Jumat, Mei 1, 2026
Beranda blog Halaman 109

Ngopi Bareng Kampus Desa Indonesia

0

Teriring salam dan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga segala aktivitas kita bernilai ibadah dihadapan-Nya. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Grand Launching Kampus Desa Indonesia. Maka, dengan ini kami mengundang dan mengharap kehadiran Bapak/Ibu pada:

Hari/Tanggal   : Rabu, 22 Februari 2017

Pukul               : 19.00 WIB

Tempat            : Oase Coffee and Literacy

Kegiatan          : Rapat Koordinasi Persiapa Launching

Demikian surat undangan ini dibuat, atas perhatian dan kehadirannya disampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Soft Launching Kampus Desa Indonesia

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Teriring salam dan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga segala aktivitas kita bernilai ibadah dihadapan-Nya. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Grand Launching Kampus Desa Indonesia. Maka, dengan ini kami mengundang dan mengharap kehadiran Bapak/Ibu pada:

Hari/Tanggal   : Rabu, 22 Februari 2017

Pukul               : 19.00 WIB

Tempat            : Oase Coffee and Literacy

Kegiatan          : Rapat Koordinasi Persiapa Launching

Demikian surat undangan ini dibuat, atas perhatian dan kehadirannya disampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Kopdar Kampus Desa Indonesia

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Teriring salam dan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga segala aktivitas kita bernilai ibadah dihadapan-Nya. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Grand Launching Kampus Desa Indonesia. Maka, dengan ini kami mengundang dan mengharap kehadiran Bapak/Ibu pada:

Hari/Tanggal   : Rabu, 22 Februari 2017

Pukul               : 19.00 WIB

Tempat            : Oase Coffee and Literacy

Kegiatan          : Rapat Koordinasi Persiapan Launching

Demikian surat undangan ini dibuat, atas perhatian dan kehadirannya disampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Peresmian Taman Baca: Posdaya Bustanul Ulum Cerdaskan Generasi Bangsa

0

KDI NEWS_Jumat, 19 Agustus 2016 menjadi salah satu hari bersejarah bagi masyarakat Sidodadi Desa Gampingan Kecamatan Pagak Kabupaten Malang. Pasalnya, pada sore itu Posdaya Bustanul Ulum sukses me-launching Taman Baca. Prosesi pe-launching-an tersebut dihadiri oleh Koordinator Posdaya Kecamatan Pagak Bapak Nur Wasis, Bapak RT dan wakilnya, Pengasuh TPQ Bustanul Ulum, Ketua Komite TPQ Bustanul Ulum, Wakil Ketua Pemuda Sidodadi, dan masyarakat Dusun Sidodadi.

Latar belakang pendirian Taman tersebut dikarenakan minat membaca masyarakat Sidodadi khususnya siswa/i TPQ Bustanul Ulum dari waktu ke waktu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan maraknya pengunaan media elektronik (gadged) dikalangan mereka. Atas dasar tersebut, Posdaya Bustanul Ulum bersama mahasiswa KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) Tematik Posdaya Berbasis Masjid UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kelompok 63 mencanangkan pendirian Taman Baca yang terletak di area TPQ. Peletakan Taman Baca di area TPQ dimaksudkan agar masyarakat terlebih siswa/i TPQ bisa membaca buku-buku yang ada bersama-sama dan dimaksudkan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar di TPQ.

Menempati sebuah ruang kosong di salah satu bangunan TPQ, Taman Baca didesain dengan dekorasi ala pertamanan. Susunana buku-buku tertata rapi di rak-rak yang terbuat dari bambu. Berbagai jenis buku tersedia di Taman Baca, mulai dari buku tentang pengetahuan agama Islam, buku cerita anak-anak bergambar, majalah-majalah, buku pelajaran, dan masih banyak yang lain. Suasana Taman Baca yang didesain penuh warna dan berbuansa segar tersebut diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk mengunjungi taman baca dan membaca buku-buku yang disediakan.

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita di depan ruang Taman Baca oleh Kepala Sekolah TPQ Bustanul Ulum Ibu Hj. Su’udiyah dengan diawali pembacaan sholawat 3 kali. Gemuruh suara tepuk tangan masyarakat menyambut hangat setelah pita berhasil terpotong. Masyarakat menyambut positif adanya Taman Baca tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Bapak Fauzi selaku Ketua Komite TPQ Bustanul Ulum, “Adanya peresmian Taman Baca sangat menunjang, karena orang tidak tahu akan menjadi tahu karena buku. Orang tidak bisa membaca, terus bisa membaca karena buku.” Dengan adanya Taman Baca ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca masyarakat Dusun Sidodadi Desa Gampingan Kecamatan Pagak tersebut. (Nurika Dwi O)

Sumber: http://lp2m.uin-malang.ac.id/2016/08/22/posdaya-bustanul-ulum-cerdaskan-generasi-bangsa-dengan-taman-baca/

Berdayakan Mahasiswa Untuk Bangun Desa Binaan

0

KDI News_Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina mengklaim, berkomitmen untuk menciptakan energi terbarukan. Salah satunya dengan menggandeng sejumlah akademisi dan peneliti dari perguruan tinggi.

Karena itu Pertamina secara rutin untuk keenam kalinya menggelar ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN), bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI).

Sebab, salah satunya fokus yang dilakukan Pertamina yakni membangun sebuah desa binaan di sejumlah titik di wilayah Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada menjadi energi terbarukan.

“Banyak peneliti atau mahasiswa yang mulai meneliti energi dari sampah atau eceng gondok kan banyak terdapat di desa-desa, bisa diolah menjadi biogas,” kata CSR Manager Pertamina, Ifqi Sukarya di Gedung Rektorat UI, Depok, Rabu (27/11/2013).

Proyek lainnya, kata Ifqi, Pertamina tengah mengembangkan pembangkit listrik dari sampah di Tempat Pembungangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Sehingga nantinya, listrik yang bisa dihasilkan sebesar 120 megawatt dan bermanfaat untuk skala industri.

“Saat ini masih terus bergulir, masuk tahap tahun ini. Hal itu agar masalah sampah bisa teratasi, bisa diolah kita olah lagi menjadi listrik,” paparnya.

Para peneliti dari kalangan akademisi, lanjutnya, dilibatkan untuk menyumbangkan gagasan dalam menciptakan energi terbarukan. Pihaknya juga terus melakukan penjajakan dengan sejumlah desa di Indonesia.

“Bisa juga energi dari angin. Untuk industri, dan kami juga ada pembangkit kecil untuk masyarakat di sekitar desa binaan. Kita ada pembangkit kecil, untuk pendidikan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Ada yang memanfaatkan solar cell,” ungkapnya.

Sehingga, lanjut Ifqi, desa binaan Pertamina tersebut bisa menjadi desa yang mandiri. Desa binaan di antaranya di daerah Kamojang (Garut) dan Plaju (Palembang). “Kita kelola sampah, kami juga mendorong masyarakat terus manfaatkan bank sampah, dikumpulin di karung menjadi tabungan sampah dan bermanfaat,” jelasnya.

Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/810746/15/pertamina-berdayakan-mahasiswa-bangun-desa-binaan-1385544744

Ngaji Tani 6; Mencetak Petani Berdaya Ledak Tinggi hanya dengan Kencing Sapi

1

Bermodalkan kencing sapi yang sudah difermentasi (bio urine) dan benih labu madu 4 biji kini meledak menjadi 400 biji (calon benih F2) di pekarangan rumah petani (Subahri, 37thn) salah satu jamaah ngajitani di kampung cabe, Desa Kadur, Pamekasan.

Ini bukan tentang perkara begitu mudahnya bertani itu atau tentang varietas komoditi apa yang ditanam, tapi mari kita cermati secara lebih mendalam hikmah dan makna dibalik success story bertani ini. Bahwa di jaman now, informasi, ilmu dan teknologi sudah sangat maju dan bahkan semakin mudah diakses oleh siapapun dan dimanapun sehingga seharusnya peluang untuk terciptanya banyak success story di level petani juga semakin banyak dan terbuka.

Pada kenyataannya tidak demikian, karena minat dan interes bertani di kalangan generasi muda ternyata juga sudah semakin tergerus dan ke depan kita bahkan sangat berpotensi mengalami krisis regenerasi petani.

Oleh karenanya ngajitani hadir dan komunitasnya semakin menyebar dan menguat, salah satunya didorong karena situasi dan kondisi yang demikian itu.
Ikhtiar untuk mencetak petani berdaya ledak tinggi, kini sudah mulai tampak dengan munculnya sosok petani bernama “Subahri”.

Setiap kali selesai “ngaji” (belajar) ia langsung melakukan praktik bertani, setidaknya dimulai dari pekarangan rumah sendiri. Bertanggung jawab dan punya disiplin tinggi sejak memperlakukan benih, merawat hingga membuahkan tanaman dengan tetap berkhidmat pada lingkungan dan sudah tentu tak menegasikan kehendak dan kuasa Tuhan.

Perhatian kritisnya sekali lagi adalah bagaimana mungkin benih 4 biji meledak menjadi 400 biji tanpa dengan cara “bertani”?

Jadi, prasyarat awal menjadi petani kreatif dan mandiri setidaknya terlewati dengan bisa membuat pupuk sendiri dan meledakkan benih agar bisa ditanam lagi. Selanjutnya tinggal bagaimana mendorongnya masuk dalam ekosistem pertanian yang lebih luas agar bisa meningkatkan kualitas interaksi yang berbasis transaksi (bisnis pertanian).

Siapa lagi mereka (Petani berdaya ledak tinggi) di lingkungan sekitar anda CARI~DEKATI~TEMANI dan ajak ~NGAJITANI

Pesantren Salaf dan Segala Kesederhanaannya

0

Di Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Tlogo terdapat salah satu pesantren sepuh, yang diasuh oleh Allahu Yarham Almarhum KH. M. Hafidz Syafi’i. Dalam hal ini yang dimaksud sepuh bukanlah dalam segi usia pesantren tersebut. Melainkan ilmu-ilmu dan “laku” yang diajarkan di pesantren tersebut  terlampau “tua”, minimal bagi penulis yang waktu itu masih santri bau kencur. Rata-rata para santri di pesantren tersebut merupakan alumni dari berbagai pesantren baik jawa maupun luar jawa yang sudah menyelesaikan jenjang sekolah diniyah tingkat aliyah di masing-masing pesantrennya, sehingga di pesantren Manba’ul Hidayah hanya tinggal tabarukan, ngalap barokah, dengan ngaji kitab-kitab secara bandongan dan melakukan upaya-upaya pengembangan diri secara ruhani. Dengan tempatnya yang terpencil di tengah kampung, berdampingan dengan makam umum desa, dikelilingi kebun dan pekarangan juga sawah-sawah semakin mendukung untuk “mengisolasi” diri dari publik.

Di pesantren tersebut pertama kali penulis mendengar istilah Kiai Mimbar dan Kiai Dampar. Bahwa Kiai Mimbar adalah merupakan sebutan bagi kiai yang aktifitas terpadatnya di wilayah dakwah, pidato, pengajian, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan komunikasi publik langsung. Sedangkan Kiai Dampar adalah merupakan sebutan untuk kiai yang sehari-hari menghabiskan waktu di atas meja belajar (dampar), membaca kitab, menelaah, dan membacakannya kepada para santri. Kasak-kusuk yang sering terdengar baik dari sesama santri maupun orang kampung bahwa Mbah Hafidz merupakan kiai yang semenjak kedatangan beliau di kampung tersebut yang diamanahi dengan pemberian tanah, rumah dan langgar wakaf tersebut tak sekalipun keluar rumah kecuali untuk sholat jum’at, atau dalam kondisi genting dan mendesak, menghadiri undangan tetangga dekat. Sedari awal beliau hadir dan membangun pesantren, sehari-hari beliau hanya membacakan kitab yang diikuti oleh puluhan santri, baik yang mukim maupun santri kalong. Sedangkan waktu luang di luar jam ngaji beliau manfaatkan untuk menelaah kitab-kitab. Pagi hari setelah sholat dhuha sekitar jam 07.00. WIB sampai pukul 10.30 jadwal mengaji beliau, kemudian istirahat sampai dhuhur. Setelah dhuhur sampai jam 14.30. WIB. Malamnya bakda maghrib sampai menjelang Isya’. Sedangkan waktu di luar itu dihabiskan untuk membaca dan menelaah kitab di ndalem. Praktis seluruh hidup beliau dihabiskan dengan membaca. Sampai beberapa hari menjelang wafat di tahun 2009, beliau masih membacakan Kitab  Ihya’ Ulumuddin sebagai wirid beliau sehari-hari. Beliau terkenal sangat suka dengan kitab satu itu, menurut cerita santri lawas, saat beliau masih muda sambil menggendong putri sulungnya sembari membacakan kitab sebagaimana rutinitas beliau, beliau sempat berkelakar bahwa siapapun orangnya boleh menikahi putrinya asal hafal kitab Ihya’ di luar kepala. Begitulah sosok yang merupakan mantan kepala keamanan di Pesantren Lirboyo, pada masanya. Seantero Blitar sudah tahu jikalau mencari pesantren yang kiainya istiqomah memberi asupan kitab-kitab tua ya ke Pesantren Tlogo, ke Mbah Hafidz.

Cikal bakal Pesantren Manba’ul Hidayah adalah merupakan sebuah rumah tua yang dilengkapi langgar di depannya. Sampai sekarangpun rumah dan langgar tersebut belum pernah sekalipun dipugar. Untuk menjaga keaslian bentuk sedari awal. Sebelum hijrah ke desa Tlogo Mbah Hafidz muda yang merupakan menantu dari KH. Shodiq Damanhuri (pendiri Pesantren APIS Blitar) tinggal di kompleks Pesantren APIS Blitar yang terletak di desa Gondang Kecamatan Gandusari, di lereng Gunung Kelud. Di Pesantren APIS, Mbah Hafidz muda digemari para santri terbukti setiap hari banyak yang ingin mengaji pada beliau. Saat beliau berhijrah ke desa Tlogo bersama istrinya yaitu Hj. Umi Fatimah Az-Zahra (Putri KH. Shodiq Damanhuri) beramai-ramai para santri APIS mengikuti beliau. Awalnya karena hanya tersedia rumah dan langgar waqaf para santri beraktifitas di langgar tersebut. Kemudian Mbah Hafidz muda punya inisiatif membuatkan kamar untuk para santri “Assabiqunal Awwalun” tersebut. Dengan tekun Mbah Hafidz muda mencetak batu bata sendiri, memproses tanah liat dan mencetaknya. Setelah dirasa cukup. Mbah Hafidz muda mengajak santri dan warga “shalawatan”, bukan diiringi dengan musik dan sambil mengibarkan bendera layaknya konser. Tetapi beliau bersama para jamaah membaca sholawat-sholawat pilihan dengan jumlah tertentu dan waktu-waktu tertentu pula. Ditujukan untuk memperlancar proses pembangunan kamar dan aula. Akhirnya diatas kamar mandi ditumpuk balok-balok kayu sebagai penyangga lantai kamar santri, tembok dinaikkan secukupnya agar cukup untuk dijadikan bangunan kamar. Di samping kamar mandi yang atasnya dibuat kamar, ada satu bangunan lagi yang berlantai dua. Di lantai bawah dibuat sekat menjadi tiga kamar, lantai atas dengan konsep yang sama yang diterapkan pada kamar di atas kamar mandi, yaitu balok-balok kayu ditumpuk sebagai penyangga lantai. Lantai dua diperuntukkan sebagai aula. Sampai sekarang pun dua bangunan awal tersebut masih ada dan kokoh tak tertandingi, seperti iklan semen yang sering menghiasi layar kaca TV kita. Bangunan hasil karya Mbah Hafidz tersebut terkenal dengan istilah “Bangunan Berotot Shalawat”.

Manba’ul Hidayah. Nama yang dipilih oleh Muassis untuk menamai pesantren tersebut. Mbah Hafidz muda setelah merasa cukup untuk memfasilitasi santri-santri dengan lokal bangunan kamar dan ruang serbaguna (aula) beliau mulai menertibkan jadwal ngaji, ngaji di sini bukan ceramah, melainkan kiai membacakan kitab sekaligus arti makna dan tafsirnya dan disimak oleh para santri sembari menulis ulang di kitab yang masih bersih atau gundul. Metode tersebut lebih dikenal dengan nama Wetonan atau Bandongan. Mula-mula di pesantren tersebut tidak ada sekolah diniyah, karena memang santri-santri yang mukim di situ adalah santri kawak (lama) di pesantrennya masing-masing, sehingga para santri tersebut ke Pondok Tlogo hanya tabarukan, ngalap barokah dengan ngaji kitab-kitab “sepuh”. Seiring dengan berjalannya waktu, para santri semakin banyak, tak hanya dari alumni pesantren lain melainkan juga yang belum pernah nyantri pun banyak yang ingin belajar di pesantren tersebut. Karena khawatir masalah kurangnya kemampuan penguasaan ilmu alat (nahwu, sharaf) dan beberapa ilmu dasar agama bagi santri yang baru mengenyam pesantren, akhirnya Mbah Hafidz memberi kebijakan untuk menerapkan sistem madrasah diniyah. Yang menjadi pengajar adalah para santri senior. Sepertinya beliau terinspirasi oleh almarhum Mbah Manab (Pendiri Ponpes Lirboyo) dalam pemberlakuan madrasah diniyah. Tak berhenti sampai di situ, banyak para siswa sekolah yang ingin nyantri di situ. Perangkat organisasi, jadwal dan sistem pun diterapkan. Dan perlu diketahui, bahwa kamar-kamar santri yang semula hanya 4 kamar (1 di atas kamar mandi, 3 di bawah aula) lambat laun berubah menjadi kompleks hunian. Uniknya bangunan kamar-kamar yang baru merupakan inisiatif para santri sendiri. Mereka memilih lokasi dan membangun bilik-bililk sendiri, dengan modal dan tenaga sendiri. Ada yang dibangun mirip gubuk sawah, ada yang bagus mengkilat dengan dengan warna cat dan kilau keramik. Bahkan ada yang sampai membangun ruangan eksklusif yang dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar-kamar, bilik-bilik dan bangunan-bangunan baru mulai tumbuh satu per satu bak jamur di musim penghujan. Seiring banyaknya santri yang datang, dan lahan juga memang luas.

Adalah Ny.Hj. Umi Fatimah Az-Zahra merupakan sosok Bu Nyai Wonder Women, tokoh di balik layar yang menggerakkan laju manajemen organisasi pesantren dan diniyah. Setelah banyak santri yang datang dari berbagai pelosok belahan nusantara, baik yang hanya ingin tabarukan maupun ingin diniyah, atapun para siswa sekolah yang juga ingin mencucup berkah pesantren tersebut. Santri putri tiba-tiba menjadi banyak, anak-anak kecil di sekitaran desa tersebut juga dibukakan TPQ di sore hari. “Bu Um” panggilan akrab beliau di kalangan masyarakat merupakan sosok yang tegas, gesit, disiplin dan visioner, dan kekhasan beliau sehari-hari yaitu selalu mengenakan sarung dan bersandal bakiyak. Seorang penceramah yang lebih tepatnya orator ulung. Banyak koneksi dan jaringan di setiap tempat. Sampai saat ini penulis belum sempat bertanya tentang proses pembangunan dan sumber dana dari pembangunan gedung madrasah  berlantai tiga yang sehari-hari dipakai sebagai madrasah diniyah dan TPQ. Uniknya gedung tersebut sejak mula dibangun sampai sekarang dilarang untuk dipasangi daun jendela. Dengan pintu kayu ala kadarnya, praktis seperti bangunan yang belum jadi, “ompong-mlompong” tak berjendela. Namun sejatinya sudah finish. Di bangunan tersebutlah penulis sering mendapatkan ta’zir (hukuman) berupa push-up, sit-up, dan setrap berdiri sepanjang jam pelajaran diniyah malam hari.

Penulis sempat kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren tersebut. Santri-santri senior yang terlihat garang terutama dengan penampilannya yang kumal dan rambut gondrong. Ditambah dengan membawa rokok lintingan (racikan sendiri) yang sebesar ibu jari. Namun mereka terlihat lucu karena sering melontarkan humor-humor segar khas pesantren, topiknya tetap tidak jauh dari seputar santriwati, baca kitab “blekak-blekuk”, santri baru yang tak bawa buah tangan, dan masalah tidur di pagi hari yang sudah melegenda. Tidak segan-segan mereka juga habis-habisan ngerjain santri lain, terutama santri baru. Pernah suatu ketika penulis akan berangkat sekolah di kampung sebelah, kebetulan jadwal masuk pagi, sehari-hari penulis berangkat sekolah menggunakan sepeda ontel, yang kira-kira memakan waktu 20-30 menit untuk tiba di sekolah. Sangat berbeda dengan pesantren yang sebelumnya penulis tinggali, karena di pesantren sebelumnya ada transportasi antar jemput dari pesantren menuju sekolah. Berbeda dengan di sini, jauh dari dari ketergantungan. Suatu pagi yang tenang, sekitar pukul 05.30. WIB, usai acara sorogan Al-Qur’an. Penulis bersiap untuk berangkat sekolah, saat menuju parkiran sepeda, sepeda penulis lenyap. Dicari-cari sampai jam 7 pagi tidak ketemu juga, pasrah berharap karena berfirasat hilang diambil maling. Akhirnya para santri geger ikut mencari sepeda. Singkat cerita ada yang melihat keberadaan sepeda tersebut nangkring di atas pohon genitu. Dalam hati penulis sangat menggerutu. Ternyata usut punya usut para santri senior yang menaikkan sepeda tersebut ke pohon genitu. Sang tersangka pun muncul dari balik kompleks tanpa merasa bersalah menyampaikan pertanyaan dengan meninggikan suara: “Gawe opo kang,  sekolah mbarang? Arep dadi opo? Mondok wae sing tenanan luwih manfaat”. Luar biasa, tak merasa bersalah malah menggurui. Aksi-aksi kontra terhadap aktivitas sekolah umum sering kali terjadi, itu satu dari sekian deret aksi-aksi yang lain. Penulis maklum karena para santri senior memang sejak dini tak pernah mengenyam sekolah umum (formal) sehingga menolaknya. Bisa juga karena mereka masih kuat dalam kecurigaan sekolah formal terkait politik Tasyabbuh zaman kolonial.

Ada sebuah cerita menarik, berasal dari para pengurus pesantren bahwa pernah ada upaya yang dinilai “baru” dalam adat kebiasaan di pesantren waktu itu, yaitu membuat proposal pembangunan. Melihat pentingnya pendidikan agama, perlunya membangun baik wilayah fisik maupun non fisik. Suatu waktu ada informasi bahwa pesantren melalui pengurus pesantren sedang menggodok proposal pembangunan, entah waktu itu untuk pembangunan wilayah mana. Ketika para pengurus sowan ke pengasuh untuk meminta persetujuan dan membahas prosesnya, tiba-tiba pengasuh dalam hal ini Mbah Hafidz menyampaikan: “Iyo kang rapopo, engko duwite langsung digowo nang blumbang (kolam) yo… ! ”  . Para pengurus diam, hening.  Akhirnya salah satu pengurus memberanikan diri bertanya:”Damel nopo nggih Bah (Abah) kok dipun arahaken dateng blumbang?  Nopo damel mbangun blumbang? Pangapunten”.   Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Kiai menjawab: “Diguwak’ (dibuang) kang!”. Seketika ruangan hening, tertegun, keringat dingin bercucuran, mulut terkunci rapat. Para pengurus akhirnya memutuskan  pamit undur diri dari ndalem. Singkat cerita rencana pembangunan itu pun otomatis dibatalkan oleh para pengurus. Puitis sekali momen tersebut.

Pernah suatu waktu para santri punya inisiatif untuk membersihkan halaman kompleks kamar santri. Tidak berhenti di masalah pembersihan halaman yang waktu itu masih berupa tanah. Setelah bersih ternyata halaman tersebut dibuat lapangan sepak bola. Akhirnya setiap sore bakda shalat asyar para santri putra bermain bola. Karena termasuk hal positif untuk kesehatan, para pengurus juga diam saja tanda menyetujui gerakan revolusioner santri-santri tersebut. Setelah berjalan beberapa hari. Tak disangka pada suatu siang Mbah Hafidz berjalan-jalan di halaman kompleks, melihat Mbah Hafidz berjalan para santri langsung berhenti beraktifitas, menunduk tanpa ada gerakan sedikitpun. Lama sekali beliau berkeliling, akhirnya beliau beehenti tepat di tengah halaman yang biasanya dijadikan medan laga sepak bola. Tak disangka, beliau menanam pohon kelengkeng tepat di tengah-tengah halaman tersebut. Setelah dirasa cukup membenamkan tanaman tersebut, beliau pun kembali ke ndalem. Dan mulai hari itu juga tak ada lagi cerita sepak bola. Kecuali sepak bola api di malam Muwadda’ah Akhirussanah (malam perpisahan akhir tahun) yang sudah lama ditradisikan.

Luar biasa bukan. Cukup dengan bahasa-bahasa sederhana, kiai sebagai simbol dan pengasuh sebuah sub-kultur masyarakat (meminjam bahasa KH. Abdurrahman Wahid) sukses membangun sistem pendidikan yang “unik” dan mengakar. Dan sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita yang cukup berkesan. Jika tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren pasti akan bertanya-tanya sembari keheranan melihat tingkah polah para santri serta cara pengkondisiannya. Terutama santri-santri yang dulunya nakal dan sulit diatur, tetapi setelah terjun di masyarakat menjadi tokoh penting dan rujukan umat. Mungkin jika boleh dikata, itulah yang disebut barokah.

Selamat Hari Santri.

Utamanya, tulisan ini penulis dedikasikan untuk Murabbi Ruhina, Allahu Yarham  Almarhum KH. M. Hafidz Syafi’i. Pengasuh Pesantren Manba’ul Hidayah, Tlogo-Kanigoro-Blitar. Sekaligus untuk memperingati Hari Santri Nasional 2017.

Antisipasi New Normal, Dosen Unismuh Gelar PKM Ramah Difabel

0

Kampusdesa.or.id–Sejumlah tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mengadakan kerjasama Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PKM) di Desa Lamanda Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 1-3 Juni 2020. Aksi kepedulian ini terinspirasi dari 62 desa Inklusi yang terletak di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. Tujuannya jelas untuk menyapa penyandang disabilitas serta memberi arahan menyambut new normal life di era pandemi COVID-19. Desa Lamanda berjara sekitar 180 Km dari Kota Anging mammiri.

Sebagai langkah antisipatif terhadap new normal di era pandemi COVID-19, tim dosen FEB bersinergi dengan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar untuk menginisiasi desa Lamanda sebagai Desa Tanggap COVID-19.Langkah kolaboratif ini sesuai dengan surat edaran menteri desa No 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap COVID-19 dan penegasaan padat karya tunai.

Kepala Desa Lamanda, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Muhammad Amran SP, menyambut baik kehadiran tim dosen Unismuh Makassar. Terlebih atas kepedulian tim tugas untuk berbagi inspirasi, motivasi, ilmu, serta pengalaman kepada para penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas di Desa Lamanda terdiri dari kategori tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa.

Saat kegiatan PKM itu, dr Dito Anurogo MSc, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar memberikan penyuluhan tentang langkah cuci tangan yang baik dan benar menurut WHO. Ia juga mensosialisasikan informasi tentang tanda dan gejala seseorang yang diduga menderita COVID-19. Tak lupa pula ia memberikan motivasi kepada para penyandang disabilitas dengan cara nonton bareng video inspiratif, kisah Nick Vujicic, seorang motivator dunia yang terlahir tanpa tangan dan kaki.

Saat kegiatan PKM itu, dr Dito Anurogo MSc, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar memberikan penyuluhan tentang langkah cuci tangan yang baik dan benar menurut WHO. Ia juga mensosialisasikan informasi tentang tanda dan gejala seseorang yang diduga menderita COVID-19. Tak lupa pula ia memberikan motivasi kepada para penyandang disabilitas dengan cara nonton bareng video inspiratif, kisah Nick Vujicic, seorang motivator dunia yang terlahir tanpa tangan dan kaki. Kisah Nick Vujicic mampu memikat peserta, terbukti video yang hanya berdurasi lima menit itu membuat sebagian pelupuk mata hadirin berkaca-kaca. Dokter Dito berharap peserta yang hadir dapat menjadi relawan desa tanggap Covid-19.

Setelah sesi materi kesehatan usai, dilanjutkan dengan materi ekonomi kewirausahaan yang disampaikan secara apik oleh Kepala Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar, beliau adalah Ibu Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc. Beliau menyampaikan presentasi bertajuk “Sukses Itu Suatu Keharusan”. Catatan penting darinya mengajarkan kita bahwa salah satu jalur meraih kesuksesan adalah melalui ekonomi yang tidak lain tidak bukan adalah dengan cara berwirausaha atau berbisnis. Berwirausaha akan semakin efisien ketika diawali dengan identifikasi peluang usaha yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. Agar tersistematisasi, caranya dengan membuat Business Model Canvas (BMC).

Berikut langkah langkah penerapan BMC: Pertama, tentukanlah siapa target pembeli atau pelanggan kita? Misalnya bisnis perhiasan. Tentukan secara spesifik, apakah segmentasi perhiasan tersebut diperuntukkan remaja, ibu rumah tangga, atau wanita karir. Kedua, nilai lebih apakah yang akan kita berikan kepada pelanggan kita? Nilai pembeda apakah yang membedakan bisnis kita dengan para kompetitor kita? Ketiga, bagaimana strategi kita untuk pendistribusian produk? Dengan kata lain, bagaimana kita menjual hasil produk hingga sampai di tangan konsumen?

Keempat, bagaimana taktik kita untuk mendapatkan, memuaskan, sekaligus mempertahankan pelanggan? Kelima, bagaimana kiat untuk mendapatkan pemasukan uang dari usaha yang sedang anda jalankan? Apa saja langkah alternatif yang perlu dilakukan untuk mendapatkan uang lebih banyak? Keenam, sumber daya kunci apa saja yang diperlukan atau perlu dimiliki untuk menjalankan usaha? Ketujuh, kegiatan utama apa saja yang harus dilakukan agar bisnis kita berproses secara berkesinambungan? Kedelapan, siapa saja rekanan, partner, atau pemasok yang mendukung proses bisnis kita? Kesembilan, komponen biaya apa saja yang perlu dikeluarkan agar usaha kita berjalan?

Kuliah umum kewirausahaan itu semakin hidup ketika Bu Agusdiwana mendemonstrasikan dua jenis produk unggulan karya mahasiswa binaannya yaitu Tahu Firaun dan Bakso Goreng Mantjah. Model penyampaian materi yang komplit sepaket dengan tata cara beserta contohnya akan memudahkan peserta yang notabenenya sebagian besar adalah individu yang memiliki keterbatasan.

Kuliah umum kewirausahaan itu semakin hidup ketika Bu Agusdiwana mendemonstrasikan dua jenis produk unggulan karya mahasiswa binaannya yaitu Tahu Firaun dan Bakso Goreng Mantjah. Model penyampaian materi yang komplit sepaket dengan tata cara beserta contohnya akan memudahkan peserta yang notabenenya sebagian besar adalah individu yang memiliki keterbatasan. Dengan didampingi mahasiswa, kegiatan audience berlanjut dengan praktik langsung bagaimana membuat konsep BMC yang benar dalam sebuah kertas karton besar.

Follow up kegiatan PKM ini ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dengan perangkat Desa Lamanda. Simbol hitam diatas putih ini diharap akan mensukseskasn implementasi PKM yang berkelanjutan di Desa Lamanda, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.