Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 3

SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

KampusDesa.or.id–Malang, 8 Juli2025. Setelah melaksanakan observasi awal terhadap aset terbengkalai berupa SDN 03 Gadingkulon, tim pengabdian masyarakat Qoryah Toyyibah UIN Malang melanjutkan kegiatan dengan pemetaan potensi desa. Program ini dilaksanakan di Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA UIN Maliki Malang melalui agenda DEMA Mengabdi.

Kegiatan pemetaan berlangsung selama 8 hari penuh, mulai 30 Juni hingga 7 Juli 2025, dengan melibatkan 10 orang relawan mahasiswa. Seluruh tim menetap langsung di bangunan SDN 03 Gadingkulon, yang kini sudah tidak beroperasi sejak ditutup tahun 2021. Kehadiran mahasiswa selama sepekan lebih ini memungkinkan mereka untuk berinteraksi intensif dengan warga, mengidentifikasi persoalan, sekaligus menggali potensi lokal yang bisa dikembangkan.

Desa Jeruk dengan Dinamika Sosial yang Khas

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa mayoritas warga Dusun Sempu adalah petani jeruk. Varietas yang banyak ditanam meliputi jeruk siam, keprok, peras, hingga lemon. Sistem pupuk yang digunakan dominan berbasis kimia dengan tambahan rabuk dari kotoran sapi dan sekam. Namun, dinamika harga jeruk seringkali membuat petani rugi. Saat panen raya dengan permintaan rendah, harga bahkan bisa jatuh hingga Rp2.000/kg, membuat sebagian hasil panen dibiarkan membusuk di pohon.

Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

Potensi pascapanen sebenarnya sudah beberapa kali disentuh melalui pelatihan olahan jeruk, seperti keripik jeruk. Namun, inovasi itu tidak berlanjut karena dirasa rumit dan kurang diminati. Mayoritas ibu rumah tangga di dusun ini juga terlibat membantu di kebun, sementara anak-anak lebih banyak memilih sekolah swasta, khususnya MI Wahid Hasyim 2. Kondisi ini turut menjadi faktor tutupnya SDN 03 Gadingkulon karena minim murid.

Tim mahasiswa Dema Mengabdi, yang merupakan kolaborator Qoryah Toyyibah sedang berbincang dengan Ketua RT

Potret Kehidupan Sosial dan Keagamaan

Dusun Sempu memiliki kehidupan sosial yang harmonis. Tradisi tahlilan keliling setiap malam Jumat masih terjaga, demikian pula tasyakuran tahunan di tiga lokasi punden yang diyakini sebagai sumber air utama warga. Kegiatan masjid juga rutin, seperti pengajian kitab Riyadhus Shalihin dan istighosah setiap Jumat malam.

Keberagaman tetap hadir dengan sebagian kecil pemeluk Kristen dan Buddha. Masyarakat cenderung terbuka terhadap kegiatan pendatang, meski sempat ada trauma akibat kasus terorisme beberapa tahun lalu.

Meski mayoritas Muslim, keberagaman tetap hadir dengan sebagian kecil pemeluk Kristen dan Buddha. Masyarakat cenderung terbuka terhadap kegiatan pendatang, meski sempat ada trauma akibat kasus terorisme beberapa tahun lalu. Kini, kepercayaan mulai pulih dan interaksi lebih cair.

Pemetaan Lapangan: Dari Rembuk Warga hingga Aksi Bersih Sekolah

Selama delapan hari, tim pengabdian tidak hanya melakukan wawancara dan observasi, tetapi juga tinggal bersama warga, rembuk desa, hingga aksi nyata membersihkan sekolah terbengkalai. Diskusi intensif dilakukan dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga pengurus RT untuk menggali aspirasi warga terkait pemanfaatan gedung sekolah.

“Kami berusaha menangkap kebutuhan nyata warga. Rata-rata mereka berharap ada program yang tidak hanya seremonial, tapi berkelanjutan dan bisa memberi dampak ekonomi,” ungkap Menyingari Alfianoor Ibrahim, salah satu anggota tim.

Para aktifis DEMA U UIN Maliki Malang, membahas rintisan merawat SDN Gadingkulon

Pak RT juga menympaikan bahawa harapannya sekolah tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bukan hanya oleh warga saja, namun apabila ada kegiatan yang mengarah pada Pendidikan, kami sangat terbuka sekali untuk adanya hal tersebut.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa DEMA UIN Malang melalui program DEMA Mengabdi memperkuat kolaborasi. Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA turut berperan dalam menyusun agenda bersama, sehingga program tidak berjalan sendiri, melainkan sinergis antara akademisi dan organisasi mahasiswa kampus.

Harapan Baru dari Aset Lama

Bangunan SDN 03 Gadingkulon kini memang sudah tidak berfungsi sebagai sekolah formal. Namun, gedung ini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan bimbingan belajar gratis oleh komunitas Pesona anak bangsa  yang dinisiasi oleh Ibrahim serta ruang bermain anak-anak. Dengan adanya pemetaan potensi, gedung tersebut berpeluang diperluas fungsinya menjadi pusat kegiatan berbasis pendidikan, pemberdayaan, maupun sosial kemasyarakatan.

“Warga terbuka terhadap gagasan kami. Asal kegiatan berbasis pendidikan dan tidak mengganggu, mereka siap mendukung. Itu yang membuat kami optimis,” jelas Fiqhan  koordinator lapangan tim pengabdian.

Menuju Program Berkelanjutan

Pemetaan ini menjadi fondasi untuk tahap lanjutan, yakni merancang program pengabdian yang sesuai kebutuhan. Beberapa potensi yang mulai dirancang antara lain: penguatan literasi anak-anak desa, pelatihan ekonomi kreatif berbasis jeruk, serta revitalisasi fungsi sosial gedung sekolah.

Dusun Sempu bisa menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar sekaligus berkontribusi nyata.

“Harapan kami, Dusun Sempu bisa menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar sekaligus berkontribusi nyata. Tidak berhenti pada observasi, tapi terus berkembang menjadi program yang memberi manfaat jangka panjang,” tutup Alfin Mustikawan.

Dengan selesainya tahapan observasi dan pemetaan, kolaborasi antara Tim Qoryah Toyyibah dan DEMA UIN Malang membuka jalan bagi lahirnya inovasi pengabdian berbasis desa. SDN 03 Gadingkulon yang lama terbengkalai kini diharapkan menjadi pusat kehidupan baru, simbol kebangkitan aset publik, dan ruang kolaborasi antara kampus dengan masyarakat.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Sekolah dan Desa di era Antroposen

Kampusdesa.or.id–Ini bukan lagi tentang esok, tapi ini adalah realitas dan bukan lagi soal anak cucu, tapi napas kita sendiri. Tentu kita semua merasakan bahwa akhir-akhir ini hujan yang makin tak menentu, terik matahari yang kian menyengat, kota Malang yang dulu dingin karena dikelilingi pegunungan sekarang sudah menghangat bahkan panas. Antroposen, begitulah para pakar memberi nama situasi dan kondisi yang terjadi hari ini. Sebuah era di mana kerusakan bumi bukan lagi ulah alam, melainkan jejak nyata tangan kita. Kita telah menjadi kekuatan geologis baru, pengubah wajah planet ini, dan sayangnya, bukan ke arah yang lebih baik.

Lalu, di tengah semua ini, di antara kepungan masalah yang terasa begitu besar dan jauh, kita sering bertanya, “Dari mana kita harus memulai?” Apakah harus menunggu undang-undang baru yang rumit lahir dari gedung-gedung tinggi, di tengah perdebatan panjang para birokrat? Ataukah kita mesti menanti hasil riset terbaru yang dibahas di meja-meja bundar seminar internasional yang mewah, di mana kata-kata indah seringkali tak berbuah aksi nyata?

Tidakkah kita merasa ada sesuatu yang lebih mendasar, lebih jujur, yang berbisik dalam hati kita? Jawaban itu, yang selama ini mungkin kita cari di tempat-tempat jauh, ternyata ada di sini, dekat sekali. Ia ada di senyum polos anak-anak kita yang belajar mengeja huruf di bangku-bangku sekolah sederhana, di tangan-tangan perkasa para petani yang setiap hari menggenggam tanah dan merasakan denyut kehidupan. Di sanalah, di kesederhanaan sekolah dan ketulusan desa, benih kesadaran itu bisa kita tanam, kita sirami, dan kita saksikan tumbuh menjadi hutan aksi nyata. Sebab, jika bukan dari akar rumput, dari mana lagi perubahan sejati akan bermula?

Baca juga: Generasi Indonesia atau Generasi Setengah Indonesia

Masa depan bumi ini bukan lagi ada di tangan para pemimpin besar saja, melainkan di setiap langkah kecil kita, di setiap sudut kampung halaman, di setiap kelas yang mengajarkan arti sebuah kepedulian. Seperti yang pernah diampaikan Bung Hatta Proklamator kita, Indonesia tidak akan bisa bersinar terang karena mercusuar yang ada di Jakarta, tapi karena cahaya lilin-lilin di desa-desa.

Indonesia tidak akan bisa bersinar terang karena mercusuar yang ada di Jakarta, tapi karena cahaya lilin-lilin di desa-desa

Sekolah, Harapan Masa Depan

Pernahkah kita berhenti sejenak dan benar-benar melihat sekolah? Bukan hanya gedung, bukan hanya barisan meja dan kursi. Sekolah adalah rahim tempat tunas-tunas masa depan kita dibentuk. Di sanalah, setiap pagi, mata-mata mungil itu berbinar, siap menyerap apa pun yang kita ajarkan. Jika kita bicara tentang menyelamatkan bumi dari cengkeraman Antroposen, dari mana lagi kita harus mulai menanamkan kesadaran selain di tempat paling awal dan paling suci: bangku-bangku sekolah? Anak-anak kita, mereka bukan hanya sekadar murid; mereka adalah pewaris tunggal bumi ini, arsitek peradaban yang akan datang. Kita harus pupuk kesadaran itu dalam jiwa mereka, tidak hanya agar lestari hari ini, tapi juga berbuah manis hingga berpuluh-puluh tahun ke depan.

Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan pendidikan jika kita menggunakannya untuk menumbuhkan kepedulian yang tulus. Bukan sekadar hafalan teori tentang ekosistem, tapi pengalaman nyata yang menggugah jiwa. Pelajaran sains bisa membuka mata mereka pada fakta-fakta mengerikan: gunung es yang mencair, hutan yang merana, spesies yang punah. Sementara itu, pelajaran etika atau budi pekerti akan melunakkan hati mereka, menanamkan rasa hormat yang mendalam pada setiap bentuk kehidupan. Dari kisah-kisah luhur berbagai budaya, entah itu tentang kearifan menjaga hutan, sungai yang disucikan, atau hewan yang dihormati, kita bisa tunjukkan bahwa menghargai alam bukanlah sekadar tugas, melainkan bagian dari kemanusiaan kita yang paling dalam. Sekolah bisa menjadi panggung di mana inspirasi semacam itu tak hanya dibaca, tapi juga dihidupi dan diwujudkan.

Dari kisah-kisah luhur berbagai budaya, entah itu tentang kearifan menjaga hutan, sungai yang disucikan, atau hewan yang dihormati, kita bisa tunjukkan bahwa menghargai alam bukanlah sekadar tugas, melainkan bagian dari kemanusiaan kita yang paling dalam.

Lebih dari sekadar tempat belajar, sekolah harus menjelma menjadi laboratorium hidup untuk keberlanjutan. Di sanalah, teori berubah dan diterjemahkan menjadi praktik, janji menjadi aksi. anak-anak dengan riang memilah sampah, bukan karena dipaksa, tapi karena mereka mengerti bahwa sisa makanan mereka akan menjadi nutrisi bagi kebun sekolah yang subur. Botol-botol plastik bekas tidak lagi berakhir di tempat sampah, melainkan di tangan-tangan kreatif mereka, disulap menjadi kerajinan yang indah. Setiap lampu yang dimatikan saat tidak diperlukan, setiap keran air yang ditutup rapat, adalah pelajaran tak ternilai yang tertanam dalam kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, yang terangkai dari ribuan siswa di seluruh penjuru negeri, akan menjadi gelombang perubahan yang tak terbendung.

Baca juga: Perempuan dan Kerja Toleransi

Namun, semua ini adalah mimpi belaka tanpa peran seorang guru. Guru adalah jantung dari setiap perubahan. Mereka bukan hanya pengajar yang menyampaikan materi, tetapi juga teladan hidup yang menginspirasi. Jika seorang guru menunjukkan kepedulian tulus pada sehelai daun atau setetes air, murid akan meniru. Lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan hemat energi bukanlah sekadar fasilitas, melainkan cerminan peradaban yang kita impikan peradaban yang harmonis dengan alam.

Desa Nafas Kehidupan

Jika sekolah adalah tempat kita menanam benih harapan, maka desa adalah ladang luas yang menguji apakah benih itu benar-benar bisa tumbuh dan berbuah. Di sanalah, di kampung-kampung yang seringkali luput dari perhatian gemerlap kota, kita merasakan langsung betapa rapuhnya keseimbangan alam. Pikirkanlah sejenak: ketika hujan tak lagi turun sesuai musimnya, siapa yang pertama kali merasakan kekeringan pahit di sumur-sumur? Ketika sungai meluap tanpa ampun, siapa yang kehilangan rumah dan mata pencarian? Atau saat tanah longsor menelan pekarangan, siapa yang kehilangan pijakan? Desa-desa kita, sayangnya, seringkali menjadi garda terdepan yang paling perih merasakan akibat dari Antroposen ini. Namun, di balik kepedihan itu, desa menyimpan harta karun yang luar biasa yaitu kearifan dan kekuatan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

Di relung-relung desa, masih banyak “bisikan” leluhur yang tak lekang dimakan zaman. Ada tradisi yang mengajarkan kita untuk bersyukur atas setiap bulir padi, setiap tetes air, dan menjaga kesuburan tanah seolah itu adalah titipan paling berharga. Ada pula kebiasaan untuk tidak sembarangan menebang pohon atau mencemari sumber air, bukan karena takhayul, tapi karena pemahaman mendalam akan pentingnya harmoni dengan alam demi kelangsungan hidup bersama. Ini adalah panduan hidup yang abadi, melampaui sekat keyakinan atau zaman. Sudah saatnya kita tidak hanya mengenangnya, tetapi menghidupkan kembali kearifan ini, menjadikannya lentera di tengah kegelapan krisis modern.

Ada pula kebiasaan untuk tidak sembarangan menebang pohon atau mencemari sumber air, bukan karena takhayul, tapi karena pemahaman mendalam akan pentingnya harmoni dengan alam demi kelangsungan hidup bersama.

Bagaimana desa bisa menjadi cahaya harapan? Dimulai dari sesuatu yang mungkin terlihat sepele remeh temeh yaitu sampah. Bayangkan jika setiap rumah tangga di desa mulai memilah sampahnya, bukan lagi dibakar atau dibuang sembarangan. Sampah yang tadinya musuh, bisa berubah menjadi rupiah yang mengalir ke kas desa atau saku warga. Sisa makanan bisa diubah menjadi pupuk kompos subur untuk kebun sayur kita. Lingkungan bersih, ekonomi berputar, bukankah itu keberkahan yang nyata bagi semua, tanpa memandang siapa pun kita?

Lalu, lihatlah tanah kita, sumber kehidupan kita. Dulu, mungkin kita tergiur memakai pupuk kimia yang cepat, tapi perlahan membunuh kesuburan tanah. Sekarang, saatnya kita kembali ke pertanian yang bersahabat dengan bumi, dengan pupuk kompos dari sampah dapur kita sendiri, biarkan tanah bernafas, berikan nutrisi alami. Hasilnya? Pangan yang lebih sehat, tanah yang lestari, dan bahkan peluang pasar baru untuk produk “organik” yang diminati. Ini bukan hanya tentang panen, ini tentang kedaulatan pangan dan kesehatan seluruh keluarga kita di desa.

Sinergi Tiada Henti Sekolah dan Desa

Sekolah dan desa bukanlah dua dunia yang terpisah. Mereka adalah denyut nadi yang sama, saling membutuhkan, saling melengkapi. Bayangkan sebuah pemandangan indah: anak-anak sekolah, dengan mata berbinar dan semangat membara, membawa pulang ilmu tentang merawat bumi ke desa mereka. Mereka mengajak bersama semua orang tua cara mengolah sampah jadi pupuk, menyapa tetangga untuk menanam bibit, atau bahkan menjadi duta kecil yang mengingatkan untuk mengurangi plastik. Di saat yang sama, kearifan nenek moyang di desa, tentang bagaimana menghormati tanah dan air, akan mengalir kembali ke sekolah, menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari sekadar teori di buku. Ini bukan lagi soal “mereka” dan “kita”, tapi tentang “kita semua”, sebuah orkestra harmonis yang bersinergi demi satu tujuan: merawat rumah kita bersama.

Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

KampusDesa.or.id–Malang, 18 Mei 2025 – Tim pengabdian masyarakat Qoryah Toyyibah UIN Malang yang terdiri dari Moh Mahpur, Sugeng Listyo P, Alfin Mustikawan, Fiqhan Khoirul Álim, dan Menyingari Alfianoor Ibrahim melakukan observasi awal di Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Observasi ini menjadi langkah pertama dalam rangkaian program pengabdian untuk mengoptimalkan aset publik yang selama ini terbengkalai.

Baca juga: Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI

Salah satu temuan penting adalah kondisi SDN 03 Gadingkulon, sebuah lembaga pendidikan yang resmi ditutup sejak tahun 2021 karena tidak lagi memiliki murid. Sejak saat itu, bangunan sekolah yang dulunyamenjadi pusat pendidikan dasar masyarakat setempat, kini terbengkalai tanpa pemanfaatan yang jelas.

Diskusi memetakan penggunaan aset komunitas untuk kemanfaatan bersama

Tim Qoryah Toyyibah menilai bahwa aset tersebut masih memiliki potensi besar. Dari hasil pengamatan di lapangan, lokasi sekolah cukup strategis dan memiliki nilai yang dapat dikembangkan kembali untuk kepentingan masyarakat. Selain bangunan fisik yang masih berdiri kokoh, lingkungan sekitar juga mendukung untuk dijadikan pusat kegiatan baru, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan ekonomi.

Jadikan Aset Komunitas

“Kami melihat bahwa aset yang terbengkalai ini sayang jika dibiarkan begitu saja. Melalui program pengabdian ini, kami ingin menghadirkan gagasan baru agar bangunan sekolah bisa kembali hidup dan bermanfaat bagi masyarakat Dusun Sempu,” jelas Pak Mahpur sebagai ketua tim pengabdian.

Observasi ini menjadi pijakan awal untuk merumuskan arah program selanjutnya. Tim akan melakukan pemetaan potensi, diskusi dengan masyarakat, serta penyusunan model pemanfaatan aset agar keberadaannya mampu mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.

Dengan langkah awal ini, diharapkan SDN 03 Gadingkulon tidak lagi sekadar menjadi bangunan kosong, melainkan bertransformasi menjadi pusat aktivitas produktif yang menghadirkan nilai bagi masyarakat sekitar.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI

Kampusdesa.or.id–Magang di Kampus Desa Indonesia bagi kami selaku mahasiswa STIE Malangkucecwara, merupakan sebuah pengalaman yang mengesankan. Para mentor dari Kampus Desa Indonesia mendapingi kami dengan baik dan ramah. Situasi tersebut menciptakan kenyamanan bagi kami untuk melakukan aktivitas magang di Kampus Desa Indonesia. Kami belajar banyak hal, seperti cara memasarkan produk khususnya di Digital Marketing, sesuai dengan jurusan dan peminatan kami di kampus.

Kegiatan magang yang kita lakukan di Kampus Desa Indonesia seperti pengenalan produk, konten produk, dan proses pemasaran secara digital. Dari kegiatan tersebut memberikan pengalaman bagi kami bahwa kerja sama tim adalah hal yang sangat penting. Kita saling membantu satu sama lain untuk menciptakan kreatifitas dalam mempromosikan produk. Dengan demikian kami punya kemampuan mengenalkan produk yang disukai oleh konsumen.

Analisis Pasar dan Ngonten untuk Pemasaran

Selain itu, selama magang di Kampus Desa Indonesia, kami juga belajar bagaimana menganalisis pasar dan memahami kebutuhan konsumen agar strategi pemasaran yang kami terapkan lebih efektif. Kami langsung mengelola akun media sosial, merancang strategi konten, dan mengoptimalkan iklan digital agar produk yang kami pasarkan menjangkau lebih banyak orang.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Tidak hanya itu, interaksi dengan para pelaku UMKM di Kampus Desa Indonesia juga membuka wawasan kami tentang tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan usaha. Kami menerapkan teori yang dipelajari di perkuliahan untuk memberikan solusi, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi dan negosiasi dalam dunia bisnis.

Take video. Suasana pengambilan konten di arena kampus STIE Malangkucecwara

Pengalaman ini menjadi momen berharga yang memperkaya wawasan dan membangun kepercayaan diri kami dalam menghadapi dunia kerja nyata. Melalui magang di Kampus Desa Indonesia, kami tidak hanya memahami praktik pemasaran digital, tetapi juga menyadari pentingnya strategi yang tepat. Lebih dari itu, kami merasakan betapa kerja sama tim, inovasi, dan semangat untuk terus belajar menjadi kunci keberhasilan. Semua itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Pengalaman ini sangat berharga bagi kami. Tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membangun rasa percaya diri dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

Social Media Analyst

Sebagai social media analyst, kami belajar cara menganalisis performa konten memakai berbagai tools digital. Pada dasarnya kami sudah mempelajarinya di perkuliahan, sehingga kami bisa mengimplementasikan di magang Lembaga Kampus Desa Indonesia. Kami mulai paham bagaimana cara membaca data, mengukur engagement, dan menentukan strategi konten yang lebih efektif berdasarkan insight dari audiens. Ternyata, dunia media sosial tidak hanya soal membuat postingan keren, tapi juga butuh analisis supaya konten yang telah kita buat bisa maksimal.

Baca juga: Tuntas; Tiga Puluh Pemuda Desa Dilatih Bermental Wirausaha

Kami memilih fokus pada media sosial TikTok karena platform ini sangat digemari oleh Gen-Z dan lintas generasi lainnya. Popularitas TikTok memberikan kemudahan bagi kami untuk memahami strategi promosi yang relevan dan kekinian. Melalui konten yang kreatif dan fitur jual beli yang tersedia, kami mampu menarik pelanggan baru secara lebih efektif. TikTok bukan hanya media hiburan, tetapi juga ruang strategis untuk membangun koneksi pasar dan memperluas jangkauan produk secara dinamis.

Menuai Pengalaman Berharga

Sebulan magang di Kampus Desa Indonesia tidak hanya ngajarin soal digital marketing dan social media analysist, tapi juga melatih skill komunikasi, teamwork, dan problem-solving. Pengalaman ini membuka wawasan kami tentang industri fashion muslim dan bagaimana digital marketing berperan penting dalam keberhasilan suatu brand. Kami merasa lebih siap untuk terjun ke dunia profesional setelah pengalaman magang ini.

Kami belajar bagaimana mengelola media sosial, menganalisis pasar, serta menciptakan strategi pemasaran yang efektif berdasarkan data dan tren yang ada.

Jadi magang di Kampus Desa Indonesia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga bagi kami, baik dari segi ilmu pemasaran digital maupun pengembangan keterampilan profesional. Kami belajar bagaimana mengelola media sosial, menganalisis pasar, serta menciptakan strategi pemasaran yang efektif berdasarkan data dan tren yang ada. Selain itu, kami juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM dan memahami tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan bisnis mereka.

Lebih Siap Kerja

Secara keseluruhan, magang ini membuat kami merasa lebih siap untuk terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Kami semakin memahami bahwa keberhasilan dalam pemasaran digital tidak hanya bergantung pada strategi yang tepat, tetapi juga kerja sama tim, inovasi, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri. Magang di Kampus Desa Indonesia benar-benar menjadi pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi kami.

Kami mahasiswa STIE Malangkucecwara mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada Kampus Desa Indonesia yang telah memberikan kami kesempatan untuk bekerja sama dan berkembang bersama di Kampus Desa Indonesia, dan kita juga berterimakasih kepada mentor mentor yang telah membimbing kita selama satu bulan ini. Semoga ilmu yang telah kita dapat selama magang di Kampus Desa Indonesia ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Kampus Desa Indonesia juga dapat berkembang lebih baik dan lebih luas dan dapat berbagi ilmu kepada semua orang (Afiffa Nadine, dkk).

Perempuan dan Kerja Toleransi

Kampusdesa.or.id–Melalui semangat toleransi agama dan solidaritas antarumat, bersama para umat lintas agama dan kepercayaan, ada kegiatan semarak di Hotel Mirabell, Kepanjen, Kabupaten Malang yang membincang bagaimana “Peran Penting Perempuan dalam Menjaga Toleransi dan Keberagaman” (Selasa, 13 Mei 2025). Kegiatan ini mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuka komunitas, aktivis lintas iman, hingga akademisi yang memiliki perhatian mendorong cipta perdamaian yang penuh toleran.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Beberapa penampilan budaya mengawali kegiatan tersebut yang mencerminkan semangat keberagaman. Tampil para penari tradisional dari Himpunan Pemuda Hindu Indonesia dan lagu “Bunda” dari perwakilan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Penampilan ini menjadi simbol harmoni antar keyakinan dan nilai kasih universal yang memperkuat posisi perempuan dalam kehidupan berbangsa.

Peran Perempuan untuk Toleransi

Ikhsan, perwakilan Gusdurian Kanjuruhan, Kabupaten Malang membuka sesi diskusi dengan menekankan bahwa perempuan adalah tiang bangsa. “Perempuan memiliki peran besar dalam menjaga toleransi dan keberagaman. Namun, ini bukan hanya tugas perempuan, tetapi tanggung jawab bersama sebagai warga negara Indonesia,” ucapnya.

Perempuan adalah sumber ajaran utama dalam keluarga. Ia tidak boleh mengajarkan kekerasan, melainkan harus menanamkan nilai-nilai kedamaian.

Dari perspektif Hindu, Istiana, Ketua PHDI Kabupaten Malang, mengingatkan sebenarnya perempuan disebut Stri dalam ajaran Hindu. Dia adalah perwujudan sakti atau kesaktian. “Perempuan dengan demikian merupakan sumber ajaran utama dalam keluarga. Ia tidak boleh mengajarkan kekerasan, melainkan harus menanamkan nilai-nilai kedamaian. Karena itu, perempuan wajib dihormati oleh seluruh anggota keluarga,” tuturnya.

Baca juga: Haul Ke-15 Gus Dur di Pesantren Rakyat Al-Amin: Lahirkan Petisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Tamariska Fendy Putri, Pendeta GKJW Sumberpucung sekaligus Ketua Pemuda MD 1, menyoroti peran perempuan sebagai pendidik toleransi sejak dini. “Perempuan adalah role model utama dalam keluarga dan masyarakat. Meski menghadapi beban kerja ganda dan realitas sosial yang penuh tantangan, perempuan harus tetap menjadi agen yang menyuarakan perdamaian dan menolak narasi kebencian,” jelasnya.

Rekomendasi Aksi Toleransi Kabupaten Malang

Dari ranah akademik, Mohammad Mahpur, mewakili sebagai dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, memaparkan hasil kajiannya bahwa narasi damai seperti empati, silaturahmi, dan toleransi masih bertahan dalam kehidupan anak muda. “Namun, hanya sekitar 20% yang secara sadar menjadikan toleransi sebagai nilai utama. Cara efektif untuk menumbuhkan kesadaran ini adalah dengan menghadapkan generasi muda langsung pada realitas keberagaman agar mereka belajar menghargai perbedaan,” terangnya.

Menutup sesi, Hikmah Bafaqih, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, menyampaikan bahwa toleransi harus tumbuh dari cara berpikir yang adil. “Rasa cinta dan kasih sayang adalah bahasa yang dapat menjadi spirit komunikasi mencari jalan keluar menghadapi masalah secara bersama-sama.” Pemerintah, khususnya DPRD Provinsi, berkewajiban memfasilitasi ruang-ruang dialog dan pendidikan keberagaman seperti ini,” tegasnya.

“Kita punya rasa cinta dan kasih sayang untuk mengomunikasikan hubungan lintas agama yang damai. Pemerintah, khususnya DPRD Provinsi, berkewajiban memfasilitasi ruang-ruang dialog dan pendidikan keberagaman seperti ini,”

Bersama narasumber, para peserta tak lupa berpose kenang kebersamaan tolerans

Acara ini menjadi ruang penting dalam memperkuat peran perempuan sebagai penjaga nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat multikultural. Perempuan bukan hanya penerus nilai, tetapi juga penggerak utama dalam merawat keberagaman Indonesia agar tetap lestari dan harmonis.

Dewata Kusayang, Dewataku Malang; Bali Digempur Kapitalisme

0

Kampusdesa.or.idTak jelas siapa yang memulai. Jika membuka TikTok tentang Bali, algoritma akan mempertemukan kita dengan FYP berbunyi “bawa lukamu ke Bali” yang mengukuhkan citra pulau berjuluk dewata itu sebagai tujuan healing. Bali laksana ibu yang memeluk luka anaknya dalam diam, kata beberapa orang di kolom komentar.

Sama seperti Yogyakarta dan Bandung yang kita romantisasi, Bali bahkan mengejawantahkan romantisme ini dalam tulisan penulis mancanegara. Saat menulis artikel, saya baru saja menghabiskan buku “Bali: A Paradise Created” karya Adrian Vickers tentang dialektika persepsi masyarakat adat dan imajinasi Barat yang mengubah citra Bali. Penulis menjulukinya “The Last Paradise” tempat budaya Asia-Pasifik bertemu.

“Di Bali, pesona alam berpadu dengan ritus yang bergema seperti Dhanvantari, dewa Ayurveda pembawa Amerta. Namun, pesona ini menyimpan paradoks: yang sakral rapuh, alam yang menyembuhkan rentan terluka, budaya yang tergerus kesakralannya. Bali menunggu tahap kritis: Dewataku sayang, Dewataku Malang.”

Di Bali, alam memang berpadu dengan ritus. Namun, paradoks menganga: alam penyembuh rentan dilukai tangan manusia yang dirawatnya, budaya sakral tergerus komersialisasi. Bali sendiri menyimpan luka yang kian menganga, menunggu ketahapan kritis.

Baca juga: Patuwen Kopi, Setetes Tinta Sejarah dalam Festival Kopi 2025 GKJW

Tattwa, Susila, Acara: Negosiasi Nilai dalam Pusaran Pasar

Dalam kosmologi Hindu Bali, tiga pilar peradaban—Tattwa (filsafat), Susila (etika), Acara (ritual)—adalah sistem dinamis yang beradaptasi. Namun, pariwisata massal sebagai produk kapitalisme mempercepat transformasi ketiganya dengan logika pasar. Ritus tunduk pada kalender pariwisata, sebatas atraksi eksotis tanpa makna transendental.

Pura Besakih dan Tanah Lot menjadi medan pertarungan simbolis: kamera turis menggeser fokus sembahyang. Persoalan etika tergerus saat turis berkendara sesukanya, didukung warga lokal yang membiarkan atau ikut-ikutan. Pemerintah abai meratakan kesempatan kerja, memicu invasi pendatang tak terbendung.

“Melalui fetisisme komoditas Marx, nilai guna budaya Bali—ritual, seni sakral, hubungan kolektif—teralienasi menjadi nilai tukar. Tri Hita Karana jadi semboyan tak bermakna; sawah berubah villa, pohon ratusan tahun terbunuh untuk industri hiburan. Pantai andalan berlandskap tambang, seperti di Selatan Bali dan Nusa Penida.”

Bali dalam Fetisisme Komoditas

Logika akumulasi kapital Marx (1867) mengubah relasi sosial-budaya Bali menjadi komoditas. Yang esensial—ritual adat, seni sakral—tereduksi jadi objek konsumsi. Tri Hita Karana, filosofi keseimbangan alam-manusia-spiritual, hanya diseminarkan tanpa diterapkan.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Sawah dan pantai menjelma villa dan beach club; laut dipagari kepemilikan pribadi. Gary Bencheghib dalam dokumenter Rahayu Project berkata: “Bali kehilangan kepingan surganya setiap hari.” Proses ini mencerminkan dominasi modal atas ruang hidup dan kontradiksi dialektis: nilai komunal tradisional versus imperatif profit kapitalis.

Nyala Perlawanan dari yang Paling Mungkin

Masyarakat Bali tak diam. Dalam perspektif Dharma vs. Adharma, perlawanan adalah upaya menjaga keseimbangan kosmis. Setiap tindakan mempertahankan tradisi, lingkungan, atau hak budaya adalah wujud dharma—tanggung jawab moral melindungi harmoni alam-manusia-spiritual.

“Perlawanan tak selalu frontal: petani Bali Utara pertahankan Subak, nelayan Serangan lawan privatisasi laut, pemuda ubah Ogoh-ogoh Bhuta Yadnya jadi medium kritik. Seperti api dalam sekam, perlawanan menyala dalam kesadaran dan konsistensi—dharma tak hanya bertahan, tapi jadi cahaya penuntun transformasi beradab.”

Perlawanan tercermin dalam laku sehari-hari. Subak—sistem irigasi tradisional berbasis Tri Hita Karana—dipertahankan petani Bali Utara. Nelayan Serangan melaut melawan privatisasi. Pemuda Bali menyelaraskan ritual Bhuta Yadnya dengan kritik sosial melalui Ogoh-ogoh.

Seperti firman Bhagavad Gita: “Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati… tadātmānaṁ sṛjāmyaham” (“Kapan pun dharma merosot, Aku mewujudkan diri”). Perlawanan ini adalah perwujudan dharma: gotong-royong, kreativitas ritual, dan keteguhan hati. Api itu mungkin tak bergemuruh, tetapi menyala-nyala dalam empati dan kesadaran.

Putu Ayu Sunia Dewi
Aktivis Perhimpunan pelajar Indonesia di Luar negeri / pengurus PPI TV

Haul Gus Dur Ke-15: Dialog Kebangsaan di GKJW Lawang

0

Kampusdesa.or.id–Gusdurian Malang Raya bekerja sama dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Lawang baru saja mengadakan Dialog Kebangsaan memperingati Haul ke-15 KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Acara yang berlangsung pada Minggu, 23 Februari 2025, di gedung GKJW Jemaat Lawang, Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, ini mengangkat tema “Endahing Saduluran, Menajamkan Nurani Membela yang Lemah”

Baca juga: Haul Ke-15 Gus Dur di Pesantren Rakyat Al-Amin: Lahirkan Petisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Merajut Kebersamaan dalam Keberagaman

Dialog Kebangsaan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan yang inklusif dan humanis, sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gus Dur. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh agama, pejabat pemerintah daerah, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan di Malang Raya dan sekitarnya. Partisipasi dari Koordinator Garuda Malang, Muspika Lawang, umat Buddha, Penghayat, Baha’i, umat Muslim, umat Hindu, komunitas Arela, GP Ansor Lawang, GKA Immanuel, GPIB Pelangi Kasih, mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan, serta warga GKJW Lawang dan Kelurahan Kalirejo, mencerminkan semangat pluralisme yang selalu dijunjung tinggi oleh Gus Dur.

Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tari topeng oleh Avrel, salah satu pemuda GKJW Lawang, yang menambah kekayaan budaya dalam peringatan tersebut.

Menajamkan Nurani untuk Membela Kaum Lemah

Diskusi dalam dialog ini dipandu oleh Pendeta Gideon H. Buono sebagai moderator, membahas berbagai isu aktual yang relevan dengan tema. Topik yang diangkat antara lain pandangan berbagai tokoh agama terhadap Gus Dur, penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi di masyarakat, peran agama dan organisasi kemasyarakatan dalam membela kaum lemah dan marginal, serta langkah konkret untuk mewujudkan keadilan sosial. Selain itu, pentingnya menanamkan nurani yang bersih dan jujur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga menjadi fokus pembahasan.

Baca juga: Balewiyata-Unisma; Situs Toleransi Gereja-Pesantren di Malang

Dr. Mahpur menekankan bahwa Haul Gus Dur ke-15 ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali tanggung jawab atas pekerjaan dan kegiatan di wilayah masing-masing. Pendeta Sevi Niasari menyoroti tantangan dalam membangun persaudaraan lintas iman, seperti prasangka dan ketakutan akan penolakan, termasuk yang berkaitan dengan gender. Sementara itu, Gus Najib mengajak semua pihak untuk berani mengambil langkah mengatasi rasa takut terhadap perbedaan. Gus Aan Anshori menegaskan pentingnya keberanian dalam menjalin persaudaraan tanpa memandang perbedaan, serta memanusiakan sesama.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan tokoh agama, antara lain Habib Achmad Hasan mewakili umat Muslim, Drs. Sa’ib Kundjosasmito S.Kar mewakili Penghayat, Pendeta Jhonatan mewakili umat Kristen, Ibu Rahayu mewakili Baha’i, dan Bante Samanera mewakili umat Buddha. Doa bersama ini dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Endahing Saduluran” sebagai penutup, mencerminkan semangat persaudaraan dan kebersamaan dalam keberagaman.

Melalui peringatan Haul Gus Dur ke-15 ini, diharapkan masyarakat Indonesia, dan khususnya Malang Raya, semakin memperhatikan isu keberagaman agama dan menanamkan nilai toleransi antar sesama. Berbagai tokoh yang hadir menyatakan dukungan dan semangat untuk terus memperjuangkan keberagaman dan toleransi di Nusantara. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan menikmati hidangan yang disediakan oleh GKJW Lawang, mempererat tali silaturahmi antar peserta.

Patuwen Kopi, Setetes Tinta Sejarah dalam Festival Kopi 2025 GKJW

Kampusdesa.or.id–Festival Kopi 2025 dengan istilah Patuwen Kopi, yang digelar di GKJW Jemaat Sengkaling pada 15-16 Februari 2025 resmi berakhir. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pemberdayaan petani kopi yang tergabung dalam Patuwen Kopi. Dengan konsep yang lebih matang, festival tahun ini menghadirkan pengalaman yang lebih guyub dan interaktif bagi pengunjung.

Mengapa Festival Kopi 2025 Digelar di Kota Malang?

Setelah dua kali penyelenggaraan di Surabaya, kali ini Festival Kopi digelar di Malang dengan beberapa alasan utama:

  1. Aspirasi petani kopi dari Malang yang ingin berpartisipasi lebih aktif.
  2. Lokasi strategis di GKJW Jemaat Sengkaling yang mudah diakses oleh jemaat lain.
  3. Dukungan SDM dari warga jemaat yang memiliki kapasitas budaya dalam penyelenggaraan acara.

Baca juga: Roasting Kopi dan Secangkir Kopi Bagi Petani Kopi

Pemilihan tempat ini juga memperkuat komitmen Patuwen Kopi dalam membangun jejaring ekonomi berbasis komunitas.

Format Festival Kopi yang Lebih Interaktif

Jika sebelumnya sarasehan kopi, cupping coffee, dan bazar berlangsung bersamaan, kali ini penyelenggara mengatur ulang konsepnya:

  • Sarasehan digelar Minggu pagi, sehingga petani dan pengunjung bisa lebih fokus pada diskusi.
  • Sabtu malam dipenuhi dengan hiburan live music, bazar kopi, dan sesi interaksi pengunjung dengan petani kopi.
  • Tim Patuwen Kopi semakin profesional dengan dukungan admin penjualan, seperti Mas Anang dan Mbak Margaretha, yang memastikan kelancaran distribusi produk.

Pengunjung yang hadir pun dimanjakan dengan sajian kopi gratis, aneka kuliner dari stand UMKM, serta hiburan dari grup musik lokal. MC acara bahkan berkeliling mengenalkan produk-produk unggulan secara langsung.

Patuwen Kopi: Gerakan Ekonomi Berbasis Komunitas

Gagasan utama dari Patuwen Kopi adalah membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas dengan prinsip “sinau bareng”. Seperti yang disampaikan oleh Pdt. Em. Dr. Suwignyo, pemberdayaan ekonomi gereja bukan hal baru, tetapi kali ini dilakukan dengan lebih terstruktur dan berorientasi pada penguatan kelompok tani.

Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup

Lho yang dulu-dulu kok enggak seperti ini?,” ujar beliau. “Ya, mungkin sekaranglah Kairos-nya. Saatnya kita membangun sistem yang lebih kuat dengan mengorganisasi petani kopi dalam kelompok tani.”

Komitmen ini juga mendapat dukungan akademisi. Prof. Dr. Setyono Yudo Tyasmoro dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan kelembagaan kelompok tani agar program ini berkelanjutan.

Selain itu, Pdt. Prof. Dr. Gerrit Singgih dari Universitas Kristen Duta Wacana melihat Patuwen Kopi sebagai sarana membangun relasi lintas agama, mengingat banyak petani yang berasal dari latar belakang berbeda.

Patuwen Kopi Menuju Entitas Kelembagaan

Festival Kopi 2025 bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan Patuwen Kopi menuju entitas kelembagaan yang lebih mapan. Jika sebelumnya gerakan ini hanya berupa program, kini perlahan berkembang menjadi sistem yang lebih terorganisir dengan skema pemasaran, edukasi, dan distribusi yang lebih baik.

Seiring berjalannya waktu, Festival Kopi menjadi setetes tinta sejarah dalam perjalanan Patuwen Kopi untuk membangun kemandirian ekonomi warga.

Menyatukan SDM Kopi

Festival Kopi 2025 bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi momen penting dalam perjalanan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Melalui Patuwen Kopi, petani kopi, akademisi, dan komunitas gereja bersatu untuk membangun sistem yang lebih berkelanjutan.

Bagi Anda yang ingin mendukung gerakan ini, ikuti terus perkembangannya di Kampus Desa dan media sosial kami!

#FestivalKopi2025 #PatuwenKopi #PetaniKopiMalang #JemaatSengkaling #KopiNusantara #BazarKopi #SarasehanKopi #GerejaKristenJawiWetan #PemberdayaanEkonomi #KampusDesa