Kamis, Agustus 27, 2026
Beranda blog Halaman 19

20 Relawan Psikososial Gempa Malang Perkuat Psikologi Penyintas

0

Dua puluh relawan psikososial yang tergabung dalam TOPPENG (Task Force Psikososial Penyintas Gempa Malang) telah melakukan pendampingan psikologi terhadap penyintas Gempa Malang. Ada tiga titik pertolongan dini terhadap penyintas Gempa Malang. Pada tahap awal ini mereka melakukan penilaian kebutuhan secara terlibat. Ada yang berkomunikasi dengan penyintas dewasa, dan ada yang melakukan pendekatan bermain bagi anak-anak untuk merilis emosi mereka sehingga bisa melepas rasa takut dan menguatkan emosi positif sebagai dasar resiliensi (daya pegas) bangkit paska bencana.

KAMPUSDESA.OR.ID–Sejumlah 20 Relawan yang tergabung dalam Task Force Psikososial Penyintas Gempa Malang (TOPPENG) terdiri dari para mahasiswa dan sarjana psikologi dan non-psikologi telah melakukan serangkaian pendampingan edukasi psikososial pada anak-anak di tiga titik posko bencana di wilayah Kecamatan Dampit Kabupaten Malang di hari Minggu, 18 April 2021. Mereka gabungan dari beberapa berguruan tinggi di Malang. Ada dari Fakultas Psikologi (S1 dan S2) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Merdeka Malang, dan Universitas Negeri Malang. Relawan TOPPENG dimotori oleh Lakpesdam NU Kabupaten Malang dan disupervisi praktik pendampingan edukasi psikososial oleh Kampus Desa Indonesia.

Abdul Malik Karim Amrullah, sebagai ketua Lakpesdam NU Kabupaten Malang menyampaikan, “kepedulian ini merupakan wujud aksi nyata bagi penguatan sumber daya manusia bagi penyintas gempa Malang. Sejumlah bantuan saat ini banyak mengarah ke kebutuhan pokok seperti sembako, uang, dapur umum, kesehatan, material bangunan, pakaian, dan lainnya. Sedangkan kebutuhan penguatan psikologis paska bencana belum tergarap dengan baik. Oleh karena itu, Lakpesdam NU Kab. Malang menjadi terpanggil untuk mencari formula menangani dampak psikologis dan kesiapan penyintas sehingga daya dukung mental mereka akan jauh lebih siap dalam kehidupan selanjutnya.”  Kondisi ini juga diperkuat data dari tim NU Peduli, bahwa kebutuhan saat ini yang mendesak salah satunya adalah pendampingan psikososial.

Baca juga: Birokrasi dan Kebijakan Bencana Alam

Oleh karena itu, giat TOPPENG ini digedor melalui broadcasting dan unggahan status whatsapp dan upadate status facebook dari Direktur Kampus Desa Indonesia sebagai kolaborator yang lebih paham dalam penanganan psiko-sosial penyintas bencana. “Dalam dua hari sudah terdata 34 anggota yang tergabung dalam grup whatsapp relawan bencana Malang. Sebagian relawan bertugas sebagai pendamping psikososial penyintas, ada yang menggalang dana, dan berbagai kebutuhan akomodasi kebencanaan. Kami tidak menyangka, jika para ilmuan muda psikologi sangat antusias untuk bergabung,” tegas Mohammad Mahpur, yang juga penulis buku Metode Pengasuhan Anak dan dosen Magister Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Relawan ini menyasar tiga titik terdampak bencana di bawah kordinasi Posko Lapangan NU Peduli di kecamatan Dampit. Tiga titik itu, dua titik ada di Wilayah Pamotan, Dampit, dan satu titik di Sumberayu. Salah satu relawan yang tergabung di TOPPENG, Nurhayati, menyampaikan, “masih ditemukan anak dengan rasa takut akan gempa. Mereka merasa gemetar kalau ada suara atau gerakan yang mirip gempa.” Untuk memindahkan dan menghilangkan secara perlahan, anak-anak ini diperkuat rasa bahagianya melalui bermain, mendongeng, bernyanyi bersama, dan berbagai aktifitas yang meningkatkan energi positif mereka. “Masih sangat perlu untuk melakukan pendampingan edukasi psikososial bagi anak-anak karena masih ditemukan anak-anak yang takut paska bencana agar tidak menjadi pengalaman traumatik di kemudian hari.

Salah satu relawan, Neneng Mukaffa, yang juga mahasiswa pascasarjana psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga memberikan beberapa informasi, “ada beberapa warga yang dewasa mereka mulai sadar dengan keadaan mereka, menerima bahwa becana ini harus dihadapi dengan keralaan. Para ibu-ibu terdampak gempa, seperti rumahnya hancur, mulai bersedia berkomunikasi dengan relawan psikososial.”

Baca juga: Bencana Alam: Faktor Pembangunan yang Diabaikan

Sedangkan untuk anak anak, “ada beberapa yang takut akan gempa susulan. Beberapa anak anak yang teridentifikasi memiliki rasa takut, antara lain mereka yang melihat rumahnya rusak karena gempa kemarin karena mereka menyaksikan sendiri ketika keluar rumah ada gempa, semua lingkungan sudah berdebu karena beberapa rumah roboh,” pungkas Widya dengan penuh antusias sebagai relawan.

Ada beberapa anak yang mengatakan “perasaan ketika gempa” dan anak anak yang lain menjawab “tolong tolong, mati aku”

Ekspresi ketakutan bagi anak-anak akhirnya dapat dirilis melalui metode bermain. “Ketika diminta untuk bermain seperti bermain mengungkap emosi yang dimilikinya, ada beberapa anak yang mengatakan “perasaan ketika gempa” dan anak anak yang lain menjawab “tolong tolong, mati aku” banyak yang mengatakan hal itu,” papar lagi relawan Neneng yang bertugas di titik satu.

Neneng kemudian memberikan penjelasan atas manfaat kehadiran relawan bagi anak-anak antara lain, manfaat sesaat yang didapat ketika bermain, anak anak mulai melampiaskan emosi mereka dengan berbagai emosi yang mewakili ketika bermain. Dan mereka perlahan lahan mulai terbuka dengan tim serta menceritakan bagaimana perasaan mereka.”

Pandemi: Dari Global Menuju Lokal

0

Merebaknya wabah sehingga berkembang menjadi pandemi berawal mula dari globalisasi, oleh karena itu kita harus mengurangi aktivitas global kita dan beralih ke aktivitas lokal. Bahkan untuk mengatasi wabah yang sudah masuk ke dalam suatu negara, kebijakan pemerintah harus dimulai dari yang paling bawah, dimulai dari instansi pemerintahan yang paling kecil yakni desa.

Kampusdesa.or.id–Wabah bukanlah hal yang baru di dalam kehidupan manusia, wabah pertama tercatat pada tahun 541-542 yakni penyakit pes, wabah ini menyerang kekaisaran Bizantium dan kota-kota pelabuh Mediterania. Wabah ini menewaskan 30-15 juta jiwa atau sekitar 10% populasi Konstantinopel. Masih dengan penyakit yang sama, wabah berikutnya terjadi pada tahun 1346 – 1353 wabah yang awal mulanya terjadi di daratan eropa ini dikenal sebagai the black death, wabah ini menewaskan 25 juta jiwa nyawa manusia atau lebih dari sepertiga populasi eropa. Selama sekitar seabad terakhir, banyak bermunculan wabah penyakit jenis baru. Pada tahun 1918 – 1920 muncul wabah flu Spanyol yang diyakini berasal dari patogen yang berada di unggas, flu tersebut menyerang daerah amerika utara dan spanyol, 500 juta orang menjadi korban dari penyakit ini dan sekitar seperlimanya meninggal dunia. Pada tahun 1956 – 1958 muncul flu asia yang menewaskan 2 juta jiwa manusia, flu ini awalnya berasal dari Tiongkok dan menyebar ke daerah Singapura, Hongkong dan Amerika Serikat.1

Tahun 1976 muncul penyakit Ebola Pertama kali di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Wabah tersebut pada tahun 2014 menginfeksi warga Afrika Barat. Terjadi sekitar tahun 2014 – 2016 dan menyebabkan 11.325 kematian dari 28.600 orang yang terinfeksi. Kasus pertama ditemukan di sebuah desa kecil di Guinea pada tahun 2014 dan menyebar ke beberapa negara tetangga di Afrika Barat, diantaranya adalah Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Pada awal abad 21 tepatnya tahun 2002, wabah SARS menyebar ke 26 negara dan menginfeksi 8.096 orang serta menewaskan 774 orang. Tidak berselang lama muncul wabah H1N1 yang berasal dari patogen di babi pada tahun 2009, virus ini menyebar keseluruh dunia serta menginfeksi 1.632.258 korban dan 284.500 orang meninggal dunia. Tiga tahun berselang muncul wabah MERS yang berasal dari patogen di kelelawar, menjangkiti 2.494 orang dan menewaskan 858 orang, peyakit MERS ini diduga berasal dari negara Timur Tengah dan menyebar keseluruh dunia.1, 2 Wabah terbaru yang menyerang dunia adalah Covid-19 (Corona Virus Disease-19), wabah ini sudah berlangsung satu tahun lebih dan sampai tulisan ini ditulis, wabah ini belum berakhir dan telah menginfeksi 128.421.931 orang, 2.807.094 meninggal dunia.3

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake--e1626071446700.png

Wabah terbaru yang menyerang dunia adalah Covid-19 (Corona Virus Disease-19), wabah ini sudah berlangsung satu tahun lebih dan sampai tulisan ini ditulis, wabah ini belum berakhir dan telah menginfeksi 128.421.931 orang, 2.807.094 meninggal dunia.

Morse dan kawan-kawan (2012) mengungkapkan bahwa dalam sejumlah penelitian yang  dilakukan oleh beberapa tokoh di bidang ekokesehatan yang beberapa didanai oleh Colgate-Palmolive dan Johnson & Johnson, perusahaan-perusahaan yang mendorong deforestasi untuk tujuan agrobisnis, menghasilkan peta global berdasarkan wabah yang muncul sejak tahun 1940. Mereka memperkirakan tentang lokasi kemunculan pathogen baru pada masa mendatang, Semakin merah warna di peta, semakin besar kemungkinan patogen baru muncul di sana, dalam gambaran peta yang mereka buat menunjukkan warna merah di wilayah Tiongkok, India, Indonesia, dan sebagian Amerika latin dan Afrika.4

Fenomena-fenomena di atas menunjukkan bahwa dunia sudah beberapa kali terkena wabah, dan dari wabah ke wabah berikutnya jaraknya semakin dekat, dan cakupan wabahnya semakin luas, hingga dekade ini setiap kali wabah pasti menjalar keseluruh dunia. Hal ini dapat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama teknologi transportasi, dengan cepatnnya perkembangan teknologi transportasi mobilitas manusia juga semakin mudah dan semakin tinggi. Manusia semakin mudah berpindah tempat dari negara satu ke negara lainnya, dari lokasi satu ke lokasi lainnya, dan dari tempat satu ke tempat lainnya. Hal tersebutlah yang mempermudah penularan patogen dari tempat satu ke tempat lainnya dan dari negara satu ke negara lainnya,. Dengan majunya teknologi terciptalah globalisasi, terciptalah masyarakat global. Batas antara global dan lokal semakin luntur karena semua masuk dalam arena global. Bahkan, lebih dari itu, Gidden (1991) menyatakan, ini untuk kali pertama dalam sejarah manusia, ’’diri’’ dan ’’masyarakat’’ saling berhubungan di dalam satu lingkungan global.5 Dengan adanya globalisasi teman teman tidak hanya bisa mengakses produk dari negara lain, tetapi juga bisa tertular oleh penyakit menular dari negara lain.

Baca juga: Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi

Merebaknya wabah sehingga berkembang menjadi pandemi berawal mula dari globalisasi, oleh karena itu kita harus mengurangi aktivitas global kita dan beralih ke aktivitas lokal. Bahkan untuk mengatasi wabah yang sudah masuk ke dalam suatu negara, kebijakan pemerintah harus dimulai dari yang paling bawah, dimulai dari instansi pemerintahan yang paling kecil yakni desa. Pada awal-awal pandemi kita tahu bahwa, banyak desa-desa yang berzona hijau, sangat tidak adil bila pemerintah menyamakan kebijakannya dengan desa berzona merah. Sebuah desa berzona hijau tanda bahwa desa tersebut belum terpapat Covid-19, desa tersebut seharusnya boleh melakukan aktivitas biasa dan diperbolehkan beraktivitas dengan desa yang lainnya yang juga berzona hijau tentunya, namun tidak diperbolehkan melewati desa berzona kuning ataupun merah apalagi berkunjung ke desa tersebut.

Begitu terus sampai kecamatan, kabupaten, dan sampai ke tataran pemerintahan yang paling tinggi yakni negara. Negara yang masih berzona merah, warga masyarakatnya tidak diperbolehkan beraktivitas dengan masyarakat negara lain yang zonanya lebih aman zona hijau ataupun kuning. Begitupula dengan negara yang zona nya sudah hijau, warga masyarakatnya tidak diperkenankan beraktivitas dengan masyarakat negara yang zonanya masih kuning ataupun merah, hanya diperkenankan beraktivitas dengan masyarakat negara yang zonanya sudah sama-sama hijau. Hal tersebut harus diterapkan secara jelas dan dimulai dari tataran paling bawah yakni desa. []

Sumber Pustaka:

1 http://www.b2p2vrp.litbang.kemkes.go.id/berita/baca/358/Penyakit-Yang-Pernah-Menjadi-Wabah-Di-Dunia#

2 https://bukuprogresif.com/2020/03/27/pagebluk-covid-19-sebagai-bencana-kapitalisme-permasalahan-dan-perjuangan-ke-depan/

3 https://news.google.com/covid19/map?hl=ms&mid=%2Fm%2F02j71

4 Wallace, Rob. 2020. Matinya Epidemiolog Ekspansi Modal dan Asal-usul Covid-19. Yogyakarta: Penerbit Independent.

https://www.jawapos.com/opini/sudut-pandang/17/12/2017/melestarikan-budaya-memandirikan-warga/

6 Strategi Persiapan Ramadhan Mahasiswa Baru Muslim di Taiwan

0

Menjalani ibadah ramadhan di Taiwan tentu rasanya berbeda dengan melaksanakan ibadah puasa tersebut di Indonesia yang mayoritas muslim. Tidak hanya berbeda kondisi sosiologis, secara personal tentu ada berbagai kekurangan sebagaimana kalau kita menetap di Indonesia. Apa yang mahasiswa baru lakukan di perantauan negeri Taiwan saat mereka yang muslim saat memasuki bulan Ramadhan.

Taipei, KAMPUSDESA.OR.ID – Bulan suci Ramadhan adalah bulan mulia. Salah satunya karena di dalamnya Allah menurunkan Alquran. Umat Islam perlu menambah bekal keilmuan dan beberapa strategi sebagai persiapan menyambut datangnya bulan istimewa ini.

Pertama, berdoa kepada Allah SWT agar kita dipertemukan dengan Ramadhan. Salah satu kalimat doa yang baik adalah, “Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan.”

Mu’alla bin al-Fadhi berkata, “dulunya para salaf berdoa kepada Allah SWT. selama enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepadaNya selama enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal saleh) yang mereka kerjakan.” (Lathaif Al-Ma’arif: 174)

Baca juga: Popiah; Lumpia Taiwan Bikin Perayaan Kematian Semakin Nikmat

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Tuntaskan hutang puasa sebelumnya di bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a. tidak dapat mengqadha puasanya kecuali di bulan Sya’ban. Perlu diketahui, menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa. Maka kewajibannya adalah tetap mengqadha dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan, yakni memahami fiqh puasa. Mu’adz bin Jabal ra berkata, “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.” Atsar ini mendapatkan perhatian dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliau berkata, “Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya, dan apa-apa yang menguranginya.”

Allah menerangkan anjuran untuk menuntut ilmu di dalam QS Al Mujadalah ayat 11, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim No 2699). 

Keempat, persiapan jiwa dan spiritual (tazkiyatun nafs). Sebagian cara untuk mempersiapkan jiwa dan spiritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya. Minimal memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Aisyah ra berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat nabi berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sesering di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Rajab dengan Ramadhan. Padahal di bulan itu, amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i dan Abu Daud)

Kelima, persiapan finansial. Ibnu Abbas berkata, “Nabi adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Baca juga: Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

Keenam, persiapan fisik, menjaga kesehatan. Rasul bersabda, “pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” [HR. Al-Hakim]

“Terkhusus mahasiswa baru di Taiwan, ada beberapa masjid yang dapat dikunjungi. Misalnya: Taipei Grand Mosque (TGM), Tainan Mosque, Taichung Mosque, Taipei Cultural Mosque. Dua tahun terakhir ini, Masjid Agung Taiwan (TGM) tidak mengadakan buka puasa bersama. Namun masih mengadakan shalat tarawih bersama,” jelas Muhammad Muslih, pembicara kajian dan mahasiswa PhD di College of Nursing, Taipei Medical University, Taiwan.  

Kegiatan dwi mingguan yang diselenggarakan oleh Indonesian Muslim Student Association (IMSA) TMU ini bertempat di room 2301 TMU, hari Jumat 09 April 2021. Sekitar 33 orang peserta sangat antusias mengikuti acara hingga usai. Selain menambah pengetahuan dan pengalaman baru, sebagian mahasiswa baru yang hadir memang sengaja meluangkan waktu untuk saling bersilaturahmi, sekaligus memperkuat ukhuwah.  

“Kajian ini menambah wawasan dan paparan baru, terutama untuk mahasiswa baru yang tahun ini menjalankan puasa Ramadhan di negeri orang (Taiwan).” Demikian ungkap Syahru Agung Setiawan. Ia mahasiswa baru program PhD di International Graduate Program in Medicine (IGPM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan.

[Liputan langsung oleh dr Dito Anurogo MSc, peserta kajian, mahasiswa S3 IPCTRM TMU Taiwan, Dokter Rakyat di Kampus Desa Indonesia]

Tips Orang Tua Menjadi Guru Belajar Dari Rumah

0

Saat pandemi, orang tua seperti guru kedua bagi anak-anaknya. Oh, apa bukan guru pertama ya? Kan, tugas orang tua memang pertama bagi anak-anaknya sendiri. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mendampingi anak belajar dari rumah. Tips berikut bisa menjadi satu di antara pilihan tugas orang tua menjadi guru di rumah. Simak yuk!

KAMPUSDESA.OR.ID–Di masa pandemi permasalahan pendidikan anak menjadi bertambah. Dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hal itu menyangkut dikhawatirkannya rendahnya daya serap dan penerimaan materi pelajaran.

Orang tua masih banyak yang beranggapan bahwa sukses akademislah yang menjadi penentu masa depan anaknya. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kondisi pembelajaran yang berbeda, guru tidak memberikan materi secara langsung, maka puncak kekhawatiran terhadap penguasaan isi materi pembelajaran melanda para orang tua.

Belum lagi kekhawatiran terhadap hubungan sosial anak. Meski dengan banyak pembatasan akibat pandemi Covid-19, kenyataannya anak-anak tetap saja bermain dengan teman-temannya sehingga waktu bermain lebih banyak dibandingkan pada saat sekolah pada kondisi normal. Jika masuk sekolah sekitar enam sampai tujuh jam berada pada pengawasan dan bimbingan guru. Saat itulah orang tua relatif lebih mudah tanggung jawabanya karena sudah dibebankan kepada guru. 

Muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal.

Baca juga: Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi – Kampus Desa Indonesia

Dari situlah muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu disebabkan masih buntunya pengetahuan orang tua untuk menghadapi situasi pembelajaran darurat di tengah-tengah semangat yang tinggi terhadap proses belajar anaknya. Orang tua penuh harapan, dengan keberhasilan akademis masa depan anak juga menjadi lebih baik. Namun masih banyak yang belum menyadari jika keberhasilan akademis harus banyak diimbangi dengan keterampilan sehingga keberhasilan hidupnya akan lebih sempurna.

Dilaporkan dari hasil survey National Association of Colleges and Employers (NACE). Pada survey tersebut didapat 20 Kepribadian Unggul (Winning Characteristic), yang diurutkan sebagai berikut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi, kreatif, humoris, kemampuan berwirausaha.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu. Akademis bukan satu-satunya penentu keberhasilan masa depan anak. Mereka memiliki potensi yang cenderung berbeda dari anak lainnya serta harus ditunjang dengan pengembangan diri seiring dengan waktu dan hubungan sosial dengan lingkungan.

Baca juga: Mengatasi Perilaku Menyimpang Anak Dalam Kelas – Kampus Desa Indonesia

Masa pandemi saat ini harus disikapi secara positif oleh orang tua. Mencari alternatif pendampingan terhadap waktu-waktu yang dimiliki anak saat tidak bersekolah dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu orang tua tidak menghabiskan energi untuk mencari kekurangan sistem pembelajaran di masa pandemi, yang jelas tidak sempurna dan dapat memenuhi keinginan dan harapan.

Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua agar waktu anak di masa pandemi dapat membawa manfaat dan dapat menunjang keberhasilan masa depan diantaranya antara laim menyusun jadwal harian anak. Harapannya anak dapat memanfaatkan waktu dengan terencana, waktu terpakai tidak untuk hal yang sia-sia.

Orang tua juga dapat menjadwalkan pembelajaran dengan guru. Bukan tidak mungkin orang tua mengalami kesulitan dalam penguasaan materi pelajaran tertentu sehingga perlu komunikasi yang baik dengan guru kapan dapat memberi waktu untuk konsultasi atau menanyakan materi secara lebih dalam.

Oram tua juga bisa memberi waktu untuk membaca buku. Membaca merupakan kegiatan wajib yang perlu dibiasakan siswa. Sejak lama jargon buku jendela ilmu didengungkan. Tetapi jika tidak dilatihkan sejak dini anak, dalam penguasaan literasi baca juga rendah. Apalagi di era disrupsi, buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Munculnya ide bisa berawal dari inspirasi yang diperoleh dari membaca berbagai macam bacaan yang dibacanya dengan penuh pemaknaan.

Mengikutsertakan anak dalam pelatihan keterampilan juga bisa menjadi pilihan. Daripada waktu yang terbuang banyak, orang tua harus selektif menentukan keterampilan yang harus dikuasai. Keterampilan penggunaan aplikasi komputer misalnya, dapat menjadi pilihan bagi anak. Tentu saja harus selektif, menyesuaikan dengan bakat dan minat anak. Yang tidak kalah penting, di masa pandemi apakah lembaga yang dipilih tersebut menerapkan protokol kesehatan atau tidak. Jika memungkinkan terhadap jenis keterampilan tertentu bisa dipanggil ke rumah untuk bimbingan secara privat.

Kegiatan lainnya bisa mengarahkan untuk mengikuti kompetisi virtual. Selama masa pandemi banyak lembaga yang memberi kesempatan untuk berkompetisi jarak jauh. Tentu saja orang tua harus rajin membantu menelusuri situs-situs anak dan lembaga pendidikan agar tidak tertinggal kesempatan untuk berkompetisi. Edukasinya selain berkompetisi, anak akan memanfaatkan waktu untuk hal positif dan berlomba dalam memberi kebaikan.

Dengan pemanfaatan lomba virtual itu, waktu anak diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengakses situs-situs yang tidak bermanfaat. Tetapi sebaliknya, mereka mendapatkan pembelajaran dari kegiatan positif yang mereka ikuti. Waktu mereka juga terisi dengan edukasi dibandingkan dengan terbuang dengan terus bermain dan tidak mendapatkan manfaat. Karena dengan cara belajar yang banyak memanfaatkan gawai, tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih banyak bermain dengan berbagai fitur yang kurang mendidik.

Menjadwalkan kegiatan ibadah bersama keluarga juga penting, bisa juga mengikutsertakan dengan mengikuti kajian agama, harapannya dengan waktu yang cukup lama di rumah dapat menyerap siraman rohani berisi nilai-nilai religi sebagai sarana penangkal pengaruh negatif di lingkungan. Dengan kegiatan tersebut orang tua juga akan lebih mudah menyisipkan nilai dan ajaran agamanya kepada anak.

Selain itu mengajak membantu kegiatan di rumah bersama orang tua sebagai pilihan mengisi waktu. Keterampilan hidup bisa didapatkan dengan mengajak anak untuk ikut membantu bercocok tanam, membantu ibu menyiapkan makanan, mengajak merawat hewan peliharaan. Atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tentu saja itu kesempatan baik bagi orang tua untuk memasukkan nilai kebaikan hidup seperti nilai kerjasama, gotong royong, disiplin dan etos kerja. Kegiatan itu harus dijelaskan manfaat yang diperoleh dan nilai pendidikannya. Jika tidak, hasilnya bisa sia-sia karena anak bisa saja menanggapi dengan persepsi yang lain.

Tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Masa pandemi memberi peluang kepada orang tua untuk memanfaatkan waktu anak dengan mengisi kegiatan yang mengarah pada keterampilan hidup. Karena tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Peluang waktu itulah yang perlu dikritisi orang tua sehingga tidak membuang kesempatan anak untuk mengembangkan diri dengan mencari-cari kekurangan dari sistem pembelajaran di masa darurat ini. Tetapi harus dihadapi dengan tindakan nyata yang dapat merubah masa depan anak yang pasti lebih berat tantangannya.

Kabul Trikuncahyo. Penulis adalah Guru SDN 1 Puru, Trenggalek

Tips Orang Tua Menjadi Guru Belajar Dari Rumah

0

Saat pandemi, orang tua seperti guru kedua bagi anak-anaknya. Oh, apa bukan guru pertama ya? Kan, tugas orang tua memang pertama bagi anak-anaknya sendiri. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mendampingi anak belajar dari rumah. Tips berikut bisa menjadi satu di antara pilihan tugas orang tua menjadi guru di rumah. Simak yuk!

KAMPUSDESA.OR.ID–Di masa pandemi permasalahan pendidikan anak menjadi bertambah. Dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hal itu menyangkut dikhawatirkannya rendahnya daya serap dan penerimaan materi pelajaran.

Orang tua masih banyak yang beranggapan bahwa sukses akademislah yang menjadi penentu masa depan anaknya. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kondisi pembelajaran yang berbeda, guru tidak memberikan materi secara langsung, maka puncak kekhawatiran terhadap penguasaan isi materi pembelajaran melanda para orang tua.

Belum lagi kekhawatiran terhadap hubungan sosial anak. Meski dengan banyak pembatasan akibat pandemi Covid-19, kenyataannya anak-anak tetap saja bermain dengan teman-temannya sehingga waktu bermain lebih banyak dibandingkan pada saat sekolah pada kondisi normal. Jika masuk sekolah sekitar enam sampai tujuh jam berada pada pengawasan dan bimbingan guru. Saat itulah orang tua relatif lebih mudah tanggung jawabanya karena sudah dibebankan kepada guru. 

Muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal.

Baca juga: Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi – Kampus Desa Indonesia

Dari situlah muncul beban orang tua yang mengakibatkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu disebabkan masih buntunya pengetahuan orang tua untuk menghadapi situasi pembelajaran darurat di tengah-tengah semangat yang tinggi terhadap proses belajar anaknya. Orang tua penuh harapan, dengan keberhasilan akademis masa depan anak juga menjadi lebih baik. Namun masih banyak yang belum menyadari jika keberhasilan akademis harus banyak diimbangi dengan keterampilan sehingga keberhasilan hidupnya akan lebih sempurna.

Dilaporkan dari hasil survey National Association of Colleges and Employers (NACE). Pada survey tersebut didapat 20 Kepribadian Unggul (Winning Characteristic), yang diurutkan sebagai berikut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi, kreatif, humoris, kemampuan berwirausaha.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu.

Dari laporan tersebut menempatkan prestasi akademik pada urutan ketujuh belas. Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa kepribadian yang unggul pada anak dapat dibentuk dengan faktor-faktor penunjang itu. Akademis bukan satu-satunya penentu keberhasilan masa depan anak. Mereka memiliki potensi yang cenderung berbeda dari anak lainnya serta harus ditunjang dengan pengembangan diri seiring dengan waktu dan hubungan sosial dengan lingkungan.

Baca juga: Mengatasi Perilaku Menyimpang Anak Dalam Kelas – Kampus Desa Indonesia

Masa pandemi saat ini harus disikapi secara positif oleh orang tua. Mencari alternatif pendampingan terhadap waktu-waktu yang dimiliki anak saat tidak bersekolah dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu orang tua tidak menghabiskan energi untuk mencari kekurangan sistem pembelajaran di masa pandemi, yang jelas tidak sempurna dan dapat memenuhi keinginan dan harapan.

Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua agar waktu anak di masa pandemi dapat membawa manfaat dan dapat menunjang keberhasilan masa depan diantaranya antara laim menyusun jadwal harian anak. Harapannya anak dapat memanfaatkan waktu dengan terencana, waktu terpakai tidak untuk hal yang sia-sia.

Orang tua juga dapat menjadwalkan pembelajaran dengan guru. Bukan tidak mungkin orang tua mengalami kesulitan dalam penguasaan materi pelajaran tertentu sehingga perlu komunikasi yang baik dengan guru kapan dapat memberi waktu untuk konsultasi atau menanyakan materi secara lebih dalam.

Oram tua juga bisa memberi waktu untuk membaca buku. Membaca merupakan kegiatan wajib yang perlu dibiasakan siswa. Sejak lama jargon buku jendela ilmu didengungkan. Tetapi jika tidak dilatihkan sejak dini anak, dalam penguasaan literasi baca juga rendah. Apalagi di era disrupsi, buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Munculnya ide bisa berawal dari inspirasi yang diperoleh dari membaca berbagai macam bacaan yang dibacanya dengan penuh pemaknaan.

Mengikutsertakan anak dalam pelatihan keterampilan juga bisa menjadi pilihan. Daripada waktu yang terbuang banyak, orang tua harus selektif menentukan keterampilan yang harus dikuasai. Keterampilan penggunaan aplikasi komputer misalnya, dapat menjadi pilihan bagi anak. Tentu saja harus selektif, menyesuaikan dengan bakat dan minat anak. Yang tidak kalah penting, di masa pandemi apakah lembaga yang dipilih tersebut menerapkan protokol kesehatan atau tidak. Jika memungkinkan terhadap jenis keterampilan tertentu bisa dipanggil ke rumah untuk bimbingan secara privat.

Kegiatan lainnya bisa mengarahkan untuk mengikuti kompetisi virtual. Selama masa pandemi banyak lembaga yang memberi kesempatan untuk berkompetisi jarak jauh. Tentu saja orang tua harus rajin membantu menelusuri situs-situs anak dan lembaga pendidikan agar tidak tertinggal kesempatan untuk berkompetisi. Edukasinya selain berkompetisi, anak akan memanfaatkan waktu untuk hal positif dan berlomba dalam memberi kebaikan.

Dengan pemanfaatan lomba virtual itu, waktu anak diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengakses situs-situs yang tidak bermanfaat. Tetapi sebaliknya, mereka mendapatkan pembelajaran dari kegiatan positif yang mereka ikuti. Waktu mereka juga terisi dengan edukasi dibandingkan dengan terbuang dengan terus bermain dan tidak mendapatkan manfaat. Karena dengan cara belajar yang banyak memanfaatkan gawai, tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih banyak bermain dengan berbagai fitur yang kurang mendidik.

Menjadwalkan kegiatan ibadah bersama keluarga juga penting, bisa juga mengikutsertakan dengan mengikuti kajian agama, harapannya dengan waktu yang cukup lama di rumah dapat menyerap siraman rohani berisi nilai-nilai religi sebagai sarana penangkal pengaruh negatif di lingkungan. Dengan kegiatan tersebut orang tua juga akan lebih mudah menyisipkan nilai dan ajaran agamanya kepada anak.

Selain itu mengajak membantu kegiatan di rumah bersama orang tua sebagai pilihan mengisi waktu. Keterampilan hidup bisa didapatkan dengan mengajak anak untuk ikut membantu bercocok tanam, membantu ibu menyiapkan makanan, mengajak merawat hewan peliharaan. Atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tentu saja itu kesempatan baik bagi orang tua untuk memasukkan nilai kebaikan hidup seperti nilai kerjasama, gotong royong, disiplin dan etos kerja. Kegiatan itu harus dijelaskan manfaat yang diperoleh dan nilai pendidikannya. Jika tidak, hasilnya bisa sia-sia karena anak bisa saja menanggapi dengan persepsi yang lain.

Tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Masa pandemi memberi peluang kepada orang tua untuk memanfaatkan waktu anak dengan mengisi kegiatan yang mengarah pada keterampilan hidup. Karena tantangan anak kedepan adalah apa yang dapat dilakukan dengan keterampilan komunikasi, kerjasama, kreatifitas dan kemampuan untuk berfikir kritis dan logis dalam menghadapi tantangan teknologi dan kehidupan masyarakat sosial yang tanpa batas seperti saat ini .

Peluang waktu itulah yang perlu dikritisi orang tua sehingga tidak membuang kesempatan anak untuk mengembangkan diri dengan mencari-cari kekurangan dari sistem pembelajaran di masa darurat ini. Tetapi harus dihadapi dengan tindakan nyata yang dapat merubah masa depan anak yang pasti lebih berat tantangannya.

Kabul Trikuncahyo. Penulis adalah Guru SDN 1 Puru, Trenggalek

Popiah; Lumpia Taiwan Bikin Perayaan Kematian Semakin Nikmat

0

Perayaan kematian menjadi tradisi masyarakat Taiwan yang diadakan tanpa kesedihan. Sebaliknya, perayaan kematian tersebut dipenuhi dengan khas menu Popiah. Popiah semacam kue khas Taiwan mirip seperti Lumpia Semarang. Wow, rasanya sungguh gurih. Apalagi Popiah ini menjadi menu perayaan kematian yang diikuti oleh mahasiswa internasional.

KAMPUSDESA.OR.ID–Aura bahagia tampak di wajah para peserta. Betapa tidak? Mereka baru saja selesai menggambar tradisi di negaranya. Spidol berwarna-warni dan kertas gambar telah disiapkan panitia.

Di Taiwan, ada yang namanya Qing Ming Festival (清明節) atau Tomb Sweeping Day alias Hari Bersih-bersih Makam. Tradisi kuno ini diperingati warga Taiwan setiap 5 April. Tidak perlu persis di tanggal 5 April mereka berkunjung ke makam keluarga mereka. Anggur, makanan, kemenyan, bunga segar (Lili atau chrysanthemums) adalah pilihan tepat sebagai bekal sebelum dibawa ke makam. Ibu hamil, anak-anak kecil, dan anggota keluarga yang sakit sebaiknya tidak mengunjungi makam karena mereka rentan menjadi sasaran arwah-arwah yang lapar.

Selama berkunjung ke makam, masyarakat Taiwan berpakaian sederhana. Mereka menghindari warna-warna yang terlalu menyolok, seperti merah, kuning, oranye, pastel, dan neon. Ini juga bagian dari adat yang harus ditaati saat perayaan kematian.

Sebagai universitas berkelas Internasional yang menjaga tradisi, Taipei Medical University mengadakan festival sederhana. Kegiatan ini bertajuk “Tomb Sweeping Festival in Taiwan: Let’s make Popiah by ourselves”.

Baca juga: Mahasiswa Muslim Taiwan dari Indonesia Rihlah di Yangmingshan Park, Kebersamaan yang Tak Tertandingi

Popiah adalah makanan tradisional Taiwan yang dikenal juga dengan nama Lumpia di kota Semarang, Indonesia. Kegiatan yang diadakan 1 April 2021 dan dihadiri sekitar lima belas orang itu dilakukan di ruang 8004, lantai B1, Rear Building, jam enam hingga tujuh malam.

“Tradisi bersih-bersih makam bagi warga Taiwan disambut sebagai sarana mengenang leluhur dan orang terkasih yang sudah meninggal dunia. Dikenang dalam suasana sukacita, dilengkapi dengan makan bersama.”

“Tradisi bersih-bersih makam bagi warga Taiwan disambut sebagai sarana mengenang leluhur dan orang terkasih yang sudah meninggal dunia. Perayaan kematian dikenang dalam suasana sukacita, dilengkapi dengan makan bersama. Salah satu makanan yang bisa dipakai sebagai sesajen adalah popiah atau lumpia. Acara hari ini seru, mengenalkan Qing Ming Festival dan memberi kesempatan membuat lumpia bagi mahasiswa lokal (Taiwan) dan internasional,” jelas Yoseph Samodra. Ia mahasiswa Ph.D di School of Public Health yang berasal dari Indonesia.

Lain lagi tanggapan Debby Su. Ketua panitia itu mengatakan bahwa ia senang karena bisa mendapatkan teman baru. Senada dengan hal ini, Darren juga menanggapi bahwa dirinya sangat menikmati Popiah dan bahagia bisa berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia.

Darren tidak salah. Para peserta memang berasal dari beraneka bangsa, seperti Indonesia, Taiwan, India, dan Vietnam. Contohnya Ritika. Ia adalah mahasiswa Ph.D tahun pertama di IGPM berasal dari India. “It’s very great gathering and make new friends and know about culture. I like food,” katanya ramah.

Tips meracik menu Popiah

Peserta dapat meracik atau menyajikan menu Popiah secara mandiri. Panitia telah mempersiapkan kulit pembungkus, daging, kubis, tahu, bihun, gula coklat, gula putih. Cara membuatnya pun cukup mudah. Ambil kulit pembungkus, tambahkan isinya. Bisa daging, bihun, atau tahu. Peserta bebas memilih. Setelah itu taburi dengan gula secukupnya. Kulit itu digulung, dilipat, dan siap disantap. Selain menikmati Popiah, peserta juga dapat berkenalan dan berbagi cerita atau pengalaman dengan peserta lainnya.

Baca juga: Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter

“Hear other people sharing their country culture is a special experiences,” tutur Huang Liang Yu. Para peserta tampak bahagia sekali malam itu. Mereka pulang dengan membawa sejuta kenangan indah.

Warga Taiwan mampu merayakan kematian tanpa ratapan, tanpa kesedihan, namun meninggalkan kenangan. Abadi dan takkan terlupakan.

Popiah memang membuat perayaan kematian menjadi terasa begitu nikmat dan berkesan. Begitulah warga Taiwan mampu merayakan kematian tanpa ratapan, tanpa kesedihan, namun meninggalkan kenangan. Abadi dan takkan terlupakan.

Fotografer Cilik Kaka, Viral Lewat TikTok Unggahan Kartini Millenial

0

Seorang fotografer cilik viral di TikTok beberapa hari ini. Anak yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar tersebut berusaha menghidupi dirinya menjadi penyedia jasa layanan fotografi bagi wisatawan di seputaran Kota Lama Semarang. Seolah ini jasa yang mustahil karena setiap orang sudah bisa swafoto tanpa bantuan jasa fotografi. Tapi, si anak ini seperti tak menghiraukan kenyataan tersebut. Dia menembus batas dan membuktikan jasa fotografi tersebut membuahkan nominal puluhan ribu untuk satu konsumen. Unggahan seorang kartini millennial menjadi keberuntungannya begitu singkat.

KAMPUSDESA.OR.ID–Semarang, 21 Maret 2021. Sambil menunggu jadwal keberangkatan KAI stasiun Poncol, usai bertugas sebagai narasumber kegiatan Direktorat PMPK (Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus) Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, saya bersilaturahim ke rumah sahabat SMP saya. Ia sekeluarga sekarang menjadi warga Semarang. Saya diajak ke Kota Lama sebelum bertandang ke rumahnya.

“Ibu kalau ingin background fotonya nampak lebih bagus, posisi Ibu di sini.”

Tiba-tiba seorang anak kecil mendekati kami berdua yang sedang asik mendokumentasikan moment kunjungan di Kota Lama Semarang. Siang menjelang sore kala itu kami sepakat habiskan untuk melihat destinasi wisata di Kota Lama.

“Eh, ayo fotoin kami ya!” Teman saya memintanya untuk membantu kami. Saya langsung paham, rupanya gaya dia mengarahkan posisi kami saat berfoto adalah cara dia menangkap calon konsumen.

“Benar-benar paham melihat peluang nih anak!” Batin saya kagum.

Anak kecil itu penampilannya rapi, walaupun agak lusuh, mungkin karena seharian di jalanan. Berbusana casual dan bersepatu. Tampak rapi, seolah menunjukkan dia paham bagaimana menata diri menghadapi para pengunjung Kota Lama.

Gaya dia memotret tampak kalau dia paham teknik fotografi. Saya lihat tekniknya dan hasil bidikannya, dia menggunakan teknik frog eye (hasil tampilan objek foto kelihatan lebih megah atau tinggi, atau langsing). Cara mengarahkan gaya pengguna jasanya kelihatan profesional dan menarik karena ia masih anak-anak, kelas 6 saat ini.

Saya jadi tertarik mengajaknya live streaming di facebook saat itu. Saya mewawancarainya. Dari tiap jawaban yang diberikan, dia dapat merepresentasikan sebagai anak cedas dan bijaksana.

“Saya dulu penjual koran. Saya lihat jasa moto lebih besar dari jualan koran.”  Ia bertutur ke saya sangat bangga dengan profesi yang sudah dijalani dua tahunan. Saya memujinya. Profesinya ini lebih baik dari umumnya anak-anak seusianya yang kebanyakan dilakukan, misalnya menjadi pengamen jalanan.

Viral TikTok dari Akun Kartini Millenial

Jombang, 22 Maret 2021. Setibanya pulang dari Semarang, saya unggah di sosial media karya fotografi Kaka, nama fotografer cilik ini. Saya unggah di instagram, di facebook, di TikTok, dan saya tulis artikel di Kompasiana. Video live streaming di facebook bersamanya saya unduh. Saya merasa wawancara dengan Kaka ini layak diketahui banyak pihak sebagai inspirasi dalam berkarya sejak usia anak-anak.

Di luar dugaan, pengguna TikTok banyak mengapresiasi unggahan saya ini. Terhitung empat hari sejak unggahan tersebut tayang di TikTok, video yang berkonten wawancara saya dengan Kaka mendapat lebih dari 43.000 suka, diputar lebih dari 433.000 kali, dan dibagikan sebanyak 669 kali.

Dampak dari respon warganet ini, video tersebut banyak menjadi rujukan bagi awak media online untuk menulis berita. Saya mendapat kabar postingan video saya di Tiktok viral dari teman dan saudara saya. Saya cek memang banyak media online yang mengabarkan.

Pagi, 28 Maret 2021, saya dapat kiriman link instagram wali kota Semarang. Pak Wali Kota dalam akun instagramnya sedang mencari keberadaan Kaka. Siangnya, ada nomer tak dikenal mengirim pesan kepada saya. Ia memperkenalkan diri sebagai tim kreatifnya Brownis. Brownis adalah salah satu acara TV milik Trans TV. Selain Bapak wali kota Semarang yang memperhatikan, ada dermawan yang siap kirim kamera, yaitu Fujishopid dan akun Natashasie.

Pada hari itu, Sejak pagi sampai malam saya mendapat DM (Direct Message) dari profesional bidang fotografi. Asumsi saya, kemampuan Kaka di bidang fotografi akan diberdayakan dengan baik dan bertanggungjawab. Mereka antara lain akunnya bernama RinditaSoetikono, seorang creative diretor. Akun instagram lainnya Maximilian Jhon, seorang fotografer.

Jombang, 29 Maret 2021. Pagi hari saya ditelepon teman SMP saya yang di Semarang. Ia mengabarkan bahwa Kaka sekeluarga akan menghadap Wali Kota Semarang. Malam sebelumnya, saya dikabari Kaka kalau ia baru saja menerima telepon dari staf wali kota. Ia diminta datang ke balai kota keeseokan harinya.

Pada siang hari, teman SMP saya menelpon lagi. Ia mengabarkan kalau Kaka sejak dari rumah hingga balai kota Semarang sudah dikerumuni wartawan.  Mereka rupanya meliput kehidupan Kaka dan agendanya bertemu wali kota.

Sekitaran jam 17.00 akun Tiktok saya menerima notifikasi. Akun wali kota Semarang menyebut akun #TikTok saya yang saya namai GuruCerdas. Dari konten video TikTok Pak wali kota, saya menyaksikan Kaka dan keluarga mendapat perlakuan baik dari beliau. Kaka pun sempat memotret beliau dengan beberapa pose arahannya. Dari video TikTok Pak wali kota ini, saya juga melihat Kaka dan orang tuanya menerima sejumlah uang. Ia juga dijanjikan diberi gawai oleh beliau. Info dari teman SMP saya, usai bertemu Wali Kota, ia dan keluarganya bertolak menuju studio TransTV.

Berkali-kali saya mengucap syukur melihat perubahan hidup Kaka secepat itu berkat kecepatan sosial media dan warganet memublikasikannya. Tak ada yang tak mungkin jika Allah SWT telah menakdirkan akan terwujud. Seorang anak tukang sapu jalanan, rumahnya juga tak layak huni, tiba-tiba terkenal karena passionnya saya publikasikan di akun sosial media saya. Tanpa keluar rumah, tanpa ke luar kota, tanpa mengeluarkan energi besar, perjuangan saya selama kurang dari seminggu ditampakkan hasilnya oleh Allah SWT.

Dalam perjuangan saya di sosial media ini, tentu saja saya bekerjasama dengan teman SMP saya yang ada di Semarang. Ia banyak berperan dalam mendampingi Kaka dan keluarganya menjumpai Pak Wali Kota. Ia juga sebagai model dalam video saya yang viral tersebut.

Menjumpai Kaka dengan aktivitas ekonominya mengingatkan saya akan tugas saya untuk mempresentasikan materi Perempuan dan Kewirausahaan di Era Pandemi dalam Bimtek Penyelenggara Program Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan di Semarang tersebut.

Anak dan perempuan sering menjadi fokus program pembangunan manusia dan kebudayaan. Saya tertarik dan merasa terpanggil menjadikan passion Kaka berkembang dan diterima secara proporsional.

Tanpa turun jalan, saya membuktikan, bahwa manusia bisa tetap berjuang untuk kepentingan orang lain, yaitu melalui sosial media. Secara garis besar ada tiga hal yang menarik pada perfoma Kaka sebagai fotografer di destinasi wisata di Semarang. Antara lain

Cara dia bekerja yang didasari dengan pengetahuan bidang fotografi.
Caranya menangkap peluang usaha.
Penampilannya (kostum/ busana) yang mengesankan makna bahwa ia tahu sedang berhadapan dengan para tamu di destinasi wisata Semarang.