Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 16

Aktualisasi Pendidikan di Era Pandemi

0

Pandemi Covid-19 telah memaksa mengubah perubahan wajah pendidikan kita dari pendidikan yang semula normal menjadi serba online, hal ini bisa kita lihat dari proses pembelajaran yang tidak lagi mengutamakan tatap muka (luring), melainkan pembelajaran jarak jauh (daring). Pembelajaran yang berbasis pada teknologi yang dilaksanakan dengan sistem daring yang memanfaatkan akses internet. Namun pada kenyataannya pembelajaran daring tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak dihadapkan oleh berbagai persoalan. Seperti keterbatasan siswa dan orang tua dalam menggunakan dan mengakses media pembelajaran daring baik berupa laptop maupun smartphone, lemahnya jaringan telekomunikasi (signal), pembengkakan biaya kuota, ditambah lagi keluhan-keluhan orang tua dalam mendampingi dan mengawasi putra putrinya dalam pembelajaran daring, karena tidak semua orang tua siswa memiliki waktu luang dan latar belakang pendidikan yang tinggi.

Berbagai macam cara atau metode perlu dikreasikan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran jarak jauh. Misalnya dengan mengadakan program pelatihan tenaga pendidik dalam penggunaan dan pemanfaatan platform digitalisasi untuk kelancaran dalam pembelajaran jarak jauh, misalnya melalui dialog interaktif antara guru dan anak sehingga menimbulkan tingkat pemahaman anak atas materi yang baik. Dosen atau guru diharuskan untuk selalu kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran secara daring, sehingga anak-anak tidak jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut. Bagaimana tingkat pemahaman anak atas materi-materi yang telah disampaikan secara daring, dosen atau guru juga tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknologi dasar (seperti menggunakan komputer dan tersambung ke internet), tetapi juga pengetahuan untuk menggunakan perangkat rekaman dan perangkat lunaknya, serta metode untuk menyampaikan pelajaran tanpa interaksi tatap muka (gambar atau video visual yang unik juga menarik). Keterampilan tersebut sangat diperlukan untuk menunjang ke berlangsungan dalam menggunakan platform digital.

Selain itu, pada proses pembelajaran  selama masa pandemi covid-19 ini seharusnya tetap dapat mengakomodasi kebutuhan belajar siswa untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai dengan jenjang pendidikannya. Hal ini bisa terwujud jika ada kerjasama dari berbagai pihak, antara guru dan peserta didik. Perlunya pemahaman kesadaran akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak inilah yang perlu digencarkan kepada setiap orang tua atau wali murid. Sehingga tugas pertama yang harus diselesaikan negara ialah menanamkan kesadaran kepada setiap orang tua akan pentingnya proses pendampingan anak dalam proses belajar, terutama di daerah pelosok desa dan di pelosok negeri, tentang pentingnya memberikan pendidikan bagi setiap anak di rumah.

Nadiem Makarim (2021), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, mengungkapkan perlu adanya empati antara guru dengan orang tua dan orang tua dengan guru. Empati baru yang dimaksudkan adalah terjalin saling pengertian bahwa guru menyadari akan pentingnya peran orang tua berkontribusi menyukseskan pendidikan anak. Selain itu, orang tua menjadi sadar betapa sesungguhnya tugas guru dalam mendidik anak anak mereka tidaklah mudah.

Di sini peran pemerintah sangatlah dibutuhukan dalam memberikan kualitas pendidikan kepada anak bangsa, karena pendidikan adalah kunci dari keberhasilan sumber daya manusia suatu Negara. Di tangan generasi muda ke depannya kita bisa menjadi maju. (Kemenkeu, 2020)

Semestinya Pemerintah di sini harus mengambil peran untuk mengupayakan keberlangsungan proses belajar, sebagaimana dapat meringankan beban masyarakat ekonomi ke bawah dengan memberikan handphone ataupun laptop kepada anak-anak yang orang tuanya kurang mampu, memberikan kuota kepada anak-anak sekolah dan memberikan dana lebih untuk kebutuhan pokok sehari-hari atas keluarga yang kurang mampu akibat dirumahkan, pemutusan hubungan kerja, pelaku UMKM yang mengalami keterpurukan dan saat ini pun nelayan bersedih karena harga ikan menurun, sementara tangkapan ikan pun menurun. Dalam memberikan dana tersebut, Pemerinah haruslah selektif, agar dana-dana tersebut dapat tepat sasaran dan efektif sampai kepada yang memang benar-benar memerlukan.

Tentu sejumlah rekayasa sosial dalam menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh di tengah pandemi covid-19 telah ditempuh. Namun dalam praktiknya kita membutuhkan banyak kreativitas dalam mengembangkan daya pikir anak. Sebagai contoh, sistem Pendidikan kita masih menggunakan metode belajar hafalan, yang di mana menurut Najwa Shihab “Ilmu jangan hanya obyek hafalan, ilmu untuk memahami dan menuntaskan persoalan

Dengan   demikian   kita   harus mampu  menyelenggarakan proses belajar yang bersifat partisipatif. Pembelajaran ini menitik beratkan pada keaktifan individu dalam mencari atau berinisiatif  belajar mandiri dan aktif dalam proses belajar. Penekanan pembelajaran bukan hanya mengajarkan sesuatu kepada peserta didik kemudian menyuruhnya mengerjakan soal agar memiliki jawaban baku yang dianggap benar oleh tutor, akan tetapi proses pembelajarannya harus menumbuhkan daya kreasi, daya nalar, rasa keingintahuan dan eksperimen untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang baru serta membentuk sikap dan kepribadian peserta didik

Perlunya kita menyadari bahwa anak-anak pada generasi sekarang (Gen Z), yang dimana mereka sudah sangat siap dalam merespons perkembangan zaman melalui teknologi, sehingga wajar generasi saat ini disebut sebagai generasi gadget atau generasi menunduk. Banyak hal-hal lain yang anak-anak saat ini dapatkan melalui teknologi sehingga kecakapannya dalam keilmuan non-akademik lebih mumpuni daripada keilmuan akademik. Hal itu menandakan bahwa konsep pembalajaran yang berangkat dari rasa ingin tahu dapat mendorong minat/bakat seorang anak, sehingga hal tersebut dapat terciptanya ruang aktualisasi dan kreativitas bagi anak.

Childfree: Antara Kebebasan dan Kepantasan

Kampusdesa.or.id–Belakangan ini, ramai diperbincangankan istilah “childfree“. Bagi yang belum tahu, chilfree pengertian gampangnya adalah pasangan yang menikah namun memutuskan tidak memiliki anak. Gaya hidup ini mengalami tren peningkatan baik di Indonesia maupun luar negeri dengan berbagai alasan.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut antara lain masalah personal, finansial, latar belakang keluarga, kekhawatiran akan tumbuh kembang anak, isu atau permasalahan lingkungan, hingga alasan terkait emosional atau maternal instinct.

Sebagaimana menurut Gita Savitri, alasan memutuskan tidak memiliki anak bersama pasangannya adalah karena adanya kekhawatiran jika nanti sebagai orang tua tak memiliki responsible, tahunya malah memberikan luka pada anak. Lain hal dengan Cinta Laura memutuskan hal serupa dikarenakan menilai bahwa populasi manusia di dunia sudah terlalu banyak. Sehingga ia lebih menyarankan untuk mengadopsi anak terlantar yang tidak mendapatkan kasih sayang.

Apapun alasan dan yang melatarbelakanginya, jika ditinjau dari kacamata hukum, keputusan ini memang sangat personal. Tidak menyalahi hukum pidana maupun perdata. Karena “memilih” merupakan hak setiap pasangan manusia. Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan pasti akan memunculkan beberapa dampak persepsi sosial, seperti adanya stigma negatif dari masyarakat bahkan keluarga sendiri. Sehingga membuka kesempatan timbulnya tekanan di tengah-tengah masyarakat bagi pasangan dengan keputusan childfree.

Terkait hal ini, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Psikolog Sosial dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menuturkan bahwa pernikahan pada prinsipnya tidak hanya melibatkan dua individu saja, tetapi juga dua keluarga besar. Alhasil, keputusan untuk tidak memiliki anak sebaiknya disampaikan ke orang tua masing-masing..

Apabila keputusan tersebut tidak dapat diterima, tentu dapat menjadi tekanan sosial bagi pasangan. Namun, jika dapat diterima, maka pasangan akan lebih mudah menghadapi tekanan sosial dari masyarakat di luar keluarga.

Keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree ini tentu masih menjadi kontroversi di tengah masyarakat. Opsi childfree masih sulit diterima di Indonesia, mengingat kuatnya budaya patriarki dan juga masih bertahannya stigma sosial bahwa perempuan yang menikah harus memberikan keturunan pada suaminya. Selain itu sebagian menilai alasan untuk childfree bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia.

Perlu diingat manusia hidup tentu harus mengikuti norma-norma, tidak bisa hidup sesuai haknya dan bebas memilih apapun. Karena di dunia ini ada hal yang pantas diucapkan maupun dilakukan serta ada hal yang tidak pantas untuk diucapkan atau dilakukan, baik diatur dalam norma adat istiadat maupun norma agama. Khususnya dalam hal ini agama Islam yang mana agama dengan pemeluk mayoritas di Indonesia.

Lantas bagaimana pandangan childfree menurut agama Islam?

Sebagaimana seperti yang dilansir oleh situs NU Online, hukum childfree dalam kajian fiqih Islam jika merujuk pada dua hadits nabi adalah hukumnya tergantung pada praktiknya. Namun perlu diketahuoi bahwa serorang yang menikah namun dengan sengaja tidak mau memperoleh keturunan sama dengan menghilangkan keutamaan dari sebuah pernikahan. Di mana hal ini sangat bertentangan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW.

Senada dengan itu, seorang Pendidik dan pemerhati isu Muslimah, Ustazah Elizabeth Diana Dewi mengatakan child free adalah konsep yang dicetuskan oleh para feminis yang menggaungkan politic of body atau politik tubuh. Sebuah konsep yang dibawa oleh para feminis radikal. Islam sebagai agama memiliki konsep sendiri dalam membangun keluarga. Konsep tersendiri yang tujuan utamanya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT yang sama sekali berbanding terbalik dengan konsep child free yang berakar dari sekularisme.

Selain edukasi melalui konsep agama Islam, isu ini juga menjadi PR bagi konsep pengasuhan anak (parenting). Fenomena childfree ini hendaknya menjadi perhatian bagi semua pihak terutama para orang tua. Setiap orang tua hendaknya memperhatikan dan memperbaiki pola asuh yang mereka terapkan. Agar anak memiliki gambaran sebuah keluarga yang ideal hingga ia nanti memiliki rasa percaya diri dalam membangun keluarganya dan tidak condong mengikuti kelompok yang memilih childfree. []

The Power of Kepepet, Mengubah Kebiasaan Generasi Baby Boomer

0

Tantangan baru bagi guru, orang tua, dan anak adalah menyesuaikan penggunaan gawai untuk belajar atau sekolah. Apalagi generasi baby boomer, perkara menggunakan gawai tentu sekali serepotan. Tapi kalau sudah terdesak (power of kepepet), sejumlah orang tua akhirnya mulai bisa mengoperasikan gawai untuk belajar dari rumah saat pademi covid-19. Apakah perubahan memang menunggu momentum/kesempatan terdesak?

Kampusdesa.or.id–Tentu saja catatan saya ini tidak meresensi bukunya Jaya Setiabudi penulis buku The Power of Kepepet (2008). Ini terkait keterdesakan yang ada di dunia pendidikan, bukan di dunia bisnis.

Apa saja yang kita peroleh akibat wabah COVID-19 yang melanda dunia lebih dari setahun ini? Kita tiba-tiba tidak saja masuk dalam suasana baru, tetapi juga pola pikir dan tindakan yang harus beradaptasi dengan suasana baru tersebut.

Mau tidak mau, semua bentuk komunikasi dilalui secara virtual

Yang paling tampak nyata saat pandemi COVID-19 ini adalah kita dituntut bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi digital. Mau tidak mau, semua bentuk komunikasi dilalui secara virtual. Tak ketinggalan dalam dunia pendidikan.

Awal pandemi COVID-19, bisa saja guru dari golongan generasi baby boomers (usia 56-74 tahun) bahkan generasi X pun ada yang mengelak belajar teknologi. Alasannya “sudah tua.” Walhasil pembelajaran terseok-seok jika gurunya dari generasi baby boomers. Yang menyedihkan itu jika guru dari kalangan milenial tapi cara mengajarnya tidak secanggih pelabelannya sebagai generasi yang melek teknologi digital.

Sejalan dengan waktu pandemi COVID-19 belum juga menampakkan tanda-tanda akan berakhir, dua generasi tersebut akhirnya menyerah. Kini tak hanya seminar yang memakai aplikasi zoom, Google Meet atau aplikasi digital lainnya. Rapat kerja sekolah, tahlilan untuk mendoakan teman seprofesi yang meninggal, koordinasi kerja lainnya sudah bisa menggunakan aplikasi ‘tatap layar’. Semua kalangan, semua usia mau menerimanya.

Di dunia pendidikan tak hanya aplikasi tatap layar seperti Zoom dan Google Meet yang digunakan sebagai sarana pembelajaran. Aneka apikasi sosial media juga marak digunakan para pendidik. Selain itu dunia pendidikan kini semakin keren dengan munculnya aplikasi yang berlabel education, seperti Google Workplace for Education, Canva for Education, dan Microsoft 365 for Education.

The power of kepepet akhirnya mendesak generasi baby boomers dan generasi X tak segan belajar dan memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan pembelajaran virtual mereka. Penguasaan dan pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan, sepertinya kelar tanpa kendala yang berarti.

The power of kepepet rupanya belum mampu masuk pada pola pikir para orang tua yang mendampingi belajar anak mereka di rumah (Belajar Dari Rumah/BDR).

Dalam konteks lain seputar pendidikan, the power of kepepet rupanya belum mampu masuk pada pola pikir para orang tua yang mendampingi belajar anak mereka di rumah (Belajar Dari Rumah/BDR). Merindukan kapan sekolah dibuka adalah ungkapan yang tak bosan dilontarkan ke pihak sekolah selain anak mereka sendiri yang menyampaikan.

Tidak sedikit orang tua yang menyikapi pandemi COVID-19 ini adalah kejadian luar biasa yang nantinya akan berakhir. Sehingga mereka menunggu waktu tersebut. Mereka tidak merasa kepepet. Akibatnya, cara mendampingi belajar sama saja dengan sekolah yang tidak sedang BDR. Padahal, cara guru menyampaikan materi pelajaran sudah berbeda. Orang tua dalam golongan ini mungkin menganggap BDR hanyalah mengalihkan tempat belajar dari sekolah ke rumah.

Di tengah ada orang tua yang merasa pandemi COVID-19 adalah tantangan untuk menjadi guru handal era pandemi COVID-19, ada golongan orang tua yang mendampingi belajar anaknya secara instan. Misalnya, jika guru memberi tugas agar mencari jenis binatang yang dipengaruhi oleh pembagian garis Wallace dan Weber melalui mesin pencarian di Google, orang tua tinggal mendatangi rental komputer. Anak tinggal menyetorkan tugas dalam bentuk cetak ke guru mata pelajarannya secara periodik bersamaan dengan pelajaran lain. Konon ada salah satu pemilik rental bercerita ke saya.

“Mbak, saya di-print-kan tugas seperti anaknya si Anu!”

Rupanya, ini the power kepepet yang tidak mau repot. Yang penting tugas anak selesai di hadapan gurunya. Perkara anak paham atau tidak tugas dari guru di sekolah, dipikir belakangan. Orang tua sudah dikejar tugas lain. Bisa saja keburu mendampingi belajar 1 atau 2 anaknya yang lain, karena waktu penyetoran tugas dibatasi.

Bujang sulung saya pernah bercerita juga, ia berjumpa dengan tukang becak yang membelikan anaknya gawai untuk pembelajaran daring. Uang yang dibayarkan ke penjualnya dalam bentuk uang recehan. Ini the power of kepepet yang menimbulkan iba. Sama halnya siswa sekolah formal saya. Ia mengeluhkan tidak bisa masuk Google Classroom karena lupa kata sandi. Saya undang ke rumah membawa gawainya. Sambil mengajarinya mengatur ulang kata sandi, saya menemukan masalah dengan gawainya. Beberapa huruf tidak muncul saat dipencet, caranya agar muncul, posisi gawai diubah tampilannya ke landscape.  Batin saya kala itu.

“Sampeyan jadi cerdas dalam keterbatasan gawaimu, Nduk!”

Seketika itu saya percaya kalau warga masyarakat memang tak semua punya gawai, lebih-lebih yang kompatibel dengan kebutuhan BDR.

Sepanjang BDR berlangsung di tengah pandemi, terkait perilaku orang tua dalam mendampingi belajar anaknya, saya belum menjumpai ada kegiatan parenting program sekolah yang bertujuan menumbuhkan semangat berjuang dengan sabar dalam mendampingi BDR. Diharapkan orang tua tak lagi repot ke rental komputer demi tugas anak, yang kenyataannya dikerjakan oleh penjaga rental komputer.

Orang tua mungkin perlu diberi bocoran isi SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020 bahwa pembelajaran masa pandemi COVID-19 itu diharapkan memberi pengalaman belajar yang bermakna

Orang tua mungkin perlu diberi bocoran isi SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020 bahwa pembelajaran masa pandemi COVID-19 itu diharapkan memberi pengalaman belajar yang bermakna. Guru pun juga patut memedomani SE Mendikbud No 4 Tahun 2020 ini agar materi pelajaran dan tugas yang diberikan kepada peserta didiknya meninggalkan kesan proses belajar yang bermakna. Pembelajaran yang bermakna ini tentu saja maksudnya menambah kualitas wawasan pengetahuan lebih baik di era kegiatan yang serba dibatasi karena COVID-19.

Untuk para orang tua, jika pihak sekolah telah memberi banyak kelonggaran dalam mendampingi BDR anak-anaknya, maka kelonggaran itu bisa dijadikan kesempatan untuk belajar agar kualitas pendampingan BDR lebih baik. Jombang, 29 Juli 2021

Mengatasi Stres Kerja Guru saat Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 mengubah sistem pembelajaran di sekolah dari tatap muka menjadi tatap maya. Cara belajar ini tentu membalik ritme kerja guru. Situasi menjadi jungkir balik karena butuh banyak penyesuaian kerja. Kondisi ini diduga menjadi satu di antara sebab mengapa guru di daerah Sidoarjo pun mengalami stres kerja. Bagaimana mengatasi stres kerja guru yang direkomendasikan dari berbagai hasil riset?

Kampusdesa.or.id–Saat menguji tugas akhir tentang penelitian psikologi bertema stres kerja guru, saya agak terkejut dan kemudian berpikir, kira-kira stres tersebut juga saya alami. Penelitian dilakukan di Sidoarjo belum lama ini. Penelitian itu dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Rachmadhevy (Rachmadhevy, 2021) dengan judul Hubungan kecerdasan emosional dengan stres kerja guru (diujikan pada 15 Juli 2021).

Dalam penelitian dengan subyek 44 guru, dalam paparan kurva normal hasilnya menunjukkan, ternyata guru menghadapi situasi tertekan (stres). Jika dilihat secara kategoris, guru yang memiliki puncak stres memang hanya satu orang (2,3%), tetapi yang mencengangkan, guru yang terpapar stres sebesar 95,5 persen atau sejumlah 42 guru. Stres yang dimaksud di sini adalah situasi tertekan yang melebihi kebiasaan semestinya sehingga menimbulkan berbagai gangguan fisiologis, psikologis, dan kekacauan perilaku.

Pandemi sepertinya membawa situasi kerja baru tetapi belum mampu melahirkan adaptasi psikologis yang signifikan. Rasa-rasanya saya juga mengalami begitu. Bekerja offline telah melatih fisik ini mampu menormalisasi tekanan. Tetapi nampaknya kerja online, apalagi mengajar yang mengharuskan duduk berlama-lama di depan laptop, bicara sendiri, mau menghidupkan dialog, harus teriak-teriak, karena meski mahasiswa diminta menghidupkan video, ada saja yang tetap mematikan video. Belum lagi kalau dimatikan audionya.

Benar-benar seperti penyiar radio, asal bicara semenarik mungkin, entah ada pendengarnya atau tidak. So must go on. Berinteraksi secara online memang tak senyaman bertatap muka langsung.

Benar-benar seperti penyiar radio, asal bicara semenarik mungkin, entah ada pendengarnya atau tidak. So must go on. Berinteraksi secara online memang tak senyaman bertatap muka langsung. Nah, inilah yang belum bisa diadaptasikan. Meskipun bisa juga dilalui, tetapi dengan jumlah pembelajar yang puluhan, rasanya harus satu persatu untuk memperlakukan secara intensif. Butuh usaha yang berlipat.

Baca juga: Apa Kabar “Belajar dari Rumah” Setelah Tiga Pekan Berlangsung?

Apa saja tekanan kerja guru di masa pandemi

Hasil penelitian si Rachmadhevy ternyata membongkar baper saya itu. Mengejutkannya, bahwa stres (tekanan) kerja guru yang paling tinggi ada di tekanan fisiologis. Ini yang bikin heran. Padahal masa pembelajaran jarak jauh yang kebanyakan dilakukan online, yang tidak butuh mengangkat meja, gerak tubuh yang penuh mobilisasi, tidak butuh jarak tempuh, ternyata cukup menjadikan para guru dihampiri terkanan kerja.

Baca juga: Implikasi SE Mendikbud No 4 Tahun 2020 Terhadap Konten Materi Pelajaran Sekolah

Rachmadhevy mengacu para pengukuran skala stres merujuk cara Luthan, diantara tanda stres fisik ini terjadi penurunan kekuatan fisik guru, mudah lelah, sakit kepala, sakit punggung, diare dan kekebalan tubuh menurun. Tanda stres berikutnya ada di tekanan psikologis, seperti cemas, sensi, mudah bosan, dan mengeluh. Sementara tekanan perilaku berwujud gangguan ritme tidur, menunda kerja, dan pola kedisiplinan.

Relaksasi dibutuhkan untuk mengatasi stres kerja guru. Sumber gambar: pexels.com
Ternyata pembelajaran jarak jauh sebagai konsekuensi mengendalikan sebaran Covid-19 telah membawa dampak gangguan kesehatan psikologis di dunia kerja. Komunikasi jarah jauh ternyata belum dapat mencapai spirit idealisme kemajuan teknologi yang menyehatkan secara psikologis. Fenomena ini patut menjadi refleksi dalam dunia pendidikan. Boleh jadi yang terjadi karena overload daring, penguasaan murid dalam kelas yang jumlahnya besar sehingga keterjangkauan murid menjadikan cara kerja tidak lagi efisiens.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake–e1626071446700.png
Tubuh yang hadir dalam budaya kolektivisme seperti Indonesia ini, adalah piranti kimiawi yang memantik energi semangat, kepedulian, yang bertumbuh menjadi motivasi, pemahaman, dan kenyamanan belajar yang lebih kharismatik.
Sementara, syarat kehadiran tatap muka dalam proses belajar yang terjadi selama ini telah menjadikan budaya perjumpaan merupakan medan sosial yang paling menjamin proses belajar lebih mudah. Tubuh yang hadir dalam budaya kolektivisme seperti Indonesia ini, adalah piranti kimiawi yang memantik energi semangat, kepedulian, yang bertumbuh menjadi motivasi, pemahaman, dan kenyamanan belajar yang lebih kharismatik. Situasi ini telah menjadi blok mental dalam budaya belajar sehingga tidak mudah digeser dalam waktu cepat.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake–e1626071446700.png
Menurut saya, kenyamanan ko-eksistensi (selalu ada teman menjadi lebih mudah) sebagai ciri orang Indonesia. Begitu juga belajar, akan mudah dipahami kalau ada lingkungan yang memberikan enggagement (keterlibatan) intim untuk bisa tuntas.
Bagi guru, dapat diduga inilah yang menjadi tekanan kerja, sementara murid kehilangan kualitas belajarnya (loss learning). Kualitas belajar jarak jauh nampaknya belum cukup bisa diadaptasi sehat psikologis. Menurut saya, kenyamanan ko-eksistensi (selalu ada teman menjadi lebih mudah) sebagai ciri orang Indonesia. Begitu juga belajar, akan mudah dipahami kalau ada lingkungan yang memberikan enggagement (keterlibatan) intim untuk bisa tuntas. Sebuah watak belajar bertumbuh yang interdependen (saling tergantung).

Nampaknya, ini masih sulit tumbuh di era keterlibatan belajar interaksi online, karena kita berada dalam budaya tutur ketimbang budaya membaca. Tanpa ada budaya tutur yang mengasyikkan, sepertinya belajar mandiri yang menjadi prasyarat belajar jarak jauh, akan membutuhkan berbagai faktor yang menentukan kemampuan belajar tuntas. Tentunya jika ini ketemu, menjadikan guru terkurangi daya stresnya.

Jamu Mengatasi Stres Kerja Guru
Kecerdasan emosional. Nah, apa yang dapat menurunkan stres kerja guru di masa pandemi ini. Saya kembali mengutip hasil riset Rachmadhevy tersebut, dalam konteks subyek risetnya, uji kemampuan kecerdasan emosional berhubungan dengan naik turun si guru terhadap pengalaman stres tidaknya seorang guru. Ini dibuktikan oleh hasil analisis statistik Rachmadhevy bawah ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan stres kerja. Namun jika dilihat hubungan keduanya, nampaknya sumbangan hubungan itu memiliki bobot yang kecil, yakni 18,5%. Namun, ketika saya melihat penelitian sebelum pandemi di tempat lain (pada Guru SMA di Medan), hubungannya cukup baik bahwa kecerdasan emosi memiliki hubungan dengan tekanan (stres) kerja guru (-0.65) (Putra, 2017).

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake–e1626071446700.png
Kemampuan menyadari gejolak emosi, seperti kesal, kelelahan, sedih, marah, bahkan senang, gembira, dan sabar adalah hal penting bagi seseorang untuk mengendalikan stres.
Nah, dalam konteks situasi subyek yang diteliti Rachmadhevy, memang kecerdasan emosi yang baik mampu mengikat kemampuan guru untuk menurunkan stres, tetapi kekuatannya tipis banget. Ketika dikulik lebih dalam, analisis Rachmadhevy menunjukkan bahwa aspek mengenali emosi di kecerdasan emosionallah yang bermanfaat sebesar. Kemampuan menyadari gejolak emosi, seperti kesal, kelelahan, sedih, marah, bahkan senang, gembira, dan sabar adalah hal penting bagi seseorang untuk mengendalikan stres. Kemampuan menyadari dapat dijelaskan sebagai cara mengenali kapan emosi muncul mengendalikan ego kita, termasuk kekuatan kita saat sedang bahagia, senang, gembira, atau melepaskan ketegangan apa yang sedang kita rasakan.

Baca juga: Saatnya Menggeser Teori Parenting Impor dalam Psikologi

Suatu misal, melatih mengenali dengan baik kapan saat terjadi sesuatu yang menyinggung kita. Di situ tekanan emosi kita akan merespon dan mulai marah. Suatu saat kita melihat murid yang menjengkelkan. Apakah kita tahu waktu itu ada suatu dorongan yang menjadikan kita mengenali detik-detik marah. Saat kita tahu sesi itu apa reaksi yang biasanya muncul? Nah ini salah satu bagian saja dari cara kita mengenali emosi.

Jadi, kesimpulannya, dalam konteks subyek riset Rachmadhevy, tidak cukup kecerdasan emosional para guru yang dimiliki menjadi jamu satu-satunya bagi penurunan stres kerja guru, tetapi guru harus mencari jamu lain agar stres kerja guru benar-benar menurun. Sayang riset Rachmadhevy hanya menghadirkan jamu kecerdasan emosional.

Kegiatan fisik lebih menyembuhkan stres. Kesehatan kerja sehari-hari dan terbebas dari situasi tertekan biasanya melibatkan aktifitas fisik di saat jam istirahat. Penelitian Chu et al., (2014); Sianoja et al., (2016, 2018) misalnya, agar seseorang lebih sehat dalam bekerja, mengaktifkan kegiatan fisik ketika istirahat makan siang seperti berjalan kaki di area taman dapat menciptakan kondisi yang lebih sehat. Termasuk latihan relaksasi cukup membantu untuk meningkatkan kesehatan kerja karena dapat menurunkan kelelahan di malam hari.

Baca juga: Interaksionisme Simbolik; Antara Lonte dan Merdeka Belajar

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake–e1626071446700.png
Praktik yoga dan beberapa model senam sekaligus meditasi memiliki kontribusi yang paling baik dalam menurunkan stres
Begitu juga dengan penurunan stres, nampak dari sejumlah kesimpulan dari banyak penelitian oleh (Zhang et al., 2021) menunjukkan praktik yoga dan beberapa model senam sekaligus meditasi memiliki kontribusi yang paling baik dalam menurunkan stres dengan nilai perlakuan 89%. Setelah itu disusul terapi pijat (58%), relaksasi otot progresif (51%), beberapa kegiatan peregangan otot (40%), dan lainnya hanya 12%. Kombinasi kegiatan fisik dengan model kesadaran penuh (mindfullnes) dapat menjadi pilihan. Kalau Anda tidak bisa yoga, mungkin model senam pernafasan akan juga membantu penurunan stres.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah yang-biasa-dipake–e1626071446700.png
Bagi para guru, kegiatan bergerak yang dikombinasikan dengan model rilaksasi, kontemplasi, atau seni gerak bela diri pernafasan dapat dipelajari untuk membangun imun di tengah situasi pembelajaran jarak jauh.
Bagi para guru, kegiatan bergerak yang dikombinasikan dengan model rilaksasi, kontemplasi, atau seni gerak bela diri pernafasan dapat dipelajari untuk membangun imun di tengah situasi pembelajaran jarak jauh. Ini juga baik direkomendasikan bagi para penyintas Covid-19 yang sedang menghadapi penyembuhan. Inilah jamu penurunan stres yang dapat anda lakukan.

Pendekatan penurunan stres menggunakan cara gerak tubuh dikarenakan berbagai aktifitas mental di tempat kerja akan selalu berdampak pada berbagai bentuk kelelahan fisik. Apalagi tubuh tidak bergerak bebas karena memang konsentrasi tubuh akan mendukung proses mental dalam menuntaskan pekerjaan harian. Untuk itu, peremajaan tubuh harus diaktifkan menggunakan siklus gerak yang menyeimbangkan tubuh setelah monoton mendukung aktifitas mental kerja.

Selebihnya, silahkan para guru mengelola sendiri teknik apa saja yang dianggap mirip sehingga menjadikan kegiatan pembelajaran jarak jauh dapat terhindar dari berbagai bentuk tekanan psikis (stres), terutama di masa penantian berakhirnya pandemi covid-19.

Referensi
Chu, A. H. Y., Koh, D., Moy, F. M., & Muller-Riemenschneider, F. (2014). Do workplace physical activity interventions improve mental health outcomes? Occupational Medicine, 64(4), 235–245. https://doi.org/10.1093/occmed/kqu045

Putra, A. D. (2017). Hubungan kecerdasan emosional dengan stres kerja pada guru SMA Negeri 17 Medan Tahun 2017 [Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara]. http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/1810

Rachmadhevy, F. T. (2021). Hubungan antara kecerdasan emosional dengan stres kerja guru SMP Nurul Huda dan SMP Kemala Bhayangkari 7 Porong di masa pandemi Covid-19 [Skripsi]. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Sianoja, M., Kinnunen, U., de Bloom, J., Korpela, K., & Geurts, S. (2016). Recovery during Lunch Breaks: Testing Long-Term Relations with Energy Levels at Work. Scandinavian Journal of Work and Organizational Psychology, 1(1), 7. https://doi.org/10.16993/sjwop.13

Sianoja, M., Syrek, C. J., de Bloom, J., Korpela, K., & Kinnunen, U. (2018). Enhancing daily well-being at work through lunchtime park walks and relaxation exercises: Recovery experiences as mediators. Journal of Occupational Health Psychology, 23(3), 428–442. https://doi.org/10.1037/ocp0000083

Zhang, M., Murphy, B., Cabanilla, A., & Yidi, C. (2021). Physical relaxation for occupational stress in healthcare workers: A systematic review and network meta‐analysis of randomized controlled trials. Journal of Occupational Health, 63(1). https://doi.org/10.1002/1348-9585.12243

Literasi Anak Bagian dari Belanja Keluarga, Sudahkah Demikian?

Menjadi anak berpengetahuan bagian dari hak anak untuk melek informasi, ilmu, dan ketrampilan hidup. Mereka tidak hanya diberi kecukupan sandang, pangan, dan perlindungan papan. Mereka juga membutuhkan alat berpikir dalam bentuk kemampuan bernalar. Asah nalar merupakan hak berliterasi anak. Apakah anak kita sudah punya penganggaran literasi, atau hingga hari ini kita masih luput untuk tidak menyediakan buku di dalam rumah? Yuk sisihkan belanja keluarga untuk literasi anak.

Kampusdesa.or.id–Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2021! Wahai orangtua, kawal anakmu agar tumbuh dalam kesukaan akan ilmu pengetahuan! Waspadalah dengan zona nyaman kebercukupan keluarga! waspadalah dengan kesibukan yang membuatmu lupa bahwa kamu harus memberi nutrisi otak dan jiwa bagi pertumbuhan anak-anakmu!

Tiba-tiba terlintas di benak saya terkait posisi keluarga dan sejauh mana anak-anak kita kita dekatkan pada pengetahuan!

Ya, buktinya anak-anak yang menyukai ilmu pengetahuan dan akhirnya mendapatkan manfaatkan pengetahuan itu untuk berperan (bekerja secara ekonomi maupun berperan secara sosial) merupakan anak-anak yang oleh orangtuanya didekatkan pada pengetahuan dan didekatkan pada kesukaan akan belajar?

Baca juga: Ilmu Bukanlah Alat untuk Mencari Kekayaan, Benarkah Intelektualitas Tidak Menjamin Kesuksesan?

Bukankah masih banyak orangtua yang tak peduli apakah anaknya suka belajar atau tidak. Sudah menguasai pekerjaan ilmu di sekolah atau tidak, mereka tidak mikir. Bahkan mungkin masih banyak yang sama sekali tidak peduli, atau tak sempat mikir karena saking beratnya kondisi ekonomi yang dihadapi. Memang ada yang seperti itu, tapi rerata jaman sekarang ekonomi sudah mulai membaik. Masih ada keluarga yang untuk makan saja sulit, tapi jumlahnya kian sedikit.

Lagian, keadaan yang sulit itulah yang seharusnya menjadikan basis bagi munculnya semangat untuk bangkit. Bangkit dengan cara belajar keras. Justru keadaan yang berkecukupan bisa jadi membuat terlena karena hidup hanya untuk bergaya dalam mengeluarkan uang, tetapi pikiran tidak ditumbuhkan.

Justru ketika kami tumbuh dalam keadaan serba kekurangan, akhirnya kami menemukan kegiatan untuk memberi nutrisi pada pikiran. Anak-anak orang berkecukupan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan membeli dan berbelanja, kami justru menggunakan waktu untuk belajar dengan sumber pengetahuan yang terbatas tetapi nyatanya bisa terus dicari.

Justru ada kalanya ketika orangtua sudah berada dalam ekonomi membaik, mereka merasa berada di zona aman dan tak punya kontradiksi hidup. Tiadanya kontradiksi membuat pikiran justru tak jalan karena terlena dengan keadaan. Justru kami takut, mengumbar keinginan anak untuk bersenang-senang dan mencukupi segala keinginannya untuk eksis dalam pergaulan yang menjauhkan mereka pada tradisi berpikir adalah basis sosial bagi mandegnya kerja pikiran mereka.

Anak-anak yang seharusnya lari pada kebutuhan untuk berimajinasi, berpikir, memikirkan hidup, memikirkan alam, memikirkan situasi sosial, malah tidak bisa berpikir sama sekali karena di otaknya sudah tak ada masalah dan kontradiksi.

Justru kami berpendapat, malah harus hati-hati jika situasi ekonomi kalian menjadi baik dan berkecukupan. Anak-anak yang seharusnya lari pada kebutuhan untuk berimajinasi, berpikir, memikirkan hidup, memikirkan alam, memikirkan situasi sosial, malah tidak bisa berpikir sama sekali karena di otaknya sudah tak ada masalah dan kontradiksi. Sementara dunia ilmu pengetahuan berasal dari ketimpangan antara “harapan” dan “kenyataan”.

Sungguh, kami meminta wahai orangtua, jangan terlena hingga kau tak mau memperjumpakan anak-anakmu pada masalah kehidupan sebagai pintu masuk ilmu pengetahuan yang dimulai dengan adanya pertanyaan dalam diri akan fenomena alam (ilmu alam) dan fenomena sosial).

Baca juga: Pekerjaan Orangtua dan Hak Anak

Godaan dunia luar di era media yang didominasi ideologi selebrisme dan hegemoni kaum borjuis yang memproduksi cara bersikap dan berpikir memang ada dan nyata. Ibu-ibu jangan mudah silau melihat berita-berita selebritis yang membuatmu terpukau pada wanita wanita cantik dan laki-laki ganteng di kalangan orang berada yang sebagian mendapatkan penghasilan besar dari menjadi bintang iklan dan artis.

Ukuran kesuksesan bukanlah mereka itu! Anak-anak kita tak harus jadi seperti mereka. Anak-anak kita justru berbeda dengan mereka. Kita berada pada kelas bawah yang harus terus berjuang dan dengan ilmu pengetahuan harus bisa membangkitkan pikiran dan jiwa, bahkan kalau perlu menyemaikannya pada anak-anak kita agar mereka punya nasib baik dan bahkan mampu memecahkan masalah-masalah dalam hidup ini.

Dulu, semiskin apapun keadaan orangtuaku, untungnya masih ada ibu yang tiap hari memotivasi agar kita belajar, mengawalku tiap habis maghrib agar aku membuka buku pelajaran agar aku menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah? Karena itulah aku masih punya kesempatan tumbuh bersama kesukaan kita akan pengetahuan, meski untuk berjuang mendapatkan pendidikan formal tidak mudah.

Tapi bukankah ada orangtua kita yang mendorong kita agar kita bisa sekolah setinggi mungkin dan hanya dengan tekad itulah kita akhirnya bisa terus tumbuh dalam pengetahuan yang bermanfaat?

Keluarga, anak, dan buku adalah modal besar untuk menumbuhkan peradaban dalam kehidupan.

Pengetahuan bisa didapat bisa didapat di berbagai tempat dan dari berbagai macam sumber. Salah satunya adalah dari buku. Maka betapa pentingnya menghadirkan buku dan bacaan-bacaan di dalam keluarga. Keluarga, anak, dan buku adalah modal besar untuk menumbuhkan peradaban dalam kehidupan. Dari rumah, peradaban kecil bisa mulai kita ciptakan, yaitu peradaban buku dan ilmu pengetahuan.

Kerugian dari budaya malas membaca bukan hanya pada diri kita sendiri. Tapi juga pada peradaban. Peradaban kita asalnya dari buku. Jika kita membaca buku dan menjadikannya kebiasaan, manfaatnya luar biasa besar. Bagi lingkungan kita. Pada anak-anak kita, pada sudara-saudara yang lain—terutama yang masih berada pada usia harus rajin belajar dan menambah wawasan. Kebiasaan yang kita lakukan bisa jadi membawa pengaruh pada kebiasaan orang lain.

Menghadirkan buku dalam rumah saja merupakan strategi eksistensi bagi tradisi literasi di dalam rumah kita

Mana mungkin anak-anak kita akan mencintai sesuatu jika sesuatunya (barangnya) tidak ada. Maka, hadirkan buku di rumah, apalagi kita rawat dalam rak-rak. Jadikan itu barang milik kita, yang kalau bisa kita sempatkan untuk menyentuh dan membukanya—apalagi benar-benar mau membacanya. Menghadirkan buku dalam rumah saja merupakan strategi eksistensi bagi tradisi literasi di dalam rumah kita. Anak akan tanya, dan mereka akan tahu barang apakah itu dan apa manfaatnya. Lalu kita menjelaskannya.

Kalau tidak ada barangnya bagaimana mereka akan berkenalan dengan buku dan bagaimana pula kita akan terpicu untuk menjelaskan apa manfaatnya. Apalagi kalau kita sebagai orangtua benar-benar menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Katakanlah, dalam sebulan minimal satu buku saja kita baca sampai habis, anak-anak pasti akan meneladani kita—mereka akan meniru kebiasaan kita.

Bisa kita bayangkan bagaimana jika dalam sebuah keluarga, orangtua tidak tahu sama sekali buku dan manfaatnya. Bagaimana pengetahuan anak-anaknya bisa hadir dan bagaimana cara pengetahuan hadir pada mereka? Hanya dari sekolah saja?

Potensi Pengembangan Medical Tourism di Indonesia

Enam puluh ribu warga Indonesia, setiap tahunnya berobat ke luar negeri demi mendapat pelayanan dan jaminan medis yang lebih baik. Thailand, di tahun 2016 lalu, pencapaian medical tourism mencapai 6,9 miliar dollar AS. Negara-negara Asean lainnya, seperti Singapura, dan Malaysia juga telah mengembangkan destinasi wisata medis. Lantas bagaimana dengan Indonesia sendiri.

Kampusdesa.or.id—Pariwisata medis nampaknya berpotensi dijadikan sebagai sebagian icon wisata di Indonesia.Mengutip dalam website resmi awmi.co.id, maksud dan tujuan medical tourism Secara definisi bahasa adalah suatu perjalanan karena alasan kesehatan yang lebih cenderung menyangkut tindakan medis pengobatan (cure), operasi atau tindakan medis lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya.

Berbeda dengan health/wellness tourism, yang merupakan suatu pariwisata kesehatan bertujuan untuk pemeliharaan atau pemulihan kesehatan, dilakukan oleh orang yang sehat, tidak menderita suatu penyakit, atau orang yang baru sembuh. Wisata medis secara umum merupakan bentuk baru pariwisata (Heung et al. 2011), atau suatu perjalanan yang terorganisir ke luar lingkungan lokal individu untuk pemeliharaan, peningkatan, dan pemulihan kesehatan dengan melakukan intervensi medis (Carl dan Carrera, 2010).

Pada kesempatan kali ini, School of life Institute berkolaborasi dengan Kampus Desa Indonesia dan juga Asosiasi Wisata Medis Indonesia dengan menyelenggarakan sebuah web-seminar atau webinar mengenai Medical Tourism yang di hadiri oleh 37 peserta pada Sabtu, 17 Juli 2021, 15.00 WIB yang merupakan kegiatan pertama dari School of life institute. Acara ini di moderatori oleh dr. Dito Anurogo, M. Sc yang juga sebagai founder dari School of life Institute dan diisi materi oleh DR. dr. Taufik Jamaan, SpOG yang menjabat juga sebagai Ketua Asosiasi Wisata Medis Indonesia.

Medical tourism merupakan salah satu potensi di bidang business development, wisata medis masa depan Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali potensi terlebih dari sektor pariwisata maupun sektor kesehatan. Beberapa tujuan dan keuntungan dari medical tourism ini seperti mendapatkan perawatan yang jauh lebih privat dari layanan rumah sakit umumnya, namun dengan standar fasilitas Rumah Sakit di negara Eropa dan USA.

Sebagai target pasar, medical tourism, pasien dapat menghabiskan waktu penyembuhan dengan bersantai dan suasana di lingkungan di luar rumah sakit sekaligus mendapat pengobatan dan paket perjalanan wisata. Ada empat aspek utama dalam medical tourism, diantara sebagai berikut, rumah sakit, klinik spesialis, klinik kesehatan/kebugaran, dan pelayanan pendukung.

Medical Tourism adalah satu topik yang penting. Mengapa? Because tourism is a leading sector. Terbukti bahwa perubahan dan minat mengenai wisata mengalami kenaikan tiap tahunnya dan di masa depan tentu saja akan terjadi peningkatan wisatawan baik lokal maupun interlokal nantinya.

Medical tourism tidak hanya berkontribusi dalam bidang medis, melainkan juga meningkatkan sektor lain seperti travel agency. Saat ini sudah ada banyak negara yang berlomba-lomba untuk mempromosikan medical tourism seperti Singapore, Thailand, Malaysia, dll.

Baca juga: Pereda demam anak tanpa obat dari dokter

Sebelumnya, Healthcare tourism memiliki dampak yang besar terhadap Indonesia. Jika sebelumnya banyak orang dari kalangan atas yang harus memilih medical and beauty treatment di negara tetangga akan lebih baik jika Indonesia membangun sendiri dan mengembangkan potensi rumah sakit yang dapat bersaing dengan negara lain baik dari segi fasilitas maupun tenaga kesehatan.

Dengan meng’upgrade’ lagi rumah sakit dari mulai layanan, fasilitas dengan meningkatkan potensi tenaga kesehatan, teknologi kesehatan dll bukan hanya menjadikan rumah sakit sebagai salah satu medical tourism, namun juga dapat menjawab tantangan dan menjadikan Indonesia sebagai medical tourism destination yang dapat bersaing dengan negara tetangga lainnya. Karena terbukti, Indonesia memiliki banyak sekali tempat wisata yang bisa di explore lebih jauh dan masih banyak yang bisa di kembangkan.

Mengutip dalam kompas.com, berdasarkan data yang dirilis PwC, “Indonesia merupakan negara asal wisatawan medis dengan jumlah 600.000 orang di tahun 2015, terbesar di dunia.” Umumnya pasien memilih perawatan medis ke luar negeri dengan alasan kurang mampunyai layanan medis domestik untuk menyembuhkan penyakit-penyakit khusus,” kata Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi melalui keterangan tertulis, Selasa (18/8/2020).

Baca juga: Inhalasi Rumahan; Mengatasi Sesak Nafas secara Mandiri

Diketahui, beberapa tahun terakhir, negara di Asia seperti Thailand, Singapura, India, Malaysia, dan Korea Selatan sedang mengembangkan wisata medis. Pada 2016, Thailand mencatatkan jumlah wisatawan medis mencapai 2,29 juta orang dengan nilai pasar mencapai 6,9 miliar dollar AS.

Ada banyak orang yang mengeluarkan biaya fantastis untuk mendapatkan layanan kesehatan di Luar negeri. Berbagai alasan mulai dari brand Rumah sakit, fasilitas, tenaga medis, dll menjadikan orang-orang lebih memilih berobat di negara lain bandingkan dengan di Indonesia.

Jika Medical Tourism lebih diperhatikan, lebih dikembangkan di Indonesia, tentunya tidak hanya menaikan keuntungan bagi sektor kesehatan tapi juga dapat menguntungkan pasien dan juga dapat memberikan dampak ekonomi terhadap negara tersebut, seperti menaikan sektor pariwisata dan menambah pemasukan visa bagi turis negara lain yang ingin berobat di Indonesia.

Media Sosial dalam Pembelajaran: Masih Relevankah Penolakan?

0

Media sosial hari ini telah menjadi realitas yang sulit dipisahkan dari keseharian peserta didik kita. Hampir setiap saat mereka ditemani oleh media sosial. Terlepas banyaknya dampak negatif yang menyertai, kehadiran media sosial sesungguhnya juga menyimpan segudang manfaat. Banyak inovasi-inovasi pembelajaran yang bisa kita lakukan melalui media sosial.

Kampusdesa.or.id-Sampai dengan hari ini, masih banyak di antara kita yang bersikap resisten terhadap media sosial. Label negatif menjadi dinding penghalang yang kukuh, tinggi, dan tebal bagi kita untuk dapat melihat sisi positif kehadirannya. Umumnya, kita beranggapan bahwa media sosial itu main-main atau buang-buang waktu, membuat anak bodoh karena lupa belajar, menjerumuskan anak ke hal-hal negatif, dan sebagainya. Intinya, media sosial berdampak buruk bagi anak. 

Berbekal anggapan tersebutlah, alih-alih pendidik memanfaatkan media sosial untuk mendukung kegiatan pembelajaran, mereka justru membentengi peserta didik agar tidak sampai bersentuhan dengannya. Jadilah di sekolah muncul peraturan dilarang membawa HP. Jika pun boleh, peserta didik dilarang membukanya di kelas pada saat jam pelajaran. Meskipun peraturan seperti ini belakangan sudah mulai agak berkurang, tapi tetap saja belum banyak pendidik yang mau memanfaatkan HP dalam kegiatan pembelajaran, termasuk media sosial.

Baca Juga: Kenapa Hoax Covid-19 Cepat Viral di Media Sosial?

Media sosial dapat mendukung orang tua, peserta didik, dan guru untuk menggunakan cara-cara baru dalam berbagi informasi dan membangun komunitas yang produktif

Manfaat Media Sosial dalam Pembelajaran

Berkaitan dengan hal ini, ada tulisan menarik dari Lori Wade berjudul How Social Media Reshaping Today’s Education System. Dalam tulisan ini Wade menegaskan tidak ikut larut dalam debat berkepanjangan tentang dampak positif dan negatif media sosial dalam kehidupan, ia fokus menyoroti begitu banyaknya cara media sosial mempengaruhi sistem pendidikan. Menurutnya, media sosial dapat mendukung orang tua, peserta didik, dan guru untuk menggunakan cara-cara baru dalam berbagi informasi dan membangun komunitas yang produktif.

Silakan coba Anda telusuri, dari semua peserta didik Anda, berapakah yang menjadi pengguna internet? lalu, berapakah di antaranya yang menjadi pengguna media sosial? Asumsi saya, hampir semua peserta didik Anda merupakan pengguna internet dan paling tidak menjadi pengguna satu media sosial.

Berdasarkan survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2020, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 73,7 persen atau setara dengan 196,7 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, sebanyak 95,4 persen terhubung dengan internet melalui HP atau smartphone. Sebanyak 51,5 persen menggunakan internet untuk mengakses media sosial.

Baca Juga: Selamat Tinggal Televisi, Selamat Datang Media Sosial

Angka tersebut tentu akan terus merangkak naik. Untuk melihat sejauh mana penggunaan media sosial oleh anak, kita dapat dengan mudah melakukannya. Cukup berjalan-jalan saja melewati tempat-tempat yang biasa dijadikan anak bermain, kita akan menemukan mereka sedang asyik menatap layar HP masing-masing. Nah, coba bayangkan jika kita bisa memanfaatkan dengan maksimal media sosial untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan. Tentu banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh. Bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada sibuk mengutuk kegelapan?

Misalnya, guru bisa memberikan tugas kepada peserta didik untuk melakukan studi kasus melalui media sosial. Mereka disuruh mengamati bagaimana netizen merespons berita-berita yang tengah beredar. Bisa juga misalnya, guru menyuruh peserta didik membuat semacam flyer, poster, atau video pendek berisi ajakan melakukan hal-hal positif seperti donasi, anjuran hidup sehat, atau sekadar tips dan trik lalu mengunggah di akun media sosial. Penilaian bisa dilakukan dengan mengamati seberapa banyak respons netizen (like, comment, share) terhadap unggahan mereka.

Baca Juga: Membangun Critical Thinking dalam Bermedia Sosial

Peserta didik akan lebih merasa senang dan tertantang dengan model tugas seperti ini daripada hanya menjawab soal di lembar-lembar jawaban. Apalagi jika mereka merupakan pengguna aktif media sosial. Lumayan bisa menambah konten dan follower. Selain itu, dari segi kemanfaatan, bayangkan berapa orang yang bisa mereka jangkau dan mendapat manfaat dari konten positif mereka. Berdasarkan survei BPS dan APJII, konten hiburan yang paling banyak dikunjungi pengguna internet Indonesia adalah video online, yaitu sebanyak 49,3 persen.

Model kurikulum kita sendiri juga menekankan kontekstualisasi pembelajaran. Salah satu bentuknya adalah dengan melibatkan penggunaan teknologi dan media digital dalam pembelajaran. Peserta didik kita telah terbiasa berinteraksi dengan teknologi dan media digital. Dari bangun tidur, hingga tidur lagi mereka tidak lepas dari dua hal ini. Sehingga, memisahkan keduanya dari proses pembelajaran sama dengan kita memisahkan peserta didik dari dunia nyata. Kelas pun tak ubahnya seperti penjara.

Pada level satuan pendidikan, media sosial juga bisa menjadi sarana komunikasi yang cukup efektif kepada para pelanggan

Sarana Promosi Satuan Pendidikan

Pada level satuan pendidikan, media sosial juga bisa menjadi sarana komunikasi yang cukup efektif kepada para pelanggan. Misalnya, informasi-informasi penting diunggah di media sosial, sehingga orang tua, peserta didik, dan masyarakat umum dapat dengan mudah mengaksesnya. Saat ini, sudah banyak sekolah-sekolah yang melek literasi media. Mereka melakukan promosi melalui Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.Ucapan Carla Dawson–Digital Marketing Professor at the Catholic University of Cordoba–yang dikutip Wade dalam tulisannya di atas menarik untuk kita perhatikan. Dawson berkata, “We live in a digital ecosystem, and it is vital that educational institutions adapt”.

Seberapapun kita menolak, laju perkembangan teknologi tidak akan bisa kita bendung. Upaya yang bisa kita lakukan bukanlah menolaknya, tapi bagaimana kita beradaptasi, sehingga bisa menggunakannya dengan baik. Ibarat pisau, ia akan berguna jika si pemiliknya bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun, jika tidak, maka pisau akan menjadi alat yang berbahaya dan melukai pemiliknya. Demikianlah hendaknya kita menempatkan perkembangan teknologi, termasuk penggunaan media sosial dalam proses pembelajaran.

Milenial, Kampanyekan Moderasi Beragama Di Ruang Digital

0

Kelas Literasi Damai, Siap Cetak Agen Perdamaian

Dalam mengkampanyekan nilai moderasi beragama melalui narasi atau pesan digital, menurut Hanafi ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1) kode pesan, yaitu serangkaian simbol yang tersusun dan bermakna bagi orang lain; 2) materi pesan, yaitu bahan yang dipilih oleh komunikator untuk menyampaikan maksudnya; dan 3) wujud pesan, yaitu sesuatu yang membungkus inti pesan agar komunikan tertarik pada isi pesan yang ada di dalamnya.

Kampusdesa.or.id–Moderasi adalah sikap  berada di tengah-tengah (tidak condong ke kanan juga tidak condong ke kiri) sebagai jalan yang paling aman dalam beragama. Sedangkan menurut Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag, 2019) moderat atau wasatiyah adalah sikap lembut juga lunak dalam memaknai agama, tidak jatuh pada sikap ekstrem yang berlebihan. Syekh Ali al-Jum’ah mengibaratkan bahwa sikap moderat (tawasuth) ini adalah puncak gunung. Yang mana merupakan posisi paling aman bagi pendaki, lain hal dengan para pendaki yang berada dalam tepian kanan dan kiri gunung yang rawan tergelincir dan jatuh.

Menteri Agama Republik Indonesia (2014-2019), M. Lukman Saifuddin dalam sambutannya mengawali buku “Moderasi Beragama”, bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana setiap warga masyarakat, ataupun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara mereka. Jadi jelas bahwa moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda dengan kita.

Saking pentingnya sikap moderasi beragama ini, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  mulai tahun 2019 lalu, telah memasukkan  moderasi beragama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pentingnya penerapan moderasi beragama ini adalah agar paham keagamaan yang berkembang di Indonesia selalu beriringan atau minimal  tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, secara esensial pemahaman dan pengamalan keagamaan tidak boleh bertentangan dengan sendi-sendi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Salah satu hal penting yang menjadi argumen perlunya moderasi beragama untuk diterapkan di Indonesia adalah fakta masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural.

Salah satu hal penting yang menjadi argumen perlunya moderasi beragama untuk diterapkan di Indonesia adalah fakta masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural. Bangsa yang dikaruniai dengan berbagai etnis, suku, agama, budaya serta bahasa mengharuskan adanya perbedaan, yang mana setiap perbedaan tersebut sangat berpotensi melahirkan gesekan atau konflik yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dan ketidakseimbangan interaksi sosial dan keagamaan dalam masyarakat.

Secara historis dan empiris, dengan menelaah berbagai catatan sejarah, kearifan lokal serta artefak, menunjukkan bahwa penyebaran agama-agama di Indonesia, khususnya Islam yang disebarkan oleh walisongo pun dilakukan atas bantuan etnis dan umat agama lain yang berbeda. Cara berdakwah dan proses penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara santun dan lemah lembut tanpa ada konflik apalagi pertumpahan darah yang mengatasnamakan jihad dan dakwah dalam menyebarkan agama. Para walisongo telah lebih dulu mengajari kita bagaimana cara megejawantahkan keharmonisan dalam setiap perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjatuhkan dan menyalahkan.

Kemajemukan bangsa Indonesia yang plural dibuktikan dengan Sensus Penduduk 2010 tentang presentase pemeluk agama di Indonesia, yang menyatakan dari 237.641.326 jiwa jumlah penduduk Indonesia, sebanyak 207,2 juta jiwa (87,18 persen) masyarakat Indonesia beragama Islam, kemudian sebanyak 16,5 juta jiwa (6,96 persen) menganut agama Kristen, disusul 6,9 juta jiwa (2,91 persen) menganut agama Katolik, 4 juta jiwa (1,69 persen) menganut agama Hindu, 1,7 juta jiwa (0,72 persen) menganut agama Buddha, penganut Khonghucu sebanyak 0,11 juta jiwa (0,05 persen), dan penganut agama lainnya sebanyak 0,13 persen. Berdasarkan data tersebut diketahui agama Islam merupakan agama terbanyak atau sebagai agama mayoritas yang dianut oleh penduduk Indonesia. Namun, sebagai kelompok mayoritas tidak selayaknya Islam mendeskriminasi kelompok-kelompok minoritas yang berbeda dengan ajarannya.

Baca juga: Solusi Islam untuk Problematika Pluralitas

Dalam agama Islam sendiri, banyak perbedaan penafsiran terhadap dogma-dogma dan ajaran agama, sehingga tidak mengherankan terdapat banyak mazhab, aliran atau sekte dalam setiap agama. Semua perbedaan ini diakibatkan kapasitas pemahaman dan kemampuan berpikir masing-masing individu, prespektif, pendekatan serta lingkungan atau wilayah yang mempengaruhinya.

Namun, kini kasus intoleransi dan radikalisme agama terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Romo Antonius Benny Susetyo (2020), selaku Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjelaskan hal yang mendominasi kasus intolernasi di Inodensia, salah satunya adalah pendirian rumah ibadah dan deskriminasi hak-hak kelompok minoritas.  Dan sikap serta prilaku intoleransi ini memicu atau dapat bertransformasi menjadi gerakan kekerasan agama salah satunya berupa gerakan paham radikalisme yang berujuang pada terorisme

Secara umum, dalam upaya penyebaran nilai-nilai moderasi beragama sebagai gerakan untuk menagkal paham-paham radikalisme dan kasus intoleransi yang kian hari kian marak terjadi, ada beberapa hal yang mampu diupayakan untuk meminimalisir hal tersebut. Luc Reychler (2006) mengemukakan teori Arsitektur Pembangunan Perdamaian Berkelanjutan yang menyebutkan, dalam pengelolaan perbe­daan agama dibutuhkan sejumlah syarat yaitu; Pertama, ada­nya saluran komunikasi yang efektif dan harmoni sehingga memungkinkan terjadi proses diskusi, klarifikasi, dan koreksi terhadap penyebaran informasi atau rumor yang berpotensi menimbulkan ketegangan antar kelompok sosial; Kedua, be­kerjanya lembaga penyelesaian masalah, baik yang bersifat formal seperti pengadilan atau informal seperti lembaga adat dan agama; Ketiga, adanya tokoh-tokoh pro perdamaian yang memiliki pengaruh, sumberdaya dan strategi efektif dalam mencegah mobilisasi masa oleh tokoh pro-konflik; Keempat, struktur sosial-politik yang mendukung terwujudnya kea­dilan dalam masyarakat; dan Kelima, struktur sosial-politik yang adil bagi bertahannya integrasi sosial.

Di era milenial atau Revolusi Industri (RI) 4.0 sekarang ini, penyampaian informasi semakin mudah dan cepat melalui ruang digital dengan adanya media sosial. Sebanyak 54,37% siswa dan mahasiswa belajar pengetahuan tentang agama dari internet, baik itu media sosial, blog, maupun website. Perubahan pola pembelajaran inilah yang menyebabkan pentingnya konten-konten di ruang digital melaui website, media sosial atau platform digital lain sebagai sumber pembelajaran agama Islam generasi muda selain dari pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolahnya atau lembaga akademik. Media belajar populer di kalangan milenial dalam mengakses pelajaran-pelajaran keagamaan adalah youtube. Menurut hasil survei We are Social mengungkapkan pengguna youtube 88%, Whatsapp 83%, Facebook 81% dan Instagram 80%.

Selanjutnya menurut hasil survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta di tahun 2017 menunjukkan bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya intoleransi pada generasi milenial atau ge­nerasi Z. Siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki akses internet lebih memiliki sikap moderat dibandingkan mere­ka yang memiliki akses internet. Padahal mereka yang me­miliki akses internet sangat besar, yaitu sebanyak 84,94%, sisanya 15,06% siswa/mahasiswa tidak memiliki akses in­ternet. Rupanya generasi milenial lebih mengandalkan du­nia maya sebagai sumber belajar agama yang dalam dalam penelitian tersebut cenderung berdampak negatif.

Kampanye Konten Nilai Moderasi Beragama

Seiring perkembangan era industri 4.0, maka bidang pemasaran juga ikut berkembang menjadi marketing 4.0 yang dapat menyesuaikan pola audiens yaitu horizontal, inklusif dan sosial. Dahulu, suatu instansi akan memegang kendali atas komunikasi pemasaran dan menangani keluhan secara individu. Namun dimasa sekarang, instansi tidak lagi bisa mengendalikan percakapan yang berkembang karena konten pesan dalam komunikasi pemasaran dihasilkan oleh komunitas.  Bahkan, bila konten pesan dalam komunikasi pemasaran disensor maka bisa melemahkan kredilitas dari instansi. Dengan kata lain, konten pada pesan komunikasi pemasaran adalah pendekatan yang mencakup menciptakan, memilih, membagi dan membesarkan konten yang menarik, relevan dan berguna untuk kelompok khalayak demi menciptakan percakapan tentang konten tersebut. Adapun beberapa tahapan dalam pemasaran konten, yaitu tahap persiapan, pemasaran dan evaluasi.

Beberapa tahapan dalam pemasaran konten, yaitu tahap persiapan, pemasaran dan evaluasi.

Tahap Persiapan, dalam tahap persiapan ini ada beberapa hal yang terlebih dahulu harus dimatangkan dan direncanakan sebelum memulai pemasaran konten, yaitu; 1) menetapkan tujuan sebagai arah dan goal yang ingin dicapai dengan kampanye pemasaran konten ini; 2) pemetaan target pasar untuk mengetahui siapa yang akan menjadi target kampanye anda agar tau dan bisa menyesuaikan dengan keresahan dan keinginan mereka; 3) perencanaan konten untuk menentukan tema besar konten yang akan menjadi brand atau label dari komunitas tersebut.

Tahap Pemasaran ini meliputi, penciptaan konten, pendistribusian dan penguatan konten. Penciptaan dan pendistribusian ini adalah bentuk interaksi sosial melalui media sosial kepada target pasar (konsumen) kita yang akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kampanye nilai moderasi beragama yang nantinya kemudian dikuatkan dengan memanfaatkan aset konten dan berinteraksi langsung dengan pelanggan. Penguatan konten ini bisa dilakukan dengan membuat percakapan yang interaktif terhadap konten yang didistribusikan serta juga bisa menggunkan jasa buzzer dan atau influencer.

Tahap Evaluasi, pada tahap evaluasi ini meliputi evaluasi pemasaran konten dan perbaikan pemasaran konten. Evaluasi pemasaran dengan melihat seberapa suksesnya kampanye pemasaran konten yang sudah kita lakukan, baik itu dalam tahap perencanaan maupun tahap pemasaran—penciptaan dan pendistribusian konten. Setelah mengevaluasi kinerja dan keefektifan pemasaran konten kita, hal yang perlu dilakukan tentunya melakukan perbaikan guna meningkatkan pemasaran konten kita, baik dari segi tema, model distribusi serta interaksi dengan pelanggan.

Dalam pengkampanyean nilai moderasi beragama melalui narasi atau pesan digital, menurut Hanafi ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1) kode pesan, yaitu serangkaian simbol yang tersusun dan bermakna bagi orang lain; 2) materi pesan, yaitu bahan yang dipilih oleh komunikator untuk menyampaikan maksudnya; dan 3) wujud pesan, yaitu sesuatu yang membungkus inti pesan agar komunikan tertarik pada isi pesan yang ada di dalamnya. Formulasi kampanye pesan moderasi beragama di ruang digital khusunya di media sosial, harus mencerminkan pesan yang informatif, interaktif serta persuasif. Informatif artinya pesan didasarkan pada data dan fakta, setidaknya konsumen dapat membuat tagline atau postingan yang berisi informasi tentang nilai-nilai moderasi beragama. Berikutnya pesan tersebut harus memiliki daya interaksi sosial yang inetarktif kepada pemirsa media serta daya pikat yang mempengaruhi atau mempersuasi emosi pembaca atau pengguna media sosial yang lainnya. Pesan atau narasi di sini tidak mesti harus berbentuk tulisan, tapi bisa dalam bentuk video ataupun gambar ilustratif.