Sabtu, Agustus 29, 2026
Beranda blog Halaman 22

Bullying, Benarkah Menyisakan Trauma Seumur Hidup?

0

Bullying kian marak terjadi. Tidak peduli siapa korbannya, pem-bully tetap saja beraksi. “Gak apa-apa, nangis aja. Nangis itu gak apa-apa. Sedih itu boleh kok!” Kata saya kepadanya. “Ibu tau dari mana kalo itu saya?” Tanya dia penasaran. Semula, dia hanya mengisyaratkan ceritanya dengan nama si A, si B, dan si C. Namun dari bahasanya, tampak jelas bahwa dia sedang memproyeksikan dirinya sendiri. Hari itu, materi kuliah membahas tentang bullying. Setelah perkuliahan usai, ada salah satu mahasiswi yang menghubungi saya, “Ibu, boleh saya curhat sebentar?” tulis dia kepada saya.

Kampusdesa.or.id โ€“ Bullying, kata yang tidak asing terdengar di telinga kita. Bahkan saat ini, semakin marak terjadi. Bukan hanya terjadi pada anak-anak di sekolah, namun juga terjadi pada mahasiswa di bangku kuliah. Mahasiswa saya contohnya.

Apa itu bullying? Menurut Olweus (1993), bullying merupakan penyalahgunaan kekuasaan secara sistematis dan didefinisikan sebagai perilaku agresif atau tindakan merugikan yang disengaja oleh teman sebaya yang dilakukan berulang kali dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan, baik aktual maupun yang dipersepsikan, antara korban dan pelaku intimidasi.

“Orang yang mencintai diri sendiri, tidak menyakiti orang lain. Semakin kita membenci diri kita sendiri, semakin kita ingin orang lain menderita.” -Dan Pearce

Secara psikologis, bullying terbagi menjadi tiga bentuk, diantaranya adalah bullying secara fisik, verbal, dan non-verbal. Contoh bullying secara fisik adalah menampar, menginjak kaki, dan meludahi. Memaki, menghina, mempermalukan di depan umum merupakan contoh bullying secara verbal. Sedangkan contoh bullying secara non-verbal adalah melihat dengan sinis dan menunjukkan ekspresi yang merendahkan.

“Seorang pem-bully berkelahi dengan orang yang lebih kecil dan lebih lemah darinya karena menurutnya itu menyenangkan.” – Tamora Pierce

Nah, bentuk bullying yang dialami mahasiswa saya adalah bentuk bullying secara verbal. dia dipermalukan di depan umum oleh teman-temannya, tepatnya dipermalukan dalam dunia maya, yang lebih sering kita dengar dengan nama cyberbullying. 

Singkat cerita, hari itu materi kuliah membahas tentang bullying. Setelah perkuliahan usai, ada salah satu mahasiswi yang menghubungi saya,

“Ibu, boleh saya curhat sebentar?” Tulis dia kepada saya.

“Boleh dong, silakan,” Jawab saya

Lalu dia bercerita panjang lebar perihal isi hatinya,

“Gak apa-apa, nangis aja. Nangis itu gak apa-apa. Sedih itu boleh kok!” Sahut saya kepadanya.

“Ibu tau dari mana kalo itu saya?” Tanya dia.

Semula, dia malu mengakui bahwa itu adalah dirinya. Jadi, sedikit banyak ada emosi yang tertahan di dalamnya. Dia hanya mengisyaratkan ceritanya dengan nama si A, si B, dan si C, namun dari bahasanya, tampak jelas bahwa dia sedang memproyeksikan dirinya sendiri.

“Udah, nangis aja kalo mau nangis, sini peluk!” Jawab saya dengan membubuhi ‘emoticon hug’ untuknya. Lalu, dia menangis sejadinya!

Kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya, ternyata menyisakan trauma jangka panjang. Bagaimana tidak, perlakuan buruk teman-temannya telah tersimpan dalam memori jangka panjangnya. Dan, setiap kali mengingatnya, dia menangis dan menangis, menyisakan trauma seumur hidup!

Bullying lainnya dialami oleh mahasiswa saya ketika dia masih duduk di bangku SMP. Bayangkan, bangku SMP hingga bangku kuliah, ada jarak berapa tahun dan dia masih mengingatnya dengan baik!

“Saya dikucilkan, bu! Karena itu, saya jadi takut untuk berangkat ke sekolah! Saya jadi gak mau sekolah karena takut dengan teman-teman saya!” Jelasnya.

“Usually people don’t see beyond the surface of things and cannot understand more other than the obvious; they are used to judging a book by its cover, and that is why they don’t hesitate to bully.” -Maria Karvouni

Benar saja, seringkali seseorang hanya melihat dari ‘cover’ atau ‘sampul’ sebuah buku, hingga lupa bahwa ada isi buku yang masih bias ditelaah lebih jauh. Menilai dari luar inilah yang membuat orang yang ‘merasa’ lebih kuat menjadi berlaku semaunya sendiri. Padahal, sudah jelas bahwa setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan, sesuai dengan porsinya masing-masing.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dieter & Suzet (2015) dalam jurnal Archives of Disease in Childhood menunjukkan bahwa bullying mempunyai efek jangka panjang, diantaranya adalah korban bullying berada pada peningkatan risiko depresi dewasa muda, berisiko lebih tinggi mengalami pengalaman psikotik pada usia 18 tahun, lebih cenderung memiliki kesehatan umum yang buruk, sakit tubuh serta mengembangkan penyakit serius di masa dewasa muda, status kesehatan yang lebih buruk dan pemulihan yang lambat dari penyakit, serta memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri di masa dewasa muda.

Lalu, ketika saya bertanya kepadanya, “Gimana cara kamu ngatasi itu?” 

“Orang tua saya menguatkan saya bu! Pelan-pelan saya mulai berani ke sekolah dan saya menemukan teman-teman yang bisa mengerti saya!”, Jawabnya.

โ€œBullying is a horrible thing. It sticks with you forever. It poisons you.
But only if you let it.โ€ -Heather Brewer

Family support (dukungan keluarga) dan social support (dukungan sosial) mempunyai peran penting dalam proses healing (penyembuhan) korban bullying. Bagaimanapun, bullying merupakan hal yang mengerikan dan melekat seumur hidup jika kita membiarkannya! Tugas kita adalah menjauhkan diri dari orang-orang yang akan merusak kesehatan mental kita.

“Gak perlu buang waktu dan tenaga hanya untuk orang-orang yang benci kamu. Fokus pada orang-orang yang kamu cintai dan mencintai kamu! Fokus pada pengembangan diri kamu, potensi kamu! Orang-orang tidak baik di manapun tetep ada, seenggaknya kamu udah belajar gimana cara ngatasi orang-orang seperti itu! Okay! Kamu kuat, kamu hebat!” Begitulah kurang lebih pesan saya kepadanya dan perlahan, air mata itu terhenti.

Kadang, kita hanya perlu didengarkan,
dikuatkan, dan dipastikan bahwa kita baik-baik saja.
-Haniffa Iffa

Korupsi Merajalela, Pendidikan Harus Bagaimana?

0

Publik kembali ditampar oleh kasus korupsi. Kali ini yang bikin menyayat hati adalah sasarannya, yaitu bansos untuk masyarakat terdampak Covid-19. Ternyata, korupsi tetap menjadi pekerjaan berat bangsa ini. Kasus-kasus baru terus bermunculan seolah tak peduli lagi pada hukuman dan moral. Bagaimana peran yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan?

Kampusdesa.or.id-Korupsi bisa diibaratkan tumor ganas. Bila tidak segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat sedini mungkin, akibatnya bisa fatal. Si penderita bisa meninggal mendadak atau paling tidak mengalami kondisi kritis tanpa diduga. Begitupun korupsi bagi demokrasi.

Sejatinya, korupsi bukanlah penyakit demokrasi saja, sistem pemerintahan lain juga tidak lepas dari inveksi penyakit mematikan ini. Arab Saudi misalnya, dilansir liputan6.com, sebanyak 298 pejabatnya tersandung kasus korupsi. Begitu juga Thailand. Negeri Gajah Putih ini belakangan malah sibuk dengan skandal anggota kerajaannya.

Di Indonesia, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang korupsi oleh media massa. Terbaru, kita dikagetkan dengan kasus korupsi Menteri Sosial, Juliari P. Batubara terhadap Bantuan Sosial (Bansos) untuk masyarakat terdampak Covid-19. Kasus yang membuat masyarakat geram ini sedang dikembangkan lebih lanjut penyelidikannya oleh pihak berwajib.

Baca Juga:

Ketika Pendidikan Anti Korupsi Menjadi PR Bagi Guru

Sebenarnya bermacam upaya sudah dilakukan untuk menanggulangi korupsi di negara kita. Mulai dari pembentukan KPK, revisi UU, pengkajian hukuman mati, hingga pendidikan anti korupsi. Namun, tetap saja, kasus-kasus baru terus bermunculan. Dari sini dapat kita katakan bahwa korupsi merupakan penyakit yang kompleks dan membutuhkan cara yang kompleks pula untuk menyembuhkannya.

Sebab begitu luasnya cakupan garapan untuk menyembuhkan korupsi, tentu membahasnya dalam tulisan singkat ala kadarnya seperti ini tidaklah tepat dan memadai. Untuk itu, saya akan fokus saja pada salah satu sisi yang sesuai dengan kapasitas saya, yaitu pendidikan.

Akar Masalah Korupsi

Bila kita telisik lebih dalam, akar penyebab munculnya tindakan korupsi sebagaimana dikatakan mantan wakil ketua KPK, Busyro Muqoddas, adalah lemahnya integritas, kejujuran, dan moral. Senada, Romli Atmasasmita, Guru Besar Universitas Padjajaran juga mengatakan bahwa ternyata akar masalah korupsi ada pada diri kita masing-masing (Sindonews.com).

Lebih lanjut, Romli menyatakan korupsi bukanlah kesalahan komponen politik semata, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat yang telah melupakan pentingnya pendidikan sejak SD sampai perguruan tinggi, proses rekrutmen dalam pekerjaan sampai pada purnatugas, baik di birokrasi maupun swasta.

Lemahnya integritas, kejujuran, dan moral merupakan cerminan ada yang kurang tepat (jika enggan berkata salah) dengan sistem pendidikan kita.

Nah, berkaca pada dua pernyataan pakar tersebut, dapat kita katakan bahwa pendidikan memainkan peran sentral di sini. Lemahnya integritas, kejujuran, dan moral merupakan cerminan ada yang kurang tepat (jika enggan berkata salah) dengan sistem pendidikan kita. Baik itu pendidikan formal melalui lembaga pendidikan, maupun pendidikan paling mendasar, yaitu keluarga. Termasuk pula pendidikan dalam proses pelaksanaan tugas di birokrasi maupun swasta.

Kekurangtepatan tersebut adalah masih belum diprioritaskannya pendidikan nilai. Sungguhpun, secara legalitas, sistem pendidikan kita sudah menaruh perhatian pada tiga domain dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, dalam praktiknya, domain afektif belum mendapatkan porsi yang semestinya. Jikapun sudah, mungkin metodenya yang perlu dikaji ulang.

Penguatan Pendidikan Nilai: Belajar dari Pesantren

Untuk menemukan metode yang tepat, kita harus kembali menengok karakteristik dari masing-masing domain. Kognitif misalnya, domain ini berhubungan dengan akal atau intelek. Pengembangannya jelas membutuhkan metode yang merangsang rasa ingin tahu, menajamkan analisis kritis, berbasis mengalami, dan seterusnya.

Banyak pendidik yang mengajarkan nilai atau karakter tapi hanya sebatas pada retorika dan hapalan konsep. Aspek keteladanan dan praktik pengalaman langsung kurang ditekankan.

Sementara afektif berhubungan dengan psikis, jiwa, dan emosi. Tentu tidak bisa dikembangkan hanya menggunakan metode hapalan atau drill. Inilah yang sering kali luput dari perhatian. Banyak pendidik yang mengajarkan nilai atau karakter tapi hanya sebatas pada retorika dan hapalan konsep. Aspek keteladanan dan praktik pengalaman langsung kurang ditekankan.

Baca Juga:

OTT; Musibah Terdahsyat Lombok Paska Gempa

Setali tiga uang, proses penilaian atau evaluasinya juga berbasis pada ingatan. Akhirnya, proses pengembangan domain afektif tak jauh beda (atau sama?) dengan domain kognitif. Lulusan pendidikan kita pun menjadi manusia yang fasih berkata-kata tapi lemah dalam tindakan nyata. Kata pepatah Jawa, โ€œSuwal bedah ra iso ndondomi, iso kojah ra iso ngelakoniโ€.

Lihat saja para koruptor, mereka bukanlah orang yang tak berpendidikan. Gelar akademik tersemat mentereng di samping nama mereka. Tentu mereka akan fasih bila ditanya apa itu definisi jujur, apa itu definisi disiplin, apa itu definisi amanah, dan seterusnya.

Pendidikan nilai di pesantren tidak hanya mengajarkan konsep, tapi aplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya diajarkan bahwa tawadluโ€™ kepada guru itu penting, tapi juga bagaimana praktik tawadluโ€™ itu.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari pesantren. Pendidikan nilai di pesantren tidak hanya mengajarkan konsep, tapi aplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya diajarkan bahwa tawadluโ€™ kepada guru itu penting, tapi juga bagaimana praktik tawadluโ€™ itu. Tidak tanggung-tanggung, para kiai sendiri yang mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak awal, santri sudah didoktrin bahwa bekal untuk kehidupan akhirat lebih penting dibanding urusan dunia. Meskipun, santri juga tidak boleh mengabaikan kehidupan dunia. Intinya, santri diajarkan untuk seimbang dalam menempatkan keduanya. Makanya, tidak sulit kita temui pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu duniawi seperti dagang, teknologi, kerajinan tangan, tai, dan ternak kepada para santrinya.

Tidak hanya itu, para kiai juga mengkombinasikan upaya lahiriah tersebut dengan upaya batiniah atau spiritual yakni melalui doa dan tirakat. Kombinasi inilah yang jarang kita jumpai di institusi pendidikan formal. Bahkan, di lingkungan keluarga sekalipun. Seolah-olah jika anak sudah dimasukkan ke sekolah, tanggungjawab orangtua untuk mendidik gugur dengan sendirinya.

Akhirnya, bila pendidikan nilai dikuatkan sedini mungkin, kemungkinan intensitas seseorang untuk melakukan korupsi dapat diperkecil. Yang bersangkutan akan selalu ingat dan waspada bahwa segala tindak-tanduknya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Juga, ia meyakini bahwa kebahagiaan tidak akan didapat dengan cara merampas hak yang bukan miliknya.

Menalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemi

0

Pandemi Covid-19 masih belum juga reda. Terbaru, terjadi lonjakan ugal-ugalan. Fasilitas medis belum memadai dibarengi dengan petugas kesehatan yang kian kewalahan. Kesadaran mengurangi penyebaran virus Covid-19 harus makin ditingkatkan. Selain itu diperlukan sumber literasi sebagai rujukan untuk menyikapi pandemi Covid-19 dengan pendekatan nalar agama,ย  sosilogis, sudut pandang psikologis, kacamata farmatologi, serta dari sisi pedagogi.

Kampusdesa.or.id-Lima bulan lebih, sejak awal Maret 2020, bangsa Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Dalam sekejap bangsa ini langsung berada dalam kondisi kedaruratan. Bukan semata disebabkan oleh pola pola penyebaran virus yang sangat cepat, faktor lainnya, karena kita belum mengenali virus ini dengan baik, belum memahami bagaimana perlakuan medis terhadap virus ini, bagaimana menangani dan membatasi ruang gerak virus, serta belum semua tenaga medis kita -khususnya yang berada di layanan kesehatan terendah- memahami prosedur penanganan medis, baik terhadap ODP, PDP, maupun positif Covid-19. Karena itulah, kondisi ini banyak menguras energi seluruh lapisan bangsa ini, bahkan cenderung menghadirkan ketakutan dan kecemasan publik, yang bahkan mengarah pada gejolak dan konflik sosial ditengah-tengah masyarakat.

Pandemi Covid-19 di Indonesia dan bahkan di dunia, tidak hanya berdampak pada kesehatan sebagaimana tercatat pada kesakitan dan kematian harian, tapi secara sistemik telah berdampak pada ekonomi rakyat. Juni 2020, tercatat Bank Dunia kembali mengeluarkan Global Economic Prospects yang berisi prediksi pertumbuhan ekonomi global dan tiap negara. Indonesia, diprediksi akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar -5 persen akibat pandemi Covid-19.

Dihadapkan pada kondisi pandemi ini, diperlukan kebijakan yang dapat menjamin keselamatan hidup warga negara dari serangan Covid-19, namun tetap tidak melupakan pertimbangan pemenuhan kebutuhan hidup warga negara. Protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan secara ketat, tapi roda ekonomi harus terus berputar. Karenanya, kita harus bisa hidup berdampingan dengan Covid-19. Virus ini tidak boleh menjadi hambatan perputaran ekonomi rakyat, dan aktivitas sosial ekonomi rakyat harus kembali normal seperti sediakala.

Keberhasilan implementasi kebijakan sangat ditentukan oleh pelaksana kebijakan mulai dari tingkat terendah yaitu desa, dalam hal ini aparatur serta warga desa. Karena itu, dalam keputusan ini diatur protokol umum yang wajib dilaksanakan pemerintah desa dan masyarakat desa. Dalam kebijakan ini, diatur pula enam protokol, yaitu protokol pelayanan publik; protokol kegiatan sosial, keagamaan dan hajatan; protokol kegiatan ibadah; protokol pasar desa; protokol tempat wisata; dan protokol kegiatan padat karya tunai desa.

Diperlukan kesadaran (awareness) bersama, baik pemerintah desa maupun warga desa, untuk menjalankan adaptasi kebiasaan baru ini. Dengan demikian, kita tetap dapat mengontrol dan mengendalikan penyebaran Covid-19, dan ekonomi rakyat akan tetap bergerak. Produktivitas penduduk desa akan tercipta, warga desa tetap aman dan terjaga dari penularan Covid-19.

Buku โ€œMenalar Covid-19: Ragam Gagasan Menyikapi Pandemiโ€ merupakan โ€œanak kandungโ€ gerakan Iโ€™M (Indonesia Menulis) Covid-19 yang digagas oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc dan Kampus Desa Indonesia. Para penulis buku ini adalah para akademisi dan peneliti, praktisi serta kalangan profesional yang memiliki keprihatinan yang sama menghadapi pandemi Covid-19.

Buku ini benar-benar eksklusif, karena menyediakan informasi dan pengetahuan yang utuh tentang Covid-19 dari berbagai persepktif, serta bagaimana hidup berdampingan dengan Covid-19 atau beradaptasi dengan kebiasaan baru. Bagaimana menyikapi pandemi Covid-19 dengan menggunakan nalar agama, persepktif sosilogis, sudut pandang psikologis, dari kacamata farmatologi, serta dari sisi pedagogi dapat pembaca temukan di buku ini.

Lahirnya buku ini, sangat membantu pemerintah, dalam upaya membangun literasi Covid-19 kepada rakyat Indonesia. Untuk itu, saya sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para penulis buku ini.

Sebagai sebuah referensi akademis terkait literasi Covid-19, buku ini sangat tepat menjadi salah satu sumber rujukan akademis bagi penyelenggara negara, dari tingkat pusat sampai penyelenggara pemerintahan desa dengan seluruh perangkatnya, dalam rangka ikhtiar membangun kebiasaan baru ditengah-tengah masyarakat. Bagi masyarakat luas, buku ini akan membantu untuk meningkatkan kesadaran (aweraness) masyarakat bagaimana menghadapi dan hidup ditengah pandemi Covid-19.

Semoga buku ini bermanfaat untuk kita semua, dan menjadi jariyah para penulisnya, yang terus mengalirkan pahala hingga hari akhir kelak.

Mari mulai kehidupan baru, dengan adaptasi kebiasaan baru, untuk meraih kehidupan yang lebih maju.*

*Dr. (H.C.) Drs. A. Halim Iskandar, M.Pd (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia)

Link pembelian buku di atas bisa klik di sini atau di sini.

Membaca Apesnya Tugas Akhir Mahasiswa

0

Ada sebuah keadaan dimana kita sudah memberikan usaha maksimal sejak persiapan, proses, sampai dengan presentasi, namun seringkali ada variabel lain yang membuat hasilnya tidak optimal. Bisa dikatakan, hal itulah definisi dari kata apes yang paling mendekati. Lawan kata dari apes yang paling mendekati adalah beruntung.

Kampusdesa.or.id-Selepas salat Jumat beberapa tahun lalu, saya dan tiga rekan dosen menuju kantin untuk makan siang. Salah seorang rekan dosen senior yang sangat kami hormati berseloroh, “kita harus bersyukur saat ini sedang diberi sebuah kenikmatan besar, menjadi dosen adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri, karena ada beberapa pekerjaan halal namun bersifat apes”. Kami bertiga menyimak serius sambil menghisap rokok divine ย kami. Selorohan tersebut berlanjut, “seperti yang sedang mampir di kampus kita hari ini, para auditor. Pekerjaan yang baik dan halal namun bersifat apes, karena keberadaannya selalu ditakuti dan dihindari. Setidaknya bagi beberapa โ€˜pejabatโ€™ yang merasa ketakutan terhadap sesuatu yang sudah menjadi kebijakannya”. Kami manggut-manggut dan tersenyum kecil โ€˜mengiyakanโ€™ selorohan tersebut sambil membayangkan desingan berita yang berseliweran saat auditor bertamu di kampus kami, dan mendapati beberapa pejabat mendadak melangsungkan perjalanan dinas. Ada pula pejabat yang pulang lebih awal dan tidak masuk selama kunjungan auditor dikarenakan sakit, bahkan tiba tiba ada nomer hape yang terblokir atau hapenya โ€˜hangโ€™ sehingga tidak dapat dihubungi.

Apa kejadian di atas, tugas akhir mahasiswa dan selorohan tersebut? Bukan, kita tidak sedang membahas auditor dan pejabat kampus (tapi mungkin pada tulisan yang lain akan dibahas) melainkan kata โ€˜apesโ€™. Sebuah keadaan dimana kita sudah memberikan usaha maksimal sejak persiapan, proses, sampai dengan presentasi, namun seringkali ada variabel lain yang membuat hasilnya tidak optimal. Bisa dikatakan, hal itulah definisi dari kata apes yang paling mendekati. Lawan kata dari apes yang paling mendekati adalah beruntung.

Berkarir sebagai seorang dosen (cieeeโ€ฆ ngaku-ngaku wong biasanya menyebut diri sebagai teman mahasiswa) membuat saya mengalami proses ujian akhir dengan beragam rekan penguji dan juga membimbing beragam mahasiswa yang telah menempuh ujian tugas akhir pula. Berbagai rekaman memori dapat digali ulang untuk mengidentifikasi fenomena yang ada saat membaca tugas akhir mahasiswa, dan poinnya adalah sebagai berikut:

Menjadi calon pembimbing kadang jalannya berliku, ikut tegang dengan mahasiswa calon bimbingan, berharap-harap cemas karena kebetulan judul yang diajukan mahasiswa sesuai dengan preferensi dan kepakaran sang dosen. Namun seringkali harus menyiapkan tissu pengusap air mata (ini sih lebay aja penulisnya), ketika calon mahasiswa bimbingan tersebut curhat bahwa dia gagal menjadi mahasiswa bimbingan karena beragam alasan. Alasan ini, biasanya merupakan informasi pendukung/keterangan dari bagian akademik selepas rilis pengumuman daftar dosen pembimbing. Salah satu alasan yang populer adalah kuota dosen pembimbing penuh (seperti zoom meeting room aja, hehehe ngiklan dikit biar dapat kontrak endorsement). Ya, bagi beberapa mahasiswa hal tersebut cukup memukul karena telah mempersiapkan diri untuk dibimbing dengan dosen yang dimaksud sejak lama, biasanya terpikat ketika belajar dalam kelas kuliah yang diampu oleh dosen yang dimaksud. Jadi seakan-akan tugas akhir itu bisa dikerjakan bila dibimbing oleh dosen yang dimaksud, ketika mendapati pembimbing yang tidak sesuai, maka apes. Ok itโ€™s a matter about perception, noted.

Lanjut, dalam ujian proposal tugas akhir, terjadi lagi adegan drama, sebuah momen sesaat setelah mendapati pengumuman tim penguji proposal yang sekali lagi dirilis oleh bagian akademik, mendapati list dosen dengan deret nama yang dikenal sebagai dosen โ€˜kritisโ€™ sebagai pembimbing dan penguji merupakan momen yang shocking, berharap dapat mempertahankan apa yang sudah dipersiapkan terkait konsep penelitian yang didalamnya ada latar belakang, rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, metode, lokus, responden/subyek penelitian, cara mengumpulkan data dan analisanya. Memang bagi sebagian mahasiswa, ada dosen favorit, dosen pujaan, dan ada juga dosen killer bin menakutkan (bukan arogan ya), atau yang kompleks seperti mendapati sederet dosen pembimbing/penguji sekaligus pejabat kampus (kalo ini memang kompleks dalam arti sesungguhnya) karena seringkali, menurut mahasiswa, peran antara dosen dan pejabat kampus sukar dibedakan alias jumbuh. Dosen sebagai mitra pembelajar (mahasiswa) dengan kedudukan setara dalam proses pembelajaran, sedang pejabat dengan kewenangan manajerialnya berperan sebagai pemuas stakeholder, salah satunya adalah mahasiswa. Mendapatkan dosen penguji proposal yang tidak sesuai, maka apes lagi. Again, itโ€™s a matter about perception, noted.

Menjalani proses bimbingan, menerima takdir Tuhan dengan berusaha bekerja sebaik mungkin dibawah supervisi dosen pembimbing yang telah ditentukan ternyata juga menyimpan beragam cerita. Versi dosen pembimbing, mendapati bimbingan model all yes sir, paling enak diarahkan karena nurut. Tahapan bimbingannya bisa terstruktur, bisa disesuaikan dengan ritme kerjaan yang lain seperti mengajar, meneliti dan pengabdian (hehehe efek ngisi BKD), bisa bekerja dengan target versi dosen pembimbing.

Kemudian ada bimbingan model now, yaitu iโ€™m ready sir, model mahasiswa yang bisa bikin stres dosen pembimbing. Mahasiswa yang bisa bekerja cepat, bahkan lebih cepat dari dosennya. Tipe mahasiswa yang tiap pagi konsultasi, sore harinya sudah setor hasil revisi. Tipe mahasiswa penodong seakan-akan dosennya suka molor, mahasiswa yang kuat terhadap targetnya sendiri (jadi teringat kisah salah seorang rekan dosen saat dia menjadi mahasiswa).

Mahasiswa bimbingan model finally, iโ€™m sir adalah mereka yang diminta revisi kemudian kembali dengan tulisan sama yang di-print ulang berharap sang dosen lupa coretannya, atau mahasiswa yang diminta merevisi bagian A, tapi yang diganti bagian B, sehingga sebanyak apapun sesi konsultasi, progresnya tetap berkutat pad bab latar belakang. Kemudian, model itโ€™s me, sir mahasiswa bimbingan yang sejak turun SK bimbingan belum pernah konsultasi dan kemudian tiba-tiba muncul berduyun-duyun pada minggu-minggu terakhir deadline pendaftaran sidang/ujian (biasanya terkait tenggat pembayaran SPP).

Terakhir, mahasiswa bimbingan tipe could I, sir?, mahasiswa bimbingan yang cuma sekali, atau bahkan belum sama sekali melakukan pembimbingan pasca seminar proposal, kemudian setelah ratusan purnama muncul lagi dengan mengiba karena rasa takut dan malu akan drop out dengan posisi injury time karena sudah mendekati semester terakhir.

Dari sisi konsultasinya ada mahasiswa tipe penjaga pintu, baik rumah dan atau kantor, selalu setia menanti kedatangan/kehadiran dosen pembimbing. Ada pula tipe fans fanatik, siap meluncur mendapati dosen di mana pun berada, seakan ia punya GPS yang bisa memindai posisi dosen pembimbing. Lain dosen lain mahasiswa, mereka punya versi sendiri tentang dosen pembimbing, ada dosen pembimbing yang selalu sibuk berpergian, selalu pergi ke luar kota sekaligus tipe dosen AKAP (antar kota antar provinsi), tipe signal lost dosen pembimbing yang sulit ditemui ketika dibutuhkan, ada tipe busy boss dosen pembimbing yang selalu rapat dalam sehari undangan rapatnya ada lebih dari tiga, dosen pembimbing ga pernah ngasih feedback atau tipe silent sealed, dosen pembimbing tipe transformer yang selalu berubah dan menggemari revisi, sehingga file revisinya berlabel dari revisi1 sampai revisixxx, lalu tipe ghost writer yang setiap sesi konsultasi menjadi sesi dikte tulisan dan tentu saja ada tipe chitchat friend yang membuat konsul seakan sesi curhatan. Untuk proses yang tidak sesuai dengan harapan itu adalah apes. Once again, itโ€™s a matter about perception, noted.

Setelah proses yang panjang dan melelahkan tibalah pada saat yang dinantikan, ujian atau sidang. Mahasiswa yang sudah bersiap menghadapi ujian dengan siapapun dosen pengujinya adalah mahasiswa yang pasrah, seringkali mahasiswa ini beruntung. Namun tak jarang yang mengalami puncak ke-apes-an pada sesi ini. Mahasiswa merasa mendapati dosen penguji yang punya sentimen, diantara macam sentimen itu adalah: 1) topik penelitian tak sesuai dengan preferensi penguji, sehingga apa yang ditanyakan pada mahasiswa seakan-akan mahasiswa adalah pakar psikologi topik tersebut (macam takabur ilmu); 2) personal dosen pembimbing, seringkali masalah personal berimbas pada bimbingan, jadi mahasiswa terkena getah dari kompetisi tidak sehat antar dosen; 3) pandangan politik (eh ada lho dosen yang sok politik, untuk jadi pejabat main politik, untuk mengajar juga main politik, bahkan menggunakan kamar mandi pun main politik dan mereka bisa berbicara dengan tembok, pintu ataupun jendela bagi dosen tipe ini tembok pun bermata dan bertelingaโ€ฆ.hebat ya) dan punya afiliasi organisasi sehingga berdampak pada ujian akhir mahasiswa; 4) romantis, tipe dosen yang memegang ilmu yang dikuasainya secara berlebihan atau bahkan romantisme masa lalu tanpa menyadari yang dihadapi adalah mahasiswa kekinian dan ilmu pengetahuan tumbuh dinamis; 5) agresor, tipe dosen penguji yang dengan pengaruh dan/atau posisinya mendikte penguji lain untuk memberi poin tertentu both in a good or bad marks.; 6) titik koma, dosen penguji yang amat teliti. Ketelitian terhadap penulisan titik koma, dan membahas serius ucapan terima kasih pada kata pengantar, atau mengkomentari motto, sehingga cukup membuat kelabakan bagi yang nulisnya asal, dan 7) dosen penguji susulan, penguji pengganti dan penguji manipulator yang biasa bekerja di luar sistem (atau tidak ada sistem?). Untuk proses ujian yang menghasilkan nilai tidak sesuai harapan itulah rasa apes. This is a conclusion. Apes is real, dude!!!

Yang bisa dipetik dari tulisan ini adalah dunia penuh dengan orang jahat, itu persepsi kita. Dunia juga dipenuhi orang baik, itu juga persepsi kita. Yang jelas kita hidup di dunia yang penuh dengan pembelajaran. Mari, mari, mari kita senantiasa belajar dan menjadi pembelajar yang baik.

*ditulis saat malam Jumโ€™at, diselingi 2 kali lampu mati dadakan tanpa sebab, dalam mini studio KDI.

Diaspora Mengabdi di Tengah Pandemi

0

Kampusdesa.or.id–Lamongan (29/11). Awal pandemi Covid-19 masuk ke Lamongan, memaksa anak-anak belajar dari rumah. Agar mengurangi rasa jenuh dan tetap memupuk rasa semangat, Diaspora Muda Lamongan mengadakan kegiatan pengabdian bertema “Membangun Asa, Menggapai Pelita”. Selain itu pengabdian yang dilaksanakan di Dsn. Pamotan, Ds. Pamotan, Kec. Sambeng, Kab. Lamongan juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya berpendidikan terhadap anak sejak usia dini demi memajukan generasi emas yang unggul dan berkualitas.

Kegiatan Diaspora Mengabdi (DM) dibuka dengan berkumpul bersama dan doa bersama seluruh panitia dan peserta. Acara kedua dilanjutkan dengan memberikan beberapa permainan tradisional, di antaranya adalah Maraton Sarung dan Permainan Gerobak Sodor. Dua permainan tersebut dianggap akan memberikan ide menarik bagi anak-anak.

Dua jenis permainan ini adalah jenis permainan yang memadukan antara kerjasama tim dan ketangkasan individu. Sebagai contoh Gerobak Sodor, siswa dirangsang untuk melatih berlari dalam menjaga posisinya agar lawan tidak bisa masuk, begitupun regu penyerang akan terlatih untuk menghindari dari regu penjaga. Jadi permainan ini sangatlah recommended untuk anak-anak di zaman sekarang untuk tidak terpaku dan mengurangi intensitas permainan menggunakan gadget saja.

Sedangkan untuk permainan Maraton Sarung, ini juga permainan yang edukatif, dimana menitikberatkan pada kerjasama untuk bisa mengoper sarung dari anak satu ke anak yang lain dengan cara tetap berpegangan tangan dan tidak boleh melepaskan tangan saat mengoper sarungnya. Di situlah kerjasama tim akan terbangun dari individual menjadi tim regu.

Acara ketiga berupa Kelas Motivasi. Dibagi menjadi 3 kelompok, dan masing-masing kelompok diberikan materi yang berbeda-beda.

Pada kelompok pertama, diisi oleh Kak Wawik Adipin dari  Omah Si Dol (Sinau & Dolanan). Karena pada kelas atau kelompok ini rata-rata pesertanya adalah usia PAUD (PG dan TK), maka materi yang diberikan lebih kepada penguatan karakter anak. Pada materi tersebut, Kak Wawik mengajak kepada seluruh peserta untuk senantiasa menjaga kesehatan di masa pandemi. Anak dihimbau untuk selalu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan juga makan makanan bergizi. Lalu kelompok ini ditutup dengan bernyanyi bersama sesuai usia anak anaknya.

Kelompok kedua membahas tentang kiprah BJ. Habibie yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan karyanya yakni penciptaan pesawat terbang. Anak anak dalam kelompok ini berasal dari kelas 4, 5, dan 6. Sehingga setelah selesai bercerita, maka anak anak dipandu untuk bersama-sama meneladani tokoh BJ. Habibie dengan membuat pesawat dari kertas. Setelah itu pesawat kertas tersebut diterbangkan bersama agar lebih semangat mewujudkan cita-cita.

Kelompok ketiga membicarakan tentang seorang tokoh inspiratif yang bernama Adul. Ketika mendengar nama tersebut, anak-anak dalam kelompok ini dari kelas 1, 2, dan 3 tidak langsung tahu siapa dia. Namun dengan ketidaktahuannya tersebut semakin memperhatikan sebenarnya siapa dia sampai menjadi bahan perbincangan saat itu.

Setelah anak-anak mengetahui bahwa Adul adalah anak difabel yang tidak bisa berjalan namun masih sekolah dan membantu orang tuanya dengan merangkak. Anak-anak semakin tertarik dan ingin meniru sosok Adul ini, sebab semangatnya yang pantang menyerah.

Setelah selesai bercerita, diadakan sesi tanya jawab meliputi sosok Adul. Bagi siapa saja yang bisa menjawab maka ia akan mendapatkan hadiah sebuah buku bacaan. Ternyata semua anak-anak dapat menjawab semua pertanyaan dan memperoleh semua hadiah yang telah disediakan oleh panitia.

Acara ditutup dengan pemberian hadiah untuk lomba permainan tradisional. Anak-anak terlihat gembira karena kerja tim mereka saat lomba mendapatkan hasil dan apresiasi dari kakak-kakak panitia. Setelah sesi penyerahan hadiah acara dilanjutkan dengan makan bersama menu soto asli Sambeng Lamongan.

Di akhir acara, anak-anak beserta kakak-kakak melakukan foto bersama lantas pulang sambil bernyanyi membawa bingkisan dengan tanpa salaman -diganti menggunakan toss lengan tangan. (Iin)

Demokrasi di Pilkada itu Bukan Mencoblos, Tapi Memberikan Suara dan Bersuara

0

Tarik-menarik antara kepentingan Pilkada itulah yang mewarnai dinamika demokrasi. Kalau serius mau mengikuti proses demokrasi elektoral ini, kampanye seharusnyaย  ada penyampaian visi-misi yang diterima dan dipahami, dicatat, dan dijadikan bahan diskusi. Dalam demokrasi elektoral sekalipun, memilih adalah hak, bisa digunakan dan bisa tidak digunakan. Hakย  menentukan pilihan soal siapa saja yang akan dipilih, ini punya kadar arti yang berbeda-beda bagi siapa saja. Lalu, bagaimana sebenarnya makna Pilkada itu sendiri?

Kampusdesa.or.id–โ€œTidak memilih karena calon yang dulu kampanye banyak janji-janji akhirnya tidak ditepati. Banyak yang diharapkan dilakukan, ternyata tak dilakukanโ€, begitu ujar seseorang yang konon kabarnya tidak akan menyoblos karena kecewa.

Coba tanya, apa janji yang pernah diucapkan oleh calon atau pasangan calon saat kampanye dulu.

โ€œApa ya?โ€, katanya bingung.

โ€œLha katamu lupa dengan janji yang diucapkan. Lha iya, janjinya apa?โ€

Kampanye bukan pengucapan janji-janji, tapi penyampaian visi-misi dan program apa yang akan dilakukan.

Sekali lagi ia bingung. Karena ia tidak tahu bahwa pasangan calon itu sebenarnya dalam tahapan kampanye tidak diwajibkan untuk berjanji. Kampanye bukan pengucapan janji-janji, tapi penyampaian visi-misi dan program apa yang akan dilakukan. Visi-misi sifatnya adalah rencana kebijakan dan program apa yang akan dilakukan. Bukan pemberian janji akan memberikan materi atau uang. Bahkan menjanjikan materi dan uang malah merupakan hal yang terlarang dan dipidanaโ€”kalau tak percaya cek saja Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 pada Pasal 187A.

Kenapa sebagian orang mengatakan bahwa mereka merasa  kecewa alias sedemikian โ€œbaperโ€-nya ketika calon yang dulunya maju dan terpilih dianggap tidak melakukan perubahan sebagaimana yang diharapkan?

Tentu perasaan kecewa ini tidak salah. Artinya, kecewa karena sangat berharap dan berharap juga hal yang amat diperbolehkan. Merasa dan berpikir, bahkan mengungkapkan lewat kata dan ucapan, dalam sebuah masyarakat yang demokratis, tidak merupakan perbuatan terlarang. Bahkan protes dengan pengerahan massa pun di negeri ini dijamin oleh undang-undang. Berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pendapat dan pikiran, merupakan hak warga Negara yang dijamin oleh undang-undang.

Kalau serius mau mengikuti proses demokrasi elektoral ini, kampanye seharusnya  ada penyampaian visi-misi yang diterima dan dipahami, dicatat, dan dijadikan bahan diskusi. Kalau visi-misi baik dan membuat seorang warga memilih pasangan calon tersebut, maka sebagai warga yang partisipatif ia juga bisa mengawal visi-misi tersebut dan mengingatkan akan hal itu.

Para pemilih juga perlu kritis menjadikan setiap isu yang keluar dari Paslon sebagai bahan publik. Bukan hanya debat publik yang difasilitasi KPU, tapi juga menjadikannya perbincangan publik. Agar ruang publik (public sphere) menjadi medan negosiasi kepentingan dengan kekuatan dialektika yang lebih dinamis. Hanya masyarakat sipil (civil society) yang sehat yang dicirikan oleh situasi seperti itu. Dan itulah yang seharusnya terjadi ketika tahapan demokrasi elektoral berjalanโ€”termasuk pada masa kampanye.

Pemilu itu voting (memilih) atau voice (bersuara)

Visi-misi, di satu sisi, adalah pandangan ke depan yang sifatnya masih abstrak dan umum. Beda dengan program. Tapi keduanya bisa dikawal. Memang, seharusnya yang mengawal dan berusaha mewujudkan adalah kekuatan politik yang mengusung, partai politik, tim kampanye dan para pendukung. Pertanyaannya kemudian apakah banyak tim kampanye yang punya motif seidealis itu? Ataukah mereka hanya merasa senang kalau calonnya menang dan setelah itu akan berusaha mencari peluang dari posisi yang ia peroleh setelah dekat dengan pasangan calon yang berkuasa?

Sebenarnya sederhana saja, demokrasi adalah ruang tarik-menarik kepentingan bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Kepentingan itu bisa kita bagi menjadi beberapa hal: Kepentingan pribadi (atau golongan) dan kepentingan orang banyak, kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang, kepentingan ideologis atau praktis.

Demokrasi memang tidak langsung menjamin kesejahteraan dan keadilan. Tapi demokrasi bisa menjamin sarana dan mekanisme untuk mewujudkan suatu tujuan dengan distribusi kekuasaan dan posisi-posisi yang bisa diisi.

Tarik-menarik antara kepentingan itulah yang mewarnai dinamika demokrasi. Demokrasi memang tidak langsung menjamin kesejahteraan dan keadilan. Tapi demokrasi bisa menjamin sarana dan mekanisme untuk mewujudkan suatu tujuan dengan distribusi kekuasaan dan posisi-posisi yang bisa diisi. Tiap posisi, baik posisi formal maupun informal, bisa dimanfaatkan oleh siapa saja untuk mencapai tujuan. Bahkan sebenarnya posisinya sangat fleksibel. Jika tidak bisa memajukan dari dalam, bisa melakukannya dari luar. Suara-suara, pernyataan-pernyataan, diskursus politik, bisa disalurkan dari jalur mana saja hingga ia bisa masuk ke diskursus publik.

Baca Juga:
Gedung Kejaksaan Agung Dibakar, Om Jin Kembali Viral
Pilkada 2020 Bukan Sekedar Pesta Demokrasi, Tetapi Harus Partisipatif

Jika sudah tersedia kesempatan dan ruang yang cukup luas dan beragam itu, maka dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Dalam hal ini sikap โ€˜ngambegโ€™ dan kecewa saja tidak cukup. Karena ruang partisipasi telah disediakan. Dalam demokrasi elektoral sekalipun, memilih adalah hak, bisa digunakan dan bisa tidak digunakan. Hak  menentukan pilihan soal siapa saja yang akan dipilih, ini punya kadar arti yang berbeda-beda bagi siapa saja.

Ada orang yang sangat tidak ingin haknya diabaikan karena baginya memilih itu adalah pilihan yang akan dimanfaatkan untuk memilih orang yang dianggapnya baik. Di antara pasangan calon yang bertarung, entah dua pasangan atau tiga pasangan atau bahkan empat pasangan pasti tak mungkin semuanya sama. Pasti ada yang lebih baik dan lebih buruk di antara yang sedang disuguhkan.

Bagi sebagian orang lagi, menggunakan hak pilih adalah dukungan terhadap momentum demokrasi โ€˜pilih-memilihโ€™ (electoral democracy) yang menjadi bagian penting dari proses rekrutmen pemimpin, cara yang sah dan legitimate untuk menghindari cara-cara tidak damai dalam menjalankan sirkulasi  kekuasaan. Betapapun hasilnya dan prosesnya yang mungkin disoroti masih ada kekurangan, Pemilihan pimpinan daerah lewat demokrasi elektoral secara langsung adalah upaya menegakkan kedaulatan rakyat  yang sah.

Di sini, kesetaraan antara warga negara dijamin. Tiap orang sama-sama punya satu suara. Suaranya sama-sama satu, nilainya juga sama-sama satu. โ€˜One person, one vote, one valueโ€™ (OPOVOV)! Saatnya antara pejabat dan rakyat sama-sama dihargai sama-sama satu nilainya. Antara kiai dan santri, antara dosen dan mahasiswa, antara pemuda dan orang dewasa, antara laki-laki dan perempuan, sama-sama satu. Momentum kesetaraan dirayakan.

Umumnya orang menyebut hak pilih dengan tindakan mencoblos. Mencoblos adalah melubangi atau membuat lubang pada kolom pilihan di surat suara. Tapi makna yang lebih tinggi sebebarnya adalah memberikan suata (bahasa Inggrisnya voteโ€”pengembangan kata bendanya voice atau suara).

Partisipasi aktif-kritis, berpilar pada akal sehat.

Alangkah lengkap jika kita sebagai warga negara punya pilihan untuk ditentukan pada hari pemungutan suara, sekaligus masih tetap bisa bersuara menyikapi kebijakan dan persoalan hidup. Partisipasi yang lengkap dan bermartabat. Partisipasi aktif-kritis, berpilar pada akal sehat, punya tendensi membangun kesadaran kolektifโ€”inilah basis utama Demokrasi partisipatoris (participatory democracy).

TRENGGALEK, 25/10/2020

Merawat Kesehatan Mental Ibu Rumah Tangga di Tengah Pandemi

0

Masa Pandemi Covid-19 hingga transisi New Normal membawa perubahan pada dinamika rumah tangga. Ibu rumah tangga memiliki tanggung jawab yang melimpah dalam urusan domestik. Ketidak pastian ekonomi dan masalah sosial akibat pandemi turut menggerus daya tahan ibu dalam menjalankan tugasnya. Pemahaman mendalam dan strategi untuk mengamankan kesehatan mental ibu rumah tangga sangat penting dilakukan, sebab ibu adalah tiang negara.

Kampusdesa.or.id- Filosofi โ€œ Ibu adalah tiang negara โ€œ perlu dijadikan dasar untuk terus memenuhi hak hak seorang wanita. Ketika suami hampir roboh tertimpa masalah, maka sosok istrilah yang menyokongnya dengan kuat. Ketika anak dalam masa golden age, seorang ibu lah yang menjadi madrasah pertamanya. Ibu adalah sosok multitasking yang paling ikhlas dalam keluarga. Pertanyaannya sudahkah kita ringan tangan membantunya? terlebih dalam kondisi yang tidak pasti seperti saat ini?

Komnas Perempuan merilis kajian Dinamika Rumah Tangga selama Covid-19 (Juni,2020) Dalam kajian tersebut menemukan fakta bahwa beban rumah tangga selama pandemi meningkat secara signifikan, tugas ibu dalam urusan domestik dua kali lipat lebih banyak daripada tugas seorang ayah. Keharmonisan hubungan suami istri juga mengalami ketegangan selama pandemi, hal tersebut dipicu oleh faktor sulitnya ekonomi dan kecemasan akan situasi yang tidak pasti.

Kekerasan psikologis menjadi warna paling terang dialami oleh ibu rumah tangga di masa pandemi. Dari 69% laporan kasus KDRT, paling banyak adalah kasus kekerasan psikis terhadap istri. Kekerasan psikologis merupakan intimidasi atau sebuah tekanan yang dapat mempengaruhi mental seseorang berupa cacian, ancaman sehingga memunculkan rasa takut dan penghargaan diri yang rendah dalam diri individu.

Kekerasan psikologis merupakan intimidasi atau sebuah tekanan yang dapat mempengaruhi mental seseorang berupa cacian, ancaman sehingga memunculkan rasa takut dan penghargaan diri yang rendah dalam diri individu.

Individu yang memiliki peran atau tugas yang banyak memiliki tingkat stress yang tinggi, hal itu dapat diproyeksikan dengan tugas 24 jam non stop seorang ibu rumah tangga. Ketidak mampuan ibu rumah tangga dalam menghadapi suatu masalah juga menjadi beban mental yang memicu stress. Selain itu, streotipe yang ada dalam masyarakat dimana ibu rumah tangga dianggap sebagai pekerjaan yang tidak prospektif tidak menghasilkan uang sehingga minim penghargaan dari berbagi pihak turut menjadi stressor bagi kaum hawa.

Baca Juga:

Bahaya Daring Tanpa Jeda, Digital Detok di Tengah Pandemi Covid-19 Sangat Dianjurkan.

Membangun Solidaritas Sosial di Tengah Situasi Pandemi COVID-19

Pekerjaan ibu rumah tangga paling banyak dilakukan di dalam rumah, hal ini akan membuat mereka terisolasi dengan stresor stresor yang ada. Seperti menonton film kuno yang diputar berkali kali, jenuh!

Dalam kamus psikologi stress adalah kondisi individu ketika mendapat tekanan psikis dan fisik, sementara stresor adalah segala sesuatu yang menghasilkan tekanan fisik ataupun psikologis.

Dampaknya dapat bervariatif, sangat mungkin anak akan dibimbing dengan cara kekerasan sehingga tertanam perilaku agresif. Sepuluh tahun kemudian, anak akan memperlakukan orang sekitar persis seperti yang dulu ibu mereka lakukan, yaitu perilaku kekerasan terhadap pasangan atau kepada keturunanya.

Terdapat juga gangguan lain selain stress yaitu โ€œ maternal depression โ€œ karakteristik mental seorang ibu yang kurang kehangatan, tegang serta kaku dalam berinteraksi dengan anak. Buruknya, ibu yang mengalami depresi akan selalu memandang negatif seluruh perilaku anak, anak menjadi tidak berkembang dan sulit beradaptasi. Bagi wanita yang mengalami depresi, mereka akan merasa tidak berdaya sehingga sangat bergantung kepada suami. Bahkan dalam keadaan paling buruk seorang ibu akan terbesit dalam benaknya untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Pandemi Covid-19 merupakan stressor yang berat karena seluruh pekerjaan seperti program work from home, study from home, stay at home  terjadi di dalam rumah dimana hal itu adalah lingkup tanggung jawab domestik seorang ibu. Maka perlu adanya perubahan dalam manajemen rumah tangga selama Pandemi hingga masa normal kelak. Berikut hal hal yang dapat dilakuan oleh Ibu, suami  dan anggota keluarga untuk meringankan beban ibu di kala pandemi, antara lain:

Menjadi Bapak Rumah Tangga

Tips ini khusus untuk kaum Adam, tren menjadi bapak rumah tangga sedang terjadi di jerman, tidak ada salahnya dan memang inilah hal yang benar untuk dilakukan. Ditengah pandemi sudah sepatutnya suami mendukung istri dengan meringkankan bebannya dalam urusan domestik. Dari urusan mengurus anak hingga mencuci pakaian, kalau perlu urusan dapur sosok ayah sangat diperbolehkan untuk ambil bagian.

Praktik Mindfulness

Ibu rumah tangga dapat berlatih untuk melakukan praktik mindfulness. Metode ini membawa diri pada kesadaran penuh dalam melakukan aktivitas. Mindfulness tidak memerlukan waktu khusus, cukup dengan melakukan aktivitas dengan tenang, merasakan langkah demi langkah rutinitas dengan pemaknaan kesadaraan. Ketika ibu rumah tangga berada pasa kesadaran, ia akan mudah berfikir jernih dan mampu menangkal stressor jahat.

Me Time

Ibu rumah tangga perlu meluangkan waktu untuk kebahagiaan diri sendiri. Istirahat sejenak untuk melepas lelah dari rutinitas. Hal itu dapat difungsikan sebagai reward untuk  karena telah berhasil berjuang mencukupi kebutuhan domestik keluarga. Me time bisa dilakukan dengan bertemu teman, menyalurkan hobi atau mengisi waktu dengan olahraga.

Hadiah

Suami jangan ragu untuk memberikan hadiah untuk istri. Mereka layak mendapat hadiah setelah berlelah lelah mengasuh anak dan mengurus seisi rumah. Selain rasa cinta suami istri akan bersemi kembali, hal tersebut merupakan support sistem yang dapat meredakan stress ibu rumah tangga sebab kinerjanya telah dihargai dan mendapat perhatian dari orang terdekat. Hadiah adalah metode paling ringan untuk mencairkan dan mempererat hubungan emosional.

Manajemen keuangan

Kebutuhan finansial adalah masalah vital dimasa pandemi. Suami dan istri perlu berkomunikasi yang baik dalam mengatur keuangan. Disaat pendapat menurun secara nasional maka perlu ada alternatif lain untuk menguatkan income. Dalam kondisi terburuk (semoga saja tidak ) jika income tidak kunjung membaik, namun dengan melakukan keterbukaan dan komunikasi yang harmonis, masih ada kelekatan yang mampu menurunkan potensi konflik rumah tangga.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk merawat kesehatan mental ibu di tengah pandemi. Namun, berapapun banyaknya metode jika kita tidak mau dan tidak peduli untuk melakukannya maka kita termasuk stressor bagi ibu rumah tangga.

Teruntuk para ayah, apa alasan anda untuk tidak menaikkan kepedulian kepada istri yang kini telah menjadi ibu dari anak anakmu di tengah pandemi? Kemanakah puisi manismu sebelum berumah tangga dengannya. Kata kata romantismu pun dapat menjadi obat penyemangat untuknya. Temui ia sekarang, dekaplah dan bisikkan โ€œ Matahari adalah kado musim panas. Bunga adalah kado musim semi. Dan kamu adalah kado terindah hidupku โ€œ

Ilmu Bukanlah Alat untuk Mencari Kekayaan, Benarkah Intelektualitas Tidak Menjamin Kesuksesan?

0

Jalan pengasingan diri dari dunia yang diukur dengan kesuksesan materi itu nanti bisa jadi berhenti. Salah satunya setelah para pemuda itu memberanikan diri untuk MENIKAH. Menikah artinya berkompromi dengan pikiran orang lain, yang kita nikahi. Intinya, pada akhirnya kamu harus mencari duit. Okelah jika kami pernah bilang duit tak bisa membahagiakanmu, setelah menikah kamu butuh melihat istri dan anak senang. Dan kamu akan susah jika tak ada biaya untuk hidup mereka. Mendapatkan biaya dibutuhkan intelektualitas dan skill (kemampuan), namun benarkah intelektualitas menjamin kesuksesan?

Kampusdesa.or.id–Usia remaja. Rasa ingin tahumu besar. Ketika diarahkan baik-baik, kamu akan bisa menjadi pembelajar. Kamuย  akan berproses untuk mencari tahu lebih banyak. Bertanya-tanya, tak mudah percaya, melatihย  pikiran kritis. Namun, terkadang ada juga yang cepat mati (dalam berproses), habis jiwa pikirannya sebelum cukup berproses.

Salah satu yang mematikan keinginanmu belajar adalah ungkapan dari orang yang lebih tua: โ€œUntuk apa belajar dan jadi pintar dan kritis, orang pinter dan bernalar tak lebih dihargai daripada orangย  kaya!โ€


Bagi mereka yang sejak remaja punya pengalaman bahwa untuk bisa menjalin hubungan dengan perempuan dengan rayuan puisi dan ideologi daripada rayuan pemberian-pemberian materi, tentu ungkapan pragmatis anti-intelektualisme semacam itu tak akan begitu berpengaruh. Terutama mereka orang-orang yang suka hal-hal berbau intelektual, suka terus belajar, dan hasil belajar mereka ternyata juga membantu memudahkan hidup mereka untuk cari โ€œmakanโ€, hal itu membuat mereka lebih mempunyai daya tahan untuk percaya pada proses pencarian terhadap ilmu pengetahuan dan hal-hal berbau intelektual.

Memang tak banyak orang yang menghargai kemampuan berpikir daripada kemampuan cari uang dengan cepat. Pikiran itu tak tampak langsung. Sedangkan materi kelihatan langsung. Uang misalnya, dalam jumlah banyak, pasti membuat mata terbelalak. Rumah bagus, mobil, atau kepemilikan-kepemilikan lain lain yang bendawi, tentu terlihat jelas dan membuat  orang mudah terfokus padanya.

Lalu kenapa orang yang pikirannyaย  cerdas, imajinatif, bernalar, kritis, tidak dengan serta sukses dan kaya atau malah kebanyakan secara ekonomi dipandang hidup mengenaskan?

Memang saking imajinatifnya mereka, mereka punya pandangan hidup di luar orang kebanyakan atau rata-rata. Mereka yang kritis tak mudah terpukau pada hasil berupa hal yang material. Cara mereka mencari kebahagiaan tidak semata tersandarkan pada materi. Mereka terbiasa menikmati proses pemaknaan terhadap suatu benda, posisi, dan kondisi material.

Mereka yang kritis tak mudah terpukau pada hasil berupa hal yang material.

Mereka kadang-kadang juga menjaga sikap diri agar tak terlalu kelihatan ambisius dalam hal material. Salah satunya karena para panutan mereka adalah ilmuwan dan filsuf yang memang tak suka mengejar materi, tetapi justru menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan (atau perubahan) masyarakatnya. Pada saat yang sama, mereka juga melihat banyak anomali pada diri orang-orang yang ambius, terutama para penguasa yang dipandangnya seringkali melakukan kebijakan-kebijakan yang menyimpang.

Bahkan mereka tahu bahwa mereka harus menjaga dari posisi kekuasaan (kekayaan). Mereka mungkin juga mengetahui bahwa kekuasaan dan kekayaan itu akan menggoda dan melenakan. Mungkin itulah yang menyebabkan para pemikir, filsuf, tokoh revolusiner itu bukanlah model peran atau panutan bagi masyarakat banyak!

Dalam budaya kapitalistik, di mana orang-orang kaya menjadi penampil utama di panggung budaya dengan gaya hidup dan omongan-omongan dominan di media populer, kesuksesan berupa kondisi kaya adalah ukuran keberhasilan hidup. Panggung budaya elitis itu berisi  tampilan orang-orang cantik dan ganteng, dengan kepemilikan-kepemilikan dan waktu luang yang dipamerkan lewat acara-acara TV semacam โ€œgosip selebritisโ€, misalnya.

Lagian, para artis yang sering ditampilkan adalah yang intelektualitasnya rendah. Omongan-omongan mereka dalam acara-acara TV dan media lainnya, atau dominannya penampilan dengan penonjolan pada sisi fisik (tubuh cantik dan seksi), menjadi doktrin bagi masyarakatโ€”apalagi masyarakat yang terus didorong agar jauh dari proses belajar dan berpikir kritis.

โ€œJalan berpikir filosofis dan berpikir kritis ini memang harus ditempuh dengan menolak upaya-upaya untuk mencari penghasilan material yang hanya akan membawa jalan ke arah hedonisme!โ€

Semakin dominannya panggung budaya dengan gaya dan ucapan orang-orang kaya sebagai ukuran kesuksesan, para pembelajar yang mulai mengarah pada tradisi โ€œmilsufโ€, dan semakin menyangkal ukuran-ukuran dekaden itu dengan cara membangun konsepsi diri salah satunya dengan berkata pada diri sendiri: โ€œJalan berpikir filosofis dan berpikir kritis ini memang harus ditempuh dengan menolak upaya-upaya untuk mencari penghasilan material yang hanya akan membawa jalan ke arah hedonisme!โ€

Jalan pengasingan diri dari dunia yang diukur dengan kesuksesan materi itu nanti bisa jadi berhenti. Salah satunya setelah para pemuda itu memberanikan diri untuk MENIKAH. Kenapaโ€”setelah menikahโ€”ia  berhenti dari berpikir cuek pada mencari materi  dan mulai memikirkan bagaimana mencari duit?

Ya karena ia tak lagi bisa independen. Menikah artinya berkompromi dengan pikiran orang lain, yang kita nikahi. Eksklusifitas hubungan dalam menikah itu butuh biaya. Menikah butuh rumah. Rumah butuh biaya. Lalu punya anak. Biaya hidup anak-anak harus dengan duit, bahkan sejak anak belum keluar dari perut istri, sudah butuh biaya. Betapa mahalnya biaya melahirkan. Menikah berarti membangun keluarga. Keluarga satu tak boleh tergantung pada orang lain, kecuali keluarga itu adalah bapak dan ibumu.

Jika kami pernah bilang duit tak bisa membahagiakanmu, setelah menikah kamu butuh melihat istri dan anak senang. Dan kamu akan susah jika tak ada biaya untuk hidup mereka.

Tapi setelah berkeluarga, minta duit pada keluarga lain itu lucu. Kalau minta pada orangtua itu bisa tapi tak akan bisa selamanya. Mendingan minta warisan sekalian, jumlahnya besar. Tapi minta warisan itu juga bukan hal yang pantas. Intinya, pada akhirnya kamu harus mencari duit. Okelah jika kami pernah bilang duit tak bisa membahagiakanmu, setelah menikah kamu butuh melihat istri dan anak senang. Dan kamu akan susah jika tak ada biaya untuk hidup mereka.


Editor: Faatihatul Ghaybiyyah