Selasa, Agustus 25, 2026
Beranda blog Halaman 7

Pribumisasi Maulid; Konservasi Kearifan Lokal

Kampusdesa.or.id–Bagaimana kalau maulid dikembangkan sebagai strategi aksi membela tanah kelahiran. Spirit kelahiran tidak lain sebagai awal keberkahan dan kemaslahatan. Ketika babat desa dimulai, sebuah kelahiran pun dimulai. Di tempat tersebut kehidupan manusia mulai tumbuh dan berkembang. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah ingatan mengingat kelahiran nabi. Tetapi di Sekarbanjar Festival, maulid kenabian adalah spirit untuk menjaga tanah kelahiran dusun Genting sebagau teknik membangkitkan ingatan bahwa di dusun ini lahirkan seorang yang diyakini berjasa. Pribumisasi maulid menjadi tafsir lokalitas untuk mengingatkan warga bahwa dusun Genting adalah lokasi yang perlu dijaga sebagai kelangsungan hidup (sustainable life) yang lestari.

Inspirasi maulid dari Pos Genting

“Saya ini berpikir cukup lama. Dusun Genting yang sudah dikepung perumahan dengan penghuni para pendatang, atau orang dusun sini yang memilih tempat di perumahan Grand Alina, Al-Fath, serta berbagai branding al al laiinya, apa nantinya orang Genting ini akan tersingkir. Apalagi yang asli orang Genting hanya dalam lingkup empat RT. Diakui atau tidak, tingkat pendidikan penduduk asli Genting jelas akan kalah dengan para pendatang yang tinggal di perumahan,” tutur tokoh masyarakat di dusun ini.

Kami yang semula makan ketela pohon seperti tersedak. Bisu, diam, setengah kaget. Saya sendiri bergumam dalam hati, “orang ini kok aneh, orang kampung aneh. Kritis, memiliki kesadaran komunitas. Kalau orang kampusan wajar. Ini orang kampung tetapi memiliki ketajaman pandangan.” Saya hanya diam seribu bahasa.

Kami yang duduk di dekatnya, saling pandang. Seolah kami diajak berdiskusi melakukan perlawanan. Suara yang sedikit bernada prihatin muncul.

“Bagaimana nantinya pemimpin setingkat RW ini jika dipimpin para pendatang. Mereka tidak tahu sejarah babat tanah Genting. Genting tumbuh dengan penduduk yang memiliki seni dan budaya adiluhung. Barian, ritual tradisi, nyadran, Selo-an setiap tanggal 13 Selo. berbagai budaya tanah kelahiran mewariskan berbagai cara hidup berbudaya dan tradisi. Kekayaan ini menunjukkan budaya yang membentuk kehidupan Genting.” Keluh seorang tokoh di Genting.

“Melihat latar belakang pendidikan orang asli Genting, pastinya di suatu saat nanti, orang-orang Genting tidak lagi akan menjadi pemimpin. Di saat para pendatang mulai menjadi bagian dari warga, mereka tidak berjejak pada nilai-nilai kelahiran Genting. Apalagi evolusi perumahan dan ideologisasi agama eksklusif akan berdampak pada perbenturan budaya. Sedangkan orang-orang Genting memiliki garis kelahiran yang kuat  dengan alam (seperti Sumber Serut yang identik dengan sesepuh kelahiran Genting, mbah Serut), Mbah Arti (sesepuh yang selalu menjadi bagian dari ngalap berkah) saat warga Genting memiliki hajat.” Upacara tradisi buak iber-iber sebagai bagian dari tradisi berdoa mendapatkan keselamatan sebelum punya hajat.”   Sambung refleksi kritis tokoh Genting sembari meneguh secangkir kopi.

“Contohnya Sumber Serut, kalau perumahan yang dibangun di sini menggerus sumber, jelas sumberdaya air sebagai milik dan sumber kehidupan orang Genting bisa punah.”

Sembari memegang cangkir kopi, Ki Aji lantas menaikkan suaranya dan berujar, “contohnya Sumber Serut, kalau perumahan yang dibangun di sini menggerus sumber, jelas sumberdaya air sebagai milik dan sumber kehidupan orang Genting bisa punah. Padahal, Sumber Serut ini bagian dari kekuatan hidup sejak dulu masyarakat Genting. Pun demikian dengan menghormati leluhur (nenek moyang)  yang didanyangan Genting seperti mbah Serut dan Mbok Arti, pasti tidak menjadi kebanggaan bagi para pendatang. Apalagi jikalau mereka menganggap bid’ah praktik menghormati para leluhur Genting tersebut,” sruput suara tegukan kopi Ki Aji.

Sekarbanjar; etnografi pribumisasi maulid

Gus Fat langsung menyahut, “begini saja Ki Aji, maulid Nabi Muhammad SAW kita jadikan saja sebagai bagian dari cara guyub masyarakat Genting untuk menyadari arti penting perjuangan leluhur dan menguatkan kesadaran konservasi sumberdaya alam dan tradisi yang sudah diwariskan para leluhur.”

Sontak sejumlah orang yang duduk terdiam.

“Gus Fat ini sudah gila ya. Masak maulid Nabi dibawa seperti itu. Syirik bro. Apa kata Kyai dan NU pada kita, Lesbumi.” Tegas Mbak Sindu bernada marah mendengar Gus Fat berseloroh ngawur.

“Ketika kelahiran Genting menjadi spirit hidup, bagaimana peringatan maulid Nabi Muhammad SAW juga dapat didialogkan dengan perjumpaan kelahiran masyarakat setempat”

“Loh, maulid itu kan memperingati kelahiran nabi. Biar tidak a-historis dengan kehidupan masyarakat Genting, apa salahnya kita mencoba mengenali keutamaan Genting dengan mengungkap sejarah kelahiran Genting, prasasti yang ada,  budaya yang lahir dari Genting. Ketika kelahiran Genting menjadi spirit hidup, bagaimana peringatan maulid Nabi Muhammad SAW juga dapat didialogkan dengan perjumpaan kelahiran masyarakat setempat sehingga mendapat nilai setara. Cara ini seperti Walisongo berdakwah kan.” Gus Fat berusaha meyakinkan kepada audiens ngopi di sudut pos Genting.

“Berarti Sekarbanjar merupakan media menyetarakan semangat kelahiran (asal-usul) Genting dengan semangat kelahiran Nabi Muhammad SAW .” Sahut secepat kilat Mbah Sindu menimpali pernyataan Gus Fat.

“Betul mbah Sindu. Lesbumi itu fleksibel. Kita masuk di ranah konservasi kebudayaan lokal saja. Malah Walisongo kita jadikan sanda perjuangan. Oleh karena itu di Sekarbanjar, kita akan mengangkat Sumber Serut sebagai warisan budaya, pedayangan kita hormati sebagai bagian dari jasa lelulur, prasasti Genting kita angkat sebagai sejarah hidup orang Genting, pameran pusaka, diskusi bertema Genting dan nampak tilas kelahiran dusun. Upacara tradisi yang ada kita angkat sebagai laku semangat menjaga mental dan spiritualitas. Di titik ini, dialog kenabian kita tempatkan dengan semangat berbudaya. Ujungnya selain kenal Nabi Muhammad, mereka juga bisa memahami bahwa kelahiran Nabi Muhammad juga bagian dari menghargai leluhur yang melahirkan jiwa hidup di masyarakat sekitar. Insya Allah, kita berharap Gusti Allah merdihoi jalan Lesbumi.” Gedog palu Gus Fat memecah kesunyian malam di Pos Genting.

Semua  pengurus Lesbumi yang hadir terdiam, Ki Aji sebagai Ketua RW mewakili tokoh masyarakat merasa punya inovasi setelah jenuh melihat peringatan Maulid Nabi yang begitu-begitu saja hatinya terbakar dan manggut-manggut seolah mengamini konsep Sekarbanjar. Mari hadir merawat Kearifan Lokal dengan semangat pribumisasi Maulid Nabi pada tanggal 6 sampai dengan 8 Oktober2023 di dusun Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang.

 

Pewarta: Ma’shum Jauhari

NU Platform Moderat, Tasyakuran FKAUB Kota Malang

0

Kampusdesa.or.id–Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) merayakan hari jadinya yang ke-25 dalam sebuah acara tasyakuran yang meriah. Perayaan ini berlangsung pada Rabu, 20 September 2023, di Aula PCNU Kota Malang  mulai pukul 19:00 sampai dengan 21:30 WIB. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan pemuka masyarakat dari berbagai latar belakang.

Eko Atmono, Koordinator FKAUB, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya perayaan ini. “Kita sudah ke-25 tahun, hendak kemana, mau kemana, kita lempar orang, atau sudah selesai,” tegasnya. Tasyakuran ini juga menjadi momen untuk mengenang kelahiran FKAUB yang terjadi pada 20 September 1998, yang diprakarsai oleh PCNU Kota Malang.

NU Terbuka Kerjasama Lintas Agama

Faisol Fatawi, Sekretaris PCNU Kota Malang, juga menekankan komitmen PCNU dalam menjaga tawasuth (moderasi) dan tawazun (keseimbangan) dalam beragama. Faisol menegaskan, “falsafah negara Pancasila tetap menjadi landasan bagi NU. Maka jangan khawatir kalau dekat dengan NU, maka NU selalu terbuka untuk menjalin kerjasama sosial. Semua dapat kita kembangkan sebagai bagian dari tanggungjawab bersama,” Sekretaris PCNU Kota Malang, menyatakan, “moderasi beragama menjadi, pandangan ahlussunnah waljamaah yang menjadi bagian dari usaha mewujudkan kebangsaan.

Jangan khawatir kalau dekat dengan NU, maka NU selalu terbuka untuk menjalin kerjasama sosial.

FKAUB juga menekankan pentingnya perbedaan dalam kebersamaan. “Kita berbeda untuk bersama. Bersama untuk berbeda. Inilah modal bagi NU untuk tetap mengembangkan nilai-nilai moderat dan toleransi, menguatkan rasa saling percaya, menguatkan komitmen, untuk berjejaring yang apik bekerjasama ke depan,” ungkap Eko.

Napak Tilas Di PCNU Kota Malang sebagai Rahim FKAUB

Pendeta Krista, yang dikenal sebagai salah satu tokoh awal pendiri FKAUB, memberi sambutan dalam acara tersebut. Dia menegaskan bahwa ibadah agama lain bukanlah musuh, tetapi sahabat. Sebagai contoh, beliau mengingatkan peristiwa forum doa bersama antar pemuda lintas agama yang diadakan di Malang.

Waktu itu, sejak Juni hingga September, para aktifitis lintas agama berkumpul di PCNU sebagai untuk diskusi menuju deklarasi FKAUB. Puncaknya, deklarasi ini diumumkan di Balaiwiyata, pada 20 Septermber 1998, menjadi babak baru dalam perjalanan FKAUB. Krista menyampaikan setelah deklarasi tempo itu, kegiatan FKAUB berkunjung ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Bahkan sampai ke PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Waktu itu ada kegiatan memperkuat kerjasama lintas agama. Pengurus FKAUB bertemu Kyai Fawaid membawa pesan persaudaraan dan dialog antar-santri dari berbagai latar belakang agama. Sejak saat itu, dialog lintas agama dapat menjadi bagian dari khazanah aksi FKAUB.

PCNU Kota Malang adalah tempat bagi rahim FKAUB. Sebuah tempat menggodok kesiapan peluncuruan FKAUB di tahun 1998. Menurut Eko Atmono, serasa pulang kampung di PCNU.

Tasyakuran dilakukan di kantor PCNU Kota Malang dianggap sebagai aksi napak tilas, bahwa PCNU Kota Malang adalah tempat bagi rahim FKAUB. Sebuah tempat menggodok kesiapan peluncuruan FKAUB di tahun 1998. Menurut Eko Atmono, serasa pulang kampung di PCNU.

Acara tasyakuran FKAUB ini ditutup dengan kata-kata harapan dari Asif Budairi, Wakil Ketua PCNU Kota Malang. “kami (FKAUB) ada di hati kalian para pecinta perdamaian.” Kenyataan ini mencerminkan semangat perdamaian dan kerukunan yang selalu dijunjung tinggi oleh FKAUB dan NU. Perayaan ini menegaskan kembali komitmen FKAUB dalam mempromosikan toleransi, dialog antarumat beragama, dan kerukunan sebagai bagian integral dari keberagaman Indonesia (M2).

Generasi Indonesia atau Generasi Setengah Indonesia

0

Wenty M. Minza, Ahli psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjahmada ungkap berbagai perkembangan mengenai generasi Indonesia. Simak ulasan yang lengkap di channel Youtube Kampus Desa Indonesia

Pendidikan Anti Narkoba, Seberapa Pentingkah?

Opini Oleh: Bilzamzam Multazam Muhammad

Kampusdesa.or.id–Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan serius yang mengancam kestabilan dan masa depan generasi bangsa. Penyalahgunaan narkoba telah menjadi masalah yang meresahkan, merusak generasi muda, dan menghancurkan keluarga. Sehingga kita sepakat bahwa narkoba merupakan musuh masyakarat. Di banyak area, peperangan tidak lagi menjadi sesuatu yang mematikan, tetapi narkotika lah musuh kita sesungguhnya. Untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya narkotika secara umum ini, setiap tanggal 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti Narkotika Internasional.

Hari Anti Narkotika Internasional digagas sejak tahun 1988 oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNDOC) pada tanggal 26 Juni. Tanggal istimewa ini dipilih dengan pertimbangan mengambil momen pengungkapan kasus perdagangan opium oleh Lin Zexu (1785-1851) di Humen, Guangdong, Tiongkok. Gagasan ini tntunya sebagai bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dalam peredaran gelap narkotika.

Di Indonesia, penyelenggaraan Hari Anti Narkotika Internasional dilakukan di bawah naungan BNN (Badan Narkotika Nasional). Di mana BNN merupakan lembaga non-kementerian yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba dan zat adiktif lainnya. Segala upaya pencegahan dan pemberantasan praktik pengedaran narkoba telah di lakukan oleh lembaga yang telah berdiri sejak tahun 2002 ini.

Namun meski demikian, seperti data yang dilaporkan oleh Kepala BNN Komisaris Jenderal Petrus Reinhard Golose, total dari rentang usia 15-64 tahun ada sekitar 4,8 juta penduduk desa dan kota pernah memakai narkoba sepanjang tahun 2022-2023. BNN mengungkap 768 kasus tindak pidana narkotika dengan tersangka sebanyak 1.209 orang. Data ini menunjukan adanya peningkatan prevalensi pengguna narkoba, sehingga perlu sinergi kuat antarlembaga dan warga untuk memberantas narkorba.

Provinsi Jawa Timur tercatat masuk di dalam top three provinsi dengan jumlah kasus narkoba tertinggi di Indonesia. Peredaran narkotika dan obat-obatan (narkoba) terlarang di Jatim masih cukup tinggi, dan dalam skala nasional Jatim menduduki peringkat kedua nasional tertinggi setelah Sumatra Utara dan disusul DKI Jakarta. Dari data BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) Jatim, pengguna aktif narkoba di Jatim kini lebih dari 800.000 orang.

“Secara prevalensi, pengguna aktif narkoba di Jatim sekitar 2,2% dari jumlah penduduk. Jika penduduk Jatim sekitar 39 juta jiwa maka pengguna narkoba aktif lebih dari 800.000 orang,”

Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Fatchur Rohman.

Menurutnya, jumlah pengguna narkoba aktif dan pasif di Jatim secara keseluruhan kini lebih dari satu juta orang. Untuk rata-rata pengguna masih dalam tahap usia produktif kisaran 15-40 tahun. Rata-rata anak muda usia produktif lah yang menjadi sasaran peredaran narkoba, sehingga perlu tindakan pencegahan agar jumlah pengguna narkoba bisa dikurangi.

Upaya Preventif Penyalahgunaan Narkoba

Adapun upaya preventif atau bentuk pencegahan jitu yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman ini salah satunya adalah kerjasama dengan dinas pendidikan kab/kota dengan BNNK setempat melalui materi pendidikan anti narkoba. Pendidikan yang dimaksud di sini tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan tentang bahaya narkoba, tetapi juga membentuk karakter dan sikap mental yang kuat untuk menolak godaan narkoba. Sehingga pendidikan anti narkoba harus menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita.

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa pendidikan anti narkoba bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga tanggung jawab kolektif masyarakat dan sistem pendidikan. Keluarga memainkan peran penting dalam memberikan nilai-nilai dan membentuk sikap anak-anak mereka, tetapi masyarakat dan lembaga pendidikan juga memiliki peran yang signifikan dalam memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bahaya narkoba.

Pendidikan anti narkoba harus dimulai sejak dini, di tingkat sekolah dasar. Mengapa? Karena di usia muda, anak-anak lebih terbuka untuk menerima pengetahuan baru dan lebih mudah dibentuk sikapnya. Pendidikan anti narkoba di sekolah dasar dapat disampaikan melalui pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan, cerita, dan kegiatan kreatif lainnya. Hal ini akan membantu anak-anak memahami bahaya narkoba secara sederhana dan menyenangkan.

Selain itu, penting juga untuk melibatkan peran aktif guru dalam pendidikan anti narkoba. Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga panutan bagi siswa. Mereka dapat memberikan contoh yang baik melalui perilaku sehari-hari, seperti tidak merokok atau mengonsumsi alkohol. Guru juga dapat mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang mengajarkan tentang bahaya narkoba, serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapat mereka tentang masalah ini. Dengan melibatkan guru, pendidikan anti narkoba dapat menjadi pengalaman yang berkesan dan membantu membentuk generasi yang tangguh dan terhindar dari narkoba.

Selain itu, lembaga pendidikan harus menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait, seperti lembaga penegak hukum dan organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam bidang anti narkoba. Kerjasama ini akan memperkuat pendidikan anti narkoba dengan memberikan informasi terkini tentang tren penggunaan narkoba, memberikan dukungan konseling bagi siswa yang terkena dampak narkoba, dan menyediakan sumber daya untuk pelatihan guru dalam hal pendidikan anti narkoba.

Baca juga:
1. Waspada Narkoba Remaja, Ortu Wajib Peka
2. Menjadi Teman Anak : Penyuluhan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Remaja
3. Segera Berhenti dengan Tepat sebelum Terlambat

Tidak kalah pentingnya, pendidikan anti narkoba harus diperkuat melalui kampanye publik yang luas. Media massa, termasuk koran seperti Jawa Pos, memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba. Dalam hal ini, koran dapat menyediakan ruang untuk artikel, opini, dan cerita inspiratif tentang perjuangan melawan narkoba, serta mengampanyekan pentingnya pendidikan anti narkoba dalam masyarakat. Dengan melibatkan media massa, pesan anti narkoba dapat disampaikan secara lebih efektif dan mencapai khalayak yang lebih luas.

Investasi dalam pendidikan anti narkoba bukanlah pengeluaran yang sia-sia, tetapi merupakan upaya jangka panjang untuk melindungi dan membentuk generasi bangsa yang kuat, sehat, dan produktif. Dalam jangka panjang, pendidikan anti narkoba dapat mengurangi biaya perawatan kesehatan, rehabilitasi, dan pemulihan sosial yang diakibatkan oleh penyalahgunaan narkoba. Selain itu, generasi yang terhindar dari narkoba akan menjadi kekuatan positif dalam pembangunan negara, mendorong kemajuan ekonomi, dan menciptakan masyarakat yang lebih aman dan sejahtera.

Kesimpulannya, pendidikan anti narkoba merupakan investasi yang tak boleh dilupakan bagi masa depan generasi bangsa. Dengan memulai pendidikan ini sejak dini, melibatkan guru, kerjasama dengan pihak terkait, dan kampanye publik yang luas, kita dapat melawan ancaman narkoba secara efektif. Pendidikan anti narkoba bukan hanya memberikan pengetahuan tentang bahaya narkoba, tetapi juga membentuk karakter dan sikap mental yang kuat dalam menolak godaan narkoba. Dalam upaya ini, kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan sistem pendidikan menjadi kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi bangsa. []

Gagalnya Makalah sebagai Tugas Kuliah

Literasi menulis generasi yang butuh diperjuangkan

Kampusdesa.or.id–Pemberian tugas menulis makalah kepada mahasiswa, apalagi dengan berkelompok, sepertinya harus dipikir ulang oleh dosen. Berdasarkan penelusuran saya di beberapa kelas yang saya ampu, tugas menulis makalah tidak berdampak baik terhadap perkembangan keterampilan menulis mahasiswa. Hampir semua mahasiswa yang saya minta jajak pendapat menyatakan bahwa makalah yang mereka tulis merupakan hasil kliping dari internet alias copy-paste karya orang lain.

Hanya ada 2 makalah yang bebas plagiarisme, sisanya hasil comot sana-sini.

Saya kemudian mengajak mahasiswa, waktu itu semester 4, untuk membuat daftar  mata kuliah apa saja yang menuntut mereka menulis makalah. Ada sekitar 19 mata kuliah dalam daftar tersebut. Saya lalu meminta mereka, mana di antara 19 makalah itu yang merupakan hasil karya mereka sendiri tanpa ada plagiarisme. Hasilnya cukup mencengangkan, hanya ada 2 makalah yang bebas plagiarisme, sisanya hasil comot sana-sini. Dua makalah yang selamat tersebut lantaran dosen pengampunya mensyaratkan ada bukti cek plagiarisme yang harus dilampirkan.

Tak hanya sampai di situ, saya masih mengajak mereka menelusuri lagi apakah ada di antara anggota kelompok mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam proses penulisan makalah. Jawabannya memang mudah ditebak, ya, tentu saja ada. Para mahasiswa tersebut sepakat dengan kecurigaan saya bahwa menulis makalah secara berkelompok belum mampu meningkatkan keterampilan menulis mereka.

Apa Akar Masalahnya?

Masih banyaknya rekan dosen yang menugaskan mahasiswa untuk menulis makalah kemungkinan karena masih berpikir bahwa makalah bisa menjadi bukti sahih dan alat ukur yang ideal atas keterampilan menulis dan berpikir kritis mahasiswa. Jika penugasan ini dibimbing dengan serius, bisa jadi pemikiran tersebut memang benar. Sayangnya, fakta yang terjadi tidaklah demikian. Mahasiswa dibiarkan menulis makalah tanpa adanya proses pembimbingan dan makalah. Elim cukup mampu mendongkrak keterampilan menulis dan berpikir kritis mahasiswa.

Umumnya yang terjadi, di awal perkuliahan dosen membagi kelompok dan membagikan tema-tema makalah. Tema tersebut diambil dari materi pokok yang akan dosen sampaikan dan biasanya tercantum dalam RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Selanjutnya, mahasiswa secara berkelompok menulis makalah sesuai tema yang mereka dapatkan, kemudian mempresentasikannya sesuai giliran.

Baca Juga:
Kreatif dan Kritis dalam Proses Menulis
Empat Pertanyaan Kunci Menulis Artikel Ilmiah

Selama proses penulisan makalah tersebut, tidak ada bimbingan dan arahan dari dosen. Aspek kepenulisan belum menjadi perhatian utama. Kesalahan ejaan, tanda baca, penulisan kata depan dan awalan, dan struktur kalimat yang tidak efektif serta tidak jelas SPOKnya (Subyek, Predikat, Obyek) kemungkinan besar tidak menjadi kriteria penilaian. Sebaliknya, penilaian hanya berdasarkan performan mahasiswa ketika presentasi. Biasanya yang dilihat adalah kemampuan menjelaskan dan menjawab pertanyaan.

Masalah lain yang turut memperparah adalah kurangnya minat baca mahasiswa. Jangankan membaca buku atau artikel ilmiah, membaca materi kuliah saja banyak yang enggan. Teknik kliping hasil copy-paste yang mereka lakukan dalam menulis makalah menjadi bukti nyata hal ini. Alih-alih membaca dan berusaha memahami sumber bacaan, mereka lebih memilih jalan pragmatis dengan cara copy-paste.

Selain itu, keterampilan menulis bagi mahasiswa masih menjadi keterampilan yang kurang penting lagi urgent untuk dikuasai. Banyak mahasiswa yang belum menyadari bahwa keterampilan menulis dapat menunjang karir mereka di masa depan. Terutama bagi mereka yang berminat untuk menjadi pendidik atau akademisi. Anggapan bahwa menulis merupakan bakat, sepertinya juga turut menjadi faktor penyebab sepinya minat pada keterampilan ini.

Makalah Bukan Satu-Satunya Cara

Sejak 2019, saya berkomitmen untuk tidak memberikan tugas menulis makalah kepada mahasiswa. Sampai dengan hari ini, komitmen tersebut masih tetap saya jalankan. Saya hanya menugaskan mahasiswa untuk menulis esai sepanjang satu halaman kertas A4. Esai tersebut harus ditulis secara individu dan saya melarang keras mahasiswa melakukan plagiarisme dalam bentuk apapun. 

Tugas ini saya berikan di awal perkuliahan. Tidak hanya menulis esai, saya juga meminta mereka mengirimkan esai tersebut ke media massa digital atau paling tidak mengunggahnya ke blog pribadi, media sosial, atau platform kepenulisan seperti Kompasiana. Panduan dan kriteria penilaian juga saya sampai dengan jelas di awal. Feedback saya berikan setelah mereka mengumpulkan tugas tersebut.

Walaupun hanya 1 halaman, tugas menulis esai ini lebih mampu memotret bagaimana keterampilan menulis mahasiswa dibandingkan tugas makalah yang berisi puluhan halaman.

Bagi saya, walaupun hanya 1 halaman, tugas menulis esai ini lebih mampu memotret bagaimana keterampilan menulis mahasiswa dibandingkan tugas makalah yang berisi puluhan halaman. Esai juga lebih mampu memotret gagasan mahasiswa secara langsung. Saya juga lebih hemat waktu ketika mengoreksi karena hanya satu halaman saja. Selain itu, mahasiswa juga diuntungkan karena bisa dengan mudah mengirimkan esainya ke media massa. 

Tentu saja, cara saya ini tidak menjamin seratus persen mahasiswa tidak melakukan kecurangan. Bisa saja mereka melakukan plagiarisme. Namun, setidaknya kecurangan tersebut lebih mudah saya deteksi. Selain itu, tugas ini juga masih belum mampu meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa yang tidak berminat menekuni duni tulis-menulis.

Poin penting yang ingin saya tekankan pada tulisan ini adalah bahwa ada banyak alternatif cara untuk melakukan asesmen terhadap keterampilan menulis mahasiswa, bukan hanya makalah. Prinsip constructive allignment juga mesti jadi pertimbangan utama ketika dosen hendak memilih teknik dan instrumen asesmen supaya capaian pembelajaran benar-benar dapat diukur.

Balewiyata-Unisma; Situs Toleransi Gereja-Pesantren di Malang

Kampusdesa.or.id–Kebutuhan mengkaji Islam untuk menguatkan pemahaman lintas agama pada studi Islamologi menghubungkan Balewiyata dengan Pesantren Ainul Yakin Unisma Malang. Tak luput, di tahun 1996 Pesantren Ainul Yakin mengundang Gus Dur menjadi narasumber pelatihan analisis sosial pesantren se-Jawa Timur. Hasil pelatihan tersebut melahirkan Forum Do’a Bersama (FDB).

Jauh sebelum itu, Gus Dur sebenarnya telah menjadi pengajar sebagai asisten KH. Oesman Mansoer di IAIN Sunan Ampel Malang (1970 – 1974), sekarang bernama Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. KH. Oesman Mansoer pernah menjabat Dekan di Fakultas Tarbiyah (1968-1972). Kehadiran Gus Dur di Malang mempertemukannya dengan orang-orang Balewiyata mengajar Islamologi.

Sebelum itu, Islamologi di Balewiyata diampu oleh KH. Abdul Azis pada masa sebelum KH. Oesman Mansoer menjadi Dekan. Gus Dur yang kemudian menggantikan KH. Abdul Azis untuk mengajar mata kuliah Islamologi di Balewiyata. Siapa KH. Abdul Azis tidak banyak informasi yang menjelaskan sosok progresif tersebut waktu itu? Penjelasan itu disampaikan oleh Muhamad Nurudin ((Gus Din), putra KH. Oesman Mansur. Dia menambahkan, “Alm. KH. Abdul Azis, saya yakini santri Hadratus Syech KH. Hasyim Asyari, jaman semono pikiran dan tindakannya sudah melampai zaman, mengajar Islamologi di Balewiyata.”

Forum Do’a Bersama Malang.

Gayung bersambut, Paska pelatihan analisis sosial di Pesantren Ainul Yakin Unisma yang dihadiri Gus Dur, lahirlah Forum Do’a Bersama. Forum yang merespon situasi sosial keagamaan di Jawa Timur ketika relasi Islam Kristen melahirkan sejumlah friksi dan konflik. Kesadaran analisis sosial waktu itu, pelatihan analisis sosial memaksa mereka melakukan gerakan untuk menciptakan model fres menjaga harmonisasi relasi Islam Kristen. Atas peran Pdt. Suwignyo, Balewiyata mampu menjadi sarang Forum Do’a Bersama, tegas Trianom Suryandaru.

FDB tidak lepas dari proses mengerucut gerakan mahasiswa Malang. Dikisahkan oleh Trianom lebih lanjut melalui chat whatsapp ke saya, para aktor penggagas FDB terdiri dari mahasiswa lingkaran komunitas PMII Cabang Unisma (Studio 6), pres kampus, dan komunitas mahasiswa Katolik. Mereka sering jalan bersama sebagai gerakan moral mahasiswa yang semakin hari terus mengerucut.  Peristiwa pentingnya, ada titik perjumpaan diantara para elit GKJW yang diwakili oleh Pdt. Wismoady, dan Gus Dur bersama sekelompok mahasiswa dengan rohaniawan yang terjadi secara kultural. FDB, gerakan mahasiswa lintas agama, dan Gus Dur menjadi simpul mengristalnya komunikasi kultural lintas agama.

Konon, belakangan ini, Gus Im-lah yang kemudian mendapat mandat untuk menemani bibit gerakan mahasiswa Malang tersebut, tegas Trianom.

Virus cerdas gerakan mahasiswa ini terpantau radar Gus Dur dari Balewiyata. Salah satu perbincangan Pdt. Wismoady dan Gus Dur yang pernah terekam oleh Pdt. Suwignyo adalah, mereka berdua rasan-rasan yang menyinggung bahwa ada sekelompok mahasiswa di Malang ini yang progresif sehingga perlu ditemani arah gerakannya. Mereka para mahasiswa itu ada di wilayah pojokan Uniswa. Boleh jadi ini basecamp PMII yang ada di studio 6. Pdt. Suwignyo yang mendengar rasan-rasan dua tokoh ini (Pdt. Wismoady dan Gus Dur), menjadi mesem guyu, karena tahu yang dimaksud adalah mahasiswa lintas agama yang berkumpul di pojok Unisma. Konon, belakangan ini, Gus Im-lah yang kemudian mendapat mandat untuk menemani bibit gerakan mahasiswa Malang tersebut, tegas Trianom. Radar Gus Dur mengusik Balewiyata dan potensi gerakan mahasiswa Malang dari pojok Unisma menjadi simpul kultural gerakan toleransi Kota Malang lebih terakomodasi. Menurut Trianom, bisa jadi peristiwa tersebut ada kaitannya dengan aksi FAMI (Front Aksi Mahasiswa Malang Indonesia).

Baca juga: Dari Ambon Menjadi Indonesia, Suara dari Kana Kopi

Jalinan Persaudaraan Sejati lintas agama sebagai pemantik ruh damai Balewiyata menjadi semangat zaman yang tepat waktu itu yang melahirkan FDB dalam aliran nasi goreng. Bukti FDB lahir dari perjumpaan yang disadari sebagai relasi harmonis lintas agama. Keprihatinan mahasiwa terhadap penyimpangan Orde Baru menjadi kesempatan berkumpul para mahasiswa lintas agama merajut kebersamaan mengurai situasi krisis atas munguatnya perpecahan dan benturan sosial. Pdt. Suwignya selalu memberi ruang pertemuan mereka untuk merancang kegiatan melalui rapat, rembugan, dan diakhiri dengan makan nasi goreng di Balewiyata. Waktu, itu, sela Trianom, keterlibatan pemuka agama masih dibilang dalam hitungan jari, namun kebersamaan itu mengundang simpati kalangan agamawan. Persaudaraan sejati menjadi praktik kultural yang mencairkan hubungan dalam merespon krisis sosial waktu itu.

SITI Merawat Toleransi (GKJW-Pesantren).

Awal Gus Dur hadir di Balewiyata semata sebagai pengajar Islamologi berbuah SITI. Atas permintaan Pdt. Sri Wismoady Wahono, Gus Dur menjadi Islamolog terpilih setelah KH. Abdul Azis di Balewiyata yang melengkapi spirit Persaudaraan Sejati sebagai basis kultural komunikasi kemanusiaan agama-agama. Komando Balewiyata paska Pdt. Wismoady diteruskan Pdt Bambang Ruseno yang merawat Persaudaraan Sejati menjadi terbuka dengan kegiatan sejumlah seminar dialog lintas agama. Gerakan lintas agama dan hadirnya tokoh muslim terpantik oleh adanya ruang Islamologi sebagai tidak hanya pengajaran, tetapi buah perjumpaan.

SIKI menjadi wadah resmi bagi dialog hidup mengalami merawat budaya toleransi yang mempertemukan sekumpulan jamaah Kristen Islam (Gereja Pesantren) dalam ruang terpelajar.

Berikutnya peran Pdt. Bambang Ruseno digantikan Pdt. Suwignyo yang terus bergerak melanjutkan semangat Persaudaraan Sejati. Pada era Pdt. Suwignyo, Balewiyata menyelenggarakan SITI (Studi Intensif tentang Islam), yang akhirnya berubah menjadi SIKI (Studi Intensif Kristen Islam) sebagai terminologi yang dianggap lebih sepadan dalam menempatkan agama keduanya dari semata sisi lain Islamologi. Saat merintis SIKI, Trianom dan beberapa koleganya menemani Pdt. Suwignyo roadshow ke sejumlah pesantren mulai dari Pasuruan, Probolinggo, Jember, sampai seputaran Jombang untuk tempat live in SIKI. Gus Najib dari pondok pesantren Shirotul Fuqoha, juga mendelegasikan para ustadz untuk belajar bersama. SIKI menjadi wadah resmi bagi dialog hidup mengalami merawat budaya toleransi yang mempertemukan sekumpulan jamaah Kristen Islam (Gereja Pesantren) dalam ruang terpelajar.

FKAUB, Geliat Mutakhir 

FDB terbentur dengan sebagian kebijakan pemimpin rohani setelah sering berkegiatan secara bergantian, ungkap salah satu aktifis pendamping kopi Koetjoer, Trianom S. Jalur kultural tetap berjalan. Ada yang juga terlibat menemani FDB termasuk Romo Eko Putranto dan Romo Eko Atmono. Bahkan FDB sudah mengarah pada model pelembagaan layaknya NGO. Sejumlah program pemberdayaan seperti pertanian organik pernah diselenggarakan di Tumpang atas dana dari Belanda. Nampaknya, FDB tidak berlanjut oleh karena sejumlah kegiatan yang tidak berkesinambungan dengan beberapa pimpinan. Namun demikian, jalur kultural tetap berjalan dan merespon surutnya FDB lalu muncul forum yang kemudian dikenal dengan FKAUB (Forum Komunitasi Antarumat Beragama) Kota Malang. FKAUB dideklarasikan lagi-lagi di Balewiyata.  Beberapa kalangan menyebut bahwa FKAUB menjadi model yang potensial yang kemudian diambil semangat tersebut oleh pemerintah. Muncullah FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dari pemerintah. FKAUB menjadi geliat terakhir dari proses kultural yang dipantik dari relasi Balewiyata, Unisma, bahkan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, yang sekarang adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Malang dengan demikian memiliki jejak (Jawa: petilasan) yang telah melahirkan model toleransi dari realitas perjumpaan GKJW dan Pesantren. Mereka muncul dari gerakan mahasiswa yang notabene memiliki kepedulian merespon friksi dan konflik sosial atasnama agama. Bahkan, Gus Dur menjadi tokoh yang menjangkari gerakan tersebut sebagai simbol yang akhirnya menjadikan Malang tidak bisa dilepaskan dari situs toleransi. Hingga hari ini, jejak itu masih terekam dengan baik di kisah-kisah Balewiyoto dan Unisma, termasuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Note: Tulisan ini dikembangkan dari hasil komunikasi melalui whatsapp dengan Trianom Suryandaru dan Muhamad Nurudin. Informasi dan data dapat berkembang sesuai respon publik dan pengembangan dari beberapa sumber. Perkembangan ini akan kami update secara berseri. Jika Bapak/Ibu/Saudara memiliki informasi, penulis akan mengembangkan untuk edisi berikutnya.