Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 10

Ulil Abshor Abdala; Peradaban Air Sebagai Praksis Fiqh Peradaban

0

Kampusdesa.or.id–Pengelompokan fungsi kordinasi Lembaga Seni Budaya Muslimin (LESBUMI), Lembaga Kajian Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam), dan Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PCNU Kota Malang berujung pada kelahiran wacana baru Fiqh Peradaban yang direspon positif melalui kehadiran ketua PB Lakpesdam NU, Ulil Abshor Abdala, di Malang. Di awal, diskusi tiga lembaga memang bermaksud mengambil irisan isu kebudayaan yang lebih khas Malang. Jika Lesbumi Nasional berusaha mengambil kekuatan gerakan manifestasi kebudayaan, maka Malang semestinya mengambil irisan yang cocok dengan isu kritis yang terjadi.

Al-hasil, irisan yang disepakati adalah mengangkat isu kebudayaan tetapi dibangun melalui gerakan kebudayaan berbasis air, atau sungai (peradaban air). Inspirasi inilah yang menjadi spirit kebudayaan sungai sebagai isu lingkungan yang dilengkapi dengan perjumpaan tiga lembaga (Lesbumi, Lakpesdam, LBM) sebagai isu bersama. Kesepakan ini mencuat menjadi isu yang diangkat menjadi tema Pengukuhan Pengurus menjadi Halaqoh Fiqh Peradaban, yakni Peran NU dan Menjaga Relasi Sosial, Tradisi dan Lingkungan di Malang, pada Sabtu, 10 September 2022 di Gedung Nuswantara, Lt. 7 Fisip Universitas Brawijaya, dimulai pukul 09:00 sd 12:30 WIB.

Kehadiran Ulil Abshor Abdala ternyata beririsan dengan kebutuhan menyukseskan istilah yang diangkat Ketum PBNU Yahya C. Staquf bahwa NU hari ini membutuhkan semacam spirit untuk mengembangkan Fiqh Peradaban sebagai episentrum peradaban dunia. Nah, pengukuhan pengurus tiga lembaga PCNU tersebut akhirnya dapat diakui sebagai bagian dari spirit besar PBNU dalam memenuhi 250 halaqoh fiqh peradaban yang ditargetkan dapat diselenggarakan di tahun pertama kepengurusan PBNU, jelas Ulil Abshor yang juga menantu Kiai sekaligu seniman, Gus Mus.

Baca juga: Manakib tradisi keilmuan santri untuk Indonesia

Meski sebenarnya halaqoh fiqh peradaban diselenggarakan di pesantren, namun menurut Ulil, untuk kali ini dapat dimaklumi dan diakui sebagai bagian dari penambahan quota halaqoh fiqh peradaban. Memang, dari tiga lembaga PCNU yang dikukuhkan ini sudah mendiskusikan isu bersama yang saling melengkapi. Dengan begitu, isu relasi sosial, tradisi, dan lingkungan yang diangkat oleh PCNU melalui pengukuhan tiga lembaga menjadi salah satu bagian penting bagi diskursus halaqoh fiqh peradaban.

Kebangkitan Pemikiran Gus Dur

Sebagian besar yang hadir kemudian mulai diajak menyelami dan memahami kronologi halaqoh fiqh peradaban menjadi isu bersama PBNU di masa kepemimpinan Yahya C. Tsaquf.  Istilah fiqh peradaban muncul dari gagasan orisinil dari Ketum PBNU. Inspirasinya muncul dari semangat Gus Dur yang mengusun halaqoh rekontekstualisasi kitab kuning pada Muktamar ke-28 di Krapyak Yogyakarta. Spirit mengusung tema-tema di kitab kuning sebagai diskursus terbuka, yang tidak hanya milik pesantren. Spirit ini dipilih Gus Dur agar Aswaja, kitab kuning, dan pemikiran pesantren dapat hadir menjawab permasalahan lebih luas di masyarakat.

Halaqoh kitab kuning ini kemudian digawangi oleh KH. Masdar F. Mas’udi, waktu itu. Berusaha melanjutkan gagasan Gus Dur, lahirlan visi Gus Yahya hingga 2027 pada masa kepemimpinannya tidak lain sebagai upaya membangkitkan Gus Dur dari alam barzah dengan menetapkan visi fiqh peradaban sebagai tawaran global dari NU, jelas Ulil, yang terkenal melalui ngaji online ihya’ ulumuddin di media sosial internet.

Istilah mengubah kesadaran

Fiqh peradaban menjadi istilah yang bertujuan merebut narasi dunia sebagai kontinum (keberlanjutan) dari lesson learned menggema istilah Islam Nusantara di masa Ketum PBNU KH. Said Aqil Shiraj. Ketika Gus Dur membangun gagasan pesantren sebagai sub-kultur, Islam Nusantara menjadi istilah yang secara domestik mampu meningkatkan identitas keberagamaan secara massif di kalangan NU dan simpatisan keislaman di Indonesia. Bahkan, istilah itu telah meningkatkan gairah baru, respon, dan daya tarik dunia terhadap Islam Indonesia yang dinarasikan NU melalui percikan pemikiran Islam Nusantara.

Islam Nusantara menjadi kiblat baru praktik-praktik keberagaman, kebangsaan, dan hubungan kawasan yang memberikan kontribusi bagi harapan baru Islam rahmatan lil-alamin. Narasi tersebut melahirkan kesadaran baru bagi NU sedemikian menjadikan istilah kesuksesa Islam Nusantara perlu ditingkatkan pengaruhnya lebih tinggi menjadi diskursus dunia. Fiqh peradaban lantas menjadi istilah lanjutan yang diharapkan memberikan ruang inklusif bagi dunia untuk saling ditemuwicarakan sebagai tantangan baru. Jika Islam Nusantara telah menggairahkan kesadaran domestik, fiqh peradaban menjadi permainan bahasa yang dapat memengaruhi kesadaran global, begitu senarai yang bisa diejaulang dari penjabaran Ulil Abshar Abdala.

Baca juga: Kiat Jitu Memulai Melapak di Shopee

Fiqh peradaban bernalar istiqra’, yakni sebuah model bernalar induktif yang dibangun dari modal bermazhab qauli ke manhaji. Sebuah arena pemikiran metodologis yang bermuara pada perbincangan dalam merespon peristiwa dunia yang kemudian melahirkan dalil-dalil konstruktif bagi keberagamaan lintas kawasan. Nalar istiqra’ sebagai pengambilan hukum dicirikan tiga hal, penerapan hukum tidak hanya tunggal, yang universal atau partikular; berprinsip qara’in al-ahwal (indikasi keadaan tertentu) mencakup yang manqul (nash) atau ghoiru manqul (konteks bermasyarakat); dan tidak semata bermetode bayani, tetapi mencermati konteks yang berkembang (Mashudi, 2014; Safriadi, 2019).

Fiqh peradaban tidak semata bermuara pada model penemuan hukum, tetapi juga untuk memahami perkembangan pengalaman keagamaan (fiqh li fahmi). Sedemikian sehingga fiqh peradaban menjadi ruang pemikiran yang dapat dijangkau siapa saja di dunia, tidak semata urusan mindset ubudiyah, tegas Ulil.

Tantangan peradaban air

Pengukuhan tiga lembaga Lakpesdam, Lesbumi, dan Lembaga Bahtsul Masa’il menjadi tertantang. Lesbumi yang berusaha menghidupi perspektif isu lokal konservasi air (sungai) melalui pendekatan budaya merasa tertantang menjadikan sungai sebagai isu global dalam melengkapi visi fiqh peradaban PBNU. Peradaban air menjadi tagline yang penting dalam melengkapi khazanah fiqh peradaban. Apalagi, air di nusantara ini menjadi lanskap peradaban yang di sekitarnya dihidupi oleh kerajaan besar dan pesantren.

Contoh nyata adalah sungai Brantas. Sungai Brantas adalah tata ruang pusat peradaban dan pusat transportasi, tetapi Belanda mulai mengubah jantung peradaban air ke jalur darat demi kepentingan jalur ekonomi. Akhirnya sungai menjadi tata ruang wingking (belakang). Padahal sungai dalam perspektif peradaban air ditempatkan sebagai halaman depan kehidupan, Jelas Akhmad Rifai, aktifis Saberpungli, sebuah gerakan pembersihan sampah Sungai Brantas. Dalam perspektif Lesbumi, melalui spirit Akhmad Rifai, peradaban air perlu dijadikan gerakan untuk memulihkan fungsi sungai sebagai kesadaran hidup, yang berarti menjadi bagian dari peradaban.

Bahkan nilai keuniversalannya dapat diperkuat dengan semangat toleransi yang inklusif. “Air bicara. Jangan bicara apa agamamu, tetapi sungaimu kotor.” Gerakan Akhmad Rifai telah mewakili sebagian kekhususan peradaban air. Selain bergerak di pembersihan sungai, nilai budaya sekitar sungai juga telah dihidupkan oleh Rifai melalui berbagai aksi seni dan budaya. Spirit Rifai telah membuka sebagian kecil aksi komunitas untuk menghidupkan lagi peradaban sungai.

Hastaq yang diusung “Kami sudah, kamu kapan,” tegas Rifai. Ketika sungai telah menjadi halaman belakang, sungai menjadi bak sampah, maka peradaban air perlu menjadi kekuatan baru bagi NU melalui berbagai pendekatan pemberdayaan seni, budaya, dan keagamaan (seperti di bahtsul masa’ilnya). Sungai tidak dijadikan punggung, tetapi sebagai muka kehidupan yang ditopang oleh kesadaran semua orang. 

Dalam sudut pandang keagamaan, suatu misal terkait dengan bahtsul masa’il, perspektif peradaban air tidak melulu mengenai status air dalam perspektif hukum kesucian air. Lebih luas dari itu, peradaban air yang perlu dikonservasi jelas membutuhkan sebuah perspektif hukum yang inklusif, apalagi jika diruntut aneka budaya yang melingkupi air terkadang bersinggungan dengan ragam ritual dan keyakinan yang berbeda-beda. Tantangan riil di Lembaga Bahtsul Masa’il menjadi kontradiktif ketika bergerak pada level hukum penghakiman. Justru LBM dapat merespon pengalaman Rifai, selama ini belum ditemukan di Malang Raya terkait dengan Perda Lingkungan yang kuat.

Bagi saya pribadi sebagai penulis artikel ini, Bahtsul masa’il akan semakin berkonstribusi ketika mampu memberikan sudut pandang keagamaan yang memperkuat afirmasi Perda lingkungan yang bertujuan meningkatkan nilai konservasi peradaban air sebagai praktik muamalah inklusif. Sebuah relasi kehidupan yang menghormati keragaman hidup dan praktik menjaga sungai sebagai kesadaran bersama meruwa dan merawat keseimbangan alam di ekosistem sungai.

Praksis fiqh peradaban NU Malang

Setelah menyimak presentasi Ulil Abshor Abdala, Imron Rosyadi Hamid, Ahmad Rifai, dan Imron Rozuli, saya berkesimpulan konservasi peradaban air dapat menjadi bagian dari isu lokal untuk merebut isu global fiqh peradaban dengan pendekatan penguatan sumberdaya manusia di bidang lingkungan hidup (Lakpesdam), sudut pandang konservasi dengan metodologi perubahan menggunakan pendekatan seni dan budaya (Lesbumi), dan pengembangan kajian fiqhiyah melalui tematik ijtihad muamalaf inklusif yang berorientasi pada bahan kajian Peraturan Daerah Lingkungan Hidup yang berkelanjutan.

Apalagi Imron Rosyadi Hamid, Wasekjen PBNU, telah memantik kekuatan peradaban timur (China), saat ini lebih cepat secara teknologi menguasai berbagai keahlian di bidang pembangunan jembatan mengalahkan Amerika. Strategi peradaban air dapat menjadi spirit bagi sebagian kerja fiqh peradaban yang menurut sudut pandang Ulil, dapat memberikan ruang bagi dialektika (diskusi) dunia. Selain itu, Akhmad Rifai telah juga sukses menggaungkan konservasi sungai ke dunia barat (Eropa) melalui aktifasi teknologi dengan melibatkan kontributor google. Praksis peradaban air dapat menjadi literasi bagi kesadaran bersama, sebagai “The Protestan Ethic”-nya PCNU Kota Malang.

Dari Ambon Menjadi Indonesia, Suara dari Kana Kopi

2

KAMPUSDESA.OR.ID–Sejak Pandemi Covid-19, kajian #17an Gusdurian Malang mati suri. Para aktivis lintas agama ini lebih banyak bekerja dalam berbagai penyaluran bantuan pada warga terdampak Pandemi. Seketika endemi sudah menjadi babak baru, forum #17an seolah mendapat momennya berbarengan dengan HUT ke-77 RI. Kongkow kali pertama ini mengambil kegiatan seputar Nobar film Luka Beta Rasa, musikalisasi puisi, performa dan diskusi mengenali perbedaan. Semua menjadi awal bagi kesaling-sapaan dan perjumpaan mengenal lebih dalam arti perbedaan, konflik, dan masa depan perdamaian menjadi Indonesia.

Ini gayung bersambut untuk menghidupi pembiasaan hastag 17an yang sebelum pandemi dijadikan sebagai momen menguatkan kesadaran terhadap perdamaian. Forum 17an dijadikan sebagai rutinan untuk berkumpul dan berdiskusi bagi aktivis Gusdurian yang dilakukan tanggal 17 pada setiap bulan. Sebagaimana spirit tersebut kegiatan 17an yang dikaitkan dengan peringatan HUT RI kali ini diisi dengan perjumpaan para aktivis untuk merekatkan kembali spirit harmoni keragaman. Forum 17-an Ini juga mengingatkan kembali arti penting perdamaian dengan nonton bareng film dokumenter Luka Beta Rasa sebagai bagian dari resolusi konflik untuk keberlanjutan perdamaian. Sebuah pengalaman krisis yang mengorbankan rasa kemanusiaan dan keutuhan pribadi menjadi manusia Indonesia. Pada kegiatan ini, selain syukuran, kongkow Forum 17-an dapat membantu para pemuda calon pemimpin untuk menyadari arti penting konflik atasnama agama, dampak kekerasan, dan masa depan relasi damai.

Foarum 17-an dihadiri dari berbagai peserta yang beragam. Istimewanya, sebagian audiens ada yang berasal dari Ambon, tentu ada perwakilan dari agama Baha’i, Katolik, Kristen, Muslim, Transgender, aliansi Jaringan Lintas Isu (Jati) Malang yang juga mengajak para aktifis untuk memromosikan. Perform juga dihadiri dari ibu-ibu kelompok seniman dari Idol Wareng Group, kelompok ibu-ibu sebuah RW Kedungkandang. Awaludin, pembaca puisi, dan narasumber muda seperti Baihaqi (UKM Cinta Tanah Air), Sebastian (PMKRI), Monika, Oase, Kampus Desa, Romo Gani, saya dan banyak audiens baru yang tertarik merajut perjumpaan lintas iman. Perjumpaan baru yang mengobati kerinduan baik bagi penggerak Gusdurian Muda Malang, atau bagi kalangan pemuda baru yang telah lama tidak berekspresi dalam merayakan perbedaan.

Pada akhirnya mereka terkoneksi dalam ruang publik kuliner di sebuah warung kopi. Forum 17an ini pertama diselenggarakan di Kana-Kopi, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang dengan seorang owner dari Jamaah Kristen yang mulai bergabung sebagai relawan lintas agama saat pandemi pada Jumat, 26 Agustus 2022, sejak pukul 19:00 sd 23:00 WIB. Forum 17-an yang bertempat di Kana-Kopi memberikan kesan bahwa Kafe menjadi ruang publik yang mencair sebagai wadah perjumpaan kebudayaan di tengah perebutan gaya hidup kafe modern yang nampak seragam dan peyoratif.

Kana Kofi dan Momen Baru Kisah Damai

Nampaknya, nonton bareng Luka Beta Rasa memantik kesadaran masa lalu mengenai sikap terhadap psikologi konflik dan pemaknaan traumatik untuk reproduksi perdamaiaan agama-agama dari para penutur muda di Kana Kopi. Situasi traumatik tersebut tidak bisa membebaskan dendam karena pengalama tersebut begitu nyata. Bagaimana proses penyelamatan untuk bebas dari ancaman pembunuhan menjadi Mas Bento harus mengubah simbol kopyah dan tidak berkopyah dalam perjalanan harian dia dari simbol satu agama ke agama lain. Film tersebut tidak semudah itu menghapus trauma dan kebencian. Untuk itu, realitas sinematik tersebut semestinya menjadi bahan untuk tidak melupakan begitu saja peristiwa tragis tersebut yang tidak mudah menghapus sedemikian rupa masa lalu. Namun demikian, perjumpaan di warung kopi ini, mereka berusaha mengekspresikan bahwa Ambon mempunyai trauma tetapi perlu kita untuk meretas perdamaian agar anak-anak tidak lagi menjadi komoditas perang atas-nama agama. Oleh karena itu, mereka mengambil pemaknaan bahwa film Luka Beta Rasa, tidak hanya menjadi tafsir tunggal tetapi perlu juga dikritisi sebagai bagian dari memaknai Ambon dan Indonesia dari berbagai keragaman, baik luka yang tidak serta merta dilupakan ataupun menjadi pelajaran baik bagi generasi untuk menciptakan recovery Indonesia dalam multikulturalisme.

Sebastian (Kanan), Aktifis PMKRI asal Ambon yang sedang studi di Malang.. Salah satu penggiat Gusdurian Malang

Kana Kafe menjadi ruang publik bagi pemuda Gusdurian yang baru bergabung untuk merefleksikan kesadaran kepemimpinan dalam sudut pandang kritis merawat spirit kebinekaan global. “Saya hidup di desa Madura yang kaya dengan perbedaan agama. Itu bisa dilalui hingga hari ini. Mencintai Indonesia yang keren ini menjadi tanggung jawab anak muda yang akan memimpin bangsa ini sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk merawat konflik berujung kekerasan,” tegas Baihaqi, seorang aktivis UKM Cinta Tanah Air yang juga Mahasiswa Universitas Islam Malang. Sebastian, sosok aktivis PMKRI yang asli Ambon, pun mengekspresikan keterkejutan sosial saat tiba di Malang. Dia menjadi kaget ketika melihat tulisan di kos-kosan berbunyi, kos khusus muslim. Namun, setelah bergaul dengan PMII, HMI, dan Gusdurian, dia mulai terbiasa. Keragaman agama ini tidak perlu dibesarkan, karena kebutuhan kemanusiaan kita sama, hanya cara beribadah kita saja yang berbeda. Untuk itu kegiatan seperti safari damai berkunjung ke tempat ibadah agama-agama menjadi pelajaran penting bagi kita. Sebuah perasaan yang dikisahkan Monika, salah satu penggerak Gusdurian Muda Malang yang pernah mengikuti kegiatan live in lintas agama di Jakarta. Kana-kopi Oro-oro Dowo menjadi saksi bagi para muda untuk mengekspresikan perdamaian lintas agama itu perlu dialami sehingga dapat beradaptasi dan terbiasa dengan perbedaan.

Merawat Indonesia dalam perdamaian sebagai ketrampilan berbineka membutuhkan latihan perjumpaan dan menyadari konflik kekerasan agama perlu dikritisi untuk memahami substansi menjadi Indonesia. Suatu contoh, “keragaman agama yang nyata di Madura rapuh oleh karena para Kyai lokal yang banyak pengikutnya justru tergadaikan akibat narasi eksklusif media sosial yang gagal difilter mereka. Akhirnya menimbulkan hubungan yang tidak rukun,” kata Awaludin yang asli Madura dan telah mementaskan musikalisasi puisi di Kana Kopi. Simpul dari Ambon menjadi Indonesia ditegaskan oleh Romo Gani. Latar-belakang konflik tersebut sebenarnya lahir dari latar-belakang non-agama. Ada dua yang perlu disikapi, yakni konflik oleh karena relasi ekonomi yang timpang dan munculnya sosok provokatif atas nama agama. Bagi Romo Gani, Indonesia ini memiliki kearifan lokal yang selalu merawat damai. Contoh orang Jawa, mangan ora mangan sing penting kumpul (maka tidak makan yang penting berkumpul). Sikap kekurangan ekonomi tetapi selalu mengedepankan hubungan rukun. Keserakahanlah yang menstimulasi konflik. Interes politik juga menyulut provokasi berujung konflik. Indonesia punya hikmah harmoni yang mampu mengatur perbedaan menjadi irama bersama. Itulah Indonesia, jelas Romo Gani, seorang tokoh gereja yang telaten mengayomi para penggerak Gusdurian. Kebutuhan relasi damai terus dibangun secara kritis sehingga para anak-muda mampu mengambil posisi penting bagi tumbuhnya pengalaman dan narasi kritis mengambil bagian tanggung jawab Indonesia ke depan.

Forum 17-an Garuda Malang di Kana Kopi telah menyegarkan tiga tahun (setelah pandemi) atas pengalaman perjumpaan untuk pelatihan harmoni dalam kebinekaan bagi pencinta pikiran dan laku Gus Dur di Malang.

Kampus Desa Buka Kelas Rebut Peluang di Lapak Shopee

0

KAMPUSDESA.OR.ID–Peluang bisnis online masih penuh tantangan meskipun aktifasi bisnis online sudah tidak membutuhkan modal. Senyampang paket data terisi, pasti setiap orang bisa membuka akun bisnis. Dari sejumlah pembelajar Kampus Desa Indonesia yang hadir dalam kelas bisnis merintis sukses menggunakan lapak online, masih saja mereka belum memanfaatkan sarana melimpah ruah tersebut secara maksimal. Meskipun sebenarnya mereka sudah pernah berjualan, namun gegara tidak konsisten, turun motivasinya, kurang fokus, akhirnya akun yang sudah pernah dimiliki mangkrak. Melihat hal demikian, Kampus Desa Indonesia membuka Kelas Binis untuk memberi wadah bagi para warga, untuk diberi pembelajaran teknik mengembangkan bisnis online untuk aplikasi Shopee.

Nah, bersama Pelapak Pemula di Shopee, Yusuf Wildan, seorang pengusaha muda jebolan Sarjana Psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sedang memantik para anak muda yang kebanyakan perempuan, bersegera merebut peluang murah meriah ini. Sebagian dari mereka ada dari perwakilan Pesantren Rakyat, Women Leadership Centre, ada lulusan pasca-sarjana yang terlibat di belajar bareng ini. Bahkan ada dosen yang sangat tertarik untuk mencoba merintis bisnis online ini.

Kelas ini menjadi penting untuk memberi semangat bagi anak muda agar dapat menjadi pengusaha dalam waktu yang cepat. Mereka diajak bergerak untuk mengambil kesempatan mendapatkan pemasukan mandiri dengan sumberdaya maya yang melimpah sehingga mereka tidak hanya konsumtif. “Kita sudah saatnya tidak menjadi korban dengan memasang aplikasi Shopee, sudah saatnya kita perlu menjadi pelaku usaha yang dapat keuntungan dari bermain Shopee, kata Iqbal Ali Wafa, seorang Magister Psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selain itu, mereka diajari dan dipandu segera membuka lapak di Shopee. Bagi yang sudah pernah punya lapak, segera dikembangkan untuk meningkatkan nilai penjualan.

Di hari Sabtu, 20 Agustus 2022, difasilitasi Kampus Desa Indonesia sejumlah pemuda ini belajar bersama untuk mengetahui berbagai cara dalam memenuhi konten toko online di Shopee agar dapat berjualan dengan baik yang dimulai sejak 09:00 sampai 13:00 WIB. Bertempat di rumah pemilik brand lapak Shopee, Jas Merah Store, tepatnya di Perumahan Graha Dewata Merjosari Lowokwaru Kota Malang.

Teknik fotografi produk membutuhkan detailing yang menjadikan produk kita eye chacting.

Yusuf Wildan, Owner Jas Merah Store, Pemandu Kelas pelapak online Kampus Desa Indonesia

Jas Merah Store dan Kampus Desa Siapkan Kelas Praktik Bisnis Online

Kegiatan ini merupakan edisi kelas bisnis yang dikelola dengan kerjasama Kampus Desa Indonesia dengan Jas Merah Store. Kolaborasi ini akan terus dikembangkan agar Kampus Desa Indonesia dapat lebih lanjut untuk mengembangkan kelas-kelas bisnis berbasis digital. Sejumlah materi praktis telah dibagikan berdasarkan pengalaman maju si pemilik lapak Shopee, Jas Merah Store, yang baru berjalan beberapa bulan sejak dia menikah, sekarang sudah menjadi bisnis rintisan yang menghasilkan pundi-pundi laba jutaan rupiah dalam sebulan.

Siska, perempuan aktifis WLC (Women Leadership Center) mengatakan, “setelah ini saya akan menindaklanjuti mengaktifkan toko saya lagi. Meski langkah yang disampaikan ini sama dengan yang di youtube, tetapi spirit saat ini membuat saya menemukan momen untuk lebih giat.” Beda dengan Widya, “saya langsung membuat akun Shopee, dan setelah ini mengisi sejumlah produk kerajinan tangan yang bahannya sudah menumpuk sekian lama.” Salah satu santriwati Pesantren Rakyat, Dia, yang sehari-hari berjibaku sebagai admin media, pun menyemangati dirinya, “segera akan merapikan sejumlah produk pesantren rakyat untuk dibuatkan akun di Shopee.”

Di kelas Bisnis ini, sejumlah langkah membuat brand, teknik fotografi produk, cara mengembangkan iklan yang tepat dan tidak boros juga dikupas lebih teknis oleh Yusuf Wildan. Semua dipelajari bersama dengan mereview satu persatu produk yang telah dan akan diupload di akun mereka masing-masing. Mereka kemudian membuat grup WA dengan semangat kita bisa berwirausaha dengan semangat global (Reporter: Mohammad Mahpur).

Gerakan Lintas-Umat Beragama dan Tantangan Ekonomi Kerakyatan

Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan dolan ke daerah Jember. Di sepanjang jalan, mulai Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Jember, bertebaran toko Basmalah. Toko eceran milik Koperasi Pondok Pesantren (kopontren) Sidogiri, Pasuruan.

Kehadiran ritel Basmalah, setidaknya ‘mewarnai’ menjamurnya gerai waralaba ‘mart’ yang telah lebih dulu hadir dan bertebaran.

Lantas, apa kaitannya dengan gerakan lintas-umat beragama?

Hampir dua dekade ini, dalam amatan sekilas (mungkin juga agak serampangan), pola gerakan lintas-umat beragama, lebih didominasi pola elitis. Pertemuan para pemimpin umat, baik saat momentum hari raya maupun di luar momentum tersebut. Gelaran forum diskusi, seminar, cenderung mengulik wacana teologi sarat keilmuan.

Pertemuan yang biasanya diikuti dan melibatkan sekelompok orang, dengan atribut pemimpin umat maupun anggota pengurus suatu bidang yang mengurusi kerjasama antar-umat beragama.

Pada sisi lain, gerakan yang bisa disebut sebagai populis, melibatkan lebih banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat cenderung bersifat karitatif. Misalnya, saat terjadinya bencana alam atau gerakan pemberian bantuan sembako di masa pandemi kemarin. Di luar itu, ada pula kegiatan berbentuk kerja bakti. Contohnya, nge-cat tembok, bebersih rumah ibadah.

Nah, bisa jadi situasi kekinian dapat mendorong pola gerakan kerjasama antar-umat, saatnya bergeser ke arah pola gerakan yang populis. Perjumpaan lintas-umat beragama sudah waktunya diperkuat arusnya ke arah yang lebih melibatkan sekaligus memenuhi kebutuhan umat (partisipatoris). Setidaknya ada upaya terobosan demi memperkaya kerjasama lintas-umat beragama.

Forum seminar maupun diskusi, demi menambah cakrawala pemahaman, masih cukup layak diteruskembangkan. Pemahaman teologi inklusif memerlukan topangan energi demi keberlangsungan pewarisannya. Termasuk mendorong eksplorasi pengembangan gagasan pemikiran teologi yang inklusif.

Pada pihak lain, penguatan wacana keberagaman yang inklusif, forum tersebut pun menjadi ruang dialektika pemikiran, khususnya dalam merespon tawaran gagasan dari kelompok intoleran. Kelompok yang membangun militansi keagamaan, berbasis pemahaman yang eksklusif, bahkan mengarah menjadi kelompok radikal.

Demikian halnya dengan perjumpaan para pemimpin umat dan pengurus organisasi antar-umat dari masing-masing kelompok umat beragama. Dibutuhkan perjumpaan yang intens khususnya dalam menemukan terobosan yang lebih menyegarkan demi menjawab tantangan bersama. Perjumpaan yang (diharapkan) melampaui aktivitas seremonial semata.

Ritel Basmalah dan ekonomi kerakyatan lintas agama

Perjalanan ke timur, berjumpa dengan tebaran toko ritel Basmalah, seperti mengisyaratkan plethikan sinar. Ibarat rambu-rambu jalan yang mengandung pesan.

Pertama, ritel tersebut dari segi kepemilikan bersifat komunal. Lembaga usaha berbentuk koperasi. Sebuah isyarat yang inspiratif khususnya dalam konteks pengembangan gerakan koperasi. Keberadaan toko eceran tersebut, seakan menguatkan sinyal, gerakan ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi, mampu bersanding dengan toko ritel individual.

Setidaknya rambu itu hendak meneguhkan betapa gerakan ekonomi yang berbasis komunal niscaya kok bersanding dengan toko yang dimiliki secara perseorangan. Toko perseorangan, hasil terbaik dari rahim gerakan perekonomian yang liberal-individualistik.

Kedua, ritel yang lahir dari ekosistem pondok pesantren tersebut pun memberikan peneguhan, betapa gerakan keagamaan, potensial menjadi rahim lahirnya agen perekonomian yang berbasis komunalisme (kebersamaan).

Hal ini sekaligus hendak memberikan peneguhan betapa gerakan lintas-umat beragama, potensial menjadi rahim bagi tumbuhnya tata kelola perekonomian yang lebih bercorak atau berkarakter kebersamaan.

Secara serampangan kita bisa membayangkan jika di banyak tempat berdiri toko-toko pengecer (ritel) yang berbasis kebersamaan, bersemangat gotong-royong, dimiliki bersama, membagikan hasil usaha secara adil. Hmm, bukan kah hal itu menjadi impian dari setiap tarikan nafas sila pada Pancasila dan UUD 1945.

Apalagi toko toko pengecer itu menjadi urat nadi sekaligus etalase bagi karya produk rakyat mulai dari pinggiran pantai, pucuk gunung, lembah, hingga sudut gang perumahan sempit-padat di perkotaan.

Alhasil, terbuka potensi yang saatnya digarap bersama. Semangat gotong-royong, kebersamaan, tak menutup peluang diwujudkan di bidang perekonomian. Apalagi terdaapat faktor kemendesakan pada situasi kekinian.

Pertama, situasi kebangkitan dalam bidang ekonomi, usai dihantam pandemi Covid-19. Kedua, ancaman krisis ekonomi global yang berpeluang mengerek kenaikan harga energi berbasis fosil. Ketiga, ekosistem ekonomi digital yang kian marak, tentu menjadi faktor kesulitan tersendiri, khususnya bagi kelompok masyarakat yang belum ramah pada teknologi informasi.

Pada matra seperti ini, strategi gerakan lintas-umat beragama dapat mengambil peran kunci. Setidaknya, tak henti berkeringat mewujudkan kehidupan bersama berbasis semangat gotong-royong sebagai jatidiri bangsa, khususnya dalam bidang perkonomian.

Siapa tahu, rakyat secara bersama (komunal, citizenship), menjadi pemilik toko online di negerinya sendiri. Selamat hari Kemerdekaan RI ke-77 Tahun.

Serunya Kelas Inspirasi Literasi Kesehatan

0

Menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, SMA Negeri 15 Semarang mengadakan Kelas Inspirasi: Literasi Kesehatan. Diaspora Taiwan, dr Dito Anurogo MSc, diundang sebagai narasumber.

Pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 15 Semarang, Bapak Rusmiyanto SPd MPd mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran dokter Dito. Saat memberikan kata sambutan, beliau berpesan agar siswa-siswi dapat terinspirasi dan mengikuti jejak langkah dokter Dito, terutama dalam hal literasi dan prestasi yang mencerahkan peradaban.

Sebagai mahasiswa yang sedang studi S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine (IPCTRM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan, dokter Dito membawakan materi tentang stem cells (sel punca), nanoteknologi, konsep rida, serta The Art of Health Literacy 5.0.

Dosen tetap di Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makasar itu menjelaskan tentang terapi stem cells. Terapi sel punca atau stem cells bermanfaat sebagai antipenuaan (antiaging), berperan mengatasi kelainan neurologi (sistem persarafan) seperti: autisme, ataksia, serebral palsy, Parkinson, cedera tulang belakang, stroke, Alzheimer, multipel sklerosis; penyakit ortopedi (tulang) berupa: kelelahan kronis, nyeri punggung kronis, osteoartritis; kelainan imun (sistem kekebalan tubuh) misalnya: lupus, artritis reumatoid; penyakit jantung, contohnya: infark miokard, penyakit jantung iskemik; penyakit diabetes, ginjal, hati, dan kanker.

Ibarat koin, stem cells juga memiliki dua sisi, yakni keuntungan dan kerugian. Pada sel punca dewasa (adult stem cell), tubuh akan menerima sel tanpa rejeksi atau penolakan. Tidak ada problematika moral atau etis. Kerugiannya hanyalah teknologi ini amatlah rumit dan masih dalam proses pengembangan. Pada kasus sel punca embrionik (embryonic stem cell), sumber sel tersedia dari terapi IVF (in vitro fertility). Adapun kerugiannya, beberapa ahli berpendapat bahwa merusak embrio berarti merusak potensi kehidupan manusia.

Dokter penulis puluhan buku berlisensi BNSP itu juga mengungkapkan tentang nanoteknologi. Nanoteknologi adalah penggunaan material berukuran sangat kecil untuk menciptakan material berukuran besar. Nanoteknologi merupakan teknologi yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan beragam material. Skala nano berkisar dari 1 nm hingga 100 nm. Skala nano berarti sepermiliar dari sesuatu. Jika ditulis dengan angka: 0,000000001.

Nanoteknologi telah membuat perbedaan yang signifikan dalam hal nanobots medis, perlengkapan sensors, teknologi fitness yang dapat dipakai, penyembuhan diri sendiri (self-healing), keuntungan big data, dan keuntungan lingkungan. Seperti halnya stem cells, nanoteknologi juga memiliki berbagai keuntungan dan kerugian. Keuntungan nanoteknologi misalnya: berperan dalam energi terbarukan, memiliki sirkuit yang sangat presisi di dalam perlengkapan elektronika, mengefektifkan dunia kedokteran, gen-gen yang rusak dapat diperbaiki. Adapun kerugian nanoteknologi misalnya: menghasilkan toksin dan polutan yang mengancam lingkungan hidup, berdampak pada hilangnya lowongan kerja tertentu, memiliki tingkat keamanan yang masih dipertanyakan terutama pada penggunaan nanoweapons dan smart bullets.

Kelas inspirasi bertambah semakin seru tatkala dokter Dito memeragakan senam jari tangan. Senam ini bertujuan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri sekaligus hiburan edukatif.

Puncaknya, saat dokter Dito menjelaskan tentang the Art of Health Literacy 5.0. Inilah inti dari literasi. Konsep ciptaan dokter Dito ini berintikan keseimbangan (harmoni) di empat penjuru mata angin. Untuk mencapai keseimbangan, diperlukan kolaborasi, komunikasi, jejaring (channel), dan efisiensi biaya (cost-effectiveness). Hal-hal lainnya juga diperlukan, seperti: digitalisasi, kebersinambungan proses, kolaborasi internasional, kesehatan dan sosiokultural, edukasi dan ekonomi. Tentunya, perlu didukung lintas-sektoral dan para pakar multidisipliner. Slogan yang diperkenalkan dokter Dito sungguh menarik. Mari kita senantiasa bersinergi dan berkolaborasi demi mewujudkan dunia yang lebih baik dan peradaban yang lebih cerah.

Menariknya, dokter Dito juga mengemukakan istilah “Literasi Sehat” yang berarti literasi yang holistik-komprehensif. Beberapa unsur pendukungnya meliputi: berintegritas, beretika-berestetika, solutif, inovatif, futuristik, bernuansa lokal, berwawasan global, berkarakter kuat, dan mengandung kebenaran.

Literasi sehat mampu mencerahkan peradaban dunia. Dimulai dari mencerahkan jiwa, menyehatkan warga, akhirnya dapat menghebatkan bangsa. “Kuncinya sederhana. Kembali kepada komitmen kita bersama,” jelas dokter Dito bersemangat.

Dokter peraih penghargaan “International Scientist Awards 2022″ sebagai “Best Researcher Award” ini juga mengemukakan tentang urutan alur pikir ilmiah. Mulai dari fenomena, masalah, tujuan umum, kerangka konseptual, tujuan khusus, rumusan masalah, manfaat, dan perumusan judul.

Penulis “Ensiklopedia Penyakit dan Gangguan Kesehatan” ini juga mengemukakan tentang “12 Prinsip Literasi Kesehatan di Era Digital”. Pertama, berdoalah sebelum dan setelah berkegiatan di dunia maya (internet). Kedua, perbanyaklah membaca kritis (critical reading) dari sumber website terpercaya. Ketiga, persering membaca kitab suci dan referensi atau jurnal ilmiah daripada media sosial. Keempat, tidak semua berita atau hal yang viral mengandung kebenaran. Tidak semua kebenaran menjadi berita viral. Kelima, jadilah dan berperilakulah sebagai netizen (warga internet) seperti Anda ingin diperlakukan netizen lainnya. Keenam, lakukan miniriset (cek-ricek, konfirmasi, klarifikasi) saat Anda menerima berita atau informasi dari media sosial. Ketujuh, hendaklah Anda tidak langsung share berita atau video apapun yang Anda terima.

Kedelapan, berpikirlah dahulu sebelum berkomentar. Kesembilan, berkomentarlah dengan sopan, santun, beretika, dan berbudaya. Kesepuluh, hindarilah toxic friendship dan hargai waktu Anda saat bermedia sosial. Kesebelas, hindari selalu update status, waspadai predator seksual. Keduabelas, hendaklah orangtua selalu mendampingi putera atau puterinya saat berinternet-ria dan bermedia sosial. Semua kaidah ini dapat disebut juga sebagai “12 Kaidah Etika Digital”.

Sebagai pondasi kejayaan negeri, literasi dibangun secara bertahap. Dimulai dari terbangunnya kecerdasan literasi, berlanjut dengan terbentuknya masyarakat literasi, didukung oleh regulasi dan kolaborasi dengan stake-holders, akhirnya terciptalah peradaban literasi.

Bapak Rusmiyanto (kanan), Plt Kepala SMAN 15 Semarang, saat memberikan sambutan

Serunya kegiatan ini membuat sejumlah 40 siswa-siswi bersemangat mengikuti dari awal hingga akhir. Antusiasme ini rupanya dipantik oleh kepiawaian dokter Dito dalam membuka acara. Beliau membukanya dengan:

Serat Wedhatama: Tembang Pangkur
Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
sinuba sinukarta
mrih kretarta pakartining ilmu luhung
kang tumrap ing tanah jawa
agama ageming aji

Kelas terasa semakin hidup saat dokter Dito mengajak siswa-siswi untuk menyanyikan lagu Kokoro No Tomo karya Mayumi Itsuwa sebagai pembuka. Sebelum berakhir kegiatan, lagu legendaris “Yue liang dai biao wo de xin 月亮代表我的心” yang dipopulerkan oleh Teresa Teng 邓丽君 rupanya mampu mengharmoniskan suasana.

Para siswa-siswi juga terlihat sangat antusias saat dokter Dito mengajak bermain. Permainannya cukup sederhana. Siswa-siswi diminta menggambar tiga persegi panjang di kertas kosong, lalu menuliskan identitas lengkap. Dengan tekun dan cermat, dokter Dito menuliskan hasil analisis kepribadian berdasarkan tulisan dan tanda tangan mereka.

Adanya sesi tanya jawab kesehatan juga tidak disia-siakan oleh siswa-siswi. Beberapa dia antara mereka tidak ragu mengangkat jari lalu curhat tentang masalah kesehatan yang pernah dialaminya. Dengan sabar, dokter Dito merespons semua pertanyaan siswa-siswi.

Di sela-sela kegiatan itu, dokter Dito memberikan tanda kasih berupa satu buku “Ensiklopedia Penyakit dan Gangguan Kesehatan” untuk diberikan kepada perpustakaan SMA Negeri 15 Semarang.

Buku setebal 448 halaman dan berukuran 16 x 24 cm yang ditulis oleh dokter Dito Anurogo, M.Sc. bersama Prof. Dr. Taruna Ikrar, M. Biomed, Ph.D., dan diterbitkan oleh CV. Pustaka Setia, Bandung ini merupakan cetakan pertama, Agustus 2021, dengan ISBN 978-979-076-789-8. Ensiklopedia ini simbolis sekaligus embrio lahirnya “sekolah literasi kesehatan”.

Tidak terasa, lima jam telah berlalu. Kelas inspirasi berakhir dengan kegiatan foto bersama. Tampak raut muka bahagia di wajah siswa-siswi saat meninggalkan kelas.(Reportase Kegiatan ini ditulis oleh Bapak Rusmiyanto SPd MPd, selaku Plt Kepala SMA Negeri 15 Semarang)


Penulis; Rusmiyanto, S.Pd., M.Pd, Plt Kepala SMAN 15 Semarang,

Kiat Jitu Memulai Melapak di Shopee

1

Yusuf Wildan, sejak mahasiswa sudah menggeluti dunia arloji. Saya mengenal dia sejak awal semester. Selain itu saya juga menjadi teman berbagi ide dan pengembangan usahanya. Suatu waktu kami berkolaborasi, namun kolaborasi kami tidak menghasilkan sebuah usaha yang secara perencanaan baik, tetapi tidak cocok di pasaran. Kami tidak menganggap gagal. Kami memahami meskipun business plan yang kami sepakati bagus, ternyata kalau tidak passion dan disukai belum menjamin di lapangan dapat mulus menghasilkan keuntungan.

Yusuf akhirnya balik kucing melanjutkan lebih serius costumize jam tangan yang sudah lama digeluti. Nampaknya ini yang senada dengan bakat usahanya. Setelah getol memaksimalkan modifikasi jam tangan, dia menemukan jalan sukses sebagai pemula. Dalam sekejap, meski tetap butuh proses yang tekun, Yusuf dapat menunjukkan omset 15 juta dalam sebulan. salah satu lejitan sukses dia adalah memulai mengembangkan pasar dia di lapak Shopee.

Tidak dipungkiri, kesuksesan melapak di Shopee butuh berbagai tahapan agar produk kita tidak tertindih diam tidak dapat pembeli. Sejumlah tahapan memang perlu dituntaskan sehingga sebagai pemula pelapak Shopee mampu menambah penjualan. Bagaimana menjadi pemula yang tepat dan bijak menjadi pelapak Shopee. Saya mengajaknya untuk membagikan pengalaman dia agar dapat diiwariskan ke para muda yang ingin lancar melapak di Shopee. Cocok jika Anda perintis usaha tetapi buta cara sukses memulai melapak di Shopee. Yuk bergabung!

Apa yang akan dilatihkan untuk Anda sebagai pemula, baik yang sudah punya usaha, tetapi tidak menggunakan Shopee sebagai tempat percepatan usaha, atau yang masih bingung mau menjual apa. Kami hadir dengan beberapa tips membantu sukses melapak di Shopee agar Anda sebagai pemula dapat menaikkan produk di lapak Shopee. Berikut beberapa latihan yang akan dipandukan bagi Anda semua, yakni;

  • Membangun mental kewirausahaan
  • Teknik dasar fotografi produk
  • Pembukaan lapak
  • Teknik deskripsi produk
  • Optimalisasi produk
  • Meningkatkan penjualan
  • Keberlanjutan toko dan produk
  • Service excellence
  • Menyikapi pesaing

Bagaimana? Menu tersebut sangat penting kan untuk anda asah langsung saat pelatihan? Ayuk bergabung saja agar pertumbuhan usaha anda dapat digenjot sejak awal memasang lapak di Shopee. Sebuah paket cuma-cuma yang tidak semestinya kami hadirkan dengan sangat murah. Cukup dengan pendaftaran Rp. 100.000,- (harga normal Rp. 500.000,-) anda laksana mendapat beasiswa pelatihan 75 persen diskon. Apa dong syaratnya;

  • Isi formulir di google form
  • Upload bukti pembayaran
  • Membawa produk dan hasil foto produk
  • Bagi yang masih bingung mau menjual apa, kami siap melayani konsultasi penemuan produk

Waktu Pelaksanaan

Sabtu, 20 Agustus 2022
Waktu: 09:00 WIB sd 12:00 WIB


Tempat Pelaksanaan
Perumahan Graha Dewata Merjosari Malang. Belakang UIN Malang ke arah kebun jeruk.


Fasilitas
Snack
Sertifikat
Konsultasi


Yuk, segera mengambil kesempatan ini. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Zara Dz di Whatsapp. Pelatihan ini dilaksanakan secara offline karena kegiatan ini membutuhkan supervisi konten.

Kajian Gender dalam Kitab Tafsir Al-Ibriz KH. Bisri Musthofa: Antara Tradisi dan Modernitas

Opini Oleh: Feni Tamimul Ummah

Kampusdesa.or.id–Di tengah gejolak diskursus gender di Indonesia, menelaah tafsir Al-Qur’an menjadi sebuah upaya menarik untuk memahami perspektif Islam tentang peran dan relasi laki-laki dan perempuan. Salah satu tafsir yang kaya akan muatan gender adalah Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa, seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang dihormati.

Kajian gender dalam Al-Ibriz menunjukkan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, KH. Bisri Musthofa masih terikat pada norma-norma patriarki yang dominan di masanya, di mana laki-laki dianggap sebagai pemimpin dan perempuan sebagai pengikut. Hal ini terlihat dalam tafsirnya tentang ayat-ayat yang mengatur tentang poligami, warisan, dan kesaksian.

Namun, di sisi lain, KH. Bisri Musthofa juga menunjukkan sikap progresif dalam beberapa hal. Ia mengakui pentingnya pendidikan bagi perempuan dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Ia juga menekankan kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah.

Pandangan KH. Bisri Musthofa tentang gender mencerminkan konteks sosiokultural Indonesia pada masanya. Di satu sisi, ia terikat pada tradisi patriarki yang kuat, di sisi lain ia juga terinspirasi oleh nilai-nilai modernitas seperti kesetaraan dan keadilan.

Meskipun Al-Ibriz ditulis lebih dari 80 tahun yang lalu, tafsir KH. Bisri Musthofa masih relevan untuk dikaji hari ini. Kajian gender dalam tafsirnya menunjukkan bahwa Islam tidak statis dan dapat diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks zaman.

Namun, penting untuk diingat bahwa tafsir KH. Bisri Musthofa adalah produk masanya dan tidak dapat diadopsi secara literal di masa kini. Kita perlu melakukan analisis kritis terhadap tafsirnya dan mengkontekstualisasikannya dengan realitas sosial dan politik saat ini.

Kajian gender dalam Al-Ibriz membuka ruang diskusi yang menarik tentang peran dan relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam. Tafsir KH. Bisri Musthofa menunjukkan bahwa Islam tidak harus diinterpretasikan secara kaku dan patriarkis, tetapi dapat diinterpretasikan dengan cara yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

The Art of Writing 5.0 : Strategi Menulis Buku Ajar dan Referensi

Era literasi digital penuh dengan dinamika dan simulakra. Diperlukan strategi khusus agar generasi milenial dan akademisi dapat tetap eksis melalui menulis. Itulah esensi “The Art of Writing 5.0: Strategi Menulis Buku Ajar dan Referensi”. Pelatihan virtual ini digagas oleh School of Life Institute, bersinergi dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Workshop digital ini dihadiri sekitar 15 partisipan, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum, yang memiliki kepedulian di bidang literasi. Bertindak sebagai narasumber yaitu dr. Dito Anurogo, M.Sc., dosen FKIK Unismuh Makassar yang sedang menempuh studi S3 di

International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine (IPCTRM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan. Di awal webinar, partisipan diajak bersenang-senang melalui Kahoot, sebagai bentuk lain pre-test.

Webinar ini juga dibuka oleh dr. A. Weri Sompa, Sp.S., M.Kes selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, beliau menyampaikan bahwa “Kami dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar sangat menyambut baik kegiatan ini karena baik selaku mahasiswa maupun dosen tentunya ini adalah salah satu soft-skill yang tidak bisa didapatkan begitu saja, perlu latihan, dan proses yang cukup panjang jadi kami sangat mengapresiasi kegiatan ini apalagi diperuntukkan akademisi dan masyarakat umum. Harapan kami tentunya kegiatan ini dapat menghasilkan suatu produk yang dihasilkan dari apa yang kita tulis dan baca sehingga dapat bermanfaat bagi orang banyak”

The Art of Writing 5.0: Strategi Menulis Buku Ajar dan Referensi

Mengapa menambahkan 5.0?

“Karena kita nantinya akan menulis berdasarkan prinsip futuristik dan inovatif dimana sekarang sudah berada di era digital yang ditandai dengan masuknya tekhnologi digital yang semua serba canggih” ujar dr. Dito Anurogo. Ternyata didalam kepenulisan juga memiliki etika yaitu: Jujur pada sumber atau rujukan yang digunakan, kutipan yang persis sama tidak boleh lebih dari 10%, bahan tulisan dapat bersumber dari mana-mana, pengarang adalah penggagas ide dasar dan mengembangkan gagasamn kemudian menuliskan, sistematikan penulisan buku disusun sendiri oleh penulis dan diutamakan memiliki unsur 5I (Impressive, Insighful, Innovative, Inspiring dan Informative).

Buku Ajar, Bahan Ajar, Buku Referensi

Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu matakuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebar luaskan. Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) yaitu: 1). Bahan ajar cetak (printed): seperti handout, buku, modul, lembar kegiatan siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, dan model/maket. 2). Bahan ajar audio: seperti radio, piringan hitam, dan compact disk (CD) audio.3). Bahan ajar audio visual: seperti video compact disk (VCD) dan film. Dan 4). Bahan ajar multimedia interaktif: seperti CAI (Computer Assisted Instruction), CD multimedia interaktif, dan bahan ajar berbasis web. Menurut Koesnandar, bahan ajar berdasarkan subjeknya diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu: 1) Bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar. 2). Bentuk bahan ajar ini antara lain buku, handouts, lembar kegiatan siswa (LKS) dan modul. Bahan ajar yang dirancang umumnya digunakan sebagai bahan presentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. 3). Bahan ajar yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar, misalnya kliping, koran, film, iklan atau berita.

Sedangkan Buku Referensi adalah suatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya fokus pada satu bidang ilmu. Buku teks membahas topik yang cukup luas (satu bidang ilmu). Urutan materi dan struktur buku teks disusun berdasarkan logika bidang ilmu (content oriented), diterbit secara resmi untuk dipasarkan. Menurut Tarigan mengungkapkan pendapatnya, ada 4 jenis yang digunakan dalam pengelompokannya berdasarkan: 1). Berdasarkan mata pelajaran atau bidang studi (terdapat di SD, SMTP,SMTA). 2). Berdasarkan mata kuliah bidang yang bersangkutan (terdapat di perguruan tinggi). 3). Berdasarkan penulisan buku teks (mungkin di setiap jenjang pendidikan). 4). Berdasarkan jumlah penulis buku.

Namun, menulis bukan sembarang menulis karena terdapat kaidah penting dalam penulisan buku ajar dan referensi yaitu: 1). Kaidah bahasa yang baik dan benar meliputi penulisan di tingkat huruf, kata, kalimat, dan struktur bahasa yang tepat,cermat, serta runtut, 2). Konsistensi pada sistematika penulisan yang runtut tercermin dalam bab, sub bab, sampai penutup. 3). Pengutipan langsung dan tidak langsung harus sesuai etika ilmiah da. 4). Penulisan daftar kepustakaan sesuai dengan standar akademik yang berlaku.

Perbedaan Buku Ajar, Bahan Ajar, dan Referensi

Buku ajar berusaha menimbulkan minat baca, dirancang dan ditulis untuk mahasiswa, menjelaskan tujuan instruksional, dipergunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses perkuliahan, fokus pada pemberian kesempatan bagi mahasiswa untuk berlatih dan disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel, sistematis dan terstruktur berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan kompetensi akhir yang ingin dicapai. Sedangkan buku referensi mengasumsikan minat dari pembaca, untuk pembaca (guru, dosen, mahasiswa, peneliti, umum), belum tentu menjelaskan tujuan instruksional, dirancang untuk dipasarkan secara luas, belum tentu memberikan latihan dan disusun secara linear dan strukturnya berdasarkan logika bidang ilmu.

Manfaat dalam menulis buku ajar dan referensi yaitu secara umum: mendokumentasikan hasil TRI DHARMA (pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, Replikasi Keilmuan hingga dapat memberi manfaat akademik dan Sarana Belajar Sivitas Akademika. Maupun secara khususnya yaitu menciptakan budaya meneliti dan menulis, memperkaya wawasan akademik dosen, membangun budaya rujukan dan membangun pola berpikir sistematik konstruktif.

Beliau juga menjelaskan mengenai langkah-langkah dalam menulis buku ajar dan referensi, landasan dalam kepenulisan buku ajar (terdiri dari beberapa prinsip), dan lain sebagainya.

Uniknya, selaku penulis dan trainer profesional berlisensi BNSP, Dito Anurogo juga menerangkan prinsip penyusunan buku ajar, yakni prinsip pencerahan, prinsip inovatif, dan prinsip futuristik. Penulis “Ensiklopedia Penyakit dan Gangguan Kesehatan” itu juga mengemukakan “The Art and Future of Literacy” sebagai prinsip fundamental literasi. Prinsip literasi adalah keseimbangan atau harmonisasi, sehingga fleksibel dan dapat diterima di seluruh penjuru dunia. Berpegang kepada prinsip 4C, yakni: Collaboration, Communication, Channel, cost-effectiveness, maka seseorang dengan kecerdasan literasi tinggi dapat go Internasional, merasakan kebermanfaatannya. Tentunya hal itu perlu didukung oleh penguasaan multiaspek, seperti: digitalisasi, kesehatan, sosiokultural, edukasi, dan ekonomi.

Di akhir pelatihan, peserta diajak bergembira lagi melalui Kahoot. Para peserta tetap antusias bertahan meskipun waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam waktu Taiwan. Sebagai tindak lanjut, para peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi interaktif di grup WA. Selama sekitar sepuluh hari. Para peserta yang berhasil mengumpulkan outline tulisan, akan diberi sertifikat elektronik dengan 100 jam pembelajaran. Benar-benar menantang, mengasyikkan, dan menarik, bukan? [Taipei, Ahad, 05 Juni 2022].

Nur Rahmah Awaliah

Mahasiswa internship School of Life Institute dan mahasiswa aktif di FKIK Unismuh Makassar,