Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 45

Disabilitas dalam Novel Bumi Manusia

0

Pramoedya Ananta Toer dikenal luas sebagai sastrawan yang mampu mendedah realitas sosial di era kolonial dengan apik melalui karya-karyanya. Tak hanya itu, dalam setiap karyanya, Pram juga menyisipkan pesan-pesan kehidupan yang sarat makna. Dalam novel Bumi Manusia misalnya, ia mengisahkan bagaimana kisah perjuangan Jean Marais, seorang difabel veteran perang Aceh berdarah Perancis yang harus mengalami banyak hal pahit atas kondisinya ini, salah satunya diskriminasi. Namun demikian, ia tetap kokoh pada dirinya.

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.”
— Jean Marais, halaman 274

Kampusdesa.or.id–NOVEL Bumi Manusia adalah novel luar biasa karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini telah meraih berbagai penghargaan, diantaranya Freedom to Write Award (1988), UNESCO Madanjeet Singh Prize (1996), Fukuoka Cultural Grand Prize (2000), dan berbagai penghargaan internasional lainnya.

โ€œBelajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatanโ€

Tokoh utama novel, Minke, diceritakan memiliki sahabat baik, Jean Marais. Jika Minke dalam kebingungan atau kesulitan, Jean Marais adalah orang pertama tempat curahan hatinya. Banyak petuah-petuah Jean Marais mempengaruhi pemikiran Minke. Lewat karakter Jean Marais pula PAT menelurkan kata-kata: โ€œBelajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.โ€ Petuah itu selalu diingat Minke.

Jean Marais adalah seorang pelukis dari Prancis. Pernah sekolah di Sorbonne. Ia meninggalkan bangku sekolah mengikuti suara hatinya, mencurahkan kekuatan sepenuhnya pada seni lukis. Ia tinggal di Quartier Latin di Paris, menjajakan lukisan-lukisannya di pinggir jalan. Karya-karyanya selalu laku, tapi tak pernah menarik perhatian masyarakat dan dunia kritik Paris. Sambil menjajakan lukisan ia juga mengukir.

Lima tahun telah berlalu. Jean Marais bosan pada lingkungannya, pada Eropa. Ia berpetualang ke Maroko, Libya, Aljazair, dan Mesir namun tak juga menemukan sesuatu yang dicarinya dan tetap tak bisa menciptakan lukisan sebagaimana ia impikan. Sampai di Hindia uangnya habis. Jalan satu-satunya adalah masuk Kompeni. Ia masuk, mendapat latihan beberapa bulan, dan berangkat ke medan-perang di Aceh. Jean Marais dikirim ke Aceh sebagai Spandri (serdadu kelas satu). Komandan regunya, Kopral Bastian Telinga, seorang Indo-Eropa. Sekiranya Marais bukan orang eropa totok, ia hanya akan menjadi serdadu kelas dua. Mulailah ia hidup diantara serdadu-serdadu Eropa totok seperti dirinya sendiri, yang juga tak tahu Belanda: orang Swiss, Jerman, Swedia, Belgia, Rusia, Hongaria, Romania, Portugis, Spanyol, Italiaโ€”hampir semua bangsa Eropa.

“Pengalaman perang di Aceh mengubah pandangan Jean Marais tentang pribumi. Ternyata kemampuan mereka tinggi, hanya peralatannya rendah; kemampuan berorganisasinya juga tinggi”

Pengalaman perang di Aceh mengubah pandangan Jean Marais tentang pribumi. Ternyata kemampuan mereka tinggi, hanya peralatannya rendah; kemampuan berorganisasinya juga tinggi. Sebaliknya, ia juga mengakui kehebatan Belanda dalam memilih tenaga perang. Jean Marais mulai mencintai dan mengagumi bangsa pribumi yang gagah perwira, berwatak dan berpendirian kuat. Hingga ia mendapatkan seorang wanita yang dulu menjadi musuhnya menjadi wanita yang dicintainya dan juga seorang anak perempuan, May.

Dari perang Aceh itu pula Marais kehilangan satu kakinya. Ia hidup bersama May di Surabaya bergantung pada uang pensiun tentara dan keahliannya melukis dan mengukir. Namun meski ia hidup sebagai warga eropa yang pada masa itu termasuk warga kelas satu, monsieur Marais tetap mengalami diskriminasi. Ini tercermin dari kalimat yang dipilih PAT dalam novel.
Dunia sekelilingku ramai. Meriam pun berdentuman. Di hati aku tetap nelangsa. Jadi pergilah aku seperti biasa ke tetangga sebelah, Jean Marais, orang Prancis berkaki satu itu. [BM hal. 4]

Betapa mengibakan nasib gadis kecil ini, juga ibunya, lebih-lebih sahabatku Jean Marais sendiri โ€“di negeri asing tanpa hari depan, kehilangan sebelah kaki pula. Ia sering bercerita sangat mencintai istrinya. Dan anak ini adalah anak tunggal โ€“ kini tanpa ibu untuk selamalamanya, hanya punya seorang ayah berkaki satu. [BM Hal. 7]

Minke tokoh utama novel mencari tambahan uang saku dengan mengumpulkan orderan mengukir dan melukis bagi Jean Marais. Seperti minke yang tergantung pada petuah dan pendapat sahabatnya, Marais juga sering tergantung pada Minke untuk membantu mengasuh May jika anak itu pulang-pergi sekolah atau ingin berjalan-jalan. Stigma sosial yang kuat bahwa menjadi orang cacat itu menimbulkan omongan dan pandangan negatif membuat Marais nyaris tidak ingin keluar rumah. Minke berusaha membuat Marais lebih percaya diri untuk bersosialisasi.

โ€œBaiklah. Kau mau mengajak jalan-jalan May sore ini, kan? Kau tak pernah membawanya!โ€ tuduhku menyesali. โ€œDia ingin berjalan-jalan denganmu.โ€
โ€œBelum bisa, minke. Kasihan dia. Orang akan menonton kami berdua. Pada suatu kali dia akan dengar mereka bilang: Lihat Belanda buntung pincang dengan anaknya itu! Jangan, Minke. Jiwa semuda itu jangan dilukai dengan penderitaan tak perlu, sekalipun cacad ayahnya sendiri. Dia hendaknya tetap mencintai aku dan memandang aku sebagai ayahnya yang mencintainya, tanpa melalui suara dan pandang orang lain.โ€
โ€œKau tak pernah setuju dengan perasaan kasihan, Jean,โ€ aku menegur.

โ€œKau benar, Minke. Pernah kuceritai kau, kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya. Aku tak punya kemampuan, Minke.โ€

“Dulu, kaum difabel sebelum masa kolonial sangat dihormati, dimanusiakan. Mereka menjadi dihargai karena dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa, harmonisasi itu penting”

Novel Bumi Manusia memang sarat dengan nilai-nilai sosial. Disini tidak hanya menceritakan pertentangan kelas pribumi lawan eropa, priyayi versus rakyat jelata, relasi cinta dan kuasa namun juga nilai-nilai persamaan derajat. Pembacanya diajak kembali kepada pandangan masyarakat jawa zaman dulu sebelum era kolonialisme. Dulu, kaum difabel sebelum masa kolonial sangat dihormati, dimanusiakan. Mereka menjadi dihargai karena dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa, harmonisasi itu penting. Salah satu caranya dengan penghormatan kepada semua kaum, termasuk difabel. Masyarakat jawa memiliki kisah punokawan yang semuanya bertubuh aneh namun bijak, pintar, pemberani dan baik hati.

Masyarakat Indonesia memiliki gambaran ideal tentang bagaimana memperlakukan difabel di sekitarnya. Namun gambaran ini menjadi berubah ketika masa kolonial terjadi di Indonesia. Masyarakat eropa yang sangat mementingkan aspek fisik membuat kaum difabel terpinggirkan dan mengalami stigma. Hingga saat ini.

Agaknya PAT ingin memberikan ajaran tentang cara menghargai kaum difabel yakni dengan menunjukkan prestasi dan kemampuannya bukan kondisi fisiknya.
โ€œTahukah para hadirin siapa yang melukis potret hebat di atas itu ? Seorang pelukis berbakat! Bukan pelukis sembarang pelukis. โ€ฆ Kan demikian, Tuan Jean Marais? Ya, para hadirin, pelukisnya seorang Prancis, negeri yang punya tradisi besar di bidang seni. Tuan Marais, silakan berdiriโ€ฆโ€ Nampak olehku Tuan Telinga menolong Jean Marais berdiri, dan hadirin bersorak gegap-gempita.

Simalakama Papua: Catatan Perjalanan Dokter Pejuang HIV/AIDS

0

Beruntung semangat para dokter dan sebagian tenaga medis untuk terus belajar tetap ada. Sayangnya, sarana dan prasarana untuk mengikuti simposium masih langka dan terkendala dana. Begitulah sedikit kisah perjalanan dari Biak Papua selama dua hari. Selalu ada sekuntum asa di balik sejuta simalakama yang menerpa.

Papua-Kampusdesa.or.id–Potensi pelbagai destinasi wisata di Biak Papua amat besar bila dikelola dengan baik. Hal itu dirasakan oleh DR dr Muchlis AU Sofro SpPD KPTI FINASIM, dokter pejuang penyakit infeksi, saat menjadi pembicara di forum ilmiah the First Papua Internal Medicine, Biak Papua, 14-15 Desember 2019. “Daerah wisata, seperti: pantai, air terjun belum dikelola secara optimal. Padahal potensinya mendatangkan turis lokal atau asing bagus sekali. Seandainya dikembangkan, pastilah luar biasa untuk menambah pendapatan asli daerah,” jelas Muchlis. “Jika ada dokter yang bersedia mengabdi di Papua, maka sudah sepantasnyalah memperoleh apresiasi khusus dari pemerintah daerah dan pusat,” lanjutnya ramah.

Dari perspektif sumber daya manusia (SDM), masih perlu pencerahan dan dukungan. “Bila tenaga medis mau ikut seminar atau workshop di luar pulau, biayanya sangat mahal. Belum lagi pengaturan jadwal jaga di Puskesmas atau jadwal bertugas di RS. Berbicara SDM perawat, belum semuanya menjalankan tupoksi yang telah ditentukan atau disepakati bersama. Seringkali program dokter, seperti: pasang NGT atau kateter urin, belum dapat dijalankan, karena menunggu perawat yang berkompeten untuk melakukan. Ironisnya, perawat yang belum berkompeten, belum mau belajar dari yang sudah bisa,” jelas dokter yang sudah mengunjungi lebih dari 45 negara ini.Catat

Dari perspektif manajemen keuangan, insentif Pemda belum teratur diterima oleh tenaga medis. Terkadang, harus protes dahulu barulah dana dicairkan. Seringkali pencairan dana juga dirapel tidak menentu. Berbicara jasa medis dari BPJS, tenaga medis mengaku menerima jasa pelayanan medis bulan Mei. Ironisnya, tidak ada RS swasta yang secara otomatis monoloyalitas. Terlebih lagi, tidak semua pasien memiliki Kartu Papua Sehat atau BPJS. Meskipun demikian, tenaga medis dituntut tetap melayani demi kemanusiaan. Persoalan menjadi semakin rumit tatkala siapa yang membayar malah menjadi piutang RS. Tidak mungkin tertagih lagi.

Sejumlah obat standar untuk serangan jantung, misalnya ISDN, seringkali tidak tersedia. Acapkali dokter membeli obat sendiri dengan dana pribadi saat berkunjung ke Jawa atas nama kemanusiaan.

Muchlis yang juga dosen senior di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini berhasil menemukan fakta unik dan menarik terkait ketersediaan obat di sejumlah RS dan Puskesmas di Biak, Papua. Sejumlah obat standar untuk serangan jantung, misalnya ISDN, seringkali tidak tersedia. Acapkali dokter membeli obat sendiri dengan dana pribadi saat berkunjung ke Jawa atas nama kemanusiaan. Seringkali antibiotik injeksi terkadang tidak ada. Persediaan obat-obat penangkal malaria malah melampaui kebutuhan. Infus Dextrose menumpuk dan kedaluwarsa, padahal yang diperlukan dalam jumlah besar adalah infus RL atau NaCl 0.9%.

Terlebih lagi, pengaruh dari pihak internal keluarga pria sangat disegani. Bila salah satu pihak dari keluarga pria mengatakan tidak perlu berobat teratur, maka saran dokter tidak berlaku.

Penulis buku “The Art of Infectious Diseases: Praktis dan Jitu Atasi Penyakit, Infeksi, dan Problematika Kesehatan” ini juga menjelaskan “simalakama proses” di Biak, Papua. Maksudnya, jarak rumah pasien dari RS atau Puskesmas seringkali sangat jauh. Akibatnya, pasien yang harus berobat rutin, seperti sejumlah kasus HIV-AIDS, susah untuk patuh. Terlebih lagi, pengaruh dari pihak internal keluarga pria sangat disegani. Bila salah satu pihak dari keluarga pria mengatakan tidak perlu berobat teratur, maka saran dokter tidak berlaku.

Ironis memang. Belum lagi upaya pencegahan penularan infeksi menular seksual tidak ada. Upaya sirkumsisi (sunat) sebagai pencegahan penularan HIV AIDS memang mulai digalakkan. Namun, mitos โ€œjika sudah sunat, maka aman tertular HIV AIDSโ€ seolah melekat dan mendarah daging di pikiran penduduk Papua. Mereka dengan mudahnya berhubungan seks tanpa beban setelah sunat. Hal itu (kegiatan seks bebas-red) bahkan dilakukan tanpa perlu pengaman dan bisa dengan berbagai pasangan.

Beruntung semangat para dokter dan sebagian tenaga medis untuk terus belajar tetap ada. Sayangnya, sarana dan prasarana untuk mengikuti simposium masih langka dan terkendala dana. Begitulah sedikit kisah perjalanan dari Biak Papua selama dua hari. Selalu ada sekuntum asa di balik sejuta simalakama yang menerpa.

*Tulisan ini dimuat ulang di https://www.sukma.co/simalakama-papua-catatan-perjalanan-dokter-pejuang-hiv-aids/

Pekerjaan Orangtua dan Hak Anak

0

Mempunyai anak dan bekerja di luar rumah tanpa mengabaikan hak anak, tentu kerepotan, meskipun punya babysister. Apalagi kerja yang menuntut kehadiran publik jelas akan menjadi buah simalakama, mau meninggalkan anak di rumah sementara atau mengajak anak ke tempat kerja yang juga belum tentu lingkungan kerja menerima. Sepertinya, dukungan anak atas hak dekat dengan orang tua tidak selamanya terintegrasi di dunia kerja (utamanya perkantoran). Tetapi ada orang yang mampu menyiasatinya oleh karena hak anak tidak ingin ditelantarkan, meski kerja di luar jam kerja.

Kampusdesa.or.id–Perempuan muda itu terpaksa harus menggendong anaknya sambil berada di depan hadirin. Bahkan iapun menyampaikan materi sambil menggendong anak pada saat tertidur di gendongannya. Awalnya ia sudah mencoba membuat situasi agar anaknya bisa diajak asisten si ibu yang juga berada di sekitar tempat bimtek.

Saat itu, si anak menangis dan satu-satunya cara membuatnya diam tidak menangis adalah digendong ibunya. Giliran si ibu yang masih muda berada di depan hadirin untuk menyampaikan materi, si anak tetap harus ia gendong. Untungnya sekitar seperempat jam sejak ia menyampaikan materi, si anak sudah tertidur lelap. Maka ia minta ijin agar memberikan anaknya pada asistennya. Lalu, ia melanjutkan menyampaikan materi.

Si anak yang tertidur lelap sudah berada di gendongan seorang perempuan muda juga, asisten ibu si anak yang digaji bulanan. Tapi si asisten bersama anak yang belum berumur satu tahun itu tetap berada di sekitar acara. Panitia acara yang kebanyakan perempuan juga kadang mengajak si asisten bicara dan sebagian yang belum kenal juga mulai bertanya-tanya. Yang sudah kenal kadang juga ikut menyentuh pipi bayi itu, bahkan menciumnya. Bahkan sebelum anak itu tidur dan si ibu tadi mulai menyampaikan materi, banyak perempuan panitia yang berebut untuk menggendongnya.

Ada lagi cerita lain. Seorang perempuan yang menjadi komisioner lembaga negara di Jawa Timur harus mengisi acara di suatu acara hotel terkemuka di Surabaya. Tiba giliran acara akan dimulai, karena ia yang akan membuka rapat yang berlangsung tiga hari, ia juga harus mengondisikan dua anaknya yang masih balita. Awalnya, sambil menunggu acara seremoni dimulai, ia duduk di meja bersama hadirin yang merupakan reka-rekan kerjanya (tepatnya bawahannya). Anak-anaknya tampaknya juga ikut bergabung duduk-duduk di meja, salah satu asistennya (yang membantu merawat dua anak itu) juga membuntutinya.

โ€œNanti saat Mama maju ke depan memberi sambutan, kakak sama adik ikut Tante yaโ€ฆ duduk di ruang sebelah ya, di sana,โ€ kata perempuan pimpinan rekan-rekannya se-Jawa Timur itu. Lalu dari mikropon pembawa acara mengabarkan bahwa acara akan dimulai. Si perempuan pimpinan itu menciumi pipi kedua anaknya, dan ia berdiri, lalu maju ke depan. Hadirin memberikan tepuk tangan. Perempuan yang merupakan pimpinan itu memang ditunggu-tunggu sama rekan-rekannya (anak buahnya) dalam acara rapat kordinasi tingkat propinsi itu.

Tapi ada kalanya di lembaga-lembaga pemerintahan maupun swasta, acara juga dilakukan tanpa memandang hari libur atau tidak. Maka, kebersamaan ibu dan orangtua bersama anak-anak tidak harus dihilangkan.

Hari itu memang hari Minggu. Tapi ada kalanya di lembaga-lembaga pemerintahan maupun swasta, acara juga dilakukan tanpa memandang hari libur atau tidak. Maka, kebersamaan ibu dan orangtua bersama anak-anak tidak harus dihilangkan. Anak-anakpun bisa diajak terus dekat dengan orangtua. Sebab di sini, hak anak untuk dekat dengan orangtuanya, terutama ibunya, merupakan hak yang selayaknya dipenuhi dengan baik.

Ada saat-saat anak harus didampingi, tak bisa dibiarkan sendiri. Bagi anak-anak yang masih kecil dan belum mandiri, dan jika dilepas akan membahayakan diri mereka, tentu saja kebersamaan harus diberikan. Orangtua yang harus bekerja, tentunya tidak selamanya ada orang yang menjaganya ketika berada jauh dari orangtua. Mungkin ada kalanya rewang atau asisten sedang sakit atau sedang tidak bisa masuk dalam menjalankan kerjanya sebagai asisten. Atau mungkin juga tidak ada saudara, mertua, orangtua (kakek nenek si anak kecil) yang bisa menjaganya. Makanya, mau tak mau ada kalanya saat bekerja, anak terpaksa harus dibawa serta.

Hal itu tidak masalah jika tidak mengganggu pekerjaan atau tidak dilakukan tiap hari. Bagi mereka yang punya kerjaan tiap hari, maka disarankan agar saat mereka bekerja anak ada yang merawat. Tapi kalau saat tidak ada yang bisa merawat dan menjaga anak, ya kadang hal itu dilakukan secara terpaksa. Anak dibawa serta selama tak mengganggu pekerjaan.

Saya sendiri selaku orangtua (ayah) yang punya anak juga tak jarang punya tugas menjemput anak. Saya dan istri berbagi. Saya kebagian ngantar tiap hari. Setelah mengantar, jam 7 saya biasanya langsung ke kantor. Karena jarak sekolah anak saya dengan kantor lebih dekat dibanding ke rumah. Dan saya menjemput anak kedua saya karena pulangnya jam 12.00. Jam itu adalah jam istirahat kantor.

Sedang anak pertama pulangnya jam 13.00, yang bertugas menjemput adalah istri saya. Hanya saja, ada kalanya istri saya tak bisa njemput. Maka saya harus menjemput keduanya juga. Adakalanya, harus sudah nyampek kantor jam 13.00 karena rapat. Maka, anak saya jelas saya ajak ke kantor. Kedua anak saya, saya suruh berada di salah satu ruangan, atau di Rumah Pintar Pemilu (RPP) yang agak luas, dan saya rapat di ruangan yang lain. Lalu setelah rapat saya antar pulang dan kemudian saya balik ke kantor lagi.

Itupun jika istri tidak berhasil cari pertolongan. Biasanya kalau dia tak bisa, maka ia minta tolong adhiknya (tantenya anak saya) untuk menjemput. Kadang saya kerja tanpa mengenal jam istirahat, misalnya ada acara seharian ke suatu tempat di mana acara dan perjalanannya membuat kami kehilangan jam istirahat. Maka, dipastikan saya tidak bisa menjemput anak di jam istirahat.

Pernah juga suatu waktu, tidak ada yang bisa njemput dan saya harus berada di tempat kerja. Maka, saya minta tolong pada teman kantor untuk menjemput dan membawa kedua anak saya ke tempat acara di mana saya berada. Saya tak bisa njemput karena pas jam pulang sekolah anak saya dan saat saya seharusnya istirahat, saya ternyata tak bisa istirahat. Misal, ada acara menyampaikan materi, ternyata jam 12.00 saat anak saya pulang ternyata saya masih harus menyelesaikan materi. Bahkan hingga jam 13.00 juga belum selesai. Maka saya minta tolong staf untuk menjemputkan anak saya dan dibawa ke tempat saya punya acara. Kebetulan misalnya tempat acara sebenarnya di seputar kota di mana dekat dengan kantor maupun sekolah anak saya.

Hal seperti ini pasti dialami oleh orang-orang yang punya anak kecil dan sedang berada dalam posisi kerja. Hal yang tidak dirasakan oleh orang yang tak punya anak kecil. Orang yang sudah punya anak-anak yang sudah bisa ditinggal sendiri atau sudah aman berada jauh dari orangtua, tentu juga tak mengalami hal semacam ini.

Dan maaf, hal itu juga bukan hanya berlaku untuk orang-orang yang bekerja di kantor. Tetapi juga untuk orang yang bekerja misalnya sebagai petani. Sebab, ketika anak saya masih kecil dan belum sekolah, saat kami berdua (saya dan istri) harus bekerja di luar rumah, anak saya titipkan mertua. Karena mertua harus โ€œGejikโ€ (menanam benih palawija) di ladang yang terletak di hutan dekat dengan rumah, maka anak saya pun diajak ke hutan.

Saya jadi ingat juga ketika saya kecil, kira-kira masih berumur lima tahunan, tak jarang orangtu saya juga mengajak saya ke sawah yang terletak di desa sebelah. Saya harus menunggu di samping sawah di bawah pohon rindang, setelah tikar pandan dibeber untuk alas dudukku dan meletakkan logistik (makanan) untuk makan siang.

Kita hidup di negara yang dituntut semakin ramah anak. Anak-anak punya hak untuk bersama orangtuanya. Terutama anak-anak yang masih kecil yang terpaksa harus diajak kerja atau di tempat kerja, juga bisa diajak saat kondisinya โ€œdaruratโ€

Alhamdulillahโ€ฆ, kita hidup di negara yang dituntut semakin ramah anak. Anak-anak punya hak untuk bersama orangtuanya. Terutama anak-anak yang masih kecil yang terpaksa harus diajak kerja atau di tempat kerja, juga bisa diajak saat kondisinya โ€œdarurat.โ€ Bahkan tempat-tempat kerja sekarang dituntut untuk menyediakan ruang laktasi bagi ibu-ibu yang harus menyusui anak kecil sedangkan harus masuk kerja.

TANCEP KAYON!
TRENGGALEK, 15/12/2019

Perempuan Mandiri Itu Tidak Melulu Sibuk di Ranah Publik

0

Apakah motivasi Anda begitu kuat didasari oleh dorongan tertentu yang begitu dahsyat. Atau jika Anda tidak punya motivasi juang yang dahsyat, barangkali Anda tidak sepenuhnya punya pemantik hidup yang nyata, jelas, dan visioner sehingga hidup hampir tanpa perjuangan berarti, kecuali hanya untuk memenuhi kebetuhan sendiri saja. Perjuangan orang ditentukan salah satunya oleh siapa sosok idola yang inspiratif. Salah satu kisah ini, inspirasi tersebut tidak lain adalah Ibu.

Kampusdesa.or.id–Selamat Hari Ibu, Umi.

Ibuku, pedagang sukses yang mampu menaklukan kebandelan anak remajanya. Ibuku, perempuan rumahan yang senang dengan perbincangan politik praktis. Ibuku, perempuan single parents, perawat bagi suaminya yang stroke yang menjalani bakat organisasinya sepeninggal suaminya. Ibuku, penderita radang paru-paru yang sempat sholat dhuha di rumah sakit sebelum 3 jam ajal menjemputnya.

Ibuku, tidak memperkenankan perhiasan emas yang dikenakan diwarisi anak-anakya karena dijariyahkan untuk masjid.


Umi adalah panggilan untuk ibu kami (saya dan kakak saya. Umi meninggal dalam usia 78 tahun. Empat tahun lalu, bulan April tahun 2015. Persisnya tanggal berapa saya belum mencatat di buku catatan hari-hari penting kelahiran, pernikahan, kematian dan hal penting keluarga besar kami.

Entahlah, bukan berarti saya tidak perduli akan hari penting itu. Bagi saya, Umi masih hidup. Hidup dalam cita-cita dan harapan saya. Hidup dalam suasana suka dan duka saya. Pokoknya hidup dalam seluruh aktivitas kehidupan saya. Apa-apa yang sudah saya lalui, tanpa sengaja sering saya bandingkan diri saya dengan beliau dalam suatu hal peristiwa hidup yang mirip beliau lalui.

Tahun ini, saya merasakan banyak hal bahwa apa yang saya lakukan belumlah setingkat atau sederjat dengan beliau, saya masih jauh dibawa beliau, walau saya sudah sarjana dan alumni pesantren sementara umi hanya lulusan sekolah rakyat yang saya juga tidak tahu ijazahnya ada atau tidak ada. Sementara ilmu agamanya diperoleh dari ngaji bersama bapaknya dan ngaji di majelis ta’lim di jaman mudanya. Sejak beliau meninggal saya sudah menyadarinya bahwa beliau adalah ibu hebat bagi saya dan putra -putrinya yang lain.

Saya yakin Umi tidak mengerti apa itu gerakan gender, umi tidak menyadari bahwa beliau adalah perempuan mandiri secara ekonomi karena setahu saya nafkah keluarga berasal dari aktivitas ekonomi yang dijalaninya, sementara Abah (bapak) saya menekuni dunia politik dan organisasi keagamaan dan tak pernah pusing dengan urusan menafkahi keluarga.

Di mata Umi, Abah adalah mitra bersama Umi dalam menjalani profesi sebagai pedagang. Saya katakan mitra, karena umi pernah mengatakan bahwa sepeninggal Abah tahun 1996 yang mana 1 tahun kemudian terjadi krisis moneter, Umi mengatakan begini, “toko Umi tidak seramai/selaris dulu, karena yang membantu Umi berdoa kepada Allah sudah berkurang.”

Saya rasa memang Umi ditakdirkan Gusti Allah menjadi perempuan mandiri secara ekonomi. Sebelum Abah saya hadir dalam kehidupannya, Umi sudah pernah menikah dengan pria lain dan dikaruniai 4 putra dan seorang anak putri. Mereka semua kakak saya beda Abah. Seingat saya, Abahnya kakak saya ini juga sama dengan Abah saya, lebih menekuni hobbynya daripada sibuk mencari nafkah untuk keluarganya. Karena aktivitas ekonomi Umi sebagai pedagang cukup menghidupi keluarga hingga beliau wafat karena sakit.

Meskipun Umi perempuan mandiri, Umi tetaplah perempuan yang betah di rumah dengan kesibukan di toko dan mengaji al-Qur’an serta sibuk dengan tugas-tugas sebagai madrasah bagi anaknya. Guru ngaji al-Qur’an pertama saya adalah Umi, sementara guru ngaji kajian keagamaan saya adalah Abah. Menginjak SMP, saya minta izin ingin belajar ngaji Qur’an di luar rumah berbaur dengan teman- teman sebaya saya.

Saya masih ingat, sebagai perempuan mandiri, Umi tidak takut dengan respon sosial yang mungkin menimpanya. Saat usahanya meningkat, tiap kali Umi berbelanja dalam jumlah besar untuk mengisi toko pracangannya. Butuh waktu antara jam 10.00 sampai jam 17.00-an. Umi membawa pulang barang belanjaannya 1 kendaraan pick up sewaan dari lokasi belanjanya.

Dalam durasi belanja kebutuhan toko sepanjang itu dan barang sebanyak itu, Umi melakukan sendiri. Lalu pada suatu kali ada saran dari orang lain, agar Umi ditemani Abah, mengingat barang dagangan yang banyak dan pulang hampir malam dikhawatirkan akan ada tindakan kejahatan yang mungkin menyerangnya. Sejak saat itu Abah menemani Umi belanja dengan cara Umi berangkat lebih dulu, Abah berangkat sepulang sekolah saya karena mungkin saya tidak mungkin ditinggal di rumah sendirian, tetapi menunggu saya untuk diajak menjemput Umi.

Saya memang masih kecil waktu itu, sekitar kelas 4 SD. Kedua kakak saya di pesantren dan seorang kakak perempuan saya sudah berumah tangga, 2 kakak yang lainnya meninggal dunia saat saya masih bayi. Umi keluar rumah cuma berbelanja kebutuhan toko. Sepertinya toko yang dikelola Umi ini serupa agen, karena waktu itu saya sering menjumpai pembeli yang tujuannya menjual kembali barang belanjanya atau rumah tangga yang belanja besar untuk nyetock barang dalam sebulan.

Dalam pesatnya usaha, Umi tidak tergiur membeli barang mewah serupa mobil atau kendaraan roda dua. Ke mana-mana naik kendaraan umum atau menyewa mobil.

Indahnya kehidupan ekonomi jaman dulu, tidak ada swalayan, mini market bahkan departement store sehingga denyut ekonomi rakyat seperti yang dijalani Umi ini maju pesat dan mungkin serupa swalayan jaman sekarang. Umi mengatakan bahwa dari hasil tokonya ini bisa membeli sawah dan ternak kambing dan sapi. Dalam pesatnya usaha, Umi tidak tergiur membeli barang mewah serupa mobil atau kendaraan roda dua. Ke mana-mana naik kendaraan umum atau menyewa mobil. Kata kakak perempuan saya yang sudah punya mobil waktu itu, “Umi itu tidak mau beli mobil jika tidak dibayar cash.”

Jadi saya rasakan memang demikian, hasil dagangannya dirupakan sawah dan ternak serta perhiasan emas. Umi tidak mau terlalu lama berhutang kepada orang lain atau rekan bisnisnya seperti para langganan tempatnya berbelanja. Umi juga tidak pernah melibatkan dunia perbankan untuk menyimpan hasil kerjanya kecuali saat mau beribadah haji. Jadi, waktu itu, Umi dan Abah naik haji hasil penjualan sawahnya. Kala itu dijuluki haji “wahyu” (sawah payu, bahasa Jawa dari sawah yang terjual). Umi dan abah memang waktu itu bersama adiknya Umi dan istrinya berangkat ke tanah suci dengan banyak warga dari hasil penjualan sawah yang dibeli oleh orang yang akan mendirikan pabrik di desa kami.

Meskipun Umi adalah perempuan rumahan, bukan perempuan yang sibuk di luar rumah sebagai wanita karier. Umi punya ketertarikan di bidang politik dan organisasi. Saya sering mendengar perbincangan santai Umi dan Abah tidak jauh-jauh dari urusan politik dan organisasi. Di rumah kami tidak ada TV. Abah tidak mengizinkan ada TV di rumah karena dianggapnya salah satu sumber munculnya hal-hal yang dilarang agama. Kami mematuhinya walau akhirnya sepeninggal Abah dan mungkin karena kebutuhan informasi dan hiburan di rumah ada TV. Umi saat itu jadi suka melihat TV, bukan karena baru memiliki TV, karena waktu itu selalu ada Gus Dur di TV. Apalagi ketika beliau menjadi presiden.

Saya bayangkan, seandainya Abah masih hidup di jaman ini, mungkin beliau risau melihat tayangan TV yang lebih banyak dan bermacam- macam acaranya beda sekali dengan jaman dulu. Ya, saya kira ketiadaan salah satu sumber informasi ini dan mungkin hal lain pula, Umi lebih suka mendengarkan cerita Abah tiap Abah selesai mengikuti rapat atau pertemuan organisasi.

Pernah berhari-hari Umi dan Abah ngomong serius soal NU yang harus kembali ke khittah 26. Karena hal ini baru kala itu, Umi berkali-kali minta Abah bisa menjelaskan. Begitu pentingnya mungkin, Abah yang jarang membaca media cetak secara rutin, waktu itu sempat membeli majalah Tempo karena ada bahasan bertajuk NU kembali ke khittah 26.

Umi mulai aktif di organisasi muslimat NU dan simpatisan partai yang memiliki background atau visi misi yang tak jauh dari ruh Nahdlatul Ulama.

Pantaslah setelah Abah meninggal dan toko Umi mulai dijanlankan kakak sulung saya, Umi mulai aktif di organisasi muslimat NU dan simpatisan partai yang memiliki background atau visi misi yang tak jauh dari ruh Nahdlatul Ulama. Aktifnya beliau di dua aktivitas tersebut saya kira karena Umi sudah tak punya lagi sumber informasi. Umi sudah tak punya lagi teman diskusi dan sharing yang semua bersumber dari Abah. Selain aktif di organisasi NU dan senang dunia politik, Umi juga mulai ikut jam’iyah khotmil Qur’an. Kesibukan barunya ini tak menyita waktunya istiqomah membaca Qur’an. Tetap suka membaca Qur’an saat tidak ada pembeli di toko, istiqomah “nderes” usai sholat subuh dilanjutkan menyimak ngaji saya.

Umi juga menemui ujian-ujian hidup yang tak ringan walau dalam hal lain sangat membahagiakan dan patut disyukuri. Meskipun umi masih didampingi ibunya dan saudaranya, Umi pernah mengatakan pernah membuat keputusan yang salah, yakni dengan mengizinkan anak perempuan satu-satunya menikah di usia yang amat belia, 14 tahun. Cerita Umi kepada saya, keputusan itu diambil karena Umi tidak punya teman diskusi. Umi single parents. Suaminya meninggal. Beliau menerima anjuran adik iparnya yang mungkin tidak begitu mempertimbangkan dampak buruknya. Pernikahan dini kakak perempuan saya ini kandas tersebab kedua belah pihak, baik kakak saya maupun suaminya masih belum bisa berpikir dewasa dalam menyikapi dinamika hidup.

Setelah menikah dengan Abah, Umi juga menemui ujian yang tak kalah berat. Umi sukses dalam bisnis, tapi Umi memiliki kerisauan yang sangat besar akan pendidikan salah satu kakak laki-laki saya. Ia tak pernah kerasan mondok. Saya yang masih kecil waktu itu, selalu diajak mengantar kakak saya ini ke pondok. Berpindah-pindah pondok. Saya lupa waktu itu runtutan perpindahan pondoknya. Pernah mondok di Tebuireng, di Lirboyo dan di pesantren yang dekat dengan rumah. Semuanya dijalani belum tuntas. Umi meminta bantuan doa para kyai dari satu kyai ke kyai lain selain beliau mendoakannya sendiri demi mendapatkan kakak saya agar mau mencari ilmu.

Selain berdoa, umi juga sempat mengganti nama kakak saya ini karena mungkin belum juga nampak perubahan baik yang dilihat. Setelah sekian lama entahlah berapa kurun waktunya, Umi tidak lagi membawa kakak saya ke pondok. Umi mulai menuruti kemauan kakak saya. Iya, jadi saat banyak temannya masih di pondok, kakak saya justru sibuk dengan hobby fotografi dan otak-atik alat elektronik. Umi menyewakan sebuah rumah yang dijadikan studio fotonya tak jauh dari rumah kami.

Kakak saya ini meski baru punya usaha studio foto, kesukaan merokok yang berharga mahal tak dihentikan. Sepertinya masih juga minta support dana dari umi. Kakak saya tak jarang juga masih memancing kemarahan Umi karena beliau tak berkenan dengan akhlaqnya yang tak menunjukkan sebagai santri. Kakak saya ini juga pernah berjudi. Belakangan dia mengaku hasil judinya tidak dimakan. Dalam masa bandelnya kakak saya ini pemenang lomba catur. Bermain catur ini juga salah satu yang tidak disukai Umi.

Saya kira lama umi dapat ujian memiliki anak bandel seperti kakak saya ini. Kalau saya pikir-pikir, Umi itu anak yang paling menyayangi ibunya. Umilah yang merawat nenek saya hingga meninggal. Umilah yang membela nenek saat ada adiknya yang merepotkan nenek, tapi nyatanya Umi tetap dapat cobaan mendapatkan anak bandel seperti kakak saya ini. Saya simpulkan bahwa, apa yang menimpa seseorang di masa kini belum barang tentu sebuah sebab akibat di masa lalu. Jadi, bandelnya kakak bukanlah suatu karma sebagaimana sering ada perbincangan bahwa anak nakal mungkin dulunya ia pernah nakal kepada orang tuanya.

Kembali ke kakak saya, setelah disewakan rumah untuk studio foto, Umi membelikannya rumah eks rumah bulik saya yang berada dekat rumah Umi. Sebelumnya Umi juga membelikan kakak saya motor. Ini pertama kalinya Umi membeli motor dan itu bukan untuk Umi, tapi untuk kebutuhan kakak saya ini. Semakin ke sini, kakak saya mulai ada perubahan ke arah lebih baik.Tak lama kemudian Umi menikahkan kakak saya ini dengan gadis desa kami. Kakak menerima gadis pilihan Umi ini tanpa penolakan walau kakak saya pernah punya gadis pujaan.

Usahanya di studio foto semakin berkembang merambah ke alat-alat elektronik, jasa foto copy dan alat tulis kantor. Pada sekitaran tahun 2003 kakak saya yang masa mudanya bandel ini berangkat ibadah haji dengan istrinya. Hingga kami saudaranya masih dalam longlist (menunggu giliran), kakak saya ini pada tahun 2016 berangkat umroh dengan istrinya. Kakak saya juga orang yang beruntung, karena putrinya didaftarkan haji oleh mertuanya setelah sehari resepsi pernikahan antara putranya dengan putri kakak saya pada tahun 2014.

“Jangan menilai/menghakimi orang melihat dari awalnya saja, karena kita tidak tahu di akhirnya. Umar bin Khattab dulu begitu benci Rasullullah tapi akhirnya ia bersanding di sebelah makam Rasulullah”

Kakak saya ini pula yang membantu membiayai sekolah saya sejak toko Umi kena dampak krisis moneter. Kakak saya ini pula yang bantu membiayai resepsi pernikahan saya. Kakak saya ini pula yang dananya dan materinya ada untuk diberikan kepada saudaranya dan kepada Umi saat kami tak punya. Cerita kakak saya ini mengingatkan saya sebuah pesan hikmah, “jangan menilai/menghakimi orang melihat dari awalnya saja, karena kita tidak tahu di akhirnya. Umar bin Khattab dulu begitu benci Rasullullah tapi akhirnya ia bersanding di sebelah makam Rasulullah.” Perjalanan hidup kakak saya ini tentulah rahman rahim Allah yang dtempat dalam ikhtiyar serius umi.

Umi juga punya cobaan sakit kepala yang menahun sejak saya kecil hingga menjelang abah sakit stroke. Beliau didampingi abah dan saya dalam berikhtiar obat sampai keluar kota. Kalau Umi sakit kepala, rasanya hari-hari saya penuh kesedihan. Ketika sakit kepalanya sudah tak ada gejala sakit yang serius, Umi dapat cobaan lagi. Abah sakit stroke ketika saya masih kelas 2 SMP. Waktu itu setahun setelah beliau berhaji dan sehari setelah saya diizinkan untuk mengaji belajar agama di majelis ta’lim, tak lagi bersama Abah. Kata umi dalam sedihnya, bahwa Abah kena stroke ini mungkin karena tidak lagi punya kesibukan menjadi guru ngaji saya. Umi merawat abah bersama kakak perempuan saya dan kakak ipar saya sampai 4 tahun hingga abah menemui ajalnya dalam strokenya pada usia 63 tahun.

Hari-hari umi sesudah meningggalnya abah adalah hari-hari umi sebagai aktivis organisasi. Menjadi ketua ranting muslimat NU, menjadi ketua Ikatan Haji Muslinat NU anak cabang, menjadi pengurus harian muslimat NU anak cabang, menjadi ketua pengurus TK muslimat 45, mengembangkan bangunan mushola pribadi lalu diwaqofkan awalnya satu lantai menjadi dua lantaihingga pernah menjadi team sukses dalam pilkada Mojokerto dari calon independen yang ternyata gagal karena kendala administratsi, padahal umi sudah ikut konsolidasi dan diajak sosialisasi berkali-kali.

Saya ceritakan sedikit tentang perjalanan umi dalam dunia politik ini. Umi sepertinya bukan tipe pribadi yang fanatik dengan ketokohan di dunia politik. Saat beliau jadi team sukses bakal calon bupati ini, umi ditanyai oleh ketua cabang Muslimat NU stempat yang jadi team sukses bupati terpilih.

“Umi, kalau Gus Dim tidak jadi bagaimana perasaan Njenengan? “

Dijawab umi, “Saya kan hanya membantu, urusan jadi dan tidaknya gih tergantung takdire Gusti Allah”. Jadi setelah tahu calon umi gagal dalam syarat administrasi umi tak punya perasaan ikut gagal, beliau biasa saja dan tetap ikut memilih bupati dari calon lainnya.

Semakin bertambahnya usia, Umi mulai sering berpesan kepada saya agar didoakan meninggal secara khusnul khotimah. Umi juga berpesan kepada saya satu-satunya anak kandung karena kakak perempuan saya sudah meninggal pada usia 40 tahun (saya mahasiswa semester 7) dan kedua kakak ipar saya begini, “rukun tidaknya saudara ketika sudah berumah tangga biasanya dipengaruhi pihak perempuan, karena itu tetaplah jaga kerukunan.”

Beberapa tahun menjelang wafatnya, beliau juga menyiapkan “uang selawat” yang pesannya agar diberikan kepada tiap orang yang menyolati jenazahnya. Beliau juga berpesan bahwa perhiasan emas yang beliau pakai tidak boleh diwarisi anak-anaknya karena akan dijariyahkan ke masjid dan biaya bancaan beberapa hari setelah wafatnya. Beliau mengatakan sudah cukup memberi keempat anaknya rumah, soal diprbaiki atau direnovasi tergantung mereka. Dari ketiga kakak saya ini masing-masing menghadiahi Umi cucu sarjana, tinggal saya anak bungsunya yang masih terus berjuang untuk kebaiakan anak-anak saya agar pantas berjajar dalam deretan orang sukses yang membahagia orang tua dan kehidupan banyak orang.

Menjelang beberapa bulan beliau akan meninggal, beliau lebih suka bersilaturrahim. Biasanya tidak mau menginap di rumah saya, 2 minggu sebelum meinggal beliau sempat menginap di rumah. Pantaslah saya terkejut ketika beliau wafat. Biasanya saya selalu diminta datang menjenguk ketika beliau sakit, tapi saat-saat terakhirnya saya tidak ada di dekatnya. Beberapa jam sebelum meninggal, beliau masih sholat subuh berjamaah, dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang melemah, namun, jam 10an beliau masih mampu sholat dhuha, beberapa saat kemudian mengalami koma dan meninggal pada hari itu jam 14.00an.

LAHAL FAATIHAH


20 DECEMBER 2019

Menyoal Pergeseran Makna Hari Ibu

0

Sejarah mencatat bahwa setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati hari ibu. Tidak hanya Indonesia, di beberapa Negara juga terdapat hal yang serupa, atau kita kenal sebagai Motherโ€™s Day (Internasional), hanya saja setiap Negara memiliki tanggal dan sejarah yang berbeda dalam momentumnya. Setiap Negara juga mempunyai versinya masing-masing dalam memperingatinya.

Kampusdesa.or.id- Sebut saja Perancis, di Perancis Hari Ibu dirayakan setiap tanggal 26 Mei. Peringatan tersebut untuk menghormati para istri yang ditinggal gugur suaminya dalam Perang Dunia I. Dulu, beberapa walikota di Perancis menganugerahi medali khusus untuk para ibu terpilih. Sedangkan untuk saat ini, Hari Ibu dirayakan dengan memberikan hadiah dan kue berbentuk bunga kepada ibu.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, peringatan Hari Ibu di Indonesia mengalami penyempitan makna. Hari Ibu di Indonesia diperingati hanya untuk sebatas berterimakasih kepada Ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan seseorang. Bentuk terimakasih seorang anak kepada Ibu juga diberikan karena Ibu telah melakukan tugasnya di wilayah domestik dengan baik.

Dalam menelaah makna Hari Ibu di Indonesia, sejarah pergerakan perempuan di Indonesia harus dikaji ulang. Pengetahuan sejarah sangatlah penting untuk memberikan makna pada suatu momentum besar. Selain itu, mengetahui kultur dalam suatu Negara juga dapat sebagai alat untuk menginterpretasikan suatu makna tersebut.

Pentingnya Sejarah Untuk Mencari Makna: Sebelum membahas lebih spesifik tentang lahirnya Hari Ibu di Indonesia, seyogyanya kita melihat kilas balik peta pergerakan perempuan di Indonesia. Secara sederhana, pergerakan perempuan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan sampai saat ini. Pembahasan ini akan fokus pada dua periode, yaitu masa penjajahan Belanda dan Jepang. Karena dua periode tersebut akan mengantarkan pada pemahaman tentang sejarah Hari Ibu.

Beberapa tokoh yang sampai saat ini bisa kita jadikan teladan antara lain Cut Nyak Dien, Nyai Ageng Serang, Cut Mutia dan lain-lain.

Pada periode penjajahan Belanda gerakan perempuan intens pada perlawanan untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme. Perempuan pada masa itu terlibat secara fisik dalam proses perlawanan. Beberapa tokoh yang sampai saat ini bisa kita jadikan teladan antara lain Cut Nyak Dien, Nyai Ageng Serang, Cut Mutia dan lain-lain.

Pada masa penjajahan jepang, perjuangan gerakan perempuan lebih bersifat penyadaran, hal itu tidak bisa lepas dari ide-ide feminisme yang diadopsi dari barat. Gerakan tersebut menginisiasi adanya egaliter antara laki-laki dan perempuan di ranah publik, peran politik, pendidikan, hukum dan budaya. Pada masa inilah kilas balik perjuangan perempuan perintis kemerdekaan yang juga ada kaitannya dengan sejarah Hari Ibu.

Tonggak sejarah Hari Ibu dimulai dari kongres perempuan pertama yang dilaksanakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan. Isu yang diangkat dalam kongres tersebut lebih bersifat kebangsaan, mulai dari pelibatan perempuan dalam pembangunan bangsa, penolakan terhadap eksploitasi anak dan perempuan dan ihwal kesetaraan gender. Barulah tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu, keputusan tersebut dihasilkan dari kongres perempuan ketiga pada tahun 1938.

Kita semua menyadari bahwa perjuangan perempuan tentu berbeda dari masa pra-kemerdekaan sampai pasca-kemerdekaan. Dari pengalaman sejarah setidaknya kita tau goresan perjuangan lahirnya Hari Ibu memiliki spirit yang bersifat emansipatif. Tapi kini realita berdeda, seorang perempuan khususnya ibu telah terjebak dalam dominasi struktur, dimana seorang perempuan dianggap berhasil jika telah menyelesaikan tugas domestik dengan baik.

Laki-laki berperan sebagai kontrol utama di tengah masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Interpretasi Makna Hari Ibu untuk Melepas Belenggu Patriarki: Konsep patriarki berasal dari kata patriarkat, yang artinya struktur yang memberikan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala galanya. Sistem patriarki mendominasi kebudayaan masyarakat yang kemudian menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hak-hak perempuan di ranah publik maupun privat. Laki-laki berperan sebagai kontrol utama di tengah masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Posisi perempuan dalam budaya patriarki dapat dibilang dalam posisi yang tersubordinasi. Jelasnya seorang perempuan hanya berhak berkutat di wilayah domestik, yang itu tentu saja merengguk hak-hak perempuan di ranah publik khususnya peran perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri. Dalam konteks Hari Ibu, tulisan ini mencoba mengemas makna Hari Ibu sebagai anti-tesis atas budaya patriarki yang menyelimuti bangsa ini.

Jika kini peringatan Hari Ibu dimaknai dalam konteks domestik, dimana seorang ibu dianggap telah berhasil menjadi Ibu karena telah menyelesaikan tugas domestiknya dengan baik. Maka dari itu, mulai dari sekarang logika semacam itu harus dihilangkan dan segera diganti. Melalui fakta sejarah dan sosial tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang penting dalam memberi makna tentang Hari Ibu.

Sudah saatnya kita meluruskan makna Hari Ibu yang bersifat patriarkis di bangsa ini. Melalui momentum ini, interpretasi yang harus dibangun tentang makna Hari Ibu adalah interpretasi untuk melepas belenggu patriarki. Makna Hari Ibu harus segera dapat mengakhiri buta gender yang kini telah mengaburkan pandangan tentang kesetaraan dan keadilan. Akhir kata, kita sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk berekspresi dan menentukan haknya di segala aspek kehidupan.

Editor: Fathan Faris Saputro

A Report: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition

0

Harapan besar dititipkan pada pertemuan ini, bukan hanya dari kami, GA4P Indonesia tetapi juga rekan kami dari seluruh dunia. Entah dari Afganistan, Filipina, Sudan Selatan, atau lainnya. Anak muda hadir dengan ide dan pandangan yang bervariasi tentang bagaimana cara mengatasi masalah dan menanggulangi konflik serta melakukan pemberdayaan, dan paradigma itu perlu dipertimbangkan keterlibatanya secara setara oleh pihak stakeholders. Tidak boleh ada lagi kekerasan terhadap perempuan, deskriminasi, pernikahan dini, dan bentuk tindakan yang menyakiti perempuan maupun anak-anak di dunia, semua generasi haruslah turut andil dalam proses-proses penanggulangannya, tanggung jawab dibebankan kepada siapa saja bukan hanya di awal, tapi sampai akhir dan tuntas.

Kampusdesa.or.id–JFK atau John F. Kennedy International Airport lumayan sibuk pada Rabu, 11 Desember 2019. New York kawasan Queens bersalju mencapai suhu dua derajat celcius, tapi menghangat kemudian di wilayah Manhattan, lokasi kantor GNWP (The Global Network for Women Peacebuilders), Berada di lingkungan yang sama dengan UNHQ (United Nations Headquartes). 44 st 1st avenue, 777 United Nations Plaza, kita tidak akan bisa membayangkan bagaimana angka-angka itu menjelaskan sebuah alamat, karena New York memang sangatlah rapat dengan bangunan dan gedung-gedung tinggi, blok-blok bernomor dan bernama yang dibelakangnya di akhiri โ€˜avenueโ€™ lah yang akan menjaga kita untuk tidak tersesat dan menemukan alamat yang dituju.

Agenda resmi baru akan benar-benar dimulai besoknya, Kamis 12 Desember 2019 yaitu Launch Meeting of Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security. Mari menebak, siapa saja yang hadir dalam agenda yang dimulai dari pukul 9 pagi ini? Hadir Dr. Rima Salah sebagai GNWP Board Treasurer and former Deputy Executive Director of UNICEF, Mrs. Bandana Rana, Vice Chair CEDAW Commitee Nepal. Serta hadir pula teman dari Democracy Development Center Ukraina, Women Problems Research Union Azarbaijan, Canadian Council of Young Feminist Canada, dan YWPL atau GA4P dari Republik Demokratik Kongo dan Elizabeth Yokwe, Eve Organization, South Sudan, UNFPA, dan UNDP baik via online melalui sambungan Video Call maupun offline secara langsung.

Dalam sesi kelima, representatif GA4P mendapatkan kesempatan menyampaikan pendapat kami, mengapa kemudian Deklarasi Beijing ini sangatlah penting bagi kami, perempuan muda diseluruh dunia dari paradigma kami sebagai GA4P Lamongan. Training perdana di tahun 2017 sebagai GA4P bersama GNWP, AMAN Indonesia, dan Muslimat NU mengajarkan kami banyak hal-hal baru dalam pemberdayaan perempuan muda, dan telah mengenalkan UNSCR 1325 dan 2250 yang sangat. Muncul kesadaran akan pentingnya memiliki keperdulian pada isu-isu sosial dan gender terutama isu yang sensitif memicu konflik, beban masa lampau pasca peristiwa pemboman pada beberapa daerah di Indonesia terhadap Lamongan tidak boleh dibiarkan begitu saja, upayah kami hadir kemudian melalui dialog atau advokasi yang diupayahkan bersama rekan GA4P Poso dan dibantu oleh GNWP dan AMAN Indonesia dengan para stakeholders level nasional yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), UN WOMEN, dan Komnas Perempuan. Atau di Lamongan sendiri kami berdialog dengan masyarakat Desa Payaman dalam bidang pemberdayaan ekonomi.

Upaya kemanusiaan lainnya dilakukan oleh saudara kami dari GA4P Poso pada gempa Palu 2018 silam. Rekan kami menggalang dana melalui penjualan beberapa barang untuk menghasilkan dana yang akan disumbangkan pada para korban gempa dalam bentuk pakaian dan makanan. Atau dalam bentuk lain komunikasi dengan pemerintah setempat, dalam upayah pencegahan segala tindakan yang mendukung pernikahan anak, bersama rekan-rekan sesama organisasi dari Lamongan, GA4P mengumpulkan tanda tangan dari para anak muda dan perwakilan organisasi untuk diberikan kepada pemerintah kota Lamongan agar segera melakukan tindakan tegas untuk mencegah pernikahan dini yang sangat sulit ditangani di Lamongan.

Para stakeholders dari level regional, nasional, maupun internasional perlu memberikan perhatian penuh pada isu-isu seperti ini tak terkecuali juga menyertakan anak muda didalamnya dalam proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya masih sangat minim ruang tersedia bagi anak muda untuk turut serta terlibat didalamnya. Deklarasi Beijing hadir sebagai instrumen yang membantu keterlibatan anak muda dan perempuan dalam proses pengambilan kebijakan menjadi lebih mudah, namun sayangnya masih sangat sedikit dari kami atau anak muda yang tau betapa pentingnya deklarasi ini telah hadir sebagai induk dari lahirnya kebijakan-kebijakan besar dimasa depan pasca dideklarasikan. Akses informasi memang sangatlah mudah dijangkau pada jaman sekarang, namun tak menjamin pengetahuan dapat diserap keseluruhan secara merata . sering kali poin-poin penting seperti ini terlewat diketahui oleh anak muda.

Namun, bukan berarti kami enggan untuk ikut berpartisipasi. Adanya Action Coalition ini sangat berguna membuka jalan bagi kami untuk dilibatkan secara setara dalam proses implementasi amanah deklarasi ini. Selain itu, kami juga melakukan billateral meeting bersama Mexico Representative for UN dan France Representative for UN sebagai dua negara yang memegang peran sangat penting pada penerapan kebijakan tersebut dan tentu saja dialog secara langsung dengan UN WOMEN.

Harapan besar dititipkan pada pertemuan ini, bukan hanya dari kami, GA4P Indonesia tetapi juga rekan kami dari seluruh dunia. Entah dari Afganistan, Filipina, Sudan Selatan, atau lainnya. Anak muda hadir dengan ide dan pandangan yang bervariasi tentang bagaimana cara mengatasi masalah dan menanggulangi konflik serta melakukan pemberdayaan, dan paradigma itu perlu dipertimbangkan keterlibatanya secara setara oleh pihak stakeholders. Tidak boleh ada lagi kekerasan terhadap perempuan, deskriminasi, pernikahan dini, dan bentuk tindakan yang menyakiti perempuan maupun anak-anak di dunia, semua generasi haruslah turut andil dalam proses-proses penanggulangannya, tanggung jawab dibebankan kepada siapa saja bukan hanya di awal, tapi sampai akhir dan tuntas.

An Overview: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition

0

Bukan tanpa alasan pula kemudian pertemuan ini dilaksanakan pada Desember 2019, tepat sebelum memasuki tahun 2020. Memperingati sekaligus lahirnya dua bentuk resolusi PBB yaitu UNSCR (United Nations Security Council Resolution) 1325 yang ke-dua puluh tahun dan UNSCR 2250 yang ke-lima tahun membuat urgensi atau keharusan dilaksanakannya pertemuan yang membahas sejauh mana tiga dokumen utama ini bekerja begitu penting untuk segera dilaksanakan. Kembali pada paragraf pertama, tidak banyak dari kita yang mengetahui deklarasi penting ini. Kita, anak muda dan perempuan yang menjadi elemen utama mengapa kemudian deklarasi ini dibuat. Itu adalah masalah yang terbilang sepele tapi tidak sederhana.

Kampusdesa.or.id–New York (20/12), enam hari dengan lima kali meeting untuk Deklarasi Beijing dan kelanjutannya. Tapi sebentar, sebelum bicara ngalor ngidul mengenai Deklarasi Beijing. Sudah pernah dengar apa itu Deklarasi Beijing? Berani bilang, 90% dari pembaca tulisan ini pasti belum pernah mendengar apa itu Deklarasi Beijing? Karena alasan itulah kenapa meeting launch sampai dengan billateral meeting perlu dilaksanakan bersama para stakeholders. Sebab memasuki usianya yang ke 25 tahun 2020 ke depan, Deklarasi Beijing yang memegang peran begitu penting dalam terciptanya kebijakan yang mengangkat kesetaraan partisipasi gender dan generasi dibuat belum begitu banyak dikenal bahkan oleh anak muda dan perempuan dari seluruh dunia. Penguatan platform pada partisipasi anak muda dan perempuan muda adalah poin yang dilingkari untuk menjadi alasan dibuatnya pertemuan-pertemuan ini.

Akses informasi masa kini menjadi begitu mudah untuk dijangkau. Namun tersedianya kemudahan ini tidak menjamin terjangkaunya pengetahuan secara merata. Bisa jadi banyak hal-hal penting terlewat untuk diketahui, dan sebagian orang jauh lebih mengetahui hal-hal yang sifatnya sekunder. Dalam contohnya adalah Deklarasi Beijing ini. Pendek sejarah, Deklarasi Beijing lahir dari duduknya 30.000 aktivis dari 189 negara dalam bidang gender dan kepemudaan dalam advokasi yang diselenggarakan di Beijing selama dua minggu pada September 1995. Waktu yang lama, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan oleh sekian banyak aktivis tentu telah melahirkan sebuah deklarasi yang tak hanya bernilai historis tinggi tapi juga sangat penting bagi perempuan dan anak muda di seluruh dunia.

Kenapa Deklarasi Beijing begitu penting? The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing punya arti penting karena didalamnya memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia dan keterlibatan dalam pembangunan. Terdapat 12 bidang kritis beserta langkah strategis dan indikatornya yang perlu diketahui dan harus menjadi pusat perhatian dan sasaran strategis bagi pemerintah, masyarakat dalam cakupan nasional, regional, maupun internasional serta LSM dan sektor swasta agar penerapan Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi ini dapat dilakukan.

Keduabelas bidang kritis tersebut adalah perempuan dan kemiskinan, pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi perempuan, perempuan dan kesehatan, kekerasan terhadap perempuan, perempuan-perempuan dan konflik senjata, perempuan dan ekonomi, perempuan dalam kedudukan kekuasaan dan proses pengambilan keputusan, mekanisme-mekanisme institusional untuk kemajuan perempuan, hak-hak asasi perempuan, perempuan dan media massa, perempuan dan lingkungan, serta anak-anak perempuan.

Bukan tanpa alasan pula kemudian pertemuan ini dilaksanakan pada Desember 2019, tepat sebelum memasuki tahun 2020. Memperingati sekaligus lahirnya dua bentuk resolusi PBB yaitu UNSCR (United Nations Security Council Resolution) 1325 yang ke-dua puluh tahun dan UNSCR 2250 yang ke-lima tahun membuat urgensi atau keharusan dilaksanakannya pertemuan yang membahas sejauh mana tiga dokumen utama ini bekerja begitu penting untuk segera dilaksanakan. Kembali pada paragraf pertama, tidak banyak dari kita yang mengetahui deklarasi penting ini. Kita, anak muda dan perempuan yang menjadi elemen utama mengapa kemudian deklarasi ini dibuat. Itu adalah masalah yang terbilang sepele tapi tidak sederhana.

Lebih mudah dipahami kemudian, bagaimana suatu deklarasi yang mengandung poin-poin penting mengenai kesetaraan gender dan generasi diterapkan jika elemen utama pelaksanaanya saja tidak mengerti atau tidak mengetahui keberadaannya? Atau dalam langkah paling dasarnya saja, bagaimana kepekaan terhadap poin-poin tersebut dibangun jika para elemen pelaksana utama tidak mengetahuinya?

Lanjut ke tulisan A Report: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition

Menembus Batas Cakrawala New York

0

Judulnya Beijing, lalu kenapa pertemuannya di New York? Pertanyaan yang sudah pasti akan menggantung di benak teman-teman yang sedang membaca. Tepat tahun 2020 kedepan, Deklarasi Beijing memasuki usia yang ke 25 tahun bersamaan dengan UNSCR 1325 yang ke 20 tahun dan UNSCR 2250 yang ke 5 tahun. The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing punya arti penting karena didalamnya memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia dan keterlibatan dalam pembangunan.

Kampusdesa.or.id–New York (18/12), saat menulis ini saya sedang di Manhasset, masih di New York tepatnya di sebuah komplek pemukiman milik salah satu keluarga Whitney yang turun temurun diwariskan, Greentree namanya, kalau cari di google akan sulit menemukan karena kawasan ini benar-benar privat, hanya diperbolehkan digunakan untuk keperluan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi dalam bidang kemanusiaan, lingkungan, hak asasi manusia, dan lainnya dengan urgensi tinggi yang didalamnya terdapat para anggota PBB atau stakeholders. Sekedar tahu, melalui keterangan singkat salah satu pekerja yang merawat Greentree, Presiden Abraham Lincoln, George Washington, sampai John F. Kennedy pernah singgah disini untuk sekedar berkuda atau hadir dalam pertemuan, sebab keluarga whitney sendiri cukup dekat dengan para presiden lintas waktu. Bisa membayangkan bagaimana makan di meja makan yang sama dipakai oleh mereka.

Mungkin cukup satu paragraf untuk penjelasan betapa mengagumkan dan kerennya Greentree. Ada salah satu cerita lucu yang saya alami, pesan whatsapp seseorang kepada saya suatu siang waktu New York:

โ€œNgapain ke US?โ€

โ€œAda undangan untuk acara Beijing +25โ€

โ€œKok lapo wong Jagran* adoh-adoh nang New York iku?โ€

Haha, saya juga ga tahu. harusnya jadi cerita panjang kalau diceritakan mulai dari saat undangan secara langsung disampaikan sampai dengan saat pengurusan visa dan keperluan pribadi atau bahan untuk speech nanti. Iya, untuk sekitar 5-6 meeting kedepan, saya sebagai anggota dari YWPL atau GA4P Lamongan akan menyampaikan speech bersama seorang representatif dari Sudan Selatan yang juga menjadi teman sekamar selama di Manhattan.

Setelah urusan ngetan ngulon bersama visa sudah kelar, yang sebenarnya tidak sulit asal mau sabar dan teliti serta banyak-banyak berdoa, dalam seminggu sudah beres. Terhitung cepat untuk beginner dalam membuat visa seperti saya. Penerbangan 22 jam total dengan penerbangan transfer di Qatar, JFK lumayan ngantuk alias mendung. Salju tipis di Queens menandai ucapan selamat datang. Manhattan, bagaimana bentukannya? Rapat dengan gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padat, gedung-gedungnya berbeda dengan yang ada di Jurabaya maupun Jakarta, New York punya gaya sendiri dalam berdandan.

GNWP (The Global Network for Women Peacebuilders) alias yang punya hajat memiliki kantor yang berlokasi dalam komplek kantor PBB, dari jendela depan gedung, UN Headquarters bisa dilihat dengan jelas, bertetangga dengan kantor-kantor representatif negara-negara dari seluruh dunia dan council-council PBB seperti UNICEF, UN WOMEN, UNDP dan lain-lain.

Pada pertemuan pertama yang dihadiri Dr. Rima Salah sebagai GNWP Board Treasurer and former Deputy Executive Director of UNICEF, Mrs. Bandana Rana, Vice Chair CEDAW Commitee, Nepal. Serta hadir pula teman dari Democracy Development Center, Ukraina, Women Problems Research Union, Azarbaijan, Canadian Council of Young Feminist, Canada, dan YWPL atau GA4P dari Republik Demokratik Kongo dan Elizabeth Yokwe, Eve Organization, South Sudan baik Via online melalui sambungan Video Call maupun offline secara langsung. Pertemuan ini diberi judul “Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Launch Meeting”. Judulnya Beijing, lalu kenapa pertemuannya di New York?

Pertanyaan yang sudah pasti akan menggantung di benak teman-teman yang sedang membaca. Tepat tahun 2020 kedepan, Deklarasi Beijing memasuki usia yang ke 25 tahun bersamaan dengan UNSCR 1325 yang ke 20 tahun dan UNSCR 2250 yang ke 5 tahun. The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing punya arti penting karena didalamnya memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia dan keterlibatan dalam pembangunan. Terdapat 12 bidang kritis beserta langkah strategis dan indikatornya yang perlu diketahui dan harus menjadi pusat perhatian dan sasaran strategis bagi pemerintah, masyarakat dalam cakupan nasional, regional, maupun internasional serta LSM.

Pertemuan lain dilakukan bersama Representatif dari Meksiko dan Perancis untuk PBB demi menggalang suara dukungan untuk memaksimalkan peran pemudan dan perempuan dalam penerapan Deklarasi Beijing. Serta dialog bersama UN WOMEN secara langsung sebagai UN Council yang bersangkutan.

Sepertinya sekian untuk cerita pengalamanya menembus batas cakrawala New York. Kisah saya serupa lebih banyak telah dimuat dalam dua chapter berbeda di halaman Fanspage Girl Ambassadors for Peace Lamongan. Kalau senggang bolehlah mampir dan jangan lupa juga melipir ke akun instagramnya juga (@ga4p.lamongan).

*Jagran: Nama sebuah desa di Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan