Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (1)

0
547

0Shares
0

Terjajahnya peserta didik dalam belajar sering kali disebabkan oleh para pendidiknya sendiri. Misalnya penerapan model pembelajaran yang seringkali diskriminatif, monoton, mengekang, dan menjauhkan peserta didik dari kreativitas dan inovasi. Dampaknya, kebijakan Merdeka Belajar hanya akan berakhir tanpa suara dan tidak akan mampu melahirkan sekolah-sekolah yang merdeka. Model belajar BCCT, Beyond Circle and Center Times layak untuk diketengahkan sebagai terobosan dalam mengatasi masalah ini.

Kampusdesa.or.id-Beberapa waktu lalu sepulang dari sebuah kegiatan, saya mendapat sesuatu yang menarik dari percakapan guru-guru muda dengan guru-guru saya, yang juga masih muda-muda. Ternyata mereka semua ngrasani kepala sekolah mereka sampek entek ngapek, kurang golek, sik kurang maneh ngutang. Tak putus-putusnya sejak awal sampai akhir perjalanan yang lebih dari dua jam itu. Mereka umumnya mengeluhkan suasana kerja di sekolah masing-masing.

Penak sampeyan, diajangi amba karo kepala sampeyan (Enak Anda diberi kesempatan yang luas oleh kepala sekolah)” kata mereka ke guru-gurusaya. Guru saya pun lalu cerita suasana keseharian di madrasah kami, dan bukan karena ada saya lalu ceritanya dibuat-buat, namun sepengetahuan saya, ya memang begitu adanya.

“Mereka mengeluhkan bagaimana kepala sekolah membatasi keinginan guru-guru muda yang masih segar otaknya untuk berkreasi, dengan berbagai cara”

Mereka mengeluhkan bagaimana kepala sekolah membatasi keinginan guru-guru muda yang masih segar otaknya untuk berkreasi, dengan berbagai cara. Ada kepala sekolah yang marah kalau merasa dilangkahi, ada juga kepala sekolah yang just do it atau malah just duwit. Ada yang kalau dimintai biaya untuk mewujudkan kreativitasnya, langsung ditolak dengan alasan tidak ada biaya, ada juga yang memperlakukan guru-guru secara tidak adil, ada yang dibenci ada yang disayang, like and dislike dan banyak lagi yang membuat mereka pasrah dan menyerah ikut arus suasana kerja yang ada di sekolah.

Saya lalu teringat postingan saya kemarin, yaitu tentang penelitian saya di tahun 2015, bahwa dari analisis CIPP faktor iklim kerja di sekolah memiliki sumbangan yang terbesar sebagai penghambat guru mewujudkan kreativitas dan inovasinya.

“Naiknya gaji atau honor tidak menyebabkan peningkatan kinerja secara signifikan karena gaji dan honor hanya sebagai faktor penyehat organisasi”

Juga teringat kuliah almarhum Bapak Dr. Frans Mataheru di tahun 1987 lalu, saat saya belajar di Pasca Sarjana IKIP Malang, tentang faktor-faktor motivasi kerja. Bahwa gaji, honorarium dan imbalan materi itu hanyalah faktor pendukung saja, sementara suasana kerja, pelibatan dalam pengambilan keputusan dan perlakuan yang humanis merupakan faktor motivator yang menentukan kualitas kerja karyawan. Bila faktor pendukung ditingkatkan, peningkatan yang terjadi tidak sebanding dengan peningkatan kinerjanya. Tapi bila faktor motivator dikurangi akan mengurangi tingkat kinerja secara tajam. Itulah ternyata mengapa naiknya gaji atau honor tidak menyebabkan peningkatan kinerja secara signifikan karena gaji dan honor hanya sebagai faktor penyehat organisasi.

Tapi apabila faktor-faktor motivator yang ditingkatkan, maka akan terjadi peningkatan kinerja secara sangat signifikan, bahkan kalau skor maksimal kinerja 100, dengan peningkatan faktor motivator akan menyebabkan lonjakan kinerja sampai bisa di atas skor maksimalnya. Saya sangat angkat topi (meski saya hampir nggak pernah pakai topi) kepada kepala madrasah saya yang menjadikan guru-guru saya bisa sampai keranjingan kerja (workalholic) bersedia pulang sampai maghrib saat menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah.

Saya teringat lagi akan model belajar BCCT yang merupakan terobosan yang dilakukan oleh Bapak Prof. Fasli Jalal, Dirjen PLSPO saat itu untuk PAUD, yang sebenarnya merupakan pembelajaran yang egaliter yang bisa merupakan faktor motivator belajar. Namun sayangnya, di negeri kita kemudian dimaknai sebagai pembelajaran Sentra dan Lingkaran dan disingkat Seling (untung bukan Selingkuh) dan mengabaikan makna kata Beyond yang merupakan filosofi dan jiwa BCCT.

“Pamela Phelps mendapati bahwa ketidakkreatifan dan ketidakegaliteran pendidikan di Amerika saat itulah yang menjadi penyebab mengapa orang Amerika kalah dari Uni Sovyet”

BCCT sendiri merupakan revolusi radikal pendidikan di Amerika Serikat setelah terkejut bangun dari mimpi saat dikalahkan oleh Uni Sovyet dengan peluncuran Sputnik di tahun 1957. Amerika lalu mencari penyebab kekalahan itu dengan penelitian-penelitian ilmiah. Dari salah satu penelitian pendidikan yang dilakukan oleh Pamela Phelps mendapati bahwa ketidakkreatifan dan ketidakegaliteran pendidikan di Amerika saat itulah yang menjadi penyebab mengapa orang Amerika kalah dari Uni Sovyet.

Pamela Phleps pun lalu membangun Creative School dengan model belajar BCCT, Beyond Circle and Center Times. Beda dengan di sini, yang melabeli sekolahnya dengan nama-nama yang “wouuww” tapi pembelajarannya sami rawon, di sana pemebelajaran kreatif benar-benar dilaksanakan (tidak hanya jargon red.)

“Anak-anak Amerika tidak kreatif itu karena setiap harinya 87% kata-kata yang diterima anak merupakan kata-kata yang menghalangi anak untuk menjadi kreatif, terutama kata NO”

Melalui BCCT itulah dibangun kreativitas dengan slogannya yang terkenal “Don’t say NO to the Kids”, jangan katakan TIDAK pada anak. Pamela Phelps menemukan bahwa anak-anak Amerika tidak kreatif itu karena setiap harinya 87% kata-kata yang diterima anak merupakan kata-kata yang menghalangi anak untuk menjadi kreatif, terutama kata NO.

“Dengan duduk melingkar membatasi dominasi guru yang berdiri di depan kelas dan anak-anak duduk manis di kursinya yang tetap dari hari ke hari”

Melalui BCCT juga dibangun sikap egaliter. Dengan duduk melingkar maka hilanglah sekat-sekat yang membatasi interaksi fisik dan psikis karena semua duduk sama rendah berdiri sama tinggi, begitu pepatah kita. Dengan duduk melingkar semua posisinya sama, tidak ada yang di depan dan tidak ada yang di belakang. Dengan duduk melingkar membatasi dominasi guru yang berdiri di depan kelas dan anak-anak duduk manis di kursinya yang tetap dari hari ke hari. Sehingga secara psikologis, tanpa disadari sudah membangun persepsi diri masing-masing anak bahwa posisi saya harus di belakang si X, dan si Y, temannya. Dengan duduk melingkar maka tidak ada siswa yang membelakangi dan dibelakangi siswa yang lain.

Karena suasana kerja atau iklim organisasi sekolah sangat menentukan kinerja guru, bagaimana pendapat saudaraku kalau prinsip-prinsip BCCT itu diterapkan dalam pengelolaan sekolah? Beberapa langkah yang perlu ditempuh adalah:

“Berikan KEMERDEKAAN bagi guru untuk membangun belajar merdeka. Dukung guru-guru dengan menciptakan suasana nyaman untuk berinovasi”

Pertama, menghilangkan pengekangan terhadap kreativitas guru dengan mengurangi sebanyak mungkin kata “JANGAN” atau “TIDAK”. Bebaskan guru, bahkan dukung guru untuk berkreasi secara inovatif dalam pembelajaran. Berikan KEMERDEKAAN bagi guru untuk membangun belajar merdeka. Dukung guru-guru dengan menciptakan suasana nyaman untuk berinovasi. Dari rasan-rasan guru-guru muda tadi memang peran kepala sekolah dalam hal ini adalah sebagai bottle-neck atau leher botol penghambat arus kemerdekaan untuk berkreati.

Dukung guru-guru yang kreatif dengan rewards, tidak hanya dengan kata-kata dan dukungan verbal dan psikis namun juga dengan rewards insentif baik biaya untuk melakukan tindakan pembelajaran merdeka maupun insentif berupa materi atau uang, sehingga selain mendapatkan kredit poin, guru yang kreatif juga mendapatkan kredit koin.Dukung guru-guru yang belum kreatif untuk kreatif dengan membersamakan beliau-beliau itu dalam tim kreatif yang merupakan peer mentoring dengan guru-guru yang kreatif.

Kedua, bangun suasana kebersamaan dengan menghilangkan sekat-sekat simbolik, sekat-sekat fisik maupun sekat-sekat psikis. Karena itu, kemarin saya unggah bahwa saya tidak setuju dengan sekat simbolik berupa pemakaian tanda pangkat bagi guru ASN. Demikian juga pelarangan guru honorer memakai seragam ASN.

“Salah satu penghargaan yang bisa diraih oleh guru-guru honorer itu dari masyarakat adalah status sebagai guru”

Salah satu penghargaan yang bisa diraih oleh guru-guru honorer itu dari masyarakat adalah status sebagai guru, sehingga meskipun honor yang diterima sangat minim secara rasional untuk memenuhi kebutuhan hidup guru-guru honorer, beliau-beliau tetap setia mengabdi menjadi guru. Sekat simbolik lain yang sering saya lihat di ruang kepala sekolah adalah kursi kepala sekolah seperti kursi direktur perusahaan, dan tidak sama dengan orang yang menghadapnya.

“Sekat secara fisik adalah ruang kepala sekolah yang mencerminkan kepala sekolah sebagai penguasa sekolah”

Sekat secara fisik adalah ruang kepala sekolah yang mencerminkan kepala sekolah sebagai penguasa sekolah. Saya jadi teringat kepala Madrasah saya Mbak Wiwin Artika sejak awal menolak dibuatkan ruang kepala madrasah, hanya gara-gara akreditasi harus ada ruang kepala sekolah maka dibuat ruang kepala sekolah. Itupun kini hanya lebih banyak digunakan untuk menerima tamu dan mengerjakan tugas adminsitrasi saat di ruang guru tidak ada tempat. Ada juga sekat secara fisik itu dengan menyediakan tempat parkir khusus untuk kepala sekolah.

“Sekat yang paling parah dampaknya adalah sekat psikologis dengan adanya diskriminasi subyektif kepala sekolah”

Sekat secara psikis lebih parah dampaknya. Sikap saya adalah kepaladan saya adalah bos, jelas mematikan rasa egaliter dan kebersamaan. Rangkul dan rengkuh semua guru secara adil tanpa diskriminasi. Sekat yang paling parah dampaknya adalah sekat psikologis dengan adanya diskriminasi subyektif kepala sekolah. Hilangkan sekat-sekat kelompok-kelompok kecil dalam semua guru di sekolah. Perbedaan perlakuan menyadi penyebab utama kelompok-kelompok kecil dalam komunitas guru di sekolah tersebut.

Membangun suasana yang kondusif tersebut di atas, secara kata-kata dan teori mudah dikatakan namun sulit untuk diterapkan, sangat tergantung dari manajeman sekolah yang diterapkan sang kepala sekolah. Secara pengetahuan dan kemampuan memimpin, seorang kepala sekolah sudah sangat menguasai, apalagi saat ini sudah ada sertifikasi kepala sekolah dengan pengetahuan (to know) dan kemampuan melakukan saat di pelatihan. Namun hal itu tidak serta merta menjamin mereka mampu menjiwai (to be), masih perlu kemampuan to life together with others.

Siap membangun sekolah yang demokratis…??? Sekolah yang memberikan kepada guru merdeka untuk berimprovisasi dan berkreasi dalam mendidik siswanya…???

Kalau sahabatku siap lahir batin berarti belajar merdeka siap dilaksanakan. Tapi kalau belum, sahabatku belum siap, maka Belajar Merdeka hanya slogan kosong tanpa makna.

Sahabat-sahabatku sudah tahu dan memiliki kemampuan untuk membangun sekolah merdeka melalui model pengelolaan BCCT, penentunya hanya pada apakah sahabatku MAU menerapkan atau TIDAK MAU menerapkan saja.

Turen, di hari Kasih Sayang 2020