Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 5

Barikan Anak Nusantara ke-3: Merajut Persaudaraan Sejati di Malang

Malang, 16 Agustus 2024 – Alun-alun Merdeka Malang menjadi saksi perayaan Barikan Anak Nusantara ke-3, sebuah acara yang diadakan oleh Forum Komunikasi Antarumat Beragama (FKAUB) Malang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-79 Republik Indonesia. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, melainkan sebuah simbol nyata dari persaudaraan sejati yang merangkul perbedaan agama dan keyakinan.

Acara Barikan yang biasa digelar di kampung-kampung kini diangkat oleh FKAUB Malang ke panggung yang lebih luas, menegaskan bahwa perbedaan agama adalah sebuah keniscayaan yang harus dirayakan oleh semua anak bangsa. Dengan semangat persaudaraan sejati yang menjadi spirit FKAUB Malang, acara ini meneguhkan bahwa kita bisa berdoa bersama dengan bahasa agama yang berbeda, namun tetap bersatu dalam semangat kebangsaan.

Kekuatan Persatuan di Tengah Perbedaan

Para pelajar dengan latar belakang agama yang berbeda-beda turut serta dalam acara ini, menampilkan tarian kreatif yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. Selain itu, sebuah drama yang mengangkat tema relasi sehat anti-perundungan ditampilkan oleh siswa-siswi sekolah menengah atas, menyoroti pentingnya menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi persaudaraan di antara sesama.

Doa bersama dibacakan oleh anak-anak perwakilan agama-agama

Baca juga artikel berikut ini

Barikan Anak Nusantara ke-3 juga menjadi wadah bagi masyarakat Malang untuk mengungkapkan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana tradisi Indonesia yang kaya akan budaya syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa, FKAUB Malang bersama masyarakat lintas agama mengadakan syukuran dengan tujuh tumpeng kebangsaan. Tujuh tumpeng ini melambangkan doa syukur dari tujuh agama dan kepercayaan yang berbeda di Indonesia.

Bantengan Malang Kawal Kirab Tumpeng Kebangsaan

Keunikan acara ini semakin terlihat dengan adanya kirab tumpeng kebangsaan yang dikawal oleh performa khas Bantengan Malang. Kirab ini menjadi simbol kuat bahwa budaya lokal dapat menjadi medium ketuhanan yang merangkul semua perbedaan. Setelah kirab, anak-anak dari berbagai agama dan kepercayaan memanjatkan doa secara bergantian, menciptakan momen haru yang menggugah jiwa.

Bantengan Malang kawal kirab tumpeng. Dok. FKAUB

Tidak hanya itu, anak-anak juga diajak untuk saling bertukar kue, sebuah tradisi yang dikenal sebagai tukar brekat/takir. Tradisi ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk saling memberi dan menerima. Melalui pertukaran sederhana ini, nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia kembali dihidupkan.

Mewujudkan Indonesia yang Bersatu dalam Keberagaman

Barikan Anak Nusantara ke-3 bukan sekadar acara tahunan, tetapi sebuah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah milik seluruh rakyat, bukan milik agama atau golongan tertentu. FKAUB Malang melalui acara ini terus mengingatkan pentingnya merawat keberagaman dan mengajak generasi muda untuk tetap hadir dalam kebersamaan, meski dengan perbedaan yang ada.

Indonesia adalah satu, meski anak-anak bangsa yang hadir di dalamnya berbeda-beda. Perbedaan ini bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dirayakan. Melalui Barikan Anak Nusantara ke-3, anak-anak diajak untuk terampil dalam menyikapi perbedaan, sehingga Indonesia yang bersatu dalam keberagaman dapat terus terwujud.

Konferensi Wilayah XIII Nahdlatul Ulama Jawa Timur Gus Yahya Ajak NU Menerima Tantangan Global

0

Jombang, 2 Agustus 2024 – Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, menjadi saksi pelaksanaan Konferensi Wilayah XIII Nahdlatul Ulama (NU) pada Jumat dan Sabtu, 2 hingga 3 Agustus 2024. Dengan tema “Merajut Ukhuwah dan Mengukuhkan Jam’iyah dalam Pendampingan Umat,” konferensi ini bertekad untuk memperkuat ikatan antar anggota NU dan meneguhkan peran serta kontribusi organisasi dalam kehidupan umat.

Khutbah Iftitah oleh KH Anwar Manshur, Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, membuka acara dengan pesan-pesan yang sangat relevan. KH Anwar menggarisbawahi pentingnya menjaga nilai-nilai lama sekaligus menyambut nilai-nilai baru dengan semangat Aswaja, demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliau menekankan bahwa dalam rangka kesejahteraan sosial, setiap individu harus berusaha semaksimal mungkin. “Jika tidak bisa berbuat banyak, lakukan sedikit yang bisa dilakukan, karena setiap usaha untuk kebaikan umat adalah langkah berharga,” tegasnya. Menurutnya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.

KH Cholil Yahya Tsaquf, Ketua PBNU, kemudian menyampaikan pandangannya yang mendalam tentang tantangan dan masa depan NU. Dalam era perubahan yang cepat, NU harus bertransformasi untuk tetap relevan dan bermanfaat bagi umat. “Dunia terus berubah, dan tantangan-tantangan baru harus kita hadapi dengan strategi yang tepat,” ungkapnya. Beberapa aspek penting yang disoroti oleh KH Cholil meliputi:

  1. Konsolidasi Tata Kelola Organisasi. Digitalisasi organisasi menjadi kunci penting dalam manajemen NU di masa depan. Transformasi digital ini diharapkan dapat memperkuat efisiensi dan efektivitas operasional NU.
  2. Konsolidasi Agenda. Menyusun kebijakan dan strategi eksekusi dengan melibatkan Lakpesdam NU sebagai think tank. Lakpesdam diharapkan dapat berfungsi seperti Bappenas untuk merumuskan kebijakan strategis NU.
  3. Konsolidasi Kader. Mematangkan kader dan mendorong mereka untuk menjadi pemimpin yang visioner di level global.

KH Cholil juga membahas mengenai masalah perizinan tambang yang kini sedang dalam proses penyelesaian, serta tantangan navigasi yang terkait dengan perubahan mindset dan kebiasaan. Ia mengakui bahwa proses transformasi ini tidak selalu mulus dan bisa menimbulkan kontroversi dan konflik.

Lebih lanjut, KH Cholil Yahya menegaskan bahwa NU telah berkembang menjadi sebuah peradaban. “Ketika seseorang telah menjadi bagian dari peradaban NU, mereka tidak bisa keluar darinya. Bahkan ketika bepergian ke seluruh dunia, selalu ada jejak NU yang bisa ditemukan,” jelasnya dengan bangga.

Konferensi ini bukan hanya sekadar ajang berkumpulnya para kader dan pengurus NU, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menjaga relevansi dan peran serta NU dalam konteks sosial dan global. Melalui berbagai diskusi dan sesi, diharapkan NU dapat terus beradaptasi dan berkontribusi lebih besar dalam membangun kesejahteraan umat dan bangsa.

Dengan semangat yang menggelora dan dukungan penuh dari seluruh peserta, Konferensi Wilayah XIII NU diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju perbaikan dan kemajuan yang lebih signifikan bagi NU dan umat secara umum.

Menginspirasi Anak-Anak Melalui Permainan dan Pendidikan

0

Kampusdesa.or.id–Pada Minggu, 2 Juni 2024, acara Edufunday Batch 2 berhasil diselenggarakan dengan sukses bersama siswa kelas 6 SDN Merjosari 4 di Pesantren Budaya, Karanggenting, Merjosari, Lowokwaru, Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan interaktif bagi anak-anak melalui berbagai aktivitas yang dipandu oleh para volunteer Edufunday. Dengan antusiasme yang tinggi, anak-anak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang disiapkan khusus untuk mereka.

Kegiatan Edufunday: Menggabungkan Pembelajaran dan Permainan

Sesi pertama dari acara ini dimulai dengan sharingsession yang membahas persiapan memasuki sekolah menengah. Para volunteer Edufunday memberikan penjelasan yang mendetail tentang apa yang diharapkan dari siswa ketika mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Informasi ini disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak-anak, sehingga mereka merasa termotivasi dan siap menghadapi tantangan baru dalam pendidikan mereka.

Anak-anak mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan antusias.”

Baca juga: Bacarita; Komunitas Baca dan Cerita Hadir di Pesantren Karanggenting

Setelah sharingsession, berbagai games edukatif digelar untuk menghibur sekaligus mengajarkan nilai-nilai penting seperti kerjasama, kejujuran, dan semangat belajar. Beberapa permainan yang dimainkan termasuk Games Mencari Kata, games estafet karet, games estafet kardus, dan games bisik kata. Setiap game dirancang untuk mengasah keterampilan motorik dan kognitif anak-anak, sambil memastikan mereka tetap bersenang-senang.

“Keterlibatan dalam kegiatan seperti ini juga memberikan kesempatan bagi para volunteer untuk mengasah kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan empati mereka.”

Edufunday: Mengembangkan Karakter dan Keterampilan Anak-Anak

Edufunday adalah inisiatif dari sekelompok pemuda relawan yang berkomitmen untuk memberikan edukasi dan pengembangan kepada anak-anak melalui kegiatan yang menarik dan interaktif. Melalui program ini, para volunteer tidak hanya menyampaikan pengetahuan tetapi juga berperan sebagai contoh teladan bagi anak-anak dalam hal sikap, kerjasama, dan semangat belajar.

“Edufunday hadir untuk memberikan edukasi dan permainan yang inovatif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.”

Tujuan utama dari Edufunday adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak-anak, membangun karakter positif, serta mendukung keterampilan motorik dan fisik mereka. Program ini juga bertujuan untuk mendukung keterampilan bermain dan bersosialisasi, yang sangat penting dalam perkembangan anak. Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para volunteer untuk belajar mengenali kebutuhan dan minat anak-anak, sehingga aktivitas yang diselenggarakan dapat disesuaikan dengan lebih baik.

Baca juga: Roasting Kopi Dan Secangkir Kopi Bagi Petani Kopi
Para peserta berpose bersama jelang kegiatan bubar

Kolaborasi antara volunteer Edufunday dan anak-anak SD merupakan langkah yang sangat positif dalam memperkuat pendidikan informal di masyarakat. Ini adalah contoh nyata bagaimana melalui kepedulian dan kerjasama, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, menyenangkan, dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat.

“Secara keseluruhan, kolaborasi antara volunteer Edufunday dan anak-anak SD merupakan langkah yang sangat positif dalam memperkuat pendidikan informal di masyarakat.”

Acara ini juga tidak lepas dari dukungan Pesantren Budaya Lesbumi Karanggenting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, yang menyediakan tempat dan fasilitas untuk kelancaran kegiatan. Sinergi antara Edufunday dan Pesantren Budaya ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam mendukung pendidikan dan perkembangan anak-anak.

Dengan adanya acara seperti Edufunday Batch 2, diharapkan semakin banyak inisiatif serupa yang bisa digelar di masa mendatang, sehingga lebih banyak anak-anak yang dapat merasakan manfaat dari kegiatan pendidikan yang interaktif dan menyenangkan [Anggita, dkk].

Bacarita, Komunitas Baca dan Cerita Hadir di Pesantren Karanggenting

1

Kampusdesa.or.id–Sabtu pagi (01/06/2024), Pesantren Budaya Karanggenting, Merjosari, Lowokwaru, Malang, ramai anak-anak yang bergiat membaca dan bercerita. Anak-anak diajak menggali imajinasi mereka untuk mendengarkan berbagai kisah-kisah yang didendangkan oleh para mahasiswa mata kuliah Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pesantren Budaya terbuka untuk berkolaborasi dengan komunitas lain dan bersama membuat kegiatan yang bermanfaat untuk para warga sekitar, termasuk anak-anak. Melalui membaca dan bercerita, anak-anak dibantu membangkitkan perkembangan kognitif, utamanya keluasan imajininasi tanpa batas. Kegiatan ini didasari pertimbangan bahwa perkembangan imajinasi seringkali terpinggirkan oleh karena anak-anak lebih banyak otaknya diporsir penalaran akademik di sekolah.

Manfaat Bercerita

Bacarita hadir sebagai kegiatan positif menyeimbangkan perkembangan anak melalui membaca dan bercerita secara mengasyikkan. Dalam pendekatan psikologi sosial, membaca dan bercerita memantik hidupnya relasi positif bagi anak dalam menyerap nilai-nilai yang disajikan secara imajiner. Nilai-nilai dihadirkan dengan tutur verbal, dan juga dikombinasi dengan aktifitas tulis. Kombinasi stimulasi perkembangan yang positif bagi anak-anak tetap butuh diciptakan oleh orang dewasa.

Baca juga: Sholawat Sekarbanjar dan Festival Maulid Nabi 

Selain itu, Bacarita mengajak pada orang tua untuk melatih pentingnya bercerita pada anak. Bercerita mampu menjadi medium kelekatan positif anak orang tua. Bahkan, dalam penelitian, cerita dapat menjadi medium menanamkan nilai tanpa paksaan. Bahkan cerita menjadi cara dialogis yang menciptakan relasi orang tua anak lebih sehat. Suasana demokratis mampu terjaga dalam sebuah nasihat yang mengalir dan dapat menghindari nasihat imstruktif, searah, dan menggurui. Kesempatan ini menjadi penting untuk membantu anak dan orang tua berkembang dalam situasi pengasuhan yang ramah.

Komunitas Bacarita berpose dengan anak-anak di Pesantren Budaya Karanggenting

Komunitas Bacarita

Salsa, sebagai Direktur Komunitas Bacarita menyampaikan, “Bacarita adalah tempat yang kami sediakan untuk masyarakat agar menyukai membaca buku tetapi diisi dengan situasi menyenangkan, ada bermain, dan menggambar. Kami juga mencoba memfasilitasi keluarga untuk lebih akrab dengan anak-anak. Mereka dapat melengkapi ketrampilan pengasuhan lebih bervariasi, saling mendukung, dan bahagia bersama.”

Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup

“Rangkaian acara Grand Opening hari Sabtu tersebut “diramaikan dengan kegiatan mendongeng, kemudian para pengunjung stand buku dan mewarnai yang disediakan oleh tempat Bacarita diberi kesempatan untuk memilih gambar-gambar yang ingin diwarnai dan buku-buku yang ingin dibaca,” jelas Ika Shinta, salah satu penggerak Bacarita.

Ika menambahkan, “selain memberi kesempatan para pengunjung untuk membaca buku, pada hari ini pengunjung diajak untuk berdiskusi terkait buku yang sedang atau sudah dibaca sebelumnya.”

Mari bergabung dengan komunitas Bacarita, sebuah geliat dari ide kelas psikologi sosial yang dmentori oleh ahli Psikologi Sosial, Mohammad Mahpur, kolaborasi Pesantren Budaya Karanggenting, Lesbumi, dan Kampus Desa Imdonesia

Herbal Oil untuk Kecantikan

1

Kampusdesa.or.id–Herbal adalah tanaman atau bagian tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, banyak memiliki tanaman herbal yang masyarakat memanfaatkannya untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Herbal biasanya dijual dalam berbagai bentuk seperti segar, kering, powder, tablet, kapsul, teh, dan ekstrak,

Apabila selama ini banyak pemanfaatan herbal tersebut untuk dikonsumsi secara oral, kita bisa memanfaatkan herbal untuk kecantikan kulit. Herbal memiliki popularitas yang baik sebagai suplemen makanan tetapi kurang populer pemanfaatannya di bidang kosmetik.

Beberapa herbal seperti kunyit, jahe, daun kelor dan lain-lian, memiliki kandungan senyawa flavonoid, vitamin, dan senyawa senyawa metabolit sekunder lainnya yang memiliki fungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri.

Aktivitas antioksidan pada herbal dapat digunakan secara topikal untuk melindungi kulit dari radikal bebas yang merusak atau sebagai anti penuaan pada kulit dan mencegah alergi kulit.

Herbal oil atau herbal yang diinfus dengan minyak adalah cara yang bagus untuk memanfaatkan senyawa aktif dari tanaman dan minyak itu sendiri. Kita dapat menggunakan berbagai minyak nabati yang berbeda sebagai dasar untuk infus contohnya minyak zaitun, minyak kelapa, minyak jojoba, yang semuanya merupakan bahan dasar kosmetik yang bagus untuk krim dan salep.

Minyak nabati seperti minyak zaitun mengandung banyak senyawa aktif seperti fenol, tokoferol, sterol, squalene dan vitamin E yang merupakan antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas pada tubuh yang merupakan penyebab kerusakan sel, sehingga kandungan ini efektif untuk mencegah penuaan dini, mengurangi bekas kemerahan pada kulit dan dapat melindungi kulit dari iritasi.

Kandungan vitamin E pada minyak zaitun yang dioleskan ke kulit akan meningkatkan hidrasi stratum korneum dan meningkatkan kapasitas pengikatan airnya sehingga melembabkan kulit. Beberapa peneliti telah menemukan bahwa beberapa minyak nabati mengandung tabir surya alami yakni dapat menangkal sinar UV.

Metode infus atau ekstraksi yang mudah untuk dilakukan adalah dengan metode maserasi dan hot meserasi yaitu perendaman serbuk kelor dalam minyak nabati sebagai pelarut dalam suhu ruang dan hangat. 

Metode infus atau ekstraksi yang mudah untuk dilakukan adalah dengan metode maserasi dan hot meserasi yaitu perendaman serbuk kelor dalam minyak nabati sebagai pelarut dalam suhu ruang dan hangat. Kelebihan metode tersebut adalah hanya membutuhkan peralatan yang sederhana, biaya murah, dan mudah untuk dilakukan dalam skala rumah tangga.

Karena kandungan senyawa yang ada pada herbal dan minyak nabati memiliki manfaat yang baik untuk kulit maka kita bisa mengambil manfaat dua bahan tersebut dalam bentuk herbal oil.  Penggunaan herbal dalam bentuk herbal oil juga akan memudahkan dan praktis untuk diaplikasikan ke kulit.

Tips Membuat Herbal Oil

Cara membuat herbal oil/Infus herbal dalam minyak nabati dapat mengikuti langkah berikut ini:

  1. Dapat menggunakan bahan herbal dalam bentuk kering atau segar. (Penggunaan dalam bentuk kering lebih dianjurkan karena herbal oil yang dihasilkan nantinya akan lebih awet dan tahan lama)
  2. Pastikan Anda memilih herbal yang bersih atau mencuci untuk menghilangkan kotoran seperti tanah yang menempel dalam herbal.
  3. Tumbuk herbal hingga halus. Penting untuk menumbuk terlebih dahulu karena memaparkan lebih banyak senyawa aktif herbal ke minyak, membuat hasil infus yang lebih baik.
  4. Siapkan wadah/botol kaca kering yang disterilkan dengan cara dipanaskan dengan air mendidih lalu dikeringkan. Masukkan tumbukan herbal ke dalam wadah, bisa dengan perbandingan berat herbal 20% dari jumlah minyak
  5. Isi wadah botol sampai hampir penuh dengan minyak nabati karena celah udara akan menyebabkan oksidasi dan pembusukan.
  6. Aduk isinya dengan pengaduk stainless steel/kaca yang sudah disterilkan sampai semua gelembung udara hilang, lalu tutup. Jangan lupa untuk memberi label stoples Anda
  7. Biarkan meresap dengan ditaruh di ambang jendela yang cerah atau dalam cahaya tidak langsung sampai 2-4 bulan atau panaskan dengan suhu rendah 50-60 oC dengan double boiler selama 4 jam.
  8. Saring dengan kain tipis atau cheesecloth yang sudah disterilkan
  9. Fitratnya atau ekstrak herbal dalam minyak nabati (herbal oil) ini bisa disimpan dalam botol steril dan tutup rapat. Residunya bisa dimanfaatkan untuk masker dan sebagai bahan pembuatan sabun herbal.

Penggunaan herbal oil untuk kulit bisa dilakukan dengan cara pengaplikasikan beberapa tetes herbal oil ke dalam kedua telapak tangan yang bersih, gosok kedua tangan sampai hangat lalu tepuk tepuk berlahan ke kulit wajah dan tubuh yang lembab atau setengah basah. Penggunaanya bisa di pakai sebelum tidur setelah cuci muka atau setelah mandi dalam kondisi tubuh lembab atau setengah basah. Herbal oil seperti daun kelor ekstrak/infus minyak zaitun juga aman digunakan dan meringankan kondisi kulit dengan luka ringan seperti tergores, terciprat minyak/air panas dan lain-lain.

Penulis: Rif’atul Mahmudah, M.Si
Dosen Kimia Lingkungan di Program Studi Kimia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Sumber bacaan

Baldisserotto, A., Buso, P., Radice, M., Dissette, V., Lampronti, I., Gambari, R., Manfredini, S., & Vertuani, S. (2018). Moringa oleifera Leaf Extracts as Multifunctional Ingredients for “Natural and Organic” Sunscreens and Photoprotective Preparations. Molecules 2018, Vol. 23, Page 664, 23(3), 664. https://doi.org/10.3390/MOLECULES23030664

Daǧdelen, A. (2016). Identifying Antioxidant and Antimicrobial Activities of the Phenolic Extracts and Mineral Contents of Virgin Olive Oils (Olea europaea L.) from Different Regions in Turkey. Journal of Chemistry, 2016. https://doi.org/10.1155/2016/9589763

Korać, R. R., Khambholja, K. M., & Korać, M. R. (n.d.). Potential of herbs in skin protection from ultraviolet radiation. Pharmacognosy Reviews, 10. https://doi.org/10.4103/0973-7847.91114

Mahmudah, R. 2022. Potensi daun kelor (Moringa Oleifera) ekstrak minyak zaitun (Olea Europea L.) dalam menyembuhkan luka bakar. HAKI. UIN Malang

Melo, V., Vargas, N., Quirino, T., & Calvo, C. M. C. (2013). Moringa Oleifera L. An Underutilized Tree With Macronutrients For Human Health. Emirates Journal of Food and Agriculture, 25(10), 785–789. https://doi.org/10.9755/EJFA.V25I10.17003

Silva, L. E., & Dotto, A. R. F. (2022). Herbal oils in healthcare: a review. Brazilian Journal of Science, 1(4), 18–33.

Yara-Varón, E., Li, Y., Balcells, M., Canela-Garayoa, R., Fabiano-Tixier, A. S., & Chemat, F. (2017). Vegetable oils as alternative solvents for green oleo-extraction, purification and formulation of food and natural products. Molecules, 22(9), 1–24. https://doi.org/10.3390/molecules22091474

Saweran dan Ekstase Panggung

Kampusdea.or.id–Bagi penonton, naik panggung sangat menyenangkan, apalagi berinteraksi dengan penyanyi dan berada di hadapan penonton. Sebelum marak nyawer, naik panggung berjoget, pasti diusir keamanan, namun dengan menggenggam uang untuk nyawer penyanyi, seorang penonton mendapat keistimewaan. Dekat dengan penyanyi membuat perasaan membuncah, bahkan berinteraksi aktif dengan penyanyi. Situasi yang tidak semua penonton mendapat kesempatan istimewa.

Ketika ngefans dengan penyanyi, bawa saja segengam uang untuk nyawer, kita bisa berinteraksi secara intim dengan penyanyi pujaan. Uang sebagai simbol saweran menjadi tiket memuaskan perasaan ngefans dan mendapat jatah dekat dengan artis pujaan. Celebrity worship (pemujaan terhadap artis pujaan) dapat terfasilitasi dengan saweran.  Uang dapat menjadi perantara terhubungnya penggemar, penonto, dan orang-orang istimewa untuk menguasai panggung penyanyi.

Saweran, budaya panggung rakyat

Saweran sebagai budaya populer kesenian panggung rakyat. Saweran sangat jarang menjadi tambahan tontonan mainstream. Semua terstruktur dalam tertib pertunjukan. Sementara seni panggung rakyat seperti dangdut, tayub, dan seni tradisi lainnya terbuka untuk warga oleh karena hadiah dari orang yang menanggap. Warga tidak banyak mengeluarkan uang untuk tiket menonton. Seni ini dengan demikian lebih cair dan menoleransi interaksi penonton dengan para artisnya. Saweran nampaknya menjadi relasi alternatif yang mencairkan suana menjadi ekstase istimewa bagi sebagian penonton.

Beberapa literatur, saweran diambil dari tradisi Sunda, dengan kata asli sawer, awer yang artinya tebaran, atau percikan air hujan, atau memercikkan air dalam ember (Kusmayadi, 2018; Masduki, 2015; Supinah, 2006). Biasanya terjadi pada perayaan perkawinan atau hajatan yang melibatkan tamu atau warga. Seorang pemangku hajatan menebar benda kecil, air, dan ada uang receh untuk para pengunjung atau yang mengiringi seorang pengantin (bisa perkawinan, atau sunatan) sehingga pengunjung berebut barang saweran. Upacara sawer, jika itu perkawinan dimulai setelah ijab qabul. Sawer dimaksudkan sebagai sedekah dengan harapan pasangan pengantin diberkahi tuhan. Saweran dengan demikian dimaksudkan sebagai doa/harapan baik dengan sedekah.

Suasana ini seperti ritual khusus yang menghubungkan antara berharap kebahagiaan menjadi berkah.

Saweran menjadi seni-tradisi karena merangkum praktik simbolik (doa) dan nyanyian.  Suasana ini seperti ritual khusus yang menghubungkan antara berharap kebahagiaan menjadi berkah. Kebahagiaan ini tidak hanya milik pengantin tetapi berkesinambungan dengan kebahagiaan orang banyak.  Sawer menjadi emosi kolektif yang terbuka.  Emosi kolektif tercipta karena rasa puas, dan senang menjadi cair baik bagi pemilik hajat dengan orang banyak.

Situasi ini lebih meningkatkan emosi kolektif menjadi hiruk pikuk karena dapat bahagia bersama. Interaksi antara pengunjung dan penyanyi  diberi ruang perjumpaan. Kebahagiaan yang semata pasif dari penonton seolah terwakili dengan adanya aksi saweran. Batas eksklusif penyanyi yang biasanya tidak terjamah, tidak menjadikan panggung berjarak. Interaksi ini menimbulkan koneksi yang meningkatkan surplus emosional  penonton. Kehadiran salah satu penonton ke panggung meningkatkan keterwakilan bagi kegembiraan penonton. Saweran menciptakan sarana panggung rmerakyat. Bebas dari kapitalisasi panggung yang tidak terjamah.

Ekstase Panggung

Saweran dalam bentuk uang memberikan nilai hiburan yang menyiratkan beragam makna emosional. Uang saweran menyimbolkan prasyarat merebut panggung dan sarana mendekati artis pujaan secara terjangkau. Jika hanya berjoget saja,  tanpa diinginkan si penyanyi, niscaya penonton yang berjoget naik di panggungakan tertolak dan diusir keamanan panggung. Berbeda dengan penonton yang nyawer. Dia mendapat privillege berjoget, merasakan lebih  dekat berinteraksi, dan menumbuhkan luapan emosi gembira yang memuncak.

Berbekal sejumlah uang yang sudah disiapkan, penerimaan di atas panggung menjadi momentum untuk memperluas puncak emosi.

Penyawer memiliki kemenangan emosional. Berbekal sejumlah uang yang sudah disiapkan, penerimaan di atas panggung menjadi momentum untuk memperluas puncak emosi. Luapan gembira berhasil merebut panggung bersanding dengan artis menjadi manifestasi emosi yang tidak semua penonton dapat meraihnya. Saweran dapat menjadi media bernegosiasi untuk mendapatkan kegembiraan hiburan dengan ekstase terbuka.

Baca juga: Pribumisasi Maulid, Konservasi Kearifan Lokal

Panggung musik rakyat demikian menunjukkan keterwakilan terbuka bagi penonton. Seni rakyat yang khas sebagai budaya luwes dalam mengelola kegembiraan. Saweran menjadi seni panggung yang menambah suasana emosi penoton mencair lebih orisinil karena keterwakilan rakyat sebagai representasi kegembiraan bersanding dengan para artis panggung. Situasi pertunjukan demikian menjadi magnet bagi budaya berkesenian yang mencair secara emosional dan mengapresiasi keterlibatan perasaan seolah menghidupkan sapaan emosi artis penonton.

Roasting Kopi dan Secangkir Kopi Bagi Petani Kopi

Kampusdesa.or.id–Rasanya, tak pernah berkurang bahan, membincangkan kopi. Kopi seperti memiliki dunia sendiri. Setiap biji kopi, seolah ditakdirkan mengandung kekhasan di dalamnya.

Ada beberapa hal yang menentukan dan memengaruhi citarasa biji kopi.

Pertama-tama, kualitas citarasa kopi dipengaruhi oleh faktor lingkungan alam dan faktor manusianya. Karakter citarasa kopi, pertama-tama ditentukan oleh faktor alam tempatnya tumbuh. Biji kopi ditentukan oleh ketinggian lokasi lahan. Bagi petani yang memiliki lahan di atas 1.000 mdpl, cocok ditanami varian kopi arabika. Ketinggian lahan mempengaruhi tingkat kelembaban udara, suhu dan curah hujan.

Sementara itu, faktor sumber daya petani penggarap menentukan karakter citarasa kopi. Termasuk dalam hal ini, para pengolah biji pasca-panen, penyangrai hingga penyeduh kopi. Dari keseluruhan tahap tersebut, tahap budidaya menjadi faktor dominan dalam menentukan karakter citarasa kopi.

Baca juga: menanam bibit kopi menanam pengharapan hidup

Hal tersebut diungkap oleh Deny Pradana, roaster yang hadir dalam Pengenalan Roasting dan Citarasa Kopi, di Sekretariat Kelompok Tani Kopi RTM (Repbulik Tani Mandiri), desa Kucur, kecamatan Dau, kabupaten Malang, 18-19 Desember 2023. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Insentif UMKM Berbasis Kemitraan dari Kemendikbud-ristek, kerja sama Universitas Ma Chung dengan Kelompok Tani Kopi RTM.

Kalau kita cukup memiliki energi dalam mengolah kopi, bisa menghasilkan biji kopi yang berkualitas single origin dengan kualifikasi specialty.

Pada setiap tahap pengolahan, membutuhkan kecermatan dan ketelatenan tersendiri, demi menghasilkan kopi yang berkarater dan citarasa yang menarik. “Kalau kita cukup memiliki energi dalam mengolah kopi, bisa menghasilkan biji kopi yang berkualitas single origin dengan kualifikasi specialty. Agak ribet memang. Tidak bisa banyak. Bukan termasuk produksi massa atau mass production. Namun produk seperti itu, akan selalu memiliki pasarnya sendiri,” bebernya memetakan pangsa pasar.

Baca juga: pelatihan budidaya kopi, ada celah bersyukur

Oleh karena itu, lanjut Deny, produk kopi bisa disebut sebagai produk ‘artisan’, seperti layaknya lukisan hasil karya seniman lukis. Meski, tak menutup kemungkinan, kopi juga bisa disebut sebagai produk dari produksi massa atau asalan.

Lebih jauh, di samping faktor ketinggian lahan, tambahnya lagi, tanaman kopi juga dipengaruhi oleh unsur hara tanah. Ada beberapa tempat yang memang cocok, karena menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi tumbuhnya tanaman kopi.Dengan demikian, tambahnya lagi, citarasa kopi dari masing-masing daerah, tentu akan sangat berbeda. Setiap daerah memiliki citaras kopi yang khas.

Kita akan sangat terbantu, apabila mengenal pula karakter petani yang menanamnya.

“Nah, dalam hal konteks inilah, para roaster itu perlu mengenali karakteristik biji kopi yang hendak diolahnya. Baik kalau kita bisa mengetahui, mengenal lingkungan di mana biji kopi yang hendak kita olah itu dibudidayakan. Bahkan, kita akan sangat terbantu, apabila mengenal pula karakter petani yang menanamnya,” ungkapnya bernada serius.

“Di Indonesia, kalau kita cermati, ada kawasan yang memang cocok dengan satu varian kopi. Misalnya, untuk kopi robusta, sangat cocok ditanam dan dikembangkan di kawasan gunung Semeru atau di daerah Manggarai. Biji kopi yang dihasilkan, karena dukungan ekosistem alamnya, citarasa kopi robusta akan muncul dengan kuat. Demikian juga dengan kopi arabika.”

Baca juga: Lindungi Kulitmu Dengan Tabir Surya 

 Berkaitan dengan hal tersebut, menurut Deny, petani yang tidak berada dalam kawasan seperti itu, tidak perlu menyurutkan semangat dan harapannya. Sebaliknya, hal tersebut menjadi peluang bagi petani maupun para pecinta kopi, berupaya menggali ciri khas atau karakter kopi yang dikembangkannya.

Termasuk dalam tahap pengolahan pasca-panen. Deny meneruskan, biji kopi yang dipetik di suatu daerah, tentu akan diolah di daerah tersebut. Proses pengolahan pasca-panen dengan metode natural, semi-basah maupun basah-penuh, sangat ditentukan dari situasi daerah tersebut. Semakin banyak tersedia sumber air, metode pengolahan basah tentu bisa dicoba. Termasuk pula metode fermentasi, tentu dipengaruhi suhu, cuaca dan tingkat kelembaban di daerah tersebut.

Pada pihak lain, tambahnya lagi, etos kerja petani juga cukup menentukan. “Ya, tentu akan berbeda, antara tanaman yang terawat dengan tanaman kopi yang tak terawat dengan baik,” tandasnya lagi.

Cara Sangrai (Roasting) Kopi

Setelah mengenal karakter asal-usul biji kopi, para roaster juga perlu mengenal bahan-bahan mesin roasting (sangrai) yang digunakannya. Sebab jenis bahan penghantar panas yang digunakan untuk menyangrai kopi, juga bermacam-macam dan memiliki karakter sendiri.

Tingkat kepadatan tanah yang digunakan untuk membuat tembikar, akan memengaruhi konsistensi panas yang dihantarkan

“Kalau kita menyangrai kopi dengan tembikar, wajan berbahan dari tanah, tentu panasnya akan berbeda dengan perlatan dari keramik atau bahan logam. Tembikar cenderung lambat menyerap panas, kuat menyimpan energi panas namun lambat menghantarkan panas pada biji kopi. Tingkat kepadatan tanah yang digunakan untuk membuat tembikar, akan memengaruhi konsistensi panas yang dihantarkan. Demikian halnya dengan pemanas berbahan keramik maupun logam,” papar Head Roast Cuan Tanha, Malang ini.

Bagi Deny, kopi yang berkualitas bukan semata-mata dihasilkan oleh peralatan yang digunakan. Akan tetapi, lebih pada sejauhmana kita mengenal karakter biji kopi dan seluruh peralatan yang digunakan.

Pada pihak lain, Deny juga menyarankan untuk mencermati dinamika sosio-kultur masyarakat, khususnya dalam usaha kopi. “Pada kelompok masyarakat tertentu yang suka berkumpul, ngopi bareng, potensi membuka usaha warung atau kedai kopi, cukup potensial. Warung atau kedai kopi, menjadi arena nongkrong atau bersosialisasi.”

“Berbeda jika kita berada di masyarakat yang lebih berminat menikmati kopi secara privat di rumah. Tentu akan kurang diminati, kalau kita buka kedai kopi. Mungkin ada juga pembelinya, namun beli untuk dibawa pulang dinikmati di rumah sendiri.”

Dengan perkataan lain, “ya, kebiasaan atau budaya ritual minum kopi di suatu daerah, menjadi pertimbangan tersendiri, sebelum kita memutuskan membuka usaha kedai kopi. Apakah kita menyediakan tempat untuk menikmati seduhan kopi yang nyaman atau cukup membuka ‘toko kopi bubuk’.

Kita sulit mendapatkan kedai atau warung kopi yang berusia tua. Namun kalau toko bubuk kopi yang sudah berusia ‘tua’, ada di Malang.

Lebih lanjut, Deny Pradana juga mengamati, perihal ‘ritual’ minum kopi bukan tak mungkin mencerminkan dinamika kultur masyarakat. Kemudian disebutkan sebagai contoh. Di kota Malang, kita sulit mendapatkan kedai atau warung kopi yang berusia tua. Namun kalau toko bubuk kopi yang sudah berusia ‘tua’, ada di Malang.

Dalam beberapa tahun terakhir, tumbuh daerah atau kawasan yang membuka kedai kopi. Hal tersebut tak dapat dilepaskan seiring begitu massif-nya pendatang dari luar kota Malang. Terutama, mereka yang membawa ‘tradisi ritual’ dalam minum kopi.

Dengan begitu, aroma dan citarasa kopi, meruar tak bisa dijauhkan dari geliat kultur peminumnya. Selalu saja ada kisah dalam secangkir kopi.

Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup

Kampusdesa.or.id–Menandai peringatan hari ulang tahun Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) ke-92 tahun, sebagian warga Jemaat Kucur melakukan penanaman bibit kopi di Minggu, 10 Desember 2023. Penanaman bibit dilakukan di lahan milik Ponimin, warga Jemaat Kucur yang lama terbengkalai. Selepas ibadah Minggu pagi, tak kurang 25 warga petani kopi, gotong royong menanam bersama. Mengawali giat tanam kopi bareng, dibuka dengan doa Pdt. Maria Eka Olviana, S.Si.

Kopi Merebut Jeruk

Ditengah giat menanam, menyusul hadir empat mahasiswa prodi Manajeman Universitas Ma Chung. Hadir pula Wahyudi Wibowo, dosen manajemen Universitas Widya Mandala, Surabaya.

“Bibit yang kita tanam ini, semoga saja tidak hanya memberikan kesejahteraan bagi kita, sebagai manusia. Akan tetap juga memberikan kesejahteraan bagi lingkungan dan alam semesta,” tuturnya dalam doa, mengawali buka lahan.

Puluhan tahun, warga Jemaat Kucur dan warga desa Kucur, hidup sebagai petani cengkeh dan kopi. Dalam satu dekade terakhir, banyak warga mengganti tanaman cengkeh dan kopi, dengan buah jeruk. “Kopi kalah dengan jeruk, karena (nilai jualnya) lebih mahal,” tutur Supadi.

Meski telah puluhan tahun menanam kopi, harga jualnya dirasa belum sepadan dengan kebutuhan hidup. Kualitas dan produktivitas kopi, juga cengkeh, tidak terlalu tinggi.

Hal tersebut terjadi karena pengetahuan budidaya kopi, tak mengalami perkembangan berarti. “Ya, pengetahun bertanam kopi, ya dari orangtua atau saudara, tetangga,” tambah Yakim, petani setempat

Dalam tiga tahun terakhir, dengan adanya Kelompok Tani Kopi Republik Tani Mandiri (RTM), secara perlahan, beberapa warga merasa mendapatkan pengetahuan dalam budidaya kopi.

Baca juga: Pelatihan Budidaya Kopi, Ada Celah Bersyukur

“Ya, termasuk setalah mengikuti program Patuwen Kopi, kami dapat belajar dari kelompok tani kopi lain. Banyak pelajaran yang kami dapatkan,” tambah Supadi.

Program Patuwen Kopi digelar oleh Sekretaris Bidang (Sekbid) Pelayanan dan Kesaksian (Kespel), Majelis Agung (MA) GKJW.

Program Patuwen Kopi diikuti tiga kelompok Tani kopi yang ada di sekitar jemaat GKJW: desa Srimulyo (Jengger) kecamatan Dampit, desa Sumberdem, kecamatan Wonosari (Gunung Kawi) dan desa Kucur, kecamatan Dau. Ketiganya berada di seputar kabupaten Malang.

Saling kunjung, saling belajar dan saling menuai pelajaran terbaik. Giat itu, nampaknya menyulut gairah menanam kopi.

Menyayangi Kopi

Jika diolah dengan baik, tanaman kopi tak hanya memberikan hasil dari segi panennya. “Kita menanam kopi itu kan juga bisa memberikan kenikmatan. Tak hanya dari biji kopi yang memberikan citarasanya yang nikmat.

Tanaman kopi juga menyediakan udara segar bagi mahluk hidup lainnya. Oksigen yang kita hirup,” urai Fakhul Ulum, akrab disapa Gus Ulum, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonosantri Abadi, Singosari, Malang.

“Kalau kita rawat kopi itu dengan rasa sayang, penuh cinta kasih, pohon itu akan berterima kasih koq,” ujar Wagiyo, tenaga asisten ahlindari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.

Bagi petani warga Jemaat Kucur, giat tanam kopi ini, tak berlebihan apabila menjadi saat yang istimewa. Setiap bibit kopi yang ditanam, diiringi doa pengharapan terbaik.

Sebagai komunitas Kristen yang telah puluhan tahun hidup dari bertanam kopi, giat tandur kopi bersama, diiringi doa tanam bibit oleh Pdt. Maria Olvi, sebagai pendeta jemaat, menjadi hal yang pertama kali. Apalagi, dalam masa peringatan hari jadi GKJW.

Baca juga: Sholawat Sekarbanjar Dan Festival Maulid Nabi

Pengharapan akan hidup lebih baik, bukan semata pada pada aspek ekonomi. Sama seperti keyakinan yang bertumbuh dalam ruang batin keyakinan mereka, berpegang teguh pada tonggak pengharapan keimanan Sang Kristus.

Dengan demikian, menanam bibit kopi adalah juga menanam bibit pengharapan pada Sang Kristus dalam mengarungi ziarah hidup.

Menikmati aroma dan citarasa kopi, dapat pula bermakna meneguk tuntunan dan keteladanan.

Kopi, Kristus Oncoring Pepadang Ingsung.

Dirgahayu GKJW ke-92 tahun.