Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 24

Review Buku Money – Yuval Noah Harari

0

Sebuah buku bersampul kuning dengan kutipan cukup nylekit dari Karl Marx dan Adam Smith, seolah cukup bikin orang penasaran. Uang adalah alasan kita berkelahi, kutipan dari Marx dan semua uang adalah soal kepercayaan, kutipan dari Smith, seakan menggambarkan bahwa buku itu membahas ndakik-ndakik soal kapitalisme, liberalisme dan seabrek istilah ekonomi lain. Namun, ternyata bukan itu saja bahasan pada buku berjudul Money karya Yuval Noah Harari tersebut.

Kampusdesa.or.id-Buku berjudul Money dari Yuval Noah Harari lebih dari perkiraan kita. Buku yang diterjemahkan menjadi Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan itu membedah secara tajam asal-usul uang. Sembahan baru umat manusia itu punya hikayat panjang dengan tarian sejarah yang tak kalah pelik pula.

Secara garis besar, buku Money terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, Yuval mendedah bagaimana uang terbentuk sejak jaman Hernan Cortez mulai menjelajahi Meksiko hingga uang menjadi bagian inheren dalam hidup manusia. Bagian kedua, Yuval membahas uang dalam bentuk kredit, sejarah bagaimana kredit menjadi pilihan bangsa-bangsa Eropa sebagai bagian dari penaklukan atas bangsa-bangsa lain, alih-alih patungan untuk membiayai perang, hingga raja-raja zaman modern yang didominasi kaum pemakai jas Versace, bukan para pesohor berjubah sutra atau emas. Bagian ketiga, Yuval memproyeksikan bagaimana umat manusia menghadapi tantangan masa depan yang keberadaannya bisa saja tergeser ras baru bernama artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Uang adalah sebuah sistem kepercayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.

Yuval mendedahkan bahwa uang (money) bukan semata alat tukar. Uang adalah sebuah sistem kepercayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan. Anda akan tenang berada di luar rumah Anda karena Anda percaya uang yang Anda punya juga dipercaya oleh orang lain. Anda dapat menukarkan uang Anda kepada orang lain agar Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan. Tak peduli apa itu barang atau jasa, Anda bisa dapatkan dengan uang.

Namun, apakah uang yang sebenarnya beredar selama ini jumlahnya sama dengan populasi manusia seluruh dunia? Ternyata, tidak. Yuval menulis bahwa uang yang sebenarnya beredar jauh lebih sedikit. Sisanya tersimpan pada server-server komputer, dalam bentuk rekening, lewat pertukaran data elektronik tanpa melibatkan peran uang fisik. Sepanjang transaksi bisa dilakukan secara elektronik, hal itu lebih baik karena tak memakan waktu lama, tak butuh banyak tempat dan lebih mudah dihitung daripada lembaran-lembaran uang kertas atau kilauan koin-koin.

Dengan demikian, uang jadi alat tukar yang memungkinkan orang mengonversi berbagai hal.

Dengan demikian, uang jadi alat tukar yang memungkinkan orang mengonversi berbagai hal. Otot ditukar dengan otak saat pensiunan pegawai ingin membayar kebutuhan kuliah anaknya. Kesehatan ditukar dengan keadilan saat dokter ingin membayar pengacara. Bahkan, perbuatan cabul ditukar dengan harapan ampunan saat wanita tuna susila tidur dengan pria, lalu hasil darinya dipakai untuk membeli surat penebusan dosa.

Bagian selanjutnya, Yuval bercerita tentang bagaimana adanya uang untuk membeli masa depan, dengan sistem bernama kredit. Seperti umum diketahui, VOC pernah menjajah Indonesia dan mereka adalah kumpulan para pedagang, bukan negarawan. Yuval bercerita panjang bagaimana kongsi dagang asal Belanda itu membangun kejayaan mereka dengan kredit. Mereka mencari investor hingga menjual saham-saham mereka di negara asal. Dari penjualan itu mereka membiayai perjalanan penaklukan ke daerah-daerah lain.

Yuval juga bercerita berkaitan uang dengan perkembangan keilmuan. Betapa banyak uang yang disuntikkan untuk inovasi atau pengembangan ilmu pengetahuan. Namun uang yang sudah diberikan itu bukan tanpa disertai pertanyaan balik, apakah penemuan yang ada bisa melipatgandakan modal yang sudah diberikan. Bila tidak, sulit kiranya rencana inovasi atau pengembangan keilmuan itu bisa berjalan. Dan, benar apa kata Yuval, pemerintah atau negara yang mencetak uang, ilmuan yang membayar tagihannya.

Perihal uang yang mendanai inovasi, nampaknya manusia harus bersiap dengan kemungkinan munculnya ras kecerdasan buatan (artificial intelligence). Seperti apa ras itu hingga manusia harus menaruh perhatian lebih?

Kebiasaan bertransaksi elektronik manusia sudah mengalami perubahan signifikan. Orang tak perlu antre pesan makanan. Ia bisa datang sendiri dengan sentuhan jari pada layar ponsel, lengkap dengan senyum dan sapa pengantarnya. Orang tak perlu berdesakan di mall untuk beli baju. Ia bisa datang sendiri, bahkan bila mujur, bisa dapat potongan harga yang lumayan. Saat sakit pun, orang cukup konsultasi ke dokter lewat ponsel, hasil diagnosa dan obatnya bisa terkirim ke rumah orang tersebut.

Kecerdasan di atas bukan diiringi tanpa ancaman. Kecerdasan-kecerdasan itu memang dimiliki oleh manusia sejak lama, dan sebentar lagi akan digantikan oleh mesin-mesin. Namun, apakah mesin-mesin itu punya kesadaran?

Seorang sopir bisa saja menyetir sambil mendengarkan musik, menikmati keindahan alam sekitar sembari ngobrol dengan penumpang. Tapi kecerdasar buatan, berbeda. Ia hanya tahu bagaimana mencari rute tercepat dan teraman dari titik A ke titik B dan memastikan penumpangnya selamat. Seorang dokter punya sentuhan-sentuhan yang tak dimiliki oleh robot dokter yang hanya bisa memberi analisa dan resep obat.

Bila kita merasa ngeri dengan kecerdasan buatan yang ada, jutaan orang lain secara sukarela menerima dan setuju dengannya. Mereka dengan sukarela memberikan privasi dan individualitas pada tangan-tangan kecerdasan buatan. Pergeseran dari manusia ke algoritma ini bukan keputusan pemerintah, namun akibat banjirnya pilihan keseharian.

Maka, bila tiap manusia itu individu, sedangkan ia sudah melepaskan semua privasinya pada algoritma, hendak menjadi apa umat manusia nantinya. Batasan-batasan individu menjadi kabur. Akankah ia masih berharga secara kolektif atau makin kehilangan nilai mereka seutuhnya.

Dalam film Kung Fu Panda 3, Master Shifu bercerita pada Poo bahwa Master Oogway bertapa dalam gua selama 30 tahun untuk menjawab satu pertanyaan, siapa saya. Sebentar lagi, kita, manusia, menghadapi tantangan kecerdasan buatan di atas. Lalu, siapa sebenarnya kita? Wallahu a’alam.

Kemerdekaan dan Kebebasan

0

Kemerdekaan mutlak menjadi pengalaman personal. Kata itu tidak semata sebuah semangat merdeka dari penjajahan dan pertanda kemerdekaan bangsa yang dirayakan setiap 17 Agustus. Merdeka mencerminkan pilihan kehidupan tanpa keterpaksaan. Merdeka mengisyaratkan terpenuhinya hak bahwa manusia bebas dari belenggu orang lain yang menjadikannya lapuk sedemikian seseorang hidupnya tidak lagi berkuasa atas dirinya.
Kampusdesa.or.id–“Suamiku memperlakukan aku sesukanya, tapi aku tak bisa menolaknya, ingin lepas darinya juga sulit karena dialah yang satu satunya mencari nafkah. Sedangkan kami juga punya anak,” bisikmu.

“Kamu nikah dulu umur berapa?” Tanyaku.

“Umur 16,” jawabmu.

Dan kini engkau pun menyadari betapa dirimu banyak kehilangan kebebasan masa remaja dan masa muda. Mestinya berkembang dalam interaksi sosial dengan belajar, tapi malah harus jadi pelayan dalam rumah tangga.

Jika kini kau sadar, masih ada potensi bagi dirimu untuk bangkit. Tentu dengan beban dan keadaanmu yang ada sekarang, itu adalah konsekuensi dari pilihan hidupmu di masa sebelumnya. Itupun masih bisa kau hadapi, setelah dirimu sadar.

Kemerdekaan didapat setelah manusia mengalami kesadaran baru.

Merdeka itu bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari penindasan dan penghisapan (material), bebas dari penjajahan doktrin dan cara pandang (ideologis) yang mengendalikan jiwa dan karakter yang membuat kita tidak bisa berkembang.

Bebas untuk memilih dan bergaul dalam rangka mengembangkan diri, mencukupi kebutuhan dan keinginan, beraktualisasi diri. Bebas untuk melakukan apapun, sebagai hak-hak individu yang tidak bertentangan dengan hak-hak orang lain, dan dibatasi oleh aturan bagi yang telah memilih posisi yang dibingkai untuk mengarahkan peran yang sesuai aturan dan norma yang telah disepakati.

Kemerdekaan adalah produk berpikir dan perkembangan tenaga produktif masyarakat modern, sebuah hibah dari kebudayaan yang matang yang diatur oleh akal sehat dan hati nurani yang menempatkan tiap pribadi sebagai entitas manusia yang harus dihormati sebagai manusia yang bisa memajukan dirinya serta diberikan kesempatan di alam merdeka yang diberikannya.

Dan dengan dijunjungnya nilai-nilai hak asasi manusia dan akal sehatlah pula, kita bisa menguak upaya memasung kebebasan fisik maupun kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir membuka ruang pikiran kritis untuk menggugat setiap upaya orang dan kelompok lain (atau lembaga-lembaga sosial politik) yang berupaya menindas dan memanipulasi kenyataan dan mendapatkan keuntungan dengan menyusahkan orang lain.

Saya pernah mendengar atau membaca tulisan yang kira kira begini: “tidak mungkin merdeka selama masih ada kebutuhan dan keinginan. Karena penyebab penjajahan adalah adanya keinginan dan kebutuhan dalam diri manusia.”

Namanya manusia hidup ya pasti punya keinginan dan kebutuhan. Kalau sudah mati keinginan tidak ada karena pikiran tidak ada. Karena organ-organ tubuh juga tidak ada alias rusak. Tidak ada jantung yang berdetak, tidak ada dada yang bergemuruh.

Baik hidup atau mati sebenarnya kita adalah bagian dari alam dengan keterikatan keterikatan pada hukum alam


Tapi apakah kalau manusia mati, apakah itu fisiknya dan sisa-sisa tubuh yang terurai menjadi merdeka? Tidak juga. Orang mati dikubur dalam tanah materi tubuhnya menyatu bersama tanah, mengurai bersama alam. Iya menjadi bagian dari alam raya seisinya. Artinya, baik hidup atau mati sebenarnya kita adalah bagian dari alam dengan keterikatan keterikatan pada hukum alam.

Baca juga : Memaknai Sosok Warok Dalam Perayaan Hari Besar Kemerdekaan

Jadi sebenarnya selama kita itu ada sebagai materi, kita adalah bagian dari materi yang lebih besar yang menjalin suatu ikatan. Kita akan tunduk pada hukum-hukum materi itu dan hukum-hukum dialektika alam. Sebenarnya, kita tidak pernah berdiri sendiri. Dan bukankah kita bisa mengatakan merdeka setelah kita merasa bahwa kita bagian dari hubungan dengan orang lain dan dengan alam?

Salah satu hukum alam itu adalah jika kaum adalah makhluk hidup, maka kau pasti terikat dengan hukum-hukum alam sebagai makhluk yang hidup. Salah satunya adalah punya kebutuhan dan keinginan!

Keinginan dan kebutuhan juga menjadi penyebab gerakan mencapai kemerdekaan! Justru kemerdekaan dan kebebasan bisa kita pahami ketika kita sudah terbebas dari kontradiksi-kontradiksi hidup yang kita alami. Kita lapar lalu kita mendapatkan makanan dan kita makan, maka kita bebas dari rasa lapar. Kita harus selalu berusaha untuk mendapat atau mencari minuman, maka kita bebas dari rasa haus.

Jadi kemerdekaan adalah sebuah situasi yang kita dapatkan setelah kita berjuang, perjuangan untuk mengatasi kontradiksi yang kita hadapi.

Dan makna kemerdekaan didapat akibat dari keberadaan kita dalam relasi kita dengan alam dan manusia lain. Kita adalah bagian dari alam. Kita menghadapi alam. Kita adalah bagian di dunia di mana di dunia ini ada manusia lain. Kita juga berhubungan dengan orang lain.

Maka dari situlah muncul frase “bebas untuk” dan “bebas dari”!

Sebagai manusia kita bebas untuk mewujudkan keinginan keinginan kita, kebutuhan kebutuhan kita, mengembangkan diri kita, mengaktualisasikan diri kita sebagai bagian dari hak kita untuk hidup dan berkembang sesuai dengan keinginan dan potensi yang kita miliki.


Sebagai manusia kita bebas untuk mewujudkan keinginan keinginan kita, kebutuhan kebutuhan kita, mengembangkan diri kita, mengaktualisasikan diri kita sebagai bagian dari hak kita untuk hidup dan berkembang sesuai dengan keinginan dan potensi yang kita miliki. Kita bebas untuk membawa diri kita, tubuh dan pikiran kita kemana saja sesuai dengan keinginan kita dan keyakinan kita. Orang lain di luar kita juga berhak seperti itu. Hak kita akan berhadapan dengan hak orang lain, karena itu di situlah diperlukan aturan yang merupakan kesepakatan bersama.

Baca juga: Memaknai Kemerdekaan: Problem Kebijakan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Sebagai manusia kita juga punya hak untuk bebas dari hal-hal yang kita tidak inginkan atau yang menghambat perkembangan diri kita dan yang menentang keinginan keinginan kita. Secara naluriah, manusia ingin bebas dari penjajahan dan penindasan orang lain, kelompok lain, dari lembaga-lembaga sosial politik, atau kekuatan apapun yang membuat kita kehilangan hakikat kita sebagai manusia. Manusia akan cenderung menghindar dari keadaan yang membuatnya tidak bebas dan tidak merdeka. Bahkan manusia akan melawan hal-hal atau keadaan yang membuatnya tidak bebas dan tidak merdeka. Manusia ingin cenderung bebas dari keadaan-keadaan yang menyusahkan dan pihak-pihak yang membuatnya kehilangan hak-haknya.

Dalam sejarah perjalanan manusia, mereka akan cenderung mencari tempat-tempat yang mudah untuk ditinggali, yang memudahkannya mencari makanan dan mengembangkan kehidupan. Mereka akan berpindah tempat supaya terbebas dari kondisi alam kehidupan yang membuat mereka kesulitan untuk hidup. Mereka ingin terbebas dari penjajahan kondisi alam yang sulit.

Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud, Mengapa Banyak Ditentang

0

Saat sedang menyaksikan ILC yang disiarkan tv One tentang POP (Program Organisasi Penggerak) beberapa waktu lalu, dimana Mas Mendikbud ditentang habis-habisan oleh semua pembicara, kecuali (tentu saja) oleh Pejabat Kemdikbud yang menangani POP, saya jadi teringat saat kuliah 40 tahun lalu. Ulasan saya kali ini tidak membahas tentang Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud dari substansi Belajar Merdeka itu, namun dari kacamata keilmuan komunikasi.

Kampusdesa.or.id-Pada jurusan kuliah saya (dulu belum ada program studi), jurusan PLS IKIP Malang awal tahun 1980-an, ada satu mata kuliah yang menyita perhatian saya, yaitu mata kuliah Difusi Inovasi yang dibina oleh dosen yang sangat saya kagumi, Abah Dillah Abdillah Hanafi dan salah satu referensi yang disarankan beliau adalah buku karangan Everett M. Rogers dan Floyd Shoemaker yang telah dialihbahasakan oleh beliau sendiri.

Mengapa mata kuliah ini begitu meaningful bagi saya? Sebelum masuk kuliah saya telah bekerja sebagai penyuluh pertanian selama 10 tahun, sejak tahun 1971. Dari buku itu saya mencoba bercermin pada perjalanan diri saya ketika menawarkan ide-ide baru dalam bidang pertanian, yang semuanya cocok dengan yang diuraikan Rogers dan Shoemaker.

Lalu apa hubungannya dengan Mas Mendikbud dan Merdeka Belajar? Dalam buku itu, dikisahkan proses adopsi suatu inovasi yang saat itu boleh dikatakan gagal. Ada seorang agen pembaharu yang mengenalkan ide-ide baru yang sebenarnya baik dan bermanfaat namun tidak mendapat sambutan dari khalayak. Saya melihat ada kesamaan antara kisah dalam buku terjemahan Abah Dillah Abdillah Hanafi tersebut dengan kisah Mas Mendikbud dengan konsep Merdeka Belajar.

Dalam hal ini bukan karena ide Merdeka Belajar dan POP buruk, namun karena masyarakat belum siap menerimanya, dan bisa juga karena kesalahan strategi yang ditempuh oleh Mas Mendikbud bahkan juga oleh Presiden kita.

Dalam hal ini bukan karena ide Merdeka Belajar dan POP buruk, namun karena masyarakat belum siap menerimanya, dan bisa juga karena kesalahan strategi yang ditempuh oleh Mas Mendikbud bahkan juga oleh Presiden kita. Mengapa? Dalam profil masyarakat dilihat dari ilmu komunikasi, khususnya difusi inovasi, ada kelompok masyarakat, yaitu inovator, adopter awal, adopter awal mayoritas. Adopter lambat mayoritas dan lagard, jumlahnya dalam masyarakat sesuai dengan kurva normal. Dalam jumlah yang termasuk pencilan (outlier) adalah inovator di sisi kiri dan lagard di sisi kanan dengan jumlah populasi sekitar 2%, kemudian 1 SD (Standard Deviasi) adopter awal di sisi kanan dan adopter lambat di sisi kiri jumlahnya sekitar 14%, di tengah dalam proporsi terbanyak adalah majority early adopter dan majority late majority masing-masing 34%.

Dari sini bisa kita pahami, bahwa pendukung awal suatu inovasi itu amat sangat sedikit, hanya orang-orang gila, kata saudara saya, Nafik Naff, atau seperti yang saya katakan pada saudara saya yang lain Gus Lukman Hakim dari Sekolah Dolan, inovator ini adalah the right man in the right place, but in the wrong place, atau lahir sebelum waktunya, manusia untuk masa mendatang. Itulah mengapa dalam ILC di tvOne juga dituduhkan Mas Mendikbud lebih dekat dengan stafsusnya, karena dalam ilmu komunikasi juga dikatakan homofili, yaitu kecenderungan lebih suka mendekat ke orang-orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya.

Seharusnya arah difusi inovasi ini lebih diarahkan kepada tokoh-tokoh bidang pendidikan.

Namun, saya bisa memahami “salah strategi” dari Mas Mendikbud ini. Seharusnya arah difusi inovasi ini lebih diarahkan kepada tokoh-tokoh bidang pendidikan. Ditambah, Mas Mendikbud terhitung orang baru dalam dunia pendidikan sehingga banyak tokoh-tokoh karismatik pendidikan banyak yang menentang, dengan argumen “serahkan urusan pada ahlinya”.

Saya teringat saat awal jadi penyuluh di 50 tahun lalu di negerinya Gus Nafik dan kakak Rubi di Bojonegoro, saya dianggap masih anak kemarin sore, sementara beliau-beliau petani itu sudah jadi petani sebelum saya lahir. Saya secara alamiah, mencari petani-petani muda yang bersedia mendukung pembaharuan pertanian dan hasilnya saya malah tidak diterima oleh petani tua yang masih konvensional. Kesalahan ini baru saya sadari setelah saya ikut kuliah Difusi Inovasi dari Abah Dillah Abdillah Hanafi dan ternyata berkomunikasi dengan tokoh petani konvensional juga sangat sulit. Baru setelah petak-petak demplot dengan teknologi baru secara nyata hasilnya lebih baik secara signifikan para tokoh-tokoh petani early adopter mengikuti dan aktif mendukung pembaharuan pertanian.

Saya memahami ada kesenjangan cukup jauh antara pandangan konvensional pendidikan dengan Merdeka Belajar, juga antara para ahli pendidikan dengan mas Mendikbud.

Saya memahami ada kesenjangan cukup jauh antara pandangan konvensional pendidikan dengan Merdeka Belajar, juga antara para ahli pendidikan dengan mas Mendikbud. Apa yang saya alami saat diseminasi inovasi pertanian jauh lebih mudah dari yang dihadapi mas Menteri. Inovasi di bidang pertanian berwujud yang bisa diindera, bisa diamati, dilihat dan diukur, manfaatnya mudah dirasakan dan sifatnya immediatle, paling satu musim tanam sudah bisa dilihat dan ditimbang hasilnya. Namun inovasi di bidang pendidikan, hasilnya is not immediately, tidak bisa dirasakan segera dalam jangka pendek, serta kurang bisa diamati (observable) dan diukur (measurable) dengan pasti dan obyektif.

Dari sisi pandang ilmu komunikasi saya masih optimis bahwa Merdeka Belajar masih bisa diwujudkan, melalui ubahan strategi mendekati dan menyamakan pandangan tentang konsep Merdeka Belajar dengan belajar konvensional. Dari analisis rentang waktu, masih panjang proses difusi inovasi.

Namun ada yang saya takutkan, bila para pemangku kepentingan menghendaki immediately output dari Merdeka Belajar secara nyata saat ini dan atau tetap berpendapat bahwa Mas Mendikbud dengan Merdeka Belajarnya telah menjungkirbalikkan tatanan pendidikan yang telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun, seperti saat beliau menjungkirbalikkan tatanan taksi konvensionalnya dengan Gojek serta menekan pembuat keputusan di negeri ini untuk menghentikan disruptif pendidikan normal lama untuk mengganti dengan pejabat yang “ahli” dalam bidang pendidikan, maka tamatlah Merdeka Belajar, layu dan mati sebelum berkembang.

Derita dan Asa Pendidikan Kita

0

Padahal, tercatat bahwa kurikulum pendidikan telah berganti sebanyak 11 kali, mulai Rentjana Pelajaran 1947, Rentjana Pelajaran Terurai 1952, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) 2004, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006, K-13, dan terakhir Kurikulum 2015. Apakah hanya persoalan-persoalan di atas yang kita temui dalam dunia pendidikan? Apakah hal-hal itu akar masalah pendidikan kita, yakni soal fasilitas, dana dan taraf pendidikan? Atau justru itu hanya persoalan permukaan? Lantas, apa sebetulnya akar masalah pendidikan kita?

Kampusdesa.or.id-Seorang guru dari salah satu sekolah di Sumenep, Madura, sebut saja Pak “A” mengajar dari rumah ke rumah. Pengalaman tersebut baru diketahui setelah beliau bercerita lewat akun Facebook. Diketahui bahwa para siswa tidak memiliki sarana yang mendukung untuk belajar di rumah selama masa pandemi COVID-19, seperti tidak adanya smartphone atau laptop maupun kemampuan dana untuk membeli kuota internet.

Sekitar 28% responden yang menyatakan anak mereka belajar dengan menggunakan media daring

Awal April 2020, sekitar 300 orang tua siswa sekolah dasar di 18 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur telah diriset oleh Tim INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) untuk mengetahui implementasi kebijakan “Belajar dari Rumah”. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 28% responden yang menyatakan anak mereka belajar dengan menggunakan media daring dan tampak terjadi ketimpangan akses media pembelajaran antara keluarga ekonomi mampu dengan yang kurang mampu. Hal lain disampaikan oleh Pak “HB” yang menjadi tenaga sukarelawan pendidikan di tiga sekolah distrik Mandobo dan Iniyandit, kabupaten Boven Digoel pada Agustus 2015 hingga Mei 2018. Setelah diamati, beliau menemukan tiga persoalan pokok terkait Program Afirmasi (GGD dan SM3T), yakni sekolah di kampung masih kekurangan bahkan tidak memiliki tenaga pengajar, materi pelajaran yang sesuai standar kurikulum nasional ternyata belum mengedepankan hal-hal kearifan lokal, dan masih mengaplikasikan pedagogi tradisional atau memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang netral. Kejadian-kejadian tadi berada di level sekolah.

Data tahun 2017 menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) umur 16-18 tahun merosot ketika memasuki fase selanjutnya (19-24 tahun) atau fase anak/remaja yang seharusnya mendapatkan akses ke perguruan tinggi, yakni hanya 24,67%

Di level perguruan tinggi pun terdapat peristiwa dan catatannya sendiri. Pada 24 April 2019 puluhan mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya mengadakan aksi protes di depan gedung Rektorat. Aksi protes tersebut terkait kebijakan Rektor setempat tentang nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayarkan oleh calon mahasiswa baru yang diterima oleh perguruan tinggi tersebut. Dilansir dari BPS, data tahun 2017 menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) umur 16-18 tahun merosot ketika memasuki fase selanjutnya (19-24 tahun) atau fase anak/remaja yang seharusnya mendapatkan akses ke perguruan tinggi, yakni hanya 24,67% yang dapat menempuh pendidikan fase selanjutnya (perguruan tinggi). Bahkan dalam satu dekade sebelumnya, angka-angka ini relatif tidak jauh berbeda, saat tahun 2007 APS umur 19-24 tahun sekitar 12,20%. Kemudian hingga 2017 angkanya berturut-turut 12,43%, 12,66%, 13,67%, 14,47%, 15,94%, 20,04%, 22,74%, 22,79% dan 23,80%. Wajar bila di tahun sebelumnya yakni 2015, Badan Pusat Statistik pernah merilis bahwa lebih dari separuh tenaga kerja negara ini didominasi lulusan sekolah dasar dan menengah pertama. Sementara per tahun 2016, 54,6 juta pekerja masih memegang ijazah sekolah dasar.

Padahal, tercatat bahwa kurikulum pendidikan telah berganti sebanyak 11 kali

Padahal, tercatat bahwa kurikulum pendidikan telah berganti sebanyak 11 kali, mulai Rentjana Pelajaran 1947, Rentjana Pelajaran Terurai 1952, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) 2004, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006, K-13, dan terakhir Kurikulum 2015. Apakah hanya persoalan-persoalan di atas yang kita temui dalam dunia pendidikan? Apakah hal-hal itu akar masalah pendidikan kita, yakni soal fasilitas, dana dan taraf pendidikan? Atau justru itu hanya persoalan permukaan? Lantas, apa sebetulnya akar masalah pendidikan kita?

Mari kita ingat kembali pasal 31 ayat 3 UUD 1945 bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Berikutnya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyebutkan “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Bila tujuan di atas menjai rujukan utama untuk mengidentifikasi akar persoalan pendidikan, sudahkah pendidikan kita mencapai tujuannya?

Beberapa kata kunci didalam tujuan pendidikan nasional, yakni iman, takwa, dan akhlak mulia tentu terkandung pada konsep pendidikan Islam. Konsepnya tak sama dengan pendidikan karakter Barat yang memiliki beberapa masalah diantaranya tidak ada kesepakatan dari konseptor dan programmer pendidikan karakter tentang nilai-nilai karakter apa yang bisa diterima bersama, ketika harus menentukan tujuan pendidikan karakter terjadi konflik kepentingan antara kepentingan agama dan kepentingan ideologi, konsep karakter masih ambigu karena merupakan campuran antara kepribadian (personality) dan perilaku (behaviour), dan karakter dalam perspektif Islam hanyalah bagian kecil dari akhlak.

Juga tak sama dengan konsep pendidikan multikultural Barat yang mengajarkan untuk menghargai keragaman namun mengandung problem dekonstruksi konsep tauhid, pluralisme agama, relativisme kebenaran, anti otoritas penafsiran, dan humanisme sekuler, sehingga tidak membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Bukan pula pendidikan gender yang berasas pada feminisme yang tak memandang institusi keluarga sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak. Padahal dengan terjalinnya komunikasi yang harmonis, misalnya antara suami dan istri atau diamalkannya konsep keluarga dalam Islam dimana al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. menjadi pedoman dan sumber inspirasi utama, maka konsep hidup dan kehidupan akan dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Sudah banyak gagasan dari para ulama dan bukti kesuksesan bila mengimplementasikan konsep pendidikan dalam Islam dengan sungguh-sungguh. Sejarah mencatat pemikiran Ibn Jauzi tentang pendidikan jiwa, konsep ilmu dan pendidikan oleh Imam al-Ghazali, pendidikan akhlak menurut Syekh al-Zarnuji, pandangan Buya Hamka tentang pendidikan, pendidikan mental-spiritual oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pendidikan menurut Ibn Khaldun, perjuangan Rahmah el-Yunusiyyah dalam pendidikan, konsep pendidikan menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, konsep pendidikan dalam pemikiran al-Kawakibi, Nyai Dahlan yang mempelopori pendidikan perempuan Jawa, perjuangan pendidikan yang dilakukan oleh Jamiat Khair, nasihat pendidikan dari A. Hassan, konsep pendidikan menurut M. Natsir, gagasan pendidikan oleh A. Kahar Muzakkir, perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan, konsep pendidikan menurut Ibn Sina, metode dan pendekatan pendidikan oleh Said Nursi, kondep pendidikan dari Ibn Qayyim, pendidikan ajaran Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak lagi.

Mari pelajari kembali dan pahami lagi wejangan-wejangan dari figur-figur terbaik seperti yang disebutkan diatas, terutama sekali pesan dari Rasullah SAW. dalam merancang, menjalankan, mengevaluasi, dan membenahi sikon pendidikan kita. Bukankah ini tugas bersama? Menimbang pentingnya pendidikan untuk pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara kita. Wallaahu a’lamu bisshowaab.

Penulis: Taufik Hidayat

Motivasi Sukses dan Dewasa Menyikapi Kegagalan

0

Usia dewasa ditandai dengan kemandiri. Itu artinya seseorang bisa disebut sukses, meski kadarnya berbeda-beda. Ada yang selalu terjebak dalam kegagalan. Ada yang menjadikan perkembangan diri sebagai proses memupuk motivasi untuk sukses. Di lain pengalaman, sebagian orang selalu berada dalam kisah-kisah gagal. Menggerutu dan menjadikan kegagalan bukan sebagai pelajar menjadi dewasa, tetapi menjadikannya sebagai kisah kelam yang membentuk pribadinya. Wow, kok bisa.

Kampusdesa.or.id–Selamat hadir di masa penuh rotasi dan transisi, masa penuh peralihan antara menjalani atau meninggalkan, memikirkan atau melupakan, menghidupkan atau menghentikan, menerima atau mengikhlaskan, merelakan atau menyesali.

Masa penuh pertimbangan dalam segala hal, itulah dewasa. Banyak hal yang yang harus diputuskan dengan cepat dan setepat mungkin. dulu waktu kecil mungkin kita sering membayangkan menjadi dewasa itu menyenangkan, banyak yang bisa dilakukan dan tentunya bisa bebas dalam mengambil segala sikap (tidak dipaksa untuk melakukan kehendak orang lain, misalnya mempelajari hal yang tidak kita senangi, dipaksa mengerjakan tugas sekolah, tugas rumah dan tugas-tugas lainnya.

Baca juga:

Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja
Nyamannya Menunda Pekerjaan Membuat Kecemasan Meningkat

Banyak larangan dan aturan yang harus dijalani, tuntutan menjadi rajin, cerdas, dan tuntutan-tuntutan lainnya). Namun, nyatanya semua adalah proses. Menjadi mudah ketika kita mampu melalui setiap tahapan perkembangan secara optimal dan tentunya mendapat dukungan yang maksimal, namun jika tidak, maka akan menjadi sebaliknya (#tentu masa kecillah yang paling menyenangkan, lebih bebas dan tidak banyak beban yang harus dipikirkan).

Dan ternyata, menjadi dewasa itu ditandai dengan kematangan, kemandirian, baik kemandirian secara ekonomi maupun kemandirian dalam mengabil keputusan. Dengan hal tersebut semakin banyak bahaya yang harus dihadapi. Baik itu bahaya secara personal maupun bahaya secara sosial. Penyebabnya adalah ketidakmampuan individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Dan hal ini juga akan berpengaruh kepada kesuksesan ataupun kegagalan dalam memenuhi harapan-harapannya.

Ada beberapa rintangan yang dapat menghambat tugas perkembangan di masa dewasa. diantaranya adalah kemampuan dasar yang kurang memadai, hambatan secara fisik, latihan yang tidak runtut dilakukan, perlindungan yang berlebihan, pengaruh teman yang berkepanjangan dan aspirasi yang tidak realistik.

Hurlock (1990) dalam Development psychology a life-span approach mengatakan bahwa ada beberapa rintangan yang dapat menghambat tugas perkembangan di masa dewasa. diantaranya adalah kemampuan dasar yang kurang memadai, hambatan secara fisik, latihan yang tidak runtut dilakukan, perlindungan yang berlebihan, pengaruh teman yang berkepanjangan dan aspirasi yang tidak realistik. Keadaan-keadaan tersebutkan yang dapat mengganggu emosional pada seseorang dan berpengaruh pada terealisasi atau tidaknya harapan.

Kemampuan dasar yang kurang memadai menjadi faktor utama kesulitan menghadapi tugas kedewasaan. Kemampuan dalam menyesuaikan diri, kemampuan mengatur emosi, konsep diri dan penerimaan diri yang baik akan mejadikan individu lebih siap melaksanakan tugas-tugas kedewasaan. Tanpa bekal kemampuan dasar yang memadai, banyak orang dewasa yang merasa gagal dalam meraih asanya. Kemungkinan besar yang terjadi adalah sulit kembali menerima dirinya, patah semangat dan hilang motivasi untuk bangkit kembali.

Kenapa sulit untuk bangkit? Ketika gagal, kesempatan untuk menghujat diri sendiri menjadi lebih besar dan jika ini terus berlanjut, maka yang menjadi fokus adalah kekurangan yang kita miliki. Kita terus menyalahkan diri kita karena tidak mampu melakukan hal yang berguna kembali. Kita menjadi lupa akan prestasi-prestasi yang dulu telah kita raih. Kita lupa bahwa kita sudah menjadi kuat sejauh ini. Hal inilah yang semakin menjadikan diri kita tidak termotivasi untuk bangkit kembali. Solusinya adalah self talk (berbicara positif pada diri sendiri) dengan memberikan penghargaan-penghargaan positif ketika kita berada pada titik kegagalan sehingga dari sini kita mampu untuk menata diri lebih baik lagi.

Faktor selanjutnya adalah kita juga bisa gagal karena aspirasi yang tidak realistik, membuat harapan atau ekspektasi yang terlalu tinggi, wajar dan boleh saja kita sebagai manusia memiliki angan-angan yang tinggi, akan tetapi jika tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan, jatuhnya pasti akan kecewa. Kita selalu menginginkan hasil yang besar, namun lupa akan proses yang kecil. Hal inilah yang banyak tidak disadari oleh sang pembuat ekspektasi tinggi (inginnya cepet-cepet sukses, tanpa merancang dengan baik langkah-langkahnya).

Perlu kita pahami terlebih dahulu bagian-bagian kecil yang akan mengantarkan kita menuju kesuksesan yang kita inginkan. Kalau kita membiasakan diri untuk melakukan perubahan dari hal-hal yang kecil maka kita akan jauh lebih siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.

Kalau langkah kecil kita remehkan bagaimana kita bisa mendapatkan hasil yang besar dan memuaskan. Perlu kita pahami terlebih dahulu bagian-bagian kecil yang akan mengantarkan kita menuju kesuksesan yang kita inginkan. Kalau kita membiasakan diri untuk melakukan perubahan dari hal-hal yang kecil maka kita akan jauh lebih siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi. Menginginkan hal yang besar namun tidak mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil? Mungkin saja karena harapan yang terlalu tinggi menjadikan kita malas untuk mengerjakan detail-detail pekerjaan. Terlalu terfokus pada hasil dan melupakan proses akan membuat kita jauh lebih kecewa ketika mengalami kegagalan.

Selanjutkan adalah faktor pengaruh teman yang berkepanjangan, berkawan dengan kawan-kawan yang tidak termotivasi ketika kita dalam kondisi gagal. Ini yang membuat kita merasa punya teman bahwa kita tidak menderita sendirian (sama-sama gagal atau sama-sama belum menemukan jalan dalam meraih kesuksesan). Kalau teman kita sanggup memotivasi kita untuk menjadi lebih baik, tapi jika tidak? Kita akan sama-sama tidak keluar dari lingkup kegagalan dan menjadi merasa menderita bersama, tentu akan semakin sulit jalannya.

Dan terakhir faktor penghambat tugas perkembangan adalah latihan yang tidak runtut dilakukan, terlalu banyak yang ingin kita wujudkan juga mengurangi fokus kita meraih kesuksesan. tidak mampu menggunakan waktu dengan baikpun menjadi salah satu faktor pemicu kegagalan. Ketika kita ingin mewujudkan sesuatu agar meraih hasil maksimal, kunci utamanya adalah fokus dan totalitas.Tidak telalu banyak merancang namun selalu memperbaiki rancangan.

Pelajaran Hidup Dari Kerelawanan di Chow Kit

0

Melalui kekuatannya seringkali kita sebenarnya diarahkan kemana-mana tempat dimana kita ditunjukkan oleh Sang Maha Kuasa. Jika hidup kita masih lebih baik dari hidup orang lain, memang butuh kepekaan nurani untuk mengambil pelajaran yang sebenarnya tuhan bagikan kepada kita. Ada banyak pelajaran yang kami petik selama pandemi covid-19 di sebuah jalan Chow Kit Kuala Lumpur.

Kampusdesa.or.id–Seberapa sering dari kita mengetahui ada sebuah nasehat yang berbunyi seperti ini, “Kita tidak akan pernah mensyukuri sesuatu, sampai sesuatu itu diambil daripada kita,” mungkin ada sebagian dari kita yang pernah dinasehati dengan nasehat ini atau pun ada juga yang baru mengetahui ada nasehat seperti ini.

Tapi tak apalah mau tahu atau tidak  yang jelas disini saya coba untuk mengingatkan kita semua termasuk untuk diri saya juga, jika kita masih tidak tidak telat untuk kembali mensyukuri apa yang sekarang kita miliki yang mungkin tidak orang lain miliki.

Meskipun seringkali kita menganggap hidup kita penuh kepahitan dan kesedihan karena mengalami banyak kehilangan sekaligus kekurangan tapi kita mesti ingat ada sesuatu yang tuhan selalu ajarkan kepada hambanya, melalui rasa syukur.

Namun, yang perlu kita kenal pasti nasihat  tentang bersyukur, memang mudah dicakapkan namun tak mudah untuk diterapkan, saya pun mengakui bagaimana sulitnya untuk hidup penuh rasa syukur ditengah zaman yang menuntut kita untuk terus menerus tampil berlebihan.

Tapi kita ingat tuhan seringkali tidak membiarkan hambanya terlampau lupa dan membiarkan hambanya hancur,  melalui  kekuatannya seringkali kita sebenarnya di arahkan kemana-mana tempat dimana kita ditunjukkan oleh Sang Maha Kuasa jika hidup kita masih lebih baik dari hidup orang lain, memang butuh kepekaan nurani untuk mengambil pelajaran yang sebenarnya tuhan bagikan kepada kita.

Perjalanan saya dan teman- teman beberapa minggu lepas untuk sejenak melepas penat dari sibuknya dunia akademis ke Bandar Diraja Klang yang kemudian kami akhiri di Chow Kit.

Chow Kit sendiri adalah sebuah daerah di Kuala Lumpur yang berdekatan dengan Kampung Bahru yang terkenal dengan pasar murah meriahnya, namun bukan barang murah yang kami cari, tapi pelajaran hidup yang kami dapatkan. Mungkin ini pelajaran kehidupan kesekian kalinya bagi saya dan mungkin bagi teman-teman saya yang tuhan kembali ingatkan. Pelajaran kehidupan itu kami mulai dari keikutsertaan kami dalam volunteering di wilayah itu.

Dibawah kemegahan menara Petronas dan kesibukan orang-orang, baik yang mencari secercah kehidupan maupun kesenangan, malam itu kami mengumpulkan kembali energi untuk  terlibat dalam program volunteering bersama salah satu komunitas sosial.

Baca juga:

Membangun Solidaritas Sosial di Tengah Situasi Pandemi COVID-19

New Normal, Dibalik Penularan Covid-19 Tenaga Medis

Kala itu waktu sudah menujukkan jam 10 malam. Di sebuah gedung tua kami dibriefing sebelum turun sebagai volunteer dengan sop kesehatan dan juga diingatkan jika nanti kita akan menemui banyak hal yang tidak pernah kita pikirkan ada di Kuala Lumpur. Dengan muka seperti tersiram minyak kelapa sawit, kami berjalan menyelusuri lorong-lorong gelap di wilayah itu. Tak disangka apa yang disampaikan oleh ketua komunitas sosial itu nyatanya benar.

Situasi perjalanan membagi bantuan di Chow Kit

Di lorong-lorong gelap di tengah hiruk pikuk manusia dengan segala kesibukannya dan kediriannya, ada sekelompok manusia lain yang tidur di antara sampah dan genangan air  hujan. Ada juga yang baru keluar di malam itu hanya itu mengais sampah demi untuk hidup di hari esok. Ironisnya, ada satu orang tua yang saya temui sedang mengais sampah berasal dari negara yang sama dengan saya. Yang ketika saya bagi makanan kepadanya, dia sangat berterima kasih dengan mata yang berkaca-kaca.

Teman saya kemudian bertanya, apakah bapak sudah makan? Lalu bapak itu menjawab ‘belum dik, dari sore tadi,” padahal saat itu waktu sudah menujukkan jam 11.40 malam. Perkataan ringkih pria tua itu, berhasil masuk, menerobos dan memaksa luruh kepongahan saya di tengah dinginnya malam, yang belakangan ini seringkali merasa tak puas dengan hidup yang ada,

Ahhh, dalam hati saya berkata Tuhan memang selalu saja punya cara yang unik untuk terus mengenalkan dan mengajarkan kita sesuatu,hanya saja kita yang seringkali lupa.

Dan sekali lagi malam itu saya di ingatkan kalau tuhan memang tidak pernah lupa untuk menyayangi hambanya dengan berbagai cara termasuk kepada saya, teman-teman, dan mereka semua yang malam itu tidur di antara sampah, genangan air, dan siraman hujan.

Langkah pun kembali berlanjut, satu persatu mereka yang tidur di lorong-lorong gelap itu kami bagikan makanan dan sebotol air. Berbagai jenis manusia yang kurang beruntung daripada kami, pada malam itu kami jumpai.

Sepulang kami dari berkeliling Chow Kit, kami beristirahat sejenak dimarkas komunitas sosial itu. Ketua daripada komunitas sosial itu bertanya kepada kami semua “apa yang kalian pelajari malam ini,“ saat itu saya berpikir, “ah, pastinya kepedulian,“ tapi ternyata ketua komunitas itu memberikan saya sudut pandang lain yang melampaui dari hanya sekedar kepedulian atau bahkan mungkin rasa sekedar ingin tahu.

Dia berkata kepada kami,

“Apa yang kalian bisa pelajari malam ini adalah pentingnya bersyukur karena masih memiliki pilihan, kenapa saya cakap macam ni? Kalau kita tengok mereka, nikmat untuk memilih itu sudah tak ada atau mungkin berkurang yang tentu sahaja beda dengan kita semua, yang masih dapat memilih mau makan apa, mau pakai apa, bahkan mau jalan kemana.”

Para relawan sedang di posko pembekalan untuk refleksi penyadaran

Ah, nyatanya itu juga yang saya lupakan, ya nikmat untuk untuk memilih seringkali saya dan mungkin kita semua lupakan. Nyatanya benar apa yang dicakapkan oleh ketua komunitas sosial itu. Sosok pria muda berkacamata yang seharusnya memilih  jalan aman di universitasnya tanpa harus bersusah payah melewati dinginnya malam, sudah memberikan saya pelajaran baru  pada malam itu.

Memang nyatanya, kesempatan kita untuk memilih apapun didalam kehidupan kita, selalu kita lupakan untuk kita syukuri, lalu kemudian  saya berandai-andai bagaimana caranya kita memulai untuk mensyukuri nikmat pilihan itu ?, bagi saya kita bisa memulainya dengan terus menerus melatih diri kita untuk tidak membandingkan  diri kita dengan orang yang memiliki pilihan diatas kita, misalnya saja kalau kita mahasiswa dari kalangan biasa yang tidak bisa memilih makan di restoran mahal, cukuplah kita membandingkan diri kita dengan orang dibawah kita yang mungkin tak dapat memilih untuk sekolah apalagi untuk makan.

Dan yang kedua, kita juga perlu melatih diri kita untuk terus menerus berani keluar dari zona nyaman dimana disitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil, dan pada akhirnya melatih kepekaan nurani kita, lewat dua cara itulah saya rasa kita bisa melatih rasa bersyukur. Kita menjadi bagian yang melekat dari hidup kita bukan hanya sebatas bagian seremonial yang hanya kita rasakan saat kita memperoleh kesenangan.

Nah, dan yang terakhir kita harus mencintai diri kita, seringkali karena kurang bersyukur kita merasa insecure, lalu kita merasa tidak bahagia dan tidak berkecukupan. Akhirnya kita menyangkal berkat yang ada dalam diri kita. Nah di sinilah pentingnya memulainya dengan MenCintai diri kita sendiri. Tentunya berbeda dari individualistik karena ada rasa syukur didalamnya.

Karena Mau gimanapun manusia, bahkan secantik atau setampan apapun mereka diluar sana, kalo dia gak pernah mencintai dirinya maka dia tidak akan bahagia  dan akan  tetep gak bakal puas dengan keadaannya sekarang, padahal bisa jadi berkat hidupnya lebih baik dari banyak orang di luar sana.

Sekali lagi kita harus ingat, Tuhan itu pada dasarnya memberikan segala sesuatu dengan porsinya yang adil dan sesuai kebutuhan kita, namun kitalah yang seringkali lupa dan berpikir nikmat hidup kita tak lebih baik dari nikmat hidup orang lain.

Karena kepahitan kita, seringkali kita menyalahkan Tuhan dan mungkin orang di sekitar kita. Padahal jika kita mencoba merenungkan, siapa yang patut disalahkan? Yang gemar meninggikan harapan secara berlebihan Atau yang lupa bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah didapatkan .

Jadi mulai sekarang kita harus selalu ingat ada berapa banyak orang di luar sana yang memandang kita lebih enak daripada mereka dan mungkin di sela–sela malam, mereka berdoa agar mendapat posisi seperti yang kita rasakan sekarang entah itu bisa makan, sekolah, sehat, atau lainnya.

Rasanya kita harus lebih sering melakukan refleksi di sela-sela ibadah sembari merenungkan sudah cukup manusiakah kita. Kita seringkali berandai-andai ingin ini dan itu tapi lupa tugas kita sebagai makhluk fana yang diutus tuhan untuk menebar manfaat kepada sesama.”

Ketua komunitas itu kemudian menjelaskan lagi “apa yang kami lakukan adalah proses menanusiakan manusia yang dampaknya juga kembali ke diri kita.“ Kalau saya cocokkan dengan rasa syukur karena memiliki nikmat pilihan, rasanya kita harus lebih sering melakukan refleksi di sela-sela ibadah sembari merenungkan sudah cukup manusiakah kita. Kita seringkali berandai-andai ingin ini dan itu tapi lupa tugas kita sebagai makhluk fana yang diutus tuhan untuk menebar manfaat kepada sesama.”

Pernahkah kalian mengetahui prinsip “siapa menanam, maka dialah menuai?“ Nah jika kita memulai menerapkan prinsip ini kedalam diri kita tentu saja lewat perbuatan kecil maka semesta dengan segala kebaikannya akan membantu kita menjadi manusia yang lebih manusia  yang tentu saja akan tertanam rasa  syukur yang sudah menjadi kesatuan dalam diri saya dan anda yang berbeda daripada manusia-manusia lainnya.

So, mulai hari ini atau esok marilah kita sama meningkatkan kualitas rasa syukur kita demi kebahagiaan kita baik fisik maupun mental, caranya sebenarnya Mudah sekali  Mulailah dari hal -hal kecil  dan yang paling mungkin misalnya  Terima kasih ya tuhan aku telah engkau takdirkan bisa menikmati makanan yang telah engkau hidagkan di pagi ini (resapi ketika saat makan berlangsung)

Terima kasih ya tuhan aku telah engkau takdirkan bisa melaksanakan pekerjaan dengan penuh nikmat dan kegembiraan (dilaksanaakan ketika berangkat kerja ketika naik kendaraan).

Semuanya syukuri, nikmati, rasakan, hal-hal kecil ini jarang sekali dilakukan orang (hanya hal besar atau kenikmatan besar saja yg banyak dilakukan orang), tapi pengaruhnya sangat luar biasa.

Senyum Perawat Indonesia di Tengah Pandemi

0

Seorang perawat prihatin. Jasa yang diberikan seolah masih belum sejalan dengan imbalan. Di masa pandemi, mereka selalu dihantui berbagai berita tenaga medis yang gugur, nada miring dari sejumlah orang yang nyinyir dengan pelayan kesehatan. Alih-alih memerhatikan, para perawat adalah sosok terdepan dalam pelayanan kesehatan, tetapi masih saja kesejahteraan mereka abai. Bagaimana curahan hati ini menjadi pemerintah lebih memihak pada kualitas layanan kesehatan yang baik disertai imbalan jasa yang layak. 

Kampusdesa.or.id–Senyum perawat adalah obat bagi pasiennya. Siapa yang tidak senang dilayani, dirawat, dan dijaga dengan baik oleh perawat yang ramah, dan menarik? Mungkin bila itu terjadi, rumah sakit akan lebih crowded (sesak). Faktanya di lingkungan rumah sakit masih amat jarang ditemukan perawat yang demikian. Masih terhitung jari untuk di Indonesia. Namun, meski tidak seideal keramahan tersebut, anehnya rumah sakit di Indonesia hampir tidak pernah sepi.

Bila melihat sebab-akibat, hal ini terjadi karena kesejahteraan perawat masih belum memadai di Indonesia. Justru di negara yang perawatnya sudah mencapai taraf sejahtera, rumah sakit selalu sepi kecuali bila ada wabah/pandemi. Khususnya yang saat ini tengah terjadi, virus corona.Baca juga:

Bicara kesejahteraan perawat, tentu berkaitan dengan sudut pandang psikologis. Bila perawat menjadi model pelayanan kesehatan , dimana yang patut ditiru? Bekerja shift membuat ketidaktertiban pola istirahat/tidur, makan, aktivitas/olahraga dan berbagai pola kesehatan lainnya yang justru tidak mencerminkan hidup sehat. Nyatanya, masih ada beberapa rumah sakit yang melarang keras tidur bergantian saat shift malam.

Disadari atau tidak, semua itu tentu merupakan kawajiban. Ya, kami akui itu. Namun, bagaimana dengan hak-hak kami yang sampai detik ini tak juga dipenuhi? Seringnya ketika kami menyuarakan, justru selalu dipatahkan dengan respon yang sangat menyakiti. Seperti beberapa waktu lalu ketika pembatasan wilayah atau PSBB pertama diterapkan di sejumlah daerah.

Ada oknum yang mengambil kesempatan untuk mendapatkan popularitas dengan tidak normal. Dia menghina perawat dan Nakes lainnya. Langsung dipenjarakan. Belum lagi yang sebelumnya tak kalah viral tentang provokator yang melarang atau menolak proses pemakaman perawat RSDK Semarang, berakhir di balik jeruji besi. Hingga semakin hari, semakin ke sini, semakin banyak tersangka yang di pidana karena ketidakmampuan dalam menghormati Perawat/Nakes lainnya ataupun melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) seperti Youtuber Sampah.

Rasanya baru kemarin harga diri perawat dijaga, dibela nama baiknya, namun, semua itu tak berlangsung lama. Sebab ketika mulai dibanjiri meme “We Also Have Family but Can’t Stay at Home” atau “I Stayed at Work For You, You Stay at Home For Us”. Justru banyak pula komentar yang tidak suka, dan justru berbalik menghina. Bahkan ada pula yang berkomentar untuk mundur menjadi Nakes bila kerjanya banyak ngeluh.

See? Banyak mengeluh? Padahal niat kami menyebarkan pendidikan kesehatan lewat gaya kekinian, tapi ditanggapinya berbeda. Akhirnya sebagian dari perawat di medsos ada yang kembali menyuarakan dan minta maaf serta meluruskan maksud bukan untuk mengeluh.

Sama halnya seperti Presiden membuka kembali Bandara. Hati rasanya perih, ingin meraung menangis meratapi nasib malang kami. Bagaimana rakyat mau menjunjung tinggi perawat kalau ternyata orang nomor satu pun tidak pernah menghargai jasa perawat dan Nakes lainnya. Lebih daripada itu, kesejahteraan perawat pun diabaikan.

Kami tidak punya pilihan selain bertahan demi keluarga, saudara, kerabat, sahabat, dan orang yang mencintai kami.

Terhadap apa yang telah terjadi, mudah sekali mengatakan bahwa ini takdir ilahi. Itulah mengapa Perawat dan Nakes lainnya masih tetap berdiri kokoh sebagai garda terdepan, walaupun masih begitu banyak yang nyinyir, menghina, dan meremehkan Perawat. Dan kami tidak punya pilihan selain bertahan demi keluarga, saudara, kerabat, sahabat, dan orang yang mencintai kami. Pandemi ini cukup mempengaruhi banyak hal, bahkan tak pandang bulu. Sekeluarga mampu dihabisi Corona.

Hanya ada satu keyakinan, badai pasti berlalu. Walaupun belum dapat dipastikan kapan semua ini berakhir, tapi kami pun percaya bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Andai Allah, Tuhan seluruh alam mengambil nikmat keimanan dalam diri, mungkin kami hanyak akan terseok-seok atau seperti bangkai hidup. Namun, cinta kasih-Nya telah mengukuhkan jiwa raga ini hingga bersatu dalam sanubari dan melahirkan ketaqwaan seorang hamba. Karena Allah-lah sang pemilik hati, ditanamkan rasa tenang, ketegaran, kegigihan, dan kobaran api semangat jihad untuk tetap di jalan fi Sabilillah. Berharap inilah jalan meraih ridho-Nya dan menggapai surga-Nya di tengah pandemi.

Baca juga;

Meskipun tidak mudah, mengingat semakin banyak perawat atau tenaga kesehatan yang gugur, tapi kami-pun semakin berserah pada-Nya. Semakin dikukuhkan dalam jiwa bahwa semua yang dilakukan dari hati akan sampai di hati pula. Berusaha terus menerus menanamkan moral yang baik dan menebar kebaikan, agar pertolongan-Nya semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga senyum perawat Indonesia kedepannya tak lagi diremehkan. Di masa yang akan datang, dibayar dengan kehidupan yang lebih sejahtera, bahagia, dan penuh keberkahan. Aamiin Allahumma Aamiin.

Mars PPNI

Berikut ini Mars Perawat versi 2020

New Normal, Dibalik Penularan Covid-19 Tenaga Medis

0

New normal memasuki babak baru. Pengetahuan dan pengalaman penanganan pandemi Covid-19 mendapat berbagai sudut pandang. Termasuk sebaran virus ini di masa Pandemi Coronavirus, terutama para tenaga medis kita. Bisa diduga, paparan virus tenaga medis bukan semata dari paparan pasien, tetapi bergerak dari satu tenaga kesehatan ke yang lainnya dari hasil berkumpul mereka di luar tugas pada saat istirahat, atau makan bersama

Kampusdesa.or.id–Di massa new normal seperti ini, sudah terlalu banyak pemahaman dan opini masyarakat, apalagi sudah ada dua kubu yang berbeda. Kubu yang percaya Corona dan kubu yang mengganggap Corona benar-benar segawat darurat itu, hingga rumah sakit selalu crowded dengan membludaknya pasien Covid-19.

Namun, taukah kamu? Belakangan ini banyak sekali ditemukan ketidakjujuran pasien, dampaknya rumah sakit kecolongan. Seperti bulan kemarin 22/06/2020, pasien rujukan dari salah satu rumah sakit swasta, dari hasil laboratorium terdapat beberapa pemeriksaan, salah satunya adalah rapid test Covid-19 yang dinyatakan negatif atau non reaktif. Dirujuk karena rumah sakit sebelumnya belum memiliki alat medis yang kurang lengkap, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. Setelah dilakukan berbagai tindakan, bahkan pasien telah dirawat selama dua minggu lamanya, saat dilakukan test PCR ternyata hasilnya positif atau reaktif.

Kurang lebih ada 500 alat PCR test untuk pegawai rumah sakit, termasuk perawat, dan beruntungnya kami semua dinyatakan negatif atau non reaktif. Namun, naasnya ada salah satu ibu kantin dan anaknya yang justru dinyatakan positif atau reaktif. Sampai detik ini belum diketahui penyebab pasien yang awalnya negatif menjadi positif, sebab rapid test hanya 30% dan PCR test 70% keakuratannya. Dan tidak menutup kemungkinan yang menjadi carrier atau pembawa penyakit adalah pengunjung pasien tersebut, sebab telah berkali-kali pegawai rumah sakit memberi peringatan bahwa tidak ada jam besuk. Namun, semua itu sia-sia dan tidak pernah dilaksanakan.

Pernahkah berpikir bahwa ini adalah fase new darurat? Dimana data positif corona meningkat tiap harinya? Rasanya sulit sekali untuk menurunkan angka positif corona di era new normal saat ini, angkatnya terus melonjak tinggi, lebih tinggi daripada saat diberlakukannya PSBB. Bagaimana bila dari ketidakpatuhan pasien dan ketidakpedulian pengunjung rumah sakit membawa malapetaka untuk tenaga medis lainnya?

Telah beredar berita rumah sakit yang ditutup pelayanannya untuk beberapa waktu kedepan, diantaranya;

  1. RSUD Kalideres, 8 karyawan positif, untuk sementara rumah sakit ditutup 1 minggu kedepan.
  2. RSUD Pasar Rebo, 20 karyawan positif, beberapa poli ditutup.
  3. RSUD Depok, 12 karyawan positif, semua poli tutup.

Bahkan baru-baru ini Polsek Tambun ditutup untuk sementara waktu karena ada 5 polisi yang dinyatakan positif corona dan salah satunya diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, dan kini telah tutup usia.

Tenaga kesehatan positif Covid-19 bukan dari pasien. Justru karena merasa aman antar sesama orang kesehatan; makan sambil ngobrol dan bergerombol; berdekatan sambil bergerombol merupakan potensi Nakes terpapar virus.


Hal ini menyebabkan fenomena baru yang ditemukan. Yaitu, Tenaga Kesehatan positif Covid-19 bukan dari pasien. Justru karena merasa aman antar sesama orang kesehatan; makan sambil ngobrol dan bergerombol; berdekatan sambil bergerombol merupakan potensi Nakes terpapar virus.

Maka, berdasarkan evaluasi di atas, ada baiknya tetap melindungi diri demi diri sendiri dan orang yang kita sayangi nan cintai, tidak ada salahnya bukan, bila sampai detik ini kita masih menerapkan protokol kesehatan dengan ketat? Memilih mencegah daripada mengobati.
Baca juga :

Membangun solidaritas sosial di tengah situasi Pandemi Covid-19
Ruang hidup baru

New normal tidak berarti kita sudah bebas dari pesebaran Coronavirus. Termasuk tenaga kesehatan. Kedisiplinan juga penting tumbuh di saat mereka tidak lagi bertugas. Kebiasaan berkumpul, makan bersama, saat istirahat, adalah momen mengasyikkan. Namun, semua tetap perlu memerhatikan keteguhan kita yang selalu memiliki kendali dalam berdisiplian mennjaga protokol kesehatan masa pandemi Covid-19.

Harapannya, semoga tulisan ini menyadari dan mengingatkan kembali pentingnya melakukan protokol kesehatan. Kalau masih mampu, mengapa harus beralasan? Semoga kita tidak menyesali pada akhirnya.