Siswa Radikal, Fenomena Survey atau Tamparan Pada Guru

Surat untuk kawan-kawan guru di Konvensi Pendidikan Indonesia

0
142

Siswa radikal, lihatlah gurunya juga radikal. Apabila banyak lahir generasi yang mudah terpapar radikalisme agama di kalangam remaja, nyatanya survey baru menunjukkan faktor penting pendidikan tidak bisa diabaikan. Sampai kapan kita masih terjebak dalam akrobatik sistem unggul tetapi tidak juga menjadikan anak-anak lebih bijaksana. Tidak perlu direaksi, beranikan perubahan meskipun dianggap gila karena berbeda di sekolah.

kampusdesa.or.id — Yang terhormat Bapak Ibu Guru dan saya sendiri lah, heee. Kita sering bermusyawarah, pelatihan, membicarakan antarkan anak unggul, pinter mapel dan handallah pokoknya, bahkan ribut kapan anak harus menjadi pembaca handal, tetapi atas dasar survey tersebut sepertinya aneka riuh tersebut seperti menunjukkan bahwa proses berpengetahuan anak tidak menjadikan mereka lebih bisa berpikir, bersikap dan berperilaku dalam kebijaksanaan.

Mohon maaf, saya bisa jadi salah. Kiranya Konvensi Pendidikan Indonesia perlulah juga melakukan pembongkaran di lini tematik tentang peluang, kekuatan atau ikhwal pembelajaran beritme kebijaksanaan. Tak sekedar berasyik ria pada keunggulan sistemnya masing-masing, tetapi lebih substansial memresentasikan true story tentang bukti perubahan kecil seputar pencapaian positif anak-anak.

Suatu misal, dari kita telah berhasil mengembangkan Mapel tematik alam dan hasilnya anak bukan punya nilai 90 di Biologinya tetapi anak bisa menceritakan dan menghargai teknik bercocok tanam sebagai hasil dia tercerahkan karena ada keajaiban dalam proses menanam. Berdasar kesadaran itu, anak juga berhasil menunjukkan caranya bersyukur atas kemampuan menanam yang dia hasilkan dari proses belajarnya.

Umpama itu juga bisa dilakukan di hasil belajar bersama komunitas pengusaha tempe. Setelah anak-anak punya pengalaman belajar bikin tempe, apakah dia bisa membuat refleksi melalui menulis, menggambar, bercerita, presentasi atau lainnya tentang apa yang dia dapatkan setelah dia bisa praktik membuat tempe atau bahkan bisa latihan menjual tempe. Misal saja diminta mereka membuat olah pikir melalui aneka produk berpikir seperti cerita, gambar atau olah pikir lainnya tadi yang bisa selaras dengan hidup dia. Dari sini anak dituntun untuk berpikir bukan menjawab soal, apalagi dites benar salah ataupun pilihan ganda saja.

Anak diajak berakrobat dengan aneka kebanggaan prestasi sekolah, toh hasil survey tersebut malah menjadi momok bagi bangsa kita sendiri.

Nah, berefleksi dari hasil survey tersebut, nampaknya kejituan kita berakrobat tentang keunggulan akademik anak, sistem sekolah yang bermutu, sepertinya tidak serta merta melahirkan kebijaksanaan hidup pada anak. Anak diajak berakrobat dengan aneka kebanggaan prestasi sekolah, toh hasil survey tersebut malah menjadi momok bagi bangsa kita sendiri.

Oh.. tepuk jidat. Mungkin survey itu pun menjadi angin lalu karena cara belajar yang berorientasi hidup nyata yang terukur, realistik, dan terjiwai dalam khazanah hidup anak lebih rumit diterapkan di sekolah karena memang tidak bisa dijadikan akrobatik mengangkat prestasi sekolah. Mana bisa dijadikan akrobatik, karena nilai mereka tidak sepadan dengan tuntutan tes skolastik yang menjadi standarisasi sekolah.

Tetapi akrobatik itu benar-benar berdampak pada kerentanan hidup anak di kemudian hari kan. Uji nyali kita sekarang digedor pada tuntutan dua hal, tetap berakrobatik menjadi unggul prestisius atau benar-benar mampu menilai bahwa anak-anak didik bisa bijaksana dalam berilmunya.

Gambar 1. Survey 2018. 29.3 % (774 mahasiswa) mempunyai sikap bahwa dia sepakat membela sampai mati ajaran agama.

Kebetulan saya punya data riil juga, remaja lulusan SMA dan sederajat yang masuk di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sejumlah 774 mahasiswa baru juga setuju lo mengenai membela agama sampai mati. Meski tidak salah, sikap itu dapat menjadi bibit kristalisasi jihadis jika dikembangkan kedalam narasi heroik. Jika tidak diselaraskan kontestualisasi membela agama dengan pemahaman baru, maka sikap itu menjadi potensi lahirnya generasi yang mengikuti secara buta model kematian atas nama agama.

Sikap beragama itu dengan demikian perlu diselaraskan dengan nilai berbangsa kita.

Data berikut juga ditemukan, remaja mahasiswa baru menyetujui memerangi orang kafir sebagai khidmat membela agama (masuk surga). Mereka mengiyakan bahwa memerangi orang kafir adalah puncak masuk surga. Itu artinya jika mereka disodorkan fakta bahwa orang selain Islam disebut kafir, padahal di Indonesia itu sak ambrek orang selain Islam, maka narasi kebencian terhadap umat di luar Islam lebih mudah kan disulutkan. Tinggal membikin bumbunya saja. Sikap beragama itu dengan demikian perlu diselaraskan dengan nilai berbangsa kita. Siapa yang bertugas menyelaraskan sehingga anak-anak bisa memraktikkan kebijaksanaannya dalam bergaul dengan orang yang berbeda agama? Tentunya mengacu pada survey tadi, ya kita semua teramanahi untuk melahirkan anak-anak yang mampu menemukan kebijaksanaan (himah) itu.

Gambar 2. Sejumlah 475 mahasiswa baru sepakat terhadap sikap bahwa memerangi orang kafir adalah jalan puncak masuk surga

Saya di WA oleh guru di group Konvensi Pendidikan Indonesia, dia mengatakan, “pak, saya pernah ditanya anak saya tentang keberadaan temannya yang bukan Islam. Ma, apakah dia juga masuk surga dengan kita ya,” Ibu itu tak bisa berkata,-kata, tetapi berhasil juga menjawabnya,

“Ibu tidak tahu. Yang penting kita berbuat baik. Kalau Allah ridho insyaAllah bisa bersama orang-orang yang kita sayangi.”

Ibu guru itu menambahkan lagi chat WAnya,

“Saya juga menekankan bahwa jihad itu usaha berbuat kebaikan: menolong orang, belajar, dan lain-lain. Ternyata banyak yang tidak bisa membedakan jihad dan qital (membunuh).

“Teman-teman anak saya banyak yang begitu. Makanya sangat hati-hati dalam mengenalkan perbedaan kepada anak-anak.”

Menjadi penting kiranya, Konvensi Pendidikan Indonesia berbicara tematik yang melekat dalam pengalaman riil siswa agar setidaknya mampu mengerim hasrat di seputar pembicaraan keunggulan sistem, menuju hasil-hasil kecil belajar anak-anak kita. Bahkan boleh jadi tidak harus ditempeli hasil prestasi akademik ataupun peringkat akreditasi sekolah dalam berbagai akrobatik lainnya. Atau bahkan misalnya yang sangat sedrhana sekalipun, ada anak yang tidak pinter berhitung tetapi dia bersemangat menghasilkan pelajaran bercocok tanam yang baik. Padahal saat saya juga menjadi tim akreditasi institusi, akorbatik ini super duper penting.

Saya berpendapat, penyuguhan wicara tematik tersebut menjadi lebih manusiawi dan realistik, meskipun jauh dari nilai skolastik (tes prestasi) yang masuk KKM atau tidak. Saya menjadi terngiang cerita Mr. Nafik bagaimana anak dapat berkomunikasi dengan baik pada orang tuanya ketika mereka dilatih membikin presentasi kemajuan belajarnya pada orang tua masing-masing. Bahkan di situ jika dieksplorasi lebih jauh, anak akan bisa kita nilai tentang berapa skor kebijaksanaan dia dalam berhubungan dengan orang tuanya. Ini maksud saya yang saya sebut, kadar belajar yang inilah yang bisa kita bedah di Konvensi Pendidikan berikutnya.

Kisah Mr. Nafik tersebut menjadi inspirasi yang hebat dengan memaparkan nilai materi pelajaran berapa skornya dan sajian juga nilai pembelajaran bijaksana anak ketika berproses membuat laporan hasil belajarnya pada orang tua. Jadi, penekanannya bukan hanya pada nilai pelajaran tetapi juga nilai mengomunikasikan dengan orang tua itu berapa skornya. Tetapi tidak jarang akhirnya semua terjebak kembali pada akademiknya saja.

Diakui atau tidak kita sebagai guru memang ditohok seketika padahal kita sudah berjibaku dengan aneka usaha.

Anak menjadi bersikap eksklusif dalam beragama berdasarkan hasil survey tersebut terpaut erat oleh cara guru bersikap dan mengajarkan cara beragamanya, bahkan sumber bacaannya pun lolos dari filter gurunya. Survey tersebut memiliki kepastian tambahan dari hasil survey saya, bahwa 69 % mahasiswa baru berpikir tekstual dan percaya mutlak pada sudut pandang guru. Itu artinya kerangka berpikir kritis dibutuhkan bagi remaja agar tidak terpapar radikalisme. Diakui atau tidak kita sebagai guru memang ditohok seketika padahal kita sudah berjibaku dengan aneka usaha. Saya sendiri juga seorang pengajar, tentu merasa dikuliti profesi saya.

Survey 2018. 69 % mahasiswa baru berpikir tekstual dan percaya mutlak pada sudut pandang guru

Untunglah saya ada di bagian juru layan Konvensi Pendidikan Indonesia ini, yang kejumudan saya bisa mendapatkan ruang curhat. Curhatan ini lebih bebas saya sampaikan karena di sini katanya banyak orang gilanya, kata Bopo Kentar dan kawan lain sekaligus bisa saya sebut guru saya. Jika ini tidak baik berarti anggap saja saya gila. Hi…….

Tanggapan atas tulisan ini bisa disampaikan secara utuh dan jika suips bisa saya bantu dimuat di laman kampusdesa.or.id. Bapak/Ibu bisa menghubungi saya untuk proses postingnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here