Pribumisasi Maulid; Konservasi Kearifan Lokal
Kampusdesa.or.id–Bagaimana kalau maulid dikembangkan sebagai strategi aksi membela tanah kelahiran. Spirit kelahiran tidak lain sebagai awal keberkahan dan kemaslahatan. Ketika babat desa dimulai, sebuah kelahiran pun dimulai. Di tempat tersebut kehidupan manusia mulai tumbuh dan berkembang. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah ingatan mengingat kelahiran nabi. Tetapi di Sekarbanjar Festival, maulid kenabian adalah spirit untuk menjaga tanah kelahiran dusun Genting sebagau teknik membangkitkan ingatan bahwa di dusun ini lahirkan seorang yang diyakini berjasa. Pribumisasi maulid menjadi tafsir lokalitas untuk mengingatkan warga bahwa dusun Genting adalah lokasi yang perlu dijaga sebagai kelangsungan hidup (sustainable life) yang lestari.
Inspirasi maulid dari Pos Genting
“Saya ini berpikir cukup lama. Dusun Genting yang sudah dikepung perumahan dengan penghuni para pendatang, atau orang dusun sini yang memilih tempat di perumahan Grand Alina, Al-Fath, serta berbagai branding al al laiinya, apa nantinya orang Genting ini akan tersingkir. Apalagi yang asli orang Genting hanya dalam lingkup empat RT. Diakui atau tidak, tingkat pendidikan penduduk asli Genting jelas akan kalah dengan para pendatang yang tinggal di perumahan,” tutur tokoh masyarakat di dusun ini.
Kami yang semula makan ketela pohon seperti tersedak. Bisu, diam, setengah kaget. Saya sendiri bergumam dalam hati, “orang ini kok aneh, orang kampung aneh. Kritis, memiliki kesadaran komunitas. Kalau orang kampusan wajar. Ini orang kampung tetapi memiliki ketajaman pandangan.” Saya hanya diam seribu bahasa.
Kami yang duduk di dekatnya, saling pandang. Seolah kami diajak berdiskusi melakukan perlawanan. Suara yang sedikit bernada prihatin muncul.
“Bagaimana nantinya pemimpin setingkat RW ini jika dipimpin para pendatang. Mereka tidak tahu sejarah babat tanah Genting. Genting tumbuh dengan penduduk yang memiliki seni dan budaya adiluhung. Barian, ritual tradisi, nyadran, Selo-an setiap tanggal 13 Selo. berbagai budaya tanah kelahiran mewariskan berbagai cara hidup berbudaya dan tradisi. Kekayaan ini menunjukkan budaya yang membentuk kehidupan Genting.” Keluh seorang tokoh di Genting.
“Melihat latar belakang pendidikan orang asli Genting, pastinya di suatu saat nanti, orang-orang Genting tidak lagi akan menjadi pemimpin. Di saat para pendatang mulai menjadi bagian dari warga, mereka tidak berjejak pada nilai-nilai kelahiran Genting. Apalagi evolusi perumahan dan ideologisasi agama eksklusif akan berdampak pada perbenturan budaya. Sedangkan orang-orang Genting memiliki garis kelahiran yang kuat dengan alam (seperti Sumber Serut yang identik dengan sesepuh kelahiran Genting, mbah Serut), Mbah Arti (sesepuh yang selalu menjadi bagian dari ngalap berkah) saat warga Genting memiliki hajat.” Upacara tradisi buak iber-iber sebagai bagian dari tradisi berdoa mendapatkan keselamatan sebelum punya hajat.” Sambung refleksi kritis tokoh Genting sembari meneguh secangkir kopi.
“Contohnya Sumber Serut, kalau perumahan yang dibangun di sini menggerus sumber, jelas sumberdaya air sebagai milik dan sumber kehidupan orang Genting bisa punah.”
Sembari memegang cangkir kopi, Ki Aji lantas menaikkan suaranya dan berujar, “contohnya Sumber Serut, kalau perumahan yang dibangun di sini menggerus sumber, jelas sumberdaya air sebagai milik dan sumber kehidupan orang Genting bisa punah. Padahal, Sumber Serut ini bagian dari kekuatan hidup sejak dulu masyarakat Genting. Pun demikian dengan menghormati leluhur (nenek moyang) yang didanyangan Genting seperti mbah Serut dan Mbok Arti, pasti tidak menjadi kebanggaan bagi para pendatang. Apalagi jikalau mereka menganggap bid’ah praktik menghormati para leluhur Genting tersebut,” sruput suara tegukan kopi Ki Aji.
Sekarbanjar; etnografi pribumisasi maulid
Gus Fat langsung menyahut, “begini saja Ki Aji, maulid Nabi Muhammad SAW kita jadikan saja sebagai bagian dari cara guyub masyarakat Genting untuk menyadari arti penting perjuangan leluhur dan menguatkan kesadaran konservasi sumberdaya alam dan tradisi yang sudah diwariskan para leluhur.”
Sontak sejumlah orang yang duduk terdiam.
“Gus Fat ini sudah gila ya. Masak maulid Nabi dibawa seperti itu. Syirik bro. Apa kata Kyai dan NU pada kita, Lesbumi.” Tegas Mbak Sindu bernada marah mendengar Gus Fat berseloroh ngawur.
“Ketika kelahiran Genting menjadi spirit hidup, bagaimana peringatan maulid Nabi Muhammad SAW juga dapat didialogkan dengan perjumpaan kelahiran masyarakat setempat”
“Loh, maulid itu kan memperingati kelahiran nabi. Biar tidak a-historis dengan kehidupan masyarakat Genting, apa salahnya kita mencoba mengenali keutamaan Genting dengan mengungkap sejarah kelahiran Genting, prasasti yang ada, budaya yang lahir dari Genting. Ketika kelahiran Genting menjadi spirit hidup, bagaimana peringatan maulid Nabi Muhammad SAW juga dapat didialogkan dengan perjumpaan kelahiran masyarakat setempat sehingga mendapat nilai setara. Cara ini seperti Walisongo berdakwah kan.” Gus Fat berusaha meyakinkan kepada audiens ngopi di sudut pos Genting.
“Berarti Sekarbanjar merupakan media menyetarakan semangat kelahiran (asal-usul) Genting dengan semangat kelahiran Nabi Muhammad SAW .” Sahut secepat kilat Mbah Sindu menimpali pernyataan Gus Fat.
“Betul mbah Sindu. Lesbumi itu fleksibel. Kita masuk di ranah konservasi kebudayaan lokal saja. Malah Walisongo kita jadikan sanda perjuangan. Oleh karena itu di Sekarbanjar, kita akan mengangkat Sumber Serut sebagai warisan budaya, pedayangan kita hormati sebagai bagian dari jasa lelulur, prasasti Genting kita angkat sebagai sejarah hidup orang Genting, pameran pusaka, diskusi bertema Genting dan nampak tilas kelahiran dusun. Upacara tradisi yang ada kita angkat sebagai laku semangat menjaga mental dan spiritualitas. Di titik ini, dialog kenabian kita tempatkan dengan semangat berbudaya. Ujungnya selain kenal Nabi Muhammad, mereka juga bisa memahami bahwa kelahiran Nabi Muhammad juga bagian dari menghargai leluhur yang melahirkan jiwa hidup di masyarakat sekitar. Insya Allah, kita berharap Gusti Allah merdihoi jalan Lesbumi.” Gedog palu Gus Fat memecah kesunyian malam di Pos Genting.
Semua pengurus Lesbumi yang hadir terdiam, Ki Aji sebagai Ketua RW mewakili tokoh masyarakat merasa punya inovasi setelah jenuh melihat peringatan Maulid Nabi yang begitu-begitu saja hatinya terbakar dan manggut-manggut seolah mengamini konsep Sekarbanjar. Mari hadir merawat Kearifan Lokal dengan semangat pribumisasi Maulid Nabi pada tanggal 6 sampai dengan 8 Oktober2023 di dusun Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang.
Pewarta: Ma’shum Jauhari
NU Platform Moderat, Tasyakuran FKAUB Kota Malang
Kampusdesa.or.id–Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) merayakan hari jadinya yang ke-25 dalam sebuah acara tasyakuran yang meriah. Perayaan ini berlangsung pada Rabu, 20 September 2023, di Aula PCNU Kota Malang mulai pukul 19:00 sampai dengan 21:30 WIB. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan pemuka masyarakat dari berbagai latar belakang.
Eko Atmono, Koordinator FKAUB, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya perayaan ini. “Kita sudah ke-25 tahun, hendak kemana, mau kemana, kita lempar orang, atau sudah selesai,” tegasnya. Tasyakuran ini juga menjadi momen untuk mengenang kelahiran FKAUB yang terjadi pada 20 September 1998, yang diprakarsai oleh PCNU Kota Malang.
NU Terbuka Kerjasama Lintas Agama
Faisol Fatawi, Sekretaris PCNU Kota Malang, juga menekankan komitmen PCNU dalam menjaga tawasuth (moderasi) dan tawazun (keseimbangan) dalam beragama. Faisol menegaskan, “falsafah negara Pancasila tetap menjadi landasan bagi NU. Maka jangan khawatir kalau dekat dengan NU, maka NU selalu terbuka untuk menjalin kerjasama sosial. Semua dapat kita kembangkan sebagai bagian dari tanggungjawab bersama,” Sekretaris PCNU Kota Malang, menyatakan, “moderasi beragama menjadi, pandangan ahlussunnah waljamaah yang menjadi bagian dari usaha mewujudkan kebangsaan.
Jangan khawatir kalau dekat dengan NU, maka NU selalu terbuka untuk menjalin kerjasama sosial.
FKAUB juga menekankan pentingnya perbedaan dalam kebersamaan. “Kita berbeda untuk bersama. Bersama untuk berbeda. Inilah modal bagi NU untuk tetap mengembangkan nilai-nilai moderat dan toleransi, menguatkan rasa saling percaya, menguatkan komitmen, untuk berjejaring yang apik bekerjasama ke depan,” ungkap Eko.
Napak Tilas Di PCNU Kota Malang sebagai Rahim FKAUB
Pendeta Krista, yang dikenal sebagai salah satu tokoh awal pendiri FKAUB, memberi sambutan dalam acara tersebut. Dia menegaskan bahwa ibadah agama lain bukanlah musuh, tetapi sahabat. Sebagai contoh, beliau mengingatkan peristiwa forum doa bersama antar pemuda lintas agama yang diadakan di Malang.
Waktu itu, sejak Juni hingga September, para aktifitis lintas agama berkumpul di PCNU sebagai untuk diskusi menuju deklarasi FKAUB. Puncaknya, deklarasi ini diumumkan di Balaiwiyata, pada 20 Septermber 1998, menjadi babak baru dalam perjalanan FKAUB. Krista menyampaikan setelah deklarasi tempo itu, kegiatan FKAUB berkunjung ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Bahkan sampai ke PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Waktu itu ada kegiatan memperkuat kerjasama lintas agama. Pengurus FKAUB bertemu Kyai Fawaid membawa pesan persaudaraan dan dialog antar-santri dari berbagai latar belakang agama. Sejak saat itu, dialog lintas agama dapat menjadi bagian dari khazanah aksi FKAUB.
PCNU Kota Malang adalah tempat bagi rahim FKAUB. Sebuah tempat menggodok kesiapan peluncuruan FKAUB di tahun 1998. Menurut Eko Atmono, serasa pulang kampung di PCNU.
Tasyakuran dilakukan di kantor PCNU Kota Malang dianggap sebagai aksi napak tilas, bahwa PCNU Kota Malang adalah tempat bagi rahim FKAUB. Sebuah tempat menggodok kesiapan peluncuruan FKAUB di tahun 1998. Menurut Eko Atmono, serasa pulang kampung di PCNU.
Acara tasyakuran FKAUB ini ditutup dengan kata-kata harapan dari Asif Budairi, Wakil Ketua PCNU Kota Malang. “kami (FKAUB) ada di hati kalian para pecinta perdamaian.” Kenyataan ini mencerminkan semangat perdamaian dan kerukunan yang selalu dijunjung tinggi oleh FKAUB dan NU. Perayaan ini menegaskan kembali komitmen FKAUB dalam mempromosikan toleransi, dialog antarumat beragama, dan kerukunan sebagai bagian integral dari keberagaman Indonesia (M2).


