Bukan Hanya Kita, Anak Juga Butuh Untuk Didengar

0
142
anak

0Shares
0

Seringkali, kita disibukkan oleh hal-hal duniawi yang membuat kita ‘seakan’ lupa akan hadirnya malaikat kecil (anak) yang telah dititipkan oleh Tuhan. Mari refleksi sejenak, kapan terakhir kali kita mendengar celotehnya? Kapan terakhir kali kita memandang wajahnya? Kapan terakhir kali kita memperhatikan tingkah lucunya? Tidak jarang kita beranggapan bahwa memberikan anak  sebuah hadiah adalah ‘cukup’ untuk membuatnya bahagia, padahal “Anak-anakmu lebih butuh kehadiranmu daripada hadiahmu” – Jesse Jackson

Kampusdesa.or.id – Tidak dapat dipungkiri, adanya pandemi ini telah memberikan kita pelajaran tentang betapa berharganya sebuah ‘waktu’ bersama keluarga. Tuhan memberikan waktu untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, setidaknya untuk menikmati secangkir teh bersama. Sederhana bagi yang telah terbiasa berkumpul bersama keluarga, namun begitu indahnya bagi mereka yang hanya bersama ketika hari libur tiba. Bagaimanapun, tempat berpulangnya kita dari hiruk pikuk dunia tetaplah kepada keluarga. Keluargalah yang meneduhkan hatimu, juga pikiranmu.

Begitu pula buah hati kita. Anak merupakan manifestasi masa depan yang sungguh tidak ternilai harganya. Mendidik anak dengan baik, berarti telah memperkokoh pondasi generasi kita. Menjadi pendengar yang baik, memperhatikan tumbuh kembangnya, dan yang pasti adalah ‘membagi’ waktu untuk mereka. Sekali lagi, memberikan ‘waktu’ yang tepat akan membuat mereka merasa untuk lebih dicintai, karena yang paling penting adalah anak sadar bahwa mereka dicintai oleh orang tuanya.

Mencintai anak tidak cukup, yang terpenting anak sadar bahwa mereka dicintai oleh orang tuanya – St. John Bosco.

Salah satu cara agar anak kita merasakan betapa besarnya cinta kita adalah dengan mendengarnya. Mendengar keluh kesahnya, canda tawanya, apapun tentangnya. Meski seringkali ada beberapa pertanyaan yang berulang untuk dipertanyakan, juga ada pernyataan yang berulang untuk dinyatakan. Sejatinya, saat kita mendengarkan anak kita, kita akan mengetahui apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan alami (beingtheparent.com).

Sedikit cerita, saya mempunyai banyak sepupu dengan berbagai rentang usia. Ada yang berada pada usia 3 tahun, 5 tahun, bahkan 9 tahun. Sesekali saya mengajaknya bicara, memberikan stimulus agar mereka tidak hanya bermain gadget. Stimulus yang tepat akan memberikan respon yang baik dari mereka, saya terus mendengarnya, dan ternyata banyak sekali yang mereka ceritakan. Mulai dari kegiatan sekolah, teman bermain, dan apa yang mereka lakukan ketika pandemi ini.

Singkat cerita, sepupu saya yang berusia 9 tahun merasa kewalahan untuk menyelesaikan tugas dari gurunya. Masih ingat sekali ketika dia berkeluh kesah, “aku kesel, mbak, tugase uakeh,” (aku lelah mbak, tugasnya banyak). Memang benar adanya, pembelajaran daring dirasa lebih membosankan karena tidak adanya interaksi langsung antara guru dan siswa.

Saya perhatikan tugas yang satu belum selesai, ada lagi tugas yang baru. Bagaimana tidak, mau tidak mau siswa juga harus mampu mengejar materi yang disampaikan oleh guru melalui daring. Diakui atau tidak, pembelajaran juga menjadi kurang maksimal. Apalah daya, semoga Tuhan segera memusnahkan pandemi ini, amin.

Bukan hanya bercerita, mereka juga aktif untuk menanyakan banyak hal. Sejatinya, rasa ingin tahu anak akan sesuatu begitu besar. Seringkali mereka menanyakan hal yang sama berulang kali. Seolah memastikan, apakah pertanyaan mereka terjawab dengan benar.

“Cara terbaik untuk membuat anak-anak menjadi baik adalah dengan membuat mereka bahagia.” Oscar Wilde

Ketika jenuh melanda, cobalah sejenak untuk mengingat betapa bahagianya menyambut kehadiran mereka di dunia. Mengingat untuk pertama kalinya Tuhan mengirimkan hadiah terindah untuk orang tua yang telah diberikan amanah. Serta mengingat untuk pertama kalinya kita berjanji untuk menjaganya, mencintainya, serta merawatnya dengan sepenuh hati.

Dengan mendengar, kita akan lebih banyak belajar untuk menghargai orang lain, belajar tentang pengalaman hidup, dan pastinya belajar untuk memahami orang lain. Apalagi dalam konteks ini adalah mendengarkan anak yang notabene sangatlah penting untuk masa tumbuh kembang mereka.

Sekali lagi, bukan hanya kita (orang dewasa) yang butuh untuk didengar, tapi juga anak-anak kita. Setidaknya, berikan memori yang indah untuk diingat ketika mereka dewasa kelak. Tawa, canda, suka cita akan terekam dalam ingatan jangka panjangnya. Memberikan mereka kebahagiaan, berarti merangkai kebaikan-kebaikan mulia dalam hatinya yang akan terukir sepanjang masa.

“Kehidupan, cinta dan canda tawa merupakan sebuah hadiah tak ternilai bagi anak-anak kita” – Phyllis Dryden

Baca juga : Rumahku Gua Hira-ku, latihan Mindfulness di Rumah

Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja