Telekonseling: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi

0
212
tips menghadapi gangguan psikosomatis
Webinar Psikosomatis - Mental Health

0Shares
0

Gangguan psikosomatis merupakan bentuk gangguan fikiran yang mempengaruhi munculnya keluhan fisik. Dalam hal pandemi Covid-19 tidak sedikit masyarakat yang pada akhirnya merasakan reaksi gejala yang hampir sama dengan gejala infeksi virus corona. Hal tersebut menjadikan kebingungan di kalangan masyarakat. Tips menghadapi gangguan psikosomatis akibat dampak wabah Covid-19, di antaranya berfikir positif (positive thinking), lakukan terapi SEFT (spiritual emotional freedom technique), psikoterapi (CBT, hipnoterapi dan lain-lain), relaksasi (pernapasan, meditasi dan yoga), konsultasi dengan professional atau ahlinya, cari informasi yang tepat, dan yang terakhir tentu berdo’a dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kampusdesa.or.id–Covid-19 menjadi wabah pertama di kota Wuhan, China. Setalah penyebarannya yang sangat cepat hingga mencapai 114 negara di dunia, WHO pun menetapkan menjadi pandemi covid-19 (Covid-19 outbreak). Data update terakhir per 30 April 2020, Indonesia merupakan salah satu negara terdampak dengan kasus terkonfirmasi sebanyak 10.118 jiwa dan meninggal sebanyak 792 jiwa, (BNPB, 2020). Keseriusan pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini ditunjukkan dengan memberlakukan kebijakan kebijakan baru dalam hal untuk menurunkan grafik penyebaran pandemi ini.

Sejalan dengan semangat pemerintah, banyak juga kasus berita hoax mengenai perkembangan perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia yang bermunculan di jagad dunia maya yang dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat luas di Indonesia serta pemberitaan yang massif menjadi pendorong munculnya gangguan kekhawatiran yang berlebih hingga perasaan tertekan di lingkungan masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan adanya kemunculan gangguan kesehatan mental berupa psychosomatic disorder atau gangguan psikosomatis (Emeldah, 2020).

Oleh sebab itu, Kamis (30/04) Divisi Riset dan Kelembagaan (Risteg) DiasporaMuda Lamongan bekerjasama dengan Citajiwa.id tergerak untuk menginisiasi kegiatan seminar online (webinar) bertajuk “Covid-19: Are you sure?” dengan pembahasan lebih dalam mengenai apa itu Psikosomatis, ciri-cirinya, dan bagaimana menghindarinya. Materi seminar via aplikasi zoom meting selama satu jam setengah ini dipaparkan oleh Kak Ruslan,S.Psi (founder Citajiwa.id) sembari ngabuburit.

Sebagai pembuka di awal materi, ia memberikan pemahaman terkait kesehatan mental. Menurut WHO (2011), kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan di mana individu mampu menyadari potensinya, menyelesaikan tekanan hidup, produktif dan menghasilkan serta berkontribusi pada masyarakat dengan ciri-ciri tidak adanya perasaan bersalah pada diri sendiri, memiliki estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, mampu menghadapi masalah-masalah, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya dan memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam hal ini seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Baca juga: Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

Selanjutnya pemateri memaparkan kaitannya dengan Covid-19 adalah akibat informasi yang masif dan fakta-fakta terkait Covid-19 mampu membuat stress, sehingga memicu serangkaian reaksi pada otak. Stress menstimulasi hormon yang diatur oleh hipotalamus (bagian otak yang berfungsi menyampaikan informasi sensorik dan pusat persepsi nyeri) dan stress juga dapat merubah fungsi sistem imun melalui ujung saraf bagian yang melibatkan sistem seperti kalenjar getah bening (di leher dan ketiak), timus dan limpa. Maka, hormon dompamin dan serotonin menurun dan hormon adrenalin dan kortisol meningkat.

Oleh karena itu, efeknya dapat menimbulkan gejala stress atau kecemasan. Ditandai dengan a) Fisik: jantung berdebar, sesak nafas, pusing, berkeringat, mati rasa, kesemutan, mulut kering, mual atau muntah, gelisah dan gemetar. b) Psikologis: rasa takut dan khawatir berlebihan, konsentrasi berkurang, ragu, mudah tersinggung, mudah marah, terlihat bingung dan mengalami gangguan tidur. c) Perilaku: menghindari situasi, perilaku obsesif atau kompulsif, tertekan dalam situasi osial dan perilaku fobia.

Adapun pengertian gangguan psikomatis menurut klinis berarti permasalahan Psikologis yang berpengaruh pada medis/fisik. Jadi ada masalah psikis, memunculkan/meningkatkan masalah fisik. Dr. Allert Benedicto Ieuan Noya menyebutkan gangguan psikosomatis merupakan bentuk gangguan fikiran yang mempengaruhi munculnya keluhan fisik (Allodokter, 2018). Dalam hal pandemi Covid-19 tidak sedikit masyarakat yang pada akhirnya merasakan reaksi gejala yang hampir sama dengan gejala infeksi virus corona. Hal tersebut menjadikan kebingungan di kalangan masyarakat.

Karena jika kita mengalami gangguan ini, dampaknya adalah merasakan efek cemas jangka panjang. Itu artinya akan menganggu aspek kehidupan seperti hubungan dalam berkeluarga, rekan kerja, pekerjaan, produktifitas menurun, depresi, sistem saraf pusat secara teratur melepas hormon stres dalam jangka panjang (contohnya sakit kelapa, dada berdebar, pusing, dan lain-lain.

Maka dari itu, poin terakhir dari seminar ini yang paling penting yaitu tips-trik menghadapi gangguan psikosomatis akibat dampak wabah Covid-19, di antaranya berfikir positif (positive thinking). Jika kesulitan berfikir positif bisa dicoba melakukan relaksasi pernapasan dengan rumus 4-7-8, yang artinya menarik napas selama 4 detik, kemudian menahan selama 7 detik dan dihembuskan selama 8 detik, dilakukan terapi SEFT (spiritual emotional freedom technique), psikoterapi (CBT, hipnoterapi dan lain-lain), relaksasi (pernapasan, meditasi dan yoga), konsultasi dengan professional atau ahlinya, cari informasi yang tepat atau bisa juga konsultasi gratis di nomor 119 lalu klik angka 8, dan yang terakhir tentu berdo’a dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan pencegahan melalui disiplin mengikuti protokol otoritas kesehatan setempat, mencari informasi dengan sumber terpercaya, membatasi diri dalam memeriksa informasi terupdate terkait COVID-19, meminta bantuan orang yang dipercaya seperti call center Covid-19 yang telah disediakan, dan hati-hati dalam share sesuatu untuk menghindari hoax.

Sedangkan untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan pencegahan melalui disiplin mengikuti protokol otoritas kesehatan setempat, mencari informasi dengan sumber terpercaya, membatasi diri dalam memeriksa informasi terupdate terkait COVID-19, meminta bantuan orang yang dipercaya seperti call center Covid-19 yang telah disediakan, dan hati-hati dalam share sesuatu untuk menghindari hoax.

Selain itu, rencanakan yang bisa direncanakan seperti misalnya ada keluarga yang terkena Covid-19 apa yang kamu rencanakan, membuat jadwal school/work from home, tetap terkoneksi seperti menjaga hubungan dengan keluarga dan teman lewat HP, sosial media dan lain-lain. Karena hal ini dapat menjadi vitamin kesehatan mental. Kemudian kita harus pedulikan tubuh dengan melakukan hal-hal baik untuk tubuh semisal meluangkan waktu pada kegiatan yang kita suka (hobi), serta yang tidak kalah penting adalah saling menjaga dan membantu orang yang membutuhkan.

Demikian sesi materi yang telah disampaikan oleh Psikolog alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. Acara dilanjut dengan sesi diskusi, namun mengingat waktu sudah mau mendekati buka puasa. Maka Nadhirul Mundhiro, moderator seminar online ini hanya membuka satu kesempatan penanya saja.

“Jika teori herd immunity diterapkan di Indonesia, terkait psikomatisnya bagaimana? Kemudian penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menurut pemerintah dalam masa darurat Covid-19 ini kan sampai 29 Mei atau bisa jadi lebih lama. Apakah akan mengalami gangguan kecemasan dan bagaimana cara mengobatinya?” pertanyaan dari Iin Nur Zulaili.

Jawaban dari narasumber mengenai herd immunity sebenarnya setiap negara memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Kalau misalkan dibiarkan tanpa PSBB itu malah bisa makin melonjak kasus COVID-19 ini. Kalau dia yang kekebalan tubuhnya baik –dia yang akan bertahan itu akan berdampak kepada orang-orang yang tidak mengetahui kekebalan tubuhnya. Apakah memiliki kondisi imun yang cukup baik untuk mempertahankan diri atau tidak. Lalu bagaimana dengan kecemannya, maka akan juga bisa membuat kecemasan banyak orang.

Kemudian soal PSBB, nah kalau ditanya lebih ke kecemasan terkait sosial kita, sosial kita dengan pekerjaan itu bagaimana, bagaimana dengan yang diperantauan mereka gak bisa pulang, ada yang setiap harinya juga harus mobile. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya kita kan gak tahu sampai kapan kepastiannya. Jelas kalau PSBB ini sangat berpengaruh juga kepada kecemasan. Kita mau keluar kota kita harus melewati serangkaian protokol COVID-19 dan ini sebenarnya bisa menganggu. Jika kita dalam situasi tidak enak atau menekan yang bisa kita lakukan yang pertama berfikir positif dan yang selanjutnya mengikuti berbagai aturan dari protokol kesehatan karena apa yang bisa kita kontrol itu yang bisa kita lakukan, selebihnya pasrahkan saja. Selama ini pemerintah juga kan sudah berjanji dengan pemenuhan kebutuhan pokok.

Pada sesi akhir kegiatan, pemateri memberikan closing statement dan himbauan kepada peserta seminar. “Ayo kita bekerja sama dengan Covid-19 ini, gak ada yang tidak bisa dan tidak mungkin untuk mencegah dan melawan Coid-19 ini. Saya yang bekerja di bidang kesehatan, sangat banyak yang mengalami cemas ataupun panik, dan harus dikonsultasikan. Mereka juga merasakan apa yang kalian rasakan. Mereka juga manusiawi, jadi mari bantu mereka dengan melakukan arahan-arahan dari protokol kesehatan. Kita tidak hanya peduli pada diri sendiri, kita juga harus peduli pada orang lain. Semoga Ramadhan ini kita bisa mendapatkan berkah untuk membantu orang lain, membantu untuk tidak menularkan orang lain, membantu untuk mencegah virus ini, terutama situasi ini bisa cepat kembali pulih. Tetap semangat Diaspora Muda Lamongan saya sangat salut dengan adanya organisasi ini, harapannya ke depan kita bisa tetap bekerja sama,” pungkas pemateri yang juga tenaga Psikologi, Dinas Kesehatan Kota Surabaya ini. []

*Berita ini juga dimuat di fanspage Diaspora Muda Lamongan dengan judul “Ngabuburit Sambil Seminar Online: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi Covid-19