Senin, Mei 4, 2026
Beranda blog Halaman 19

6 Strategi Persiapan Ramadhan Mahasiswa Baru Muslim di Taiwan

0

Menjalani ibadah ramadhan di Taiwan tentu rasanya berbeda dengan melaksanakan ibadah puasa tersebut di Indonesia yang mayoritas muslim. Tidak hanya berbeda kondisi sosiologis, secara personal tentu ada berbagai kekurangan sebagaimana kalau kita menetap di Indonesia. Apa yang mahasiswa baru lakukan di perantauan negeri Taiwan saat mereka yang muslim saat memasuki bulan Ramadhan.

Taipei, KAMPUSDESA.OR.ID – Bulan suci Ramadhan adalah bulan mulia. Salah satunya karena di dalamnya Allah menurunkan Alquran. Umat Islam perlu menambah bekal keilmuan dan beberapa strategi sebagai persiapan menyambut datangnya bulan istimewa ini.

Pertama, berdoa kepada Allah SWT agar kita dipertemukan dengan Ramadhan. Salah satu kalimat doa yang baik adalah, “Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan.”

Mu’alla bin al-Fadhi berkata, “dulunya para salaf berdoa kepada Allah SWT. selama enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepadaNya selama enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal saleh) yang mereka kerjakan.” (Lathaif Al-Ma’arif: 174)

Baca juga: Popiah; Lumpia Taiwan Bikin Perayaan Kematian Semakin Nikmat

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Tuntaskan hutang puasa sebelumnya di bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a. tidak dapat mengqadha puasanya kecuali di bulan Sya’ban. Perlu diketahui, menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa. Maka kewajibannya adalah tetap mengqadha dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan, yakni memahami fiqh puasa. Mu’adz bin Jabal ra berkata, “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.” Atsar ini mendapatkan perhatian dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliau berkata, “Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya, dan apa-apa yang menguranginya.”

Allah menerangkan anjuran untuk menuntut ilmu di dalam QS Al Mujadalah ayat 11, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim No 2699). 

Keempat, persiapan jiwa dan spiritual (tazkiyatun nafs). Sebagian cara untuk mempersiapkan jiwa dan spiritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya. Minimal memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Aisyah ra berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat nabi berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sesering di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Rajab dengan Ramadhan. Padahal di bulan itu, amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i dan Abu Daud)

Kelima, persiapan finansial. Ibnu Abbas berkata, “Nabi adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Baca juga: Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

Keenam, persiapan fisik, menjaga kesehatan. Rasul bersabda, “pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” [HR. Al-Hakim]

“Terkhusus mahasiswa baru di Taiwan, ada beberapa masjid yang dapat dikunjungi. Misalnya: Taipei Grand Mosque (TGM), Tainan Mosque, Taichung Mosque, Taipei Cultural Mosque. Dua tahun terakhir ini, Masjid Agung Taiwan (TGM) tidak mengadakan buka puasa bersama. Namun masih mengadakan shalat tarawih bersama,” jelas Muhammad Muslih, pembicara kajian dan mahasiswa PhD di College of Nursing, Taipei Medical University, Taiwan.  

Kegiatan dwi mingguan yang diselenggarakan oleh Indonesian Muslim Student Association (IMSA) TMU ini bertempat di room 2301 TMU, hari Jumat 09 April 2021. Sekitar 33 orang peserta sangat antusias mengikuti acara hingga usai. Selain menambah pengetahuan dan pengalaman baru, sebagian mahasiswa baru yang hadir memang sengaja meluangkan waktu untuk saling bersilaturahmi, sekaligus memperkuat ukhuwah.  

“Kajian ini menambah wawasan dan paparan baru, terutama untuk mahasiswa baru yang tahun ini menjalankan puasa Ramadhan di negeri orang (Taiwan).” Demikian ungkap Syahru Agung Setiawan. Ia mahasiswa baru program PhD di International Graduate Program in Medicine (IGPM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan.

[Liputan langsung oleh dr Dito Anurogo MSc, peserta kajian, mahasiswa S3 IPCTRM TMU Taiwan, Dokter Rakyat di Kampus Desa Indonesia]

Tips Orang Tua Menjadi Guru Belajar Dari Rumah

0

Saat pandemi, orang tua seperti guru kedua bagi anak-anaknya. Oh, apa bukan guru pertama ya? Kan, tugas orang tua memang pertama bagi anak-anaknya sendiri. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mendampingi anak belajar dari rumah. Tips berikut bisa menjadi satu di antara pilihan tugas orang tua menjadi guru di rumah. Simak yuk!

KAMPUSDESA.OR.ID–Di masa pandemi permasalahan pendidikan anak menjadi bertambah. Dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hal itu menyangkut dikhawatirkannya rendahnya daya serap dan penerimaan materi pelajaran.

Orang tua masih banyak yang beranggapan bahwa sukses akademislah yang menjadi penentu masa depan anaknya. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kondisi pembelajaran yang berbeda, guru tidak memberikan materi secara langsung, maka puncak kekhawatiran terhadap penguasaan isi materi pembelajaran melanda para orang tua.

Belum lagi kekhawatiran terhadap hubungan sosial anak. Meski dengan banyak pembatasan akibat pandemi Covid-19, kenyataannya anak-anak tetap saja bermain dengan teman-temannya sehingga waktu bermain lebih banyak dibandingkan pada saat sekolah pada kondisi normal. Jika masuk sekolah sekitar enam sampai tujuh jam berada pada pengawasan dan bimbingan guru. Saat itulah orang tua relatif lebih mudah tanggung jawabanya karena sudah dibebankan kepada guru. 

Muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal.

Baca juga: Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi – Kampus Desa Indonesia

Dari situlah muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu disebabkan masih buntunya pengetahuan orang tua untuk menghadapi situasi pembelajaran darurat di tengah-tengah semangat yang tinggi terhadap proses belajar anaknya. Orang tua penuh harapan, dengan keberhasilan akademis masa depan anak juga menjadi lebih baik. Namun masih banyak yang belum menyadari jika keberhasilan akademis harus banyak diimbangi dengan keterampilan sehingga keberhasilan hidupnya akan lebih sempurna.

Dilaporkan dari hasil survey National Association of Colleges and Employers (NACE). Pada survey tersebut didapat 20 Kepribadian Unggul (Winning Characteristic), yang diurutkan sebagai berikut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi, kreatif, humoris, kemampuan berwirausaha.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu. Akademis bukan satu-satunya penentu keberhasilan masa depan anak. Mereka memiliki potensi yang cenderung berbeda dari anak lainnya serta harus ditunjang dengan pengembangan diri seiring dengan waktu dan hubungan sosial dengan lingkungan.

Baca juga: Mengatasi Perilaku Menyimpang Anak Dalam Kelas – Kampus Desa Indonesia

Masa pandemi saat ini harus disikapi secara positif oleh orang tua. Mencari alternatif pendampingan terhadap waktu-waktu yang dimiliki anak saat tidak bersekolah dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu orang tua tidak menghabiskan energi untuk mencari kekurangan sistem pembelajaran di masa pandemi, yang jelas tidak sempurna dan dapat memenuhi keinginan dan harapan.

Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua agar waktu anak di masa pandemi dapat membawa manfaat dan dapat menunjang keberhasilan masa depan diantaranya antara laim menyusun jadwal harian anak. Harapannya anak dapat memanfaatkan waktu dengan terencana, waktu terpakai tidak untuk hal yang sia-sia.

Orang tua juga dapat menjadwalkan pembelajaran dengan guru. Bukan tidak mungkin orang tua mengalami kesulitan dalam penguasaan materi pelajaran tertentu sehingga perlu komunikasi yang baik dengan guru kapan dapat memberi waktu untuk konsultasi atau menanyakan materi secara lebih dalam.

Oram tua juga bisa memberi waktu untuk membaca buku. Membaca merupakan kegiatan wajib yang perlu dibiasakan siswa. Sejak lama jargon buku jendela ilmu didengungkan. Tetapi jika tidak dilatihkan sejak dini anak, dalam penguasaan literasi baca juga rendah. Apalagi di era disrupsi, buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Munculnya ide bisa berawal dari inspirasi yang diperoleh dari membaca berbagai macam bacaan yang dibacanya dengan penuh pemaknaan.

Mengikutsertakan anak dalam pelatihan keterampilan juga bisa menjadi pilihan. Daripada waktu yang terbuang banyak, orang tua harus selektif menentukan keterampilan yang harus dikuasai. Keterampilan penggunaan aplikasi komputer misalnya, dapat menjadi pilihan bagi anak. Tentu saja harus selektif, menyesuaikan dengan bakat dan minat anak. Yang tidak kalah penting, di masa pandemi apakah lembaga yang dipilih tersebut menerapkan protokol kesehatan atau tidak. Jika memungkinkan terhadap jenis keterampilan tertentu bisa dipanggil ke rumah untuk bimbingan secara privat.

Kegiatan lainnya bisa mengarahkan untuk mengikuti kompetisi virtual. Selama masa pandemi banyak lembaga yang memberi kesempatan untuk berkompetisi jarak jauh. Tentu saja orang tua harus rajin membantu menelusuri situs-situs anak dan lembaga pendidikan agar tidak tertinggal kesempatan untuk berkompetisi. Edukasinya selain berkompetisi, anak akan memanfaatkan waktu untuk hal positif dan berlomba dalam memberi kebaikan.

Dengan pemanfaatan lomba virtual itu, waktu anak diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengakses situs-situs yang tidak bermanfaat. Tetapi sebaliknya, mereka mendapatkan pembelajaran dari kegiatan positif yang mereka ikuti. Waktu mereka juga terisi dengan edukasi dibandingkan dengan terbuang dengan terus bermain dan tidak mendapatkan manfaat. Karena dengan cara belajar yang banyak memanfaatkan gawai, tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih banyak bermain dengan berbagai fitur yang kurang mendidik.

Menjadwalkan kegiatan ibadah bersama keluarga juga penting, bisa juga mengikutsertakan dengan mengikuti kajian agama, harapannya dengan waktu yang cukup lama di rumah dapat menyerap siraman rohani berisi nilai-nilai religi sebagai sarana penangkal pengaruh negatif di lingkungan. Dengan kegiatan tersebut orang tua juga akan lebih mudah menyisipkan nilai dan ajaran agamanya kepada anak.

Selain itu mengajak membantu kegiatan di rumah bersama orang tua sebagai pilihan mengisi waktu. Keterampilan hidup bisa didapatkan dengan mengajak anak untuk ikut membantu bercocok tanam, membantu ibu menyiapkan makanan, mengajak merawat hewan peliharaan. Atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tentu saja itu kesempatan baik bagi orang tua untuk memasukkan nilai kebaikan hidup seperti nilai kerjasama, gotong royong, disiplin dan etos kerja. Kegiatan itu harus dijelaskan manfaat yang diperoleh dan nilai pendidikannya. Jika tidak, hasilnya bisa sia-sia karena anak bisa saja menanggapi dengan persepsi yang lain.

Tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Masa pandemi memberi peluang kepada orang tua untuk memanfaatkan waktu anak dengan mengisi kegiatan yang mengarah pada keterampilan hidup. Karena tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Peluang waktu itulah yang perlu dikritisi orang tua sehingga tidak membuang kesempatan anak untuk mengembangkan diri dengan mencari-cari kekurangan dari sistem pembelajaran di masa darurat ini. Tetapi harus dihadapi dengan tindakan nyata yang dapat merubah masa depan anak yang pasti lebih berat tantangannya.

Kabul Trikuncahyo. Penulis adalah Guru SDN 1 Puru, Trenggalek

Tips Orang Tua Menjadi Guru Belajar Dari Rumah

0

Saat pandemi, orang tua seperti guru kedua bagi anak-anaknya. Oh, apa bukan guru pertama ya? Kan, tugas orang tua memang pertama bagi anak-anaknya sendiri. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mendampingi anak belajar dari rumah. Tips berikut bisa menjadi satu di antara pilihan tugas orang tua menjadi guru di rumah. Simak yuk!

KAMPUSDESA.OR.ID–Di masa pandemi permasalahan pendidikan anak menjadi bertambah. Dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hal itu menyangkut dikhawatirkannya rendahnya daya serap dan penerimaan materi pelajaran.

Orang tua masih banyak yang beranggapan bahwa sukses akademislah yang menjadi penentu masa depan anaknya. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kondisi pembelajaran yang berbeda, guru tidak memberikan materi secara langsung, maka puncak kekhawatiran terhadap penguasaan isi materi pembelajaran melanda para orang tua.

Belum lagi kekhawatiran terhadap hubungan sosial anak. Meski dengan banyak pembatasan akibat pandemi Covid-19, kenyataannya anak-anak tetap saja bermain dengan teman-temannya sehingga waktu bermain lebih banyak dibandingkan pada saat sekolah pada kondisi normal. Jika masuk sekolah sekitar enam sampai tujuh jam berada pada pengawasan dan bimbingan guru. Saat itulah orang tua relatif lebih mudah tanggung jawabanya karena sudah dibebankan kepada guru. 

Muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal.

Baca juga: Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi – Kampus Desa Indonesia

Dari situlah muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu disebabkan masih buntunya pengetahuan orang tua untuk menghadapi situasi pembelajaran darurat di tengah-tengah semangat yang tinggi terhadap proses belajar anaknya. Orang tua penuh harapan, dengan keberhasilan akademis masa depan anak juga menjadi lebih baik. Namun masih banyak yang belum menyadari jika keberhasilan akademis harus banyak diimbangi dengan keterampilan sehingga keberhasilan hidupnya akan lebih sempurna.

Dilaporkan dari hasil survey National Association of Colleges and Employers (NACE). Pada survey tersebut didapat 20 Kepribadian Unggul (Winning Characteristic), yang diurutkan sebagai berikut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi, kreatif, humoris, kemampuan berwirausaha.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu. Akademis bukan satu-satunya penentu keberhasilan masa depan anak. Mereka memiliki potensi yang cenderung berbeda dari anak lainnya serta harus ditunjang dengan pengembangan diri seiring dengan waktu dan hubungan sosial dengan lingkungan.

Baca juga: Mengatasi Perilaku Menyimpang Anak Dalam Kelas – Kampus Desa Indonesia

Masa pandemi saat ini harus disikapi secara positif oleh orang tua. Mencari alternatif pendampingan terhadap waktu-waktu yang dimiliki anak saat tidak bersekolah dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu orang tua tidak menghabiskan energi untuk mencari kekurangan sistem pembelajaran di masa pandemi, yang jelas tidak sempurna dan dapat memenuhi keinginan dan harapan.

Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua agar waktu anak di masa pandemi dapat membawa manfaat dan dapat menunjang keberhasilan masa depan diantaranya antara laim menyusun jadwal harian anak. Harapannya anak dapat memanfaatkan waktu dengan terencana, waktu terpakai tidak untuk hal yang sia-sia.

Orang tua juga dapat menjadwalkan pembelajaran dengan guru. Bukan tidak mungkin orang tua mengalami kesulitan dalam penguasaan materi pelajaran tertentu sehingga perlu komunikasi yang baik dengan guru kapan dapat memberi waktu untuk konsultasi atau menanyakan materi secara lebih dalam.

Oram tua juga bisa memberi waktu untuk membaca buku. Membaca merupakan kegiatan wajib yang perlu dibiasakan siswa. Sejak lama jargon buku jendela ilmu didengungkan. Tetapi jika tidak dilatihkan sejak dini anak, dalam penguasaan literasi baca juga rendah. Apalagi di era disrupsi, buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Munculnya ide bisa berawal dari inspirasi yang diperoleh dari membaca berbagai macam bacaan yang dibacanya dengan penuh pemaknaan.

Mengikutsertakan anak dalam pelatihan keterampilan juga bisa menjadi pilihan. Daripada waktu yang terbuang banyak, orang tua harus selektif menentukan keterampilan yang harus dikuasai. Keterampilan penggunaan aplikasi komputer misalnya, dapat menjadi pilihan bagi anak. Tentu saja harus selektif, menyesuaikan dengan bakat dan minat anak. Yang tidak kalah penting, di masa pandemi apakah lembaga yang dipilih tersebut menerapkan protokol kesehatan atau tidak. Jika memungkinkan terhadap jenis keterampilan tertentu bisa dipanggil ke rumah untuk bimbingan secara privat.

Kegiatan lainnya bisa mengarahkan untuk mengikuti kompetisi virtual. Selama masa pandemi banyak lembaga yang memberi kesempatan untuk berkompetisi jarak jauh. Tentu saja orang tua harus rajin membantu menelusuri situs-situs anak dan lembaga pendidikan agar tidak tertinggal kesempatan untuk berkompetisi. Edukasinya selain berkompetisi, anak akan memanfaatkan waktu untuk hal positif dan berlomba dalam memberi kebaikan.

Dengan pemanfaatan lomba virtual itu, waktu anak diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengakses situs-situs yang tidak bermanfaat. Tetapi sebaliknya, mereka mendapatkan pembelajaran dari kegiatan positif yang mereka ikuti. Waktu mereka juga terisi dengan edukasi dibandingkan dengan terbuang dengan terus bermain dan tidak mendapatkan manfaat. Karena dengan cara belajar yang banyak memanfaatkan gawai, tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih banyak bermain dengan berbagai fitur yang kurang mendidik.

Menjadwalkan kegiatan ibadah bersama keluarga juga penting, bisa juga mengikutsertakan dengan mengikuti kajian agama, harapannya dengan waktu yang cukup lama di rumah dapat menyerap siraman rohani berisi nilai-nilai religi sebagai sarana penangkal pengaruh negatif di lingkungan. Dengan kegiatan tersebut orang tua juga akan lebih mudah menyisipkan nilai dan ajaran agamanya kepada anak.

Selain itu mengajak membantu kegiatan di rumah bersama orang tua sebagai pilihan mengisi waktu. Keterampilan hidup bisa didapatkan dengan mengajak anak untuk ikut membantu bercocok tanam, membantu ibu menyiapkan makanan, mengajak merawat hewan peliharaan. Atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tentu saja itu kesempatan baik bagi orang tua untuk memasukkan nilai kebaikan hidup seperti nilai kerjasama, gotong royong, disiplin dan etos kerja. Kegiatan itu harus dijelaskan manfaat yang diperoleh dan nilai pendidikannya. Jika tidak, hasilnya bisa sia-sia karena anak bisa saja menanggapi dengan persepsi yang lain.

Tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Masa pandemi memberi peluang kepada orang tua untuk memanfaatkan waktu anak dengan mengisi kegiatan yang mengarah pada keterampilan hidup. Karena tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Peluang waktu itulah yang perlu dikritisi orang tua sehingga tidak membuang kesempatan anak untuk mengembangkan diri dengan mencari-cari kekurangan dari sistem pembelajaran di masa darurat ini. Tetapi harus dihadapi dengan tindakan nyata yang dapat merubah masa depan anak yang pasti lebih berat tantangannya.

Kabul Trikuncahyo. Penulis adalah Guru SDN 1 Puru, Trenggalek

Popiah; Lumpia Taiwan Bikin Perayaan Kematian Semakin Nikmat

0

Perayaan kematian menjadi tradisi masyarakat Taiwan yang diadakan tanpa kesedihan. Sebaliknya, perayaan kematian tersebut dipenuhi dengan khas menu Popiah. Popiah semacam kue khas Taiwan mirip seperti Lumpia Semarang. Wow, rasanya sungguh gurih. Apalagi Popiah ini menjadi menu perayaan kematian yang diikuti oleh mahasiswa internasional.

KAMPUSDESA.OR.ID–Aura bahagia tampak di wajah para peserta. Betapa tidak? Mereka baru saja selesai menggambar tradisi di negaranya. Spidol berwarna-warni dan kertas gambar telah disiapkan panitia.

Di Taiwan, ada yang namanya Qing Ming Festival (清明節) atau Tomb Sweeping Day alias Hari Bersih-bersih Makam. Tradisi kuno ini diperingati warga Taiwan setiap 5 April. Tidak perlu persis di tanggal 5 April mereka berkunjung ke makam keluarga mereka. Anggur, makanan, kemenyan, bunga segar (Lili atau chrysanthemums) adalah pilihan tepat sebagai bekal sebelum dibawa ke makam. Ibu hamil, anak-anak kecil, dan anggota keluarga yang sakit sebaiknya tidak mengunjungi makam karena mereka rentan menjadi sasaran arwah-arwah yang lapar.

Selama berkunjung ke makam, masyarakat Taiwan berpakaian sederhana. Mereka menghindari warna-warna yang terlalu menyolok, seperti merah, kuning, oranye, pastel, dan neon. Ini juga bagian dari adat yang harus ditaati saat perayaan kematian.

Sebagai universitas berkelas Internasional yang menjaga tradisi, Taipei Medical University mengadakan festival sederhana. Kegiatan ini bertajuk “Tomb Sweeping Festival in Taiwan: Let’s make Popiah by ourselves”.

Baca juga: Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

Popiah adalah makanan tradisional Taiwan yang dikenal juga dengan nama Lumpia di kota Semarang, Indonesia. Kegiatan yang diadakan 1 April 2021 dan dihadiri sekitar lima belas orang itu dilakukan di ruang 8004, lantai B1, Rear Building, jam enam hingga tujuh malam.

“Tradisi bersih-bersih makam bagi warga Taiwan disambut sebagai sarana mengenang leluhur dan orang terkasih yang sudah meninggal dunia. Dikenang dalam suasana sukacita, dilengkapi dengan makan bersama.”

“Tradisi bersih-bersih makam bagi warga Taiwan disambut sebagai sarana mengenang leluhur dan orang terkasih yang sudah meninggal dunia. Perayaan kematian dikenang dalam suasana sukacita, dilengkapi dengan makan bersama. Salah satu makanan yang bisa dipakai sebagai sesajen adalah popiah atau lumpia. Acara hari ini seru, mengenalkan Qing Ming Festival dan memberi kesempatan membuat lumpia bagi mahasiswa lokal (Taiwan) dan internasional,” jelas Yoseph Samodra. Ia mahasiswa Ph.D di School of Public Health yang berasal dari Indonesia.

Lain lagi tanggapan Debby Su. Ketua panitia itu mengatakan bahwa ia senang karena bisa mendapatkan teman baru. Senada dengan hal ini, Darren juga menanggapi bahwa dirinya sangat menikmati Popiah dan bahagia bisa berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia.

Darren tidak salah. Para peserta memang berasal dari beraneka bangsa, seperti Indonesia, Taiwan, India, dan Vietnam. Contohnya Ritika. Ia adalah mahasiswa Ph.D tahun pertama di IGPM berasal dari India. “It’s very great gathering and make new friends and know about culture. I like food,” katanya ramah.

Tips meracik menu Popiah

Peserta dapat meracik atau menyajikan menu Popiah secara mandiri. Panitia telah mempersiapkan kulit pembungkus, daging, kubis, tahu, bihun, gula coklat, gula putih. Cara membuatnya pun cukup mudah. Ambil kulit pembungkus, tambahkan isinya. Bisa daging, bihun, atau tahu. Peserta bebas memilih. Setelah itu taburi dengan gula secukupnya. Kulit itu digulung, dilipat, dan siap disantap. Selain menikmati Popiah, peserta juga dapat berkenalan dan berbagi cerita atau pengalaman dengan peserta lainnya.

Baca juga: Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter

“Hear other people sharing their country culture is a special experiences,” tutur Huang Liang Yu. Para peserta tampak bahagia sekali malam itu. Mereka pulang dengan membawa sejuta kenangan indah.

Warga Taiwan mampu merayakan kematian tanpa ratapan, tanpa kesedihan, namun meninggalkan kenangan. Abadi dan takkan terlupakan.

Popiah memang membuat perayaan kematian menjadi terasa begitu nikmat dan berkesan. Begitulah warga Taiwan mampu merayakan kematian tanpa ratapan, tanpa kesedihan, namun meninggalkan kenangan. Abadi dan takkan terlupakan.

Fotografer Cilik Kaka, Viral Lewat TikTok Unggahan Kartini Millenial

0

Seorang fotografer cilik viral di TikTok beberapa hari ini. Anak yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar tersebut berusaha menghidupi dirinya menjadi penyedia jasa layanan fotografi bagi wisatawan di seputaran Kota Lama Semarang. Seolah ini jasa yang mustahil karena setiap orang sudah bisa swafoto tanpa bantuan jasa fotografi. Tapi, si anak ini seperti tak menghiraukan kenyataan tersebut. Dia menembus batas dan membuktikan jasa fotografi tersebut membuahkan nominal puluhan ribu untuk satu konsumen. Unggahan seorang kartini millennial menjadi keberuntungannya begitu singkat.

KAMPUSDESA.OR.ID–Semarang, 21 Maret 2021. Sambil menunggu jadwal keberangkatan KAI stasiun Poncol, usai bertugas sebagai narasumber kegiatan Direktorat PMPK (Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus) Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, saya bersilaturahim ke rumah sahabat SMP saya. Ia sekeluarga sekarang menjadi warga Semarang. Saya diajak ke Kota Lama sebelum bertandang ke rumahnya.

“Ibu kalau ingin background fotonya nampak lebih bagus, posisi Ibu di sini.”

Tiba-tiba seorang anak kecil mendekati kami berdua yang sedang asik mendokumentasikan moment kunjungan di Kota Lama Semarang. Siang menjelang sore kala itu kami sepakat habiskan untuk melihat destinasi wisata di Kota Lama.

“Eh, ayo fotoin kami ya!” Teman saya memintanya untuk membantu kami. Saya langsung paham, rupanya gaya dia mengarahkan posisi kami saat berfoto adalah cara dia menangkap calon konsumen.

“Benar-benar paham melihat peluang nih anak!” Batin saya kagum.

Anak kecil itu penampilannya rapi, walaupun agak lusuh, mungkin karena seharian di jalanan. Berbusana casual dan bersepatu. Tampak rapi, seolah menunjukkan dia paham bagaimana menata diri menghadapi para pengunjung Kota Lama.

Gaya dia memotret tampak kalau dia paham teknik fotografi. Saya lihat tekniknya dan hasil bidikannya, dia menggunakan teknik frog eye (hasil tampilan objek foto kelihatan lebih megah atau tinggi, atau langsing). Cara mengarahkan gaya pengguna jasanya kelihatan profesional dan menarik karena ia masih anak-anak, kelas 6 saat ini.

Saya jadi tertarik mengajaknya live streaming di facebook saat itu. Saya mewawancarainya. Dari tiap jawaban yang diberikan, dia dapat merepresentasikan sebagai anak cedas dan bijaksana.

“Saya dulu penjual koran. Saya lihat jasa moto lebih besar dari jualan koran.”  Ia bertutur ke saya sangat bangga dengan profesi yang sudah dijalani dua tahunan. Saya memujinya. Profesinya ini lebih baik dari umumnya anak-anak seusianya yang kebanyakan dilakukan, misalnya menjadi pengamen jalanan.

Viral TikTok dari Akun Kartini Millenial

Jombang, 22 Maret 2021. Setibanya pulang dari Semarang, saya unggah di sosial media karya fotografi Kaka, nama fotografer cilik ini. Saya unggah di instagram, di facebook, di TikTok, dan saya tulis artikel di Kompasiana. Video live streaming di facebook bersamanya saya unduh. Saya merasa wawancara dengan Kaka ini layak diketahui banyak pihak sebagai inspirasi dalam berkarya sejak usia anak-anak.

Di luar dugaan, pengguna TikTok banyak mengapresiasi unggahan saya ini. Terhitung empat hari sejak unggahan tersebut tayang di TikTok, video yang berkonten wawancara saya dengan Kaka mendapat lebih dari 43.000 suka, diputar lebih dari 433.000 kali, dan dibagikan sebanyak 669 kali.

Dampak dari respon warganet ini, video tersebut banyak menjadi rujukan bagi awak media online untuk menulis berita. Saya mendapat kabar postingan video saya di Tiktok viral dari teman dan saudara saya. Saya cek memang banyak media online yang mengabarkan.

Pagi, 28 Maret 2021, saya dapat kiriman link instagram wali kota Semarang. Pak Wali Kota dalam akun instagramnya sedang mencari keberadaan Kaka. Siangnya, ada nomer tak dikenal mengirim pesan kepada saya. Ia memperkenalkan diri sebagai tim kreatifnya Brownis. Brownis adalah salah satu acara TV milik Trans TV. Selain Bapak wali kota Semarang yang memperhatikan, ada dermawan yang siap kirim kamera, yaitu Fujishopid dan akun Natashasie.

Pada hari itu, Sejak pagi sampai malam saya mendapat DM (Direct Message) dari profesional bidang fotografi. Asumsi saya, kemampuan Kaka di bidang fotografi akan diberdayakan dengan baik dan bertanggungjawab. Mereka antara lain akunnya bernama RinditaSoetikono, seorang creative diretor. Akun instagram lainnya Maximilian Jhon, seorang fotografer.

Jombang, 29 Maret 2021. Pagi hari saya ditelepon teman SMP saya yang di Semarang. Ia mengabarkan bahwa Kaka sekeluarga akan menghadap Wali Kota Semarang. Malam sebelumnya, saya dikabari Kaka kalau ia baru saja menerima telepon dari staf wali kota. Ia diminta datang ke balai kota keeseokan harinya.

Pada siang hari, teman SMP saya menelpon lagi. Ia mengabarkan kalau Kaka sejak dari rumah hingga balai kota Semarang sudah dikerumuni wartawan.  Mereka rupanya meliput kehidupan Kaka dan agendanya bertemu wali kota.

Sekitaran jam 17.00 akun Tiktok saya menerima notifikasi. Akun wali kota Semarang menyebut akun #TikTok saya yang saya namai GuruCerdas. Dari konten video TikTok Pak wali kota, saya menyaksikan Kaka dan keluarga mendapat perlakuan baik dari beliau. Kaka pun sempat memotret beliau dengan beberapa pose arahannya. Dari video TikTok Pak wali kota ini, saya juga melihat Kaka dan orang tuanya menerima sejumlah uang. Ia juga dijanjikan diberi gawai oleh beliau. Info dari teman SMP saya, usai bertemu Wali Kota, ia dan keluarganya bertolak menuju studio TransTV.

Berkali-kali saya mengucap syukur melihat perubahan hidup Kaka secepat itu berkat kecepatan sosial media dan warganet memublikasikannya. Tak ada yang tak mungkin jika Allah SWT telah menakdirkan akan terwujud. Seorang anak tukang sapu jalanan, rumahnya juga tak layak huni, tiba-tiba terkenal karena passionnya saya publikasikan di akun sosial media saya. Tanpa keluar rumah, tanpa ke luar kota, tanpa mengeluarkan energi besar, perjuangan saya selama kurang dari seminggu ditampakkan hasilnya oleh Allah SWT.

Dalam perjuangan saya di sosial media ini, tentu saja saya bekerjasama dengan teman SMP saya yang ada di Semarang. Ia banyak berperan dalam mendampingi Kaka dan keluarganya menjumpai Pak Wali Kota. Ia juga sebagai model dalam video saya yang viral tersebut.

Menjumpai Kaka dengan aktivitas ekonominya mengingatkan saya akan tugas saya untuk mempresentasikan materi Perempuan dan Kewirausahaan di Era Pandemi dalam Bimtek Penyelenggara Program Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan di Semarang tersebut.

Anak dan perempuan sering menjadi fokus program pembangunan manusia dan kebudayaan. Saya tertarik dan merasa terpanggil menjadikan passion Kaka berkembang dan diterima secara proporsional.

Tanpa turun jalan, saya membuktikan, bahwa manusia bisa tetap berjuang untuk kepentingan orang lain, yaitu melalui sosial media. Secara garis besar ada tiga hal yang menarik pada perfoma Kaka sebagai fotografer di destinasi wisata di Semarang. Antara lain

Cara dia bekerja yang didasari dengan pengetahuan bidang fotografi.
Caranya menangkap peluang usaha.
Penampilannya (kostum/ busana) yang mengesankan makna bahwa ia tahu sedang berhadapan dengan para tamu di destinasi wisata Semarang.

Simalakama Perempuan Dalam Bayangan Patriarki

0

Tuhan tentunya tidak salah perintah, apalagi sengaja menyiptakan perempuan sebagai sub-ordinat laki-laki, konco-wingking-nya (teman di balik layar, alias bertugas sebagai garda belakang yang menyiapkan kebutuhan laki-laki). Tidak seperti itu kan? Di hari perempuan sedunia (International Women Day’s), 8 Maret 2021 kemarin, saatnya perempuan memiliki momentum emas agar keluar dari simalakama patriarki, berperan dan diakui secara penuh tanpa dibayangi dosa atas-nama takdir.

KampusDesa.or.idMenjadi seorang perempuan, siapa bisa menolaknya? Dengan seluruh beban yang dipikulnya, kesakitan yang harus diterimanya, andai bisa memilih mungkin orang yang sadar bahwa menjadi perempuan itu berat akan memilih menjadi laki-laki. Kembali lagi, siapa yang bisa menolak takdir?

Sepanjang sejarah peradaban, dunia patriarki, memang lebih meletakkan perempuan sebagai obyek. Lihat saja kitab suci, yang muncul menjadi tokoh sentral selalu laki-laki. Perempuan seolah hanya sebagai pemeran pengganti, jika tidak boleh dianggap sebagai pesakitan, lahir batin.

Dianggap sebagai korban itulah, maka muncullah berbagai gerakan emansipasi yang intinya mengangkat derajat perempuan supaya setara dengan laki-laki. Efek dari munculnya perasaan diperlakukan tidak adil.

Tuhan yang Maha Kasih tidak mungkin meciptakan seorang perempuan hanya untuk menanggung kesakitan

Sebagai orang yang percaya adanya Tuhan, saya tidak ingin berburuk sangka pada Tuhan dengan menuduh Tuhan menciptakan seorang perempuan hanya sebagai korban laki-laki. Tuhan yang Maha Kasih tidak mungkin meciptakan seorang perempuan hanya untuk menanggung kesakitan baik melalui fase-fase hidupnya seperti menstruasi, menyusui dan melahirkan.

Memang dalam kisah kehidupan Adam, laki-laki dikisahkan muncul terlebih dahulu tetapi dalam perjalanan kehidupannya, Adam butuh sosok yang menjadikannya kuat. Sosok yang melengkapi kekurangannya yakni laki-laki yang hanya bisa fokus pada sebuah pekerjaan atau tidak mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu yang sama. Disinilah seorang perempuan memiliki kelebihan, mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Perempuan melengkapi kekurangan laki-laki.

Kesadaran bahwa laki-laki membutuhkan perempuan, sayangnya dalam aplikasinya di dunia timur, harus menghadapi tantangan bahwa laki-laki diciptakan menjunjung tinggi harga diri dan wibawanya. Yang apabila tidak dimiliki maka dia butuh batu pijakan untuk meninggikan dirinya yang bernama perempuan. Dan bertambahlah beban seorang perempuan di dunia timur.

Tidak mengherankan apabila dalam kontruksi pemikiran laki-laki timur, ia seolah pengatur perempuan.

Itu sebabnya perempuan di dunia timur acap mengalami perendahan demi menyelamatkan posisi laki-laki. Tidak mengherankan apabila dalam kontruksi pemikiran laki-laki timur, ia seolah pengatur perempuan. Dan muncullah istilah “Swarga nunut neraka katut “yang melambangkan betapa tergantungnya kehidupan perempuan pada laki-laki.

Membantu Perempuan Menemukan Jati Dirinya

Konsep pemikiran meletakkan perempuan di bawah laki-laki adalah fakta yang tak terbantahkan. Sebagai contoh dalam parlemen, kuota perempuan yang menduduki kursi sebagai anggota legislatif hanya 30% dari jumlah keseluruhan. Dan harus diakui konsep perempuan di bawah laki-laki secara faktual masih berjalan sampai sekarang. Emansipasi yang menjunjung kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan perlu disikapi secara tepat karena seolah ada pertentangan antara perintah Tuhan yang juga mengistimewakan perempuan dengan kenyataan di lapangan. Apakah Tuhan Salah Perintah?

Keluar dari Simalakama Perempuan

Sesungguhnya semua berawal pada pemahaman yang kurang tepat pada kedudukan perempuan di dunia patriarki. Perempuan dianugerahi kemampuan multi-tasking seharusnya mampu melakukan upaya supaya tidak menjadi obyek penderita laki-laki.

Dengan kemampuan otaknya dia lebih bisa bermanuver menghadapi banyak hal temasuk memiliki kecerdikan menghadapi arogansi laki-laki tanpa merendahkan laki-laki supaya selamat.

Sesungguhnya perempuan jauh lebih kuat jiwanya daripada laki-laki. Seharusnya, perempuan andai berbicara tentang kekuasaannya, lebih berkuasa daripada laki-laki. Dengan kemampuan otaknya dia lebih bisa bermanuver menghadapi banyak hal temasuk memiliki kecerdikan menghadapi arogansi laki-laki tanpa merendahkan laki-laki supaya selamat. Namun hal ini hanya bisa terjadi pada perempuan yang berpengetahuan sehingga bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu.

Pada akhirnya simalakama posisi perempuan di alam patriarki tidak akan terjadi apabila perempuan mengerti dan memahami siapa dirinya dengan segenap potensinya. Secara legal formal laki-laki memang tampak lebih berkuasa tetapi faktanya perempuanlah penguasa itu, lebih mampu mengatasi banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki.