Apa Kabar “Belajar dari Rumah” Setelah Tiga Pekan Berlangsung?

2
302
(Gambar diambil dari www.unicef.org)

0Shares
0

Tak terasa, sudah lebih dari tiga pekan sejak instruksi Belajar dari Rumah diterbitkan. Sebagai solusi sementara akibat siatuasi darurat, belum banyak yang bisa diharapkan dari skema pembelajaran daring ini. Berbagai keluhan masih kerap muncul di sana-sini. Mulai dari hal-hal yang bersifat teknis seperti kecepatan akses internet dan krisis kuota, hingga yang substansial seperti minimnya kreativitas guru dalam meracik metode pembelajaran dan kejenuhan peserta didik. Belum bisakah kita beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekarang ini?

Kampusdesa.or.id-Prediksi saya, ketika permulaan guru dan siswa harus melaksanakan amanah Belajar dari/di Rumah dengan berbagai persiapan yang mungkin juga kacau karena tiba-tiba, atau baru kenal belajar dan mengajar daring, atau belum terbiasa belajar dan mengajar dalam metode daring dapat kita maklumi. Dalam benak saya, kalau terbiasa nanti pastilah terasah dengan baik. Mengajar akan lebih bermakna (sesuai amanah SE MENDIKBUD No 4 tahun 2020) karena tiap hari menjumpai kawan guru atau request siswa yang menyajikan metode belajar mengajar yang beragam dalam jaringan internet.

Lalu apakah demikian kenyataannya setelah program Belajar dari/di Rumah ini setelah berlangsung kurang lebih tiga pekan ini? Agaknya meleset. Maklum program Belajar dari/di Rumah ini adalah solusi di tengah permasalahan yang kompleks. Bukan program yang terencana dengan pertimbangan dan persiapan matang dari segi konten materi, maupun sarana prasarana yang cukup apalagi melimpah.

Dari segi mental guru dan siswa, kebutuhan pulsa internet sudah menjadi kebutuhan primer untuk mengajar dan belajar. Tingkat kebutuhan ini mau tidak mau mengusik konsentrasi belajar dan mengajar. Mengapa demikian? Di tengah kondisi serba dibatasi agar tidak beraktivitas di luar rumah, ada sebagian guru dan orang tua murid yang terdampak dari segi pendapatan atau income keluarga. Bayangkan, kebutuhan bertambah, tapi income tetap atau bahkan berkurang.

“Guru akan mengajar ala kadarnya, siswapun menerima pelajaran dan merespon pelajaran semampunya, baik kemampuan pikiran maupun kemampuan pulsa androidnya”

Apa yang terjadi? Guru akan mengajar ala kadarnya, siswapun menerima pelajaran dan merespon pelajaran semampunya, baik kemampuan pikiran maupun kemampuan pulsa androidnya. Ada saja ditemukan siswa yang setor tugas telat karena paketan data sudah menipis, android yang dipakai juga berstatus android milik bersama (dipakai orang tua dan anak atau dipakai antar saudara).

“Belajar yang monotan, terpisah dari teman sekelas, tugas sekolah daringpun bejibun tiap hari, uang saku juga kena lockdown orang tuanya”

Meleset pula, lantaran Belajar dari Rumah ini akhirnya memunculkan kebosanan bagi para siswa. Belajar yang monotan, terpisah dari teman sekelas, tugas sekolah daringpun bejibun tiap hari, uang saku juga kena lockdown orang tuanya. Kalau kelas tatap muka langsung masih bisa guyon dengan temannya, kini untuk guyon saja butuh modal pulsa.

Belum lagi jaringan internet yang tidak selancar sebelum ada social distancing dan/atau karantina wilayah. Belajar dari Rumah dan Bekerja dari Rumah semua melibatkan jaringan internet. Jadi, serasa ada saja tantangan untuk melaksanakan program Belajar dari Rumah dengan bahagia.

Catatan ini tidak bermaksud memberikan advokasi dan keberpihakan pada sikap yang enggan berubah dengan perubahan jaman yang serba digital. Sesungguhnya, tetap ada saja cela agar kita tidak terjebak dalam situasi ini. Pemakaian internet hendaklah lebih bijaksana, selain bijaksana untuk kebutuhan kita, juga memperhatikan kebutuhan jaringan internet untuk kebutuhan semua orang.

Kabarnya karena semua menggunakan jaringan internet, ada negara yang merasakan dampaknya berupa peningkatan pemakaian bandwidth. Hal ini dibutuhkan prilaku digital kita seyogyanya dapat mengurangi beban jaringan agar tidak terjadi mati network atau bandwidth jebol. Berikut ini saya cuplikan tips dari tutor Paket C PKBM BESTARI (Ria Oktriana N., MBA) yang bisa dipakai bagi guru dan siswa:

1. Kurangi forward video, kecuali hanya link Youtube.
2. Kurangi download video atau kirim video message. Daripada kirim video message, kita umumnya lebih sering forward video.
3. Kurangi download video-video WA yang isinya kurang penting disimak, atau hanya lucu-lucuan saja. Selain memenuhi storage handphone kita, hal ini juga memakan kuota dan terutama membebani network. Meskipun misalnya kita anggap murah pulsa, rasanya boros tetap kurang bijak.
4. Layanan streaming kita pakai karena mereka punya metode bagus memperkecil pemakaian bandwidth. Meski begitu tetap streaming jadi bijaksanalah.

Ya, pada banyak hal dalam situasi sedang prihatin sedunia karena pandemi Covid-19 ini kita tetap harus survive untuk terus beraktivitas cerdas, berkualitas, dan bermanfaat. Tidak menjadikan situasi seperti ini sebagai alasan tidak produktif bahkan mati gaya.

2 KOMENTAR

Comments are closed.