Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda blog Halaman 17

Media Sosial dalam Pembelajaran: Masih Relevankah Penolakan?

0

Media sosial hari ini telah menjadi realitas yang sulit dipisahkan dari keseharian peserta didik kita. Hampir setiap saat mereka ditemani oleh media sosial. Terlepas banyaknya dampak negatif yang menyertai, kehadiran media sosial sesungguhnya juga menyimpan segudang manfaat. Banyak inovasi-inovasi pembelajaran yang bisa kita lakukan melalui media sosial.

Kampusdesa.or.id-Sampai dengan hari ini, masih banyak di antara kita yang bersikap resisten terhadap media sosial. Label negatif menjadi dinding penghalang yang kukuh, tinggi, dan tebal bagi kita untuk dapat melihat sisi positif kehadirannya. Umumnya, kita beranggapan bahwa media sosial itu main-main atau buang-buang waktu, membuat anak bodoh karena lupa belajar, menjerumuskan anak ke hal-hal negatif, dan sebagainya. Intinya, media sosial berdampak buruk bagi anak. 

Berbekal anggapan tersebutlah, alih-alih pendidik memanfaatkan media sosial untuk mendukung kegiatan pembelajaran, mereka justru membentengi peserta didik agar tidak sampai bersentuhan dengannya. Jadilah di sekolah muncul peraturan dilarang membawa HP. Jika pun boleh, peserta didik dilarang membukanya di kelas pada saat jam pelajaran. Meskipun peraturan seperti ini belakangan sudah mulai agak berkurang, tapi tetap saja belum banyak pendidik yang mau memanfaatkan HP dalam kegiatan pembelajaran, termasuk media sosial.

Baca Juga: Kenapa Hoax Covid-19 Cepat Viral di Media Sosial?

Media sosial dapat mendukung orang tua, peserta didik, dan guru untuk menggunakan cara-cara baru dalam berbagi informasi dan membangun komunitas yang produktif

Manfaat Media Sosial dalam Pembelajaran

Berkaitan dengan hal ini, ada tulisan menarik dari Lori Wade berjudul How Social Media Reshaping Todayโ€™s Education System. Dalam tulisan ini Wade menegaskan tidak ikut larut dalam debat berkepanjangan tentang dampak positif dan negatif media sosial dalam kehidupan, ia fokus menyoroti begitu banyaknya cara media sosial mempengaruhi sistem pendidikan. Menurutnya, media sosial dapat mendukung orang tua, peserta didik, dan guru untuk menggunakan cara-cara baru dalam berbagi informasi dan membangun komunitas yang produktif.

Silakan coba Anda telusuri, dari semua peserta didik Anda, berapakah yang menjadi pengguna internet? lalu, berapakah di antaranya yang menjadi pengguna media sosial? Asumsi saya, hampir semua peserta didik Anda merupakan pengguna internet dan paling tidak menjadi pengguna satu media sosial.

Berdasarkan survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2020, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 73,7 persen atau setara dengan 196,7 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, sebanyak 95,4 persen terhubung dengan internet melalui HP atau smartphone. Sebanyak 51,5 persen menggunakan internet untuk mengakses media sosial.

Baca Juga: Selamat Tinggal Televisi, Selamat Datang Media Sosial

Angka tersebut tentu akan terus merangkak naik. Untuk melihat sejauh mana penggunaan media sosial oleh anak, kita dapat dengan mudah melakukannya. Cukup berjalan-jalan saja melewati tempat-tempat yang biasa dijadikan anak bermain, kita akan menemukan mereka sedang asyik menatap layar HP masing-masing. Nah, coba bayangkan jika kita bisa memanfaatkan dengan maksimal media sosial untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan. Tentu banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh. Bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada sibuk mengutuk kegelapan?

Misalnya, guru bisa memberikan tugas kepada peserta didik untuk melakukan studi kasus melalui media sosial. Mereka disuruh mengamati bagaimana netizen merespons berita-berita yang tengah beredar. Bisa juga misalnya, guru menyuruh peserta didik membuat semacam flyer, poster, atau video pendek berisi ajakan melakukan hal-hal positif seperti donasi, anjuran hidup sehat, atau sekadar tips dan trik lalu mengunggah di akun media sosial. Penilaian bisa dilakukan dengan mengamati seberapa banyak respons netizen (like, comment, share) terhadap unggahan mereka.

Baca Juga: Membangun Critical Thinking dalam Bermedia Sosial

Peserta didik akan lebih merasa senang dan tertantang dengan model tugas seperti ini daripada hanya menjawab soal di lembar-lembar jawaban. Apalagi jika mereka merupakan pengguna aktif media sosial. Lumayan bisa menambah konten dan follower. Selain itu, dari segi kemanfaatan, bayangkan berapa orang yang bisa mereka jangkau dan mendapat manfaat dari konten positif mereka. Berdasarkan survei BPS dan APJII, konten hiburan yang paling banyak dikunjungi pengguna internet Indonesia adalah video online, yaitu sebanyak 49,3 persen.

Model kurikulum kita sendiri juga menekankan kontekstualisasi pembelajaran. Salah satu bentuknya adalah dengan melibatkan penggunaan teknologi dan media digital dalam pembelajaran. Peserta didik kita telah terbiasa berinteraksi dengan teknologi dan media digital. Dari bangun tidur, hingga tidur lagi mereka tidak lepas dari dua hal ini. Sehingga, memisahkan keduanya dari proses pembelajaran sama dengan kita memisahkan peserta didik dari dunia nyata. Kelas pun tak ubahnya seperti penjara.

Pada level satuan pendidikan, media sosial juga bisa menjadi sarana komunikasi yang cukup efektif kepada para pelanggan

Sarana Promosi Satuan Pendidikan

Pada level satuan pendidikan, media sosial juga bisa menjadi sarana komunikasi yang cukup efektif kepada para pelanggan. Misalnya, informasi-informasi penting diunggah di media sosial, sehingga orang tua, peserta didik, dan masyarakat umum dapat dengan mudah mengaksesnya. Saat ini, sudah banyak sekolah-sekolah yang melek literasi media. Mereka melakukan promosi melalui Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.Ucapan Carla Dawsonโ€“Digital Marketing Professor at the Catholic University of Cordobaโ€“yang dikutip Wade dalam tulisannya di atas menarik untuk kita perhatikan. Dawson berkata, โ€œWe live in a digital ecosystem, and it is vital that educational institutions adaptโ€.

Seberapapun kita menolak, laju perkembangan teknologi tidak akan bisa kita bendung. Upaya yang bisa kita lakukan bukanlah menolaknya, tapi bagaimana kita beradaptasi, sehingga bisa menggunakannya dengan baik. Ibarat pisau, ia akan berguna jika si pemiliknya bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun, jika tidak, maka pisau akan menjadi alat yang berbahaya dan melukai pemiliknya. Demikianlah hendaknya kita menempatkan perkembangan teknologi, termasuk penggunaan media sosial dalam proses pembelajaran.

Milenial, Kampanyekan Moderasi Beragama Di Ruang Digital

0

Kelas Literasi Damai, Siap Cetak Agen Perdamaian

Dalam mengkampanyekan nilai moderasi beragama melalui narasi atau pesan digital, menurut Hanafi ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1) kode pesan, yaitu serangkaian simbol yang tersusun dan bermakna bagi orang lain; 2) materi pesan, yaitu bahan yang dipilih oleh komunikator untuk menyampaikan maksudnya; dan 3) wujud pesan, yaitu sesuatu yang membungkus inti pesan agar komunikan tertarik pada isi pesan yang ada di dalamnya.

Kampusdesa.or.id–Moderasi adalah sikap  berada di tengah-tengah (tidak condong ke kanan juga tidak condong ke kiri) sebagai jalan yang paling aman dalam beragama. Sedangkan menurut Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag, 2019) moderat atau wasatiyah adalah sikap lembut juga lunak dalam memaknai agama, tidak jatuh pada sikap ekstrem yang berlebihan. Syekh Ali al-Jumโ€™ah mengibaratkan bahwa sikap moderat (tawasuth) ini adalah puncak gunung. Yang mana merupakan posisi paling aman bagi pendaki, lain hal dengan para pendaki yang berada dalam tepian kanan dan kiri gunung yang rawan tergelincir dan jatuh.

Menteri Agama Republik Indonesia (2014-2019), M. Lukman Saifuddin dalam sambutannya mengawali buku โ€œModerasi Beragamaโ€, bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana setiap warga masyarakat, ataupun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara mereka. Jadi jelas bahwa moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda dengan kita.

Saking pentingnya sikap moderasi beragama ini, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  mulai tahun 2019 lalu, telah memasukkan  moderasi beragama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pentingnya penerapan moderasi beragama ini adalah agar paham keagamaan yang berkembang di Indonesia selalu beriringan atau minimal  tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, secara esensial pemahaman dan pengamalan keagamaan tidak boleh bertentangan dengan sendi-sendi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Salah satu hal penting yang menjadi argumen perlunya moderasi beragama untuk diterapkan di Indonesia adalah fakta masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural.

Salah satu hal penting yang menjadi argumen perlunya moderasi beragama untuk diterapkan di Indonesia adalah fakta masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural. Bangsa yang dikaruniai dengan berbagai etnis, suku, agama, budaya serta bahasa mengharuskan adanya perbedaan, yang mana setiap perbedaan tersebut sangat berpotensi melahirkan gesekan atau konflik yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dan ketidakseimbangan interaksi sosial dan keagamaan dalam masyarakat.

Secara historis dan empiris, dengan menelaah berbagai catatan sejarah, kearifan lokal serta artefak, menunjukkan bahwa penyebaran agama-agama di Indonesia, khususnya Islam yang disebarkan oleh walisongo pun dilakukan atas bantuan etnis dan umat agama lain yang berbeda. Cara berdakwah dan proses penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara santun dan lemah lembut tanpa ada konflik apalagi pertumpahan darah yang mengatasnamakan jihad dan dakwah dalam menyebarkan agama. Para walisongo telah lebih dulu mengajari kita bagaimana cara megejawantahkan keharmonisan dalam setiap perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjatuhkan dan menyalahkan.

Kemajemukan bangsa Indonesia yang plural dibuktikan dengan Sensus Penduduk 2010 tentang presentase pemeluk agama di Indonesia, yang menyatakan dari 237.641.326 jiwa jumlah penduduk Indonesia, sebanyak 207,2 juta jiwa (87,18 persen) masyarakat Indonesia beragama Islam, kemudian sebanyak 16,5 juta jiwa (6,96 persen) menganut agama Kristen, disusul 6,9 juta jiwa (2,91 persen) menganut agama Katolik, 4 juta jiwa (1,69 persen) menganut agama Hindu, 1,7 juta jiwa (0,72 persen) menganut agama Buddha, penganut Khonghucu sebanyak 0,11 juta jiwa (0,05 persen), dan penganut agama lainnya sebanyak 0,13 persen. Berdasarkan data tersebut diketahui agama Islam merupakan agama terbanyak atau sebagai agama mayoritas yang dianut oleh penduduk Indonesia. Namun, sebagai kelompok mayoritas tidak selayaknya Islam mendeskriminasi kelompok-kelompok minoritas yang berbeda dengan ajarannya.

Baca juga: Solusi Islam untuk Problematika Pluralitas

Dalam agama Islam sendiri, banyak perbedaan penafsiran terhadap dogma-dogma dan ajaran agama, sehingga tidak mengherankan terdapat banyak mazhab, aliran atau sekte dalam setiap agama. Semua perbedaan ini diakibatkan kapasitas pemahaman dan kemampuan berpikir masing-masing individu, prespektif, pendekatan serta lingkungan atau wilayah yang mempengaruhinya.

Namun, kini kasus intoleransi dan radikalisme agama terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Romo Antonius Benny Susetyo (2020), selaku Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjelaskan hal yang mendominasi kasus intolernasi di Inodensia, salah satunya adalah pendirian rumah ibadah dan deskriminasi hak-hak kelompok minoritas.  Dan sikap serta prilaku intoleransi ini memicu atau dapat bertransformasi menjadi gerakan kekerasan agama salah satunya berupa gerakan paham radikalisme yang berujuang pada terorisme

Secara umum, dalam upaya penyebaran nilai-nilai moderasi beragama sebagai gerakan untuk menagkal paham-paham radikalisme dan kasus intoleransi yang kian hari kian marak terjadi, ada beberapa hal yang mampu diupayakan untuk meminimalisir hal tersebut. Luc Reychler (2006) mengemukakan teori Arsitektur Pembangunan Perdamaian Berkelanjutan yang menyebutkan, dalam pengelolaan perbeยญdaan agama dibutuhkan sejumlah syarat yaitu; Pertama, adaยญnya saluran komunikasi yang efektif dan harmoni sehingga memungkinkan terjadi proses diskusi, klarifikasi, dan koreksi terhadap penyebaran informasi atau rumor yang berpotensi menimbulkan ketegangan antar kelompok sosial; Kedua, beยญkerjanya lembaga penyelesaian masalah, baik yang bersifat formal seperti pengadilan atau informal seperti lembaga adat dan agama; Ketiga, adanya tokoh-tokoh pro perdamaian yang memiliki pengaruh, sumberdaya dan strategi efektif dalam mencegah mobilisasi masa oleh tokoh pro-konflik; Keempat, struktur sosial-politik yang mendukung terwujudnya keaยญdilan dalam masyarakat; dan Kelima, struktur sosial-politik yang adil bagi bertahannya integrasi sosial.

Di era milenial atau Revolusi Industri (RI) 4.0 sekarang ini, penyampaian informasi semakin mudah dan cepat melalui ruang digital dengan adanya media sosial. Sebanyak 54,37% siswa dan mahasiswa belajar pengetahuan tentang agama dari internet, baik itu media sosial, blog, maupun website. Perubahan pola pembelajaran inilah yang menyebabkan pentingnya konten-konten di ruang digital melaui website, media sosial atau platform digital lain sebagai sumber pembelajaran agama Islam generasi muda selain dari pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolahnya atau lembaga akademik. Media belajar populer di kalangan milenial dalam mengakses pelajaran-pelajaran keagamaan adalah youtube. Menurut hasil survei We are Social mengungkapkan pengguna youtube 88%, Whatsapp 83%, Facebook 81% dan Instagram 80%.

Selanjutnya menurut hasil survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta di tahun 2017 menunjukkan bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya intoleransi pada generasi milenial atau geยญnerasi Z. Siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki akses internet lebih memiliki sikap moderat dibandingkan mereยญka yang memiliki akses internet. Padahal mereka yang meยญmiliki akses internet sangat besar, yaitu sebanyak 84,94%, sisanya 15,06% siswa/mahasiswa tidak memiliki akses inยญternet. Rupanya generasi milenial lebih mengandalkan duยญnia maya sebagai sumber belajar agama yang dalam dalam penelitian tersebut cenderung berdampak negatif.

Kampanye Konten Nilai Moderasi Beragama

Seiring perkembangan era industri 4.0, maka bidang pemasaran juga ikut berkembang menjadi marketing 4.0 yang dapat menyesuaikan pola audiens yaitu horizontal, inklusif dan sosial. Dahulu, suatu instansi akan memegang kendali atas komunikasi pemasaran dan menangani keluhan secara individu. Namun dimasa sekarang, instansi tidak lagi bisa mengendalikan percakapan yang berkembang karena konten pesan dalam komunikasi pemasaran dihasilkan oleh komunitas.  Bahkan, bila konten pesan dalam komunikasi pemasaran disensor maka bisa melemahkan kredilitas dari instansi. Dengan kata lain, konten pada pesan komunikasi pemasaran adalah pendekatan yang mencakup menciptakan, memilih, membagi dan membesarkan konten yang menarik, relevan dan berguna untuk kelompok khalayak demi menciptakan percakapan tentang konten tersebut. Adapun beberapa tahapan dalam pemasaran konten, yaitu tahap persiapan, pemasaran dan evaluasi.

Beberapa tahapan dalam pemasaran konten, yaitu tahap persiapan, pemasaran dan evaluasi.

Tahap Persiapan, dalam tahap persiapan ini ada beberapa hal yang terlebih dahulu harus dimatangkan dan direncanakan sebelum memulai pemasaran konten, yaitu; 1) menetapkan tujuan sebagai arah dan goal yang ingin dicapai dengan kampanye pemasaran konten ini; 2) pemetaan target pasar untuk mengetahui siapa yang akan menjadi target kampanye anda agar tau dan bisa menyesuaikan dengan keresahan dan keinginan mereka; 3) perencanaan konten untuk menentukan tema besar konten yang akan menjadi brand atau label dari komunitas tersebut.

Tahap Pemasaran ini meliputi, penciptaan konten, pendistribusian dan penguatan konten. Penciptaan dan pendistribusian ini adalah bentuk interaksi sosial melalui media sosial kepada target pasar (konsumen) kita yang akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kampanye nilai moderasi beragama yang nantinya kemudian dikuatkan dengan memanfaatkan aset konten dan berinteraksi langsung dengan pelanggan. Penguatan konten ini bisa dilakukan dengan membuat percakapan yang interaktif terhadap konten yang didistribusikan serta juga bisa menggunkan jasa buzzer dan atau influencer.

Tahap Evaluasi, pada tahap evaluasi ini meliputi evaluasi pemasaran konten dan perbaikan pemasaran konten. Evaluasi pemasaran dengan melihat seberapa suksesnya kampanye pemasaran konten yang sudah kita lakukan, baik itu dalam tahap perencanaan maupun tahap pemasaranโ€”penciptaan dan pendistribusian konten. Setelah mengevaluasi kinerja dan keefektifan pemasaran konten kita, hal yang perlu dilakukan tentunya melakukan perbaikan guna meningkatkan pemasaran konten kita, baik dari segi tema, model distribusi serta interaksi dengan pelanggan.

Dalam pengkampanyean nilai moderasi beragama melalui narasi atau pesan digital, menurut Hanafi ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1) kode pesan, yaitu serangkaian simbol yang tersusun dan bermakna bagi orang lain; 2) materi pesan, yaitu bahan yang dipilih oleh komunikator untuk menyampaikan maksudnya; dan 3) wujud pesan, yaitu sesuatu yang membungkus inti pesan agar komunikan tertarik pada isi pesan yang ada di dalamnya. Formulasi kampanye pesan moderasi beragama di ruang digital khusunya di media sosial, harus mencerminkan pesan yang informatif, interaktif serta persuasif. Informatif artinya pesan didasarkan pada data dan fakta, setidaknya konsumen dapat membuat tagline atau postingan yang berisi informasi tentang nilai-nilai moderasi beragama. Berikutnya pesan tersebut harus memiliki daya interaksi sosial yang inetarktif kepada pemirsa media serta daya pikat yang mempengaruhi atau mempersuasi emosi pembaca atau pengguna media sosial yang lainnya. Pesan atau narasi di sini tidak mesti harus berbentuk tulisan, tapi bisa dalam bentuk video ataupun gambar ilustratif.

Mental Passenger, Problem Laten Dunia Pendidikan Kita

0

Sudah lama dunia pendidikan kita terjebak oleh pola pembelajaran yang cognitive oriented. Kondisi ini berdampak panjang hingga membentuk mental passenger dalam diri peserta didik. Padahal, mental yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menjawab tantangan zaman adalah mental driver, yaitu kemampuan berpikir kritis, gesit, dan tahu dengan jelas kemana arah dan tujuan dalam melangkah. Bukan kemampuan untuk duduk, diam, dan terbuai oleh zona nyaman.

Kampusdesa.or.id-Pagi ini (12/7) saya mengajak mahasiswa perwalian saya untuk sekadar sharing dan ngobrol santai. Sebetulnya ada beberapa hal yang ingin saya ketahui dan konfirmasi langsung, tapi tanpa sepengetahuan mereka. Apa yang saya lakukan ini digerakkan oleh buku Rhenald Kasali yang berjudul  โ€œSelf Driving: Menjadi Driver atau Passenger?โ€.

Setalah membacanya, saya jadi kepikiran, jangan-jangan mahasiswa saya mengalami hal serupa seperti yang digelisahkan penulis buku ini. Jangan-jangan mereka selama ini belajar hanya dengan โ€˜memindahkanโ€™ isi buku teks ke kepala. Jangan-jangan mereka selama ini menganggap bahwa nilai akademik adalah segalanya. Jangan-jangan mereka selama ini beranggapan bahwa nama besar kampus menjadi jaminan sukses di masa depan. Jangan-jangan mereka selama ini juga bermental passenger. Dan jangan-jangan yang lain.

Sistem pendidikan kita, termasuk di perguruan tinggi, selama ini bukannya membentuk manusia bermental driver, tapi malah sebaliknya, bermental passenger.

Menurut Rhenald Kasali, sistem pendidikan kita, termasuk di perguruan tinggi, selama ini bukannya membentuk manusia bermental driver, tapi malah sebaliknya, bermental passenger. Lulusan pendidikan kita pandai dalam menghafal teori dan konsep persis dengan isi buku teks, tapi kedodoran saat diminta mempraktikannya dan memenuhi tuntutan dunia nyata. Hal ini sebabkan karena proses belajar mereka hanya fokus pada kertas-kertas berupa buku teks. Mereka lalu disuruh memindahkan isi hafalan itu ke kertas lainnya berupa lembar-lembar jawaban ujian. Jadilah mereka ketika lulus sarjana kertas.

Baca Juga: Masih Relevankah Mata Pelajaran Sekolah Di Tengah Keajaiban Mbah Google!

Masih menurut Rhenald Kasali, akibat pola pembelajaran seperti itu, terbentuklah generasi pasif. Hanya untuk mengungkapkan pendapat saja kesulitan. Anak-anak di sekolah menjadi terisolasi dari lingkungannya yang dinamis. Mereka tidak terbiasa berpikir keras untuk memecahkan masalah hidup. Akibatnya, mereka kalah dengan anak-anak muda yang tidak berpendidikan tinggi namun memilih merantau demi menyambung hidup. Entah menjadi TKI atau sekadar membuka usaha di dalam negeri. Mereka ini dibentuk oleh kerasnya kehidupan sehingga terbiasa berpikir kritis dan belajar langsung dari kehidupan. Bukan dari buku teks.

Saya kemudian menyusun lima pertanyaan untuk menelusuri kecurigaan saya itu; (1) bagaimana perkuliahanmu selama ini?, (2) apa yang sudah kamu dapat dari kuliah?, (3) apa targetmu semester depan ini?, (4) apa rencanamu ke depan?, dan (5) selama liburan ini, apa yang kamu lakukan?. Mereka saya kumpulkan melalui Google Meet dan saya ajak ngobrol tentang lima pertanyaan ini.

Awalnya, saya berikan kesempatan kepada siapa saja yang mau berbagi pengalaman. Namun, tidak ada satupun yang mau bicara. Akhirnya, terpaksa saya pakai mode interogasi, daripada tidak kelar-kelar urusan ini. Satu per satu dari mereka saya ajak ngobrol. Saya ajukan lima pertanyaan tersebut. Anda tahu bagaimana hasilnya? Exactly!. Apa yang ditulis Rhenald Kasali dalam bukunya itu dialami juga oleh mahasiswa saya ini. Bisa jadi, dan sangat mungkin, sebagian besar mahasiswa di kampus saya juga demikian.

Baca Juga: Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud, Mengapa Banyak Ditentang?

Pada pertanyaan pertama, mereka kesulitan menguraikan apa yang mereka alami sendiri selama setahun kuliah daring ini. Hanya untuk mengatakan kendala yang dialami dan bagaimana menjalani kuliah online saja, mereka kesulitan. Ada yang secara terang-terangan mengaku salah jurusan dan belum memikirkan langkah apa ke depannya. Demikian juga pada pertanyaan kedua. Ini lebih parah. Ada yang terang-terangan menjawab TIDAK TAHU. Lho kok bisa? jujur, saya kaget sekali. Lha wong mengatakan apa yang sudah didapat sendiri selama kuliah kok malah TIDAK TAHU.

Kekagetan saya terus berlanjut. Pada pertanyaan ketiga juga sama. Banyak yang kesulitan menjawab. Bahkan terang-terangan menjawab TIDAK TAHU lagi. Setelah saya desak, beberapa mampu menjawab. Selebihnya tetap TIDAK TAHU. Pertanyaan keempat, setali tiga uang dengan pertanyaan ketiga. Maksud saya di pertanyaan keempat ini, saya ingin tahu rencana jangka panjang mereka bagaimana. Setelah nanti lulus mereka mau apa. Jadi sarjana yang bagaimana. Sayangnya, jawaban yang keluar sama sekali tidak memenuhi ekspektasi saya.

Pada pertanyaan terakhir, semakin menunjukkan kepada saya bahwa mereka memang telah menderita penyakit mental passenger. Mereka selama ini telah terbentuk menjadi penumpang. Bagaimana tidak? Semua menjawab selama liburan hanya gelimbang-gelimbung. Hanya nonton film, makan, tidur, kadang membantu orang tua, dan sebagainya. Tidak ada yang mengisi liburan dengan kegiatan produktif seperti membaca buku, menulis, kursus, atau yang lain.

Padahal, mereka ini termasuk manusia-manusia yang beruntung karena diberi kesempatan bisa kuliah. Di luar sana, ada begitu banyak anak muda yang ingin di posisi mereka.

Saya betul-betul tertohok dengan jawaban-jawaban mereka ini. Padahal, mereka ini termasuk manusia-manusia yang beruntung karena diberi kesempatan bisa kuliah. Di luar sana, ada begitu banyak anak muda yang ingin di posisi mereka. Orang tua juga sudah bekerja begitu keras demi membayar biaya kuliah. Sepertinya hal paling mendasar ini pun tak banyak direnungkan oleh teman-teman mahasiswa. Akhirnya, mereka kuliah sekadarnya. Pokoknya yang penting kuliah.

Padahal, pola pikir yang kelihatannya remeh ini buntutnya bisa panjang. Bila mereka tetap menjadi mahasiswa sekadarnya atau pokoknya, maka nanti lulus juga menjadi sarjana yang sekadarnya dan pokoknya. Begitupun ketika nanti menjadi guru, juga sekadarnya dan pokoknya dalam menjalankan tugas. Peserta didik mereka pun akhirnya belajar sekadarnya dan pokoknya. Sepanjang itulah rentetannya.

Perombakan kurikulum yang agak radikal sepertinya sedang urgent untuk dilakukan pada semua jenjang pendidikan kita. Kurikulum dan pola pembelajaran yang hanya cognitive oriented sudah selayaknya kita tinggalkan.

Perombakan kurikulum yang agak radikal sepertinya sedang urgent untuk dilakukan pada semua jenjang pendidikan kita. Kurikulum dan pola pembelajaran yang hanya cognitive oriented sudah selayaknya kita tinjau ulang. Demikian halnya dengan asesmen yang dilakukan, sepatutnya tidak hanya fokus pada pencapaian kognitif, tapi juga melihat sejauh mana perkembangan afektif dan psikomotorik peserta didik. Pendidikan dan lembaga pendidikan harus melihat sejauh mana peserta didik mampu menerapkan teori dan konsep dalam kehidupan nyata. Serta bagaimana mereka beretika terhadap sesama dan lingkungan.

Mari berkaca ke negara-negara tetangga yang telah lebih dulu mengubah mindset dan paradigmanya dalam mengajar. Konteks dan teks yang dipelajari di kelas haruslah secara gayut berhubungan.

Pada aras yang sama, hubungan harmonis antara dunia nyata dan kelas jangan diabaikan. Mari berkaca ke negara-negara tetangga yang telah lebih dulu mengubah mindset dan paradigmanya dalam mengajar. Konteks dan teks yang dipelajari di kelas haruslah secara gayut berhubungan. Sehingga, apa yang dipelajari peserta didik, bisa langsung mereka terapkan. Selain itu, muatan kurikulum yang ingin membuat peserta didik menjadi ‘manusia berdaya ingat super’ juga perlu untuk terus ditinjau ulang. Utamanya terkait banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik, padahal sama sekali tidak mendukung bakat dan minat mereka.

Terakhir, proses pendidikan haruslah membentuk mental driver, yaitu sosok yang berpikir, gesit, bisa membaca peluag, kritis, dan tahu dengan jelas arah tujuan. Bukan membentuk manusia bermental passenger yang cukup hanya diam, bahkan bisa mengantuk dan tidur. Hanya dengan lulusan pendidikan yang bermental driver-lah, kita bisa menjadi bangsa driver.

Haruskah Kematian Covid-19 Diumumkan?

0

“Kepanikan adalah setengah penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah awal kesembuhan” -Ibnu Sina

Kampusdesa.or.id–Berita kematian, akhir-akhir ini kembali marak. Bahkan ada yang bilang lebih ramai daripada masa awal mewabahnya Covid-19. Pemberitaan dan pengumuman kematian tidak melulu lewat media cetak dan elektronik. Tapi media sosial pun ikut gencar memberitakan dengan berdalih empati, atensi atau belasungkawa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa satu berita kematian saja akan sedikit banyak mempengaruhi psikologi orang yang mendengarnya. Perasaan sedih, prihatin, empati atau lainnya akan muncul dengan sendirinya karena sifat manusiawi. Lantas, bagaimana jika berita itu berulang kali, sering dan beruntun?

Sampai-sampai satu desa di wilayah tempat tinggal kami -menurut salah seorang teman- kepala desanya melarang pengumuman kematian. Entah karena saking seringnya pemberitaan kematian atau khawatir kondisi kejiwaan warganya.

Memberitakan (baca: mengumumkan) kematian seseorang dalam ajaran Islam masih memiliki perdebatan panjang.

Memberitakan (baca: mengumumkan) kematian seseorang dalam ajaran Islam masih memiliki perdebatan panjang. Hulu masalahnya yaitu adanya beberapa hadits yang tampak luar bertentangan. Dalil-dalil tersebut ada yang memperbolehkan pengumuman kematian, karena Nabi Muhammad pernah melakukannya.

โ€œBahwasanya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah mengumumkan kematian Raja Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar ke tempat salat, dan membuat shaf bersama para sahabat dan bertakbir empat kaliโ€ (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi memberikan keterangan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadis tersebut merupakan anjuran untuk memberitahu kematian seseorang. Agar jenazah tersebut disalatkan dan diurus janazahnya.

Di sisi lain ada juga sabda nabi riwayat sahabat Hudzaifah yang melarang pengumuman kematian.

“Hudzaifah bin Al Yaman berkata, “Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkan kematianku, karena aku takut hal itu termasuk dari an na’yu. Aku telah mendengar Rasulullah ๏ทบ melarang an na’yu.” (HR. Tirmidzi).

Ibnu Arabi dalam Tuhfat al-Ahwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi menjelaskan langkah “kompromi” dalam memahami beberapa dalil tersebut. Menurutnya, ada tiga kondisi yang dapat disimpulkan dari beberapa hadits yang tampaknya bertentangan.

Pertama, jika mengumumkan kematian anggota keluarga, sahabat dan orang saleh maka dihukumi sunnah. Kedua, pengumuman kematian seseorang dengan tujuan mengajak untuk merayakan dan membanggakan diri (merasa bagian dari kalangan terhormat), hukumnya makruh. Ketiga, jika mengumumkan dengan tujuan untuk mengajak meratapi kepergian almarhum atau hal lain yang tidak diperbolehkan oleh agama maka dihukumi haram.

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ juga memberikan rincian hukum pengumuman kematian. Sesungguhnya pengumuman kematian dengan tujuan memberikan informasi bagi yang tidak mengetahui hukumnya mubah. Namun jika tujuannya agar yang mensalati lebih banyak maka disunnahkan. Dan pengumuman kematian yang dimakruhkan adalah yang bertujuan membanggakan kebaikan orang yang meninggal dengan menyebarkan berita duka tersebut agar orang-orang meratapi kepergiannya.

Pengumuman kematian yang terakhir ini serupa dengan yang terjadi di masa Jahiliyah. Yaitu ketika salah seorang tokoh diantara mereka meninggal dunia, mereka mengutus para penunggang kuda untuk mendatangi kabilah-kabilah dan mengatakan โ€œcelaka kalian dengan matinya Si Fulan sambil menangis dan meratapi Si mayitโ€.

Pendek kata, jika pengumuman kematian itu berimplikasi baik (terhadap mayit, keluarga almarhum atau warga sekitar) maka hukumnya boleh atau bahkan bisa jadi sunnah. Jika tidak, maka makruh atau mungkin bisa juga haram.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika pengumuman kematian (terlepas dari karena terpapar Covid atau lainnya) memiliki dampak psikologis bagi warga yang mendengarnya. Misalnya mereka menjadi resah, gelisah, tegang, risau, takut, panik dan khawatir yang pada akhirnya menyebabkannya sakit?

Baca juga: Positif Covid-19, Suka Duka Hidup di Balik Jendela

Pengumuman dan penyebaran informasi tentang kematian (Covid-19) yang jelas-jelas menimbulkan efek negatif, menurut hemat saya, seharusnya dipertimbangkan manfaat dan mudaratnya. Manakala dirasa lebih besar mudaratnya, maka lebih baik tidak diumumkan. Biarkan warga mendengar sendiri dari mulut ke mulut. Walhasil, kaidah “La Dlarara wala Dlirara” bisa diberlakukan untuk kasus seperti ini.

Karena itu, belakangan ini saya memilih tidak latah memposting berita duka, apalagi almarhum tidak kenal saya dan saya tidak mengenalnya. Kalau hanya sekedar berbelasungkawa, toh bisa dengan mengucapkannya melalui pesan singkat atau mengirimkan doa dan bacaan al-Fatihah padanya.

Tapi, pengumuman kematian itu kan sunnah?

Jangankan sunnah, perkara wajib saja boleh ditinggalkan manakala berakibat tidak baik bagi pelakunya.

Jangankan sunnah, perkara wajib saja boleh ditinggalkan manakala berakibat tidak baik bagi pelakunya. Sekedar contoh (tanpa bermaksud meng-qiyaskan karena saya tidak mendalami Ushul Fiqh) kewajiban menjawab salam.

Ada beberapa kondisi yang seseorang tidak wajib menjawab salam. Antara lain saat makan atau minum, lagi buang air, sedang salat dan lain sebagainya. Bahkan al-Khalwati menyebutkan dalam kitab Tadzkir al-Anam bi Ahkam Al-Salam karya Syekh Abdullah al-Jar Allah, ada 22 keadaan seseorang tidak berkewajiban menjawab salam.

Terlepas dari adanya dalil yang menjadi landasannya, “konon” ada hikmah di balik tidak wajibnya menjawab salam dalam kondisi-kondisi tersebut, yakni menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, orang bisa tersedak jika menjawab salam saat dia makan. Demikian juga menjawabnya ketika buang air, bisa mengurangi kesucian nama Allah dalam salam tersebut.

Sedikit cerita sebagai penutup tulisan ini. Saat seseorang curhat pada guru saya terkait banyaknya berita duka sebab kematian beberapa ulama, habib, kiai atau ustadz, beliau menjawabnya dengan santai. “Tentu saja, karena pertemanan kita baik di dunia nyata maupun dunia maya (medsos) mayoritas dari kalangan mereka. Coba kalau kenalan kita kebanyakan dari golongan pastur, pendeta atau non muslim, pasti beritanya akan berbeda”.

Keyakinan saya, jawaban guru saya tadi untuk menetralisir kekhawatiran sahabatnya yang mungkin juga menghinggapi perasaan banyak orang. Tidak juga bermaksud gegabah dalam menghadapi wabah. Sikap tersebut kurang lebih seperti seorang dokter menerima pengaduan pasiennya. Dokter akan mengatakan bahwa penyakitnya biasa, tidak berbahaya dan bisa cepat disembuhkan. Hal ini agar mental pasien tidak down yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses penyembuhannya. Ini penting karena faktor kejiwaan yang tidak stabil dapat mengurangi imunitas tubuh.

Tidak heran jika beberapa tokoh nasional atau ulama kita memberikan saran untuk menjaga hati, pikiran dan perasaan agar senantiasa bahagia, sabar, tenang dan optimis dalam menghadapi pandemi. Senada dengan perkataan Ibnu Sina (Avicenna), Bapak kedokteran modern: “Kepanikan adalah setengah penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah awal kesembuhan.” Wallahu a’lam.


*Ditulis oleh Dr. Moh. Tohiri Habib, S.Ag., M.Pd.
(Guru MA Matholi’ul Anwar Simo Karanggeneng Lamongan)

Masih Relevankah Mata Pelajaran Sekolah Di Tengah Keajaiban Mbah Google!

0

Gen Z, yang lahir antara 1998 sampai dengan 2010, apakah masih bisa jinak dan tekun membuka buku. Sepertinya mereka lebih nyaman berselancar di belantara mesin pencari online. Selamat tinggal buku atau mereka pun tetap bisa menggali ilmu pengetahuan sebagaimana generasi X (1965-1980) yang masih kental menjinjing buku perpustakaan, telaten menyalin di buku tulis, bahkan menghafal aneka mata pelajaran di sekolah demi menguasai ujian di kemudian hari?

Kampusdesa.or.id–Dulu sekali, ketika Google masih asing di sekitar kita, bahkan masa kecil saya tidak ada Google, belajar aneka mata pelajaran di sekolah itu kebutuhan.

Kini pelajaran di sekolah yang masih banyak mengkaji pelajaran persis masa kecil saya, sudah disalip oleh aneka informasi akademik, informasi ilmiah, informasi apa saja di Google maupun aplikasi lainnya.

Pendidik dari kalangan milenial dan Gen X mengajar peserta didik (yang saat ini golongan Gen Z) tak lagi bersifat mentransfer ilmu pengetahuan, tapi sebagai fasilitator. Pendidik/ guru/ tutor adalah teman belajar yang dihormati para Gen Z sebagai pemantik motivasi menjadi pribadi yang selalu ingin tahu.

Saat menerima tugas suatu mata pelajaran, para Gen Z tak lagi membuka catatan dari gurunya tapi sudah berselancar di dunia maya melalui Google dan aneka macam aplikasi yang ada dan bisa dijangkau mereka.

Catatan, buku diktat, dan tugas dari guru hanyalah hal kecil dari luasnya wawasan yang digali Gen Z

Catatan, buku diktat, dan tugas dari guru hanyalah hal kecil dari luasnya wawasan yang digali Gen Z itu sendiri akibat rasa keinginantahunannya sehingga mereka mencari sendiri melalui aplikasi digital.

Masihkah hari ini, begitu saja materi pelajaran di sekolah yang tema besarnya sama persis dengan masa kecil saya? Ada IPS, IPA, Matematika, Kewarganegaraan, dkk.

Hal yang mendesak diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan ketrampilan menguasai teknologi dan mengendalikan dampak teknologi.

Saya berpikir hal yang mendesak diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan ketrampilan menguasai teknologi dan mengendalikan dampak teknologi. Para Gen Z sudah lebih banyak tahu perihal wawasan pengetahuan yang bersinggungan dengan pelajaran di sekolah. Buktinya, baru-baru ini ada fenomena aphelion, Gen Z lebih tahu dulu sebelum sekolah mengajarkan. Belum lagi kehebatannya dalam mencari ilmu baru dengan cepat tentang penguasaan teknologi.

Berbagai informasi yang masuk dan dicari para Gen Z saat ini sepertinya perlu didampingi pengetahuan agama. Ilmu pengetahuan agama selain mengajarkan tentang keimanan juga mengajarkan etika. Etika berhadapan dengan Gusti Allah, etika memperlakukan diri sendiri, dan etika berinteraksi dengan sesama dan alam semesta.

Dengan memahami etika, para Gen Z yang saat ini sibuk belajar dan bersemangat berselancar di dunia maya bisa mengontrol diri sendiri.

O iya, mengajarkan agama tentunya tidak tepat kalau Gen Z cukup belajar di dunia maya, apalagi gurunya tidak jelas sanad keilmuannya. Akibat sanad yang tidak jelas, marak terjadi pemahaman dalam beragama yang akibatnya anak menjadi tidak hormat kepada orang tua dan sesama pemeluk agama tidak rukun.

Selain ilmu agama, Gen Z hendaknya dibekali keterampilan hidup agar mandiri sejak belia. Kesibukan mengasah soft skill dan hard skill ini agar pengetahuan Gen Z yang mereka peroleh dari dunia maya bermanfaat dengan tepat.

Kegiatan berselancar di dunia maya seharusnya memberi pengalaman belajar yang memiliki ketepatan manfaat yang kekinian. Tidak menunggu kelak kalau sudah menjadi apa dan menjabat apa.

Lagi pula belajar sambil mengamalkan ilmu pengetahuan saat ini lebih efektif dan efisien, tidak akan terjadi mengganggu waktu belajar atau perkembangan belajarnya. Sekali lagi mereka mengasah soft skill dan hard skill dalam frame sedang melaksanakan sekolah. Artinya dalam perencanaan, proses, dan evaluasi dari pendidik/ guru/ tutornya.

Selamat menyambut Tahun Pelajaran 2021-2022.

Pandemi COVID-19 Mampu Membangun Percaya Diri dalam Melaksanakan Belajar Dari Rumah

0

Belajar Dari Rumah (BDR) memberi pengakuan pada keluarga sebagai institusi yang bisa menjadi bagian penting dari belajar. Meski banyak keluarga yang kualahan, namun di masa pandemi Covid-19, para orang tua yang selama ini mengutamakan mendidik anaknya di rumah, mendapatkan pengakuan penting. Bagaimana kesempatan ini berkembang dan menambah semakin percaya diri orang tua?

Kampusdesa.or.id–Kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) sejak awal pandemi COVID-19 (Maret 2020) sejatinya mendorong orang tua memiliki rasa percaya diri lebih baik dalam mendidik anaknya sendiri. Jika sampai hari ini banyak orang tua dan anak menginginkan proses belajar di sekolah seperti sebelum pandemi, kemungkinan karena keduanya belum menyaksikan dan merasakan kelebihan proses belajar mengajar di dalam rumah.

Kebijakan Bekajar Dari Rumah (BDR)  dibarengi dengan kebijakan WFH (Work From Home) bukanlah  kebetulan semata. Ini adalah sekenario hebat dari Sang Mahakuasa. Orang tua memiliki kesempatan mengajar anaknya sendiri lebih leluasa.

Tentu saja, orang tua harus belajar agar memperoleh keterampilan mengajar jika orang tua berprofesi bukan dari kalangan dunia pendidikan. Belajar mengajar dan belajar mengantongi wawasan dan ilmu pengetahuan yang dipelajari anaknya bisa sambil jalan. Pendek kata, orang tua lebih tepatnya diposisi sebagai fasilitator. Tak harus menguasai materi pelajaran tapi menjadi teman belajar yang menyenangkan. Tak harus memberi pelajaran tapi bisa membangkitkan semangat ingin belajar pada diri anaknya sendiri.

Belajar Dari Rumah (BDR) dan WFH bagai pasangan yang ditakdirkan berjodoh. Kehadiran WFH adalah anugrah bagi para orang tua agar bisa menerapkan idealistis mengajar yang  disandarkan kepada sekolah anak-anaknya. Ketika orang tua mengharapkan bahkan menuntut metode mengajar dan konten materi pelajaran sesuai keinginannya dan juga keinginan anaknya, masa WFH inilah saatnya. WFH memberi kesempatan kepada orang tua mengelola pembelajaran untuk anaknya sendiri lebih berkualitas.

Pelajaran di sekolah yang disampaikan secara daring harus diselesaikan anaknya, ya tetap diselesaikan. Orang tua hanya mendampingi dan  memotivasi karena guru yang memberi materi pelajaran masih bisa diajak komunikasi secara daring. Antara lain bisa memberi penjelasan ketika anak belum bisa memahami pelajaran.

Sementara itu, tugas orang tua sebagai guru di rumah adalah menggali dan  mengembangkan minat dan bakat anaknya. Orang tua pasti lebih mengetahui minat dan bakat anak daripada guru dan warga sekolah. Orang tua juga tidak dikekang oleh serangkaian program sekolah yang tidak sesuai minat dan bakat anak.

Kita sudah setahun melaksanakan program Belajar Dari Rumah. Mau tidak mau orang tualah penentu kesuksesan belajar anak. Guru di sekolah sejatinya mendistribusikan ilmu pengetahuan tidak seberat tanggung jawab memotivasi anak belajar.

Melalui google classroom, group WA, dan aplikasi belajar lainnya guru hanya menjalankan mengajar dari jauh. Aktivitas belajar terasa normatif. Belajar mengajar berlangsung, namun suasananya tak sama jika belajar dengan orang tuanya.

Bagi orang tua yang memahami aturan belajar selama pandemi COVID-19, mendampingi dan mengajari anaknya belajar sebenarnya mudah. Belajar era pandemi COVID-19 tidak menuntut ketuntasan kurikulum. Tetapi, pembelajaran harus bermakna. (Baca SE Mendikbud No 4 Tahun 2020, SE Sesjen No 15 tahun 2020). Di sinilah orang tua bisa memainkan perannya sebagai guru era pandemi COVID-19.

Mendukung passion anak bisa menjadi mata pelajaran di rumah. Urusan paketan belajar dari sekolah terserah apa perintah gurunya. Orang tua tak perlu galau jika anak belum mampu mencapainya. Tugas di kelas online tak semuanya mampu dituntaskan seketika itu juga. Kesehatan menghadapi perangkat digital perlu diperhatikan. Selain itu kemampuan fisik dan pikiran memenuhi deadline belajar  tak bisa disamaratakan.

Menunggu berakhirnya pandemi COVID-19 sepatutnya tidak sekadar menunggu pengumuman kapan SFH dihentikan. Cerdas manakala orang tua tidak melulu berharap pada paketan pelajaran dari sekolah. Setahun sudah pengalaman menyaksikan SFH anaknya sendiri. Pantas jika orang tua memiliki inovasi kegiatan bagi anak agar SFH lebih bermakna.

Harapan dan rencana awal tahun pelajaran 2021-2022 bisa masuk tatap muka di sekolah, akhirnya berantakan juga. Saat ini telah muncul varian baru dari COVID-19. Kita semua kecele dengan harapan dan rencana kita.

Orang tua seyogyanya sudah mulai terbiasa mengisi hari BDR anaknya tidak saja sebagai supervisor bagi sekolah anaknya, tapi menjadi tokoh pendidik yang bisa diandalkan karena mampu menjadi fasilitator bagi pengembangan minat dan bakat anak. Diandalkan anak sendiri, dijadikan konsultan anak sendiri saat ingin mengembangkan passionnya.

Setahun yang lalu, saya berniat mengajar anak bungsu saya sendiri, tetapi diragukan suami. Setelah setahun belajar secara daring dengan guru sekolah formalnya, saya banyak bercerita bahwa perkembangan wawasan dan skill anak kami pesat. Perkembangan itu bukan tentang pelajaran di sekolahnya ,tapi skill di pengembangan minat dan bakat yang saya explore secara terencana.

Selayaknya orang tua percaya diri, bahwa pandemi COVID-19 telah mendatangkan hikmah. Hikmah bisa menjadi guru bagi anaknya, dengan mata pelajaran sesuai minat bakatnya.

Selamat memanen hasil sebagai guru BDR kepada para orang tua yang telah menjalaninya.

Selain mengeksplorasi minat dan bakatnya, pembentukan akhlak mulia juga menjadi prioritas kami dalam mendidik anak. Dalam pandemi COVID-19 ini, orang tua bisa lebih fokus menyaksikan perkembangan akhlaknya.

Bungsu saya ini memiliki minat besar di dunia digital. Ini matching dengan kebutuhan saat ini. Usia tua dan muda pasti berinteraksi dengan dunia digital gara-gara WFH dan BDR demi melaksanakan social distance. Kemampuannya di bidang digital tidak menjadikannya sibuk urusannya sendiri. Saya sering dibantu dalam mengoperasikan perangkat digital.

Cara saya mengeksplorasi dan menjaga minat dan bakatnya dengan meminta bantuannya atas semua aktivitas WFH saya melalui perangkat digital. Dalam prespektif saya, ia sedang mendemonstrasikan kemampuannya, tapi dalam prespektif anak saya, dia sedang membantu saya. Kalau dia belum punya ilmu atas apa yang saya minta, ia mencari tahu melalui YouTube atau sumber lain. Inilah saya kira yang menyebabkan wawasannya terus bertambah dan bermanfaat.

Saya yakin dia senang saya mempercayai kemampuannya. Saya pun tetap bisa mengukur dan mengevaluasi pengembangan minat dan bakatnya. Dalam pendidikan kesetaraan Paket B namanya mata pelajaran pemberdayaan. Dia di jenjang Paket B setara SMP saat ini.

Dia juga mendapat informasi apa saja yang terjadi dalam skala nasional dan internasional dari hasil interaksinya dengan perangkat digital. Saya memantau hasil kegiatannya itu melalui tingkah laku dan kualitas topik yang dibicarakan.

Kami juga saling mengingatkan untuk jeda dari kegiatan yang terus menerus dalam berinteraksi dengan perangkat digital, agar kesehatan kami tidak terganggu akibat radiasi atau kondisi tubuh dalam posisi tetap, tidak banyak gerak karena fokus dengan kegiatan perangkat digital.

Saya ambil cara menjarangkan interaksi dengan perangkat digital bagi si bungsu dengan menawarkan aturan.

“Jika banyak nge-game, maka ngajinya juga banyak.” Cara saya membangun komitmen dalam membagi waktu bermain dan mengaji. Dampaknya, dia sudah terbiasa mengaji Al-Qur’an tiap usai salat fardhu.

Tahun pelajaran 2021-2022 ini saya mantab mengambil alih pendidikan anak bungsu saya dari sekolah formal. Dia saya edukasi sendiri melalui homeschooling yang saya selenggarakan. Suami saya tidak ragu lagi mendukung keputusan saya. Pelajaran sekolah bisa gabung dengan lembaga pendidikan nonformal yang saya kelola yaitu PKBM Bestari, sementara minat bakatnya saya sendiri yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Tips Cerdas dalam Bergaul

0

Bergaul dan berteman merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Apabila kita analogikan โ€œtemanโ€ merupakan seorang individu yang menjalin hubungan relasi setelah berkenalan. Sementara, โ€œgaulโ€ merupakan sebuah bagian dari proses aktivitas pertemanan. Maka dari itu, kita harus memiliki beberapa kriteria sebelum mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam lingkungan pergaulan kita.

Kampusdesa.or.id — Kita tentu paham bahwa pergaulan dapat menentukan masa depan kita kelak. Maka dari itu, kita harus lebih selektif dalam memilih dengan siapa kita bergaul pergaulan. Tetapi, bukan berarti kita pilih-pilih teman. Karena jika pilih-pilih teman, maka tentunya akan disebut sombong. 

Pilih-pilih teman memang tidak boleh. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan seseorang baik berdasarkan suku, ras, maupun agamanya. Namun, kita harus pintar dan selektif dalam bergaul. 

Perlu dipahami bahwa bergaul dan berteman merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Apabila kita analogikan โ€œtemanโ€ merupakan seorang individu yang menjalin hubungan relasi setelah berkenalan. Sementara, โ€œgaulโ€ merupakan sebuah bagian dari proses aktivitas pertemanan. 

Maka dari itu, dalam siklus kehidupan ada yang namanya inner circle. Di mana dalam 100% pertemuan, hanya akan ada 50% orang yang akan menjadi kenalanmu. Dan dari 50% kenalanmu itu, hanya akan ada 20% orang yang menjadi temanmu. Kemudian, dari 20% pertemanan itu, hanya ada 2% yang menjadi bagian dari pergaulan atau inner circle kita (Tampenawas, 2019).

Dalam inner circle yang menjadi bagian dari 2% ini, kita harus benar-benar memilah dan memilih siapa saja yang boleh masuk ke dalamnya. Karena golongan 2% inilah yang akan menjadi lingkaran pergaulanmu dan menentukan masa depanmu di masa mendatang, agar golongan 2% ini dapat menunjang masa depan kita menjadi orang yang sukses. 

Maka, kita harus memiliki beberapa kriteria sebelum mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam lingkungan pergaulan tersebut. Hal ini pun dijelaskan dalam sebuah Hadist Rasulullah saw., yang artinya โ€œPemisalan teman yang baik dan yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, ataupun engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.โ€ (H.R Bukhari-Muslim). 

Dari hadits tersebut bisa kita pahami bahwa dalam menentukan pergaulan kita harus lebih berhati-hati. Oleh karenanya, sebelum mengizinkan seseorang masuk ke dalam pergaulan kita, maka kita harus menentukan beberapa kriteria seperti, orang yang memiliki frekuensi ritme hidup yang sama. Maksudnya, kita harus mengizinkan orang-orang yang dapat menunjang keberhasilan kita di masa mendatang untuk masuk kedalam lingkaran pergaulan kita.

Kriteria lain adalah orang yang memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas. Orang-orang inilah yang akan membantu kita untuk terus termotivasi mewujudkan tujuan dan meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, kita juga harus memasukan kriteria orang yang memiliki pemikiran yang positif. Dalam kriteria ini kita harus benar-benar memperhatikannya. Sebagai contoh kita harus bisa mencari orang yang memiliki pemikiran positif akan dirinya, lingkungan juga masa depannya. 

Carilah orang yang pembahasannya berbobot dan berkualitas ketika berdiskusi. Ini tentunya akan membantu mengasah kemampuan intelektual kita. Selanjutnhya, hindari orangorang yang suka membicarakan orang lain atau istilahnya ngegosip atau gibah. Kita tentu tidak ingin berada di lingkungan orang-orang seperti ini. Karena bisa jadi kita yang akan mereka jadikan bahan gosip, ketika tidak ada diantara mereka.

Dengan adanya kriteria tersebut harapannya akan berguna untuk menghindari kalian dari toxic relationship. Dan tentunya akan berpengaruh pula pada kehidupan kita. Sehingga dengan kita memiliki lingkaran pergaulan yang positif dan suportif, maka akan membantu kita menjadi pribadi yang positif, suportif, dan tangguh dalam menjalani hidup. 

Oleh karenanya, mulai sekarang kita harus cerdas dan selektif dalam bergaul. Menyaring pertemanan kita sebelum menjadikannya lingkaran pergaulan. Kemudian, mulailah untuk membangun lingkaran pergaulan yang akan membantu kalian untuk mewujudkan mimpi kita dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai persatuan, moral, dan agama demi masa depan kita yang gemilang. 

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Pengasuhan Anak Berbakat, Bisakah Menjanjikan Masa Depan Sesuai Cita-Cita Anak?

3

Mendapati anak yang bakatnya muncul sejak dini sungguh menyenangkan. Tapi apakah bakat anak dan kesukaannya dapat mengantarkan anak sukses di kemudian hari? Bagaimana semestinya menjadikan bakat dan kesukaan anak dapat menjadi bagian dari kesuksesan di masa depan? Pengasuhan anak yang benar, iklim sosial yang mendukung, ketabahan, daya juang, dan inisiatif karir yang relevan adalah jawaban penting dari sekedar membanggakan bakat mereka.

Kampusdesa.or.idโ€“Pertanyaan. Assalamuโ€™alaikum. Mohon pencerahannya. Anak saya umur 11 tahun, duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Dia senang pelajaran matematika dan ingin menjadi pengusaha yang sukses. Kira-kira metode pengasuhan dan pendidikan sosial yang bagaimana yang seharusnya saya terapkan sebagai pola asuh. Pertanyaan disampaikan oleh pemilik akun facebook @inayrus

Waโ€™alaikumsalam Wr. Wb. Mbak @Inayrus yang terhormat, saya mau langsung menjawab di komentar, sepertinya butuh berpikir dulu. Pertanyaan mbak Inay membikin saya perlu jeda dan berpikir. Maklum, kadang saya merasa memang jawaban tersebut butuh waktu menulis lebih fokus karena pikiran saya tak secanggih para jenius. Butuh momen agak serius dan kontemplasi. Akhirnya, saya sampaikan dalam tulisan berikut.

Anak usia 11 tahun sudah menemukan yang disukainya adalah berkah bagi orang tua. Sungguh tidak semua orang tua beruntung seperti itu. Perlu kiranya disyukuri bahwa anak-anak kita punya keistimewaan. Apalagi menyukai matematika. Pelajaran itu bikin banyak anak alergi karena mungkin rumitnya logika dan kompleksnya cara belajar matematika. Selain abstrak, butuh ingatan yang jlimet dan tekun untuk berpikir di jalur yang detil, dalam, dan panjang. Kerja memori dan logika bikin anak memang kesulitan karena anak masih suka imajinasi daripada bernalar logis. Jadi bersyukurlah jika dia anak yang sudah mampu membangun logika matematika.

Sebelumnya, saya punya pengalaman dengan anak saya. Suatu waktu dia sangat menyukai sesuatu, tetapi di lain waktu, dia akan bergeser ke kesukaan yang lain. Cukup lama anak saya sangat suka membaca. Kesukaannya bertahan bertahun-tahun. Tapi, saat tugas mendera dan full-day school diterapkan, kenyamanan membaca perlahan tergantikan oleh tugas sekolah. Akhirnya dia berubah menyukai desain, terutama saat di SMA. Desain itu akhirnya menjadi sebagian pilihan masa depan, termasuk memilih jurusan desain, tapi lagi-lagi, syarat memasuki kuliah desain tidak menjadi keberuntungannya. Anak saya akhirnya berbelok memilih kuliah ekonomi. Namun, karena desainnya dibutuhkan di organisasinya, sepertinya kesenangan desain tetap bertahan karena selain dia suka, dia pun mendapat pengakuan publik, meskipun tidak sebaik para desainer kelas wahid seusianya.

Berpindah kesukaan nampak juga terjadi pada anak kedua saya. Pengalaman ini memantik kesimpulan saya, sangat mungkin anak-anak itu bergonta-ganti kesukaan. Kesukaan itu momentun. Yakni suatu masa anak memang lagi demam sesuatu yang dia sukai. Tetapi juga kesukaan itu akan berganti karena waktu kesukaannya tidak lagi trend bagi dirinya. Boleh jadi akan bergeser ke kesukaan lainnya.

Lalu bagaimana dengan anak yang menyukai matematika?

Bagaimana orang tua kemudian menyikapinya? Senyampang anak menyukainya, orang tua patut menghargainya dan sebaiknya menghindari untuk memaksa anak melebihi dari kebiasaan menyukainya. Seperti memaksa mengikuti kompetisi sementara dia tidak berharap lebih dari sebagaimana orang tua menginginkan anaknya menjadi terkenal. Pastikan memang anak-anak tidak keluar dari jalur kesukaannya hanya gara-gara orang tua memaksa melebihi dari nilai aktual si anak.

Pastikan memang anak-anak tidak keluar dari jalur kesukaannya hanya gara-gara orang tua memaksa melebihi dari nilai aktual si anak.

Kecuali bagi anak yang gifted (berbakat). Dia tidak hanya suka tetapi diberi kelebihan memang dia mudah, cepat, dan barangkali ahli di bidang yang dia lakukan. Anak-anak yang berbakat, kemampuannya akan bertahan lama. Dia tidak hanya suka, tetapi dia memang memiliki kemampuan menggeluti apa yang dia pilih.

Baca juga: Orang Tua sebagai Mursyid bagi Anak-anaknya di Dunia Maya

Saran saya jika memang anak berbakat, dia perlu dijembatani agar bakatnya dapat selaras dengan cara dia memilih hidupnya. Tentunya ini butuh pendampingan dan pemberdayaan diri dalam waktu yang panjang.

Jadi bukan tentang kesukaan, tetapi saat melakukan sesuatu dia merasa bahagia dan terjawab eksistensinya. Bakat anak akan mengantarkan kesuksesan manakala dia mendapat pengakuan publik dan memeroleh imbalan yang menjadikan dia bisa hidup dengan bakatnya. Swjumlah kasus, ada banyak juga orang berbakat tetapi dia memilih jalan yang berbeda demi untuk menghidupi dirinya. Saran saya jika memang anak berbakat, dia perlu dijembatani agar bakatnya dapat selaras dengan cara dia memilih hidupnya. Tentunya ini butuh pendampingan dan pemberdayaan diri dalam waktu yang panjang.

Terlepas apa anak Anda berbakat atau sebatas menyukai matematika, yang paling penting adalah memupuk dan memberikan rangsangan yang terus menerus secara kreatif agar anak mendapatkan pengalaman positif saat momen menyukai matematika muncul dan menguat. Tumbuhkan daya juang yang relevan dengannya. Menurut buku Grit, Angela Duckworth, orang berbakat yang sukses tetap butuh ketabahan dan daya juang. Tanpa itu, kemampuan bakatnya hanya menjadi kebanggaan diri tanpa menuai hasil dalam hidupnya. Bagi orang tua, membelajari dan memotivasi anak untuk tabah dan berdaya juang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran orang tua.

Bagaimana dengan keinginan menjadi pengusaha?

Berwirausaha tidak semata tentang ilmu tapi membutuhkan pengalaman baik. Untuk itu pengalaman positif dan praktis tentang wirausaha sebaiknya juga dikenalkan pada anak sesuai masa perkembangannya. Anak-anak bisa dikondisikan untuk diajak mengenali para profil wirausaha sukses. Bisa juga dikondisikan mendapatkan teman-teman yang suka latihan berwirausaha. Pembelajaran wirausaha dapat dibiasakan misalnya dengan latihan menabung, latihan berjualan lecil-kecilan. Bisa dilatih di sekolah bersama teman-temannya. Bisa juga dilatih menabung emas di pegadaian dan banyak lagi yang lainnya. Rangsangan dari luar yang kreatif sangat membantu anak mendapatkan pengalaman kecil yang positif. Bagi anak-anak, pengalaman kecil-kecil yang beraneka ragam seperti itu jauh lebih penting daripada mendapatkan satu pengalaman saja yang serius tetapi penuh dengan tekanan.

Matematika bisnis juga sebaiknya diberikan sebagai bahan pengayaan belajar atau bermain matematika anak.


Orang tua dan guru bisa melatih atau memberikan praktik wirausaha dengan menyertakan aplikasi praktis matematika. Misalnya belajar literasi finansial. Anak diberi permainan pasar-pasaran dan diberi tugas memraktikkan menghitung modal, laba, rugi, atau diajak latihan menghitung aset. Boleh juga kalau orang tuanya berdagang, anak-anak bisa dilibatkan untuk latihan pembukuan. Ini seperti praktik akutansi. Kita tahu hampir seluruh praktik akutansi melibatkan matematika. Matematika bisnis juga sebaiknya diberikan sebagai bahan pengayaan belajar atau bermain matematika anak. Tentu sesuai dengan perkembangan nalar mereka ya Mbak. Silahkan digoogling saja, sangat banyak beberapa permainan, game online misalnya, yang melibatkan unsur matematika dan dunia bisnis. Masih banyak contoh lain yang bisa dikembangkan.

Baca juga: Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah

Keinginan seperti cita-cita. Dia asyik tapi kalau tidak mendapatkan pengalaman kecil yang baik sejak dini, keinginan itu akan menguap seiring berjalannya waktu. Inilah yang biasanya hilang dan luput dari sekolah. Kita dulu mungkin pernah begitu. Bercita-cita ini itu tetapi menguap seiring dengan rutinitas sekolah atau nasib yang berkata lain. Kebutuhan riil yang mendesak sehingga keinginan tinggallah mimpi. Bahkan keinginan, cita-cita, dan bakat kadang tidak mendapatkan tempat di kemudian hari karena memang secara praktis kita sulit mendapat ruang kerja yang sepadan. Akhirnya, yang penting mendapat pekerjaan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan cepat.

Pemesanan, hubungi penulis dengan inbox di sosial media
Orang tua sebaiknya pandai mencuri momentum. Saat anak menyukai matematika dan bercita-cita menjadi pengusaha, mainkan aneka rangsangan sehingga anak merasa situasi eksternalnya sangat mendukung. Aji mumpung anak menyukai. Hindari penunggalan pengalaman karena ritme perkembangan anak tidak saklek dan menyukai hanya satu kesempatan saja. Orang tua juga tidak boleh kagetan ketika anak bergeser kesukaan. Berdiri selalu mendukung dan memberikan peraga yang baik bagi anak pun dapat dilakukan sebanyak anak berganti aneka kesukaan. Jika suatu waktu anak bergeser dari kesukaan yang lain, orang tua pun tetap hadir sebagai pemberi dukungan, tanpa menyayangkan anaknya tidak lagi menyukai seperti harapan orang tua.