Selasa, Agustus 25, 2026
Beranda blog Halaman 9

40 days of Kanjuruhan Tragedy and Interfaith Prayers

0

Kampusdesa.or.id–It’s been 40 days since the Kanjuruhan tragedy killed 132 football supporters. Everyone is certainly grieving and does not forget that that day became a national disaster for Indonesia. On the 40th day, several interfaith communities prayed to show concern and spiritual support for the victims who died. Gusdurian Malang used this moment to gather to pray in an interfaith manner.

In addition, interfaith prayer strengthens the families of victims, injured supporters, and trauma survivors. Prayers tonight will unite us to rise to get justice and learn together. Violence in any form is not permitted to resolve the issue.

Read also: Gusdurian, Dialog Lintas Agama dan Lintas Negara

Gusdurian, MDGS Bunga Lely Parish No. 17, Lowokwaru, Malang City, Malang City Religious Harmony Forum held a prayer together to commemorate 40 days of the Kanjuruhan tragedy on Thursday, November 10, 2022. Also present at the prayer commemorating 40 days of the Kanjuruhan tragedy were the Catholic priests of Malang diocese, Lowokwaru sub-district head, Dandim , interfaith leaders, sisters, and interfaith congregations. Their memories and hopes are the same. The community gets a bright spot for the incident and immediately gets the certainty of justice. They don’t want to be forgotten.

Cross-faith empathy

The series of interfaith prayers also coincided with the commemoration of Heroes’ Day. Several agendas were well presented, starting with music performances, poetry musicals, and religious lectures. The interfaith prayer and the commemoration of Hero’s Day are important events to remember and declare that the people of Malang are facing justice for the incident.

Romo Fajar Soekarno, as the representative of the Lowokwaru Bishop’s Parish stated, “This prayer forum is important to mobilize Gusdurian’s concern for mental impacts for the people of Malang.” This event should not be forgotten even though it is not lamenting that society has become fragile and reactive. On this Hero’s Day, Gusdurian and interfaith people try to strengthen the people of Malang to rise up and find new solutions for the world of Arema football.

Read also: Gusdurian Malang dan Tantangan Relationship Management

In addition, several artistic performances and poetry musicals were used as media to refuse to forget. Through their songs, they respond critically to the tragedy of Kanjuruhan. Through poetry, refusing to forget is conveyed artistically so that it is not expressed negatively but can encourage empathetic concern for many people.

The 40 days of the Kanjuruhan tragedy and Hero’s Day were enlivened by religious lectures on tolerance by KH. Irwandiato. Kanjuruan can be a lesson between destiny and police vigilance. It’s regrettable because it happened. But Arema must be optimistic that Malang football can still rise. This kyai, who has been a student of many religious leaders in Malang, also emphasized that tolerance is a force for mutual care and acceptance of different faiths and beliefs in the truth of each religion.

Praying together for 40 days of the Kanjuruhan tragedy manifests concern, a sense of fate, and rising in harmony and religious diversity in the city of Malang. Together, the City of Malang, can rise without the barriers of religious differences.

Pengumuman Hasil Seleksi Peserta “Kelas Editor Kampus Desa Indonesia 2022”

0

[ PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PESERTA KELAS EDITOR KAMPUS DESA INDONESIA 2022 ]

Berdasarkan hasil seleksi administrasi dari sekian banyak pendaftar pada Kelas Editor Kampus Desa Indonesia 2022 ini, berikut kami sampaikan nama-nama terpilih yang mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama kami.

  1. Irma Patriana
  2. Thomas Edison Kabu
  3. Ria Setiaji
  4. M. Ihsan Rosidi
  5. Wahyu Ramadhan
  6. Dito Anurogo
  7. Zezen Zainul Ali
  8. Alam Syarizal
  9. M. Kholilur Rohman
  10. Riyan Salomo Parapat
  11. Lain Miftahu Suad
  12. Rizky Igustian Permana
  13. Aditya Mutiara Dewi
  14. Hery Setyawan
  15. Ali Sodikin
  16. Yansa Alif Mulya
  17. Handiana Muthoharoh
  18. Ahmad Sholakhudin
  19. Puspitasari Megahana
  20. Harlina Yunianti
  21. Rama Gonibala
  22. Mei Lusyana
  23. Fajar Setiawan
  24. Sirly Ma’rifah
  25. Vina Wasilatil Rahmah
  26. Fatimatul Muzzdmainah

SELAMAT KEPADA TEMAN-TEMAN YANG TELAH LOLOS SELEKSI.

Sebagai informasi awal, kelas akan dilaksanakan secara sinkronus dan asinkoronus. Silakan bergabung pada grup whatsapp dengan link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

https://chat.whatsapp.com/KHg6unxkClfFJYT65UA44k

Terimakasih,

Tertanda,
Panitia Seleksi.

Kedokteran 5.0: Perjalanan Panjang dari Sel ke Pengobatan Presisi di Era Genomik

0

Kampusdesa.or.id — Genetika merupakan ilmu tentang keturunan yang mempelajari berbagai problematika manusia seperti kesehatannya, cacat lahirnya jasmani maupun mental, pewarisan ciri-ciri dan kelainan bawaan, bahkan sampai merekayasanya genomik adalah studi tentang struktur fungsi dan pemetaan seluruh genom individu. Sederhananya, genetika adalah studi tentang hereditas atau pewarisan atau mendelian.

Pada tahun 2005 dengan berkembangnya teknik dan alat untuk mendeteksi secara molekuler pada DNA dan mempelajari keseluruhan sekuen DNA sebagai informasi genetik dari suatu sel manusia maka mulai memasuki era genomic pada saat itu telah dipasarkan alat yang bisa mensekuen seluruh DNA bernama next generation secuencing, pada tahun 2012 terbitlah  majalah time yang menawarkan masyarakat tanpa surat pengantar dokter atau dtc yang merupakan momok dan penghalang, dengan munculnya perusahaan swasta yang memunculkan dtc dengan membahas mengenai kanker, metabolic, wellness, anti-aging, prenatal diagnosis.

Berbicara tentang genomik, maka berbicara mulai dari awal yaitu melalui histology, diawali dari identifikasi sel dengan mikroskop cahaya dan berkembang ke mikroskop elektron. Dari pengalaman belajar, kromosom ternyata bisa membantu untuk proses diagnosis misalnya kromosom manusia ada 46 di sebelah kiri adalah kariotip kita lihat bahwa di situ ada delesi di lengan panjang kromosom 7, kondisi seperti ini sangat membantu para dokter klinisi terutama pada bagian hematologis misalnya pada kasus AML ini akan menunjukkan prognosis yang jelek. Contohnya jika pada pasien yang ingin dilakukan cangkok sumsum tulang harus dipertimbangkan apakah prognosisnya baik atau tidak

Pada DNA molekuler, yaitu dengan adanya berita seorang bayi yang mempunyai kepala dua  namun berminggu minggu tidak ada edukasi didalam berita tersebut. Dengan kenyataan sebenarnya bahwa bayi yang dimaksud tidak berkepala dua namun ensefalokel yang mestinya harus ada penjelasan kepada masyarakat bahwa kejadian tersebut terjadi karena defisiensi asam folat, hal inilah yang menggugah saya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan warness kepada dokter.

Pada tahun 2001, suplementasi asam folat pada ibu hamil sudah menjadi program nasional dimana asam folat tersebut tersedia di apotik dan puskesmas untuk mencegah terjadinya cacat bawaan kepala/tabung syaraf dengan dosis 10 kali. Asam folat juga diyakini dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Selanjutnya kasus Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) atau kerancuan kelamin/ambigu yang merupakan kasus kelainan gen yang terjadi di satu keluarga padahal mereka bisa produktif dan bermanfaat bagi Negara dan bangsa tpi mereka tidak bisa memastikan gendernya dan setelah di analisi ternyata dia perempuan dengan kromosom 46, XX yang terlambat terdiagnosis dan tidak mendapatkan pengobatan dini sehingga terjadi maskulinasi dini. Dari masalah tersebut selalu mendapat dukungan dari belanda dan kementrian kesehatan dengan pengadaan obat untuk kelainan alat kelamin CAH  dan menindaklanjuti usulan dari RS dr. Haryadi dan FK Undip pada akhirnya hydrocortisone di produksi di Indonesia dengan harga yang cukup mahal dan obat ini digunakan secara terus menerus pada penderita namun obat tersebut saat ini telah dicover oleh BPJS.

Selanjutnya apa yang dilakukan ke masyarakat?

Pada saat digunung Kidul dilakukan pengambilan sampel darah 2 orang untuk di teliti di labolatorium dan ternyata memiliki hasil positif fragile X dan setelah hal tersebut dilakukan  pengambilan data ulang dan ternyata didaerah tersebut lebih dari 50 % positif fragile X yang merupakan retardasi mental menurun dimana pada laki laki gejala yang ditimbulkan sangat mencolok namun pada perempuan hanya terdapat gangguan belajar saja.

Selanjutnya bekerja sama dengan riset disorder of sex development/kerancauan kelamin dengan Erasmus university, Belanda dan MCRI/ Univesity of Melbourne dengan lebih 1200 pasian yang telah ditangani dengan baik dan dengan merintis diagnosis genomic dan berikutnya kolabolari internasional menghasilkan banyak MSc, PhD, penelitian dan publikasi genomic bereputasi .

Era Genomik

Precision Medicine adalah pendekatan perawatan pasien yang memberikan kesempatan dokter utuk memilih pengobatan yang paling tepat berdasarkan pada pemahaman genetic penyakit mereka, sedangkan Personalized medicine merupakan pengobatan individu yang menggunkan informasi tentang gen seseorang produk protein gen dan lingkungan untuk mencegah mendiagnosis dan mengobati penyakit. Targeted Treatment adalah memblokir pertumbuhan dan penyebaran kanker dengan menginterfensi molekul spesifik atau target yang terlibat dalam pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran kanker, tergantung pada patologi molukuler dari penyakit tersebut (hasil pemeriksaan DNAnya).

Targeted treatment pada penderita leukimia (CML)

Pada penderita CML ditemukan translokasi kromosom 22 yang menjadi pendek, pindah ke kromosom 9. Ternyata kondisi seperti ini, ada gen bcl-abl yang mengalami fusi yang bersatu dan setelah ditemukan tehnik molekuler dan apabila kejadian ini ditemukan pada penderita CML prognosisnya baik dan sensitif pada pengobatan TK inhibitor: Imatinib/Gleevec dengan kelainan kromosom translokasi dan pada ALL memberikan prognosis yang jelek.

Contoh lainnya pada: Pertimbangan target Anti-EGFR pada kanker usus besar, dimana kanker usus besar terjadi karena mutasi gen KRAS2 yang menghancurkan jalur pensinyalan. Pada kanker payudara dilakukan test genetik BRCA1. Pada kardiovaskuler sendiri, pasien dengan delesi homozigot intron 16 dari gen Angiotensin Converting Enzyme (ACE) tidak menunjukkan manfaat dengan obat hipertensi enalapril, namun pasien lainnya merasakan sebaliknya. Begitu pula pada pasien DM dan epilepsi.

Keuntungan pengobatan presisi sendiri yaitu: Dokter dapat meresepkan obat yang lebih efektif dan terhindar dari meresepkan obat dengan prediksi efek samping/tidak cocok, Meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dengan menargetkan obat yang tepat kepada pasien yang tepat, Meningkatkan kualitas hidup pasien, Mengurangi waktu, biaya, tingkat kegagalan uji klinis farmasi, Personalized Medicine akan memungkinkan dokter untuk memprediksi penyakit apa yang akan berkembang, terapi apa yang tepat untuk setiap pasien dan dosis obat berapa yang sesuai untuk pasien tersebut.

*Orasi Guru Besar FK UNDIP, Prof. Dr. Sultana MH Faradz, PhD, PAK, dinarasikan kembali oleh Nur Rahmah Awaliah selaku mahasiswa internship School of Life Institute dan mahasiswa aktif di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Uniiversitas Muhammadiyah Makassar, dan telah mendapatkan supervisi langsung oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc.

Mengenal Lebih Dekat Teman Tuli

0

Kampusdesa.or.id– Kata tuna umum dipakai untuk menunjukkan keadaan disabilitas atau difabel seseorang. Orang yang tidak bisa melihat disebut tuna netra, ada gangguan  gerak tubuh dilabeli tuna daksa, dan tuna-tuna lainnya. Orang yang mengalami keterbatasan mendengar biasanya disebut tuna rungu, yang secara otomatis mengalami kesulitan berkomunikasi. Namun, berbeda dengan persepsi banyak orang yang menggunakan kata “tuna” sebagai kata yang lebih sopan, sebenarnya orang-orang yang mengalami keterbatasan mendengar lebih suka disebut Tuli, dengan menggunakan huruf t kapital. Mengapa demikian?

Bagi disabilitas pendengaran, kata tuna merujuk kepada sebuah gangguan, rusak, cacat. Sedangkan gangguan adalah sesuatu yang harus diperbaiki. Tuna rungu lebih ke istilah medis sehingga memerlukan tindakan,  diberi alat bantu dengar, atau operasi koklea. Bagi mereka, tuli adalah sebuah perbedaan sehingga mereka ingin diterima sebagai sebuah identitas, yaitu Tuli. Maka muncullah istilah teman Tuli.

BACA JUGA:
12 Ciri Anak dengan Autism yang Wajib Anda Ketahui

Budaya Komunikasi dengan Teman Tuli

Ada beberapa budaya tuli yang sangat berbeda dengan orang yang bisa mendengar. Pertama, budaya tuli menggunakan visual, sedang budaya dengar menggunakan oral. Anda tidak bisa bercakap dengan teman Tuli tanpa mereka melihat anda, meskipun anda menggunakan bahasa isyarat. Kedua, budaya tuli menggunakan getaran, budaya dengar menggunakan suara.

Setiap nama teman Tuli mempunyai isyarat yang berbeda meskipun nama mereka sama.

Budaya tuli yang ketiga adalah penggunaan bel lampu, sedangkan budaya dengar menggunakan bel suara. Budaya keempat yaitu nama isyarat, sementara budaya dengar menggunakan nama panggilan. Setiap nama teman Tuli mempunyai isyarat yang berbeda meskipun nama mereka sama. Nama isyarat ini diberikan oleh komunitas tuli dengan mengambil dari inisial nama, ciri fisik, hobby, maupun pekerjaannya. Budaya tuli yang kelima adalah memanggil dengan menyentuh, sedangkan budaya dengar memanggil dengan suara. Maka, bila anda hendak memanggil mereka, dekatilah dan sentuhlah pundaknya.

Budaya selanjutnya adalah berkomunikasi dengan melihat orangnya, lain dengan budaya dengar yang tidak harus melihat orang yang mengajaknya berbicara. Itulah sebabnya berkomunikasi jarak jauh dengan teman teman tuli yang paling cocok menggunakan video call selain berkirim pesan menggunakan teks.

Terakhir, budaya yang paling unik bagi teman Tuli adalah bisa berkomunikasi saat mulut penuh makanan. Tentu budaya ini tidak bisa dilakukan oleh orang dengan budaya dengar. Teman Tuli menggunakan bahasa isyarat dengan memakai tangan sebagai media berkomunikasi, tentu mereka bisa bercakap sambil makan.

Aksesibilitas Teman Tuli

Selain budaya tuli, setidaknya ada empat aksesibilitas teman Tuli yang perlu kita ketahui. Aksesibilitas yang pertama adalah penggunaan bahasa isyarat dalam berkomunikasi. Bahasa isyarat ada dua jenis, yaitu SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia). SIBI merupakan bahasa baku, dipakai secara formal, semisal oleh interpreter dalam berita, sekolah, dan acara-acara resmi lainnya. Bisindo adalah bahasa isyarat yang dipakai dalam komunitas tuli. Bisa jadi ada perbedaan isyarat yang dipakai teman Tuli di Surabaya dan teman Tuli di Kediri. Pendeknya, SIBI merupakan bahasa resmi, sedangkan Bisindo  lebih seperti bahasa daerah.

Membaca tulisan memudahkan teman Tuli memahami komunikasi. Oleh sebab itu, hindarilah penggunaan voice atau suara.

Selanjutnya, ada aksesibilitas kalimat tulisan. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan teman tuli dalam mendengar, maka membaca tulisan memudahkan teman Tuli memahami komunikasi. Oleh sebab itu, hindarilah penggunaan voice atau suara.

BACA JUGA:
Stereotip Salah Kaprah terhadap Orang Tua ABK

Berikutnya, aksesibilitas visual information. Bagi teman Tuli, informasi  akan lebih mudah dimengerti bila berupa informasi visual, baik berupa tulisan, dikomunikasikan langsung (face to face), maupun tidak langsung dengan menggunakan gambar atau video.

Aksesibilitas yang terakhir adalah adanya interpreter atau penerjemah. Penerjemah memegang peranan penting bagi teman Tuli. Dengan adanya interpreter (penerjemah), teman Tuli bisa mengakses berita televisi. Penerjemah juga bisa menjembatani komunikasi yang efektif dengan orang yang tidak mengerti bahasa isyarat. Maka, sudah selayaknya di setiap dinas atau lembaga ada interpreternya.

Dengan mengetahui budaya tuli dan aksesibilitasnya diharapkan masyarakat lebih mengenal dan lebih berempati pada teman Tuli. Selanjutnya bisa berbaur dan menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang mempunyai hak yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Menerima mereka dengan segala potensi yang mereka miliki. Intinya kita semakin bisa memanusiakan manusia sebagai pilihan menjadi teman baik teman tuli.

Nganjuk, 24 Oktober 2022.

Pengobatan HIV-AIDS dengan Nano-Teknologi

Kampusdesa.or.id – Minggu (25/09) Generasi Peneliti melaksanakan seminar nasional secara virtual. Kali ini bertemakan The Art of Nano-immuno-biotechno-medicine 5.0 in HIV-AIDS Management. Webinar ini dilaksanakan secara virtual atau daring melalui aplikasi Zoom meeting dengan jumlah partisipan 110 orang yang ditujukan untuk akademisi, dokter, pengamat, masyarakat umum, dan orang-orang dari semua lapisan masyarakat. Di awal sesi, webinar ini dipimpin langsung oleh moderator dan terdapat beberapa sambutan pakar yang ditayangkan melalui youtube, yaitu: sambutan oleh Prof. dr Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. (Director members at Large International Association of Medical Regulatory Authorities (IAMRA), Dr. Jakir Hossain Bhuiyan Masud, M.Sc, M.PH (WHO Digital Health expert), dan dr. Agus Ujianto, M.Si, MED., Sp.B. (Ketua Pimpinan Pusat PREDIGTI), serta Dr. dr Taufik Jamaan SpOG(K) (Ketua Asosiasi Wisata Medis Indonesia/AWMI).

Kegiatan ini diisi oleh narasumber yang luar biasa yaitu dr. Dito Anurogo, M.Sc. yang merupakan Dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar yang saat ini sedang menjalani studi Ph.D. di Taipei Medical University (TMU), Taiwan. Adapun topik yang akan dibahas oleh beliau yaitu Bagaimana pengobatan HIV-AIDS saat ini yang dipengaruhi oleh Nano-immuno-biotechno-medicine di era digital? Dimana kemajuan teknologi telah mengubah terapi, khususnya pengelolaan pada HIV/AIDS? Mari kita simak penjelasan lebih lanjut.

Pada tahun ke tahun kejadian HIV semakin meningkat, perbedaan antara HIV dan AIDS yaitu jika HIV,  merupakan virus yang menyebabkan infeksi HIV dan merusak penururnan kekebalan tubuh dengan membunuh sel sel CD4 sedangkan AIDS merupakan stadium atau tahapan akhir dari infkesi HIV.

Afrika Sub-Sahara sejauh ini masih menjadi wilayah yang terkena dampak terburuk di dunia, dengan 22,4 juta kasus menderita HIV pada tahun 2008.

Pada tahun 2008 diperkirakan 33,4 juta orang menderita HIV dan 2,7 juta orang diantaranya tertular HIV. Pada tahun 2008: AIDS membunuh 2,0 juta orang. Jumlah orang yang menderita HIV terus meningkat di setiap wilayah, dengan peningkatan tertinggi terjadi di Asia Timur, Asia Tengah dan di Eropa Timur yang mencerminkan efek gabungan dari tingkat infeksi HIV baru yang terus tinggi. Afrika Sub-Sahara sejauh ini masih menjadi wilayah yang terkena dampak terburuk di dunia, dengan 22,4 juta kasus menderita HIV pada tahun 2008.

Bagaiamana virus-virus itu dapat menyerang tubuh manusia?

Adapun tanda atau gejala dari HIV yaitu demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat di malam hari tanpa melakukan aktivitas, tenggorokan sakit atau tidak nyaman, nyeri otot, nyeri sendi, lemah letih lesu, pembengkakan kelenjar limfa, luka dimulut yang mirip sariawan. Namun, beberapa pasien hanya merasakan beberapa gejala bahkan tidak merasakan gejala apapun.

Secara umum, struktur tempat tinggal virus setelah infeksi meliputi: makrofag, sumsum tulang, kelenjar getah bening, limpa, paru-paru, dan sistem saraf pusat (SSP). Hal ini merupakan reservoir HIV dalam tubuh manusia. Ketika  terdapat virus dalam SSP makan akan menyebabkan kerusakan saraf yang signifikan terkait HIV. Dengan tidak adanya pengobatan, infeksi HIV dapat menyebabkan kematian dalam waktu 5 – 10 tahun.

Dengan tidak adanya pengobatan, infeksi HIV dapat menyebabkan kematian dalam waktu 5 – 10 tahun.

Infeksi virus HIV dapat mengakibatkan imunosupresi yang bertanggung jawab untuk sebagian besar gambaran klinis AIDS. Virus ini merusak sistem kekebalan tubuh karena target utamanya adalah T4 limfosit, yang merupakan komponen kunci untuk menghasilkan dan mengatur respon imun. Reseptor seluler untuk HIV, yaitu membran glikoprotein CD4, ditemukan terutama pada permukaan protein utama ini subpopulasi limfosit T dan juga pada banyak jenis sel lain seperti: dari seri monosit/makrofag. HIV dapat menghancurkan sel CD4 dengan sitotoksisitas virus langsung dan secara tidak langsung melalui respon host terhadap sel yang terinfeksi HIV atau sel target-gp120. Sel-sel dari garis keturunan makrofag umumnya tidak dihancurkan tetapi berfungsi sebagai reservoir virus. HIV juga menyebabkan gangguan fungsional pada sel T, sel B dan monosit. Virus  tersebut bisa bermanifestasi menjadi akut atau kronis.

Bagaimana pengobatan berbasis nanoteknologi itu?

Sistem berbasis nanoteknologi untuk pengobatan HIV-AIDS meliputi Liposomes, Dendrimers, Polymeric Micelles, Niosomes dan Partikel nano. Keuntungan menggunakan nanoteknologi ini yaitu: Peningkatan bioavailabilitas, pelepasan terkendali, perlindungan obat, penurunan resistensi obat, mengatasi hambatan sel dan penargetan spesifik lokasi.

Hasil positif dari perspektif kesehatan masyarakat tentunya sangat jelas, keuntungannya yaitu memberikan lebih banyak alasan nanoteknologi harus maju dalam bidang pengiriman obat. Pada tahun 2007, pengiriman obat berbasis nano senilai 3,4 miliar USD. Dalam laporan Oktober 2020 dari 2027, pasar global akan melonjak ke nilai 152 miliar USD. Perusahaan bioteknologi besar telah membuka pintu ke bidang penelitian dan aplikasi yang luas mengenai nanoteknologi.

Bagaimana nanoteknologi dapat digunakan untuk membantu mengobati penyakit HIV?

Nanoteknologi bisa meningkatkan terapi antivirus melalui berbagai cara, yaitu: (1) Nanopartikel : secara khusus dapat melindungi virus atau sel yang terinfeksi memberikan terapeutik dan meningkatkan bioavailabilitas; (2) Beberapa bahan nano memiliki sifat virucidal yang memungkinkan virus tersebut untuk mengganggu dan mengubah struktur virus; (3) Nanodecoy: dapat berinteraksi langsung dengan virus untuk menetralisir infektivitasnya, atau dapat digunakan untuk menyerap sitokin inflamasi dan mengurangi hiperinflamasi.

Nanovaksin biomimetik termasuk pembawa biomimetik yang dimuat dengan: molekul terapeutik yang dirancang untuk dikirim ke situs target menunjukkan bahwa berbagai jenis NP biomimetik melibatkan liposom, protein NP, NP yang Nanovaksin biomimetik termasuk pembawa biomimetik yang dimuat dengan: molekul terapeutik yang dirancang untuk dikirim ke situs target. Sosok itu menunjukkan bahwa berbagai jenis NP biomimetik melibatkan liposom, protein NP, NP yang didekorasi dengan membran sel, dan VLP dengan membran sel, dan VLP.

Keuntungan dari nanovaccines biomimetik yaitu: a) Nanovaksin biomimetik mempertahankan pusat germinal dan sel B di dalam tubuh, yang bertanggung jawab untuk melepaskan antibodi penetral antivirus terhadap virus. b) Biomimetik nanovaccines memperkuat respon imun humoral dengan menginduksi pematangan DC yang lebih tinggi dan merangsang sel T sitotoksik untuk membunuh sel kanker, c) Nanovaksin biomimetik dapat menargetkan sel darah yang terinfeksi, dan menginduksi respon imun yang kuat di dalam tubuh kita, dan d) Biomimetic nanovaccine adalah cocok untuk membawa antigen, adjuvant, dan molekul terapeutik. 

Bagaiamana cara mencegah terjadinya HIV sejak dini?

Cara untuk mengurangi risiko tertular HIV yaitu dengan: Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual, memastikan bahwa pasangan yang menderita HIV sedang menjalani pengobatan, menggunakan PrEP untuk mencegah penularan HIV jika  memiliki risiko berkelanjutan termasuk selama kehamilan, menggunakan jarum dan spoit steril untuk semua injeksi dan melakukan tes dan perawatan untuk infeksi menular seksual.

Untuk mencegah penularan HIV jika  memiliki risiko berkelanjutan termasuk selama kehamilan, menggunakan jarum dan spoit steril untuk semua injeksi dan melakukan tes dan perawatan untuk infeksi menular seksual.

Webinar ini diawali dan juga diakhiri dengan pelaksanaan pre dan post test untuk mengukur kemampuan peserta webinar dalam memahami topik yang disajikan. Beberapa pertanyaan dari peserta yang dilontarkan juga pertanda bahwa topik tersebut sangat menarik untuk dibahas. Beberapa testimonial peserta juga mengatakan webinarnya sangat bermanfaat, seru, dan menarik. Ada juga yang mengatakan bahwa “mantap tetarik kolaborasi, materi up to date, Acara yang sangat bagus menambah wawasan ilmu, Luar biasa materinya dan It’s awesome, great”. Semoga kedepannya generasi peneliti bisa melaksanakan kembali keguatan atau event yang seperti ini.

*Tullisan ini disupervisi dr. Dito Anurogo, M. Sc

Merebut Ruang Publik untuk Anak

0

Kampusdesa.or.id–Mengapa tempat cangkrukan di pos lebih banyak didominasi oleh bapak-bapak, atau yang diberi tempat berkumpul ibu-ibu PKK? Sementara anak-anak berkreasi mandiri entah mau bermain di mana, tergantung keberuntungan mereka mendapatkan ruang bermain.  Saat anak merebut ruang publik di gang-gang, mereka dimarahi mengganggu ketenangan. Kehadiran anak-anak dianggap menjadi masalah, sementara mereka ingin ruang bebas bermain dan mendapatkan kegembiraan ala mereka sendiri. Anak tidak lagi diberi hak ruang publik oleh karena mengganggu sementara orang dewasa bebas mendapatkan ruang publik tersebut. Anak tidak dianggap secara ramah ketika hadir di ruang publik kampung.

RT 5 Perum Joyogrand Merjosari Malang andil memulai membiasakan kampung memberi ruang publik bagi anak-anak. Di pagi hari mulai 08:30, Minggu, 09 Oktober 2022, Taman Baca RT 5 dihadiri pegiat literasi dari Gubuk Tulis, Gusdurian Malang, dan Kampus Desa Indonesia, serta mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang. Mereka membawa buku anak-anak, peraga menggambar, dan permainan tradisional. Altar baca buku dibeber di depan Taman Baca RT 5. Tebar baca dilakukan sejak pukul 08:00 sampai 10:30 WIB. Kegiatan tersebut memperkuat pengakuan jika Taman Baca adalah ruang publik anak yang perlu dibela.

Mengapresiasi Ruang Publik Ramah Anak

Kegiatan tebar baca bertujuan mengenalkan kepada anak-anak, dan warga kampung lebih dekat dengan buku. Bertempat di Taman Baca RT 5, tebar baca memberikan penekanan ke warga jika membaca tidak bisa dipaksakan ke anak-anak, tetapi mereka perlu dipancing melalui tebar baca terbuka sehingga anak-anak mudah mendapat kesempatan menemukan bahan bacaan dengan mudah. Gubuk Tulis dan jaringannya berusaha menjembatani agar anak-anak terlayani secara ramah. Taman Baca seperti RT 5 ini wajib dilestarikan. Gubuk Tulis membantu anak-anak merebut ruang publik anak.

Taman Baca RT 5 Perum Joyogrand, Merjosari, Lowokwaru, Malang. Pemkot Kota Malang perlu membuat aturan pengembang untuk Fasum Anak

Selain itu, tebar baca juga menguatkan beberapa pojok kampung yang sudah memiliki ruang publik terpadu ramah anak. Melalui tebar baca, konsultasi, dan bermain permainan tradisional, cara demikian dapat mendekatkan kegiatan literasi menyenangkan, terbuka, dan inklusif. Di ruang terbuka ramah anak, sebagian anak kecil perlu dikenalkan berbagai rangsangan literasi baik membaca, bermain, bercerita bersama, berkumpul secara mendekat. Beberapa anak menikmatinya. Apresiasi ruang publik terpadu ramah anak membutuhkan dukungan dari orang dewasa secara terus-menerus.

Merebut Kegembiraan Tanpa Batas

Sebagian anggota Gubuk Tulis langsung beraksi. Altar digelar untuk tempat menggambar dan membaca. Sebagian di antara anak-anak lebih suka mewarna. Ada gambar tokoh, pemandangan, dan aneka pilihan sketsa untuk diwarna. Bahkan anak balita pun menikmati menggambar dengan gaya menjungkit. Beberapa ibu mendampingi anak-anak yang sedang mengekspresikan rasa ingin tahu mereka. Rasa ingin tahu yang lucu bagi anak, seperti belajar egrang batok padahal usia nya masih dua tahun. Anak-anak memperoleh kesempatan sehingga terbantu rangsangan pertumbuhan fisik dan ruang sosialisasnya.

Anak-anak memperoleh kesempatan sehingga terbantu rangsangan pertumbuhan fisik dan ruang sosialisasnya.

BACA JUGA
Saatnya Menggeser Teori Parenting Impor dalam Psikologi

Sebagian orang dewasa juga bergabung seolah menunjukkan mereka rindu masa anak-anak. Seorang ibu mencoba egrang besar, meski juga belum bisa. Ada juga sejumlah bapak-bapak menunjukkan ketrampilan bermain egrang seolah menunjukkan masa lalunya adalah seorang anak yang piawai bermain. Perebutan ruang publik untuk anak menunjukkan interaksi terpadu di antara anak-anak dan orang dewasa. Mereka berbagi aktifitas tanpa terbatasi usia. Tebar baca Gubuk Tulis membantu imajinasi masa lalu terhubung dengan masa kini dalam kegembiraan.

Mengadvokasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak

Kami bersyukur Rumah Baca RT 5 menjadi ruang publik terpadu ramah anak. Tempat ini meningkatkan kepedulian terhadap hak-hak anak di ruang publik, meskipun ruang publik ini harus berbagi dengan jalan perumahan dan harus menutup salah satu portal agar jalan pinggir perumahan dapat dimanfaatkan anak lebih aman. Cara ini dapat menjadi bagian dari advokasi rukun tetangga untuk menjamin hak anak terlayani.

Ketersediaan ruang publik terpadu ramah anak membantu variasi gerak anak menjadi sehat mental secara individu dan terampil sosial.

BACA JUGA
Pengasuhan Anak Berbakat, Bisakah Menjanjikan Masa Depan Sesuai Cita-Cita Anak?
Gulat dengan Sang Profesor

Ruang publik terpadu ramah anak perlu ditumbuhkembangkan, utamanya kota Malang, karena belum maksimal. Khususnya di perumahan yang acapkali tidak menjadi prasyarat fasilitas umum. Alih-alih anak-anak sering merebut jalan untuk bermain (Budiyanti, 2018; Herlina & Nadiroh, 2018; Karsten & Van Vliet—, 2006; Puspa et al., 2021; Suryo P & Siswanto, 2018). Tebar Baca dan Taman Baca RT 5 memaksa menjawab kebutuhan anak di tengah belum maksimalnya layanan Kota Ramah Anak Kota Malang. Ketersediaan ruang publik terpadu ramah anak membantu variasi gerak anak menjadi sehat mental secara individu dan terampil sosial. Ia menjadi wadah mengalihkan kegiatan dari gawai monoton ke sosialisasi yang menyehatkan dan membantu kebutuhan gerak tubuh merangsang kecerdasan anak (Ndari et al., 2019).

Ia menjadi wadah mengalihkan kegiatan dari gawai monoton ke sosialisasi yang menyehatkan dan membantu kebutuhan gerak tubuh merangsang kecerdasan anak (Ndari et al., 2019)

Di Amsterdam dan Rotterdarm Belanda, perebutan keluarga dan masyarakat terhadap jalan yang digunakan untuk bermain anak menjadi rekomendasi penting agar pengembang memerhatikan hunian kota layak anak (Karsten & Van Vliet—, 2006). Tebar Baca, atau Rumah Baca yang semestinya hadir pada setiap kampung pada masyarakat urban, tidak mudah terwujud ketika setiap jengkal hunian selalu bernilai ekonomis. Anak tidak lagi sanggup bersuara. Dia berebut dalam ruas-ruas jalan.

Sumber bacaan

  1. Budiyanti, R. B. (2018). Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA): Layakkah sebagai ruang publik ramah anak? Seminar Nasional Pakar Ke 1.
  2. Herlina, N., & Nadiroh, N. (2018). Peran strategis ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) dalam rangka pemenuhan hak anak terhadap lingkungan. JPUD – Jurnal Pendidikan Usia Dini. https://doi.org/10.21009//jpud.121.09
  3. Karsten, L., & Van Vliet—, W. (2006). Children in the City: Reclaiming the Street. Source: Children, Youth and Environments.
  4. Ndari, S. selaras, Chandrawaty, C., Mujtaba, I., & Ananto, M. C. (2019). Children’s Outdoor Activities and Parenting Style in Children’s Social Skill. JPUD – Jurnal Pendidikan Usia Dini. https://doi.org/10.21009/jpud.132.02
  5. Puspa, S. N., Surjono, & Wijaya, I. N. S. (2021). Pemanfaatan dan kualitas ruang bermain anak pada kampung tematik Kota Malang. Planning for Urban Region and Environment Journal, 10(1).
  6. Suryo P, D. T. W., & Siswanto. (2018). Kajian perilaku pengguna ruang publik di Kota Malang. Jurnal Pangripta, 1(2).

Gulat dengan Sang Profesor

1

KAMPUSDESA.OR.ID–Gulat dengan sang profesor kecil menjadi pengalaman bermain menarik waktu itu di sepah (sampah tebu hasil penggilingan). Masa kecil yang kami isi dengan berbagai pengalaman bermain, yaitu perang-perangan. Alam pedesaan dan ruang publik bermain yang kami pilih sebagai ekspresi model (figur) jagoan. Anak kecil yang suka menirukan aneka tontonan bintang laga di televisi. Waktu itu memang kami sering menonton film animasi Hulk di tetangga jauh. Sepah yang empuk menjadi altar yang dapat digunakan bermain gulat dengan sang profesor kecil itu sehingga kalaupun kami terjatuh, tak akan terasa sakit. Suatu aktifitas literasi yang menyalurkan energi fisik mendapat momen istimewa.

Permainan itu menghubungkan relasi fisik yang mampu menjadi hubungan lekat menyatukan fisik, emosi, dan pikiran. Tanpa ada relasi lekat, kesamaan semangat lebih sulit tercitpa. Fisik merupakan unsur gerak yang sangat penting mewujudkan perilaku yang kita pikirkan menjadi kenyataan. Gerak membutuhkan power. Gulat menjadi asah fisik agar anak-anak terlatih menciptakan perilaku dengan power optimal. Saat itu dilatih mulai masa anak-anak, gerak fisik memupuk energi perilaku perubahan. Sentuhan fisik dengan energi maksimal melatih transformasi perubahan semakin ringan.

Senang. Suatu medan yang selalu dicari anak-anak. Gulat kami memang bukan upaya bertarung. Gulat kami bagian dari bermain layaknya anak kecil yang tidak kuasa meniru sosok jago di televisi. Gulat menjadi kreasi imajinasi kami untuk membumikan bayangan jagoan. Disitulah kami merasa punya kesempatan untuk mengekspresikan bayangan menjadi kenyataan. Sepah bagi kami menjadi pilihan mengejawantahkan tumpukan imajinasi sehingga kami tidak lelah dengan banyangan yang mendera pikiran. Gulat dengan sang profesor kecil memberi kesempatan ekspresif atas nama jagoan ala anak kecil yang menyenangkan.

Gulat menjadi kreasi imajinasi kami untuk membumikan bayangan jagoan. Disitulah kami merasa punya kesempatan untuk mengekspresikan bayangan menjadi kenyataan.

Celotehan saat gulat mewarnai dunia kuasa (power) kami sehingga celotehan menjadi energi yang melengkapi kepuasan sehingga pikiran kami menyatu seimbang. Pikiran kami lebih operasional dan kongkrit. Sepah mendukung arena gulat tak lagi asing dan tidak perlu naik ring. Ternyata sampah gilingan tebu di depan rumah saya memberikan arena konsolodasi perkembangan mental kami yang dengannya kami tidak mengalami fiksasi (penundaan kepuasaan) perkembangan.

Gulat itu permainannya sang profesor kecil

Bermain menemukan energi seimbang antara pikiran, emosi, dan gerak. Saya dan sang profesor kecil menemukan ruang publik bermain di sebuah penyimpanan sampah tebu yang dikeringkan. Ketika gulat dapat dimainkan berarti ia tidak lagi menjadi kekerasan. Dia diubah menjadi energi gembira yang kami sendiri tahu batas sakit dan senang. Saat salah satu dari kami sudah mulai terancam atau nampak kalah, kamipun merenggangkan cengkeraman dan kemudian saling melepaskannya. Bahkan kalau akan menangis, kamipun berusaha mereproduksi emosi agar tidak jadi menangis. Kami perlu sadar dan tepo seliro untuk empati.

Homo ludens (Huizinga, 2014) menegaskan bahwa aktifitas bermain selalu terkait dengan hukum, perang, pengetahuan, mitos, filsafat, dan semua bentuk seni.

Manusia sebagai makhluk bermain. Homo ludens (Huizinga, 2014) menegaskan bahwa aktifitas bermain selalu terkait dengan hukum, perang, pengetahuan, mitos, filsafat, dan semua bentuk seni. Psikologi perkembangan manusia, politik, budaya, dan institusi berkembang oleh karena adanya motif bermain. Gulat bersama sang profesor kecil pun menjadi bagian dari aktifitas bermain yang dibentuk oleh motif menciptakan kepuasan emosional sebagai sebentuk reproduksi dramatisasi identitas kami yang distimulasi dari permainan televisi.

Energi fisik melekatkan energi mental

Tempat penampungan sampah tebu telah memberikan ruang bagi kami memaksimalkan perkembangan relasi sosial kami. Sepah (sampah tebu) menghidupkan energi saya dan sang profesor kecil yang menumbuhkan motif bermain sehingga imajinasi identitas kami benar-benar mendapatkan ruang perkembangan enerjik. Dalam skala yang lebih luas, motif itu memapar saya yang tidak terlalu kenal literasi pengetahuan. Sementara sang profesor kecil berkembang dengan keluarga seorang guru. Gulat menjadikan hubungan yang memuaskan dan pancaran energi dari dua latar belakang keluarga tersebut dapat saling menyapa melalui gerak tubuh, emosi, dan pikiran.

BACA JUGA
Pengasuhan Anak Berbakat, Bisakah Menjanjikan Masa Depan Sesuai Cita-Cita Anak?
Saatnya Menggeser Teori Parenting Impor dalam Psikologi

Permainan inilah yang menciptakan keakraban dan berimplikasi pada pembentukan model bagi saya tentang literasi di dunia pendidikan. Gulat kami di tempat sampah tebu tersebut dapat menjaga kegembiraan relasi sehingga mewarnai fungsi literasi yang dipancarkan oleh sang profesor kecil untuk saya. Energi fisik menjadi media saya untuk tetap rekat dengannya. Rekat secara fisik berarti rekat pula secara emosi dan pikirian. Gulat fisik menjembatani energi yang dipancarkan oleh lawan. Tidak saja energi fisik, tetapi juga energi mental.

Energi fisik memberikan kesempatan mengekspresikan berbagai pertumbuhan bio-psikologis anak-anak.

Pertukaran energi fisik memberikan kesempatan mengekspresikan berbagai pertumbuhan bio-psikologis anak-anak. Bagi sang profesor kecil, dia berbelanja energi fisik saya yang tumbuh di seputaran usaha penggilingan tebu yang melekat di alam fisik saya. Mobilisasi fisik semakin kuat berkembang di lingkungan sampah tebu. Sementara alam fisik sang profesor kecil hidup dalam situasi semangat pendidikan dan literasi oleh karena bapaknya seorang guru. Ketika sang profesor kecil datang ke rumah saya, tawaran permainannya adalah gulat di atas sampak tebu (sepah). Ketika saya bermain di keluarga sang profesor kecil, saya jelas lebih banyak dikenalkan kegiatan membaca buku. Pergulatan fisik telah melengkapi pertukaran energi mental.

Gulat fisik menuju gulat pemikiran

Dalam jagat perkembangan kami, ada sisi yang terus terhubung hingga sekarang, yakni spirit literasi. Bedanya, saya lebih suka gerak fisik, seperti ikut olah raga, pencak silat, lintas alam. Meski sekarang tidak sekuat yang dulu. Tetapi hari ini saya lebih suka pendekatan pemberdayaan dan membuat gerak perubahan sosial. Di sisi lain, saya selalu terhubung dengan sang profesor kecil untuk erat bertukar semangat literasi hingga saat ini, meskipun saya tidak setekun dia. Soal literasi, sang profesor kecil ini memang dahsyat. Sangat bisa diterima karena budaya keluarga telah dia warisi lebih sempurna. Sementara, semangat literasi yang dia pancarkan telah melengkapi profesi saya hari ini. Meski tidak setekun dia, saya pun masih bersemangat untuk menulis. Energi saya lebih banyak pada kegiatan pemberdayaan yang diwarisi dari keluarga saya, seorang petani, wiraswasta, dan gerdagang.

Sang profesor kecil itu sekarang juga bergiat dalam dunia pergerakan. Dia pun menjadi role model literasi Indonesia. Pun pernah bekerja di lembaga swadaya masyarakat.  Kami bertemu dengan nasib berdekatan, meski memiliki keunggulan yang berbeda. Gulat fisik menjadi dasar pengalaman perkembangan kami. Hari ini gulat pemikiran menjadi spirit kami. Dia sekarang sudah profesor, sementara saya provokator. Saat membutuhkan fasilitator, sang profesor memanggil saya untuk mendesain forum agar hidup produktif. Kami bertemu dalam gulat pemikiran. Kami saling berbagi lebih ringan oleh karena energi gulat fisik membentuk mental kami dan mudah dikolaborasikan hari ini.

Sang profesor kecil itu sekarang dikenal Prof. Dr. Ngainun Naim, M. Hi. Profilnya bisa anda kunjungi di laman spirit-literasi.id

*kisah ini sebuah refleksi. Realitasnya sudah direkaulang dalam kesadaran imanisasi. Unsur kesamaan tidak mencerminkan fakta sebenarnya

Disrupsi Profesional Kampus, Maukah Mengalah Demi Merdeka Belajar?

0

Kampusdesa.or.id–Merdeka Belajar Kampus Merdeka membuat disrupsi profesional, utamanya nomenklatur kurikulum dan administrator akademik kalangan kampus. Sejauh yang saya tahu dari beberapa forum baik di kementerian agama dan beberapa dari kemenristek dikti, mereka mengambil proyek pertukaran mahasiswa dan perpindahan matakuliah dari satu kampus ke kampus lain. Pilihan ini memang yang paling mudah karena satu kultur administratif birokrasi. Ada juga yang magang di perusahaan dan proyek nasional yang membikin administrator akademik galau karena tidak sejalan antara proyek yang diambil dengan kemapanan capaian belajar di suatu program studi.

Bagi mahasiswa, mereka berharap dapat 20 kredit, tetapi ketika disodorkan program studi ternyata tidak sejalan dengan capaian pembelajaran yang sudah digedok sebagai privillese calon profesional.  Merdeka Belajar Kampus Merdeka menjadi tidak sederhana dan berada dalam kekacauan karena bertubrukan dengan kemapanan akademik yang memiliki otoritas menjamin kematangan calon profesional. Betulkah terjadi disrupsi profesional kampus?

Telaah filosofis yang semestinya dihidupi dalam merdeka belajar

Ada problematika filosofis yang belum diperkuat menyongsong merdeka belajar. Ada proses yang terus berulang saat perubahan kurikulum didistribusikan sebagai tanggungjawab administrasi akademik. Kegopohan langsung bergerak pada level administrasi kurikulum sehingga semua akhirnya berproses pada panduan teknis kurikulum. Ada kekhawatiran sistem jika tidak segera menemukan pola administratifnya maka akan ada ancaman standarisasi atas nama jaminan mutu. Sistem kuasa selalu menjadi alat hegemonik dan meninggalkan subyek pembelajar.

Sekali lagi, kurikulum menjadi kepentingan lembaga, bukan kepentingan mahasiswa. Suara mahasiswa tidak pernah didengar. Realitas ini menjadikan tiadanya perdebatan filosofis atau memang tidak pernah muncul inspirasi bagaimana filosofi kurikulum mewarnai desain kurikulum. Sedemikian mahasisiwa yang disebut sebagai subyek pembelajar aktif tidak pernah punya ruang menjadi pelaku kurikulum tetapi penerima jadi konstruksi kurikulum.

Sekali lagi, kurikulum menjadi kepentingan lembaga, bukan kepentingan mahasiswa. Suara mahasiswa tidak pernah didengar.

Merdeka Belajar membutuhkan kaca benggala dan keadilan dalam menempatkan mahasiswa sebagai subyek pencipta, bukan hanya subyek pembelajar. Sebagai subyek kreator mahasiswa memiliki keputusan menentukan apa yang seharusnya dipelajari. Lebih dari itu, mereka difasilitasi melalui kemerdekaan diri dalam melihat dirinya, difasilitasi memilih, dan bahkan mendesain inisiasi karir dalam berbagai kesempatan. Mereka mendapat ruang untuk berkolaborasi, memerkaya pengalaman, mencoba berbagai kesempatan, sedemikian dia memiliki jalan merintis karir dari kelas-kelas kreatif yang termobilisasi dalam keragaman peluang karir.

Eksperimentasi mahasiswa juga lebih obyektif ketika uji belajarnya langsung berkorelasi dengan praktik hidup dan teruji secara publik. Pengalaman belajar bukan dibatasi tumbuh dalam literasi tekstual dan dalil-dalil teoritis yang tidak berjejak dengan kontribusi hidup dirinya dan orang lain. Pengalaman belajar terwadahi langsung melalui obyektifikasi user ended. Dalam konteks uji publik, user ended adalah belajar aplikasi keilmuan yang relevan dengan hasil layanan, hasil produk, hasil pertumbuhan, termasuk hasil keuntungan yang dirasakan baik dari miniatur penerima manfaat dan feedback finansial yang dirasakan oleh pembelajar. Mahasiswa bertumbuh dalam eksperimentasi filsafat ilmu pengetahuan, yakni menemukan kebenaran (ontologis), mendapatkan logika ilmu (epistemologi), dan berdampak terhadap ketrampilan hidup secara kolektif (aksiologis).

Baca juga: Semua Orang Adalah Guru Bagi Siswa Merdeka Belajar

Kelas berperan menjadi dinamika produksi life-skill yang merdeka. Merdeka belajar tetap membutuhkan ruang kelas sebagai perjumpaan dialektika (diskusi) ilmu pengetahuan yang diisi oleh mahasiswa yang berjibaku dengan hasil-hasil eksperimentasi. Mereka sebagai pelaku vocasional, tetapi juga sebagai calon ahli yang diberi ruang untuk menyusun ilmu pengetahuan induktif dan deduktif menjadi literasi dalam menumbuhkan temuan mutakhir. Teori, dalil, dan buku teks didudukkan semata sebagai ekspresi literasi untuk dijadikan stimulan eksternal mahasiswa agar mereka menjadi sosok yang diberi mimbar bebas berpikir tinggi (high order thinking skill).

Semua dapat dilakukan melampaui kelas konvensional. Mereka boleh menciptakan kelas pilihan secara hybrid (dalam jaringan, luar jaringan)atau blended (kombinasi metode belajar merdeka). Pada konteks ini, mahasiswa yang mempertajam kualitas life-skill dengan basis saintifik (murni dan terapan), selalu diberi ruang untuk melampaui batas-batas eksperimentasi (percobaan), karir, dan kacamata kuda disiplin ilmu mereka. Ruang mereka dihidupi oleh perdebatan filsafat ilmu pengetahuan. Mahasiswa adalah public speaker di kelas miniatur merdeka belajar.

Politik birokrasi tak seharusnya mematikan merdeka belajar

Telaah lain adalah tentang politik birokasi kurikulum merdeka belajar. Tantangan yang muncul adanya problematika birokrasi akademis yang sudah mapan, hegemonik, dan otoritatif sebagai kuasa pengetahuan, bahkan atasnama menjamin masa depan profesionalisme, kurikulum telah terpola pada keseragaman profesional. Sedangkan faktanya, keragaman belajar berpotensi merangsang pilihan karir yang kompleks tanpa terbatas pada monologi keilmuan. Karir ditentukan oleh nilai guna. Nilai yang selaras dengan pilihan, fungsi, dan capaian yang berdampak pada mahasiswa. Basis belajarnya terletak di pengalaman praktis. Sementara, sebagian kelas bertumpu pada basis studi pengetahuan tekstual teoritik.

Pada hari ini rumit rasanya membatasi kreasi ketrampilan karena ditentukan oleh peluang (kesempatan), nasib, dan orientasi laten yang tumbuh dari kebiasaan pengalaman hidup yang digeluti. Suatu misal, ada sarjana psikologi tetapi dia lebih banyak manggung di pertunjukan musik dari kafe ke kafe. Ketika birokrasi kurikulum saklek dalam monologi disiplin keilmuan, maka perjumpaan ketrampilan hidup menjadi berjalan sendiri di kamar yang berbeda dengan otoritas keilmuan yang disorientasi karir. Tantangan birokrasi akademis dalam merdeka belajar adalah kemampuan memediasi ketrampilan hidup dominan peserta belajar yang disuplai menggunakan kekayaan disiplin keilmuan.

Representasi diri mahasiswa menjadi dilema karena munculnya pertarungan kompetensi versus profesionalisme. Batas-batas yang hari ini terdisrupsi. Boleh jadi kompetensi peserta belajar yang lebih terjiwai sebagai entrepreneur akan lebih diakui sebagai keunggulan karya dan kerja. Sedangkan profesionalisme kampus yang digodok dalam rentetan semester panjang tidak menjadi output definitif terhadap profesi yang terbentuk pada pengambilan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Misalnya, ternyata seorang mahasiswa sudah berjibaku dengan studio fotografi, sementara dia hadir dalam ruang kelas psikologi. Suasa akademik dibangun berdasarkan profil dan kompetensi profesional psikologi yang itu-itu saja. Semisal umumnya seorang sarjana psikologi menjadi konselor, peneliti, asisten terapis atau psikologi, motivator, bekerja di PSDM.

Sebagaimana kasus tersebut, seorang mahasiswa tentu akan memihak kompetensi unggul sebagai pemilik studio fotografi sementara profesi sebagai lulusan psikologi tidak pernah menemukan bentuknya. Jika demikian, maka politik birokrasi pendidikan tidak seharusnya tetap memaksakan pola pembentukan profesionalismenya dalam kuasa profesionalisme akademik. Sebagaimana diakui hari ini banyak juga lulusan psikologi, suatu misal, yang habituasi suksesnya (pengusaha, politisi, digital marketing, fotografer, pemilik pesantren) keluar dari kompetensi utama yang digaungkan di kelas-kelas pembelajaran.

Baca juga: Pengasuhan Anak Berbakat, Bisakah Menjanjikan Masa Depan Sesuai Cita-Cita Anak?

Menghadapi situasi demikian, pertama, mengambil kuasa jalan tengah profesi. Sebuah model pembelajaran merdeka dapat dimulai sejak dini. Model pembelajarannya dapat menawarkan orientasi karir dan katalisasi bakat menjadi standing point dalam merencanakan pembelajaran. Sementara mata-kuliah dikembangkan berdasarkan tema yang mendukung orientasi karir dan katalisasi bakat peserta belajar. Kebutuhan mata kuliah dikembangkan dalam dua pilar. Pilar pertama memahami kerangka pikir dari setiap keunikan sub-disiplin ilmu bagi setiap program studi. Peserta belajar merdeka sebatas dapat terlatih menemukan algoritma berpikir sub-disiplinnya, tanpa dituntut mengikuti seluruh ketuntasan tema sub-disiplin. Algoritma berpikir adalah kunci memahami sub-disiplin keilmuan yang pengembangan tematiknya dapat dikembangkan mandiri sesuai kebutuhan nantinya.

Pilar kedua mengembangkan proyek tematik yang terhubung dengan orientasi karir atau bakat peserta belajar. Tema terpilih akan dikembangkan menjadi subyek kuliah yang didalami dalam berbagai pengalaman mahasiswa yang sejalan dengan standing poin karir terpilih. Dengan demikian dosen sebagai fasilitator pengembangan algoritma berpikir yang responsif pada pilihan studi tematik dan pengembangan proyek mahasiswa. Resikonya, pengajar tidak bisa memaksakan penguasan total pada tema, tetapi pada sub-disiplin minor atau mayor saja.

Dengan demikian dosen sebagai fasilitator pengembangan algoritma berpikir yang responsif pada pilihan studi tematik dan pengembangan proyek mahasiswa. Resikonya, pengajar tidak bisa memaksakan penguasan total pada tema, tetapi pada sub-disiplin minor atau mayor saja.

Kedua, jalan bunuh diri profesi. Ketika mahasiswa memilih Merdeka Belajar yang secara definitif tidak relevan dengan profesionalisme disiplin ilmu, di sini profesionalisme kampus mestinya merelakan untuk tidak menghegemoni egosentrisme orientasi karir mahasiswa. Mahasiswa tetap diakui menjadi lulusan dan reward berupa penilaian eksternal dari hasil memilih SKS merdeka belajar. Disrupsi karir akan terjadi dalam persilangan kemapanan profesionalisme kampus berhadapan dengan kenyamanan belajar yang dianggap lebih mewakili kemerdekaan peserta belajar.

Oleh karena itu, kampus pun akan menerima konsekuensi disrupsi profesional. Ketika mahasiswa masuk di sebuah program studi tertentu dan akhirnya merdeka belajar yang dipilih mahasiswa berbeda dengan kompetensi program studi, maka sebagai konsekuensi merdeka, mahasiswa tetap diakui studinya. Merdeka belajar dengan demikian adalah merdeka meniti jembatan karir yang disukai atau kebetulan mereka lebih nyaman berada dalam pilihan karir yang berbeda dengan program studi.

Bukankah ini lebih menjawab serapan alumni dan memastikan mereka tidak menjadi pengangguran terdidik? Siapkah profesionalisme kampus sebagian akan terdisrupsi oleh karenanya kompentesi abad ini terkadang menembus dinding-dinding kelas di kampus?