Gedung Kejaksaan Agung Dibakar, Om Jin Kembali Viral

0
88
sumber: simasinsurtech.com

0Shares
0

Sebenarnya, berita itu tidak menarik. Karena publik sudah tidak asing lagi dengan adegan semacam itu. Siapa yang peduli? Terlebih lagi, apakah dengan dibakarnya gedung Kejaksaan Agung, nasib rakyat akan lebih baik? Atau lebih buruk? Tidak berpengaruh. Lebih buruk mungkin iya.

Kampusdesa.or.id-Gedung Kejaksaan Agung dibakar beberapa waktu lalu. Sudah sempat dirumpikan di ILC. Ya. Indonesian Lawyer Club. Berita yang sama sekali tidak menarik itu sudah sempat dirumpikan di sana.

Sebenarnya, berita itu tidak menarik. Karena publik sudah tidak asing lagi dengan adegan semacam itu. Siapa yang peduli? Terlebih lagi, apakah dengan dibakarnya gedung Kejaksaan Agung, nasib rakyat akan lebih baik? Atau lebih buruk? Tidak berpengaruh. Lebih buruk mungkin iya.

Berita itu sama sekali tidak menarik. Karena publik sudah paham. Pasti ada sesuatu yang hendak disembunyikan. Paling tidak pemutihan kasus korupsi. Itu pikiran publik. Bahkan, bisa juga mengarah ke pengkaburan mega korupsi.

Bagi saya. Yang menarik adalah viralnya iklan rokok yang diproduksi 8 tahun lalu. Kembali viral. Pasca hangusnya gedung kejaksaan. Itu video lama. Durasi 45 menit. Ada yang 46 menit. Sama saja. Selisih beberapa detik. Tapi, itu video yang sama.

Video iklan itu bercerita tentang kontes jin. Ada tiga jin. Dari Mesir, Jepang, dan Indonesia. Tiga jin itu adu kesaktian. Adu kehebatan.

Jin dari Mesir, dengan kesaktiannya dapat menghilangkan piramida. Selanjutnya, Jin dari Jepang, dengan kesaktiannya mampu menghilangkan gunung Fuji.

Jin dari Indonesia? Apa yang dilakukan? Dia, dengan belangkon, dan jarik, salah satu pakaian adat Indonesia. Membawa tumpukan berkas. Yang kemudian diletakkan di depannya. Lalu dihilangkan.

Dua jin lainnya sedikit bingung. Rupanya. Tumpukan berkas itu adalah tumpukan berkas kasus korupsi. Walhasil. Jin dari Mesir dan Jepang, tunduk ke jin Indonesia. Karena jin Indonesia dianggap paling sakti. Karena mampu menghilangkan setumpuk berkas kasus korupsi.

Jadi. Kita tidak heran. Mengapa publik tidak kaget dengan berita pembakaran gedung Kejaksaan Agung. Karena adegan semacam itu adegan yang sudah usang.

Delapan tahun lalu, adegan itu sudah menjadi konsumsi publik. Anak kecil saja sudah paham. Publik sudah mengerti berbagai intrik di belakang layar. Intrik-intrik dibalik adegan itu.

Mereka, yang punya otoritas itu, menjelaskan dengan berbagai dalih. Bahwa, tidak ada berkas perkara yang terbakar. Itu korsleting listrik. Ada kemungkinan sabotase. Dan lain sebagainya.

Tapi, siapa yang peduli? Hari-hari ini, publik tidak percaya dengan berbagai penjelasan yang keluar dari pemerintah. Karena kepercayaan sudah dikhianati. Kepercayaan sudah hilang. Publik sudah tidak percaya dengan pemerintah. Apa pun yang mereka katakan.

Percuma. Meski berolah kata sampai mulut berbusa. Publik tidak akan percaya. Rakyat Indonesia tidak akan percaya dengan berbagai kata yang keluar dari mulut mereka.

Di atas, saya sengaja pakai kata dibakar. Apakah memang gedung kejakasaan itu dibakar? Di dalam pikiran publik, kosa kata yang muncul adalah dibakar.

Kelalaian teknis, hingga terjadi kebakaran artinya dibakar. Dibakar dengan operasi intelijen, artinya juga dibakar. Sama saja. Jadi, gedung itu dibakar.

Dibakar untuk menghilangkan berbagai kasus. Atau paling tidak, untuk mengelabui mata publik dengan asap apinya. Untuk menyembunyikan sesuatu. Dan itu, jelas ulah jin-jin yang lebih sakti dari pada jin-jin yang ikut kontes jin delapan tahun lalu.[]