Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 2

Memecah Kebekuan atau Kehilangan Momen

0

Kampusdesa.or.id–Minggu pertama mahasiswa KKM adalah waktu untuk menemukan jatidiri kegiatan. Apakah berhasil mendapatkan enggagement di masyarakat dan kemudian bergerak untuk meningkatkan level perubahan dari yang kecil-kecil yang mereka temukan atau mereka terjebak pada kerja administratif dan siklus teknis administratif masyarakat. Spirit inovasi, transformasi, dan meningkatkan level keberdayaan adalah bagian penting dari pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang.

Mereka membutuhkan tempat mengurai pilihan, tantangan, dan harapan untuk mendapatkan peluang menemukan perubahan (pemberdayaan). Dari mengeluh menjadi tertantang, dari banyaknya pilihan menjadi dapat menentukan prioritas dan memastikan peluang, dari kebuntuhan mendapatkan inspirasi. Untuk itu, kehadiran DPL (Dosen Pendamping Lapangan) di minggu pertama adalah momen penting membantu mereka mengurai hal itu atau momen ini hilang. Mereka akan menjadi tukang piket, administrasi desa, jadi pengganti/pelengkap pengganti mengajar TPQ atau tenaga suruhan saja. Mereka terseret arus kemapanan kerja pesuruh, bahkan buruh. No-way.

Baca juga: Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Saat berdiskusi, mendengar, dan mengulik cerita mahasiswa, mereka merasa senang ketika ada pengurai kebuntuan. Bukan sekedar senang, yang lebih penting dari itu adalah fokus dan ketemu pintu masuknya pemberdayaan. Diskusi dengan pendamping menjadi penting. Bagi kita DPL, boleh jadi sepele, tapi bagi mahasiswa, membantu mengurai berbagai alokasi kegiatan yang mereka identifikasi dan fokus lebih strategis adalah perjuangan dan disitulah mereka belajar. Kehadiran dosen menjadi sumbu memantik ledakan kesempatan, kecuali mahasiswanya memiliki ketrampilan tacit knowledge (pengetahuan sintesis antara ilmu dan implementasi di lapangan) sebagai bakat melekat.

Tidak harus seminar, buat ruang bersama mencerahkan

Al-kisah. Saat mereka bercerita terkait dengan sosialisasi narkoba dan keuangan keluarga. Ketemu ide yang mencerahkan. Pemdes meminta mereka penyuluhan. Mahasiswa membayangkan penyuluhan dengan cara seminar atau forum resmi. Tapi cara itu akan menjadi counter culture yang menjadi konflik judgement dan melahirkan respon reaktif. Kita tidak tahu kultur mereka tentang minum dan aneka rupa narkoba. Sosialisasi ini bisa menjadi antitesis yang menimbulkan frksi dan pertentangan budaya. Maka pendekatan preventif dan tidak langsung justru menjadi penting. Maka ada kesepakatan untuk menciptakan ruang sehat bagi anak-anak dan remaja agar mereka dikenalkan mengonsumsi makan dan minum yang sehat. Ini kesimpulan mempengaruhi jangka panjang.

Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya.

Peluangnya adalah justru menggunakan pintu masuk dengan memberikan pendekatan pada anak-anak dan remaja melalui senam dan bantengan. Mereka terlibat pada mendorong kesempatan untuk berdaya, berkarya, dan bergerak sehat. Mereka perlu diajak bergerak dengan karya dan kebajikan. Bukan nasihat no-drug. Mereka justru tidak bicara narkoba tapi bersama anak-anak dan remaja mengajak untuk dapat mengobrolkan sesuatu yang sehat di kehidupannya. Termasuk bantengan yang sehat itu bernilai seni dan olahraga, makan bergizi, dan lain-lain. Mereka diajak bahwa sosialisasi narkoba bukan menceramahi para pemuda dan orang tua. Lah, justru ini melawan kultur. Akan tertolak karena kita memusuhi budaya mapan masyarakat, meskipun itu kita anggap jelek.

Baca juga: KATI; Eduwitasa Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Anak-anak sebagai pintu masuk keterlibatan

Pintu masuk ke anak untuk mempengaruhi orang tua
Tantangan lain, literasi finansial tradisional lebih diutamakan daripada pendekatan akuntansi modern. Ini pendekatan literasi keunangan ramah budaya. Dalam diskusi dengan kelompok KKM, kalau mereka diajari akuntasi modern sederhana, potensi penolakan ada, karena dasar berpikir dan berperilaku belum ada. Butuh proses panjang. Yang lebih penting dari itu adalah membangun mindset uang aman lebih dulu yang mudah berdasarkan pengalaman dan imajinasi orang lokal. Misalnya dengan membuat tabungan (jawa: celengan) untuk tandon uang aman.

Misalnya para ibu-ibu yang jualan dan sedang nongkrong di titik kumpul tertentu, mahasiswa dapat memfasilitasi mendiskusikan apa saja hal kecil yang mereka pilih untuk mendapatkan ide bersama. Atau di pengajian membuat gerakan sisakan uang aman di botol bekas. Simpan dan lupakan. Bisa dengan mengikuti tanggal atau dibalik. Misal, tanggal satu memasukkan uang aman tiga puluh ribu, hingga tanggal 30 satu ribu. Setiap sehari jualan, mereka diajak membuat gerakan sisihkan dan amankan serta lupakan. Mereka diajak berbuat dengan perilaku sederhana, bisa dilakukan, dan mudah.

Gerakan ini bisa dimulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua.

Jika tidak bisa langsung ke orang tua, gerakan mereka bisa memulai dari anak-anak agar mereka juga mempengaruhi orang tua. Misal, mereka menyepakati membuat celengan tematik bersama keluarga. Anak-anak yang mengikuti les-lesan, atau bermain-main, mahasiswa dapat mendorong untuk menciptakan celengan masa depan. Nah, spirit ini yang dapat tumbuh mekar untuk menciptakan mindset uang aman dengan cara lokal. Tentu perlu kita mempertimbangkan sudut pandang orang lokal agar mereka dapat beride yang relevan dengan pemaknaan mereka.

Akhiran. Mahasiswa di minggu pertama ini sangat butuh teman mengurai fokus pemberdayaan mereka. Banyak ide yang tumplek-blek. Jika tidak dibantu mengurai, mereka akan terjebak dengan rutinitas dan kerja pragmatis. KKM berdampak-bergerak adalah belajar hadir terlibat dalam mental lokal tetapi mampu menciptakan pengaruh inspiratif, inovatif, dan berdaya. Setidaknya, hal ini adalah pengalaman penting kepemimpinan mereka, bukan pengganti kerja orang lokal semata, tetapi mitra berdaya yang lahir dari kesepakatan dalam komunikasi terlibat

Kampung Bhinneka Itu Nyata Adanya

Kampusdesa.or.id–Kumandang adzan maghrib baru saja berlalu. Heri Kuswandi (62) bergegas menuju sebuah bangunan gedung di dekat rumahnya. Mesin jahit ‘jadul’ (tenaga pancal) di rumahnya, diusungnya ke gedung pertemuan. Tak lama berselang 15 warga lainnya datang menyusul. Mereka adalah warga RT 02/RW 03 Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Sekitar dua minggu, mereka bergotong royong menyiapkan perayaan Natal Oikumene. Natal bersama warga Kristiani. Warga RT tercatat 102 KK, dengan warga Kristiani (Katolik dan Kristen) sejumlah 16 KK. Namun perayaan Natal menjadi ‘gawe’ segenap warga. Bagaimana bisa 16 KK beragama Kristiani dapat didukung oleh KK yang lainnya. Kampung bhinneka bukanlah mitos. Nyata ada di Kota Malang.

“Tahun ini menjadi perayaan Natal Oikumene kedua kami. Perayaan ini dihadiri semua warga RT. Berhubung perayaan Natal memerlukan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, maka warga RT memutuskan dalam rapat warga bahwa kegiatan keagamaan harus masuk agenda RT, sebagaimana Agustusan yang juga dibiayai RT. Warga mengambil kesepakatan bahwa baik kegiatan Idul Fitri, Natal, dan Maulid, maka RT harus membiayai semuanya dan semua warga terlibat dalam kerja bakti untuk kegiatan tersebut.” Begitulah Ketua RT 02 Imam Kuswoyo (62) menyampaikan keputusannya pada warga, saat menceritakan perayaan Natal yang para warga tanpa kecuali turut menghadirinya.

Baca juga: Muslim Indonesia di Hari Natal

Salah seorang warga Heri Kuswandi juga menuturkan, “usai pulang kerja di jasa kurir, setiap sore sekira 10-15 warga terlibat kerja bakti di gedung pertemuan.” Kerja bakti warga mereka lakukan sejak pertengahan Desember, mereka datang silih berganti. Sebuah gedung kosong yang diijinkan oleh pemiliknya dipakai untuk kegiatan warga, ‘disulap’ warga menjadi gedung pertemuan.

Natal Tidak Hanya Milik Umat Kristiani

Heri menjahit kain penutup meja. Imam Kuswoyo dan warga pria lainnya mengecat dinding, membuat dekor, mengecat dan memperbaiki kursi yang rusak dan membuat meja tempat makan, menyiapkan panggung, ada pula yang membuat kandang Natal. Sementara itu, para ibu bergantian menyiapkan minuman teh, kopi, dan kudapan ringan. Mereka ikhlas memberi dari yang mereka miliki. Ketika H-7, gedung yang sehari-hari nampak kosong itu, kian ramai. Para ibu mulai berlatih bersama, mempersiapkan diri sebagai pengisi acara.

Kampung terasa begitu bergairah. Perayaan Natal Oikumene di RT 02/RW 03 kelurahan Bandulan itu, berlangsung semarak (28/12). “Puji syukur, perayaan Natal berlangsung lancar. Banyak berkah berlimpah. Sajian 200 kotak kue, merupakan sumbangan ibu-ibu jamaah tahlil,” ujar Imam, umat Gereja Katolik St. Vincentius a Paulo, Malang.

“Pada hari H, para ibu memasak hidangan di kediaman kami, seperti capcay, fuyunghai, sate bakmi goreng, acar, goreng kerupuk. Sementara bapak-bapaknya menyiapkan perlengkapan di lokasi perayaan,” begitu Maria Kristiani, Ketua PKK RT 02/RW 03, sapaan akrab Bu Anik Imam, melengkapi cerita di balik persiapan Natal.

Baca juga: Patuwen Kopi, Setetes Tinta Sejarah dalam Festival Kopi 2025 GKJW

Perayaan dihadiri sekitar 200-an orang, baik dari warga setempat maupun undangan. “Kami juga mengundang semua Ketua RT di RW 03, pengurus RW, perwakilan dari kelurahan dan perwakilan dari gereja masing-masing warga kristian. Di samping itu, hadir pula Komunitas lintas agama Bandulan Bersatu (Kober). Rm. Petrus Maria Handoko, CM selaku pimpinan Gereja Katolik Paroki St. Vincentius a Paulo juga menyempatkan waktu untuk hadir,” tutur Imam dengan sorot matanya berbinar. “Kami bersyukur bahwa sukacita Natal ini bisa dirasakan oleh banyak pihak. Kerukunan dan saling menghargai tak hanya saat kegiatan perayaan. Warga di sini, punya kebiasaan berkunjung ke rumah warga kristiani saat Natal. Nanti kalau pas Idul Fitri, gantian, warga kristiani yang keliling mengunjungi warga Muslim, menyampaikan selamat,” tuturnya lagi.

Usai gawe perayaan Natal Oikumene, mereka tenggelam lagi dalam kesibukan menyambut malam pergantian tahun baru. Mereka seperti ingin memeluk erat hangatnya kebersamaan itu. Warga setempat telah menemukan kunci hidup bahagia. Yakni, dengan membuat sesamanya berbahagia.

Kampung Bhinneka itu nyata adanya.

Muslim Indonesia di Hari Natal

0

Kampusdesa.or.id–Sejak menginisiasi perjumpaan Natal damai di tahun 2017 bersama Gusdurian Malang, kehadiran saya di gereja seperti rumah baru bagi ke-Indonesiaan saya. Setelah kunjungan Natal damai tempo itu, ketakutan saya dan sak-wasangka tentang kristen tidak ada lagi. Keimanan tanpa rasa takut menjadi momen baru. Gereja tidak lagi berjarak bagi saya. Meskipun saya muslim, tidak ada perasaan curiga dan friksi batin yang sudah biasa menjadi hoaks keimanan, manakala banyak orang muslim yang masih berjibaku dengan metanarasi prasangka, minorisasi iman dengan cara pandang melainkan. Kristen bagi saya adalah bagian dari suara yang dapat saya maklumi bahwa setiap manusia selalu punya cara beriman dengan horison kehidupannya. Dengan demikian bagi saya gereja adalah rumah kehidupan bagi orang-orang yang meyakini bahwa ketuhanan adalah jalan dan pilihan tanpa penyeragaman. Rasa takut dengan konstruksi iman yang melainkan menjadi pupus bagi cara pandang saya. Di situ saya merasa lebih dewasa dalam melihat gereja dan keindonesiaan saya.

Sudah sekian kali saya menerima undangan dalam perhelatan perayaan Natal di gereja. Temasuk Natal di tahun 2025 ini. Saya menerima secara resmi di dua gereja. Gereja Kristen Jawi Wetan di Lawang dan Kedungkandang. Karena waktunya berbarengan, saya memilih hadir di perayaan Natal GKJW Lawang. Sudah kesekian kalinya saya hadir di jemaat Lawang. Bagi mereka kehadiran saya yang muslim dan kebetulan saya juga mereka anggap bagian dari Nahdlatul Ulama Kota Malang, mereka merasa kehadiran ini melengkapi sudut pandang mereka untuk menciptakan representasi toleransi beragama tidak saja sebagai pribadi. Mereka menjadikan perspektif keterwakilan bahwa orang-orang NU adalah pribadi yang mampu mewakili warna yang menerima keberagaman sebagai entitas keindonesiaan. Ketika kami saling hadir, identitas agama adalah warna yang menyatu dalam memahami keniscayaan kami bahwa hubungan persaudaraan menjadi bagian dari perasaan gembira karena dapat saling menghadiri perayaan hari suci antara kita. Identitas kami tidak rapuh karena satu dengan yang lain dapat saling menghargai. Penghargaan ini tembus karena kami merasa terhubung dalam hubungan pertemaan dan persaudaraan melampaui batas eksklusif cara beriman.

Mudah Tapi Perlu Latihan

Alkisah, ada seorang sarjana pendidikan agama Islam dan sedang menempuh paska sarjana sedang melakukan riset tentang hubungan lintas agama pada Forum Komunikasi antarUmat Bergama (FKAUB) Malang Raya bertanya kepada saya. “Menurut bapak, bagaimana kita makan dari menu yang mereka sajikan ini?” Padahal dia sudah sering keluar masuk di lingkungan gereja Katolik karena sebagian besar rapat dan pertemuan FKAUB sering menggunakan ruang pertemuan di gereja tersebut. Sebelum acara atau setelah acara rapat, kami biasanya menikmati jamuan dari gereja. Saya terkejut dalam hati. Bagi saya, pikiran tersebut sudah tidak muncul. Apakah karena saya sering mengalami jamuan tersebut sehingga tidak berpikir dan khawatir. Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jamuan makan yang tersaji untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim. Suatu contoh di Klenteng, mereka memastikan ketika menjamu orang muslim, menunya seputar soto daging ayam atau sapi dan sajian yang umum boleh  (halal) bagi orang muslim. Pengalaman ini saya ceritakan ke si dia tadi bahwa bagi mereka sudah memahami batasan mengenai yang boleh dan tidak bagi orang muslim. Artinya, kisah tersebut mengandaikan proses dialog penting yang muncul secara informal mengenai batasan antara aku dan kamu dalam hubungan lintas agama.

Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jika jamuan makan yang disajikan untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim.

Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang

Saya tidak lagi merisaukan hal demikian, tetapi bagi anak muda tersebut yang baru dan belum pernah mendapatkan dialog-dialog lintas batas tersebut, keragu-raguan menjadi awal dari mendapatkan jawaban tentang batas-batas yang diolah dalam kesadaran kritis. Hari ini, bagi saya hal demikian tidaklah menjadi kekhawatiran saya. Hal tersebut menjadi kesadaran baru saya bahwa keumuman tentang kekitaan sudah dipahami bagi agama-agama yang lain. Meski tidak lengkap, masing-masing dari kami dapat bisa saling mengonfirmasi untuk saling memahami dan memberitahu mengenai batasan praktik beragama diantara kami. Bahkan, saya sering meminta tempat sholat di lingkungan gereja tersebut ketika waktu maghrib atau waktu lain yang mengharuskan saya sholat. Hal ini saya lakukan karena saya yang butuh dan saya tidak menunggu pemakluman atas waktu sholat itu dari teman-teman agama lain. Saya harus asertif dan tetap berada dalam dialog interpersonal yang tidak berjarak. Keragu-raguan dapat teratasi.

Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka.

Saya perlu sampaikan lagi saat di sebuah pertemuan di lingkungan gereja Katolik, saya meminta seorang romo tempat sholat. Romo tersebut juga agak kebingungan. Saya segera menimpali, tunjukkan saya ruangan dan saya akan sholat di situ. Tentang ini dan itu menjadi urusan saya. Selesailah persoalan. Kadang saya juga sering prepare sajadah sebagai solusi. Hal demikian bagi saya sudah terbiasa. Jika saya tidak diperhatikan terkait dengan kepentingan sholat, maka saya harus punya solusi dan tidak menghakimi dalam berbagai prasangka yang mengerdilkan hubungan tersebut kedalam masa lalu cara pandang saya tentang aku dan yang lain. Ini adalah modal bagi saya untuk dapat menyelesaikan pokok iman saya dan tempat kehadiran saya dalam ruang perbedaan agama. Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka. Jika hal ini tidak diolah, kita belum cukup untuk dewasa atas nama perbedaan agama.

Kesadaran ini sebenarnya mudah kalau pergaulan mendalam dapat dirajut dalam pengalaman yang mendalam juga dalam hubungan lintas-agama. Hal ini tidak juga mudah di kalangan orang-orang NU. Tidak semua dapat menerima keterbukaan tersebut, bahkan bagi sosok-sosok yang alim di NU. Saya pun tidak begitu banyak mendapat teman di NU yang turut hadir dalam perjumpaan dari dalam gereja tersebut. Bahkan saya cenderung masih seorang diri ketika mendapat undangan perayaan Natal tersebut. Hanya orang-orang NU khusus yang sudah punya pengalaman demikian yang bisa hadir dalam jamuan-jamuan hari Natal tersebut. Hanya teman-teman NU yang masuk dalam jejaring FKAUB dan lintas agama aktif, termasuk kalangan muda NU yang sering mengikuti kegiatan Gusdurianlah, teman GP Anshor, perwakilan UDARTA Pasuruan (Pondok Ngalah) yang seringkali saya temukan dan menjadi kebiasaan mereka dengan bebas friksilah yang dapat menerima pengalam tersebut. Artinya, pengalaman menjadi bagian penting untuk menerima sejenis kesanggupan hadir dalam jamuan-jamuan di tempat ibadah seperti hadir dalam perayaan Natal.

Natal Mereka adalah Muslim Saya

Saya memaknai kemampuan tersebut sebagai bagian penting pengalaman kemusliman saya. Ada ruang kesadaran antah-berantah yang memang terasa kontradiksi diantara kecemburuan, sak-wasangka, dan negasi keimanan yang tetap tersisa. Suatu contoh bahwa saya dimanfaatkan atau saling memanfaatkan. Kecurigaan di sana-sini yang menjadi narasi bagi orang muslim lain yang menganggap hal ini telah melampaui batas. Bahkan saya pun pernah ditegur dari kalangan orang NU terkait kegiatan kunjungan ke tempat-tempat ibadah di luar Islam sebagai kegiatan yang melampaui batas. Tetapi saya teringat selalu dengan Gus Dur yang sudah berani membebaskan diri dari kerancauan prasangka tersebut. Gus Dur menempatkan perbedaan tersebut dalam kerangka kewarganegaraan yang setiap orang wajib menghormati pilihan dan perbedaan. Gus Dur menghargai dalam kerangka konstitusional warga Indonesia. Justru hal ini memperkuat bahwa seorang muslim perlu belajar mendewasakan diri dalam mewarnai berbagai penghargaan sesama warga negara Indonesia.

Baca juga: Barikan Anak Nusantara ke-3: Merajut Persaudaraan Sejati di Malang

Ketika representasi muslim saya dilihat sebagai simbol bagi usaha merepresentasikan kemampuan hadir dalam cermin hubungan toleransi, maka undangan dari orang Kristen saya terima sebagai bagian dari menghargai kebutuhan saling merawat perbedaan. Saya menjadi muslim dengan kesadaran ke-Indonesiaan. Oleh karena itu saya membutuhkan perspektif yang lebih luas guna membuat identitas saya tidak saklek dan dibatasi dengan pembeda-pembeda agama. Cara demikian bagi saya memberikan pengalaman baru bahwa interaksi lintas agama tidak semata sebuah hubungan yang berjarak. Sebagai seorang muslim, gereja bukanlah tempat yang saya lihat dalam narasi yang berjarak, tetapi saya tempatkan sebagai bagian penting perkenalan saya tentang hakikat perbedaan. Saya menjadi tahu cara mereka beriman. Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya. Oleh karena itu, apapun yang disucikan mereka adalah buah dari pengetahuan saya tentang orang lain dalam kesatuan identitas keagamaannya. Inilah yang melengkapi kesadaran kritis saya dalam menerima perbedaan agama.

Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya.

Natal mereka adalah muslim saya bermakna perhatian dan kepedulian saya sebagai seorang muslim untuk menerima Natal sebagai penghargaan kesucian mereka. Termasuk bagian dari media orang lain yang beriman Kristiani untuk menjadikan hari Natal sebagai bagian dari cara mereka berbahagia dalam iman. Ini juga terjadi pada saya yang menjadikan hari raya idul fitri sebagai hari kegembiraan atas kemenangan diri menjadi manusia yang beriman. Natal mereka adalah muslim saya menjadi bagian dari upaya saya menjalin hubungan silaturahim dengan memberikan penghormatan atas kepentingan orang lain. Bukankah hal ini kita bangun untuk menjaga kohesi sosial dalam kehidupan yang beraneka ragam, bahkan hal ini juga menjadi cara kita berjuang untuk menjaga Indonesia. Bagi saya ini adalah ibadah. Sejauh neraca kebaikan adalah niat suci bagi masing-masing agama untuk mengundang dalam perayaan hari suci, maka sudah sepatutnya bingkai kohesi sosial menjadi bagian niat menjaga Indonesia.

Baca juga: Balewiyata dan Gus Dur; Situs Toleransi Malang yang Perlu Dirawat

Nukilan Akhir

Natal mereka adalah muslim saya bergerak dalam kesadaran kebudayaan, melampaui dari entitas keagamaan semata. Sebagai seorang muslim Indonesia, saya belajar bahwa perayaan agama-agama bukan semata-mata tentang keimanan yang membatasi sekat-sekat identitas ekslusif. Sebagian ekspresi keagamaan mereka menyumbangkan bahasa kebudayaan dengan kepemilikan nilai bersama. Tidak hanya pada tingkat mengucapkan selamat hari raya Natal, dan lainnya, tetapi interaksi perjumpaan dalan berbagai ruang di latar tempat ibadah pun dapat kita tempatkan sebagai reproduksi hubungan kebudayaan baru di Indonesia. Inti suci dari interaksi ini merupakan kreasi budaya yang bernilai adiluhung. Tidak perlu ditafsirkan yang diframing dalam penajaman konflik. Kita membutuhkan pemankaan ulang bahwa perjumpaan Natal demikian adalah buah dari kesadaran kita untuk menjadikan hubungan lintas-agama ini sebagai parktik berbudaya yang tumbuh dalam kesadaran kolektif. Dengan demikian, jamuan perayaan Natal yang mengundang berbagai perwakilan agama-agama selalu bisa kita tempatkan kedalam reproduksi kebudayaan bukan kedalam tafsir keimana eksklusif yang ujung-ujungnya bernada ekstrim gaya baru.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Joyogrand Malang

Minggu, 28 Desember 2025

UNICEF Dorong Penguatan Muatan Pemberdayaan dalam Pendidikan Kesetaraan Paket C

Kampusdesa.or.id–Pendidikan Kesetaraan Paket C merupakan jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan untuk memberikan layanan pembelajaran setara Sekolah Menengah Atas bagi masyarakat yang menempuh pendidikan di luar sistem formal. Keberadaan Paket C selama ini menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses pendidikan, khususnya bagi murid yang memiliki pengalaman belajar dan latar belakang sosial yang beragam. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Kesetaraan tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang berperan dalam membangun kapasitas murid.

Seiring dengan perkembangan kebijakan pendidikan, perhatian terhadap kualitas pembelajaran di Pendidikan Kesetaraan terus diperkuat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penguatan Muatan Pemberdayaan sebagai bagian dari kurikulum Paket C. Muatan ini diarahkan untuk mendukung murid dalam mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta memahami peran mereka dalam kehidupan sosial. Pendekatan ini menempatkan pembelajaran tidak hanya sebagai proses akademik, tetapi juga sebagai proses pengembangan diri murid.

Pendidikan Kesetaraan dan UNICEF
Upaya penguatan Muatan Pemberdayaan tersebut mendapat dukungan dari United Nations Children’s Fund atau UNICEF Indonesia yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. UNICEF mendukung pengembangan dan penyempurnaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C sebagai bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan nonformal. Dukungan ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya pelaksanaan lokakarya konsultatif untuk meninjau dan menyempurnakan modul pembelajaran.

Sebagai bagian dari proses tersebut, UNICEF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C pada 16 sampai 17 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Swiss Belhotel Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokakarya ini melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pendidik, serta perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Sanggar Kegiatan Belajar dari berbagai wilayah.

Baca juga: Pasar Ramadhan PKBM Bestari, Modal Memberdayakan Peserta Didik

Dalam kerangka acuan kegiatan yang disusun UNICEF, Pendidikan Kesetaraan dipandang sebagai jalur pembelajaran yang dirancang fleksibel untuk menjangkau murid yang melanjutkan pendidikan di luar sistem formal. Murid Paket C memiliki latar belakang usia, pengalaman belajar, dan kondisi sosial yang berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan sehari hari, serta dapat diterapkan dalam berbagai konteks pembelajaran pendidikan nonformal.

Muatan Pemberdayaan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Melalui muatan ini, murid diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mengekspresikan gagasan, serta terlibat dalam pembelajaran yang mendorong pemecahan masalah. Pembelajaran diarahkan agar murid tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar melalui diskusi, kerja kelompok, dan refleksi pengalaman. Pendekatan ini memberi ruang bagi murid untuk memahami diri dan lingkungannya.

Muatan Pemberdayaan dan Kebijakan Nasional

Pengembangan Muatan Pemberdayaan selaras dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Nomor 46 Tahun 2025. Dalam bagian Capaian Pembelajaran Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kemampuan mengelola diri, bekerja sama, serta berperan dalam lingkungan sosial. Capaian pembelajaran tersebut menjadi rujukan dalam penyusunan modul dan pelaksanaan pembelajaran Paket C.

Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan yang difasilitasi UNICEF menjadi forum untuk menelaah kesesuaian Modul Pemberdayaan Remaja dengan capaian pembelajaran tersebut. Dalam kegiatan ini, peserta melakukan kajian terhadap struktur modul, alur pembelajaran, kegiatan inti, serta bentuk penilaian. Aspek keterbacaan bahasa dan kemudahan penggunaan juga menjadi perhatian agar modul dapat digunakan secara efektif oleh pendidik di lapangan.

Selain itu, proses lokakarya juga menelaah kesesuaian modul dengan kerangka kurikulum Paket C serta kebutuhan murid Pendidikan Kesetaraan. Diskusi dilakukan untuk memastikan bahwa modul mampu mendukung pembelajaran yang inklusif dan dapat diakses oleh murid dengan latar belakang yang beragam. Dengan demikian, modul diharapkan dapat menjadi panduan pembelajaran yang aplikatif dan relevan.

Baca juga: Menjaga Tradisi dan Budaya tanpa Melukai Keimanan

Bagi pendidik, Modul Pemberdayaan Remaja berfungsi sebagai acuan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Muatan Pemberdayaan. Modul ini membantu pendidik menyusun kegiatan belajar yang terarah, namun tetap memberi ruang penyesuaian sesuai dengan kondisi murid dan satuan pendidikan. Pendekatan ini mendukung pembelajaran yang partisipatif dan mendorong keterlibatan aktif murid.
Penguatan Muatan Pemberdayaan juga mencerminkan upaya peningkatan kualitas Pendidikan Kesetaraan secara berkelanjutan. Pendidikan nonformal diposisikan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peran penting dalam menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Oleh karena itu, peningkatan mutu pembelajaran menjadi perhatian dalam pengembangan Pendidikan Kesetaraan Paket C.

Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid.

Melalui dukungan UNICEF, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna bagi murid. Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran Pendidikan Kesetaraan dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat.

Penyelenggaraan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja menunjukkan komitmen bersama antara UNICEF dan pemerintah dalam memastikan kualitas pembelajaran pendidikan nonformal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi kebijakan di tingkat satuan pendidikan.

Dengan penguatan Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga mendukung pengembangan diri murid. Pendekatan ini memperkaya makna belajar dan memperkuat posisi pendidikan nonformal sebagai bagian penting dalam pembangunan pendidikan nasional.

KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Kampusdesa.or.id–Semesta Mengabdi” DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi aksi nyata gerakan mahasiswa sejak 17 Agustus 2025 di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Fiqhan, Menteri Desa dan Lingkungan Hidup DEMA menemukan tantangan sekaligus harta karun tersembunyi. Gerak ini melahirkan Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI), semangat edukasi dan kolaborasi pembelajaran berbasis alam. Cara ini mengembalikan kecerdasan alam dan semangat konservasi orang desa yang mulai tergadaikan oleh cara hidup baru.

Sidodadi adalah desa dengan kekayaan alam dan budaya yang kuat, namun menghadapi ancaman ekologis yang serius, seperti pendangkalan sungai, banjir tahunan, dan erosi. Alih-alih memilih jalan pintas melalui wisata massal yang berpotensi merusak lingkungan dan melemahkan peran masyarakat, tim pengabdian memilih pendekatan yang revolusioner.

Pendekatan Revolusioner: Eduwisata Berbasis Konservasi

Kami merancang program dengan menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Development), sebuah filosofi pengabdian yang berfokus pada penggalian potensi komunitas lokal. Fiqhan menegaskan, tujuannya bukan menjadikan masyarakat sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama dalam model eduwisata berbasis konservasi.

Puncak dari rangkaian program Semesta Mengabdi ini adalah peresmian Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI). Ini bukanlah kampus konvensional. KATI adalah kampus alam tanpa dinding yang menjadi manifestasi nyata dari tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) yang sepenuhnya berorientasi pada konservasi.

Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Konsep KATI sangatlah radikal dan visioner, sebagaimana berikut ini yakni;

  • Alam sebagai ruang belajar: kami menggeser ruang kelas tradisional menjadikan kelas alam Sidodadi sebagai sumber kurikulum dan lokasi pembelajaran utama.
  • Masyarakat sebagai dosen: Kati mengakui pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adalah guru, dosen, pengajar utama yang mereka juga memiliki kuasa mentransfer kecerdasan alam kepada generasi baru.
  • Aksi konservasi sebagai laboratorium ilmiah: Setiap kegiatan pelestarian dan penanaman langsung di lapangan berfungsi sebagai laboratorium nyata untuk penelitian dan pengujian ilmiah.

KATI dengan demikian dapat menjadi pusat riset lapangan, pengabdian jangka panjang, dan model kampus alternatif yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kati memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengasah kecerdasan alam mereka. Kati menampung berbagai peran kolaborasi dari lembaga pendidikan lain, seperti sekolah, perguruan tinggi, atau para pegiat alam untuk menjadi mitra pembelajar.

Capaian dan Proyek Masa Depan KATI: Ruang Belajar Generasi Baru

Dalam kurun waktu empat bulan pengabdian, tim Semesta Mengabdi menghasilkan capaian konkret yang menjadi fondasi operasional KATI dan dampaknya di masyarakat. Capaian ini tidak hanya berbentuk konsep, tetapi aksi nyata berbasis data lapangan.

Melalui program bidang pendidikan, seperti ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, Kati mengajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah. Melalui KATI dan kecerdasan alam generasi muda Sidodadi melatih dirinya sendiri berkomunikasi secara global dan mengangkat sumber daya alam mereka. Cara belajar demikian menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan berbasis komoditas hayati—menjaga alam sambil membangun masa depan.

Ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, diajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah

Visi Jangka Panjang: Dari Desa ke Laboratorium Nasional

Sebagaimana Mahpur, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggarisbawahi, KATI adalah wadah berdaya masyarakat dan dapat menjadi tempat Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan UIN Malang.

Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

Di masa depan, KATI akan berkembang menjadi pusat konservasi dan pendidikan lingkungan jangka panjang. Fiqhan dan tim berkomitmen untuk mengembangkan kelas alam, laboratorium sungai, pelatihan riset desa, serta program eduwisata konservasi yang melibatkan masyarakat secara penuh. KATI adalah model kampus masa depan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi pada pengalaman nyata di alam.

Peresmian KATI adalah puncak dari sebuah pengabdian dan awal dari komitmen baru untuk menjadikan Sidodadi sebagai desa konservasi yang mandiri dan berkelanjutan. Kunjungi dan jadilah bagian dari revolusi belajar tanpa dinding ini!

Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Malang, 19 Oktober 2025 | Kampusdesa.or.id – Anak-anak Dusun Sempu latihan budidaya ikan lele melalui pendampingan dosen dan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tim Qoryah Toyyibah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan inovasi pembelajaran kontekstual di SDN 03 Gadingkulon, Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, tim melaksanakan kegiatan pembelajaran budidaya ikan lele dengan memanfaatkan galon bekas, sebagai bentuk edukasi kreatif bagi anak-anak desa sekaligus langkah konkret pemberdayaan lingkungan sekolah yang telah lama terbengkalai.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut program revitalisasi aset publik yang telah berjalan sejak pertengahan tahun. Melalui kolaborasi dengan komunitas Pesona Anak Bangsa (PAB) dan Kementrian Desa dan Lingkungan DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim MALANG serta dukungan penuh dari perangkat desa, pembelajaran berbasis praktik ini melibatkan tujuh anak dari tingkat SD dan SMP dengan suasana penuh semangat dan keceriaan.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan langkah-langkah sederhana membuat kolam mini dari galon air bekas. Mereka belajar melubangi galon untuk sirkulasi udara, mencuci wadah, mengisi air bersih, hingga menyiapkan tempat bagi bibit ikan lele yang baru datang dari peternak lokal.

Belajar Otentik, Bukunya Pengalaman Langsung

“Ide ini muncul karena ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian melalui kegiatan nyata,” ujar Fiqhan Khoirul Álim, salah satu fasilitator kegiatan.

Setiap anak mendapatkan satu galon berisi sekitar 50 bibit ikan lele yang menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Mereka juga membuat jadwal harian pemberian pakan pagi dan sore yang akan mereka tandai sendiri di buku catatan.

Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya, tetapi juga diajak memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan.

Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya. Mereka juga memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan. Mereka tampak antusias, bahkan berlomba-lomba membantu teman yang kesulitan saat memindahkan bibit lele ke galon masing-masing.

“Awalnya kami kira cuma belajar teori. Ternyata benar-benar langsung praktik, bahkan bisa pegang ikan lelenya,” ujar salah satu peserta dengan gembira.

Ketua RT setempat turut yang membantu penyediaan bahan dan alat sederhana untuk melubangi galon. Ia mengapresiasi ide pembelajaran ini karena tidak hanya menghidupkan kembali aset sekolah. Pembelajaran ini mengajarkan anak-anak pentingnya memanfaatkan sumber daya sekitar secara bijak.

Membangun Ekosistem Edukatif, Melawan Kesepian

Selain memperkenalkan konsep urban farming, kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju terbentuknya ekosistem lingkungan edukatif di sekitar sekolah. Sebelumnya, area tersebut telah dimanfaatkan warga untuk menanam cabai, terong, dan bawang. Dengan hadirnya kolam lele mini, kawasan sekolah kini menjadi laboratorium kecil yang hidup dan bermanfaat.

Manyingarri Alfianoor Ibrahim, perintis yang menghidupkan SDN Gadingkulon 3 dari kematian

Setelah praktik selesai, anak-anak berdiskusi tentang cara merawat ikan, mengganti air, serta menjaga kebersihan kolam. Mereka juga belajar bahwa ikan lele membutuhkan perhatian dan kedisiplinan, karena jika lalai memberi makan, ikan dapat saling memangsa.

Melalui pembelajaran sederhana ini, anak-anak Dusun Sempu tidak hanya belajar ilmu budidaya, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan. “Kami ingin kegiatan seperti ini berlanjut, agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak meski tidak lagi aktif secara formal,” tutur Menyingari Alfianoor Ibrahim, koordinator lapangan kegiatan.

Program budidaya lele ini menjadi simbol kecil dari gerakan besar revitalisasi SDN 03 Gadingkulon—sebuah upaya nyata mengubah bangunan sepi menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan yang hidup kembali.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim. Aktifis pemberdaya masyarakat sekaligus relawan penggerak Kampus Desa Indonesia. Alumni Fellowship Program For Indonesian Youth Villagers Kampus Desa Indonesia

SDN 3 Gadingkulon Bangkit Lewat Sinergi Deep Learning dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

0

Kampusdesa.or.id–Malang, 3 Oktober 2025. Tim Pengabdian Qoryah Thoyyibah bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Kawah Chondrodimuko memprakarsai diskusi edukatif bertajuk Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini digelar di SDN 3 Gadingkulon, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali sekolah dasar yang sempat vakum kegiatan belajar mengajar selama beberapa tahun.

Atta Fauzi Azizi, salah satu narasumber diskusi, membuka sesi dengan pernyataan yang menggugah kesadaran peserta. “Diskusi ini menjadi ajang untuk tidak hanya memahami kebijakan kurikulum, tetapi juga meninjau bagaimana prinsip Deep Learning bisa diterapkan di konteks nyata. SDN 3 Gadingkulon adalah contoh yang tepat untuk menguji relevansi kurikulum baru dalam kondisi lapangan,” tegasnya.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

Pernyataan itu disambut antusias oleh para peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, serta perwakilan masyarakat sekitar. Mereka menilai bahwa konsep Deep Learning—pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman, refleksi, dan aplikasi—sangat relevan diterapkan di sekolah desa yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Deep Learning sebagai Prinsip Pembaruan Pendidikan di Desa

Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang eksplorasi ide tentang bagaimana kurikulum baru dapat diadaptasi dalam konteks pendidikan desa. Peserta berpendapat bahwa Deep Learning bukan hanya metode pembelajaran berbasis teknologi, tetapi juga strategi berpikir yang menuntun siswa untuk memahami makna dari setiap proses belajar.

Tim Qoryah Thoyyibah menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan murid sebagai subjek aktif dalam belajar. “Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah desa pun bisa menjadi pusat inovasi, asal ada sinergi antara masyarakat, mahasiswa, dan pendidik,” jelas salah satu anggota tim.

Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

PMII Rayon Kawah Chondrodimuko berperan aktif sebagai penggerak kegiatan. Anggota organisasi ini terlibat langsung dalam merancang materi diskusi, menyiapkan perangkat belajar, dan membangun komunikasi dengan warga. Kolaborasi lintas elemen ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan di desa bisa bangkit jika diiringi semangat gotong royong dan keterlibatan komunitas akademik.

Selain membahas teori, peserta juga meninjau langsung kondisi fisik SDN 3 Gadingkulon. Gedung sekolah yang sebelumnya sepi kini mulai berdenyut kembali. Halaman yang sempat ditumbuhi rumput liar kini dibersihkan dan diatur menjadi area belajar terbuka. “Kami ingin menjadikan sekolah ini sebagai ruang kajian, ruang belajar, sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat desa,” kata Atta Fauzi menegaskan arah gerak tim.

Sekolah Desa Sebagai Ruang Pemberdayaan

Kegiatan ini menandai langkah awal dalam menjadikan SDN 3 Gadingkulon sebagai laboratorium sosial pendidikan. Konsep ini tidak hanya menghidupkan kegiatan belajar untuk anak-anak, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.

Warga desa dapat memanfaatkan ruang sekolah sebagai tempat pelatihan keterampilan, literasi digital, hingga forum musyawarah pembangunan. Tim Qoryah Thoyyibah berkomitmen mendampingi proses ini agar sekolah benar-benar menjadi pusat pengembangan potensi desa.

Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

“Sekolah ini harus menjadi simbol hidupnya kembali semangat belajar dan gotong royong masyarakat. Pendidikan bukan hanya urusan guru dan siswa, tapi juga seluruh warga desa,” ujar salah satu anggota PMII dengan penuh semangat.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi model nasional bagi revitalisasi sekolah desa. Dengan dukungan kampus, organisasi mahasiswa, dan masyarakat, SDN 3 Gadingkulon diharapkan tumbuh menjadi ruang inovatif yang memadukan pendidikan, riset, dan pemberdayaan.

Melalui kegiatan ini, Tim Qoryah Thoyyibah menunjukkan bahwa Deep Learning tidak hanya berlaku dalam ruang kelas modern, tetapi juga dapat hidup dalam realitas sosial desa. Proses belajar yang mengakar pada kehidupan masyarakat justru menghadirkan pengalaman mendalam—sebuah bentuk nyata dari education for empowerment.

Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan Deep Learning, SDN 3 Gadingkulon kini menapaki babak baru. Sekolah ini tidak lagi sekadar tempat belajar, melainkan simbol kebangkitan pengetahuan di akar rumput yang berdaya, inklusif, dan berkelanjutan.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

KampusDesa.or.id-Malang, 18 Agustus 2025. Nuansa kemerdekaan 17 Agustus tahun ini terasa berbeda bagi warga Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sebuah sekolah yang lama terbengkalai, SDN 03 Gadingkulon, kembali hidup dengan tawa anak-anak, antusiasme ibu-ibu, dan semangat kolaborasi lintas komunitas melalui acara Semarak Kemerdekaan 2025.

Kegiatan ini digagas oleh Tim Pengabdian Qoryah Toyyibah UIN Malang bersama Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA UIN Malang, dengan dukungan berbagai komunitas sosial. Berlangsung pada 16 Agustus 2025, sehari sebelum upacara kemerdekaan di desa, acara ini menjadi momentum penting untuk menjadikan kembali gedung SDN 03 sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Dari Bangunan Sunyi Menjadi Ruang Ekspresi

Sejak resmi ditutup pada 2023 karena kekurangan murid, SDN 03 Gadingkulon lebih sering sunyi dan terbengkalai. Namun, melalui acara Semarak Agustusan, bangunan tua itu mendadak penuh aktivitas. Berbagai stand edukasi dan hiburan digelar, mulai dari ruang cerita, ruang baca, healing art, cek kesehatan gratis, hingga terapi tradisional Bali dan kartu tarot Nusantara.

Iqbal. Anak-anak Gadingkulon diajak bermain cerita ular tangga oleh Mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang

Anak-anak tampak larut dalam kegiatan menggambar bebas di stand healing art dan membaca buku di ruang baca. “Rasanya senang, seperti sekolah lagi tapi lebih seru,” ungkap salah seorang anak desa dengan wajah ceria.

Sementara itu, stand kesehatan gratis menjadi daya tarik tersendiri bagi para lansia. Panitia bahkan menjemput warga untuk memastikan mereka bisa mendapat layanan pemeriksaan kesehatan.

Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

Meski sempat terkendala karena bertepatan dengan lomba gerak jalan tingkat kecamatan, acara ini tetap berlangsung meriah. Berawal dari anak-anak yang datang, informasi pun menyebar dari mulut ke mulut, membuat jumlah pengunjung semakin ramai menjelang siang dan sore.

Ibu-ibu desa menjadi peserta paling antusias ketika senam berhadiah digelar. “Alhamdulillah acaranya seru dan ramai. Sekolah ini adalah sekolah masa kecil kami. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa sering diadakan, agar sekolah ini kembali hidup walau hanya setiap minggu,” tutur salah satu warga penuh harap.

Simbol Kebangkitan Aset Publik

Bagi Tim Qoryah Toyyibah, Semarak Agustusan tidak sekadar perayaan kemerdekaan, tetapi juga simbol kebangkitan aset publik yang lama terbengkalai. Pak Mahpur, ketua tim penabdian  menegaskan bahwa kegiatan ini adalah langkah nyata untuk menghidupkan kembali potensi SDN 03 Gadingkulon.

“Sekolah ini berada di lokasi strategis. Sayang jika hanya dibiarkan kosong. Melalui acara ini, kami ingin menunjukkan bahwa aset lama bisa bernyawa kembali bila diisi dengan kegiatan positif,” ujarnya.

Cek kesehatan gratis. Usaha memanfaatkan aset komunitas bermanfaat

Harapan serupa datang dari pemuda desa. Mereka menilai perayaan tahun ini lebih meriah dibanding sebelumnya karena sekolah menjadi tempat pelaksanaannya. Untuk pertama kalinya, warga Dusun Sempu menggelar upacara bendera 17 Agustus di halaman SDN 03 Gadingkulon, sehingga memperkuat simbol bahwa gedung ini mulai hidup kembali dan digunakan untuk berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

“Kami berharap Semarak Agustusan ini menjadi pintu pembuka. Selanjutnya, program-program berbasis pendidikan, literasi, hingga pemberdayaan ekonomi akan terus dilaksanakan di sini,” tutur Alfin Mustikawan.

Dengan semangat kebersamaan, acara Semarak Agustusan 2025 berhasil membuktikan bahwa gedung sekolah yang lama sunyi dapat kembali menjadi pusat kehidupan desa. SDN 03 Gadingkulon kini tidak hanya menyimpan kenangan masa lalu, tetapi juga harapan baru bagi warga Dusun Sempu.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim