Senin, Mei 4, 2026
Beranda blog Halaman 17

Mental Passenger, Problem Laten Dunia Pendidikan Kita

0

Sudah lama dunia pendidikan kita terjebak oleh pola pembelajaran yang cognitive oriented. Kondisi ini berdampak panjang hingga membentuk mental passenger dalam diri peserta didik. Padahal, mental yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menjawab tantangan zaman adalah mental driver, yaitu kemampuan berpikir kritis, gesit, dan tahu dengan jelas kemana arah dan tujuan dalam melangkah. Bukan kemampuan untuk duduk, diam, dan terbuai oleh zona nyaman.

Kampusdesa.or.id-Pagi ini (12/7) saya mengajak mahasiswa perwalian saya untuk sekadar sharing dan ngobrol santai. Sebetulnya ada beberapa hal yang ingin saya ketahui dan konfirmasi langsung, tapi tanpa sepengetahuan mereka. Apa yang saya lakukan ini digerakkan oleh buku Rhenald Kasali yang berjudul  โ€œSelf Driving: Menjadi Driver atau Passenger?โ€.

Setalah membacanya, saya jadi kepikiran, jangan-jangan mahasiswa saya mengalami hal serupa seperti yang digelisahkan penulis buku ini. Jangan-jangan mereka selama ini belajar hanya dengan โ€˜memindahkanโ€™ isi buku teks ke kepala. Jangan-jangan mereka selama ini menganggap bahwa nilai akademik adalah segalanya. Jangan-jangan mereka selama ini beranggapan bahwa nama besar kampus menjadi jaminan sukses di masa depan. Jangan-jangan mereka selama ini juga bermental passenger. Dan jangan-jangan yang lain.

Sistem pendidikan kita, termasuk di perguruan tinggi, selama ini bukannya membentuk manusia bermental driver, tapi malah sebaliknya, bermental passenger.

Menurut Rhenald Kasali, sistem pendidikan kita, termasuk di perguruan tinggi, selama ini bukannya membentuk manusia bermental driver, tapi malah sebaliknya, bermental passenger. Lulusan pendidikan kita pandai dalam menghafal teori dan konsep persis dengan isi buku teks, tapi kedodoran saat diminta mempraktikannya dan memenuhi tuntutan dunia nyata. Hal ini sebabkan karena proses belajar mereka hanya fokus pada kertas-kertas berupa buku teks. Mereka lalu disuruh memindahkan isi hafalan itu ke kertas lainnya berupa lembar-lembar jawaban ujian. Jadilah mereka ketika lulus sarjana kertas.

Baca Juga: Masih Relevankah Mata Pelajaran Sekolah Di Tengah Keajaiban Mbah Google!

Masih menurut Rhenald Kasali, akibat pola pembelajaran seperti itu, terbentuklah generasi pasif. Hanya untuk mengungkapkan pendapat saja kesulitan. Anak-anak di sekolah menjadi terisolasi dari lingkungannya yang dinamis. Mereka tidak terbiasa berpikir keras untuk memecahkan masalah hidup. Akibatnya, mereka kalah dengan anak-anak muda yang tidak berpendidikan tinggi namun memilih merantau demi menyambung hidup. Entah menjadi TKI atau sekadar membuka usaha di dalam negeri. Mereka ini dibentuk oleh kerasnya kehidupan sehingga terbiasa berpikir kritis dan belajar langsung dari kehidupan. Bukan dari buku teks.

Saya kemudian menyusun lima pertanyaan untuk menelusuri kecurigaan saya itu; (1) bagaimana perkuliahanmu selama ini?, (2) apa yang sudah kamu dapat dari kuliah?, (3) apa targetmu semester depan ini?, (4) apa rencanamu ke depan?, dan (5) selama liburan ini, apa yang kamu lakukan?. Mereka saya kumpulkan melalui Google Meet dan saya ajak ngobrol tentang lima pertanyaan ini.

Awalnya, saya berikan kesempatan kepada siapa saja yang mau berbagi pengalaman. Namun, tidak ada satupun yang mau bicara. Akhirnya, terpaksa saya pakai mode interogasi, daripada tidak kelar-kelar urusan ini. Satu per satu dari mereka saya ajak ngobrol. Saya ajukan lima pertanyaan tersebut. Anda tahu bagaimana hasilnya? Exactly!. Apa yang ditulis Rhenald Kasali dalam bukunya itu dialami juga oleh mahasiswa saya ini. Bisa jadi, dan sangat mungkin, sebagian besar mahasiswa di kampus saya juga demikian.

Baca Juga: Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud, Mengapa Banyak Ditentang?

Pada pertanyaan pertama, mereka kesulitan menguraikan apa yang mereka alami sendiri selama setahun kuliah daring ini. Hanya untuk mengatakan kendala yang dialami dan bagaimana menjalani kuliah online saja, mereka kesulitan. Ada yang secara terang-terangan mengaku salah jurusan dan belum memikirkan langkah apa ke depannya. Demikian juga pada pertanyaan kedua. Ini lebih parah. Ada yang terang-terangan menjawab TIDAK TAHU. Lho kok bisa? jujur, saya kaget sekali. Lha wong mengatakan apa yang sudah didapat sendiri selama kuliah kok malah TIDAK TAHU.

Kekagetan saya terus berlanjut. Pada pertanyaan ketiga juga sama. Banyak yang kesulitan menjawab. Bahkan terang-terangan menjawab TIDAK TAHU lagi. Setelah saya desak, beberapa mampu menjawab. Selebihnya tetap TIDAK TAHU. Pertanyaan keempat, setali tiga uang dengan pertanyaan ketiga. Maksud saya di pertanyaan keempat ini, saya ingin tahu rencana jangka panjang mereka bagaimana. Setelah nanti lulus mereka mau apa. Jadi sarjana yang bagaimana. Sayangnya, jawaban yang keluar sama sekali tidak memenuhi ekspektasi saya.

Pada pertanyaan terakhir, semakin menunjukkan kepada saya bahwa mereka memang telah menderita penyakit mental passenger. Mereka selama ini telah terbentuk menjadi penumpang. Bagaimana tidak? Semua menjawab selama liburan hanya gelimbang-gelimbung. Hanya nonton film, makan, tidur, kadang membantu orang tua, dan sebagainya. Tidak ada yang mengisi liburan dengan kegiatan produktif seperti membaca buku, menulis, kursus, atau yang lain.

Padahal, mereka ini termasuk manusia-manusia yang beruntung karena diberi kesempatan bisa kuliah. Di luar sana, ada begitu banyak anak muda yang ingin di posisi mereka.

Saya betul-betul tertohok dengan jawaban-jawaban mereka ini. Padahal, mereka ini termasuk manusia-manusia yang beruntung karena diberi kesempatan bisa kuliah. Di luar sana, ada begitu banyak anak muda yang ingin di posisi mereka. Orang tua juga sudah bekerja begitu keras demi membayar biaya kuliah. Sepertinya hal paling mendasar ini pun tak banyak direnungkan oleh teman-teman mahasiswa. Akhirnya, mereka kuliah sekadarnya. Pokoknya yang penting kuliah.

Padahal, pola pikir yang kelihatannya remeh ini buntutnya bisa panjang. Bila mereka tetap menjadi mahasiswa sekadarnya atau pokoknya, maka nanti lulus juga menjadi sarjana yang sekadarnya dan pokoknya. Begitupun ketika nanti menjadi guru, juga sekadarnya dan pokoknya dalam menjalankan tugas. Peserta didik mereka pun akhirnya belajar sekadarnya dan pokoknya. Sepanjang itulah rentetannya.

Perombakan kurikulum yang agak radikal sepertinya sedang urgent untuk dilakukan pada semua jenjang pendidikan kita. Kurikulum dan pola pembelajaran yang hanya cognitive oriented sudah selayaknya kita tinggalkan.

Perombakan kurikulum yang agak radikal sepertinya sedang urgent untuk dilakukan pada semua jenjang pendidikan kita. Kurikulum dan pola pembelajaran yang hanya cognitive oriented sudah selayaknya kita tinjau ulang. Demikian halnya dengan asesmen yang dilakukan, sepatutnya tidak hanya fokus pada pencapaian kognitif, tapi juga melihat sejauh mana perkembangan afektif dan psikomotorik peserta didik. Pendidikan dan lembaga pendidikan harus melihat sejauh mana peserta didik mampu menerapkan teori dan konsep dalam kehidupan nyata. Serta bagaimana mereka beretika terhadap sesama dan lingkungan.

Mari berkaca ke negara-negara tetangga yang telah lebih dulu mengubah mindset dan paradigmanya dalam mengajar. Konteks dan teks yang dipelajari di kelas haruslah secara gayut berhubungan.

Pada aras yang sama, hubungan harmonis antara dunia nyata dan kelas jangan diabaikan. Mari berkaca ke negara-negara tetangga yang telah lebih dulu mengubah mindset dan paradigmanya dalam mengajar. Konteks dan teks yang dipelajari di kelas haruslah secara gayut berhubungan. Sehingga, apa yang dipelajari peserta didik, bisa langsung mereka terapkan. Selain itu, muatan kurikulum yang ingin membuat peserta didik menjadi ‘manusia berdaya ingat super’ juga perlu untuk terus ditinjau ulang. Utamanya terkait banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik, padahal sama sekali tidak mendukung bakat dan minat mereka.

Terakhir, proses pendidikan haruslah membentuk mental driver, yaitu sosok yang berpikir, gesit, bisa membaca peluag, kritis, dan tahu dengan jelas arah tujuan. Bukan membentuk manusia bermental passenger yang cukup hanya diam, bahkan bisa mengantuk dan tidur. Hanya dengan lulusan pendidikan yang bermental driver-lah, kita bisa menjadi bangsa driver.

Haruskah Kematian Covid-19 Diumumkan?

0

“Kepanikan adalah setengah penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah awal kesembuhan” -Ibnu Sina

Kampusdesa.or.id–Berita kematian, akhir-akhir ini kembali marak. Bahkan ada yang bilang lebih ramai daripada masa awal mewabahnya Covid-19. Pemberitaan dan pengumuman kematian tidak melulu lewat media cetak dan elektronik. Tapi media sosial pun ikut gencar memberitakan dengan berdalih empati, atensi atau belasungkawa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa satu berita kematian saja akan sedikit banyak mempengaruhi psikologi orang yang mendengarnya. Perasaan sedih, prihatin, empati atau lainnya akan muncul dengan sendirinya karena sifat manusiawi. Lantas, bagaimana jika berita itu berulang kali, sering dan beruntun?

Sampai-sampai satu desa di wilayah tempat tinggal kami -menurut salah seorang teman- kepala desanya melarang pengumuman kematian. Entah karena saking seringnya pemberitaan kematian atau khawatir kondisi kejiwaan warganya.

Memberitakan (baca: mengumumkan) kematian seseorang dalam ajaran Islam masih memiliki perdebatan panjang.

Memberitakan (baca: mengumumkan) kematian seseorang dalam ajaran Islam masih memiliki perdebatan panjang. Hulu masalahnya yaitu adanya beberapa hadits yang tampak luar bertentangan. Dalil-dalil tersebut ada yang memperbolehkan pengumuman kematian, karena Nabi Muhammad pernah melakukannya.

โ€œBahwasanya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah mengumumkan kematian Raja Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar ke tempat salat, dan membuat shaf bersama para sahabat dan bertakbir empat kaliโ€ (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi memberikan keterangan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadis tersebut merupakan anjuran untuk memberitahu kematian seseorang. Agar jenazah tersebut disalatkan dan diurus janazahnya.

Di sisi lain ada juga sabda nabi riwayat sahabat Hudzaifah yang melarang pengumuman kematian.

“Hudzaifah bin Al Yaman berkata, “Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkan kematianku, karena aku takut hal itu termasuk dari an na’yu. Aku telah mendengar Rasulullah ๏ทบ melarang an na’yu.” (HR. Tirmidzi).

Ibnu Arabi dalam Tuhfat al-Ahwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi menjelaskan langkah “kompromi” dalam memahami beberapa dalil tersebut. Menurutnya, ada tiga kondisi yang dapat disimpulkan dari beberapa hadits yang tampaknya bertentangan.

Pertama, jika mengumumkan kematian anggota keluarga, sahabat dan orang saleh maka dihukumi sunnah. Kedua, pengumuman kematian seseorang dengan tujuan mengajak untuk merayakan dan membanggakan diri (merasa bagian dari kalangan terhormat), hukumnya makruh. Ketiga, jika mengumumkan dengan tujuan untuk mengajak meratapi kepergian almarhum atau hal lain yang tidak diperbolehkan oleh agama maka dihukumi haram.

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ juga memberikan rincian hukum pengumuman kematian. Sesungguhnya pengumuman kematian dengan tujuan memberikan informasi bagi yang tidak mengetahui hukumnya mubah. Namun jika tujuannya agar yang mensalati lebih banyak maka disunnahkan. Dan pengumuman kematian yang dimakruhkan adalah yang bertujuan membanggakan kebaikan orang yang meninggal dengan menyebarkan berita duka tersebut agar orang-orang meratapi kepergiannya.

Pengumuman kematian yang terakhir ini serupa dengan yang terjadi di masa Jahiliyah. Yaitu ketika salah seorang tokoh diantara mereka meninggal dunia, mereka mengutus para penunggang kuda untuk mendatangi kabilah-kabilah dan mengatakan โ€œcelaka kalian dengan matinya Si Fulan sambil menangis dan meratapi Si mayitโ€.

Pendek kata, jika pengumuman kematian itu berimplikasi baik (terhadap mayit, keluarga almarhum atau warga sekitar) maka hukumnya boleh atau bahkan bisa jadi sunnah. Jika tidak, maka makruh atau mungkin bisa juga haram.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika pengumuman kematian (terlepas dari karena terpapar Covid atau lainnya) memiliki dampak psikologis bagi warga yang mendengarnya. Misalnya mereka menjadi resah, gelisah, tegang, risau, takut, panik dan khawatir yang pada akhirnya menyebabkannya sakit?

Baca juga: Positif Covid-19, Suka Duka Hidup di Balik Jendela

Pengumuman dan penyebaran informasi tentang kematian (Covid-19) yang jelas-jelas menimbulkan efek negatif, menurut hemat saya, seharusnya dipertimbangkan manfaat dan mudaratnya. Manakala dirasa lebih besar mudaratnya, maka lebih baik tidak diumumkan. Biarkan warga mendengar sendiri dari mulut ke mulut. Walhasil, kaidah “La Dlarara wala Dlirara” bisa diberlakukan untuk kasus seperti ini.

Karena itu, belakangan ini saya memilih tidak latah memposting berita duka, apalagi almarhum tidak kenal saya dan saya tidak mengenalnya. Kalau hanya sekedar berbelasungkawa, toh bisa dengan mengucapkannya melalui pesan singkat atau mengirimkan doa dan bacaan al-Fatihah padanya.

Tapi, pengumuman kematian itu kan sunnah?

Jangankan sunnah, perkara wajib saja boleh ditinggalkan manakala berakibat tidak baik bagi pelakunya.

Jangankan sunnah, perkara wajib saja boleh ditinggalkan manakala berakibat tidak baik bagi pelakunya. Sekedar contoh (tanpa bermaksud meng-qiyaskan karena saya tidak mendalami Ushul Fiqh) kewajiban menjawab salam.

Ada beberapa kondisi yang seseorang tidak wajib menjawab salam. Antara lain saat makan atau minum, lagi buang air, sedang salat dan lain sebagainya. Bahkan al-Khalwati menyebutkan dalam kitab Tadzkir al-Anam bi Ahkam Al-Salam karya Syekh Abdullah al-Jar Allah, ada 22 keadaan seseorang tidak berkewajiban menjawab salam.

Terlepas dari adanya dalil yang menjadi landasannya, “konon” ada hikmah di balik tidak wajibnya menjawab salam dalam kondisi-kondisi tersebut, yakni menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, orang bisa tersedak jika menjawab salam saat dia makan. Demikian juga menjawabnya ketika buang air, bisa mengurangi kesucian nama Allah dalam salam tersebut.

Sedikit cerita sebagai penutup tulisan ini. Saat seseorang curhat pada guru saya terkait banyaknya berita duka sebab kematian beberapa ulama, habib, kiai atau ustadz, beliau menjawabnya dengan santai. “Tentu saja, karena pertemanan kita baik di dunia nyata maupun dunia maya (medsos) mayoritas dari kalangan mereka. Coba kalau kenalan kita kebanyakan dari golongan pastur, pendeta atau non muslim, pasti beritanya akan berbeda”.

Keyakinan saya, jawaban guru saya tadi untuk menetralisir kekhawatiran sahabatnya yang mungkin juga menghinggapi perasaan banyak orang. Tidak juga bermaksud gegabah dalam menghadapi wabah. Sikap tersebut kurang lebih seperti seorang dokter menerima pengaduan pasiennya. Dokter akan mengatakan bahwa penyakitnya biasa, tidak berbahaya dan bisa cepat disembuhkan. Hal ini agar mental pasien tidak down yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses penyembuhannya. Ini penting karena faktor kejiwaan yang tidak stabil dapat mengurangi imunitas tubuh.

Tidak heran jika beberapa tokoh nasional atau ulama kita memberikan saran untuk menjaga hati, pikiran dan perasaan agar senantiasa bahagia, sabar, tenang dan optimis dalam menghadapi pandemi. Senada dengan perkataan Ibnu Sina (Avicenna), Bapak kedokteran modern: “Kepanikan adalah setengah penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah awal kesembuhan.” Wallahu a’lam.


*Ditulis oleh Dr. Moh. Tohiri Habib, S.Ag., M.Pd.
(Guru MA Matholi’ul Anwar Simo Karanggeneng Lamongan)

Masih Relevankah Mata Pelajaran Sekolah Di Tengah Keajaiban Mbah Google!

0

Gen Z, yang lahir antara 1998 sampai dengan 2010, apakah masih bisa jinak dan tekun membuka buku. Sepertinya mereka lebih nyaman berselancar di belantara mesin pencari online. Selamat tinggal buku atau mereka pun tetap bisa menggali ilmu pengetahuan sebagaimana generasi X (1965-1980) yang masih kental menjinjing buku perpustakaan, telaten menyalin di buku tulis, bahkan menghafal aneka mata pelajaran di sekolah demi menguasai ujian di kemudian hari?

Kampusdesa.or.id–Dulu sekali, ketika Google masih asing di sekitar kita, bahkan masa kecil saya tidak ada Google, belajar aneka mata pelajaran di sekolah itu kebutuhan.

Kini pelajaran di sekolah yang masih banyak mengkaji pelajaran persis masa kecil saya, sudah disalip oleh aneka informasi akademik, informasi ilmiah, informasi apa saja di Google maupun aplikasi lainnya.

Pendidik dari kalangan milenial dan Gen X mengajar peserta didik (yang saat ini golongan Gen Z) tak lagi bersifat mentransfer ilmu pengetahuan, tapi sebagai fasilitator. Pendidik/ guru/ tutor adalah teman belajar yang dihormati para Gen Z sebagai pemantik motivasi menjadi pribadi yang selalu ingin tahu.

Saat menerima tugas suatu mata pelajaran, para Gen Z tak lagi membuka catatan dari gurunya tapi sudah berselancar di dunia maya melalui Google dan aneka macam aplikasi yang ada dan bisa dijangkau mereka.

Catatan, buku diktat, dan tugas dari guru hanyalah hal kecil dari luasnya wawasan yang digali Gen Z

Catatan, buku diktat, dan tugas dari guru hanyalah hal kecil dari luasnya wawasan yang digali Gen Z itu sendiri akibat rasa keinginantahunannya sehingga mereka mencari sendiri melalui aplikasi digital.

Masihkah hari ini, begitu saja materi pelajaran di sekolah yang tema besarnya sama persis dengan masa kecil saya? Ada IPS, IPA, Matematika, Kewarganegaraan, dkk.

Hal yang mendesak diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan ketrampilan menguasai teknologi dan mengendalikan dampak teknologi.

Saya berpikir hal yang mendesak diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan ketrampilan menguasai teknologi dan mengendalikan dampak teknologi. Para Gen Z sudah lebih banyak tahu perihal wawasan pengetahuan yang bersinggungan dengan pelajaran di sekolah. Buktinya, baru-baru ini ada fenomena aphelion, Gen Z lebih tahu dulu sebelum sekolah mengajarkan. Belum lagi kehebatannya dalam mencari ilmu baru dengan cepat tentang penguasaan teknologi.

Berbagai informasi yang masuk dan dicari para Gen Z saat ini sepertinya perlu didampingi pengetahuan agama. Ilmu pengetahuan agama selain mengajarkan tentang keimanan juga mengajarkan etika. Etika berhadapan dengan Gusti Allah, etika memperlakukan diri sendiri, dan etika berinteraksi dengan sesama dan alam semesta.

Dengan memahami etika, para Gen Z yang saat ini sibuk belajar dan bersemangat berselancar di dunia maya bisa mengontrol diri sendiri.

O iya, mengajarkan agama tentunya tidak tepat kalau Gen Z cukup belajar di dunia maya, apalagi gurunya tidak jelas sanad keilmuannya. Akibat sanad yang tidak jelas, marak terjadi pemahaman dalam beragama yang akibatnya anak menjadi tidak hormat kepada orang tua dan sesama pemeluk agama tidak rukun.

Selain ilmu agama, Gen Z hendaknya dibekali keterampilan hidup agar mandiri sejak belia. Kesibukan mengasah soft skill dan hard skill ini agar pengetahuan Gen Z yang mereka peroleh dari dunia maya bermanfaat dengan tepat.

Kegiatan berselancar di dunia maya seharusnya memberi pengalaman belajar yang memiliki ketepatan manfaat yang kekinian. Tidak menunggu kelak kalau sudah menjadi apa dan menjabat apa.

Lagi pula belajar sambil mengamalkan ilmu pengetahuan saat ini lebih efektif dan efisien, tidak akan terjadi mengganggu waktu belajar atau perkembangan belajarnya. Sekali lagi mereka mengasah soft skill dan hard skill dalam frame sedang melaksanakan sekolah. Artinya dalam perencanaan, proses, dan evaluasi dari pendidik/ guru/ tutornya.

Selamat menyambut Tahun Pelajaran 2021-2022.

Pandemi COVID-19 Mampu Membangun Percaya Diri dalam Melaksanakan Belajar Dari Rumah

0

Belajar Dari Rumah (BDR) memberi pengakuan pada keluarga sebagai institusi yang bisa menjadi bagian penting dari belajar. Meski banyak keluarga yang kualahan, namun di masa pandemi Covid-19, para orang tua yang selama ini mengutamakan mendidik anaknya di rumah, mendapatkan pengakuan penting. Bagaimana kesempatan ini berkembang dan menambah semakin percaya diri orang tua?

Kampusdesa.or.id–Kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) sejak awal pandemi COVID-19 (Maret 2020) sejatinya mendorong orang tua memiliki rasa percaya diri lebih baik dalam mendidik anaknya sendiri. Jika sampai hari ini banyak orang tua dan anak menginginkan proses belajar di sekolah seperti sebelum pandemi, kemungkinan karena keduanya belum menyaksikan dan merasakan kelebihan proses belajar mengajar di dalam rumah.

Kebijakan Bekajar Dari Rumah (BDR)  dibarengi dengan kebijakan WFH (Work From Home) bukanlah  kebetulan semata. Ini adalah sekenario hebat dari Sang Mahakuasa. Orang tua memiliki kesempatan mengajar anaknya sendiri lebih leluasa.

Tentu saja, orang tua harus belajar agar memperoleh keterampilan mengajar jika orang tua berprofesi bukan dari kalangan dunia pendidikan. Belajar mengajar dan belajar mengantongi wawasan dan ilmu pengetahuan yang dipelajari anaknya bisa sambil jalan. Pendek kata, orang tua lebih tepatnya diposisi sebagai fasilitator. Tak harus menguasai materi pelajaran tapi menjadi teman belajar yang menyenangkan. Tak harus memberi pelajaran tapi bisa membangkitkan semangat ingin belajar pada diri anaknya sendiri.

Belajar Dari Rumah (BDR) dan WFH bagai pasangan yang ditakdirkan berjodoh. Kehadiran WFH adalah anugrah bagi para orang tua agar bisa menerapkan idealistis mengajar yang  disandarkan kepada sekolah anak-anaknya. Ketika orang tua mengharapkan bahkan menuntut metode mengajar dan konten materi pelajaran sesuai keinginannya dan juga keinginan anaknya, masa WFH inilah saatnya. WFH memberi kesempatan kepada orang tua mengelola pembelajaran untuk anaknya sendiri lebih berkualitas.

Pelajaran di sekolah yang disampaikan secara daring harus diselesaikan anaknya, ya tetap diselesaikan. Orang tua hanya mendampingi dan  memotivasi karena guru yang memberi materi pelajaran masih bisa diajak komunikasi secara daring. Antara lain bisa memberi penjelasan ketika anak belum bisa memahami pelajaran.

Sementara itu, tugas orang tua sebagai guru di rumah adalah menggali dan  mengembangkan minat dan bakat anaknya. Orang tua pasti lebih mengetahui minat dan bakat anak daripada guru dan warga sekolah. Orang tua juga tidak dikekang oleh serangkaian program sekolah yang tidak sesuai minat dan bakat anak.

Kita sudah setahun melaksanakan program Belajar Dari Rumah. Mau tidak mau orang tualah penentu kesuksesan belajar anak. Guru di sekolah sejatinya mendistribusikan ilmu pengetahuan tidak seberat tanggung jawab memotivasi anak belajar.

Melalui google classroom, group WA, dan aplikasi belajar lainnya guru hanya menjalankan mengajar dari jauh. Aktivitas belajar terasa normatif. Belajar mengajar berlangsung, namun suasananya tak sama jika belajar dengan orang tuanya.

Bagi orang tua yang memahami aturan belajar selama pandemi COVID-19, mendampingi dan mengajari anaknya belajar sebenarnya mudah. Belajar era pandemi COVID-19 tidak menuntut ketuntasan kurikulum. Tetapi, pembelajaran harus bermakna. (Baca SE Mendikbud No 4 Tahun 2020, SE Sesjen No 15 tahun 2020). Di sinilah orang tua bisa memainkan perannya sebagai guru era pandemi COVID-19.

Mendukung passion anak bisa menjadi mata pelajaran di rumah. Urusan paketan belajar dari sekolah terserah apa perintah gurunya. Orang tua tak perlu galau jika anak belum mampu mencapainya. Tugas di kelas online tak semuanya mampu dituntaskan seketika itu juga. Kesehatan menghadapi perangkat digital perlu diperhatikan. Selain itu kemampuan fisik dan pikiran memenuhi deadline belajar  tak bisa disamaratakan.

Menunggu berakhirnya pandemi COVID-19 sepatutnya tidak sekadar menunggu pengumuman kapan SFH dihentikan. Cerdas manakala orang tua tidak melulu berharap pada paketan pelajaran dari sekolah. Setahun sudah pengalaman menyaksikan SFH anaknya sendiri. Pantas jika orang tua memiliki inovasi kegiatan bagi anak agar SFH lebih bermakna.

Harapan dan rencana awal tahun pelajaran 2021-2022 bisa masuk tatap muka di sekolah, akhirnya berantakan juga. Saat ini telah muncul varian baru dari COVID-19. Kita semua kecele dengan harapan dan rencana kita.

Orang tua seyogyanya sudah mulai terbiasa mengisi hari BDR anaknya tidak saja sebagai supervisor bagi sekolah anaknya, tapi menjadi tokoh pendidik yang bisa diandalkan karena mampu menjadi fasilitator bagi pengembangan minat dan bakat anak. Diandalkan anak sendiri, dijadikan konsultan anak sendiri saat ingin mengembangkan passionnya.

Setahun yang lalu, saya berniat mengajar anak bungsu saya sendiri, tetapi diragukan suami. Setelah setahun belajar secara daring dengan guru sekolah formalnya, saya banyak bercerita bahwa perkembangan wawasan dan skill anak kami pesat. Perkembangan itu bukan tentang pelajaran di sekolahnya ,tapi skill di pengembangan minat dan bakat yang saya explore secara terencana.

Selayaknya orang tua percaya diri, bahwa pandemi COVID-19 telah mendatangkan hikmah. Hikmah bisa menjadi guru bagi anaknya, dengan mata pelajaran sesuai minat bakatnya.

Selamat memanen hasil sebagai guru BDR kepada para orang tua yang telah menjalaninya.

Selain mengeksplorasi minat dan bakatnya, pembentukan akhlak mulia juga menjadi prioritas kami dalam mendidik anak. Dalam pandemi COVID-19 ini, orang tua bisa lebih fokus menyaksikan perkembangan akhlaknya.

Bungsu saya ini memiliki minat besar di dunia digital. Ini matching dengan kebutuhan saat ini. Usia tua dan muda pasti berinteraksi dengan dunia digital gara-gara WFH dan BDR demi melaksanakan social distance. Kemampuannya di bidang digital tidak menjadikannya sibuk urusannya sendiri. Saya sering dibantu dalam mengoperasikan perangkat digital.

Cara saya mengeksplorasi dan menjaga minat dan bakatnya dengan meminta bantuannya atas semua aktivitas WFH saya melalui perangkat digital. Dalam prespektif saya, ia sedang mendemonstrasikan kemampuannya, tapi dalam prespektif anak saya, dia sedang membantu saya. Kalau dia belum punya ilmu atas apa yang saya minta, ia mencari tahu melalui YouTube atau sumber lain. Inilah saya kira yang menyebabkan wawasannya terus bertambah dan bermanfaat.

Saya yakin dia senang saya mempercayai kemampuannya. Saya pun tetap bisa mengukur dan mengevaluasi pengembangan minat dan bakatnya. Dalam pendidikan kesetaraan Paket B namanya mata pelajaran pemberdayaan. Dia di jenjang Paket B setara SMP saat ini.

Dia juga mendapat informasi apa saja yang terjadi dalam skala nasional dan internasional dari hasil interaksinya dengan perangkat digital. Saya memantau hasil kegiatannya itu melalui tingkah laku dan kualitas topik yang dibicarakan.

Kami juga saling mengingatkan untuk jeda dari kegiatan yang terus menerus dalam berinteraksi dengan perangkat digital, agar kesehatan kami tidak terganggu akibat radiasi atau kondisi tubuh dalam posisi tetap, tidak banyak gerak karena fokus dengan kegiatan perangkat digital.

Saya ambil cara menjarangkan interaksi dengan perangkat digital bagi si bungsu dengan menawarkan aturan.

“Jika banyak nge-game, maka ngajinya juga banyak.” Cara saya membangun komitmen dalam membagi waktu bermain dan mengaji. Dampaknya, dia sudah terbiasa mengaji Al-Qur’an tiap usai salat fardhu.

Tahun pelajaran 2021-2022 ini saya mantab mengambil alih pendidikan anak bungsu saya dari sekolah formal. Dia saya edukasi sendiri melalui homeschooling yang saya selenggarakan. Suami saya tidak ragu lagi mendukung keputusan saya. Pelajaran sekolah bisa gabung dengan lembaga pendidikan nonformal yang saya kelola yaitu PKBM Bestari, sementara minat bakatnya saya sendiri yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Tips Cerdas dalam Bergaul

0

Bergaul dan berteman merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Apabila kita analogikan โ€œtemanโ€ merupakan seorang individu yang menjalin hubungan relasi setelah berkenalan. Sementara, โ€œgaulโ€ merupakan sebuah bagian dari proses aktivitas pertemanan. Maka dari itu, kita harus memiliki beberapa kriteria sebelum mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam lingkungan pergaulan kita.

Kampusdesa.or.id — Kita tentu paham bahwa pergaulan dapat menentukan masa depan kita kelak. Maka dari itu, kita harus lebih selektif dalam memilih dengan siapa kita bergaul pergaulan. Tetapi, bukan berarti kita pilih-pilih teman. Karena jika pilih-pilih teman, maka tentunya akan disebut sombong. 

Pilih-pilih teman memang tidak boleh. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan seseorang baik berdasarkan suku, ras, maupun agamanya. Namun, kita harus pintar dan selektif dalam bergaul. 

Perlu dipahami bahwa bergaul dan berteman merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Apabila kita analogikan โ€œtemanโ€ merupakan seorang individu yang menjalin hubungan relasi setelah berkenalan. Sementara, โ€œgaulโ€ merupakan sebuah bagian dari proses aktivitas pertemanan. 

Maka dari itu, dalam siklus kehidupan ada yang namanya inner circle. Di mana dalam 100% pertemuan, hanya akan ada 50% orang yang akan menjadi kenalanmu. Dan dari 50% kenalanmu itu, hanya akan ada 20% orang yang menjadi temanmu. Kemudian, dari 20% pertemanan itu, hanya ada 2% yang menjadi bagian dari pergaulan atau inner circle kita (Tampenawas, 2019).

Dalam inner circle yang menjadi bagian dari 2% ini, kita harus benar-benar memilah dan memilih siapa saja yang boleh masuk ke dalamnya. Karena golongan 2% inilah yang akan menjadi lingkaran pergaulanmu dan menentukan masa depanmu di masa mendatang, agar golongan 2% ini dapat menunjang masa depan kita menjadi orang yang sukses. 

Maka, kita harus memiliki beberapa kriteria sebelum mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam lingkungan pergaulan tersebut. Hal ini pun dijelaskan dalam sebuah Hadist Rasulullah saw., yang artinya โ€œPemisalan teman yang baik dan yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, ataupun engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.โ€ (H.R Bukhari-Muslim). 

Dari hadits tersebut bisa kita pahami bahwa dalam menentukan pergaulan kita harus lebih berhati-hati. Oleh karenanya, sebelum mengizinkan seseorang masuk ke dalam pergaulan kita, maka kita harus menentukan beberapa kriteria seperti, orang yang memiliki frekuensi ritme hidup yang sama. Maksudnya, kita harus mengizinkan orang-orang yang dapat menunjang keberhasilan kita di masa mendatang untuk masuk kedalam lingkaran pergaulan kita.

Kriteria lain adalah orang yang memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas. Orang-orang inilah yang akan membantu kita untuk terus termotivasi mewujudkan tujuan dan meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, kita juga harus memasukan kriteria orang yang memiliki pemikiran yang positif. Dalam kriteria ini kita harus benar-benar memperhatikannya. Sebagai contoh kita harus bisa mencari orang yang memiliki pemikiran positif akan dirinya, lingkungan juga masa depannya. 

Carilah orang yang pembahasannya berbobot dan berkualitas ketika berdiskusi. Ini tentunya akan membantu mengasah kemampuan intelektual kita. Selanjutnhya, hindari orangorang yang suka membicarakan orang lain atau istilahnya ngegosip atau gibah. Kita tentu tidak ingin berada di lingkungan orang-orang seperti ini. Karena bisa jadi kita yang akan mereka jadikan bahan gosip, ketika tidak ada diantara mereka.

Dengan adanya kriteria tersebut harapannya akan berguna untuk menghindari kalian dari toxic relationship. Dan tentunya akan berpengaruh pula pada kehidupan kita. Sehingga dengan kita memiliki lingkaran pergaulan yang positif dan suportif, maka akan membantu kita menjadi pribadi yang positif, suportif, dan tangguh dalam menjalani hidup. 

Oleh karenanya, mulai sekarang kita harus cerdas dan selektif dalam bergaul. Menyaring pertemanan kita sebelum menjadikannya lingkaran pergaulan. Kemudian, mulailah untuk membangun lingkaran pergaulan yang akan membantu kalian untuk mewujudkan mimpi kita dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai persatuan, moral, dan agama demi masa depan kita yang gemilang. 

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Pengasuhan Anak Berbakat, Bisakah Menjanjikan Masa Depan Sesuai Cita-Cita Anak?

3

Mendapati anak yang bakatnya muncul sejak dini sungguh menyenangkan. Tapi apakah bakat anak dan kesukaannya dapat mengantarkan anak sukses di kemudian hari? Bagaimana semestinya menjadikan bakat dan kesukaan anak dapat menjadi bagian dari kesuksesan di masa depan? Pengasuhan anak yang benar, iklim sosial yang mendukung, ketabahan, daya juang, dan inisiatif karir yang relevan adalah jawaban penting dari sekedar membanggakan bakat mereka.

Kampusdesa.or.idโ€“Pertanyaan. Assalamuโ€™alaikum. Mohon pencerahannya. Anak saya umur 11 tahun, duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Dia senang pelajaran matematika dan ingin menjadi pengusaha yang sukses. Kira-kira metode pengasuhan dan pendidikan sosial yang bagaimana yang seharusnya saya terapkan sebagai pola asuh. Pertanyaan disampaikan oleh pemilik akun facebook @inayrus

Waโ€™alaikumsalam Wr. Wb. Mbak @Inayrus yang terhormat, saya mau langsung menjawab di komentar, sepertinya butuh berpikir dulu. Pertanyaan mbak Inay membikin saya perlu jeda dan berpikir. Maklum, kadang saya merasa memang jawaban tersebut butuh waktu menulis lebih fokus karena pikiran saya tak secanggih para jenius. Butuh momen agak serius dan kontemplasi. Akhirnya, saya sampaikan dalam tulisan berikut.

Anak usia 11 tahun sudah menemukan yang disukainya adalah berkah bagi orang tua. Sungguh tidak semua orang tua beruntung seperti itu. Perlu kiranya disyukuri bahwa anak-anak kita punya keistimewaan. Apalagi menyukai matematika. Pelajaran itu bikin banyak anak alergi karena mungkin rumitnya logika dan kompleksnya cara belajar matematika. Selain abstrak, butuh ingatan yang jlimet dan tekun untuk berpikir di jalur yang detil, dalam, dan panjang. Kerja memori dan logika bikin anak memang kesulitan karena anak masih suka imajinasi daripada bernalar logis. Jadi bersyukurlah jika dia anak yang sudah mampu membangun logika matematika.

Sebelumnya, saya punya pengalaman dengan anak saya. Suatu waktu dia sangat menyukai sesuatu, tetapi di lain waktu, dia akan bergeser ke kesukaan yang lain. Cukup lama anak saya sangat suka membaca. Kesukaannya bertahan bertahun-tahun. Tapi, saat tugas mendera dan full-day school diterapkan, kenyamanan membaca perlahan tergantikan oleh tugas sekolah. Akhirnya dia berubah menyukai desain, terutama saat di SMA. Desain itu akhirnya menjadi sebagian pilihan masa depan, termasuk memilih jurusan desain, tapi lagi-lagi, syarat memasuki kuliah desain tidak menjadi keberuntungannya. Anak saya akhirnya berbelok memilih kuliah ekonomi. Namun, karena desainnya dibutuhkan di organisasinya, sepertinya kesenangan desain tetap bertahan karena selain dia suka, dia pun mendapat pengakuan publik, meskipun tidak sebaik para desainer kelas wahid seusianya.

Berpindah kesukaan nampak juga terjadi pada anak kedua saya. Pengalaman ini memantik kesimpulan saya, sangat mungkin anak-anak itu bergonta-ganti kesukaan. Kesukaan itu momentun. Yakni suatu masa anak memang lagi demam sesuatu yang dia sukai. Tetapi juga kesukaan itu akan berganti karena waktu kesukaannya tidak lagi trend bagi dirinya. Boleh jadi akan bergeser ke kesukaan lainnya.

Lalu bagaimana dengan anak yang menyukai matematika?

Bagaimana orang tua kemudian menyikapinya? Senyampang anak menyukainya, orang tua patut menghargainya dan sebaiknya menghindari untuk memaksa anak melebihi dari kebiasaan menyukainya. Seperti memaksa mengikuti kompetisi sementara dia tidak berharap lebih dari sebagaimana orang tua menginginkan anaknya menjadi terkenal. Pastikan memang anak-anak tidak keluar dari jalur kesukaannya hanya gara-gara orang tua memaksa melebihi dari nilai aktual si anak.

Pastikan memang anak-anak tidak keluar dari jalur kesukaannya hanya gara-gara orang tua memaksa melebihi dari nilai aktual si anak.

Kecuali bagi anak yang gifted (berbakat). Dia tidak hanya suka tetapi diberi kelebihan memang dia mudah, cepat, dan barangkali ahli di bidang yang dia lakukan. Anak-anak yang berbakat, kemampuannya akan bertahan lama. Dia tidak hanya suka, tetapi dia memang memiliki kemampuan menggeluti apa yang dia pilih.

Baca juga: Orang Tua sebagai Mursyid bagi Anak-anaknya di Dunia Maya

Saran saya jika memang anak berbakat, dia perlu dijembatani agar bakatnya dapat selaras dengan cara dia memilih hidupnya. Tentunya ini butuh pendampingan dan pemberdayaan diri dalam waktu yang panjang.

Jadi bukan tentang kesukaan, tetapi saat melakukan sesuatu dia merasa bahagia dan terjawab eksistensinya. Bakat anak akan mengantarkan kesuksesan manakala dia mendapat pengakuan publik dan memeroleh imbalan yang menjadikan dia bisa hidup dengan bakatnya. Swjumlah kasus, ada banyak juga orang berbakat tetapi dia memilih jalan yang berbeda demi untuk menghidupi dirinya. Saran saya jika memang anak berbakat, dia perlu dijembatani agar bakatnya dapat selaras dengan cara dia memilih hidupnya. Tentunya ini butuh pendampingan dan pemberdayaan diri dalam waktu yang panjang.

Terlepas apa anak Anda berbakat atau sebatas menyukai matematika, yang paling penting adalah memupuk dan memberikan rangsangan yang terus menerus secara kreatif agar anak mendapatkan pengalaman positif saat momen menyukai matematika muncul dan menguat. Tumbuhkan daya juang yang relevan dengannya. Menurut buku Grit, Angela Duckworth, orang berbakat yang sukses tetap butuh ketabahan dan daya juang. Tanpa itu, kemampuan bakatnya hanya menjadi kebanggaan diri tanpa menuai hasil dalam hidupnya. Bagi orang tua, membelajari dan memotivasi anak untuk tabah dan berdaya juang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran orang tua.

Bagaimana dengan keinginan menjadi pengusaha?

Berwirausaha tidak semata tentang ilmu tapi membutuhkan pengalaman baik. Untuk itu pengalaman positif dan praktis tentang wirausaha sebaiknya juga dikenalkan pada anak sesuai masa perkembangannya. Anak-anak bisa dikondisikan untuk diajak mengenali para profil wirausaha sukses. Bisa juga dikondisikan mendapatkan teman-teman yang suka latihan berwirausaha. Pembelajaran wirausaha dapat dibiasakan misalnya dengan latihan menabung, latihan berjualan lecil-kecilan. Bisa dilatih di sekolah bersama teman-temannya. Bisa juga dilatih menabung emas di pegadaian dan banyak lagi yang lainnya. Rangsangan dari luar yang kreatif sangat membantu anak mendapatkan pengalaman kecil yang positif. Bagi anak-anak, pengalaman kecil-kecil yang beraneka ragam seperti itu jauh lebih penting daripada mendapatkan satu pengalaman saja yang serius tetapi penuh dengan tekanan.

Matematika bisnis juga sebaiknya diberikan sebagai bahan pengayaan belajar atau bermain matematika anak.


Orang tua dan guru bisa melatih atau memberikan praktik wirausaha dengan menyertakan aplikasi praktis matematika. Misalnya belajar literasi finansial. Anak diberi permainan pasar-pasaran dan diberi tugas memraktikkan menghitung modal, laba, rugi, atau diajak latihan menghitung aset. Boleh juga kalau orang tuanya berdagang, anak-anak bisa dilibatkan untuk latihan pembukuan. Ini seperti praktik akutansi. Kita tahu hampir seluruh praktik akutansi melibatkan matematika. Matematika bisnis juga sebaiknya diberikan sebagai bahan pengayaan belajar atau bermain matematika anak. Tentu sesuai dengan perkembangan nalar mereka ya Mbak. Silahkan digoogling saja, sangat banyak beberapa permainan, game online misalnya, yang melibatkan unsur matematika dan dunia bisnis. Masih banyak contoh lain yang bisa dikembangkan.

Baca juga: Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah

Keinginan seperti cita-cita. Dia asyik tapi kalau tidak mendapatkan pengalaman kecil yang baik sejak dini, keinginan itu akan menguap seiring berjalannya waktu. Inilah yang biasanya hilang dan luput dari sekolah. Kita dulu mungkin pernah begitu. Bercita-cita ini itu tetapi menguap seiring dengan rutinitas sekolah atau nasib yang berkata lain. Kebutuhan riil yang mendesak sehingga keinginan tinggallah mimpi. Bahkan keinginan, cita-cita, dan bakat kadang tidak mendapatkan tempat di kemudian hari karena memang secara praktis kita sulit mendapat ruang kerja yang sepadan. Akhirnya, yang penting mendapat pekerjaan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan cepat.

Pemesanan, hubungi penulis dengan inbox di sosial media
Orang tua sebaiknya pandai mencuri momentum. Saat anak menyukai matematika dan bercita-cita menjadi pengusaha, mainkan aneka rangsangan sehingga anak merasa situasi eksternalnya sangat mendukung. Aji mumpung anak menyukai. Hindari penunggalan pengalaman karena ritme perkembangan anak tidak saklek dan menyukai hanya satu kesempatan saja. Orang tua juga tidak boleh kagetan ketika anak bergeser kesukaan. Berdiri selalu mendukung dan memberikan peraga yang baik bagi anak pun dapat dilakukan sebanyak anak berganti aneka kesukaan. Jika suatu waktu anak bergeser dari kesukaan yang lain, orang tua pun tetap hadir sebagai pemberi dukungan, tanpa menyayangkan anaknya tidak lagi menyukai seperti harapan orang tua.

Urgensi Literasi Dalam Pemilu (Bagian 3)

0

Urgensi literasi dalam pemilu belum menjadi perhatian masyarakat luas. Literasi tidak โ€œjalanโ€ karena kesadaran, pikiran kritis dan terbuka hilang. Justru terganti dengan partisipasi โ€œaji mumpungโ€, jangka pendek, oportunis, diiringi sikap pesimis. Tiadanya kesadaran untuk bangkit merubah keadaan berdasarkan analisa yang kritis dan pemahaman komprehensif terhadap masalah-masalah politik dan relasi kuasa menandakan bagaimana literasi politik tidak hidup. Tanpa literasi, orang-orang akhirnya berpolitik untuk tujuan yang sangat naif. Harga diri digadaikan dengan hal-hal yang murah. Jika Tan Malaka mengatakan bahwa Idealisme adalah kemewahan, maka orang-orang berpolitik dengan harga diri yang amat murah.

Kampusdesa.or.id — Sebenarnya banyak bidang literasi lainnya yang bisa digunakan untuk melihat tahapan Pemilihan yang ternyata jauh dari literasi demokrasi. Jenis literasi visual, sebagai literasi dasar, misalnya, juga data digunakan untuk melihat sejauh mana kampanye menggunakan tampilan-tampilan visual secara cerdas. Bagaimana mereka membuat alat peraga kampanye, bahan kampanye, termasuk juga tayangan-tayangan kampanye di media. Bagaimana pula rakyat (calon pemilih) menangkapnya. Bagiamana literasi media dan media sosial dalam proses-proses kampanye. Sangat banyak yang bisa digambarkan.

Sementara dari secuil bidang literasi saja, sudah tampak nyata bahwa Literasi tak hadir, baik dalam demokrasi elektoral maupun non-elektoral (dunia politik lebih luas). Dengan mengambil contoh dari sisi peserta Pemilu (baik partai politik maupun calon-calonnya) kita sudah bisa melihat absennya literasiโ€”atau jangan-jangan malah proses โ€˜iliterasiโ€™ yang justru terjadi. Jangan-jangan justru proses pembodohan yang sedang berjalan.

Pemilu yang dianggap ritual lima tahunan belum mampu memberikan โ€˜outputโ€™ berupa para pemimpin dan wakil rakyat yang memperjuangkan mereka.

Lalu bagaimana dengan sisi masyarakat dan calon pemilih? Sudah menjadi sumber kekhawatiran juga bahwa tradisi masyarakat yang pesimis terhadap politik, termasuk sikap pragmatis-oportunis terhadap demokrasi โ€œpilih-memilihโ€. Pemilu yang dianggap ritual lima tahunan belum mampu memberikan โ€˜outputโ€™ berupa para pemimpin dan wakil rakyat yang memperjuangkan mereka.

Sedangkan melihat situasi seperti itu, mereka  justru โ€œngambegโ€ dan hanya bisa menyalahkan. Pada hal bisa jadi mereka juga berperan untuk membuat politik โ€œrusakโ€ dalam artian tidak berimbas pada perbaikan nasib mereka, tapi justru melahirkan elit-elit yang mengejar keuntungan dengan memanfaatkan posisi untuk memperkaya diriโ€”termasuk memanfaatkan duit negara.

Budaya korupsi yang lebih banyak penyalahgunaan wewenang politik kian membuat rakyat pesimis, dikhianati, dan justru tidak percaya pada proses-proses politik (termasuk Pemilu/Pemilihan). Akhirnya mereka mengambil sikap balas dendam dengan menjadi oportunis-pragmatis, mau datang ke TPS jika mereka mendapatkan keuntungan material. Masyarakat yang โ€œngambegโ€ dan merasa โ€œtersakitiโ€ perilaku elit, dan hanya ambil bagian dengan motif โ€œlicikโ€ dan โ€œaji mumpungโ€ ini juga berkontribusi merusak keadaan.

Tanpa literasi, orang-orang akhirnya berpolitik untuk tujuan yang sangat naif. Harga diri digadaikan dengan hal-hal yang murah.

Di sini, literasi tidak โ€œjalanโ€ karena kesadaran, pikiran kritis dan terbuka hilang. Justru terganti dengan partisipasi โ€œaji mumpungโ€, jangka pendek, oportunis, diiringi sikap pesimis. Tiadanya kesadaran untuk bangkit merubah keadaan berdasarkan analisa yang kritis dan pemahaman komprehensif terhadap masalah-masalah politik dan relasi kuasa menandakan bagaimana literasi politik tidak hidup. Tanpa literasi, orang-orang akhirnya berpolitik untuk tujuan yang sangat naif. Harga diri digadaikan dengan hal-hal yang murah. Jika Tan Malaka mengatakan bahwa Idealisme adalah kemewahan, maka orang-orang berpolitik dengan harga diri yang amat murah. Kemiskinan literasi membuat orang menjual dirinya secara murah: suara di TPS ditukar dengan uang atau materi. Budaya โ€œvote-buyingโ€ (jual-beli suara) adalah salah satu bentuk politik transaksional yang menghapus Idealisme dan Ideologi dari kamus politik.

Ketika saya menunjukkan bahwa yang hilang adalah literasi padahal ia adalah penting bagi munculnya akar-akar yang kuat bagi tumbuhnya sebuah pohon demokrasi, maka isu ini yang harus kita perbincangkan lagi.

Literasi demokrasi yang hilang itu harus segera dikembalikan dari politik kita. Siapa yang harus memulai? Tentu saja siapapun yang sadar dulu harus lebih dulu memulai. Ini adalah kerja-kerja penyadaran. Pertama-tama adalah menunjukkan apa yang terjadi pada politik kita. Ketika saya menunjukkan bahwa yang hilang adalah literasi padahal ia adalah penting bagi munculnya akar-akar yang kuat bagi tumbuhnya sebuah pohon demokrasi, maka isu ini yang harus kita perbincangkan lagi. Literasi ini yang harus kita bawa lagi dalam politik dan demokrasi kita.

Referensi:
Stanley J. Baran. (2012). Pengantar Komunikasi Massa: Melek Media dan Budaya. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional. Jakarta.
Joko Santoso, โ€œMenakar Membaca Setelah Merdekaโ€, dalam https://nasional.sindonews.com/read/327632/18/menakar-membaca-setelah-merdeka-1612699332.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Serat Ambiyo; Pertemuan Islam dan Jawa Bukti Pluralisme adalah Dasar Kebudayaan Agama-agama

Literasi Baca-Tulis dan Demokrasi (Bagian 2)

0

Literasi dan revolusi politik menuju masyarakat demokratis memang seringkali dipicu oleh bacaan-bacaan dan tulisan, yang tentunya memungkinkan terjadi karena kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan berliterasi yang juga digunakan untuk membangun kekuatan masyarakat banyak akhirnya jadi kekuatan kontrol yang riil dan kuat, yang siap membuat tokoh-tokoh dan elit di Lembaga politik dan pemerintahan mau tak mau harus menuruti kehendak rakyat. Lalu kekuatan-kekuatan baru berbasis ilmu pengetahuan lahir dan terus menguat. Kekuatan inilah yang akhirnya menghancurkan sistem lama. Tatanan otoriter dilawan oleh kaum pejuang demokrasi. Negara republik dan demokrasi kemudian lahir dengan tradisi baca-tulis di kalangan masyarakatnya.

Kampusdesa.or.id. — Dari melek aksara menuju kemampuan membaca yang aktif. Dalam arti membaca dan mendapatkan pengetahuan dari proses tersebut. Literasi dalam kehidupan demokrasi tentunya mensyaratkan adanya kemampuan membaca dan menulis yang baik.

Aktor-aktor demokrasi memiliki pengetahuan dan pemahaman yang  lebih tentang fungsi negara dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk memberikan pesan-pesan politik yang sifatnya edukatif melalui pidato (orasi) dan tulisan. Masyarakat juga memiliki tradisi membaca untuk menerima pesan-pesan politik yang mendidik dan mencerahkan. Selanjutnya tradisi membaca dan kemampuan memahami persoalan-persoalan yang ada juga mendorong masyarakat menanggapi isu-isu yang berkembang secara cerdas, mampu menanggapi pesan-pesan politik yang disampaikan elit-elit politik.

Lalu kemampuan literasi masyarakat menjadi dasar bagi  pemahaman yang kritis, yang diungkapkan lewat keaktifan bersuara  menyampaikan pesan pada elit dan tokoh-tokoh di Lembaga-lembaga politik dan pemerintahan. Kemampuan berliterasi yang juga digunakan untuk membangun kekuatan masyarakat banyak akhirnya jadi kekuatan kontrol yang riil dan kuat, yang siap membuat tokoh-tokoh dan elit di Lembaga politik dan pemerintahan mau tak mau harus menuruti kehendak rakyat. Kira-kira begitulah alur dari bagaimana Literasi Baca-Tulis bisa menjadi sebuah kekuatan bagi terciptanya demokrasi yang hakiki (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat).

Kalau kita menengok sejarah masyarakat, lahirnya sistem masyarakat demokratis dimulai dari tradisi membaca dan menulis. Eropa yang sejak abad ke-15 mengalami penyebaran bacaan-bacaan dan melahirkan tradisi membaca untuk menyebarkan pandangan-pandangan baru yang lebih objektif-rasional dan kritis (menghancurkan pandangan irasional).

Kemampuan berliterasi yang juga digunakan untuk membangun kekuatan masyarakat banyak akhirnya jadi kekuatan kontrol yang riil dan kuat, yang siap membuat tokoh-tokoh dan elit di Lembaga politik dan pemerintahan mau tak mau harus menuruti kehendak rakyat.

Lalu kekuatan-kekuatan baru berbasis ilmu pengetahuan lahir dan terus menguat. Kekuatan inilah yang akhirnya menghancurkan sistem lama. Tatanan otoriter dilawan oleh kaum pejuang demokrasi. Negara republik dan demokrasi kemudian lahir dengan tradisi baca-tulis di kalangan masyarakatnya.

Pun juga di Amerika Serikat. Negara baru ini juga menyembur ke permukaan bumi bersama lahar tradisi baca-tulis. Tradisi menulis telah melahirkan munculnya deklarasi-deklarasi tertulis tentang demokrasi dan hak-hak manusia. Sebagaimana digambarkan oleh Stainly J. Baran dalam buku โ€˜Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Cultureโ€™ (2008), mesin cetak sudah masuk di benua yang kemudian menjadi Amerika Serikat pada tahun 1638โ€”satu abad lebih sebelum kemerdekaan Amerika Serikat. Sejak tahun 1770-an, buku menjadi alat utama untuk melawan penjajahan Inggris. Pembangkangan-pembangkangan politik terjadi karena orang-orang membaca buku-buku tipisโ€”atau yang sering disebut pamflet. Yang paling terkenal adalah karya Thomas Paine, pamflet 47 halaman yang berjudul โ€˜Common Senseโ€™. Buku itu dalam tiga bulan terjual 12.000 eksemplar. Populasi total orang dewasa di benua itu saat itu adalah 400.000. Belum lagi karya Thomas Paine yang lain seperti โ€˜American Crisisโ€™, serangkaian  pamflet yang ditulis dalam kurun  1776 hingga 1783.

Kelahiran bangsa yang demokratis selalu tak lepas dari tradisi tulisan yang kemudian dijadikan kitab (buku) yang menjadi aturan-aturan dalam mendirikan dan menjalankan negara. Untuk melawan penjajahan Inggris, awalnya orang-orang Amerika punya tulisan-tulisan seperti โ€˜Consideration on the Nature and Extent of the Legislative Authority of British Parliementโ€™ karya James Wilson; โ€˜Novanglus Paperโ€™ karya John Adam; dan โ€˜A Summary View of the Right of British Americaโ€™ karya Thomas Jefferson.

Literasi dan revolusi politik menuju masyarakat demokratis memang seringkali dipicu oleh bacaan-bacaan dan tulisan, yang tentunya memungkinkan terjadi karena kemampuan membaca dan menulis. Bukan hanya di negara-negara Barat yang memang sudah masuk pada era Republik dan Demokrasi lebih dulu, tetapi juga di negara-negara dunia Ketiga belakangan, yang memang tradisi melek huruf dan budaya baca-tulisnya ditularkan dari negara-negara Barat.

Di Jawa, tradisi melek huruf dan budaya baca-tulis modern muncul belakangan akibat kebijakan penjajah kolonial dan pergaulan di kalangan masyarakat akibat interaksi dengan orang-orang dari luar. Politik etis dengan pendidikan modern, Bali Pustaka dengan lembaga penyebar buku, โ€œbacaan liarโ€, dan jurnalisme non-pemerintah semarak di awal abad 20. โ€œToday readers, tomorrow leader!โ€โ€”adalah slogan yang berlaku sejak dulu. Jaman pergerakan muncul dengan bacaan dan terbitan. Para โ€˜readersโ€™ yang beruntung enyam pendidikan lebih tinggi akhirnya jadi para โ€˜leaderโ€™ Pergerakan.

โ€œBukan saja kita harus menang di medan perang, tetapi juga dalam hal memberantas buta huruf kita!”
Bung Karno

Dengan gerakan yang diramaikan dengan terbitan dan bacaan, akhirnya Indonesia merdeka. Tapi memang harus diakui bahwa literasi belum massif menjadi bagian penting bagi masyarakat Indonesia. Di awal kemerdekaan, 95% persen penduduk masih buta huruf.  Menurut catatan Joko Santoso, Kepala Biro Perencanaan Perpustakaan RI, di sebuah esainya di Harian Sindo (08/02/2021), pada tanggal 14 Maret 1948, Bung Karno mencanangkan Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Saat itu, Indonesia sedang berada dalam masa pertempuran melawan agresi militer Belanda. Dalam suasana perang, Bung Karno menyerukan: โ€œBukan saja kita harus menang di medan perang, tetapi juga dalam hal memberantas buta huruf kita!”

Kursus Pemberantasan Buta Huruf di 18.663 tempat, yang melibatkan 17.822 orang guru dan 761.483 orang siswa. Sejak saat itu gerakan pemberantasan buta huruf dianggap sebagai program yang mendesak untuk terus dilakukan. Pada tahun 1960, Bung Karno mengeluarkan Komando โ€œIndonesia terbebas buta-huruf 100%โ€. Mobilisasi masyarakat dikerahkan untuk tujuan ini. Pada tahun 1964, semua penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Papua), dinyatakan bebas buta huruf oleh UNESCO.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

PENGUATAN KELUARGA SEBAGAI PENGAWAL GENERASI EMAS | PSIKOLOGI KITA | Wiwin Hendriani