Tumbuh Membaca Bersama Gus Dur

1
635
Gus Dur, tidak hanya kutu buku, tetapi kemampuannya membaca menjadikan pribadi beliau telah melampaui tubuh sosialnya. Sumber foto : nu.or.id.

0Shares
0

Bagi seorang yang tumbuh dengan semangat membaca, Gus Dur adalah inspirasi sempurna untuk kalangan terpelajar, lebih-lebih sebagai seorang aktifis. Gus Dur menyadarkan pada seorang Luthfi, yang sekarang telah tumbuh menjadi seorang aktifis cendekiawan. Dia tersadar, perjumpaan literatif saat usia SMP dengan buku Tabayun Gus Dur, memantik kegelisahan masa lalu, seandainya Dia lebih banyak mengonsumsi buku-buku sebagaimana Gus Dur, barangkali Dia akan tercerahkan sejak dini. Bagaimana dengan Anda, sudahkan mengenal buku-buku Gus Dur dan spirit keterbukaan tanpa batas untuk membangun sudut pandang tentang pribadi Anda? (Redaksi).

KampusDesa–Saya lupa pada usia berapa pertama kali bisa membaca. Sejauh saya ingat, pada tahun kedua masa Taman Kanak-Kanak (TK) saya lumayan lancar dalam membaca tulisan latin, juga menulis tentunya. Di sebuah desa bernama Ngadirejo, Trenggalek, karena kakek saya merupakan guru ngaji kampung, maka bahasa arab (Al Qur’an) lebih dulu familiar pada memori balita saya. Sebab mendengar orang-orang ‘ngaji’ di surau juga perkenalan saya dengan huruf-huruf hijaiyah lewat buku bernama IQRA.

Menginjak sekolah dasar, pada awal tahun 2000-an orangtua saya berlangganan majalah Bobo dan majalah Ummi. Dua buku yang membuat saya kenal dan mulai suka membaca komik. Sedikit melangkah dari komik di dua majalah tadi, saya mulai membaca kolom ‘pengetahuan’ terutama tentang akhlak, dunia hewan, sains dan sebagainya, yang tentu dikemas sesuai usia anak-anak.

Kalau ada pepatah ‘Witing tresna jalaran saka kulina’ atau ‘Cinta datang karena terbiasa,’ maka begitu pula dengan kebiasaan membaca. Dua majalah tadi dan beberapa buku ‘ngaji’ mendorong minat saya untuk lebih banyak membaca. Di perpustakaan SD yang tidak sepenuhnya dirawat dan mengatur sirkulasi peminjaman bukunya, dimana lebih tepatnya cuma difungsikan sebagai gudang bersama peralatan olahraga, di sana saya mulai mencari bahan bacaan lain. Terutama tentang ilmu pengetahuan sosial dan pengetahuan alam. Buku-buku sederhana yang menceritakan profil wilayah-wilayah di Indonesia, profil negara-negara, tentang galaksi dan planet-planet atau keunikan flora-fauna.

Seandainya pada usia sekolah dasar saya tahu bahwa semakin banyak dan semakin berat bacaan yang dibaca sejak kecil akan mampu melahirkan tokoh sekelas Gus Dur, tentu saja saya bakal lebih banyak membaca.

Seandainya pada usia sekolah dasar saya tahu bahwa semakin banyak dan semakin berat bacaan yang dibaca sejak kecil akan mampu melahirkan tokoh sekelas Gus Dur, tentu saja saya bakal lebih banyak membaca. Saya lupa nama buku apa saja, tapi dalam buku berjudul ‘Tabayun Gus Dur,’ cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama ini sudah membaca buku-buku ‘berat’ karya penulis-penulis Eropa, terutama Uni Soviet, sejak usia sangat muda.

Dua buku Gus Dur yang saya baca pada saat SMP berjudul ‘Kiai Nyentrik Membela Pemerintah’ dan buku bersampul hitam dengan judul ‘Gus Dur Bertutur.’ Masa itu saya tidak kenal betul siapa Gus Dur. Kecuali bahwa beliau putra Kyai besar, sebagaimana umumnya alam pikiran santri di pesantren, orang bergelar Gus selalu punya keunggulan. Suatu yang ‘diwariskan’ secara biologis, religius maupun sosial oleh orangtua dan sesepuhnya.

Di kemudian hari baru saya tahu pemikiran Gus Dur lahir dari intensitasnya membaca yang luar biasa, juga pergulatannya dengan realitas tahun 70-an ketika anak-anak muda NU yang semula hanya mendapatkan pendidikan pesantren mulai masuk ke kampus.

Obrolan tentang ‘Gus’ pada usia saya SMP-SMA dominan tentang cerita keramat (khaariq al ‘adat) terutama tentang Gus Miek. Menulis buku tentu saja perkara mudah, bagi seorang Gus Dur, pikir saya waktu itu, sebagaimana keunggulan yang dimiliki Gus Miek. Di kemudian hari baru saya tahu pemikiran Gus Dur lahir dari intensitasnya membaca yang luar biasa, juga pergulatannya dengan realitas tahun 70-an ketika anak-anak muda NU yang semula hanya mendapatkan pendidikan pesantren mulai masuk ke kampus.

Dalam buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, diceritakan bahwa pada usia 10 tahun, Gus Dur sudah membaca novel sastra.

“Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak,” begitu pesan ibunya.

Tahun 70-80 an Gus Dur menjadi salah satu yang terdepan dalam dunia gerakan intelektual dan sosial secara nasional. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di media masa. Pandangan-pandangannya yang dikenal moderat dan visioner tentu lahir dari ‘ribuan’ halaman buku yang dibacanya sejak muda. Dalam banyak ulasan, Gus Dur diakui sebagai tokoh yang berperan sangat besar mengantar organisasi Nahdlatul Ulama masuk pada abad duapuluh satu. Dengan orientasi dan gerakan yang lebih modern.

Buku Gus Dur yang berjudul ‘Gus Dur Bertutur’ saya baca dua kali. Selain banyak bagian yang saya lupa tidak lama setelah terbaca, saya juga tertarik dan kagum pada teknik menulis artikel Gus Dur. Gus Dur mengulas berbagai macam isu atau masalah aktual. Dengan penyampaian yang begitu mudah dimengerti dan dipahami. Banyak dalam buku tersebut dengan teknik bercerita.

Gus Dur ini kalau meminjam pujian Ahmad Wahib (2012: 237) kepada Sukarno: ‘….. tidak ada teori-teori atau paham-paham politik yang pelik dan sukar dimengerti bila sudah sampai pada lidah Sukarno,’ demikian juga dengan tulisan, pidato dan guyonan Gus Dur.

Gus Dur (juga Sukarno) adalah inspirasi bagi generasi bangsa kita untuk membudayakan membaca. Dari mereka kita tahu bahwa kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan (skill) seseorang.

Kebiasaan membaca pada dasarnya diharapkan mengantar masyarakat kita memiliki cara pikir yang benar, punya gagasan strategis dan tidak mudah meributkan (bertengkar pada) hal-hal sepele sebab beda perspektif.

Membaca juga perlu dibiasakan sedini mungkin. Bahkan jika perlu dipaksakan oleh orangtua maupun lingkungan. Fenomena rendahnya minat baca bangsa kita yang sering disampaikan berdasar temuan survey, dibandingkan negara-negara lain tentu memprihatinkan. Kebiasaan membaca pada dasarnya diharapkan mengantar masyarakat kita memiliki cara pikir yang benar, punya gagasan strategis dan tidak mudah meributkan (bertengkar pada) hal-hal sepele sebab beda perspektif.

Kapasitas dan kompetensi Gus Dur tentu bukan sekedar berkat keramat atau khaariq al-adat, tapi juga sebab usaha keras membaca sangat banyak literatur dan bergulat dengan realitas zamannya. Tentu bisa ditiru, dicontoh dan dikuasai oleh generasi mendatang dengan syarat motivasi yang tebal, akses bacaan yang mudah serta murah dan tentunya lingkungan (mulai keluarga sampai masyarakat) yang mendukung.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here