Geregetan

0
158

0Shares
0

Bro, pimpinanmu tak menganggap saranmu baik. Alih-alih mendengarkan saran atau mendiskusikan, dikau justru dihujat dengan penuh curiga. Ruang dialog menjadi cercaan dan kecurigaan. Pernah bro, mengalami situasi seperti itu. Ini nasihat bijak yang butuh sekilas dibaca.

Kampusdesa.or.id–Sahabatku yang pertama sudah dapat pekerjaan baru, namun dia ada sedikit masalah dengan Pimpinannya.

“Sumpah aku geregetan Mas Broo, gara-gara Pimpinanku bicara yang tidak-tidak dan sangat menyakitkan hatiku. Padahal niatku itu baik, yaitu usul agar lembaga ini bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Eehh malah Pimpinanku salah paham dan mencurigaiku yang tidak-tidak,” keluh sahabatku yang pertama kepada sahabatku yang kedua.

Sahabatku yang kedua menjawab, “Sabarlah Broo…, gak usah diambil hati, nanti malah membuatmu sumpek sendiri.”

Sahabatku yang pertama menanggapi, “Pokoknya mulai sekarang aku gak peduli lagi. Biarin saja lembaga ini rusak ya rusak saja. Saya usul dengan niat baik agar lembaga ini tidak rusak kok malah dikata-katain jelek. Yaa sudah, yang penting aku menjalankan tugasku saja dengan baik, diam saja dan pasif. Dan kalau ada apa-apa dengan lembaga ini, jangan salahkan saya. Saya sudah memperingatkan sebelumnya, bukannya malah senang saya bantu, justru malah menjelekkan saya.”

Sahabatku yang kedua menjelaskan, “Jangan bersikap begitu Broo, andaikan lembagamu rusak, sesungguhnya sampean juga akan terkena imbasnya juga. Sampean akan ikut rusak juga. Karena sampean bekerja di situ. Ibarat melihat bara api yang sedang menyala, sampean tidak berusaha memadamkan malah tak peduli, suatu ketika sampean ikut terbakar juga jika api itu membesar.

Diam saja, gak usah berdebat dan melawan dengan Pimpinan, itu lebih baik buat sampean. Duduk manis dan diam lalu lakukan tugasmu sebaik mungkin. Namun sampean mesti tetap menjaga dan berbuat sesuatu yang terbaik agar lembaga ini tidak sampai hancur

Diam saja, gak usah berdebat dan melawan dengan Pimpinan, itu lebih baik buat sampean. Duduk manis dan diam lalu lakukan tugasmu sebaik mungkin. Namun sampean mesti tetap menjaga dan berbuat sesuatu yang terbaik agar lembaga ini tidak sampai hancur dan rusak, meski itu bukan kewajiban utama sampean. Tak usah banyak bicara namun lakukan saja hal-hal yang baik itu secara diam-diam. Diketahui atau tidak, dihargai atau justru malah dimusuhi tak perlu sampean risau.

Yakinlah, setiap perbuatan sekecil apa pun pasti ada balasannya. Dan hilangkan rasa geregetan di hatimu dengan merubahnya menjadi rasa woles aja. Jangan mudah baper deh. Hari gini masih suka baper…, mending sampean resign aja dari pekerjaan, menyepi di tengah hutan. Tak usah bersosialisasi dengan manusia, pasti gak ada yang bikin geregetan.”

Sahabatku yang pertama menjawab, “Siap Mas Bro, terimakasih saran-sarannya.”

Berita sebelumyaTotal Quality Management
Berita berikutnyaBisnis Gagasan, Tak Harus Kampusnya Bergedung
Abd Azis Tata Pangarsa. Lahir di Malang, 28 Januari 1984. Dosen STAIMA Al Hikam Malang, Guru MI Miftahul Abror Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Program Pascarjana S-3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretaris PCNU LP Ma’arif Kab. Malang. Penulis buku; Guru Juga Manusia: Catatan Harian Seorang Pendidik dan Penyunting buku: Merawat Nusantara, Menumbuhkan Kembali Spirit Persatuan dalam Kebhinekaan. Kontributor artikel di beberapa buku. Menjuarai berbagai even lomba guru berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional. Dapat dihubungi di Jl. Joyo Raharjo I/ 235 K Merjosari Kota Malang. HP dan WA: 082331783484. Facebook:Azis Tatapangarsa, IG:Azis Tatapangarsa, Email:tatapangarsa@yahoo.co.id.