Kampusdesa.or.id–Tren pertanian hijau membutuhkan kreasi pupuk organik cair. Sudah banyak sekali dikembangkan secara mandiri atau sebagai produk usaha. Salah satu cara mudah membuat pupuk organik cair dengan memanfaatkan daun kelor.
Tanaman kelor dengan nama latin moringa oleivera beberapa tahun belakangan ini sangat dikenal, karena manfaatnya yang sangat luar biasa. Masyarakat luas sering mengolah sebagai bahan makanan sebagai sayuran sehingga tidak jarang daun kelor mudah didapat di pasar maupun tempat perbelanjaan.
Manfaat daun kelor tidak hanya bisa dirasakan oleh manusia saja. Dia juga dapat bermanfaat bagi tanaman lain karena ternyata sangat baik pula digunakan sebagai pupuk organik cair.
Mengapa sangat bagus untuk tanaman?
Kelor memiliki berbagai kandungan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh manusia, bisa dijadikan obat, minuman kesehatan, dan tentu juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian. Berikut sejumlah manfaat oleh karena kandungan yang ada di daun kelor antara lain;
Kaya nutrisi makro dan mikro. Pupuk organik cair yang terbuat dari daun kelor dapat membantu menyehatkan dan menyuburkan tanaman. Hal ini karena pupuk organik cair yang diproduksi dari daun kelor mengandung hara makro dan hara mikro yang dibutuhkan tanaman. Hara makro dan mikro dapat menjadi agen nutrisi yang sangat aktif, efektif dan produktif bagi tanaman.
Hara makro yang terdapat pada pupuk organik cair daun kelor diantaranya adalah nitrogen, phospor, kalium, kalsium, magnesium dan natrium. Nitrogren berfungsi membantu pertumbuhan tanaman karena mengandung protein yang dibutuhkan oleh tanaman. Nitrogren juga memberikan warna pada tanaman, umur tanaman, dan mengisi karbohidrat tanaman. Phospor berguna membantu merangsang pembungaan. Sementara kandungan hara mikronya antara lain adalah zat besi, kurkumin dan zink.
Kaya hormon pertumbuhan tanaman. Selain kandungan hara yang melimpah, pupuk organik cair dari daun kelor juga mengandung hormon yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman, diantaranya adalah hormon sitokinin dan zeatin.
Hormon sitokinin merupakan hormon yang dapat menginduksi sel, mempercepat pertumbuhan dan membantu pertumbuhan sel baru dan menunda penuaan sel lama sehingga hormone sitokinin membuat tanaman lebih cepat tumbuh.
Sedangkan hormon zeatin berfungsi sebagai antioksidan yang dapat melindungi tanaman dari serangan hama serta bersifat anti-aging atau menunda penuaan, sehingga tanaman lebih sehat dan tidak mudah mati.
Bagaimana Cara membuatnya?
Teknik membuat pupuk organik cair dari daun kelor, yang perlu disediakan sebagai berikut;
Siapkan sekitar ¼ kilogram daun kelor hijau dan sekitar 750 mL air (1 kilogram daun kelor : 3 liter air).
Masukkan ke dalam blender, dan blender sampai setengah lembut.
Saring menggunakan saringan santan atau kaos bekas.
Masukkan jus kelor ke dalam botol aqua bekas, tutup rapat. Diamkan hingga 5-7 hari.
Pupuk organik cair daun kelor siap digunakan.
Setelah didiamkan hingga lima hari, warna cairan akan berubah warna menjadi kuning kehijauan dan berbau menyengat. Hal ini berarti pupuk organik cair daun kelor telah terbentuk.
Bagaimana cara menggunakannya?
Untuk penggunaan sebagai pupuk, kita hanya mengambil 100 ml pupuk organik cair dari daun kelor dan dimasukkan kedalam botol semprot 1 liter, selanjutnya ditambahkan air hingga pebuh. Cairan tersebut kemudian disemprotkan pada tanaman setiap 2-3 kali sehari. Pemberian pupuk ini dapat diulang tiap 3 hari sekali.
Cukup mudah kan. Jadi, mari bersama sehatkan tanaman kita dengan pupuk organik cair dari daun kelor.
Saidun Fiddaroini
Alumni Prodi Kimia SAINTEK Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang lulus pada pertengahan tahun 2022. Saat ini, penulis sedang melanjutkan studi pada Program Magister Kimia di Universitas Brawijaya Malang.
Kampusdesa.or.id – Senin (1/8) telah hadir dilaksanakan Kuliah Pakar: Kajian Al-Qur’an dan Neurosains. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia bekerja sama dengan Universitas YARSI dan beberapa civitas lainnya. Dipandu oleh Ahmad Rusdan Hutomo, Kepala Lembaga Penelitian di Universitas YARSI, kegiatan ini dilaksanakan secara daring (zoom meeting) dengan jumlah partisipan sebanyak 90 peserta.
Fasli Jalal, Rektor Universitas YASRI pada sambutannya menyampaikan, “Ada sebuah perbandingan yang dibuat oleh Harvard Medical School, dia membandingkan antara otak manusia dan komputer yang mana yang lebih canggih. Jika terhitung antara jumlah sinaps dan jumlah item yang ada di komputer, memang komputer yang menang dan terbanyak. Namun, begitu diliat kemampuan berkolerasi dan berinteraksi (hiperlink) maka komputer kalah jauh. Apa yang dibahas hari ini merupakan salah satu bentuk untuk mengakui kebesaran Yang Maha Kuasa dan mengungkap misteri dan peluang-peluang yang harus dicari dan yang sudah diingatkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Dan kita sebagai ilmuwan muslim harus mencari kemaslahatan semaksimal mungkin dari sebuah organ tubuh yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, yang ternyata makin jelas bagi kehidupan manusia.”
Acara dibuka oleh Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia “ Sekitar 1400 tahun yang lalu sebenarnya sudah mempunyai neurosains yang ada didalam ayat Al-Qur’an, untuk itu sekarang ini kita sedang mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, tidak tertulis tetapi diyakini sebagaimana menjadi tugas kita sebagai ilmuwan”.
Dalam Q.S Al-Baqarah 30 telah dijelaskan status manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Mengapa manusia dijadikan khalifah? Karena manusia memiliki keunggulan terutama keunggulan yang paling penting yaitu organ otak, karena di situlah pusat kesadaran, imajinasi, inovasi dan lain sebagainya pada manusia. Prof. Taruna dalam materinya menjelaskan mengenai Miracle of human brain & neuro synapsis. Beliau menerangkan bahwa manusia memiliki sel-sel diotak kurang lebih 100 milyar. Bagaimana cara mengetahuinya? Yaitu dengan mengukurnya yang caranyapun sangat mudah dengan cara memotong sagital organ otak tersebut. Milyaran sel-sel otak ini memiliki dendritik, akson dan bagian tertentu lainnya dan lebih spesifiknya lagi, sinaptik di satu sel saraf memiliki minimal 10 ribu synaps. Dan di synaptik itulah hardisknya otak itu, karena 1 sel saraf jauh lebih canggih dibandingkan komputer yang kita miliki.
Seperti spesifikasinya, bahwa secara skematik otak kita memiliki 3 kesan yang sangat spesifik yaitu neuro-plasticity (kemampuan antara satu saraf dan saraf yang lainnya memiliki koneksi yang bersifat elastis), neuro-regeneration (otak mengalami regenerasi yang berbeda dengan organ yang lain), dan yang terakhir neuro-compensation (kehebatan otak yaitu memiliki kemampuan kompenasasi, contohnya jika seseorang menderta stroke dibagian hemisfer kiri maka yang terganggu adalah dibagian kanannya). Berdasarkan 3 teori tersebut, semakin menjelaskan dan membuat manusia mempunyai kelebihan atau keunggulan yaitu bisa menjadi pemimpin atau khalifah di muka bumi ini, tidak hanya dibumi namun juga sampai ke angkasa.
Kemampuan dalam konteks neurosains tersebut, proses menjadi khalifah yaitu karena adanya role mindset yang bersifat original yang terjadi didalam otak. Selanjutnya, karena adanya growth mindset seperti inovasi, cara berfikir, perasaan dan lainnya yang merupakan bagian dari kerja otak, baik itu kerja elektrikal, chemical, dan neurotransmitter didalam otak kita maka itu yang membuat manusia mempunyai kemampuan transformasi leadership. Yang terkahir modernity thinks, dimana kita selalu ingin berinovasi sesaui dengan kultur yang ada.
Terakhir di dalam topiknya, untuk mengungkap misteri kematian, sampai dengan pada tahun 1950 kematian dianggap sebagai titik ketika salah satu organ vital pernafasan atau detak jantung berhenti. Namun sadar tidak? Sampai pada tahun 1950, banyak kasus seperti mati suri, henti jantung terjadi dan itu dianggap sebagai standar kematian seseorang. Ternyata secara spesifik, al-quran telah menjelaskan hal tersebut sejak 1400 tahun yang lalu yaitu dengan menggambarkan bahwa ada standar kematian yang universal dan lebih foundemental. Indikator yang lebih spesifik dijelaskan dalam surah al-An’am ayat 60 dan Az-zumar ayat 42. Betapa hebatnya al-Quran karena bisa membuktikan lebih spesifik sains dalam konteks yang nyata.
Neurosains merupakan bagian dari cabang ilmu yang mempelajari mengenai sistem saraf, termasuk bagian neuroanatomi, neurobiologi, neurokimia, neurofisiologi, dan neurofarmakologi yang diaplikasikan kedalam ilmu psikologi, psikiatri, dan neurologi. Otak merupakan organ yang kompleks ditubuh manusia yang terdiri dari 86 juta sel saraf dengan panjang dendritik konon sepanjang 850.000 km (akson dan dendritik). Otak berkomunikasi menggunakan senyawa kimiawi dan listrik dimana didalam kehidupan sehari-hari kemampuan seseorang untuk menahan dan meneruskan keinginan atau emosionalnya diatur oleh otak. Sistem saraf memiliki sirkuit saraf kompleks untuk masing-masing fungsi dan otak memiliki pengalaman ‘mengubah’ yaitu: 1) ketika berlatih sebuah keahlian, pada area tersebut fungsi otak akan tumbuh. 2) Ketika suatu area otak tidak dipakai, area tersebut akan menyusut (neuroplastisitas).
Kecepatan hantaran informasi saraf yaitu 402 km/jam, dan ukuran otak berbanding lurus dengan jumlah neuron yang ada dari sejak bayi berat otak sebesar 350 gr dan pada saat manusia sudah dewasa, beratnya mencapai 1300 gr. Otak bertumbuh 3x lipat dalam 1 tahun pertama kehidupan, otak mengecil seiring dengan penuaan dan juga otak menggunakan 20% oksigen dari aliran darah didalam tubuh. Didalam Al-Quran pada Q.S Al-Alaq yang merupakan surah pertama yang diturunkan, menjelaskan beberapa poin penting yaitu keutamaan membaca dan mempelajari ilmu, wujud sebagai tanda kasih sayang Allah SWT. yaitu dnegan mengajarkan ilmu, dan mengikat ilmu dengan menulis.
Hubungan neurosains didalam Al-quran dijelaskan bahwa keistimewaan manusia telah tercatat didalam Q.S At-Tin ayat 4-5 dimana secara biologis manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna diantara mahkluk yang lain dan otak merupakan bagian pembeda dari yang lainnya. Bagaimana dengan otak manusia menurut Al-Quran? Otak manusia didalam Al-quran telah dijelaskan dalam Q.S. Hud ayat 56 bahwa Allah menguasai otak manusia, dan pada saat di yaumul hisab nanti, Allah membuka hipokampus manusia dan korteks serebri agar manusia bercerita sendiri tentang evaluasi selama hidupnya didunia. Q.S Al -alaq ayat 15-16 dijelaskan bahwa kesalahan manusia akan mendapatkan hukumannya dihari kemudian. Dan yang terakhir dalam Q.S. Ar-rahman ayat 41 telah dijelaskan bahwa lobus frontal merupakan pusat kognisi dan pengambilan keputusan yang baik maupun buruk, oleh karena itu bagian depan kepala digambarkan sebagai pusat penentu apakah manusia berbohong dan berdosa. Hal ini jelas bahwa Al-quran sudah menunjukkan kebesaran Allah lebih dari 1400 tahun yang lalu, sedangkan para ilmuwan baru menemukan fungsi area prefrontal ini dalam 60 tahun terkahir.
Tuntunan Al-Quran yaitu seperti perintah shalat dimana pada posisi sujud keadaan ini dapat meningkatkan suplai darah ke otak, dengan menempatkan lobus prefrontal pada pusat gravitasi (titik terbawah) dan dapat pula meningkatkan fungsi otak. Selanjutnya yaitu berzakat, dengan berzakat dapat meningkatkan aktivitas di korteks prefrontal dan dorsolateral yang dapat memprediksi keputusan seseorang untuk melakukan sumbangan amal atau tidak. Dan yang terkahir yaitu bersifat jujur. Lalu bagaimana Al-Quran dapat mengubah otak kita? Yaitu dengan melaksanakan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangannya (shalat, zakat, berpuasa), menjaga (adab, nilai termasuk hafalan Al-Quran), membaca Al-Quran dengan tartil, dan menyimak dan menghayati bacaan Al-Quran.
Di dalam Q.S Al-Isra’ ayat 70, dalam tafsirnya menjelaskan mengenai kunci kemuliaan anak keturunan Nabi Adam A.S, yaitu karena memiliki akal serta memiliki kemampuan mengekspresikan pikiran dan membedakan kebaikan dan keburukan. Secara etimologis, akal merupakan sesuatu yang sepadan dengan insting yang tidak ada pilihan (lain) baginya, dan secara terminologis akal merupakan pengenalan kognitif terhadap substansi segala sesuatu secara global, dan manifestasinya adalah mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat benar dan salah, bagus dan buruk, atau yang sejenisnya.
Bagaimana pandangan ulama mengenai akal?
Akal ialah naluri kognitif, ilmu ilmu aksiomatis, ilmu ilmu teoretis, dan tindakan sesuai ilmu pengetahuan. 1) Syaikh al Islam ibnu Taimiyyah berkata: “Naluri yang dengannya seseorang benalar, dan ini bervariasi dalam implementasinya. Para ulama salaf dan para imam sepakat dalam hal ini. 2) Demikian pula pendapat Imam Ahmad, Ilmu ilmu aksiomatis atau pengetahuan rasional yang disepakati oleh semua orang, seperti pengetahuan bahwa keseluruhan lebih besar dari sebagian, dil. Ini adalah pengetahuan (knowledge) yang tidak membutuhkan argumentasi ilmiah. 3) Ilmu-ilmu teoritis, yang diperoleh dengan analisa dan penalaran, dan ini “yang membawa manusia untuk melakukan apa yang bermanfaat baginya dan meninggalkan apa yang merugikannya”. 4) Perbuatan yang sesuai dengan ilmu. Imam al-Ashma’i berkata: “(Orang yang) berakal ialah yang menahan diri dari keburukan, dan membatasi diri dalam kebaikan.” Sebagaimana disitir dalam Al-Qur’an “Dan (orang-orang kafir) berkata: Seandainya kami dulu mau mendengar dan menggunakan akal pikiran kami, maka tentu kami tidak termasuk penghuni neraka sair (Q.S Al-Mulk: 10). Dan masih banyak pandangan para ulama lainnya.
Di dalam Al-Quran, kemampuan manusia dalam bidang akal sangat berbeda dengan makhluk lainnya, menjadikan Al-Quran sebagai pedoman umat manusia yang dapat dengan mudah dipahami, dan tidak ada seorangpun yang dapat memahami kecuali orang-orang yang berilmu atau berakal. Hal tersebut telah disebutkan dalam beberapa ayat dalam Al-Quran. Dan secara sinonimnya, akal berdasarkan pengertian para alama yaitu: Al-Lubb, An-Nuha, Al-Fu’ad dan Al-Qalb.
Di akhir kegiatan, dilakukan sesi tanya jawab yang ditujukan kepada masing-masing pakar dan terdapat pula Closing Remarks oleh Drs. Murni Djamal, MA (Kepala Pusat Etika Penerapan Kajian Nilai-nilai Keislaman). Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk menambah wawasan keilmuan namun juga menambah keimanan kita. (Tulisan ini telah disupervisi oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc., sedang studi S3 di Taipei Medical University, Taiwan)
Kampusdesa.or.id–Pengelompokan fungsi kordinasi Lembaga Seni Budaya Muslimin (LESBUMI), Lembaga Kajian Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam), dan Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PCNU Kota Malang berujung pada kelahiran wacana baru Fiqh Peradaban yang direspon positif melalui kehadiran ketua PB Lakpesdam NU, Ulil Abshor Abdala, di Malang. Di awal, diskusi tiga lembaga memang bermaksud mengambil irisan isu kebudayaan yang lebih khas Malang. Jika Lesbumi Nasional berusaha mengambil kekuatan gerakan manifestasi kebudayaan, maka Malang semestinya mengambil irisan yang cocok dengan isu kritis yang terjadi.
Al-hasil, irisan yang disepakati adalah mengangkat isu kebudayaan tetapi dibangun melalui gerakan kebudayaan berbasis air, atau sungai (peradaban air). Inspirasi inilah yang menjadi spirit kebudayaan sungai sebagai isu lingkungan yang dilengkapi dengan perjumpaan tiga lembaga (Lesbumi, Lakpesdam, LBM) sebagai isu bersama. Kesepakan ini mencuat menjadi isu yang diangkat menjadi tema Pengukuhan Pengurus menjadi Halaqoh Fiqh Peradaban, yakni Peran NU dan Menjaga Relasi Sosial, Tradisi dan Lingkungan di Malang, pada Sabtu, 10 September 2022 di Gedung Nuswantara, Lt. 7 Fisip Universitas Brawijaya, dimulai pukul 09:00 sd 12:30 WIB.
Kehadiran Ulil Abshor Abdala ternyata beririsan dengan kebutuhan menyukseskan istilah yang diangkat Ketum PBNU Yahya C. Staquf bahwa NU hari ini membutuhkan semacam spirit untuk mengembangkan Fiqh Peradaban sebagai episentrum peradaban dunia. Nah, pengukuhan pengurus tiga lembaga PCNU tersebut akhirnya dapat diakui sebagai bagian dari spirit besar PBNU dalam memenuhi 250 halaqohfiqh peradaban yang ditargetkan dapat diselenggarakan di tahun pertama kepengurusan PBNU, jelas Ulil Abshor yang juga menantu Kiai sekaligu seniman, Gus Mus.
Meski sebenarnya halaqoh fiqh peradaban diselenggarakan di pesantren, namun menurut Ulil, untuk kali ini dapat dimaklumi dan diakui sebagai bagian dari penambahan quota halaqoh fiqh peradaban. Memang, dari tiga lembaga PCNU yang dikukuhkan ini sudah mendiskusikan isu bersama yang saling melengkapi. Dengan begitu, isu relasi sosial, tradisi, dan lingkungan yang diangkat oleh PCNU melalui pengukuhan tiga lembaga menjadi salah satu bagian penting bagi diskursus halaqoh fiqh peradaban.
Kebangkitan Pemikiran Gus Dur
Sebagian besar yang hadir kemudian mulai diajak menyelami dan memahami kronologi halaqoh fiqh peradaban menjadi isu bersama PBNU di masa kepemimpinan Yahya C. Tsaquf. Istilah fiqh peradaban muncul dari gagasan orisinil dari Ketum PBNU. Inspirasinya muncul dari semangat Gus Dur yang mengusun halaqoh rekontekstualisasi kitab kuning pada Muktamar ke-28 di Krapyak Yogyakarta. Spirit mengusung tema-tema di kitab kuning sebagai diskursus terbuka, yang tidak hanya milik pesantren. Spirit ini dipilih Gus Dur agar Aswaja, kitab kuning, dan pemikiran pesantren dapat hadir menjawab permasalahan lebih luas di masyarakat.
Ulil Abshor Abdala (dua dari kiri), Ketua PB Lakpesdam NU.
Halaqoh kitab kuning ini kemudian digawangi oleh KH. Masdar F. Mas’udi, waktu itu. Berusaha melanjutkan gagasan Gus Dur, lahirlan visi Gus Yahya hingga 2027 pada masa kepemimpinannya tidak lain sebagai upaya membangkitkan Gus Dur dari alam barzah dengan menetapkan visi fiqh peradaban sebagai tawaran global dari NU, jelas Ulil, yang terkenal melalui ngaji online ihya’ ulumuddin di media sosial internet.
Istilah mengubah kesadaran
Fiqh peradaban menjadi istilah yang bertujuan merebut narasi dunia sebagai kontinum (keberlanjutan) dari lesson learned menggema istilah Islam Nusantara di masa Ketum PBNU KH. Said Aqil Shiraj. Ketika Gus Dur membangun gagasan pesantren sebagai sub-kultur, Islam Nusantara menjadi istilah yang secara domestik mampu meningkatkan identitas keberagamaan secara massif di kalangan NU dan simpatisan keislaman di Indonesia. Bahkan, istilah itu telah meningkatkan gairah baru, respon, dan daya tarik dunia terhadap Islam Indonesia yang dinarasikan NU melalui percikan pemikiran Islam Nusantara.
Islam Nusantara menjadi kiblat baru praktik-praktik keberagaman, kebangsaan, dan hubungan kawasan yang memberikan kontribusi bagi harapan baru Islam rahmatan lil-alamin. Narasi tersebut melahirkan kesadaran baru bagi NU sedemikian menjadikan istilah kesuksesa Islam Nusantara perlu ditingkatkan pengaruhnya lebih tinggi menjadi diskursus dunia. Fiqh peradaban lantas menjadi istilah lanjutan yang diharapkan memberikan ruang inklusif bagi dunia untuk saling ditemuwicarakan sebagai tantangan baru. Jika Islam Nusantara telah menggairahkan kesadaran domestik, fiqh peradaban menjadi permainan bahasa yang dapat memengaruhi kesadaran global, begitu senarai yang bisa diejaulang dari penjabaran Ulil Abshar Abdala.
Fiqh peradaban bernalar istiqra’, yakni sebuah model bernalar induktif yang dibangun dari modal bermazhab qauli ke manhaji. Sebuah arena pemikiran metodologis yang bermuara pada perbincangan dalam merespon peristiwa dunia yang kemudian melahirkan dalil-dalil konstruktif bagi keberagamaan lintas kawasan. Nalar istiqra’ sebagai pengambilan hukum dicirikan tiga hal, penerapan hukum tidak hanya tunggal, yang universal atau partikular; berprinsip qara’in al-ahwal (indikasi keadaan tertentu) mencakup yang manqul (nash) atau ghoiru manqul (konteks bermasyarakat); dan tidak semata bermetode bayani, tetapi mencermati konteks yang berkembang (Mashudi, 2014; Safriadi, 2019).
Fiqh peradaban tidak semata bermuara pada model penemuan hukum, tetapi juga untuk memahami perkembangan pengalaman keagamaan (fiqh li fahmi). Sedemikian sehingga fiqh peradaban menjadi ruang pemikiran yang dapat dijangkau siapa saja di dunia, tidak semata urusan mindset ubudiyah, tegas Ulil.
Tantangan peradaban air
Pengukuhan tiga lembaga Lakpesdam, Lesbumi, dan Lembaga Bahtsul Masa’il menjadi tertantang. Lesbumi yang berusaha menghidupi perspektif isu lokal konservasi air (sungai) melalui pendekatan budaya merasa tertantang menjadikan sungai sebagai isu global dalam melengkapi visi fiqh peradaban PBNU. Peradaban air menjadi tagline yang penting dalam melengkapi khazanah fiqh peradaban. Apalagi, air di nusantara ini menjadi lanskap peradaban yang di sekitarnya dihidupi oleh kerajaan besar dan pesantren.
Contoh nyata adalah sungai Brantas. Sungai Brantas adalah tata ruang pusat peradaban dan pusat transportasi, tetapi Belanda mulai mengubah jantung peradaban air ke jalur darat demi kepentingan jalur ekonomi. Akhirnya sungai menjadi tata ruang wingking (belakang). Padahal sungai dalam perspektif peradaban air ditempatkan sebagai halaman depan kehidupan, Jelas Akhmad Rifai, aktifis Saberpungli, sebuah gerakan pembersihan sampah Sungai Brantas. Dalam perspektif Lesbumi, melalui spirit Akhmad Rifai, peradaban air perlu dijadikan gerakan untuk memulihkan fungsi sungai sebagai kesadaran hidup, yang berarti menjadi bagian dari peradaban.
Bahkan nilai keuniversalannya dapat diperkuat dengan semangat toleransi yang inklusif. “Air bicara. Jangan bicara apa agamamu, tetapi sungaimu kotor.” Gerakan Akhmad Rifai telah mewakili sebagian kekhususan peradaban air. Selain bergerak di pembersihan sungai, nilai budaya sekitar sungai juga telah dihidupkan oleh Rifai melalui berbagai aksi seni dan budaya. Spirit Rifai telah membuka sebagian kecil aksi komunitas untuk menghidupkan lagi peradaban sungai.
Hastaq yang diusung “Kami sudah, kamu kapan,” tegas Rifai. Ketika sungai telah menjadi halaman belakang, sungai menjadi bak sampah, maka peradaban air perlu menjadi kekuatan baru bagi NU melalui berbagai pendekatan pemberdayaan seni, budaya, dan keagamaan (seperti di bahtsul masa’ilnya). Sungai tidak dijadikan punggung, tetapi sebagai muka kehidupan yang ditopang oleh kesadaran semua orang.
Dalam sudut pandang keagamaan, suatu misal terkait dengan bahtsul masa’il, perspektif peradaban air tidak melulu mengenai status air dalam perspektif hukum kesucian air. Lebih luas dari itu, peradaban air yang perlu dikonservasi jelas membutuhkan sebuah perspektif hukum yang inklusif, apalagi jika diruntut aneka budaya yang melingkupi air terkadang bersinggungan dengan ragam ritual dan keyakinan yang berbeda-beda. Tantangan riil di Lembaga Bahtsul Masa’il menjadi kontradiktif ketika bergerak pada level hukum penghakiman. Justru LBM dapat merespon pengalaman Rifai, selama ini belum ditemukan di Malang Raya terkait dengan Perda Lingkungan yang kuat.
Bagi saya pribadi sebagai penulis artikel ini, Bahtsul masa’il akan semakin berkonstribusi ketika mampu memberikan sudut pandang keagamaan yang memperkuat afirmasi Perda lingkungan yang bertujuan meningkatkan nilai konservasi peradaban air sebagai praktik muamalah inklusif. Sebuah relasi kehidupan yang menghormati keragaman hidup dan praktik menjaga sungai sebagai kesadaran bersama meruwa dan merawat keseimbangan alam di ekosistem sungai.
Praksis fiqh peradaban NU Malang
Setelah menyimak presentasi Ulil Abshor Abdala, Imron Rosyadi Hamid, Ahmad Rifai, dan Imron Rozuli, saya berkesimpulan konservasi peradaban air dapat menjadi bagian dari isu lokal untuk merebut isu global fiqh peradaban dengan pendekatan penguatan sumberdaya manusia di bidang lingkungan hidup (Lakpesdam), sudut pandang konservasi dengan metodologi perubahan menggunakan pendekatan seni dan budaya (Lesbumi), dan pengembangan kajian fiqhiyah melalui tematik ijtihad muamalaf inklusif yang berorientasi pada bahan kajian Peraturan Daerah Lingkungan Hidup yang berkelanjutan.
Apalagi Imron Rosyadi Hamid, Wasekjen PBNU, telah memantik kekuatan peradaban timur (China), saat ini lebih cepat secara teknologi menguasai berbagai keahlian di bidang pembangunan jembatan mengalahkan Amerika. Strategi peradaban air dapat menjadi spirit bagi sebagian kerja fiqh peradaban yang menurut sudut pandang Ulil, dapat memberikan ruang bagi dialektika (diskusi) dunia. Selain itu, Akhmad Rifai telah juga sukses menggaungkan konservasi sungai ke dunia barat (Eropa) melalui aktifasi teknologi dengan melibatkan kontributor google. Praksis peradaban air dapat menjadi literasi bagi kesadaran bersama, sebagai “The Protestan Ethic”-nya PCNU Kota Malang.
KAMPUSDESA.OR.ID–Sejak Pandemi Covid-19, kajian #17an Gusdurian Malang mati suri. Para aktivis lintas agama ini lebih banyak bekerja dalam berbagai penyaluran bantuan pada warga terdampak Pandemi. Seketika endemi sudah menjadi babak baru, forum #17an seolah mendapat momennya berbarengan dengan HUT ke-77 RI. Kongkow kali pertama ini mengambil kegiatan seputar Nobar film Luka Beta Rasa, musikalisasi puisi, performa dan diskusi mengenali perbedaan. Semua menjadi awal bagi kesaling-sapaan dan perjumpaan mengenal lebih dalam arti perbedaan, konflik, dan masa depan perdamaian menjadi Indonesia.
Ini gayung bersambut untuk menghidupi pembiasaan hastag 17an yang sebelum pandemi dijadikan sebagai momen menguatkan kesadaran terhadap perdamaian. Forum 17an dijadikan sebagai rutinan untuk berkumpul dan berdiskusi bagi aktivis Gusdurian yang dilakukan tanggal 17 pada setiap bulan. Sebagaimana spirit tersebut kegiatan 17an yang dikaitkan dengan peringatan HUT RI kali ini diisi dengan perjumpaan para aktivis untuk merekatkan kembali spirit harmoni keragaman. Forum 17-an Ini juga mengingatkan kembali arti penting perdamaian dengan nonton bareng film dokumenter Luka Beta Rasa sebagai bagian dari resolusi konflik untuk keberlanjutan perdamaian. Sebuah pengalaman krisis yang mengorbankan rasa kemanusiaan dan keutuhan pribadi menjadi manusia Indonesia. Pada kegiatan ini, selain syukuran, kongkow Forum 17-an dapat membantu para pemuda calon pemimpin untuk menyadari arti penting konflik atasnama agama, dampak kekerasan, dan masa depan relasi damai.
Foarum 17-an dihadiri dari berbagai peserta yang beragam. Istimewanya, sebagian audiens ada yang berasal dari Ambon, tentu ada perwakilan dari agama Baha’i, Katolik, Kristen, Muslim, Transgender, aliansi Jaringan Lintas Isu (Jati) Malang yang juga mengajak para aktifis untuk memromosikan. Perform juga dihadiri dari ibu-ibu kelompok seniman dari Idol Wareng Group, kelompok ibu-ibu sebuah RW Kedungkandang. Awaludin, pembaca puisi, dan narasumber muda seperti Baihaqi (UKM Cinta Tanah Air), Sebastian (PMKRI), Monika, Oase, Kampus Desa, Romo Gani, saya dan banyak audiens baru yang tertarik merajut perjumpaan lintas iman. Perjumpaan baru yang mengobati kerinduan baik bagi penggerak Gusdurian Muda Malang, atau bagi kalangan pemuda baru yang telah lama tidak berekspresi dalam merayakan perbedaan.
Pada akhirnya mereka terkoneksi dalam ruang publik kuliner di sebuah warung kopi. Forum 17an ini pertama diselenggarakan di Kana-Kopi, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang dengan seorang owner dari Jamaah Kristen yang mulai bergabung sebagai relawan lintas agama saat pandemi pada Jumat, 26 Agustus 2022, sejak pukul 19:00 sd 23:00 WIB. Forum 17-an yang bertempat di Kana-Kopi memberikan kesan bahwa Kafe menjadi ruang publik yang mencair sebagai wadah perjumpaan kebudayaan di tengah perebutan gaya hidup kafe modern yang nampak seragam dan peyoratif.
Kana Kofi dan Momen Baru Kisah Damai
Nampaknya, nonton bareng Luka Beta Rasa memantik kesadaran masa lalu mengenai sikap terhadap psikologi konflik dan pemaknaan traumatik untuk reproduksi perdamaiaan agama-agama dari para penutur muda di Kana Kopi. Situasi traumatik tersebut tidak bisa membebaskan dendam karena pengalama tersebut begitu nyata. Bagaimana proses penyelamatan untuk bebas dari ancaman pembunuhan menjadi Mas Bento harus mengubah simbol kopyah dan tidak berkopyah dalam perjalanan harian dia dari simbol satu agama ke agama lain. Film tersebut tidak semudah itu menghapus trauma dan kebencian. Untuk itu, realitas sinematik tersebut semestinya menjadi bahan untuk tidak melupakan begitu saja peristiwa tragis tersebut yang tidak mudah menghapus sedemikian rupa masa lalu. Namun demikian, perjumpaan di warung kopi ini, mereka berusaha mengekspresikan bahwa Ambon mempunyai trauma tetapi perlu kita untuk meretas perdamaian agar anak-anak tidak lagi menjadi komoditas perang atas-nama agama. Oleh karena itu, mereka mengambil pemaknaan bahwa film Luka Beta Rasa, tidak hanya menjadi tafsir tunggal tetapi perlu juga dikritisi sebagai bagian dari memaknai Ambon dan Indonesia dari berbagai keragaman, baik luka yang tidak serta merta dilupakan ataupun menjadi pelajaran baik bagi generasi untuk menciptakan recovery Indonesia dalam multikulturalisme.
Sebastian (Kanan), Aktifis PMKRI asal Ambon yang sedang studi di Malang.. Salah satu penggiat Gusdurian Malang
Kana Kafe menjadi ruang publik bagi pemuda Gusdurian yang baru bergabung untuk merefleksikan kesadaran kepemimpinan dalam sudut pandang kritis merawat spirit kebinekaan global. “Saya hidup di desa Madura yang kaya dengan perbedaan agama. Itu bisa dilalui hingga hari ini. Mencintai Indonesia yang keren ini menjadi tanggung jawab anak muda yang akan memimpin bangsa ini sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk merawat konflik berujung kekerasan,” tegas Baihaqi, seorang aktivis UKM Cinta Tanah Air yang juga Mahasiswa Universitas Islam Malang. Sebastian, sosok aktivis PMKRI yang asli Ambon, pun mengekspresikan keterkejutan sosial saat tiba di Malang. Dia menjadi kaget ketika melihat tulisan di kos-kosan berbunyi, kos khusus muslim. Namun, setelah bergaul dengan PMII, HMI, dan Gusdurian, dia mulai terbiasa. Keragaman agama ini tidak perlu dibesarkan, karena kebutuhan kemanusiaan kita sama, hanya cara beribadah kita saja yang berbeda. Untuk itu kegiatan seperti safari damai berkunjung ke tempat ibadah agama-agama menjadi pelajaran penting bagi kita. Sebuah perasaan yang dikisahkan Monika, salah satu penggerak Gusdurian Muda Malang yang pernah mengikuti kegiatan live in lintas agama di Jakarta. Kana-kopi Oro-oro Dowo menjadi saksi bagi para muda untuk mengekspresikan perdamaian lintas agama itu perlu dialami sehingga dapat beradaptasi dan terbiasa dengan perbedaan.
Merawat Indonesia dalam perdamaian sebagai ketrampilan berbineka membutuhkan latihan perjumpaan dan menyadari konflik kekerasan agama perlu dikritisi untuk memahami substansi menjadi Indonesia. Suatu contoh, “keragaman agama yang nyata di Madura rapuh oleh karena para Kyai lokal yang banyak pengikutnya justru tergadaikan akibat narasi eksklusif media sosial yang gagal difilter mereka. Akhirnya menimbulkan hubungan yang tidak rukun,” kata Awaludin yang asli Madura dan telah mementaskan musikalisasi puisi di Kana Kopi. Simpul dari Ambon menjadi Indonesia ditegaskan oleh Romo Gani. Latar-belakang konflik tersebut sebenarnya lahir dari latar-belakang non-agama. Ada dua yang perlu disikapi, yakni konflik oleh karena relasi ekonomi yang timpang dan munculnya sosok provokatif atas nama agama. Bagi Romo Gani, Indonesia ini memiliki kearifan lokal yang selalu merawat damai. Contoh orang Jawa, mangan ora mangan sing penting kumpul (maka tidak makan yang penting berkumpul). Sikap kekurangan ekonomi tetapi selalu mengedepankan hubungan rukun. Keserakahanlah yang menstimulasi konflik. Interes politik juga menyulut provokasi berujung konflik. Indonesia punya hikmah harmoni yang mampu mengatur perbedaan menjadi irama bersama. Itulah Indonesia, jelas Romo Gani, seorang tokoh gereja yang telaten mengayomi para penggerak Gusdurian. Kebutuhan relasi damai terus dibangun secara kritis sehingga para anak-muda mampu mengambil posisi penting bagi tumbuhnya pengalaman dan narasi kritis mengambil bagian tanggung jawab Indonesia ke depan.
Forum 17-an Garuda Malang di Kana Kopi telah menyegarkan tiga tahun (setelah pandemi) atas pengalaman perjumpaan untuk pelatihan harmoni dalam kebinekaan bagi pencinta pikiran dan laku Gus Dur di Malang.
KAMPUSDESA.OR.ID–Peluang bisnis online masih penuh tantangan meskipun aktifasi bisnis online sudah tidak membutuhkan modal. Senyampang paket data terisi, pasti setiap orang bisa membuka akun bisnis. Dari sejumlah pembelajar Kampus Desa Indonesia yang hadir dalam kelas bisnis merintis sukses menggunakan lapak online, masih saja mereka belum memanfaatkan sarana melimpah ruah tersebut secara maksimal. Meskipun sebenarnya mereka sudah pernah berjualan, namun gegara tidak konsisten, turun motivasinya, kurang fokus, akhirnya akun yang sudah pernah dimiliki mangkrak. Melihat hal demikian, Kampus Desa Indonesia membuka Kelas Binis untuk memberi wadah bagi para warga, untuk diberi pembelajaran teknik mengembangkan bisnis online untuk aplikasi Shopee.
Nah, bersama Pelapak Pemula di Shopee, Yusuf Wildan, seorang pengusaha muda jebolan Sarjana Psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sedang memantik para anak muda yang kebanyakan perempuan, bersegera merebut peluang murah meriah ini. Sebagian dari mereka ada dari perwakilan Pesantren Rakyat, Women Leadership Centre, ada lulusan pasca-sarjana yang terlibat di belajar bareng ini. Bahkan ada dosen yang sangat tertarik untuk mencoba merintis bisnis online ini.
Kelas ini menjadi penting untuk memberi semangat bagi anak muda agar dapat menjadi pengusaha dalam waktu yang cepat. Mereka diajak bergerak untuk mengambil kesempatan mendapatkan pemasukan mandiri dengan sumberdaya maya yang melimpah sehingga mereka tidak hanya konsumtif. “Kita sudah saatnya tidak menjadi korban dengan memasang aplikasi Shopee, sudah saatnya kita perlu menjadi pelaku usaha yang dapat keuntungan dari bermain Shopee, kata Iqbal Ali Wafa, seorang Magister Psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selain itu, mereka diajari dan dipandu segera membuka lapak di Shopee. Bagi yang sudah pernah punya lapak, segera dikembangkan untuk meningkatkan nilai penjualan.
Di hari Sabtu, 20 Agustus 2022, difasilitasi Kampus Desa Indonesia sejumlah pemuda ini belajar bersama untuk mengetahui berbagai cara dalam memenuhi konten toko online di Shopee agar dapat berjualan dengan baik yang dimulai sejak 09:00 sampai 13:00 WIB. Bertempat di rumah pemilik brand lapak Shopee, Jas Merah Store, tepatnya di Perumahan Graha Dewata Merjosari Lowokwaru Kota Malang.
Teknik fotografi produk membutuhkan detailing yang menjadikan produk kita eye chacting.
— Yusuf Wildan, Owner Jas Merah Store, Pemandu Kelas pelapak online Kampus Desa Indonesia
Jas Merah Store dan Kampus Desa Siapkan Kelas Praktik Bisnis Online
Kegiatan ini merupakan edisi kelas bisnis yang dikelola dengan kerjasama Kampus Desa Indonesia dengan Jas Merah Store. Kolaborasi ini akan terus dikembangkan agar Kampus Desa Indonesia dapat lebih lanjut untuk mengembangkan kelas-kelas bisnis berbasis digital. Sejumlah materi praktis telah dibagikan berdasarkan pengalaman maju si pemilik lapak Shopee, Jas Merah Store, yang baru berjalan beberapa bulan sejak dia menikah, sekarang sudah menjadi bisnis rintisan yang menghasilkan pundi-pundi laba jutaan rupiah dalam sebulan.
Siska, perempuan aktifis WLC (Women Leadership Center) mengatakan, “setelah ini saya akan menindaklanjuti mengaktifkan toko saya lagi. Meski langkah yang disampaikan ini sama dengan yang di youtube, tetapi spirit saat ini membuat saya menemukan momen untuk lebih giat.” Beda dengan Widya, “saya langsung membuat akun Shopee, dan setelah ini mengisi sejumlah produk kerajinan tangan yang bahannya sudah menumpuk sekian lama.” Salah satu santriwati Pesantren Rakyat, Dia, yang sehari-hari berjibaku sebagai admin media, pun menyemangati dirinya, “segera akan merapikan sejumlah produk pesantren rakyat untuk dibuatkan akun di Shopee.”
Di kelas Bisnis ini, sejumlah langkah membuat brand, teknik fotografi produk, cara mengembangkan iklan yang tepat dan tidak boros juga dikupas lebih teknis oleh Yusuf Wildan. Semua dipelajari bersama dengan mereview satu persatu produk yang telah dan akan diupload di akun mereka masing-masing. Mereka kemudian membuat grup WA dengan semangat kita bisa berwirausaha dengan semangat global (Reporter: Mohammad Mahpur).
Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan dolan ke daerah Jember. Di sepanjang jalan, mulai Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Jember, bertebaran toko Basmalah. Toko eceran milik Koperasi Pondok Pesantren (kopontren) Sidogiri, Pasuruan.
Kehadiran ritel Basmalah, setidaknya ‘mewarnai’ menjamurnya gerai waralaba ‘mart’ yang telah lebih dulu hadir dan bertebaran.
Lantas, apa kaitannya dengan gerakan lintas-umat beragama?
Hampir dua dekade ini, dalam amatan sekilas (mungkin juga agak serampangan), pola gerakan lintas-umat beragama, lebih didominasi pola elitis. Pertemuan para pemimpin umat, baik saat momentum hari raya maupun di luar momentum tersebut. Gelaran forum diskusi, seminar, cenderung mengulik wacana teologi sarat keilmuan.
Pertemuan yang biasanya diikuti dan melibatkan sekelompok orang, dengan atribut pemimpin umat maupun anggota pengurus suatu bidang yang mengurusi kerjasama antar-umat beragama.
Pada sisi lain, gerakan yang bisa disebut sebagai populis, melibatkan lebih banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat cenderung bersifat karitatif. Misalnya, saat terjadinya bencana alam atau gerakan pemberian bantuan sembako di masa pandemi kemarin. Di luar itu, ada pula kegiatan berbentuk kerja bakti. Contohnya, nge-cat tembok, bebersih rumah ibadah.
Nah, bisa jadi situasi kekinian dapat mendorong pola gerakan kerjasama antar-umat, saatnya bergeser ke arah pola gerakan yang populis. Perjumpaan lintas-umat beragama sudah waktunya diperkuat arusnya ke arah yang lebih melibatkan sekaligus memenuhi kebutuhan umat (partisipatoris). Setidaknya ada upaya terobosan demi memperkaya kerjasama lintas-umat beragama.
Forum seminar maupun diskusi, demi menambah cakrawala pemahaman, masih cukup layak diteruskembangkan. Pemahaman teologi inklusif memerlukan topangan energi demi keberlangsungan pewarisannya. Termasuk mendorong eksplorasi pengembangan gagasan pemikiran teologi yang inklusif.
Pada pihak lain, penguatan wacana keberagaman yang inklusif, forum tersebut pun menjadi ruang dialektika pemikiran, khususnya dalam merespon tawaran gagasan dari kelompok intoleran. Kelompok yang membangun militansi keagamaan, berbasis pemahaman yang eksklusif, bahkan mengarah menjadi kelompok radikal.
Demikian halnya dengan perjumpaan para pemimpin umat dan pengurus organisasi antar-umat dari masing-masing kelompok umat beragama. Dibutuhkan perjumpaan yang intens khususnya dalam menemukan terobosan yang lebih menyegarkan demi menjawab tantangan bersama. Perjumpaan yang (diharapkan) melampaui aktivitas seremonial semata.
Ritel Basmalah dan ekonomi kerakyatan lintas agama
Perjalanan ke timur, berjumpa dengan tebaran toko ritel Basmalah, seperti mengisyaratkan plethikan sinar. Ibarat rambu-rambu jalan yang mengandung pesan.
Pertama, ritel tersebut dari segi kepemilikan bersifat komunal. Lembaga usaha berbentuk koperasi. Sebuah isyarat yang inspiratif khususnya dalam konteks pengembangan gerakan koperasi. Keberadaan toko eceran tersebut, seakan menguatkan sinyal, gerakan ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi, mampu bersanding dengan toko ritel individual.
Setidaknya rambu itu hendak meneguhkan betapa gerakan ekonomi yang berbasis komunal niscaya kokbersanding dengan toko yang dimiliki secara perseorangan. Toko perseorangan, hasil terbaik dari rahim gerakan perekonomian yang liberal-individualistik.
Kedua, ritel yang lahir dari ekosistem pondok pesantren tersebut pun memberikan peneguhan, betapa gerakan keagamaan, potensial menjadi rahim lahirnya agen perekonomian yang berbasis komunalisme (kebersamaan).
Hal ini sekaligus hendak memberikan peneguhan betapa gerakan lintas-umat beragama, potensial menjadi rahim bagi tumbuhnya tata kelola perekonomian yang lebih bercorak atau berkarakter kebersamaan.
Secara serampangan kita bisa membayangkan jika di banyak tempat berdiri toko-toko pengecer (ritel) yang berbasis kebersamaan, bersemangat gotong-royong, dimiliki bersama, membagikan hasil usaha secara adil. Hmm, bukan kah hal itu menjadi impian dari setiap tarikan nafas sila pada Pancasila dan UUD 1945.
Apalagi toko toko pengecer itu menjadi urat nadi sekaligus etalase bagi karya produk rakyat mulai dari pinggiran pantai, pucuk gunung, lembah, hingga sudut gang perumahan sempit-padat di perkotaan.
Alhasil, terbuka potensi yang saatnya digarap bersama. Semangat gotong-royong, kebersamaan, tak menutup peluang diwujudkan di bidang perekonomian. Apalagi terdaapat faktor kemendesakan pada situasi kekinian.
Pertama, situasi kebangkitan dalam bidang ekonomi, usai dihantam pandemi Covid-19. Kedua, ancaman krisis ekonomi global yang berpeluang mengerek kenaikan harga energi berbasis fosil. Ketiga, ekosistem ekonomi digital yang kian marak, tentu menjadi faktor kesulitan tersendiri, khususnya bagi kelompok masyarakat yang belum ramah pada teknologi informasi.
Pada matra seperti ini, strategi gerakan lintas-umat beragama dapat mengambil peran kunci. Setidaknya, tak henti berkeringat mewujudkan kehidupan bersama berbasis semangat gotong-royong sebagai jatidiri bangsa, khususnya dalam bidang perkonomian.
Siapa tahu, rakyat secara bersama (komunal, citizenship), menjadi pemilik toko online di negerinya sendiri. Selamat hari Kemerdekaan RI ke-77 Tahun.
Menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, SMA Negeri 15 Semarang mengadakan Kelas Inspirasi: Literasi Kesehatan. Diaspora Taiwan, dr Dito Anurogo MSc, diundang sebagai narasumber.
Pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 15 Semarang, Bapak Rusmiyanto SPd MPd mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran dokter Dito. Saat memberikan kata sambutan, beliau berpesan agar siswa-siswi dapat terinspirasi dan mengikuti jejak langkah dokter Dito, terutama dalam hal literasi dan prestasi yang mencerahkan peradaban.
Sebagai mahasiswa yang sedang studi S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine (IPCTRM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan, dokter Dito membawakan materi tentang stemcells (sel punca), nanoteknologi, konsep rida, serta The Art of Health Literacy 5.0.
Dosen tetap di Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makasar itu menjelaskan tentang terapi stem cells. Terapi sel punca atau stem cells bermanfaat sebagai antipenuaan (antiaging), berperan mengatasi kelainan neurologi (sistem persarafan) seperti: autisme, ataksia, serebral palsy, Parkinson, cedera tulang belakang, stroke, Alzheimer, multipel sklerosis; penyakit ortopedi (tulang) berupa: kelelahan kronis, nyeri punggung kronis, osteoartritis; kelainan imun (sistem kekebalan tubuh) misalnya: lupus, artritis reumatoid; penyakit jantung, contohnya: infark miokard, penyakit jantung iskemik; penyakit diabetes, ginjal, hati, dan kanker.
Ibarat koin, stem cells juga memiliki dua sisi, yakni keuntungan dan kerugian. Pada sel punca dewasa (adult stem cell), tubuh akan menerima sel tanpa rejeksi atau penolakan. Tidak ada problematika moral atau etis. Kerugiannya hanyalah teknologi ini amatlah rumit dan masih dalam proses pengembangan. Pada kasus sel punca embrionik (embryonic stem cell), sumber sel tersedia dari terapi IVF (in vitro fertility). Adapun kerugiannya, beberapa ahli berpendapat bahwa merusak embrio berarti merusak potensi kehidupan manusia.
Dokter penulis puluhan buku berlisensi BNSP itu juga mengungkapkan tentang nanoteknologi. Nanoteknologi adalah penggunaan material berukuran sangat kecil untuk menciptakan material berukuran besar. Nanoteknologi merupakan teknologi yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan beragam material. Skala nano berkisar dari 1 nm hingga 100 nm. Skala nano berarti sepermiliar dari sesuatu. Jika ditulis dengan angka: 0,000000001.
Nanoteknologi telah membuat perbedaan yang signifikan dalam hal nanobots medis, perlengkapan sensors, teknologi fitness yang dapat dipakai, penyembuhan diri sendiri (self-healing), keuntungan big data, dan keuntungan lingkungan. Seperti halnya stem cells, nanoteknologi juga memiliki berbagai keuntungan dan kerugian. Keuntungan nanoteknologi misalnya: berperan dalam energi terbarukan, memiliki sirkuit yang sangat presisi di dalam perlengkapan elektronika, mengefektifkan dunia kedokteran, gen-gen yang rusak dapat diperbaiki. Adapun kerugian nanoteknologi misalnya: menghasilkan toksin dan polutan yang mengancam lingkungan hidup, berdampak pada hilangnya lowongan kerja tertentu, memiliki tingkat keamanan yang masih dipertanyakan terutama pada penggunaan nanoweapons dan smart bullets.
Kelas inspirasi bertambah semakin seru tatkala dokter Dito memeragakan senam jari tangan. Senam ini bertujuan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri sekaligus hiburan edukatif.
Puncaknya, saat dokter Dito menjelaskan tentang the Art of Health Literacy 5.0. Inilah inti dari literasi. Konsep ciptaan dokter Dito ini berintikan keseimbangan (harmoni) di empat penjuru mata angin. Untuk mencapai keseimbangan, diperlukan kolaborasi, komunikasi, jejaring (channel), dan efisiensi biaya (cost-effectiveness). Hal-hal lainnya juga diperlukan, seperti: digitalisasi, kebersinambungan proses, kolaborasi internasional, kesehatan dan sosiokultural, edukasi dan ekonomi. Tentunya, perlu didukung lintas-sektoral dan para pakar multidisipliner. Slogan yang diperkenalkan dokter Dito sungguh menarik. Mari kita senantiasa bersinergi dan berkolaborasi demi mewujudkan dunia yang lebih baik dan peradaban yang lebih cerah.
Menariknya, dokter Dito juga mengemukakan istilah “Literasi Sehat” yang berarti literasi yang holistik-komprehensif. Beberapa unsur pendukungnya meliputi: berintegritas, beretika-berestetika, solutif, inovatif, futuristik, bernuansa lokal, berwawasan global, berkarakter kuat, dan mengandung kebenaran.
Literasi sehat mampu mencerahkan peradaban dunia. Dimulai dari mencerahkan jiwa, menyehatkan warga, akhirnya dapat menghebatkan bangsa. “Kuncinya sederhana. Kembali kepada komitmen kita bersama,” jelas dokter Dito bersemangat.
Dokter peraih penghargaan “International Scientist Awards 2022″ sebagai “Best Researcher Award” ini juga mengemukakan tentang urutan alur pikir ilmiah. Mulai dari fenomena, masalah, tujuan umum, kerangka konseptual, tujuan khusus, rumusan masalah, manfaat, dan perumusan judul.
Penulis “Ensiklopedia Penyakit dan Gangguan Kesehatan” ini juga mengemukakan tentang “12 Prinsip Literasi Kesehatan di Era Digital”. Pertama, berdoalah sebelum dan setelah berkegiatan di dunia maya (internet). Kedua, perbanyaklah membaca kritis (critical reading) dari sumber website terpercaya. Ketiga, persering membaca kitab suci dan referensi atau jurnal ilmiah daripada media sosial. Keempat, tidak semua berita atau hal yang viral mengandung kebenaran. Tidak semua kebenaran menjadi berita viral. Kelima, jadilah dan berperilakulah sebagai netizen (warga internet) seperti Anda ingin diperlakukan netizen lainnya. Keenam, lakukan miniriset (cek-ricek, konfirmasi, klarifikasi) saat Anda menerima berita atau informasi dari media sosial. Ketujuh, hendaklah Anda tidak langsung share berita atau video apapun yang Anda terima.
Kedelapan, berpikirlah dahulu sebelum berkomentar. Kesembilan, berkomentarlah dengan sopan, santun, beretika, dan berbudaya. Kesepuluh, hindarilah toxic friendship dan hargai waktu Anda saat bermedia sosial. Kesebelas, hindari selalu update status, waspadai predator seksual. Keduabelas, hendaklah orangtua selalu mendampingi putera atau puterinya saat berinternet-ria dan bermedia sosial. Semua kaidah ini dapat disebut juga sebagai “12 Kaidah Etika Digital”.
Sebagai pondasi kejayaan negeri, literasi dibangun secara bertahap. Dimulai dari terbangunnya kecerdasan literasi, berlanjut dengan terbentuknya masyarakat literasi, didukung oleh regulasi dan kolaborasi dengan stake-holders, akhirnya terciptalah peradaban literasi.
Bapak Rusmiyanto (kanan), Plt Kepala SMAN 15 Semarang, saat memberikan sambutan
Serunya kegiatan ini membuat sejumlah 40 siswa-siswi bersemangat mengikuti dari awal hingga akhir. Antusiasme ini rupanya dipantik oleh kepiawaian dokter Dito dalam membuka acara. Beliau membukanya dengan:
Serat Wedhatama: Tembang Pangkur
Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
sinuba sinukarta
mrih kretarta pakartining ilmu luhung
kang tumrap ing tanah jawa
agama ageming aji
Kelas terasa semakin hidup saat dokter Dito mengajak siswa-siswi untuk menyanyikan lagu Kokoro No Tomo karya Mayumi Itsuwa sebagai pembuka. Sebelum berakhir kegiatan, lagu legendaris “Yue liang dai biao wo de xin 月亮代表我的心” yang dipopulerkan oleh Teresa Teng 邓丽君 rupanya mampu mengharmoniskan suasana.
Para siswa-siswi juga terlihat sangat antusias saat dokter Dito mengajak bermain. Permainannya cukup sederhana. Siswa-siswi diminta menggambar tiga persegi panjang di kertas kosong, lalu menuliskan identitas lengkap. Dengan tekun dan cermat, dokter Dito menuliskan hasil analisis kepribadian berdasarkan tulisan dan tanda tangan mereka.
Adanya sesi tanya jawab kesehatan juga tidak disia-siakan oleh siswa-siswi. Beberapa dia antara mereka tidak ragu mengangkat jari lalu curhat tentang masalah kesehatan yang pernah dialaminya. Dengan sabar, dokter Dito merespons semua pertanyaan siswa-siswi.
Di sela-sela kegiatan itu, dokter Dito memberikan tanda kasih berupa satu buku “Ensiklopedia Penyakit dan Gangguan Kesehatan” untuk diberikan kepada perpustakaan SMA Negeri 15 Semarang.
Buku setebal 448 halaman dan berukuran 16 x 24 cm yang ditulis oleh dokter Dito Anurogo, M.Sc. bersama Prof. Dr. Taruna Ikrar, M. Biomed, Ph.D., dan diterbitkan oleh CV. Pustaka Setia, Bandung ini merupakan cetakan pertama, Agustus 2021, dengan ISBN 978-979-076-789-8. Ensiklopedia ini simbolis sekaligus embrio lahirnya “sekolah literasi kesehatan”.
Tidak terasa, lima jam telah berlalu. Kelas inspirasi berakhir dengan kegiatan foto bersama. Tampak raut muka bahagia di wajah siswa-siswi saat meninggalkan kelas.(Reportase Kegiatan ini ditulis oleh Bapak Rusmiyanto SPd MPd, selaku Plt Kepala SMA Negeri 15 Semarang)
Penulis; Rusmiyanto, S.Pd., M.Pd, Plt Kepala SMAN 15 Semarang,
Yusuf Wildan, sejak mahasiswa sudah menggeluti dunia arloji. Saya mengenal dia sejak awal semester. Selain itu saya juga menjadi teman berbagi ide dan pengembangan usahanya. Suatu waktu kami berkolaborasi, namun kolaborasi kami tidak menghasilkan sebuah usaha yang secara perencanaan baik, tetapi tidak cocok di pasaran. Kami tidak menganggap gagal. Kami memahami meskipun business plan yang kami sepakati bagus, ternyata kalau tidak passion dan disukai belum menjamin di lapangan dapat mulus menghasilkan keuntungan.
Yusuf akhirnya balik kucing melanjutkan lebih serius costumize jam tangan yang sudah lama digeluti. Nampaknya ini yang senada dengan bakat usahanya. Setelah getol memaksimalkan modifikasi jam tangan, dia menemukan jalan sukses sebagai pemula. Dalam sekejap, meski tetap butuh proses yang tekun, Yusuf dapat menunjukkan omset 15 juta dalam sebulan. salah satu lejitan sukses dia adalah memulai mengembangkan pasar dia di lapak Shopee.
Tidak dipungkiri, kesuksesan melapak di Shopee butuh berbagai tahapan agar produk kita tidak tertindih diam tidak dapat pembeli. Sejumlah tahapan memang perlu dituntaskan sehingga sebagai pemula pelapak Shopee mampu menambah penjualan. Bagaimana menjadi pemula yang tepat dan bijak menjadi pelapak Shopee. Saya mengajaknya untuk membagikan pengalaman dia agar dapat diiwariskan ke para muda yang ingin lancar melapak di Shopee. Cocok jika Anda perintis usaha tetapi buta cara sukses memulai melapak di Shopee. Yuk bergabung!
Apa yang akan dilatihkan untuk Anda sebagai pemula, baik yang sudah punya usaha, tetapi tidak menggunakan Shopee sebagai tempat percepatan usaha, atau yang masih bingung mau menjual apa. Kami hadir dengan beberapa tips membantu sukses melapak di Shopee agar Anda sebagai pemula dapat menaikkan produk di lapak Shopee. Berikut beberapa latihan yang akan dipandukan bagi Anda semua, yakni;
Membangun mental kewirausahaan
Teknik dasar fotografi produk
Pembukaan lapak
Teknik deskripsi produk
Optimalisasi produk
Meningkatkan penjualan
Keberlanjutan toko dan produk
Service excellence
Menyikapi pesaing
Bagaimana? Menu tersebut sangat penting kan untuk anda asah langsung saat pelatihan? Ayuk bergabung saja agar pertumbuhan usaha anda dapat digenjot sejak awal memasang lapak di Shopee. Sebuah paket cuma-cuma yang tidak semestinya kami hadirkan dengan sangat murah. Cukup dengan pendaftaran Rp. 100.000,- (harga normal Rp. 500.000,-) anda laksana mendapat beasiswa pelatihan 75 persen diskon. Apa dong syaratnya;
Bagi yang masih bingung mau menjual apa, kami siap melayani konsultasi penemuan produk
Waktu Pelaksanaan
Sabtu, 20 Agustus 2022 Waktu: 09:00 WIB sd 12:00 WIB
Tempat Pelaksanaan Perumahan Graha Dewata Merjosari Malang. Belakang UIN Malang ke arah kebun jeruk.
Fasilitas Snack Sertifikat Konsultasi
Yuk, segera mengambil kesempatan ini. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Zara Dz di Whatsapp. Pelatihan ini dilaksanakan secara offline karena kegiatan ini membutuhkan supervisi konten.