upaya saya menjalin hubungan silaturahim dengan memberikan penghormatan atas kepentingan orang lain. Bukankah hal ini kita bangun untuk menjaga kohesi sosial dalam kehidupan yang beraneka ragam, bahkan hal ini juga menjadi cara kita berjuang untuk menjaga Indonesia. Bagi saya ini adalah ibadah. Sejauh neraca kebaikan adalah niat suci bagi masing-masing agama untuk mengundang dalam perayaan hari suci, maka sudah sepatutnya bingkai kohesi sosial menjadi bagian niat menjaga Indonesia.

Baca juga: Balewiyata dan Gus Dur; Situs Toleransi Malang yang Perlu Dirawat

Nukilan Akhir

Natal mereka adalah muslim saya bergerak dalam kesadaran kebudayaan, melampaui dari entitas keagamaan semata. Sebagai seorang muslim Indonesia, saya belajar bahwa perayaan agama-agama bukan semata-mata tentang keimanan yang membatasi sekat-sekat identitas ekslusif. Sebagian ekspresi keagamaan mereka menyumbangkan bahasa kebudayaan dengan kepemilikan nilai bersama. Tidak hanya pada tingkat mengucapkan selamat hari raya Natal, dan lainnya, tetapi interaksi perjumpaan dalan berbagai ruang di latar tempat ibadah pun dapat kita tempatkan sebagai reproduksi hubungan kebudayaan baru di Indonesia. Inti suci dari interaksi ini merupakan kreasi budaya yang bernilai adiluhung. Tidak perlu ditafsirkan yang diframing dalam penajaman konflik. Kita membutuhkan pemankaan ulang bahwa perjumpaan Natal demikian adalah buah dari kesadaran kita untuk menjadikan hubungan lintas-agama ini sebagai parktik berbudaya yang tumbuh dalam kesadaran kolektif. Dengan demikian, jamuan perayaan Natal yang mengundang berbagai perwakilan agama-agama selalu bisa kita tempatkan kedalam reproduksi kebudayaan bukan kedalam tafsir keimana eksklusif yang ujung-ujungnya bernada ekstrim gaya baru.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Joyogrand Malang

Minggu, 28 Desember 2025

UNICEF Dorong Penguatan Muatan Pemberdayaan dalam Pendidikan Kesetaraan Paket C

Kampusdesa.or.id–Pendidikan Kesetaraan Paket C merupakan jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan untuk memberikan layanan pembelajaran setara Sekolah Menengah Atas bagi masyarakat yang menempuh pendidikan di luar sistem formal. Keberadaan Paket C selama ini menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses pendidikan, khususnya bagi murid yang memiliki pengalaman belajar dan latar belakang sosial yang beragam. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Kesetaraan tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang berperan dalam membangun kapasitas murid.

Seiring dengan perkembangan kebijakan pendidikan, perhatian terhadap kualitas pembelajaran di Pendidikan Kesetaraan terus diperkuat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penguatan Muatan Pemberdayaan sebagai bagian dari kurikulum Paket C. Muatan ini diarahkan untuk mendukung murid dalam mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta memahami peran mereka dalam kehidupan sosial. Pendekatan ini menempatkan pembelajaran tidak hanya sebagai proses akademik, tetapi juga sebagai proses pengembangan diri murid.

Pendidikan Kesetaraan dan UNICEF
Upaya penguatan Muatan Pemberdayaan tersebut mendapat dukungan dari United Nations Children’s Fund atau UNICEF Indonesia yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. UNICEF mendukung pengembangan dan penyempurnaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C sebagai bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan nonformal. Dukungan ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya pelaksanaan lokakarya konsultatif untuk meninjau dan menyempurnakan modul pembelajaran.

Sebagai bagian dari proses tersebut, UNICEF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C pada 16 sampai 17 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Swiss Belhotel Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokakarya ini melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pendidik, serta perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Sanggar Kegiatan Belajar dari berbagai wilayah.

Baca juga: Pasar Ramadhan PKBM Bestari, Modal Memberdayakan Peserta Didik

Dalam kerangka acuan kegiatan yang disusun UNICEF, Pendidikan Kesetaraan dipandang sebagai jalur pembelajaran yang dirancang fleksibel untuk menjangkau murid yang melanjutkan pendidikan di luar sistem formal. Murid Paket C memiliki latar belakang usia, pengalaman belajar, dan kondisi sosial yang berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan sehari hari, serta dapat diterapkan dalam berbagai konteks pembelajaran pendidikan nonformal.

Muatan Pemberdayaan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Melalui muatan ini, murid diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mengekspresikan gagasan, serta terlibat dalam pembelajaran yang mendorong pemecahan masalah. Pembelajaran diarahkan agar murid tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar melalui diskusi, kerja kelompok, dan refleksi pengalaman. Pendekatan ini memberi ruang bagi murid untuk memahami diri dan lingkungannya.

Muatan Pemberdayaan dan Kebijakan Nasional

Pengembangan Muatan Pemberdayaan selaras dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Nomor 46 Tahun 2025. Dalam bagian Capaian Pembelajaran Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kemampuan mengelola diri, bekerja sama, serta berperan dalam lingkungan sosial. Capaian pembelajaran tersebut menjadi rujukan dalam penyusunan modul dan pelaksanaan pembelajaran Paket C.

Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan yang difasilitasi UNICEF menjadi forum untuk menelaah kesesuaian Modul Pemberdayaan Remaja dengan capaian pembelajaran tersebut. Dalam kegiatan ini, peserta melakukan kajian terhadap struktur modul, alur pembelajaran, kegiatan inti, serta bentuk penilaian. Aspek keterbacaan bahasa dan kemudahan penggunaan juga menjadi perhatian agar modul dapat digunakan secara efektif oleh pendidik di lapangan.

Selain itu, proses lokakarya juga menelaah kesesuaian modul dengan kerangka kurikulum Paket C serta kebutuhan murid Pendidikan Kesetaraan. Diskusi dilakukan untuk memastikan bahwa modul mampu mendukung pembelajaran yang inklusif dan dapat diakses oleh murid dengan latar belakang yang beragam. Dengan demikian, modul diharapkan dapat menjadi panduan pembelajaran yang aplikatif dan relevan.

Baca juga: Menjaga Tradisi dan Budaya tanpa Melukai Keimanan

Bagi pendidik, Modul Pemberdayaan Remaja berfungsi sebagai acuan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Muatan Pemberdayaan. Modul ini membantu pendidik menyusun kegiatan belajar yang terarah, namun tetap memberi ruang penyesuaian sesuai dengan kondisi murid dan satuan pendidikan. Pendekatan ini mendukung pembelajaran yang partisipatif dan mendorong keterlibatan aktif murid.
Penguatan Muatan Pemberdayaan juga mencerminkan upaya peningkatan kualitas Pendidikan Kesetaraan secara berkelanjutan. Pendidikan nonformal diposisikan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peran penting dalam menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Oleh karena itu, peningkatan mutu pembelajaran menjadi perhatian dalam pengembangan Pendidikan Kesetaraan Paket C.

Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid.

Melalui dukungan UNICEF, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna bagi murid. Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran Pendidikan Kesetaraan dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat.

Penyelenggaraan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja menunjukkan komitmen bersama antara UNICEF dan pemerintah dalam memastikan kualitas pembelajaran pendidikan nonformal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi kebijakan di tingkat satuan pendidikan.

Dengan penguatan Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga mendukung pengembangan diri murid. Pendekatan ini memperkaya makna belajar dan memperkuat posisi pendidikan nonformal sebagai bagian penting dalam pembangunan pendidikan nasional.

KATI; Eduwitasa Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Kampusdesa.or.id–Semesta Mengabdi” DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi aksi nyata gerakan mahasiswa sejak 17 Agustus 2025 di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Fiqhan, Menteri Desa dan Lingkungan Hidup DEMA menemukan tantangan sekaligus harta karun tersembunyi. Gerak ini melahirkan Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI), semangat edukasi dan kolaborasi pembelajaran berbasis alam. Cara ini mengembalikan kecerdasan alam dan semangat konservasi orang desa yang mulai tergadaikan oleh cara hidup baru.

Sidodadi adalah desa dengan kekayaan alam dan budaya yang kuat, namun menghadapi ancaman ekologis yang serius, seperti pendangkalan sungai, banjir tahunan, dan erosi. Alih-alih memilih jalan pintas melalui wisata massal yang berpotensi merusak lingkungan dan melemahkan peran masyarakat, tim pengabdian memilih pendekatan yang revolusioner.

Pendekatan Revolusioner: Eduwisata Berbasis Konservasi

Kami merancang program dengan menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Development), sebuah filosofi pengabdian yang berfokus pada penggalian potensi komunitas lokal. Fiqhan menegaskan, tujuannya bukan menjadikan masyarakat sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama dalam model eduwisata berbasis konservasi.

Puncak dari rangkaian program Semesta Mengabdi ini adalah peresmian Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI). Ini bukanlah kampus konvensional. KATI adalah kampus alam tanpa dinding yang menjadi manifestasi nyata dari tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) yang sepenuhnya berorientasi pada konservasi.

Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Konsep KATI sangatlah radikal dan visioner, sebagaimana berikut ini yakni;

  • Alam sebagai ruang belajar: kami menggeser ruang kelas tradisional menjadikan kelas alam Sidodadi sebagai sumber kurikulum dan lokasi pembelajaran utama.
  • Masyarakat sebagai dosen: Kati mengakui pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adalah guru, dosen, pengajar utama yang mereka juga memiliki kuasa mentransfer kecerdasan alam kepada generasi baru.
  • Aksi konservasi sebagai laboratorium ilmiah: Setiap kegiatan pelestarian dan penanaman langsung di lapangan berfungsi sebagai laboratorium nyata untuk penelitian dan pengujian ilmiah.

KATI dengan demikian dapat menjadi pusat riset lapangan, pengabdian jangka panjang, dan model kampus alternatif yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kati memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengasah kecerdasan alam mereka. Kati menampung berbagai peran kolaborasi dari lembaga pendidikan lain, seperti sekolah, perguruan tinggi, atau para pegiat alam untuk menjadi mitra pembelajar.

Capaian dan Proyek Masa Depan KATI: Ruang Belajar Generasi Baru

Dalam kurun waktu empat bulan pengabdian, tim Semesta Mengabdi menghasilkan capaian konkret yang menjadi fondasi operasional KATI dan dampaknya di masyarakat. Capaian ini tidak hanya berbentuk konsep, tetapi aksi nyata berbasis data lapangan.

Melalui program bidang pendidikan, seperti ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, Kati mengajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah. Melalui KATI dan kecerdasan alam generasi muda Sidodadi melatih dirinya sendiri berkomunikasi secara global dan mengangkat sumber daya alam mereka. Cara belajar demikian menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan berbasis komoditas hayati—menjaga alam sambil membangun masa depan.

Ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, diajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah

Visi Jangka Panjang: Dari Desa ke Laboratorium Nasional

Sebagaimana Mahpur, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggarisbawahi, KATI adalah wadah berdaya masyarakat dan dapat menjadi tempat Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan UIN Malang.

Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

Di masa depan, KATI akan berkembang menjadi pusat konservasi dan pendidikan lingkungan jangka panjang. Fiqhan dan tim berkomitmen untuk mengembangkan kelas alam, laboratorium sungai, pelatihan riset desa, serta program eduwisata konservasi yang melibatkan masyarakat secara penuh. KATI adalah model kampus masa depan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi pada pengalaman nyata di alam.

Peresmian KATI adalah puncak dari sebuah pengabdian dan awal dari komitmen baru untuk menjadikan Sidodadi sebagai desa konservasi yang mandiri dan berkelanjutan. Kunjungi dan jadilah bagian dari revolusi belajar tanpa dinding ini!

Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Malang, 19 Oktober 2025 | Kampusdesa.or.id – Anak-anak Dusun Sempu latihan budidaya ikan lele melalui pendampingan dosen dan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tim Qoryah Toyyibah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan inovasi pembelajaran kontekstual di SDN 03 Gadingkulon, Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, tim melaksanakan kegiatan pembelajaran budidaya ikan lele dengan memanfaatkan galon bekas, sebagai bentuk edukasi kreatif bagi anak-anak desa sekaligus langkah konkret pemberdayaan lingkungan sekolah yang telah lama terbengkalai.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut program revitalisasi aset publik yang telah berjalan sejak pertengahan tahun. Melalui kolaborasi dengan komunitas Pesona Anak Bangsa (PAB) dan Kementrian Desa dan Lingkungan DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim MALANG serta dukungan penuh dari perangkat desa, pembelajaran berbasis praktik ini melibatkan tujuh anak dari tingkat SD dan SMP dengan suasana penuh semangat dan keceriaan.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan langkah-langkah sederhana membuat kolam mini dari galon air bekas. Mereka belajar melubangi galon untuk sirkulasi udara, mencuci wadah, mengisi air bersih, hingga menyiapkan tempat bagi bibit ikan lele yang baru datang dari peternak lokal.

Belajar Otentik, Bukunya Pengalaman Langsung

“Ide ini muncul karena ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian melalui kegiatan nyata,” ujar Fiqhan Khoirul Álim, salah satu fasilitator kegiatan.

Setiap anak mendapatkan satu galon berisi sekitar 50 bibit ikan lele yang menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Mereka juga membuat jadwal harian pemberian pakan pagi dan sore yang akan mereka tandai sendiri di buku catatan.

Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya, tetapi juga diajak memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan.

Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya. Mereka juga memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan. Mereka tampak antusias, bahkan berlomba-lomba membantu teman yang kesulitan saat memindahkan bibit lele ke galon masing-masing.

“Awalnya kami kira cuma belajar teori. Ternyata benar-benar langsung praktik, bahkan bisa pegang ikan lelenya,” ujar salah satu peserta dengan gembira.

Ketua RT setempat turut yang membantu penyediaan bahan dan alat sederhana untuk melubangi galon. Ia mengapresiasi ide pembelajaran ini karena tidak hanya menghidupkan kembali aset sekolah. Pembelajaran ini mengajarkan anak-anak pentingnya memanfaatkan sumber daya sekitar secara bijak.

Membangun Ekosistem Edukatif, Melawan Kesepian

Selain memperkenalkan konsep urban farming, kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju terbentuknya ekosistem lingkungan edukatif di sekitar sekolah. Sebelumnya, area tersebut telah dimanfaatkan warga untuk menanam cabai, terong, dan bawang. Dengan hadirnya kolam lele mini, kawasan sekolah kini menjadi laboratorium kecil yang hidup dan bermanfaat.

Manyingarri Alfianoor Ibrahim, perintis yang menghidupkan SDN Gadingkulon 3 dari kematian

Setelah praktik selesai, anak-anak berdiskusi tentang cara merawat ikan, mengganti air, serta menjaga kebersihan kolam. Mereka juga belajar bahwa ikan lele membutuhkan perhatian dan kedisiplinan, karena jika lalai memberi makan, ikan dapat saling memangsa.

Melalui pembelajaran sederhana ini, anak-anak Dusun Sempu tidak hanya belajar ilmu budidaya, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan. “Kami ingin kegiatan seperti ini berlanjut, agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak meski tidak lagi aktif secara formal,” tutur Menyingari Alfianoor Ibrahim, koordinator lapangan kegiatan.

Program budidaya lele ini menjadi simbol kecil dari gerakan besar revitalisasi SDN 03 Gadingkulon—sebuah upaya nyata mengubah bangunan sepi menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan yang hidup kembali.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim. Aktifis pemberdaya masyarakat sekaligus relawan penggerak Kampus Desa Indonesia. Alumni Fellowship Program For Indonesian Youth Villagers Kampus Desa Indonesia