Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

0
157
skill belajar ulama salaf
skill belajar ulama salaf

0Shares
0

Demotivasi di tengah pandemi Covid-19 mengempiskan niat belajar siswa, padahal pepatah mengingatkan “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan“. Kesadaran minat belajar siswa perlu dirawat serta ditumbuhkan, jalan pintasnya dengan berbagi kisah meneladani skill belajar para Imam Salaf

Kampusdesa.or.id-Kondisi pendidikan Indonesia di tengah pandemi Covid-19 belum menemukan titik temu. Meski demikian tahun ajaran baru peserta didik dan mahasiswa tetap dibuka pada pertengahan tahun 2020 ini dengan metode daring. Realita baru ini bukanlah hal yang mengancam jika sedari awal pelajar Indonesia memiliki kesadaran kenapa mereka harus belajar dan bagaimana cara belajar yang menyenangkan, dalam konsep psikologi hal itu disebut Self Regulated Learning.

Jauh sebelum Konstruk SRL ditemukan oleh Zimmerman tahun 1989, para ulama salaf sudah bisa mengatur regulasi belajarnya sendiri. Selain itu, secanggih canggih nya teknologi abad 21 proses belajar tetap saja memerlukan waktu yang tidak instan bahkan bertahun tahun. Regulasi belajar harus didukung oleh ketahanan indvidu dalam belajar, ketahanan ketika gagal memahami retorika berfikir, kekuatan untuk bangkit membuka kembali buku pelajaran, dan teguh menghadapi kritikan. Potensi kekuatan itu disebut academic buoyancy dan dalam sudut pandang lain juga disebut grit (Perseverance & Consistency).

Regulasi belajar harus didukung oleh ketahanan indvidu dalam belajar, ketahanan ketika gagal memahami retorika berfikir, kekuatan untuk bangkit membuka kembali buku pelajaran, dan teguh menghadapi kritikan.

 

Telah lama sebelum konsep Academic Buoyancy dikemukakan oleh Martin tahun 2008 dan Grit diseminarkan oleh Angella Duckworth tahun 2002, para ulama salaf sudah menguasai skill itu semua, sederet kemampuan untuk teguh nan gigih menekuni bidang yang dipelajari. Bukti kehebatan belajar para imam salaf dapat dilihat dari karyanya yang tak lekang oleh zaman, lantas siapa sajakah Imam Salaf itu?

Ada begitu banyak para salafus shalih yang memiliki karya fenomenal dan berdedikasi tinggi dalam pengembangan ilmu, diantaranya adalah Ibnu Hajar al Asqalani, beliau telah menulis 282 Kitab di bidang Hadist. Ibnu Hajar bukan manusia jenius, ketekunan lah yang membuatnya berhasil. Negeri negeri muslim banyak yang telah ia singgahi untuk menyisir ilmu ilmu hadist.

Kitab sejarah para Nabi dan Raja Tarikh ar Rasul wal Muluk kemudian Tafsir Al Quran At Thabari merupakan karya dari Ibnu Jarir At Thabari. Semenjak baligh hingga wafat beliau sibuk menulis, dalam sehari kurang lebih At Thabari menulis 14 lembar dan ketika diakumulasikan pada akhir hayatnya beliau telah menulis sebanyak 300.058 lembar.

Siapa yang tidak kenal Tafsir Jalalain, sebuah karya klasik yang menjadi rujukan sebagian besar kalangan ahli ilmu. Tafsir Jalalain disusun oleh dua ulama besar yaitu Jamaludin al Mahalli dan Jalaluddin as Syuyuti. Setelah Imam Mahalli wafat, penulisan kitab dilanjutkan oleh Imam as Syuyuti. Menakjubkan! meski ditulis oleh dua orang yang berbeda namun gaya bahasa dan kepenulisan sangat mirip seakan akan ditulis oleh satu orang saja, selain itu Tafsir Jalalain berhasil dirampungkan oleh Imam as Syuyuti hanya dalam waktu 40 hari saja pada bulan Ramadhan, bahkan usia beliau ketika itu masih berumur 22 tahun!

Kitab dasar utama Fiqh yaitu al Muwaththa’ merupakan karangan Imam Malik bin Anas. Beliau adalah salah satu dari empat Imam Madzab. Dalam suatu sumber diceritakan bahwa Imam Malik istiqomah melakukan ibadah puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa sehari selama 60 tahun. “ Dalam istiqomah terdapat karomah “ puasa sunnah dan kegigihan belajar membuat Imam Malik menjadi ulama panutan umat.

Ditengah pandemi Covid-19 yang men demotivasi diri, inilah waktu yang tepat bagi kita meneladani semangat belajar para Imam salaf sebagai api motivasi pemuda Indonesia supaya terus belajar baik di rumah maupun di kelas online.

Hemat kata, jalan pintas untuk tahu bagaimana cara belajar yang tepat adalah dengan meniru kebiasaan para imam salaf. Ilmuwan psikologi Albert Bandura dari kalangan Behavioristik menyebutnya dengan proses modeling, sebuah perilaku meniru dengan cara mengamati perilaku sebagai tindakan belajar. Ditengah pandemi Covid-19 yang men demotivasi diri, inilah waktu yang tepat bagi kita meneladani semangat belajar para Imam salaf sebagai api motivasi pemuda Indonesia supaya terus belajar baik di rumah maupun di ruang online. Zainul Achyar dalam bukunya “ Kebiasan Kebiasaan dan Karakter Karakter Hebat Para Imam Salaf “ menjelaskan terdapat banyak skill belajar yang bisa diteladani dari para salafus shalih, secara singkat rahasia kesuksesan mereka diantaranya sebagai berikut:

  1. Rajin Membaca dan Menulis.

Tentu kedua hal tersebut adalah hal yang telah mendengking lama di telinga kita, masalahnya apakah kita sudah melakukan itu? Menurut Quraisy Syihab membaca merupakan syarat utama bagi pemuda untuk membangun peradaban. Semakin berlimpah apa yang dibaca maka semakin berkualitas pula peradaban yang bisa dibangun.

Otak manusia ibarat pedang, semakin diasah akan semakin tajam, jika tidak maka kecerdasan manusia akan tumpul. Membaca merupakan salah satu metode untuk mengasah otak, menambah kosa kata serta koleksi pengetahuan.

Menulis merupakan kebiasaan populer para imam salaf. Dengan menulis otomatis kita akan membaca, keberhasilan seseorang dalam menulis ditentukan oleh seberapa besar daya serap individu dalam membaca, karena di dalam otaknya sudah terinstall perpustakaan pengetahuan hasil dari membaca. Sekedar anda tahu, Imam Ibnul Jauzi telah membaca katalog kitab Abu Hanifah, al Humaidi, Abdul wahab bin Nashir dan Abu Muhammad bin Khasysyab dan kitab lainnya dengan total 20.000 Jilid hingga akhir hayatnya, luar biasa!

  1. Bertahan dari Kebosanan

Mencintai “ kebosanan “ merupakan kiat sukses imam salaf. Aktivitas belajar, menulis, dan membaca yang dilakukan berjam jam bahkan berhari hari akan melahirkan kejenuhan. Inilah tantangan seorang pelajar. Rasa bosan akan membuat performa menurun, minat belajar menjadi kempis, fokus menjadi kacau dan pada akhirnya timbulah rasa tidak sabar dan perasaan putus asa.

Maka hal yang harus dilakukan adalah mencintai seluruh aktivitas belajar, cari alasan menarik kenapa kita harus belajar dan apa untungnya saat kita belajar. Faktor eksternal yang harus dicari adalah teman yang memiliki visi yang sama, sehingga ketika kita merasa bosan, ada teman yang selalu menyemangati dan menstimulus betapa pentingnya aktivitas belajar itu. ” Sebaik baik teman adalah mereka yang selalu mengajakmu dalam hal kebaikan ” anonim.

  1. Tidak Hobi Rebahan

“ Tahanlah matahari agar tidak bergerak, baru aku akan bergabung duduk duduk dan berkelakar bersama kalian “ ucap Amir bin Abdul Qais. Para imam salaf sangat menghargai waktu dan haram menyia nyiakannya. Waktu adalah hal yang tidak bisa diulang, tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi meminjam waktunya teman, maka seorang pelajar harus produktif dan efisien memanfaatkan waktu. Tinggalkan kegiatan kegiatan yang tiada berguna apalagi aktivitas yang berisi kesenangan belaka.

Kemajuan tenologi telah memudahkan aktivitas manusia dalam memnuhi kebutuhannya, namun manusia semakin hari semakin manja bahkan terlena dengan kemajuan peradaban. Rebahan adalah aktivitas populer mahasiswa dan kaum millenial. Waktu mereka terkuras habis berselancar dimedia online untuk berbagai kegiatan yang tidak jelas juntrungnya. Game dan paltfom online telah menyihir pemuda tak sehebat skill literacy Bung Karno atapun Bung karni sebagaimana dialektika berfikir di ILC.

  1. Bangun Pagi dan Berpuasa

Dua hal yang menjadi jadwal wajib bagi imam salaf, yaitu bangun pagi dan puasa sunnah. Ibnu Qoyim mengibaratkan waktu pagi adalah semangat di masa muda sedangkan sore hari adalah semangat di waktu tua. Pagi hari adalah waktu yang penuh ketenangan, udara bersih dan hawa yang menyegarkan, maka waktu ini sangat tepat untuk belajar atau kegiatan positif lainnya. Dengan bangun lebih awal dari biasanya, kita memiliki waktu lebih sehingga produktifitas bisa bertambah. Bangun pagi adalah kebiasan orang orang sukses, karena pemalas tidak akan mampu mengalahkan rasa ngantuknya dan akan bersembunyi di balik selimut.

Ibnu Qoyim mengibaratkan waktu pagi adalah semangat di masa muda sedangkan sore hari adalah semangat di masa tua.

Detoksifikasi adalah proses pengeluaran racun di dalam tubuh, itulah yang terjadi ketika sedang berpuasa. Tatkala tubuh menjadi sehat, sangat mudah bagi kita untuk fokus belajar. Puasa adalah proses menahan lapar, menahan hati untuk bermaksiat. Proses menahan adalah cara yang baik untuk melatih kecerdasan emosi, inilah pentingnya puasa karena 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi (Emotional Quotient individu. Prof Teguh AS. Ranakusuma Sps (K) menerangkan bahwa ketika berpuasa tubuh kita akan memperbarui sistem organ termasuk sel otak dan sel pembuluh darah, dua organ inilah yang memiliki kecerdasan tinggi sehingga ketika berpuasa secara tidak langsung akan membantu meningkatkan kecerdasan individu.

Imam Syafi’i berpesan “ Jika anda menginginkan kesuksesan, maka ikutilah jalan kesuksesan itu, karena sesungguhnya perahu layar tidak akan bisa berlayar diatas pasir “. Jalan kesuksesan bertebar luas mengikuti potensi dan selera individu. Namun perlu diingat, ada lubang ditengah jalan, ada kerikil tajam merata dipinggir jalan, ada jalan yang menikung tajam, ada jalan yang terjal, ada jalan yang licin berlumpur dan sebagainya. Menjadi pelajar harus siap berperang, cobaan Covid-19 tak layak untuk dijadikan beban, karena manusia memiliki kemampuan survive paling tinggi diantara ciptaan tuhan. Kiat sukses imam salaf bukan sekedar cara, tetapi karakter yang harus ditiru oleh setiap muslim, karena mereka adalah ulama warasatul anbiya. Selamat Belajar!