Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (1)

0
216
Prof. Suhartono Taat Putra

0Shares
0

Beragam prestasi dan mahakarya yang ditorehkannya di lembaran kehidupan berupa “prasasti kedokteran” benar-benar tercatat oleh tinta emas oleh sejarah. Indonesia pantas berbangga memiliki sosok yang sangat inspiratif namun tetap bersahaja nan rendah hati. Mari kita teladani perjuangan hidup Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS sang begawan Psikoneuroimunologi berjuta prestasi dan rendah hati ini dengan menghayati kisah kehidupan yang dinarasikan kembali oleh kontributor Kampus Desa, dr. Dito Anurogo MSc sebagai berikut.

Kampusdesa.or.id–Kehidupan ini memang penuh problematika. Meskipun demikian, bagi Suhartono Taat Putra menjalaninya dengan ikhlas dan mengalir saja. Pelajaran kehidupan berupa kemandirian diperolehnya saat menjadi mahasiswa FK UNAIR. Hal itu memudahkan Taat melalui lika-liku jalan kehidupan selanjutnya. Dalam melakoni dinamika kehidupan, ia menilai hidup itu untuk mencari rida Allah SWT.

Cendekiawan muslim ini benar-benar multitalenta. Beliau seorang dokter pemrakarsa patobiologi, perintis dan pakar psikoneuroimunologi, neurosains, dan stem cells [sel punca]. Suhartono Taat Putra berkarir sebagai dosen di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sejak tahun 1981.

Dua tahun kemudian, beliau merintis pengembangan ilmu baru di Indonesia, yaitu Patobiologi (ilmu yang mempelajari perubahan biologis yang imbalance dalam merespon patogen). Tahun 1992, beliau  merintis pengembangan Psikoneuroimunologi (ilmu yang mempelajari interaksi antara Psikologi, Neurologi, dan Imunologi, yang disingkat PNI) di Indonesia. Patobiologi menjadi trend di Indonesia tahun 2000, setelah berproses selama 17 tahun. PNI menjadi topik diskusi yang seksi sejak tahun 2019, usai berdinamika selama 26 tahun.

Romantika hidup dan kehidupannya penuh problematika dan dinamika. Lika-liku hidupnya begitu menegangkan sekaligus mencengangkan, mengingat pintu-pintu keajaiban bisa datang tiba-tiba dari Allah SWT.

Dinamika Masa Muda

Kehidupan Taat kecil begitu penuh perjuangan. Di saat orang bersenang-senang di hari libur, ia pergunakan momentum itu untuk membantu Ibu berbelanja kain ke Surabaya. Demi memenuhi pesanan pelanggan.

Di keluarganya, pria kelahiran Bojonegoro, 2 Juni 1948 ini sering dipanggil Mumuk. Ia putra sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Achmad. Seorang PNS di Dinas Pengairan Bojonegoro. Ibunya bernama Suismi. Ia putri semata wayang. Tidak seperti putri tunggal pada umumnya, Suismi menjadi seorang wirausaha yang ulet, tekun, dan pantang menyerah. Kerja keras dan ketekunan ibunda di dalam membantu ayahanda untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pantas diapresiasi.

Kakeknya seorang guru dan petani sukses yang hidup berkecukupan. Neneknya ibu rumah tangga, gemar menolong tetangga yang hidup susah. Di halaman rumahnya yang luas, kakek membangun rumah. Hidup sehalaman dengan kakek, kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

Perjalanan hidup pria penyuka film detektif ini dihiasi empat karakter mulia. Kejujuran tanpa kompromi dari ayah. Keuletan berjuang tanpa kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup dari ibu. Sifat suka menolong dan mendorong orangtua untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin dari kakek. Pemaknaan kasih-sayang dalam kehidupan berkarakter dari nenek. Keempat nilai-nilai itu turut membentuk dan mewarnai perkembangan kepribadian Taat menjadi muslim tangguh.

Menjadi Bintang Kehidupan

Taat menikmati masa remaja sebagaimana remaja lainnya. Pembawaannya yang ceria, supel, mudah bergaul dan bersahabat, tidak suka membeda-bedakan orang, membuat Taat memiliki banyak teman dan disukai banyak orang.

Kehidupan pemuda penggemar pecel ini berubah semenjak tinggal berdekatan dengan kakek dan nenek. Ia menjadi mampu berfokus dan berkonsentrasi untuk belajar lebih giat dan mendalami pelajarannya. Hasilnya, hobiis fotografi ini selalu menjadi juara dalam hasil ujian sejak SD, SMP dan SMA selama di Bojonegoro. Sebagai sang Juara, Taat menerima hadiah dari toko buku di Bojonegoro berupa paket buku-buku SD, SMP, dan SMA. Prestasi dan pencapaian Taat selama menempuh pendidikan di Bojonegoro menjadi kebanggaan serta membahagiakan kedua orangtua, kakek, dan nenek.

Menempuh Jalan Berliku

Selepas lulus dari SMA di tahun 1967, pria yang menjadikan pantai sebagai destinasi wisata favorit ini mendaftar di Sekolah Tinggi Kedokteran Malang (STKM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga [FK Unair]. STKM ini di kemudian hari menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Saat itu, Fakultas Kedokteran di STKM masih berstatus swasta.

Di tengah-tengah ujian seleksi FK Unair, tepatnya di hari kedua, Taat mendapat panggilan untuk segera mendaftar ulang di STKM. Bila hari itu tidak segera mendaftar ulang, maka posisinya sebagai mahasiswa kedokteran bakal digantikan oleh pendaftar lainnya. Keterbatasan pengetahuan tentang dunia perkuliahan di kedokteran, membuat Taat mendaftar di STKM dan meninggalkan ujian seleksi di FK Unair. Setelah menjalani masa kuliah selama satu semester, Taat mulai tahu serta merasakan beratnya biaya untuk bersekolah di STKM. Tepat setahun berkuliah di STKM, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ujian seleksi lagi di FK Unair. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, lelaki penyuka warna merah-putih ini berhasil diterima.

Hidup Meletup Meredup

Taat merasakan dinamika kehidupan yang sesungguhnya di Surabaya. Lembaran kehidupan begitu kelabu, sangat jauh berbeda dengan kehidupan di Malang dan Bojonegoro. Begitu diterima di FK Unair, pria bergolongan darah AB ini menjual mobil. Uangnya dipergunakan untuk membeli rumah di dekat kampus.

Taat berjanji kepada diri sendiri untuk hidup mandiri selama berada di Surabaya, tanpa pernah sekalipun merepotkan orangtua. Kondisi itulah yang membuat hidupnya terasa amat berat. Terlebih lagi, Taat pindah ke Surabaya bersama ketiga adiknya. Mereka harus hidup dari pemberdayaan rumah di dekat kampus yang ditinggalinya.

Taat berjanji kepada diri sendiri untuk hidup mandiri selama berada di Surabaya, tanpa pernah sekalipun merepotkan orangtua. Kondisi itulah yang membuat hidupnya terasa amat berat. Terlebih lagi, Taat pindah ke Surabaya bersama ketiga adiknya. Mereka harus hidup dari pemberdayaan rumah di dekat kampus yang ditinggalinya.

Taat memang cerdas finansial. Rumah itu dikelola menjadi dwifungsi, sebagai tempat tinggal sekaligus kos. Kos itulah yang menjadi sumber pundi-pundi pendapatan.

Kehidupan di Surabaya telah menempa Taat menjadi pribadi unggul. Ia menjalani proses pendidikan di FK Unair dan di Fakultas Kehidupan. Sembari belajar di FK Unair, ia juga mencari dana halal untuk hidup bersama ketiga adik. Berprofesi sebagai tukang foto pengantin hingga pengemudi bemo dijalaninya dengan ikhlas. Karena konsentrasi dan fokusnya terpecah, sehingga mudah ditebak, prestasi S-1 Taat di FK Unair tidak begitu menggembirakan. Saat itu, ia belum mampu menunjukkan bahwa dirinya “putra berprestasi” dari Bojonegoro. Hikmah yang didapatkan adalah Taat memperoleh ilmu kehidupan yang nantinya turut membentuk karakternya hingga kini. Beragam pengalaman hidup ini telah menempanya menjadi pribadi bermental baja di dalam menjalani hidup dan kehidupan yang sesungguhnya.

“Hidup dan kehidupan ini adalah karunia Allah yang harus dijalani sesuai petunjukNya agar meraih ridaNya.” [Suhartono Taat Putra]

Harmonisasi Hidup

Perjalanan hidup Taat dijalani dengan harmonis. Seimbang antara karir, keluarga, organisasi, dan umat. Istilah kerennya punya manajemen waktu sekaligus time quality yang tertata rapi. Hal ini tentu berkat peran istri (Dr Elyana Angkasawati Asnar, dr, MS, yang biasa dipanggil Nana) yang sangat pengertian dan begitu memahami pola pikir dan kebersahajaan Taat. Padahal Nana terlahir dari keluarga berada di Surabaya, yakni keluarga dr Oesman Asnar SpPD. Menariknya, istri Taat ini semula tempat ia berbagi cerita alias curhat, sekaligus teman belajar saat di FK Unair. Kedekatan ini semakin menemukan banyak persamaan yang menyemikan rasa cinta kasih di keduanya.

Sesungguhnya “Cinta-kasi” adalah pengorbanan untuk membahagiakan yang dicintakasihi. [Suhartono Taat Putra]

Manajemen Risiko

Manajemen risiko juga telah dipahami sepenuhnya oleh Taat. Betapa tidak? Ia sudah berani menikah meskipun baru saja lulus dari sarjana kedokteran (Dokter Muda atau SKed), yang saat belum menjalani sumpah dokter. Otomatis mengharuskan Taat tetap studi sambil berwirausaha. Beruntung ayah mertua menyarankan agar Taat menetap di rumah beliau. Tujuannya agar Taat dapat lebih berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan dokter [koas], sehingga segera dapat bekerja secara profesional. Namun demikian Taat masih ingin tetap menunjukkan tanggung-jawabnya sebagai suami untuk berusaha menyukupi kebutuhan walau terbatas. Justru saat hidup di rumah mertua itulah Taat ijin untuk menjalankan bemonya. Sikap ayah mertua yang sangat dibanggakan, Taat diijinkan bekerja apapun selama halal dan tidak melupakan studinya.

Selama berjuang menyelesaikan koas, pengelolaan rumah kos diserahkan Taat kepada adiknya yang kedua. Begitu sumpah dokter, lelaki yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh inspiratornya ini segera memboyong sang pujaan hati dan anak pertama ke rumah hasil kerja kerasnya selama ini.

Istri berperan besar di dalam keberhasilan studi dan perjalanan karir Taat. Ia tidak pernah menuntut fasilitas apapun. Ia rela berkorban demi Taat yang amat dicintainya.

Istri Taat yang lulus lebih dulu, bekerja sebagai dosen di Departemen Ilmu Faal FK UNAIR. Saat itu. Keterlambatan kelulusan Taat ini, antara lain disebabkan selain ada perpanjangan kurikulum juga karena wirausaha yang mengurangi waktu belajarnya. Setahun setelah kelulusan istrinya, Taat lulus dari FK UNAIR dan menjadi dosen di Fakultas Non Gelar Kesehatan (FNGK) yang baru didirikan di UNAIR. Begitu masuk, Taat langsung diamanahi sebagai pengelola Laboratorium (setingkat Departemen) Teknik Patologi FNGK UNAIR.

Begitu gelar dokter diraih dan mulai mendosen, pria penyuka kucing ini langsung melanjutkan kuliah ke jenjang Magister di Minat Patobiologi Prodi Ilmu Kedokteran Dasar (IKD) Fakultas Pascasarjana Unair. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Nasib mujur sedang berpihak padanya, karena prestasi tersebut Taat diberi kesempatan untuk langsung meneruskan studi S3, dan berhasil lulus dengan predikat Cumlaude.

“Kesuksesan adalah pencapaian semaksimal mungkin dalam menjalani hidup secara ikhlas di jalanNya.” [Suhartono Taat Putra]

 

>>>Baca juga lanjutannya di part 2.