Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda blog Halaman 15

Dilema Dosen Masakini: Antara Do Science atau Do Cent?

0

Menjadi dosen dengan “beban” kerja yang cukup besar kadang tidak sejalan dengan upah yang diterima. Sehingga beberapa mungkin masih merasa kurang dan jadi tidak maksimal dalam mengamalkan tri dharma Perguruan Tinggi, dalam hal ini saya sebut dengan “Do-Science” atau mengerjakan sesuai keilmuannya baik itu mengajar, meneliti, maupun diaplikasikan di tengah-tengah masyarakat.

Kampusdesa.or.id–Dosen merupakan sebutan bagi para pendidik di lingkungan perguruan tinggi. Menurut laman duniadosen.com seorang dosen terkenal memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Maka tak heran jika dosen masih menjadi profesi yang terpandang dalam sosial masyarakat.

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah dosen paling banyak, dikarenakan jumlah perguruan tinggi mulai dari institut, sekolah tinggi, hingga universitas baik swasta maupun negeri sangat banyak sekali.

Namun yang menjadi persoalan adalah dikarenakan dosen adalah sebuah pekerjaan, tentu seorang yang bekerja pasti ingin mendapatkan uang. Gaji dosen di Indonesia jika dirata-rata seperti dilansir oleh pintek.id menyatakan kisaran gaji pokok yang diterima dosen setiap bulan yaitu sebesar Rp 2.688.500 sampai Rp 4.415.600. Pemberian besaran gaji dosen tersebut tergantung pada masa kerjanya.

Beda halnya dengan gaji pokok dosen non-PNS di universitas swasta yang diterima. Nominalnya pun berbeda-beda tergantung dari kebijakan masing-masing institusi yang menaunginya.

Meskipun demikian, pemerintah menetapkan gaji pengajar baik guru maupun dosen ke dalam Peraturan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yaitu guru memiliki hak atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan dalam bentuk finansial secara berkala.

Dari peraturan undang-undang tersebut, dosen swasta diharuskan mendapat penghasilan minimum sesuai dengan Upah Minimum Provinsi (UMP). Akan tetapi faktanya, jauh dari upah minimum.

Padahal dosen memiliki beban kerja yang tidak kaleng-kaleng, yaitu berperan sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Sebagaimana Kemendikbud-ristek mewajibkan semua dosen harus memenuhi tiga kewajiban yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagaimana yang tertuang di dalam RI No. 14 tahun 2005 yakni Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian dan Pengembangan; Pengabdian kepada Masyarakat.

Dengan “beban” kerja yang cukup besar kadang tidak sejalan dengan upah yang diterima. Sehingga beberapa mungkin masih merasa kurang dan jadi tidak maksimal dalam mengamalkan tri dharma Perguruan Tinggi, dalam hal ini saya sebut dengan “Do-Science” atau mengerjakan sesuai keilmuannya baik itu mengajar, meneliti, maupun diaplikasikan di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu, pasti tidak sedikit dosen di Indonesia yang masih mencari sampingan seperti jualan online, beternak, atau membuka bisnis lainnya. Bahkan berjibaku dengan urusan administratif belaka. Dalam hal ini saya sebut dengan “Do-Cent”, mencari uang dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Meskipun pada dasarnya kategori nominal “cukup” itu tidak ada batasnya dan tergantung sifat masing-masing perseorangan. Berdasar kebutuhan dan keinginan masing-masing. Sehingga ada yang “gedhe syukure” ada yang berpikir ideal dan harus ngamen mencari cuan dari tunjangan jabatan fungsional, danah hibah, minta tambahan tugas, dan lain-lain.

Sebagai pelaku dan pengamat, saya tidak menyalahkan siapapun. Karena begitulah faktanya dan sudah menjadi tuntutan. Di mana memiliki ilmu pengetahuan, maka wajib hukumnya mengajarkan dan mengamalkan. Hal ini juga merupakan ajaran agama Islam.

Ibnu ‘Abbas RA berkata; Rasul SAW bersabda; “Barang siapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan apa yang belum diketahuinya.”

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 66 yang artinya: “Dan sesungguhnya kalau mereka mengamalkan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan mereka.”

Asalkan masih dalam jalur yang benar tidak mengambil yang bukan haknya atau menyunat dana. Mari saling berintropeksi dan semoga pemerintah menjamin dan menyejahterakan semua pendidik yang ada di Indonesia. Ketika ada istilah guru (baca: termasuk juga dosen) tanpa tanda jasa, tentu bentuk penghargaan sebesar nominal berapapun tidak akan menggantikan dengan ilmu dan jariyah yang diberikan. Namun apabila dengan nominal yang layak, maka seorang dosen akan dapat fokus “Do-Science” bukan hanya “Do-Cent”. []

Tulisan bandingan
Mas Sigit: https://web.facebook.com/photo/?fbid=4474300095952660&set=a.518646254851417
Mojok: https://mojok.co/pojokan/buka-bukaan-soal-gaji-dosen-pns-dosen-tetap-non-pns-dan-dosen-luar-biasa/

Travelling Writing: Kenangan Taiwan Rasa Indonesia

0

Rihlah adalah strategi sesaat melepas lelah sekaligus mencari ridha Ilahi. Berbagai ragam cara dapat dilakukan untuk rihlah. Mulai dari traveling writing, berkunjung ke destinasi wisata tertentu, wisata kuliner halal, silaturahmi baik daring maupun luring, atau wisata religi mengunjungi masjid. Singkatnya, rihlah identik dengan rekreasi Islami pelepas lelah.

Kampusdesa.or.id — Delapan diaspora Taiwan mengunjungi destinasi wisata pada Sabtu (2/10). Kegiatan bertajuk “travelling writing” ini terselenggara berkat sinergi dan kolaborasi antara Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT), School of Life Institute (SLI), dan Indonesian Scholars Network (ISNet). Program kerja kolaboratif ini bermula dari obrolan ringan di media sosial. Ada beberapa usulan untuk mengadakan rekreasi sekaligus silaturahmi. Meskipun beberapa personil berhalangan, namun ada delapan orang yang bersedia mengikutinya.

Anggota yang hadir diantaranya adalah Abu Amar Fauzi (mahasiswa S3 di NTUST Taiwan dan Dosen Universitas Hayam Wuruk Perbanas), Dito Anurogo (Mahasiswa S3 di IPCTRM TMU Taiwan dan Dosen FKIK Unismuh Makassar), Dwinto Martri Aji Buana (Mahasiswa S3 di NTUST Taiwan dan Dosen Widyatama), Erfansyah Ali (Mahasiswa S3 di NTUST Taiwan dan Dosen Universitas Telkom), Jusuf Hendra Kusuma (Pegawai di Nokia), Muhammad Iqbal Hanafri (Mahasiswa S3 di NTUST Taiwan dan Dosen Global Institute of Technology and Business, Tangerang), M Rakhmat Setiawan (Pegawai di Jazz Hipster Corporation), Noorman Rinanto (Mahasiswa S3 di NTUST Taiwan dan Dosen Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya).

Rihlah identik dengan rekreasi Islami pelepas lelah.

Rihlah adalah strategi sesaat melepas lelah sekaligus mencari ridha Ilahi. Berbagai ragam cara dapat dilakukan untuk rihlah. Mulai dari traveling writing, berkunjung ke destinasi wisata tertentu, wisata kuliner halal, silaturahmi baik daring maupun luring, atau wisata religi mengunjungi masjid. Singkatnya, rihlah identik dengan rekreasi Islami pelepas lelah.

Pesona Ximen

Pukul 09:30, masing-masing diaspora telah berkemas dari kediamannya. Penulis bersiap lebih awal, sekitar pukul 9 pagi, mengingat perlu berjalan kaki menuju stasiun MRT Taipei 101/World Trade Center (R 03), line merah. Melewati enam stasiun MRT, yakni Xinyi Anhe, Daan, Daan Park, Dongmen, sampailah di stasiun MRT Chiang Kai-Shek Memorial Hall (CKS). Dari CKS beralih ke line hijau, melewati stasiun MRT Xiaonanmen, akhirnya saya tiba di stasiun MRT Ximen. Perjalanan dari kos menuju stasiun MRT Ximen berjarak 9,4 kilometer itu memerlukan waktu tempuh sekitar delapan belas menit.

Di stasiun MRT Ximen itu, saya menunggu sekitar lima menit, sebelum bertemu mas Iqbal. Sembari menunggu lainnya, kami duduk santai sambil membaca al-Quran. Satu per satu sahabat pun berdatangan. Setelah lengkap berkumpul semuanya, kami berswafoto sejenak sebelum berjalan-jalan menikmati cerahnya Ximen. Suasana masih relatif sepi. Beberapa toko serta restoran belum buka. Saat itu jarum jam belum genap menunjukkan pukul sebelas pagi.

Ximen memang mulai menggeliat dan padat di malam hari. Beragam atraksi hiburan jalanan mulai dipertunjukkan sore menjelang malam. Beragam cenderamata khas Taiwan, pakaian, makanan, kerajinan tangan, street food, seafood begitu memanjakan mata dan lidah wisatawan mancanegara. Ini memang sesuai namanya, yakni Ximen Night Market. Mereka yang telah mengunjungi Ximen sekali, pastilah ketagihan dan dijamin akan kembali lagi.

Meskipun demikian, siang hari pun beberapa toko dan restoran sudah mulai beraktivitas. Sambil berkeliling Ximen, kami mendiskusikan semua hal. Mulai dari kabar diri dan keluarga, pernak-pernik kehidupan, hobi, film, kos, serta selera kuliner. Di tengah perjalanan, saya menyempatkan diri untuk membaca buku yang memang disediakan secara gratis oleh pemilik toko.

Kami bersepakat untuk berwisata kuliner halal di Ximen. Tibalah kami di restoran halal Muslim, yakni Chang’s Beef Noodles. Restoran yang tutup sekitar pukul 7.30 malam ini beralamat di No. 21, Yanping S Rd, Zhongzheng District, Taipei City, 100. Beberapa menu mie favorit segera saja tersaji setelah dipesan. Sensasi mie tersebut benar-benar sulit dilupakan. Kuahnya yang gurih, daging sapi dan tendon yang empuk, belum lagi “semacam siomay” yang menggoyang lidah. Seorang teman sampai menambah porsi makanannya.

Usai menikmati lezatnya mie Taiwan beserta kudapannya, kami menunaikan shalat Dzuhur berjamaah bergiliran. Ada mushalla kecil di restoran itu yang cukup digunakan dua orang untuk berjamaah.

Destinasi Wisata Legendaris

Kami bergegas menuju salah satu destinasi wisata yang terkenal di Taiwan, yakni National Chiang Kai-Shek (CKS) Memorial Hall. Jarak restoran menuju CKS Memorial Hall sekitar 600 meter. Meskipun demikian, kami memilih menggunakan moda transportasi MRT. Waktu operasional bangunan dengan luas sekitar 250 ribu meter persegi di hari Sabtu adalah jam sembilan pagi hingga jam enam sore. Entah sekadar kebetulan atau memang faktor keberuntungan, kami dapat menyaksikan atraksi militer Taiwan. Puluhan taruna dan taruni bersegeram militer berbaris rapi. Mereka kompak mengikuti derap irama, terampil memainkan senjata diikuti gerak tubuh nan harmonis. Atraksi itu ditonton oleh puluhan pelancong serta diabadikan beberapa awak media.  

Setelah menikmati atraksi militer taruna dan taruni Taiwan di bawah terik matahari, kami beristirahat sejenak di taman yang berada di National Chiang Kai-Shek Memorial Hall. Beberapa burung terlihat hinggap di ranting tanaman dan tupai berloncatan di cabang pepohonan. Sejenak melepas lelah, kami bersepakat mengunjungi museum CKS yang merupakan bagian dari National Chiang Kai-Shek Memorial Hall. Beruntung museum itu buka usai atraksi milter tadi.

Memasuki museum, protokol kesehatan diberlakukan ketat. Mulai memindai barcode, mencuci tangan, hingga screening suhu tubuh dengan detektor otomatis. Di dalam museum, beragam diorama menarik dibaca. Seolah mengikuti memorabilia serta perjalanan hidup Chiang Kai-Shekdari lahir hingga meninggal dunia.

Diorama Historis

Berbagai peninggalan Chiang Kai-Shek dapat diobservasi dengan mendalam. Mulai dari limousine buatan Cadillac tahun 1955, surat-surat, telegram, buku catatan Matematika, seragam dan baju kebesaran serta harian, foto-foto kunjungan, lukisan cat air dan cat minyak, kursi, hingga replika menu favorit tersimpan dan terawat rapi.

Uniknya, museum itu juga dilengkapi dengan rekaman pidato Chiang Kai-Shek, diorama ruang pribadi Chiang Kai-Shek, serta siluet Chiang Kai-Shek beserta rombongan yang semuanya instagramable. Terlihat para pengunjung berswafoto dan berfoto-ria bersama sahabat dan keluarga mereka.

Tidak hanya itu, pihak pengelola museum juga memanjakan para pengunjung dengan fasilitas kedai teh dan kopi, kantor pos yang menjual perangko dan dapat berkirim surat, tempat membeli suvernir khas Taiwan, seperti: gantungan kunci, kaus, topi, kartu pos, magnet untuk hiasan kulkas, batu giok, tasbih, dekorasi meja, piring, mutiara, dan beragam produk khas Taiwan. Harganya beragam. Yang pasti, sesuai dengan kualitasnya. (Liputan oleh: dr Dito Anurogo MSc, seorang dokter literasi digital, dokter rakyat di Kampus Desa Indonesia, CEO dan founder School of Life Institute, penulis puluhan buku berlisensi BNSP, trainer berlisensi BNSP, pendidik di FKIK Unismuh Makassar, pembelajar multi-lintasdisipliner, S3 di IPCTRM College of Medicine, Taipei Medical University, Taiwan).

Editor: Haniffa Iffa

Urgensi Penanaman Nilai-Nilai Integritas Anti Korupsi Bagi Pemuda

Kampusdesa.or.id–Korupsi merupakan masalah klasik bangsa ini. Karena korupsi di negeri ini sekarang sedang merajalela bahkan seakan-akan telah menjadi suatu “kebiasaan”. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam menangani korupsi, salah satunya dengan hukum yang sangat tegas. Namun, tetap saja korupsi masih terdapat di negeri ini.

Korupsi menimbulkan bencana tiada henti. Dampaknya adalah kemiskinan, kebodohan, kelaparan, kematian, krisis ekonomi, menghambat pembangunan, ketidakstabilan keamanan dan revolusi sosial, lumpuhnya semangat masyarakat dan lembaga, pergeseran moral masyarakat menjadi materialistis cinta akan kekuasaan dan kekayaan dan bahkan musnahnya suatu peradaban, serta pelbagai masalah kehidupan lain yang menjadi profil bangsa ini.

Potret Korupsi di Indonesia

Pada tanggal 28 Januari 2021, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil survei Consumer Price Index (CPI) untuk yang ke-25. Peluncuran CPI ini saat situasi dunia masih diliputi oleh pandemi Covid-19. Semua negara tidak terkecuali menghadapi krisis ganda, yakni krisis kesehatan dan ekonomi secara bersamaan. Sejumlah temuan dan kajian Transparency International menyatakan bahwa korupsi yang merusak pelayanan publik juga berpotensi sepanjang penanganan Covid-19 dalam sektor kesehatan. Negara-negara dengan tingkat korupsi yang tinggi terbukti sangat gagap dalam menangani pandemi. Sedangkan negara yang relatif bersih dari korupsi juga harus menghadapi situasi resesi ekonomi dan kemungkinan pembatasan sejumlah partisipasi publik dalam ruang demokrasi.

Di sisi lain, tugas berat memberantas korupsi di seluruh sistem politik Indonesia tetap menjadi tantangan. Secara khusus, membasmi hubungan korupsi antara pejabat negara, pegawai negeri, penegak hukum, dan pelaku bisnis harus menjadi prioritas. Pandangan ini juga selaras dengan teori ekonomi-politik strukturalis, yang meyakini bahwa korupsi politik merupakan induk dari segala bentuk korupsi di dalam struktur negara.

Sehingga berimbas pada moral korup yang dilakukan oleh mereka yang berkecimpung di jajaran birokrasi pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah. Sebut saja kasus korupsi yang menjerat para pejabat setingkat menteri, gubernur, walikota dan bupati di masa pandemi di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna, Bupati Kutai Timur Ismunandar, Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo, Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, dan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat.

Seolah-olah tanggung jawab yang rakyat berikan telah dikhianati dengan keji. Pelajaran akhlak yang ditanamkan oleh guru dan orangtua sedari kecil hanyalah merupakan kenangan belaka. Inilah sesungguhnya permasalahan akut yang dihadapi negera kita tercinta, Indonesia. Jika faktanya demikian, tidak heran negara yang memiliki wilayah terbesar di Asia Tenggara dan berpenduduk terbesar ke-3 di dunia ini menurut rilis Transparency International Indonesia (TII), Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia berada di poin 37 atau turun 3 poin dari tahun sebelumnya. Pada kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati 5 besar di bawah bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia. Mirisnya lagi, Indonesia masih dibawah negara yang baru berdiri yaitu Timor Leste.

Pendidikan Anti Korupsi Bagi Pemuda

Pemuda adalah aset zaman yang paling menentukan kondisi zaman tersebut di masa mendatang. Dalam skala yang lebih kecil, pemuda adalah aset bangsa yang akan menentukan mati atau hidup, maju atau mundur, jaya atau hancur, sejahtera atau sengsaranya suatu bangsa. Oleh karenanya kalangan Barat menyebutnya dengan “agent of change”.

Belajar dari masa lalu, sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa ini tidak lepas dari peran kaum muda yang menjadi bagian kekuatan perubahan. Hal ini membuktikan bahwa pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa. Tokoh-tokoh sumpah pemuda 1928 telah memberikan semangat nasionalisme bahasa, bangsa dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda memberikan inspirasi tanpa batas terhadap gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Semangat sumpah pemuda telah menggetarkan relung-relung kesadaran generasi muda untuk bangkit, berjuang dan berperang melawan penjajah Belanda.

Untuk konteks sekarang dan mungkin masa-masa yang akan datang yang menjadi musuh bersama masyarakat adalah praktik bernama “korupsi”. Fakta bahwa korupsi sudah sedemikian sistemik dan kian terstruktur dan sudah tidak terbantahkan lagi. Ada cukup banyak bukti yang bisa diajukan untuk memperlihatkan bahwa korupsi dapat terjadi mulai dari pagi hingga petang, dari mulai soal pengurusan akta kelahiran hingga kelak nanti pengurusan tanah kuburan, dari sektor yang berkaitan dengan kesehatan hingga masalah pendidikan, dari mulai tukang parkir hingga jabatan tertentu di pemerintahan.

Oleh karena itulah, peran kaum muda sekarang adalah mengikis korupsi sedikit demi sedikit, yang mudah-mudahan pada waktunya nanti perbuatan korupsi dapat diberantas dari negara ini atau sekurang-kurangnya dapat ditekan sampai tingkat serendah mungkin. Salah satunya adalah melalui pendidikan anti korupsi sedari dini.

Pendidikan anti korupsi sesungguhnya sangat penting guna mencegah tindak pidana korupsi. Jika Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan beberapa instansi anti korupsi lainnya menangkapi para koruptor, maka pendidikan anti korupsi juga penting guna mencegah adanya koruptor. Seperti pentingnya pelajaran akhlak dan moral. Pelajaran akhlak penting guna mencegah terjadinya kriminalitas. Begitu halnya pendidikan anti korupsi memiliki nilai penting guna mencegah aksi korupsi.

Pendidikan ini bisa dalam skala keluarga (non formal) ataupun di bangku sekolah (formal). Maka dari itu, peran wanita sebagai penelur generasi penerus bangsa, sudah pasti harus mampu memberikan sumbangsih dalam hal pemberantasan korupsi dan didukung oleh pendidikan formalnya. Satu hal yang pasti, korupsi bukanlah selalu terkait dengan korupsi uang. Namun korupsi dapat merambah dalam segala bidang kehidupan. Dengan demikian, pemerintah dapat menyelipkan pendidikan antikorupsi di dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar sampai pendidikan tinggi.

Sebagaimana juga usulan dari KPK, generasi muda Indonesia harus mau mengimplementasikan nilai-nilai integritas anti korupsi antara lain jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Harapannya agar dapat mencegah terjadinya tindak korupsi. Jika sembilan nilai tersebut dapat diterapkan dengan baik, maka saya optimis bahwa di masa depan kasus korupsi di Indonesia dapat diminimalisir.

Sudahkah Kita Merdeka Membicarakan Menstruasi?

0

Kampusdesa.or.id–Apa yang anda pikirkan ketika menyaksikan iklan pembalut di televisi? Menstruasi diasosiasikan sebagai “cairan deras”, “lagi dapet”, “period”, “haid”. Dalam iklan tersebut menstruasi diasosiasikan sebagai hal yang menakutkan, menganggu tidur (karena harus bolak balik mengganti pembalut agar tidak bocor), serta timbulnya darah menstruasi pada pakaian dalam merupakan hal yang dapat “merusak mood”. Sadarkah bahwa iklan-iklan seperti ini dapat menggiring asosiasi negatif terhadap menstruasi, sehingga menstruasi dipandang sebagai bencana (Baidhowi, 2018) dan suatu hal yang memalukan. Bagaimana tanggapan anda terhadap membicarakan menstruasi di hadapan umum? Tabu? Tidak pantas? Tidak elok?. Karena hal itulah, kita sebagai perempuan merasa enggan untuk membicarakan menstruasi di depan khalayak umum.

Seringkali, pengajar menerapkan bias pada pengajaran tentang reproduksi, padahal dalam konteks ilmu pengetahuan, sangat lumrah untuk mempelajari struktur tubuh dan segala proses yang berlangsung dalam tubuh manusia

Mengapa Wanita tidak memiliki kemerdekaan untuk membicarakan menstruasi dalam komunitas luas? Pengajaran tentang reproduksi yang diajarkan pada tingkat dasar dan menengah tidak cukup untuk memuaskan rasa penasaran siswa perempuan tentang hal alamiah yang terjadi pada tubuhnya setiap bulan. Seringkali, pengajar menerapkan bias pada pengajaran tentang reproduksi, padahal dalam konteks ilmu pengetahuan, sangat lumrah untuk mempelajari struktur tubuh dan segala proses yang berlangsung dalam tubuh manusia.

Mengapa kita bisa dengan tenang mempelajari sistem kerja jantung, sistem pencernaan, sistem pembuangan kotoran dalam tubuh, tetapi ketika kita diajarkan tentang menstruasi dan sistem reproduksi, mengapa harus ada kecanggungan dalam membahasnya? Seakan membahas tentang system reproduksi merupakan hal yang tidak etis jika diperbincangkan di lingkungan akademik.

Mengapa kita harus diatur ini itu oleh masyarakat, sedangkan kaum laki-laki lebih bebas untuk melakukan sesuatu tanpa harus diatur oleh “kodrat laki-laki”?

Seringkali, kita terjebak dalam hal etis yang dibebankan masyarakat kepada kaum kita, kaum perempuan. Mulai dari tidak bebas menggunakan baju yang diinginkanya, bagaimana harus berbicara dan bersikap, bagaimana kita harus tunduk pada sesuatu yang mernama “kodrat” yang ternyata dalam prakteknya diciptakan oleh masyarakat patriarkis untuk mengatur bagaimana standarnya seorang perempuan bertindak. Saya tahu, mungkin banyak yang tidak bersepakat dengan saya tentang hal ini, dengan dalih begitulah cara masyarakat dan agama menjaga perempuan. Akan tetapi, mengapa kita harus diatur ini itu oleh masyarakat, sedangkan kaum laki-laki lebih bebas untuk melakukan sesuatu tanpa harus diatur oleh “kodrat laki-laki”?

Membicarakan Menstruasi, Mengapa Tidak?

Membicarakan tentang menstruasi, seharusnya dapat dilakukan dalam forum manapun, situasi apapun. Tidak perlu malu untuk membicarakanya. Seperti bagaimana para laki-laki membicarakan mimpi basah pada saat mereka sedang berkumpul bersama. Bagaimana dengan perempuan sendiri? Well, membicarakan menstruasi pada sesama jenis saja kadang dianggap sebagai pembicaraan yang kurang sopan, tidak bermoral, dan tidak berakhlak. Bahkan menyebutkan kata “menstruasi” dan “vagina” pun seringkali dianggap sebagai hal yang vulgar sehingga kita sering memperhalusnya dengan sebutan “mens,” “haid,” “datang bulan,” “tamu bulanan,” dan lain sebagainya. Vagina juga sering disebut  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah [n] faraj, farji, kelentit, kemaluan, memek, nonok, pepek, pukas, puki ([cak]), tempik. Kemaluan, seakan-akan kita harus malu untuk mengucapkanya.

Coba kita telaah, apakah membahasakan menstruasi sebagai menstruasi, bukan dengan kata padanan yang diperhalus itu menjijikkan? Apakah perempuan yang menyebutkan menstruasi langsung boleh dicap dengan perempuan binal? Mengapa kita harus memperhalus kata “vagina”, menjadi kemaluan, seakan-akan hal itu adalah hal yang memalukan ketika diucapkan di depan umum?

Simone de Beauvoir, menyatakan dalam bukunya yang terkenal, The Second Sex bahwa seorang pria didefinisikan sebagai seorang manusia, dan perempuan diasosiasikan sebagai perempuan, kapanpun perempuan bertindak sebagaimana manusia, maka perempua  akan dicap bahwa ia bertindak sebagai laki-laki. Hal ini berlaku pula ketika perempuan ingin membicarakan menstruasi sebagai proses yang dia lalui setiap bulannya, pengalaman di waktu vagina yang dimilikinya berdarah. Perempuan langsung dicap sebagai seorang yang binal, dan bahkan dianggap jalang.

Mengapa perempuan takut untuk membicarakan masalah menstruasi di depan umum, karena mereka takut distigmatisasi sebagai seseorang yang tidak bisa menjaga hal pribadinya.

Dalam penelitian tentang menstruasi sebagai stigma sosial yang diberi judul “The Menstrual Mark: Menstruation as Social Stigma” didapatkan bahwa menstruasi sendiri merupakan sebuah stigma yang tersembunyi, dibandingkan terlihat. Tidak dapat diketahui bahwa perempuan sedang menstruasi atau tidak, kecuali jika perempuan tersebut menyatakan bahwa ia telah menstruasi (Johnston-Robledo & Chrisler, 2013). Jika dilihat dari temuan ini dan sifat stigma sendiri sebagai sesuatu hal negatif yang dilekatkan kepada perempuan, maka dapat kita lihat bahwa mengapa perempuan takut untuk membicarakan masalah menstruasi di depan umum, karena mereka takut distigmatisasi sebagai seseorang yang tidak bisa menjaga hal pribadinya. Dalam hal ini, hal pribadi tersebut adalah menstruasi.

Dalam penelitian tersebut juga dibahas bagaimana produk-produk higenitas menstruasi seperti pembalut, tampon, dirancang untuk menyerap cairan dan bau yang ditimbulkan oleh menstruasi, yang membuatnya tidak terlihat dari luar (dikutip dari Kissling (dalam Johnston-Robledo & Chrisler, 2013). Nampaknya, hal tersebut memperparah stigma terhadap menstruasi, bukan? Apalagi jika kita lihat fenomena bagaimana laki-laki kerap kali merasa enggan Ketika diminta untuk membelikan produk-produk higenitas menstruasi, seperti pembalut. Dan kita juga menemui beberapa Wanita yang malu untuk membeli produk menstruasi di tempat umum.

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan untuk mendorong terjadinya diskursus dan diskusi masalah menstruasi, tanpa menimbulkan rasa malu? Pertama, perlunya institusi pendidikan dan orang tua memberikan pengajaran tentang menstruasi secara terbuka, tanpa memperhalus sebutan tentang menstruasi itu sendiri. Biarkan anak menjelajahi tubuhnya secara mendalam, merasakan bahwa dia memiliki vagina yang merupakan bagian dari tubuhnya, dan salah satu organ yang berfungsi penting dalam kehidupanya.

Kedua, perlunya pembiasaan untuk mengganti kata “datang bulan”, dalam iklan media yang menayangkan tentang alat higenitas yang digunakan saat menstruasi, yaitu pembalut.

Ketiga, kita bisa mengampanyekan gerakan sadar tentang edukasi seksual, termasuk didalamnya mengenai menstruasi dan perubahan perubahan yang muncul Ketika seorang anak beranjak remaja. Kita juga perlu membumikan diskusi tentang menstruasi, dan penyebutan kata menstruasi sebagai hal yang lazim digunakan sebagai nama bagi siklus bulanan yang dialami setiap Wanita.

Bahan bacaan

Baidhowi, P. N. (2018). Konstruksi Wacana dan Komodifikasi Menstruasi dalam Iklan Pembalut di Indonesia. 071411531061, 1–12.

Johnston-Robledo, I., & Chrisler, J. C. (2013). The Menstrual Mark: Menstruation as Social Stigma. Sex Roles, 68(1–2), 9–18. https://doi.org/10.1007/s11199-011-0052-z

Kelas Literasi Damai, Siap Cetak Agen Perdamaian

0

Kampusdesa.or.id-Literasi agama merupakan kemampuan memahami agama secara benar agar kita dapat melihat serta menganalisis titik temu antara agama dengan kehidupan sosial, politik, dan budaya dari berbagai sudut pandang, sehingga kita menjadi pemeluk agama yang bijak dan cerdas dalam mengejawantahkan risalah agama.

Pernyataan tersebut disampaikan secara daring melalui zoom oleh Bunda Siti Musdah Mulia, Profesor riset bidang Lektur Keagamaan Departemen Agama dalam Beasiswa Kelas Literasi Damai (KLD) wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat yang diadakan oleh Generasi Literat berkerjasama dengan Mulia Raya Foundation Sabtu-Ahad (27-28/11) dan nanti akan ada tindak lanjut program pada Sabtu-Ahad (4-5/12/2021).

KLD ini merupakan program daring yang bertujuan mengembangkan kapabilitas pemahaman tentang nilai-nilai perdamaian yang disasarkan pada generasi Z (Gen-Z) sebagai calon-calon agen perdamaian. Sebelum mulai acara tersebut diawali dengan mengisi pretest terlebih dahulu, untuk mengukur kemampuan 79 peserta KLD yang sebelumnya telah diseleksi oleh panitia.

Bunda Musdah Mulia memyambung, literasi agama ini dikira penting karena dengan ini kita mampu memahami seluruh agama secara holistik sehingga tidak merasa paling benar sendiri. Adapun jika kita benar, kita tidak lantas menyalahkan agama yang berbeda dengan kita. Dan hal inilah yang akan mampu meredam kebencian, konflik, serta permusuhan, maka sebaliknya juga akan memunculkan sikap toleransi, kerjasama, keterbukaan, dan perdamaian.

“Karena sejatinya, agama ini untuk kemanusiaan. Maka sudah jelas agama pasti mengutamakan perdamaian, kasih-sayang, moderat (wasatiyyah), dan lebih dinamis, fleksibel serta kondusif bagi semua manusia. Dan setiap agama memiliki kesamaan dan tujuan mendasar, yang semuanya bermuara pada kedamaian,” tambah alumnus pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah tersebut.

Kini, yang harus dibenarkan dalam ptaktik beragama, khususnya di Indonesia perlu diwaspadainya ideologi-ideologi agama-radikal. Mulai dari kelompok ekstrim, pro-kekerasan, fanatik-militan, anti modernisme, dan politis.

Diakhir sesi Dia menutup dengan pesan abadi; perdamaian dari masing-masing agama. Mulai dari Islam, Baha’i, Buddha, Hindu, Konghucu, Sikh, Tao, Yahudi hingga Zarathustra. Dari Islam misalnya, mengutip pada salah satu ayat al-Qur’an yang artinya “Tidaklah Aku mengutus engkau Muhammad kecuali agar engkau menebar kedamaian,”. Begitu juga dalam agama Buddha, “Jangan sakiti orang lain dengan cara apa pun yang akan menyakiti dirimu sendir.” (Udana-Varga 5:18).

Berlanjut pada materi kedua tentang Literasi Agama Damai yang disampaikan oleh Suraiya Kamaruzzaman, aktivis HAM dan perempuan. Ibu Suraiya menjelaskan, dalam hal perdamaian, kita (umat Islam) memiliki teladan yang bisa dijadikan pedoman bagi orang Islam khususnya, juga pada seluruh umat manusia pada umumnya, yakni Nabi Muhammad SAW. Salah satu kisah monumental Nabi dalam ihwal perdamaian adalah pada perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, kaum Quraisy yang diwakili oleh Suhail bin Amr keberatan dengan dimasukkannya kata “Rasulullah” dalam perjanjian itu, dan ia menuntut untuk diganti menjadi Ibnu Abdillah yang berarti putera Abdullah.

“Selain itu kata pembuka yang awalnya ‘bismillahirrahmanirrahim’ juga diganti dengan kalimat ‘bismika allahumma’, dan menjadi kalimat yang populer di Arab kala itu. Juga dirubahnya penutup perjanjian Hudaibiyah dari yang awalnya ‘hadza ma qadha alaihi Muhammad Rasulullah’ menjadi ‘hadza ma qudhiya alaihi Muhammad ibn Abdillah’. Dan dengan senang hati, tanpa paksaan Rasulullah menuruti semua permintaan kaum Quraisy tersebut, dengan tujuan perdamaian dan meminimalisir korban,” jelas perempuan kelahiran Aceh tersebut.

Kemudian Ia beralih ke Mahatma Gandhi sebagai contoh. Dengan mengutip kalimatnya tentang perdamaian, yakni, “Untuk memulai perdamaian harus di mulai dengan pikiran, karena apa yang kita pikir akan menjaldi sikap, sikap menjadi kata, kata menjadi tindakan, tindakan menjadi prilaku.”
Ia menuturkan, Mahatma Gandhi merupakan salah seorang tokoh perdamaian dari India. Ia dilahirkan dari keluarga yang terpandang, namun lebih memilih untuk hidup bersama masyarakat kasta paling rendah di India. Mahatma Gandhi juga sering keluar masuk penjara, dan setiap masuk penjara pasti selalu mengalami kekerasan fisik, tapi semakin banyaknya rasa sakit itu, maka sebanyak itu pula ia membalasnya dengan kasih-sayang dan cinta.

“Dan kemudian yang paling fenomenal darinya adalah, Ia memimpin ribuan orang berjalan kaki sejauh 384 km pada peristiwa Salt March, sebagai aksi penolakan warga India terhadap kebijakan kolonial yang melarang orang India untuk tidak membuat Garam sendiri. Aksi inilah yang kemudian berhasil mengatarkan India menuju kemerdekaan tanpa mengangkat senjata,” terangnya dari monitor zoom.

Terkait perdamaian, ia memaknai sebagai kesepakatan kedua belah pihak atau lebih yang sama-sama memiliki keinginan untuk keluar dari masalah atau perkara yang sedang berlangsung dengan mengurangi tuntutan satu sama lain. Berbeda lagi dengan kondisi damai, yakni kondisi tanpa adanya kekerasan yang bukan hanya bersifat personal atau langsung tetapi juga bersifat struktural. Dan beberapa nilai-nilai dalam perdamaian itu sendiri yakni: kesederhanaan, kebebasan, menghargai, kerjasama, tanggung jawab, kejujuran, toleransi, kasih sayang toleransi, persatuan serta rendah hati.

Semua Orang Adalah Guru Bagi Siswa Merdeka Belajar

2

Hari guru pada 25 November ini mengingatkan saya tentang merdeka belajar. Saat banyak orang, bahkan siswa bisa mengembangkan diri tanpa guru formal, profesional, termasuk cara mengasah skill otodidak, maka diri siswa pun adalah guru bagi dirinya sendiri. Begitu juga mahasiswa saya, saat dilepas mencari kreatifitas dan inovasi belajar psikologi, dia menemukan ragam produk psikologi yang tidak pernah terpikir di benak saya. Saya menjadi tahu diri, tidak selamanya apa yang saya berikan menjawab inovasi dan kreatifitas mahasiswa. Saya sadar diri, guru tak bisa berhenti di otoritas saya di dalam kelas. Semua berpotensi memilih guru berdasarkan kebutuhan rasa ingin tahunya.

Suatu misal, anak saya begitu berjibaku dengan kompetisi game online. Bahkan dia ikut kompetisi melalui sekolah yang justru di sekolahnya tidak pernah ada mata pelajaran game online. Ruang pertemananlah yang menjadi gurunya. Setiap malam berkumpul, berkomunikasi dan mengasah kompetisi dengan cara mereka sendiri. Dia pun dapat penghargaan kompetisi. Begitu juga satu anak saya, dia gila aksi organisasi, berkarya dengan mengorganisasir dan bermain futsal, meski dia perempuan. Beberapa event bersponsor dia lakukan bersama teman mereka. Kuliahnya di pendidikan niaga. Beberapa teknik marketing juga dipelajari materi kuliah, tetapi tak seaplikatif ketika berorganisasi. Dia terhubung langsung di lapangan. Gurunya dari proses mengalami untuk tujuan realistik. Ternyata guru kompetensi atau medan pengalaman diambil dari berbagai sumber guru secara liar. Tidak ada batas definisi formal guru kelas. Guru senyap yang tak diperhitungkan tetapi langsung menjadi jembatan kebutuhan langsung. Gurunya silih berganti.

Kebutuhan guru formal menjadi kewajiban patuh pada formalisasi belakar. Setelah itu ditinggal begitu saja karena otucomenya tidak menjawab kebutuhan anak.

Belajar merdeka tidak bisa dibatasi dalam ruang guru formal. Kemerdekaan siswa untuk mencapai target kegemarannya ternyata membutuhkan ragam guru yang silih berganti, singkat, cepat, namun dapat menjawab rasa ingin tahunya. Bahkan dia merdeka menentukan guru. Tergantung derajat mobilisasinya dan target apa yang segera ingin diwujudkan anak. Anak bisa jadi subyek yang lebih tahu mana guru yang lebih layak memenuhi kebutuhan belajarnya. Lebih ekstrem, justru anak-anak tak menganggap guru formalnya berjasa secara pragmatis. Kebutuhan guru formal menjadi kewajiban patuh pada formalisasi belaka. Setelah itu ditinggal begitu saja karena otucomenya tidak menjawab kebutuhan anak.

Nah, kalau medeka belajar berpola pragmatis, temporer, berkinerja target ala target merdeka siswa, apalagi student centered learning, para guru formal boleh jadi tidak lagi zamannya mengendalikan kemerdekaan siswa. Bersikukuh guru formal sebagai instruktur sukses tunggal, nampaknya gaya klasik tersebut tidak lagi mujarab mencapai situasi ideal bagi merdeka belajar siswa. Guru formal perlu legowo memosisikan sebagai bagian yang tidak utuh menyanding si siswa yang merdeka bereksperimentasi. Laksana orang tua yang mulur mungkret memahami kemauan anak yang tidak mudah segaris seirama denga anak. Jika sudah begitu, orang tua menjadi tut wuri handayani. Jika kenyataannya siswa sebenarnya bisa memilih siapa saja guru eksperimentasinya, dan siapapun subyek interdependensi suksesnya, merdeka belajar perlu memberi ruang siapapun boleh menjadi guru. Asalkan dapat membantu siswa berorkrestasi dengan eksperimentasi targetnya.

Siswa Merdeka Gurunya Siapa Saja

Praktik baik ada di beberapa sekolah non-formal dan pendidikan alternatif yang memberikan siswa kemerdekaan merancang belajar sendiri. Qoryah Toyyibah Salatiga memberikan keleluasaan siswa membuat masterplan pilihan belajar mereka. Salam Yogyakarta, memberikan kesempatan yang sama dan mendesain riset dengan memberikan kesempatan mengakses guru non formal, Sekolah Dolan Malang memberi kesempatan siswanya mengajukan kelas mandiri dan presentasi tugas akhir dari hasil karyasiswa. Pesantren Rakyat Sumberpucung, Kab. Malang, memberi kebebasan santrinya untuk memilih fokus menjadi peternak lele, belajar bangunan lebih besar porsinya, sementara kelas formalnya untuk belajar dan mengaji dapat menyesuaikan santri. Para siswa diapresiasi orientasi minatnya dan boleh mengambil guru siapa saja. Merdeka belajar yang memasilitasi siswa memilih guru sesuai eksperimentasi minat dan bakatnya.

Komunikasi yang mengaransemen merdeka siswa menjadi desainer individual dan kolaboratif. Bahkan pilihan guru tidak lagi guru kelas tetapi guru siapa saja yang relevan menjawab dorongan proses penuntasan belajar.

Siswa merdeka gurunya siapa saja yang relevan membantu mengembangkan rasa ingin tahu siswa. Dia bisa menemukan guru temporer, guru pemandu, atau guru berjejaring, dan lain sebagainya, bisa bersamaan sesuai dengan mobilitas diri siswa atau bergantian secara tuntas. Posisi guru formal bergeser. Bahkan kuasa di kelas diubah dengan auto skill designer yang patokannya bukan administratif kurikuler yang didesain dibalik layar. Sementara siswa tak pernah tahu kapan mereka bersuara memulai belajar. Auto skill designer adalah fasilitator merdeka yang kemampuan kompleksnya mampu merangkai keragaman perspektif ilmu pengetahuan dan menginklusi ketrampilan makro menjembatani praktik merdeka siswa. Jenis komunikasi beralih dari komunikasi kepatuhan menjadi komunikasi mendengarkan. Komunikasi yang mengaransemen merdeka siswa menjadi desainer individual dan kolaboratif. Bahkan pilihan guru tidak lagi guru kelas tetapi guru siapa saja yang relevan menjawab dorongan proses penuntasan belajar.

Melewati peringatan hari guru tanggal 25 November lalu, semangat merdeka belajar membuka ruang pemaknaan guru dalam menarasikan ulang merdeka belajar. Guru tidak dibatasi pada ruang kelas yang telah terkapitalisasi dalam politik pendidikan atas nama sekolah. Semangat merdeka belajar diikuti oleh redefinisi guru yang memiliki peran penting dalam menjawab berbagai kebutuhan merdeka siswa. Dia boleh disebut teman yang membantu kerja kreatifnya, tetangga yang menjadi model sukses, sosok yang membelajari seorang anak menciptakan permainan, tukang bengkel yang terbuka untuk anak yang rela alat bengkelnya dijadikan sumber belajar, tukang bangunan dari seorang santri, pedagang pasar yang menjadi tempat latihan anak-anak meriset praktik jual beli, begitu seterusnya. Guru adalah sosok yang terbuka menularkan kompetensi unggulnya untuk anak-anak yang ingin melatih rasa ingin tahunya.

Dalam kelas, guru tak lagi menjadi otoritas tunggal. Kolaborasi lintas kompetensi memicu merdeka belajar tumbuh dalam situasi berjejaring yang lues dan terbuka.

Siswa merdeka belajar gurunya siapa saja. Guru formal adalah dirijen. Sosok yang fleksibel laksana seorang penasihat dengan kekuatan inpsiratif. Dia tidak menjadi pemilik tunggal bagi pengarah kompetensi karena eksperimentasi sukses dalam dunia kreatif membutuhkan perspektif beragam. Apalagi di zaman kolaboratif. Pengalaman sukses berproses dengan kekuatan diri untuk mengorkrestrasi berbagai sumberdaya yang saling menunjang cita-cita mudah tergapai. Seorang anak yang kompetensinya memasak, dia butuh guru formal yang memberikan cara berliterasi dalam menemukan sumber bacaan dan pengetahuan yang tepat, tetapi tentu tidak kuasa mengajari memasak, kecuali guru tersebut punya bakat memasak. Saya mengajar psikologi entrepreneur di paskasarjana psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya bisa memandu mereka melacak melalui bibliometri (referensi) untuk menguasai pengetahuan psikologi entrepreneur, tetapi jelas tidak kompetens untuk memandu eksperimentasi di dunia nyata. Saya mengundang pengajar luar yang membantu mahasiswa menggerakkan usahanya melalui pelaku bisnis digital untuk bicara data sains dalam mengelola percepatan pasar. Agus Sakti, pengajar dari praktisi saya beri porsi sesuai selera mahasiswa. Mereka saya beri kelonggaran mengakses tuntas pengajar tersebut. Berbagai inspirasi cepat bertumbuh hingga mereka membuat kolaborasi bisnis. Dalam kelas, guru tak lagi menjadi otoritas tunggal. Kolaborasi lintas kompetensi memicu merdeka belajar tumbuh dalam situasi berjejaring yang lues dan terbuka.

Merdeka belajar, gurunya bisa siapa saja.

Merdeka Belajar, Sudahkah Efektif untuk Pendidikan Kita?

Merdeka belajar tetap perlu dikritisi di masa awal pelaksanaannya secara nasional. Kebijakan Mas Nadiem menjadi peluang baru bagi idealitas pendidikan. Merdeka belajar beririsan dengan kemampuan menguasai teknologi informasi, khususnya ketika merdeka belajar juga berbarengan dengan pelaksanaan digitalisasi pembelajaran di masa pandemi. Nah, sejalan dengan idealisme tersebut, pertanyaan penting adalah, sudah seberapa efektif proses pembelajaran, evaluasi, dan dampaknya bagi perubahan kualitas pendidikan kita?
Kampusdesa.or.id — Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia yang memberikan kesempaatan bagi mahasiswa-mahasiswi untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan. 
Kebijakan tersebut menyedot perhatian perguruan tinggi untuk mendesain kembali kurikulumnya agar sesuai dengan kebijakan tersebut. Sebelum kita melihat lebih jauh fenomena redesain kurikulum tersebut, mungkin perlu kita telusuri sebenarnya akar-akar kebijakan tersebut muncul, karena memang bagaimanapun juga tidak lepas dengan kegalauan presiden Jokowi bahwa Sistem pendidikan nasional harus mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia,”Ia juga menekankan bahwa sistem pendidikan nasional perlu menekankan pentingnya inovasi dan kemajuan teknologi. Untuk mendukung hal tersebut, ia ingin semua platform tekonologi bertransformasi mendukung kemajuang bangsa, “Peran media-digital yang saat ini sangat besar harus diarahkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan,” tutur Presiden Jokowi. (Harian Kompas, 2020).

Kreativitas hanya bisa dihasilkan dengan rasa Bahagia, maka arahkan siswa agar bisa belajar dengan perasaan Bahagia (Amka)
Baca juga: Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud, Mengapa Banyak Ditentang?

Joko Widodo mengatakan saat ini Indonesia berada di era disrupsi, era yang sulit dihitung, era sulit dikalkulasi, era yang penuh risiko. Pada era ini perlu penguatan data dan perlu orang yang memiliki pengalaman bagaimana mengelola sebuah data sehingga bisa memprediksi masa depan. Big data ini penting untuk masa depan, Jokowi menambahkan Indonesia perlu orang yang mengerti betul mengenai pengelolaan dan penggunaan internet of Things (IoT), artificial Intelligence hingga big data. Ini kenapa pilih Mas Nadiem Makarim,” jelas Jokowi (Harian CNBC Indonesia, 2019).

Agar siswa mampu menjawab tantangan jaman sekarang, maka diperlukan kebebasan berfikir, perasaan bahagia sehingga siswa akan dapat mengeksplorasi potensi secara totalitas dengan perasaan bahagia.
Merdeka belajar sebenarnya konsep dasar yang dijadikan instrumen untuk menjawab kegalauan presiden dan menjadi problem di masyarakat Indonesia pada umumnya. Agar siswa mampu menjawab tantangan jaman sekarang, maka diperlukan kebebasan berfikir, perasaan bahagia sehingga siswa akan dapat mengeksplorasi potensi secara totalitas dengan perasaan bahagia. Modal bahagia tersebut akan menghantarkan siswa akan berpikir inovatif dan kreatif terhadap segala tantangan yang ada depannya termasuk tantangan penguasaan media digital. 
Mengukur efektifitas Kurikulum Merdeka Belajar
Baca juga: Interaksionisme Simbolik; Antara Lonte dan Merdeka Belajar
Ukuran yang kedua adalah sesuai dengan visi dan misi pemerintah menghadapi era digital, dimana literasi digital harus mampu ditingkatkan dan bisa bersaing dilevel dunia, kemudian literasi itu menjadi kompetensi siswa yang harus mampu diarahkan untuk menyelesaikan segala persoalan dengan kompetensi digitalnya itu dengan memproduksi teknologi tertentu yang bisa bermanfaat dan memudahkan untuk masyarakat, karenanya model belajar harus dikembangkan sejak dini ke arah logika dasar data dan informasi, sehingga kurikulum memang disiapkan untuk berfikir masa depan.
Kita lihat survey yang dilakukan Kominfo 2020 ditemukan bahwa literasi digital di Indonesia belum sampai level “baik”, selain itu juga, semakin tinggi literasi digital, semakin rendah kecenderungan berkebiasaan positif dalam mencerna berita online (Status digital literasi Indonesia. Kominfo, 2020), sedangkan peringkat literasi digital dunia, Indonesia juga masih menduduki peringkat 56 dari 63 negara dunia. (Kominfo, 2020). Data tersebut menunjukkan masih rendahnya angka literasi digital masyarakat Indonesia, padahal sekarang adalah era informasi digital karena informasi yang paling sering diakses masyarakat serta informasi yang paling dipercaya masyarakat sekarang adalah media sosial. Itu artinya media sosial menyediakan informasi sekaligus masalah yang harus segera diketahui dan diselesaikan masyarakat.
Baca juga: Milenial, Kampanyekan Moderasi Beragama Di Ruang Digital
Belajar dari Arab Saudi yang menargetkan 5 besar dunia dalam percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), Kerajaan Arab Saudi juga akan berupaya menghadirkan programmer komputer untuk setiap 100.000 warga, mereka menyiapkan alokasi dana khusus peningkatan sektor teknologi informasi dan komunikasi yang akan digenjot memiliki nilai hingga USD27 miliar atau setara Rp388,2 triliun hingga 2025 (Sindonews, 2021).
Untuk meningkatkan kompetensi digital setidaknya ada 5 framework yang harus digarap pemerintah melalui Pendidikan, pertama adalah literacy data dan informasi terutama kemampuan mengelola dan mengevaluasi data dan konten-konten digital, yang kedua adalah komunikasi dan kolaborasi terutama kemampuan berinteraksi dan sharing melalui teknologi digital, ketiga adalah digital content creation terutama mengembangkan konten digital dan kemampuan program, keempat keamanan terutama kemampuan melindungi data personal dan yang kelima adalah memecahkan masalah (problem solving) terutama kemampuan memecahkan problem teknis. Kelima Garapan tersebut harus menjadi kerangka kerja dalam pengembangan kurikulum merdeka belajar.
Siswa harus dipastikan belajar dengan perasaan bahagia, sehingga guru atau pengajar dituntut untuk mengajar dengan bahagia juga
Ukuran ketiga adalah sesuai dengan semangat Merdeka Belajar dimana siswa harus dipastikan belajar dengan perasaan bahagia, sehingga guru atau pengajar dituntut untuk mengajar dengan bahagia juga. Agar guru atau pengajar bisa bahagia, maka kebutuhan dasar guru setidaknya harus dipenuhi, kemudian guru harus mengajar sesuai dengan bidangnya serta guru harus diberikan apresiasi terhadap prestasi yang diraihnya, sehingga ketika guru bahagia, maka diharapkan energi kebahagiaannya juga bisa ditangkap oleh siswa sebagai suatu inspirasi yang harus ditiru.
Nadiem Makarim berencana melakukan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter sebagai ganti UN. Ada tiga aspek yang diukur. Yang pertama adalah literasi, Aspek tersebut tidak hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga mengukur kemampuan siswa dalam melakukan analisis terhadap suatu bacaan. Kedua adalah numerasi yaitu kemampuan bernalar menggunakan matematika, dan yang ketiga adalah survey karakter (Jawapos, 2019) pengukuran karakter seharusnya menambahkan aspek kebahagiaan (happiness) agar pemerintah mengetahui tingkat kebahagiaan siswa secara nasional agar bisa menjamin proses pendidikan berjalan dengan perasaan Merdeka sesuai dengan cita-cita Merdeka Belajar.

Anak Muda Masa Kini, Kami Ini Pekerja Cerdas

0

Anak muda generasi kini menjalani hidupnya sama seperti generasi terdahulu, hanya cara yang digunakan sajalah yang berbeda, lebih cerdas dengan adanya kemudahan mengakses apapun, di manapun, kapanpun. Dunia yang serba praktis dan bisa didapatkan dalam sekali genggaman sepertinya sangat cocok menjadi ungkapan bagi mereka yang menjadi pintar dan berwawasan dengan memanfaatkan sarana menimba ilmu melalui kemudahan teknologi.

Kampusdesa.or.id — Anak muda zaman sekarang identik dengan generasi menunduk. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda masa kini sangat kecanduan gadget. Melakukan aktivitas dengan hampir selalu ada gadget di tangan? Hmm, ini dapat ditemui tanpa mengenal tempat. Toilet, pasar, antrian bank, bahkan perpustakaan sekalipun. Tapi, tunggu dulu. Tidak semua anak muda menyia-nyiakan kemudahan akses yang diberikan dengan adanya kemajuan teknologi ini, loh.

Dunia yang serba praktis dan bisa didapatkan dalam sekali genggaman sepertinya sangat cocok menjadi ungkapan bagi mereka yang menjadi pintar dan berwawasan dengan memanfaatkan sarana menimba ilmu melalui kemudahan teknologi, kursus online, misalnya. Bukan serba cepat dan tanpa proses, namun memang itulah faktanya bahwa lesson learning yang disediakan hanya memberikan poin-poin penting untuk dapat dipahami dengan mudah, sebagai brainstorming. Selain ringkas, kursus online juga dapat diakses di mana saja. Meski begitu, anak muda tak hanya berhenti di situ, seringkali dijumpai mereka yang juga mengeksplorasi lebih jauh dengan bacaan ilmiah yang menunjang kursus tersebut. Hal ini cukup membuktikan bahwa mereka benar-benar ingin belajar. Jika hanya ingin mendapat sertifikat dan pengakuan abal-abal, untuk apa buang-buang uang dengan membayar mahal?

Banyak komunitas pemuda yang dewasa ini menjamur bak coffee shop di tengah kota. Aktivitas dan project yang dikerjakan pun tak main-main, mulai dari gerakan sosial yang orang awam pun paham, hingga berskala internasional seperti mengadakan conference dan global volunteer exchange