Senin, Mei 4, 2026
Beranda blog Halaman 23

Menanya Ulang Tujuan Pendidikan Modern

0

Munculnya revolusi industri pertama abad 18 silam hingga tahap keempat hari ini telah mempengaruhi secara masif dunia pendidikan. Tujuan pendidikan yang semula ingin mendewasakan manusia baik secara jasmani maupun ruhani, beralih ingin menjadikan manusia compatible dengan kebutuhan industri. Pendidikan menjadi kian profan dan mulai kering dari sentuhan cahaya ketuhanan.

Kampusdesa.or.id-Termasuk efek dari kemunculan revolusi industri adalah tumbuhnya pola pikir dan gaya hidup yang menyokong dan berorientasi pada pertumbuhan industri. Coba lihat saja, makin hari gaya hidup manusia makin konsumtif, matrealis, hedonis, profit oriented, dan kompetitif. Ukuran-ukuran kebaikan juga mengalami pergeseran menjadi lebih profan. Semua ini merupakan tonggak penyokong pertumbuhan industri. Ironisnya, pendidikan ternyata tak bisa menghindarkan diri dari efek ini.

Paradigma pendidikan modern yang mengusung slogan humanisme, secara kasat mata memang menjadi angin segar bagi masa depan manusia. Martabat manusia sebagai makhluk yang berpikir, berkehendak, dan berhati nurani sangat dihargai. Karakteristik dan keunikan manusia mendapatkan tempat yang layak. Oleh karenanya, pembelajaran yang diselenggarakan di kelas-kelas ditekankan supaya memposisikan peserta didik sebagai pusatnya (student centered). Mereka difasilitasi untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri.

Paradigma lama dimana guru sebagai aktor utama di kelas dikritik keras. Akibatnya, metode ceramah yang dulu menjadi andalan, kini dinilai tak lagi efektif dan relevan (benarkah?)

Peran dan fungsi pendidik juga sedikit digeser (atau ditambah?) menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Harapannya, peserta didik mampu mengalami pembelajaran yang lebih bermakna, karena proses belajar lebih banyak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami (learning by doing). Paradigma lama dimana guru sebagai aktor utama di kelas dikritik keras. Akibatnya, metode ceramah yang dulu menjadi andalan, kini dinilai tak lagi efektif dan relevan (benarkah?).

Sampai di sini tidak ada hal yang aneh atau patut dipertanyakan (debateble). Namun, bila kita berlanjut menyorot visi yang diusung pendidikan modern yang terus menerus ditanamkan ke dalam diri peserta didik sepanjang waktu, kita akan mengerutkan dahi. Terlebih jika kita pertemukan dengan visi utama pendidikan menurut Islam.

Paradigma pendidikan modern, di samping humanis, juga industrialis. Hal ini tampak pada sistem pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menjadi pasokan modal bagi industri (human resource)

Mari sejenak kita telisik. Paradigma pendidikan modern, di samping humanis, juga industrialis. Hal ini tampak pada sistem pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menjadi pasokan modal bagi industri (human resource). Para orang tua, guru, dan sekolah berharap anak-anak yang sekarang sedang belajar kelak tidak akan kesulitan mencari kerja. Mereka diharapkan mempunyai daya saing yang kuat, sebab persaingan di dunia kerja kini makin ketat dan global.

Peserta didik didorong untuk menjadi kontestan kompetisi yang mempunyai sederet keunggulan dibanding lawannya. Jam belajar bertambah, jam bermain berkurang.

Guna memacu motivasi peserta didik supaya belajar sungguh-sungguh, iklim kompetitif pun dibangun sedemikian rupa. Peserta didik didorong untuk menjadi kontestan kompetisi yang mempunyai sederet keunggulan dibanding lawannya. Jam belajar bertambah, jam bermain berkurang. Sepulang sekolah, anak-anak masih disuruh mengikuti les di lembaga bimbingan belajar atau secara privat. Tujuannya, jelas, supaya mereka menjadi pemenang. Mindset yang dibangun, hanya mereka yang pandai, cerdas, dan terampillah yang akan memenangkan kompetisi di dunia kerja.

Tapi, apakah sesepele itu hakikat tujuan pendidikan?

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia menjadi insan kamil, yaitu manusia yang memahami status kemanusiaannya, baik sebagai hamba, maupun khalifah.

Bila kita arahkan pandangan pada konsep pendidikan dalam Islam. Kita akan dapati bahwa tujuan pendidikan pada hakikatnya jauh lebih mulia dibandingkan itu. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia menjadi insan kamil, yaitu manusia yang memahami status kemanusiaannya, baik sebagai hamba, maupun khalifah. Insan kamil adalah mereka yang mampu bersyukur atas karunia Allah, beriman, bertakwa, dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca Juga:
Infinity Education: Wajah Baru Pendidikan di Era 4.0
Mengembangkan Pendidikan Segar Rasa
Benarkah Sekolah Mengerdilkan Belajar?

Jadi, orientasi pendidikan semestinya tidak hanya memprioritaskan pada penguasaan kompetensi industrialistik tadi, tapi jauh menyentuh wilayah spiritual. Sebab, pada akhirnya, yang dibawa menghadap ke hadirat Tuhan adalah hasil olah spiritual. Proses pembelajaran yang dilakukan harus dirancang sedemikian rupa supaya dapat mendorong tumbuh-kembangnya spiritualitas peserta didik. Olah rasa dan olah jiwa menjadi prioritas utama di samping olah raga.

Pengabaian terhadap spiritualitas, akan berdampak pada keringnya hati peserta didik dari sentuhan cahaya ilahiah.

Kedalaman spiritual akan menyokong perkembangan domain afektif peserta didik. Tertanamnya iman, takwa, dan tawakal secara kuat dalam diri peserta didik akan menjaga mereka dari perilaku negatif atau menyimpang. Hati nurani mereka menjadi jernih, sehingga memudahkan guru memberikan teladan bagaimana hidup dengan akhlak yang mulia. Pengabaian terhadap spiritualitas, akan berdampak pada keringnya hati peserta didik dari sentuhan cahaya ilahiah. Pada akhirnya, mereka akan menjadi manusia yang hanya mempedulikan urusan duniawi dan lupa pada urusan ukhrawi.

Pendidikan modern semestinya menjadi model pendidikan yang memadukan secara seimbang pengembangan domain kognitif, efektif, psikomotorik dan juga spiritualitas.

Mengenali Emotional Burnout dan Tips Untuk Mengatasinya

0

Istilah emotional burnout beberapa tahun belakangan ini sering digunakan untuk menggambarkan rasa stress dan tertekan akibat pekerjaan, sehingga menimbulkan rasa lelah yang menumpuk dan berkepanjangan. Dalam tulisan ini akan mengenal apa itu emotional burnout dan bagaimana cara mengatasinya.

Kampusdesa.or.id–Satu kondisi yang rata-rata hampir dialami oleh semua orang, yaitu kondisi lelah. lelah karena tumpukan pekerjaan, lelah karena padatnya aktivitas atau lelah karena rutinitas yang sama dalam kurun waktu yang lama. Jika kita tidak dapat mengatasi lelah kita sendiri, sehingga menjadi kelelahan yang berkepanjangan akibatnya bisa memicu terjadinya tekanan-tekanan dan tantangan yang menimbulkan ketegangan emosional dan jika ini berlanjut maka akan menimbulkan stress.

Mungkin kamu juga pernah mengalami. Tiba-tiba merasa tidak semangat dan tidak berminat melakukan suatu hal, tiba-tiba suka marah pada hal-hal yang sebenarnya itu remeh. malas melakukan apa-apa padahal bukan karena mager tapi lebih kepada hilangnya motivasi.  Lalu efeknya juga kefisik menjadi lebih gampang capek padahal waktu istirahat tidak berkurang.

Nah, kalau kamu juga sedang dalam kondisi tersebut berati kamu perlu waspada, karena kondisi tersebut merupakan tanda-tanda stress. Wajar saja kalau lelah karena setiap hari kita harus melawan fikiran kita yang kadang bertolak belakang dengan kemampuan yang kita miliki. Kondisi stress ini juga tidak dapat dihindari dengan mudah, karena yang namanya kita hidup, normal sekali kalau kita merasakan beban yang begitu berat dan sangat penat.

Setiap orang pasti pernah mengalami stress bahkan anak kecil sekalipun, namun setiap orang juga dibekali cara pegalihan stress yang berbeda-beda. Setiap orang juga hebat karena dia sanggup mengalihkan atau mengatasi stressnya sehingga menjadi kuat untuk menjalani hidupnya.

Jika kita mampu melakukan hal yang masih membuat kita senang ketika kita dalam keadaan stress itu bukan merupakan masalah yang serius. Namun jika lelah kita terus berkepanjangan dan tidak bisa kita hilangkan, emosi yang terus menerus tidak stabil dan berefek pada rutinitas sehari-hari, sampai malas makan mandi atau tidur, tidak bisa menikmati hidup dan sampai beranggapan bahwa “aku sudah tidak berdaya menjalani hidupku” mungkin kamu harus kenal dengan emotional burnout.

Emotional burnout merupakan kondisi psikologis yang negatif yang memunculkan gejala baik itu secara fisik, tingkah laku, koginitif atau cara berfikir kita. Nah, kelelahan emosinal sendiri merupakan bagian dari dimensi emotional burnout (Maslach, 1993).

Emotional burnout merupakan kondisi psikologis yang negatif yang memunculkan gejala baik itu secara fisik, tingkah laku, koginitif atau cara berfikir kita. Nah, kelelahan emosinal sendiri merupakan bagian dari dimensi emotional burnout (Maslach, 1993).

Churiyah (2011) mendefinisikan kelelahan emosional merupakan bagian dari perasaan seseorang yang ditandai dengan rasa tidak berdaya dan depresi. Menjalani hubungan yang tidak seimbang antara apa yang dikerjaan dengan dirinya sendiri. Sehingga emosi menjadi terkuras karena adanya ketegangan. Kelelahan emosional ini biasanya ditandai dengan munculnya rasa cemas ketika akan melakukan sesuatu pekerjaan kemudian dia merasa tidak berdaya untuk menghadapi tuntutan-tuntutannya.

Emotional burnout adalah tumpukan dari stress, terdengar sederhana namun emotional burnout ini sangat berbahaya, karena bisa mengganggu kita berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Emotional burnout ini bisa menyerang siapa saja dari berbagai usia, tapi dari penelitian (Cooper, dkk, 2001) ditemukan kalau yang paling banyak terserang emosional ini adalah pekerja yang berusia muda dibanding pekerja yang berusia tua. Profesi pelayanan (seperti guru, perawat ataupun ASN) menjadi profesi utama yang menyebabkan seseorang mengalami emotional burnout, karena profesi ini melibatkan tuntutan emosional setiap harinya.

Lalu bagaimana sih caranya kita bisa mengenali apa saja penyebab dari emotional burnout sehingga kita bisa tau sejauhmana kondisi kita dan bagaimana cara mengatasinya??

Ada banyak sekali faktor yang menjadi penyebab seseorang mengalami kondisi emotional burnout mulai dari faktor dalam individu sendiri, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status perkawinan. Termasuk yang belum menikah lebih rentan mengalami emotional burnout lhoo… Kemudian faktor kepribadian seseorang (konsep diri yang rendah, individu yang terlalu insecure dan bahkan individu yang terlalu fleksibel atau sulit berkata tidak pada peran yang datang).

Selanjutnya faktor pekerjaan (seseorang yang terlalu banyak peran dalam bekerja terlalu terbeban dengan tanggungan kerja yang banyak dengan waktu yang singkat  atau seseorang yang belum menemukan peran dalam pekerjaan masih ambigu dengan apa yang harus dia kerjakan). Adapun penyebab terakhir adalah faktor organisasi (tekanan yang berat tanpa adanya dukungan baik itu dari diri sendiri, keluarga, teman dekat, atau dukungan dari kelompok yang lebih luas lagi menjadi faktor pemicu munculkan emotional burnout dalam seseorang).

Penyebab-penyebab tersebut jika tidak disikapi dengan tepat maka akan menimbulkan gejala emotional burnout seperti kehilangan energi, keletihan yang terus menerus, kebosanan disertai sikap apatis, lari dari kenyataan, merasa tidak dihargai, emosi yang semakin tidak stabil, peyangkalan terhadap kenyataan akan keadaan dirinya sendiri dan bahkan bisa menimbulkan psikosomatis. Lantas bagaimana kita mengatasi emosional burnout ini?

Baca Juga:
Telekonseling: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi

Pertama, ketika kita merasakan kelelahan secara fisik segerakan untuk mengambil teknik relaksasi atau bisa dengan refreshing untuk menghilangkan kepenatan sejenak dari rutinitas yang kita lakukan setiap harinya. Kedua, ketika emosi kita mulai tidak stabil maka berilah waktu untuk dirimu sendiri, karena ketika kita merasa lelah kita menjadi lebih gampang marah dengan hal-hal yang sepele sehingga kita sulit untuk berfikir positif.

Ketiga, ketika kita mulai merasakan semangat atau performance kita menurun maka segeralah memotivasi dirimu sendiri terlebih dahulu dengan prestasi yang telah kamu dapatkan sebelumnya. Terakhir, ketika kita merasa sangat lemah dan tidak berdaya lagi mulailah aktivitas dengan kegiatan yang bertemu dengan banyak orang dari sinilah kita akan menemukan semangat dari oranglain yang akan memberikan efek positif bagi kita sebagai langkah menghindarkan diri dari kondisi emotional burnout atau kelelahan yang berkepanjangan.

Bukan Hanya Kita, Anak Juga Butuh Untuk Didengar

0

Seringkali, kita disibukkan oleh hal-hal duniawi yang membuat kita ‘seakan’ lupa akan hadirnya malaikat kecil (anak) yang telah dititipkan oleh Tuhan. Mari refleksi sejenak, kapan terakhir kali kita mendengar celotehnya? Kapan terakhir kali kita memandang wajahnya? Kapan terakhir kali kita memperhatikan tingkah lucunya? Tidak jarang kita beranggapan bahwa memberikan anak  sebuah hadiah adalah ‘cukup’ untuk membuatnya bahagia, padahal “Anak-anakmu lebih butuh kehadiranmu daripada hadiahmu” – Jesse Jackson

Kampusdesa.or.id – Tidak dapat dipungkiri, adanya pandemi ini telah memberikan kita pelajaran tentang betapa berharganya sebuah ‘waktu’ bersama keluarga. Tuhan memberikan waktu untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, setidaknya untuk menikmati secangkir teh bersama. Sederhana bagi yang telah terbiasa berkumpul bersama keluarga, namun begitu indahnya bagi mereka yang hanya bersama ketika hari libur tiba. Bagaimanapun, tempat berpulangnya kita dari hiruk pikuk dunia tetaplah kepada keluarga. Keluargalah yang meneduhkan hatimu, juga pikiranmu.

Begitu pula buah hati kita. Anak merupakan manifestasi masa depan yang sungguh tidak ternilai harganya. Mendidik anak dengan baik, berarti telah memperkokoh pondasi generasi kita. Menjadi pendengar yang baik, memperhatikan tumbuh kembangnya, dan yang pasti adalah ‘membagi’ waktu untuk mereka. Sekali lagi, memberikan ‘waktu’ yang tepat akan membuat mereka merasa untuk lebih dicintai, karena yang paling penting adalah anak sadar bahwa mereka dicintai oleh orang tuanya.

Mencintai anak tidak cukup, yang terpenting anak sadar bahwa mereka dicintai oleh orang tuanya – St. John Bosco.

Salah satu cara agar anak kita merasakan betapa besarnya cinta kita adalah dengan mendengarnya. Mendengar keluh kesahnya, canda tawanya, apapun tentangnya. Meski seringkali ada beberapa pertanyaan yang berulang untuk dipertanyakan, juga ada pernyataan yang berulang untuk dinyatakan. Sejatinya, saat kita mendengarkan anak kita, kita akan mengetahui apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan alami (beingtheparent.com).

Sedikit cerita, saya mempunyai banyak sepupu dengan berbagai rentang usia. Ada yang berada pada usia 3 tahun, 5 tahun, bahkan 9 tahun. Sesekali saya mengajaknya bicara, memberikan stimulus agar mereka tidak hanya bermain gadget. Stimulus yang tepat akan memberikan respon yang baik dari mereka, saya terus mendengarnya, dan ternyata banyak sekali yang mereka ceritakan. Mulai dari kegiatan sekolah, teman bermain, dan apa yang mereka lakukan ketika pandemi ini.

Singkat cerita, sepupu saya yang berusia 9 tahun merasa kewalahan untuk menyelesaikan tugas dari gurunya. Masih ingat sekali ketika dia berkeluh kesah, “aku kesel, mbak, tugase uakeh,” (aku lelah mbak, tugasnya banyak). Memang benar adanya, pembelajaran daring dirasa lebih membosankan karena tidak adanya interaksi langsung antara guru dan siswa.

Saya perhatikan tugas yang satu belum selesai, ada lagi tugas yang baru. Bagaimana tidak, mau tidak mau siswa juga harus mampu mengejar materi yang disampaikan oleh guru melalui daring. Diakui atau tidak, pembelajaran juga menjadi kurang maksimal. Apalah daya, semoga Tuhan segera memusnahkan pandemi ini, amin.

Bukan hanya bercerita, mereka juga aktif untuk menanyakan banyak hal. Sejatinya, rasa ingin tahu anak akan sesuatu begitu besar. Seringkali mereka menanyakan hal yang sama berulang kali. Seolah memastikan, apakah pertanyaan mereka terjawab dengan benar.

“Cara terbaik untuk membuat anak-anak menjadi baik adalah dengan membuat mereka bahagia.” Oscar Wilde

Ketika jenuh melanda, cobalah sejenak untuk mengingat betapa bahagianya menyambut kehadiran mereka di dunia. Mengingat untuk pertama kalinya Tuhan mengirimkan hadiah terindah untuk orang tua yang telah diberikan amanah. Serta mengingat untuk pertama kalinya kita berjanji untuk menjaganya, mencintainya, serta merawatnya dengan sepenuh hati.

Dengan mendengar, kita akan lebih banyak belajar untuk menghargai orang lain, belajar tentang pengalaman hidup, dan pastinya belajar untuk memahami orang lain. Apalagi dalam konteks ini adalah mendengarkan anak yang notabene sangatlah penting untuk masa tumbuh kembang mereka.

Sekali lagi, bukan hanya kita (orang dewasa) yang butuh untuk didengar, tapi juga anak-anak kita. Setidaknya, berikan memori yang indah untuk diingat ketika mereka dewasa kelak. Tawa, canda, suka cita akan terekam dalam ingatan jangka panjangnya. Memberikan mereka kebahagiaan, berarti merangkai kebaikan-kebaikan mulia dalam hatinya yang akan terukir sepanjang masa.

“Kehidupan, cinta dan canda tawa merupakan sebuah hadiah tak ternilai bagi anak-anak kita” – Phyllis Dryden

Baca juga : Rumahku Gua Hira-ku, latihan Mindfulness di Rumah

Sejauh Mana Kita Peduli Pada Hobi Orang Tua?

0

Kita kadang lupa tentang kesenangan personal orang tua, yang bahkan bagi kita, hal-hal tersebut remeh bin sederhana. Kesenangan personal mereka yang tak berbiaya tinggi. Memasak kue, memancing, merawat tanaman, atau kesenangan personal lainnya. Dan paling ideal dari kesenangan-kesenangan personal itu adalah adanya saluran untuk aktualisasi.

Kampusdesa.or.id-Suatu ketika, saat pulang ke kampung halaman, saya jumpai ibu saya sedang asyik membuat kue kering. Beliau tampak asyik menikmatinya, sambil dibantu bapak dan adik saya. Meski cuaca desa kami sedang panas-panasnya, ibu tak merasa gerah sama sekali. Peluh keringat yang mengalir deras tak terasa mengganggunya.

Pesanan saat itu tak banyak, hanya sekitar setengah kilo kue kering saja. Terlihat, semua kuenya hampir matang. Sambil memberesi alatnya, ibu menoleh ke arah saya yang baru tiba di rumah.

“Baru datang tho, le?”

“Iya, bu. Berangkat tadi pagi. Ibu masih sibuk buat kue, tho?”

“Iya, le. Lha wong cuma hobinya cuma ini”

Apa ibu rela repot membuat kue yang ketika dijual nanti tak mendapat laba berlipat-lipat, lalu Ibu menamainya sebagai hobi?

Saya tersentak. Ibu berkata bahwa itu cuma sekedar hobi. Apa benar? Apa ibu rela repot membuat kue yang ketika dijual nanti tak mendapat laba berlipat-lipat, lalu Ibu menamainya sebagai hobi?

Saya amati, belakangan ibu dan bapak sudah masuk usia senja. Usia dimana kata orang, sudah waktunya banyak bersila. Artinya, sudah tak lagi direpotkan dengan berbagai target atau capaian hidup. Sudah waktunya menikmati hidup, kira-kira begitu.

Selain hobi membuat kue, ibu juga hobi menjahit. Saat SMA dulu, ibu sempat ikut kursus menjahit. Setelah lulus kursus, kakek saya membelikan ibu sebuah mesin jahit. Hingga sekarang, mesin jahit itu masih bisa dipakai seperti biasa, meski terkadang rewel minta diperbaiki.

Meski orderan menjahit tak sebanyak tukang jahit umumnya, ibu tetap melayani siapa saja yang datang. Entah orang datang sekedar mengecilkan baju atau celana, memesan sarung bantal atau guling, dan lainnya. Ibu pun tak mematok tarif. Seikhlasnya. Benar, ibu tak pernah meminta berapa uang yang harus dibayar.

Selain menjahit, belakangan ibu lebih intens membuat kue. Alasannya sederhana, karena hobi, seperti saya tulis di atas. Ibu beralasan, karena usia sudah makin senja, apalagi yang mau ibu cari selain menikmati hidup, selain menikmati hidup, salah satunya dengan membuat kue itu.

Berbeda dengan bapak. Bapak saya termasuk orang yang suka bergaul dengan banyak orang. Tak heran, bapak pernah memegang salah satu jabatan penting di desa. Dua kali beliau pernah memegangnya.

Meski tak pernah kuliah, jiwa bapak ibarat aktivis. Beliau aktif dalam berbagai acara atau kegiatan, meski lingkup desa. Tak heran banyak orang menyukai sosok bapak, meski tak sedikit pula yang tidak menyukainya.

Masuk usia senja, kelincahan bapak tak lagi seperti sedia kala. Bapak sudah mulai tak aktif dalam berbagai kegiatan di desa. Bapak lebih memilih menghabiskan waktu untuk bekerja di pabrik kertas lalu pulang ke rumah. Bila senggang, bapak lebih memilih untuk memancing atau merawat tanaman. Bapak suka merawat tanaman karena bapak dulu alumni SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) yang sekarang gedung sekolahnya beralih fungsi menjadi kantor anggota dewan.

Sepintas, hobi-hobi tampak biasa, dan alasan kedua orang tua saya tampak menggelikan, tho?

Sepintas, hobi-hobi tampak biasa, dan alasan kedua orang tua saya tampak menggelikan, tho? Seorang ibu berkepala lima yang mengatakan bahwa hal-hal yang ia lakukan itu sebatas hobi saja. Tapi disitulah sisi yang kerap kita abaikan selama ini.

Kita sebagai seorang anak sering memikirkan bagaimana orang tua kita nanti saat masuk usia senja. Kita sering membayangkan bagaimana membuatkan rumah yang nyaman untuk mereka, bagaimana jaminan kesehatan mereka, bagaimana mereka bisa beribadah dengan tenang, bagaimana mereka bisa bertemu tiap hari dengan cucu mereka, dan seabek angan-angan lain.

Kita kadang lupa tentang kesenangan personal orang tua, yang bahkan bagi kita, hal-hal tersebut remeh bin sederhana. Kesenangan personal mereka yang tak berbiaya tinggi. Memasak kue, memancing, merawat tanaman, atau kesenangan personal lainnya. Dan paling ideal dari kesenangan-kesenangan personal itu adalah adanya saluran untuk aktualisasi.

Kita pasti paham bahwa membuat kue tentu melibatkan orang lain, yaitu pembeli. Namun, bagi ibu saya, bukan masalah nantinya bila tak mendapat keuntungan berlipat dari penjualan kue. Proses membuat kue itu sendiri sudah sangat menyenangkan bagi ibu saya.

Pun demikian bagi bapak. Hobinya memancing tak membuat bapak ingin mendapat ikan sebanyak mungkin. Adanya waktu luang untuk memancing, meski berbekal alat pancing sederhana, hal itu sudah sangat menyenangkan bagi bapak.

Maka, ada baiknya, sebagai anak, kita bisa menyiapkan saluran untuk hobi sebagai aktualisasi personal orang tua kita. Bahkan, bila perlu, tidak melarang mereka tetap bekerja. Bukan berarti kita memanfaatkan orang tua kita. Hal itu demi mereka tetap eksis, tetap merasa berdaya, tetap segar dan tetap bahagia.

Bahaya Daring Tanpa Jeda, Digital Detok di Tengah Pandemi Covid-19 Sangat Dianjurkan.

0

Memasuki bulan ke enam sejak status pandemi Covid-19 ditetapkan, sebagian lini kehidupan dilakukan dengan cara daring bahkan berlanjut hingga menjelang  new normal diakhir tahun 2020. Tak diragukan lagi konsumsi internet dan paparan informasi online menjadi candu di tengah pandemi, terutama proses virtual di sektor pendidikan. Segala hal mengenai candu atau addiction pasti memiliki dampak negatif, maka perlu adanya digital detox demi menjaga kesehatan tubuh dan mental.

Kampusdesa.or.id-Pembatasan akses dalam masa karantina wilayah baik dalam masa transisi new normal serta penetapan protokal kesehatan pada dunia kerja menimbulkan tantangan baru. Hal yang terlihat adalah dalam kegiatan belajar mengajar, seluruh model pertemuan dalam proses pembelajaran dialihkan dalam jaringan (daring). Hal tersebut meningkatkan intensitas pertemuan virtual bagi pelajar. Kategori pelajar disini mencakup anak usia SD,SMP,SMA. Kominfo (24/04/2020) mencatat terjadi pergeseran pengguna internet, dimana yang sebelum nya mayoritas pengguna berada di kantor, kampus dan ruang publik kini bergeser ke rumah, permukiman dan tempat tinggal .

Pandemi covid-19 ini merupakan tragedi yang mengejutkan dan memberi hantaman keras pada perekonomian nasional, ketidaksiapan orangtua menghadapi konsekuensi pandemi membuat mereka tidak fokus mendampingi anak dalam online learning. Selain itu , BPS tahun 2018 menuturkan bahwa indeks pembangunan teknologi Indonesia masih dalam kategori rendah yaitu skala 4,4 dari skala 1-10, info tersebut menggambarkan pembangunan yang tidak merata dalam hal teknologi informasi. Sehingga banyak penduduk yang masih awam dalam dunia virtual khususnya di pedesaan dan diluar pulau jawa.

Intensitas daring yang meningkat, lemahnya kontrol orangtua dan kurangnya kemampuan pelajar dalam mengatur waktu membuat mereka sangat rentan mengalami gadget addiction. Asusmi tersebut diperkuat dengan maraknya online game yang semakin menjamur sebagai bentuk expresi kebosanan selama study from home. Bahkan CNN (01/04/2020) merilis berita bahwa pengguna game online naik sekitar 75% ditengah pandemi Covid-19.

Sementara itu, kurikulum darurat pembelajaran jarak jauh (PJJ) menuntut mata guru untuk melek digital. “ Kualitas guru akan mentukan kualitas pembelajaran jarak jauh yang interaktif “ jargon tersebut tidak sesuai dengan realita karena tidak adanya pembekalan yang cukup dibidang TIK. Selain itu target pemenuhan kurikulum membuat guru kian tertekan dan rela berlama lama membuat konten pembelajaran daring. Kebahagiaan guru juga dipertaruhkan mengingat masih banyak guru yang belum mendapat gaji yang cukup namun harus ikhlas menyisihkan uang untuk biaya quota internet.   Oleh sebab itu, kesehatan mental guru sangat perlu dirawat mengingat beban yang ditanggungnya.

Gadget addiction merupakan fenomena ketika seseorang dikendalikan oleh gadgetnya seperti hp, laptop, tablet dan media elektronik lainnya.  Merasa tidak tenang atau hampa jika tidak menggunakan gawai, over thinking ketika tidak update informasi online dan sebagian besar waktu tersita untuk gadget. Seseorang yang kecanduan gawai otomatis akan kecanduan internet terutama dalam masa masa daring seperti saat ini. Kecanduan gadget dan internet kurang lebih akan menimbulkan gangguan psikis seperti nomophobia ( no mobile phobia ) atau mengalami fomo phobia ( fear of missing out phobia)

Rangkuman gangguan akibat berlama lama di layar digital dari berbagai sumber dapat dibagi menjadi dua, gangguan fisik dan gangguan mental. Gangguan fisik antara lain adalah kurang tidur yang menyebabkan obesitas, diabetes, badan pegal , text nect , dan penuaan dini. Sementara gangguan psikologis yang dapat dialami oleh pecandu gadget antara lain adalah kesepian, tidak tenang ingin selalu update info online (fomophobia), stress, mengisolasi diri dan perilaku impulsif.

Study from home membuat pelajar dan guru sangat mungkin mengalami gangguan psikologis, Toxic comparison salah satunya,  yaitu penyakit hati dimana selalu membanding bandingkan kehidupan personal dengan kehidupan orang lain terhadap apa apa yang terlihat di media sosial. Hal ini justru akan mengurangi kepuasan hidup, kebahagiaan dan menimbulkan depresi.

 Toxic comparison salah satunya,  yaitu penyakit hati dimana selalu membanding bandingkan kehidupan personal dengan kehidupan orang lain terhadap apa apa yang terlihat di media sosial

Kehadiran teknologi seyogyanya membuat kreativitas dan keilmuan pelajar meningkat karena mudah dalam mengakses informasi, tapi di tengah pandemi seakan akan siswa terkurung dalam sangkar pembelajaran online, terlena dan nyaman mengkonsumi hal hal yang tidak membuatnya produktif.

Baca Juga:

Merdeka Belajar di Tengah Covid-19, Benarkah Anak Hanya Sebatas Burung Dalam Sangkar?
Hari Pendidikan Nasional, Tantangan dan Potensi Pendidikan di Indonesia Pasca Covid-19.

Ketika pelajar sudah terbiasa menggunakan gadget tanpa tujuan positif, maka gairah belajarnya akan berkurang, kreativitasnya akan tumpul, mereka telah baku menjadi seorang penonton sejati di depan digital screen. Layaknya sifat penonton, mereka hanya menjadi petugas sorak sorai dan pencemooh tanpa bisa beraksi , mental passengger telah tertanam dalam diri mereka akibat terlalu lama di depan gadget. Referensi hidupnya adalah apa yang suka mereka tonton bukan apa yang baik untuk ditonton. Hal ini perlu mendapat perhatian karena PJJ memiliki potensi buruk terhadap kesehatan mental siswa.

“ Ketika pelajar sudah terbiasa menggunakan gadget tanpa tujuan positif, maka gairah belajarnya akan berkurang, kreativitasnya akan tumpul, mereka telah baku menjadi seorang penonton sejati didepan digital screen”

 Tak bisa dielak lagi, digital detok sangat direkomendasikan untuk menyeimbangkan hidup di tengah pandemi . Berikut adalah langkah langkah sederhana yang bisa dilakukan publik untuk melakukan puasa digital :

Matikan notifikasi

Notifikasi gadget yang selalu berdering akan membuat seseorang selalu terjaga dan fokus terhadap gadgetnya. Maka mematikan notifikasi media sosial yang tidak penting akan membantu anda untuk tenang dan fokus pada pekerjaan di dunia nyata.

Matikan hp ketika makan

Hal ini mungkin terlihat sepele, namun kebiasan makan sembari menggunakan android adalah perilaku yang tidak baik dan menjadi kebiasaan favorit dikalangan pemuda saat ini. Makan menjadi kurang nikmat dan cenderung menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menyantap makanan.

No tech zone room

Buatlah peraturan zona bebas gawai, misalkan di kamar tidur atau di ruang belajar  anda menetapkan untuk tidak menggunakan gadget. Hal ini akan membantu untuk lebih rileks dan fokus di ruang kerja. Termasuk ketika akan tidur, jauh kan hp dari tempat tidur.

Belajar melalui buku

Kemajuan teknologi membuat anda lebih suka menggunakan aplikasi digital untuk belajar seperti melalui youtube, website dan e book. Hal itu memang menambah akselerasi pengetahuan. Namun efek sampingnya adalah membuat anda kecanduan internet dan gawai. Maka belajar melalui buku adalah pilihan yang tepat untuk mengurangi intesitas penggunakan digital screen.

Block akun yang tidak bermanfaat

Arus informasi dunia maya membuat anda strees dan menyulut kelabilan emosi. Pasalnya belum ada filter tentang informasi hoax, informasi sensasional dan tayangan tayangan pembodohan lainnya. Maka tidak perlu ragu untuk memblokir akun yang bersifat negatif, sehingga tenaga dan pikiran anda tidak terkuras habis meladeni informasi yang tidak penting.

Aturan 20-20-20

Tubuh dan alat inderanya memiliki batasan dalam bekerja, untuk membantu meringankan beban di depan layar digital maka perlu dibuat aturan 20-20-20. Yaitu istirahat 20 detik setiap 20 menit menatap layar digital. Dalam waktu 20 detik tersebut gunakanlah untuk memandang objek lain yang berjarak kurang lebih 20 kaki dari tempat anda berada. Dengan begitu mata dan syaraf anda akan lebih ringan dan siap melanjutkan pekerjaan.

Jadwal bebas gadget

Mencari kebahagiaan di dunia maya bukanlah hal yang tepat, anda harus keluar dari rumah, bertemu dengan orang orang, saling bertegur sapa dan melakukan aktivitas bersama keluarga. Harus ada jadwal quality time untuk memperbarui rasa cinta terhadap keluarga, pasangan atau terhadap anak anak. Setidaknya menjadwalkan hobi untuk diri sendiri sebagai reward dan refresing menangkan batin.

Membagi tiga waktu

Ada banyak cara mengatur waktu, salah satunya membagi waktu ke dalam tiga kategori aktivitas. Anda mempunyai waktu 24 sehari, 8 jam untuk berkerja, 8 jam untuk tidur atau istirahat dan 8 jam lainnya bebas melakukan apa saja termasuk berselancar di dunia maya. Hal tersebut akan membantu anda lebih seimbang dan teratur.

Adiksi merupakan hal negatif yang meracuni tubuh dan mental, mencemari batin dan juga pikiran. Digital detox adalah usaha untuk mencegah dan mengurangi efek tersebut dan melahirkan kebiasan kebiasan hidup yang sehat. Inti sari dari digital detox adalah membuat jarak interval penggunaan media online dengan memutus koneksi internet dalam jangka waktu tertentu.

Inti sari dari digital detox adalah membuat jarak interval penggunaan media online dengan memutus koneksi internet dalam jangka waktu tertentu.

Ditengah pandemi proses belajar mengajar harus tetap dilakukan bagaimanapun bentuknya, karena hanya dengan ilmu manusia bisa survive di masa ini dan masa depan. Namun kesehatan adalah modal utama untuk bisa menelusuri samudera ilmu. Sebagaimana pepatah “ Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu “ karena kesehatan adalah anugerah terindah dari tuhan yang patut dijaga dan disyukuri, selamat berpuasa digital!

Gedung Kejaksaan Agung Dibakar, Om Jin Kembali Viral

0

Sebenarnya, berita itu tidak menarik. Karena publik sudah tidak asing lagi dengan adegan semacam itu. Siapa yang peduli? Terlebih lagi, apakah dengan dibakarnya gedung Kejaksaan Agung, nasib rakyat akan lebih baik? Atau lebih buruk? Tidak berpengaruh. Lebih buruk mungkin iya.

Kampusdesa.or.id-Gedung Kejaksaan Agung dibakar beberapa waktu lalu. Sudah sempat dirumpikan di ILC. Ya. Indonesian Lawyer Club. Berita yang sama sekali tidak menarik itu sudah sempat dirumpikan di sana.

Sebenarnya, berita itu tidak menarik. Karena publik sudah tidak asing lagi dengan adegan semacam itu. Siapa yang peduli? Terlebih lagi, apakah dengan dibakarnya gedung Kejaksaan Agung, nasib rakyat akan lebih baik? Atau lebih buruk? Tidak berpengaruh. Lebih buruk mungkin iya.

Berita itu sama sekali tidak menarik. Karena publik sudah paham. Pasti ada sesuatu yang hendak disembunyikan. Paling tidak pemutihan kasus korupsi. Itu pikiran publik. Bahkan, bisa juga mengarah ke pengkaburan mega korupsi.

Bagi saya. Yang menarik adalah viralnya iklan rokok yang diproduksi 8 tahun lalu. Kembali viral. Pasca hangusnya gedung kejaksaan. Itu video lama. Durasi 45 menit. Ada yang 46 menit. Sama saja. Selisih beberapa detik. Tapi, itu video yang sama.

Video iklan itu bercerita tentang kontes jin. Ada tiga jin. Dari Mesir, Jepang, dan Indonesia. Tiga jin itu adu kesaktian. Adu kehebatan.

Jin dari Mesir, dengan kesaktiannya dapat menghilangkan piramida. Selanjutnya, Jin dari Jepang, dengan kesaktiannya mampu menghilangkan gunung Fuji.

Jin dari Indonesia? Apa yang dilakukan? Dia, dengan belangkon, dan jarik, salah satu pakaian adat Indonesia. Membawa tumpukan berkas. Yang kemudian diletakkan di depannya. Lalu dihilangkan.

Dua jin lainnya sedikit bingung. Rupanya. Tumpukan berkas itu adalah tumpukan berkas kasus korupsi. Walhasil. Jin dari Mesir dan Jepang, tunduk ke jin Indonesia. Karena jin Indonesia dianggap paling sakti. Karena mampu menghilangkan setumpuk berkas kasus korupsi.

Jadi. Kita tidak heran. Mengapa publik tidak kaget dengan berita pembakaran gedung Kejaksaan Agung. Karena adegan semacam itu adegan yang sudah usang.

Delapan tahun lalu, adegan itu sudah menjadi konsumsi publik. Anak kecil saja sudah paham. Publik sudah mengerti berbagai intrik di belakang layar. Intrik-intrik dibalik adegan itu.

Mereka, yang punya otoritas itu, menjelaskan dengan berbagai dalih. Bahwa, tidak ada berkas perkara yang terbakar. Itu korsleting listrik. Ada kemungkinan sabotase. Dan lain sebagainya.

Tapi, siapa yang peduli? Hari-hari ini, publik tidak percaya dengan berbagai penjelasan yang keluar dari pemerintah. Karena kepercayaan sudah dikhianati. Kepercayaan sudah hilang. Publik sudah tidak percaya dengan pemerintah. Apa pun yang mereka katakan.

Percuma. Meski berolah kata sampai mulut berbusa. Publik tidak akan percaya. Rakyat Indonesia tidak akan percaya dengan berbagai kata yang keluar dari mulut mereka.

Di atas, saya sengaja pakai kata dibakar. Apakah memang gedung kejakasaan itu dibakar? Di dalam pikiran publik, kosa kata yang muncul adalah dibakar.

Kelalaian teknis, hingga terjadi kebakaran artinya dibakar. Dibakar dengan operasi intelijen, artinya juga dibakar. Sama saja. Jadi, gedung itu dibakar.

Dibakar untuk menghilangkan berbagai kasus. Atau paling tidak, untuk mengelabui mata publik dengan asap apinya. Untuk menyembunyikan sesuatu. Dan itu, jelas ulah jin-jin yang lebih sakti dari pada jin-jin yang ikut kontes jin delapan tahun lalu.[]

Review Singkat Karya Lengkap Nurcholish Madjid

0

Memuat karya Nurcholish dari tahun 1987 hingga 2004. Melingkupi khazanah intelektual Islam, Islam kemodernan dan keindonesiaan, Islam doktrin dan peradaban, Islam kerakyatan dan keindonesiaan.

Kampusdesa.or.id-Karya Lengkap Nurcholish Madjid: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan. Demikian judul buku monumental tersebut. Buku setebal lebih dari 5.000 halaman. Tepatnya, 5.031 halaman. Dengan sampulnya. Diterbitkan oleh Nurcholish Madjid Society (NMS) pada Agustus 2020.

Buku itu disunting oleh guru saya, Dr. Budhy Munawwar- Rachman. Memuat karya lengkap Nurcholish Madjid. Salah seorang pemikir muslim progresif Indonesia.

Luar biasa. Di atas normal. Buku monumental itu memuat semua buku karya Nurcholish Madjid. Bukan resume atau ringkasan. Tapi karya asli Nurcholish yang diketik ulang.

Memuat karya Nurcholish dari tahun 1987 hingga 2004. Melingkupi khazanah intelektual Islam, Islam kemodernan dan keindonesiaan, Islam doktrin dan peradaban, Islam kerakyatan dan keindonesiaan.

Kontekstualisasi doktrin Islam dalam sejarah, pintu-pintu menuju Tuhan, Islam agama kemanusiaan, Islam agama peradaban, kaki langit peradaban Islam, tradisi Islam, masyarakat religius, bilik-bilik pesantren.

Juga dialog keterbukaan, tiga puluh sajian ruhani, cita-cita politik Islam, cendekiawan dan religiusitas, perjalanan religius umrah dan haji, pesan-pesan takwa, fatsoen, dan Indonesia kita.

Mungkin, perlu empat atau lima hari untuk membaca habis buku itu. Untungnya, dulu saya sudah pernah mencicil membaca pikiran brilian Nurcholish Madjid.

Jadi, dihadapkan dengan buku itu, saya hanya perlu menajamkan pemahaman dengan membaca ulang di beberapa bagian.

Dan sangat beruntung. Buku karya lengkap ini diberi pengantar oleh sang penyunting. Yaitu Dr. Budhy Munawwar-Rachman. Saya kerap menyapanya Pak Budhy.

Pengantar itu sangat membantu pembaca. Utamanya bagi yang ingin mendalami karya agung Nurcholish Madjid. Ibarat sebuah peta pemandu. Atau petunjuk penerbangan. Memberikan kita panduan di belantara pemikiran agung Nurcholish Madjid.

Bagi saya, Nurcholish Madjid, dengan pikiran-pikiran briliannya yang tertuang dalam karya-karyanya itu adalah babak baru bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.

Dan faktanya memang begitu. Nurcholish adalah salah satu motoris pembaharuan Islam di Indoneisa. Utamanya antara tahun-tahun 1970 dan 1980-an.

Isu-isu yang diusung Nurcholish adalah isu-isu seperti sekularisasi, demokrasi, civil society, hak asasi manusia dan pluralisme. Isu-isu yang cukup maju untuk pemikiran Islam Indonnesia di era itu.

Isu-Isu itu didetail dengan sangat baik oleh Nurcholish. Itu yang membuat citra keislaman, kemodernan, keindonesiaan identik dengan Nurcholish.

Nurcholish adalah intelektual Muslim progresif yang hendak meramu keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Meramu ketiganya menjadi sebuah warisan peradaban universal.

Dialektika keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan itu, bisa dirangkum menjadi satu konsep. Yaitu Islam inklusif. Istilah yang cukup singkat dan mudah diingat. Namun sangat luas cakupan dan tafsirannya.

Warisan pemikiran Islam inklusif itu, yang kemudian dikembangkan oleh para intelektual kenamaan seperti pemikiran Fakhry Ali, Azyumardi Azra, Kurniawan Zulkarnain, Bahtiar Effendy, Komaruddin Hidayat, M. Syafi’i Anwar, Hadimulyo, atau Zacky Siradj. Yang diskusinya selalu meramaikan geliat pemikiran di Indonesia.

Dalam pengantar karya lengkap jebolan University of Chicago itu, Budhy Munawwar membagi pemikiran sang maestro menjadi dua. Yaitu periode I. Tahun 1965 hingga 1978. Tahun-tahun ini disebut dengan Tahap keislaman-keindonesiaan. Kemudian, periode II. tahun 1984 hingga 2005. Tahun-tahun ini disebut tahap keislaman-kemodernan.

Sementara, antara 1978 hingga 1984, menurut Budhy Munawwar adalah masa transisi. Pada tahun-tahun ini, Nurcholish menempuh studi dan menulis disertasi di University of Chicago.

Terlepas dari pro dan kontra, pikiran-pikiran Nurcholish adalah monumen pikiran brilian dari seorang pemikir Muslim progresif, yang mampu mendobrak kebekuan pemikiran Islam di Indonesia.

Meskipun sang maestro telah tiada, buku Karya Lengkap Nurcholish Madjid adalah warisan yang sangat berharga. Utamanya bagi Muslim Indonesia. Juga bagi Indonesia sendiri.

Dan kita patut berterima kasih pada Dr. Budhy Munawwar- Rachman, yang telah bersedia mendedikasikan dirinya untuk menyunting manuskrip monumental itu.

Bacon, Perintis Empirisme

0

Salah satu tokoh penting empirisme adalah Francis Bacon. Hidup sekitar tahun 1561 hingga 1626. Seorang filsuf Inggris. Salah satu tokoh modernisme awal. Pelopor gerakan empirisme, dimana empirisme

Kampusdesa.or.id-Francis Bacon merupakan salah satu tokoh modernisme awal. Dia adalah putra dari seorang pejabat pada masa pemerintahan Ratu Eilzabeth. Sempat mengenyam pendidikan di Cambridge. Ayahnya meninggal ketika dia berumur delapan belas tahun. Dalam sebuah riwayat, dia mempelajari hukum kemudian menjadi pengacara.

Karyanya yang terkenal adalah Novum Organum. Judul lengkapnya adalah Novum Organum, Sive Indicia Vera de Interpretatione Naturae (New Organon, or True Directions Concerning the Interpretation of Nature). Buku ini dipublikasikan pertama kali dalam bahasa Latin tertahun 1620.

Pikiran Seorang Bacon

Bagaimana membangun objektivitas? Bagaimana mendapatkan gambaran yang objektif terkait sebuah objek? Inilah pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Bacon dengan filsafatnya. Secara sederhana, Bacon hendak mengajarkan bagaimana memperoleh pengetahuan yang objekif.

Bagi Bacon, ada semacam tembok penghalang yang berada antara objek dengan pengamat. Bacon menyebutnya dengan istilah “idols.” Yang bisa kita tafsirkan dengan kata “berhala”.

Berhala-berhala itulah yang menjadi penghalang antara pengamat dengan objek. Dia menyebutnya dengan berhala, karena entitas itulah yang menggerogoti objektifitas. Juga sulit untuk mengikis entitas ini.

Menurut Bacon, ada empat macam idols. Yakni, the Idols of Tribe,  the Idols of the Cave, the Idols of the Market Place, dan the Idols of the Theatre. Untuk mendapatkan perspektif yang objektif, keempat idols ini harus dimusnahkan.

Pertama, the Idols of Tribe. Ini semacam keajekan ilmiah. Sehingga merasa tidak perlu dipertanyakan lagi.  Adapun jika ada pengecualian, dianggap mukjizat. Tidak perlu dipelajari atau dipertanyakan. Pikiran semacam itu menjadi prasangka kolektif. Sehingga tidak perlu lagi dibongkar.

Kedua, the Idols of the Cave. Artinya, pengalaman, pengetahuan, minat, itu semua berpengaruh terhadap cara kita melihat objek. Sehingga, sangat mungkin kita akan terbawa pada perspektif yang biasa dan subjektif. Akibatnya, tidak ada objektifitas.

Ketiga, the Idols of the Market Place. Ini adalah pikiran yang mengacu pada keyakinan, atau juga ideologi. Sehingga, kerap kali otoritas religius berpengaruh pada penilaian kita pada objek. Atau bahkan, objek tersebut menjadi tidak teruji. Karena tertutup tameng religius.

Empat, the Idols of the Theatre. Saya pahami ini sebagai ortodoksi. Dimana sebuah pemikiran akan bernasib seperti teater. Menjadi populer, kemudian tamat ketika selesai dipentaskan. Karena pikiran semacam ini adalah refleksi subjektif para pemikir. Bukan objek yang tetap dan abadi.

Selain pikiran tentang idols, Bacon juga memperkenalkan metode induksi. Metode ini masih digunakan dewasa ini. Menurutnya, pengetahuan adalah akumulasi antara ide dan pengamatan. Di sini pentingnya pendekatan empiris dalam memperoleh pengetahuan.

Induksi bukan hanya generalisasi. Tapi bagaimana menemukan pola umum atau prinsip-prinsip umum dari objek yang diamati atau dari eksperimen-eksperiman yang dilakukan.

Memang, metode seperti ini telah digunakan sebelumnya. Namun, keberatan Bacon terletak pada ketergesa-gesaan dalam melakukan generalisasi.

Bagi Bacon, tidak perlu hipotesis dalam melakukan pengamatan. Di sini semangat empirisme begitu tampak pada Bacon. Ini yang membuat Bacon menuai kritik dari beberapa pemikir.

Refleksi Atas Bacon

Bacon adalah perintis empirisme. Itu jelas. Metode yang diajukan oleh Bacon menjadi salah satu fondasi ilmu pengetahuan modern. Di sini peran penting Bacon dalam tatanan ilmu pengetahuan.

Teori tentang idols yang diajukan oleh Bacon adalah teori yang sangat radikal dalam konteks ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan keseriusan Bacon dalam memperoleh pengetahuan yang objektif.

Teori tentang idols dapat kita rumuskan secara sederhana dalam sebuah diktum, “tidak ada apapun yang lebih penting dalam ilmu pengetahuan selain objektifitas.” Dari situ, tampak idealisme Bacon begitu kuat dalam ilmu pengetahuan.

Tentang metode induksi yang diajukan. Bacon tampaknya mengabaikan deduksi. Bagi saya, pengabaian atas deduksi yang ditunjukkan oleh Bacon adalah simbol kemerdekaan ilmu pengetahuan. Tidak ada yang lebih agung dari kemerdekaan dalam ilmu pengetahuan.

Dalam metode yang diajukan juga tampak dedikasi Bacon terhadap ilmu pengetahuan. Yakni bagaimana mengedepankan kejujuran terhadap objek pengamatan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus menjunjung tinggi objektifitas. []