A Report: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition

1
179

0Shares
0

Harapan besar dititipkan pada pertemuan ini, bukan hanya dari kami, GA4P Indonesia tetapi juga rekan kami dari seluruh dunia. Entah dari Afganistan, Filipina, Sudan Selatan, atau lainnya. Anak muda hadir dengan ide dan pandangan yang bervariasi tentang bagaimana cara mengatasi masalah dan menanggulangi konflik serta melakukan pemberdayaan, dan paradigma itu perlu dipertimbangkan keterlibatanya secara setara oleh pihak stakeholders. Tidak boleh ada lagi kekerasan terhadap perempuan, deskriminasi, pernikahan dini, dan bentuk tindakan yang menyakiti perempuan maupun anak-anak di dunia, semua generasi haruslah turut andil dalam proses-proses penanggulangannya, tanggung jawab dibebankan kepada siapa saja bukan hanya di awal, tapi sampai akhir dan tuntas.

Kampusdesa.or.id–JFK atau John F. Kennedy International Airport lumayan sibuk pada Rabu, 11 Desember 2019. New York kawasan Queens bersalju mencapai suhu dua derajat celcius, tapi menghangat kemudian di wilayah Manhattan, lokasi kantor GNWP (The Global Network for Women Peacebuilders), Berada di lingkungan yang sama dengan UNHQ (United Nations Headquartes). 44 st 1st avenue, 777 United Nations Plaza, kita tidak akan bisa membayangkan bagaimana angka-angka itu menjelaskan sebuah alamat, karena New York memang sangatlah rapat dengan bangunan dan gedung-gedung tinggi, blok-blok bernomor dan bernama yang dibelakangnya di akhiri ‘avenue’ lah yang akan menjaga kita untuk tidak tersesat dan menemukan alamat yang dituju.

Agenda resmi baru akan benar-benar dimulai besoknya, Kamis 12 Desember 2019 yaitu Launch Meeting of Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security. Mari menebak, siapa saja yang hadir dalam agenda yang dimulai dari pukul 9 pagi ini? Hadir Dr. Rima Salah sebagai GNWP Board Treasurer and former Deputy Executive Director of UNICEF, Mrs. Bandana Rana, Vice Chair CEDAW Commitee Nepal. Serta hadir pula teman dari Democracy Development Center Ukraina, Women Problems Research Union Azarbaijan, Canadian Council of Young Feminist Canada, dan YWPL atau GA4P dari Republik Demokratik Kongo dan Elizabeth Yokwe, Eve Organization, South Sudan, UNFPA, dan UNDP baik via online melalui sambungan Video Call maupun offline secara langsung.

Dalam sesi kelima, representatif GA4P mendapatkan kesempatan menyampaikan pendapat kami, mengapa kemudian Deklarasi Beijing ini sangatlah penting bagi kami, perempuan muda diseluruh dunia dari paradigma kami sebagai GA4P Lamongan. Training perdana di tahun 2017 sebagai GA4P bersama GNWP, AMAN Indonesia, dan Muslimat NU mengajarkan kami banyak hal-hal baru dalam pemberdayaan perempuan muda, dan telah mengenalkan UNSCR 1325 dan 2250 yang sangat. Muncul kesadaran akan pentingnya memiliki keperdulian pada isu-isu sosial dan gender terutama isu yang sensitif memicu konflik, beban masa lampau pasca peristiwa pemboman pada beberapa daerah di Indonesia terhadap Lamongan tidak boleh dibiarkan begitu saja, upayah kami hadir kemudian melalui dialog atau advokasi yang diupayahkan bersama rekan GA4P Poso dan dibantu oleh GNWP dan AMAN Indonesia dengan para stakeholders level nasional yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), UN WOMEN, dan Komnas Perempuan. Atau di Lamongan sendiri kami berdialog dengan masyarakat Desa Payaman dalam bidang pemberdayaan ekonomi.

Upaya kemanusiaan lainnya dilakukan oleh saudara kami dari GA4P Poso pada gempa Palu 2018 silam. Rekan kami menggalang dana melalui penjualan beberapa barang untuk menghasilkan dana yang akan disumbangkan pada para korban gempa dalam bentuk pakaian dan makanan. Atau dalam bentuk lain komunikasi dengan pemerintah setempat, dalam upayah pencegahan segala tindakan yang mendukung pernikahan anak, bersama rekan-rekan sesama organisasi dari Lamongan, GA4P mengumpulkan tanda tangan dari para anak muda dan perwakilan organisasi untuk diberikan kepada pemerintah kota Lamongan agar segera melakukan tindakan tegas untuk mencegah pernikahan dini yang sangat sulit ditangani di Lamongan.

Para stakeholders dari level regional, nasional, maupun internasional perlu memberikan perhatian penuh pada isu-isu seperti ini tak terkecuali juga menyertakan anak muda didalamnya dalam proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya masih sangat minim ruang tersedia bagi anak muda untuk turut serta terlibat didalamnya. Deklarasi Beijing hadir sebagai instrumen yang membantu keterlibatan anak muda dan perempuan dalam proses pengambilan kebijakan menjadi lebih mudah, namun sayangnya masih sangat sedikit dari kami atau anak muda yang tau betapa pentingnya deklarasi ini telah hadir sebagai induk dari lahirnya kebijakan-kebijakan besar dimasa depan pasca dideklarasikan. Akses informasi memang sangatlah mudah dijangkau pada jaman sekarang, namun tak menjamin pengetahuan dapat diserap keseluruhan secara merata . sering kali poin-poin penting seperti ini terlewat diketahui oleh anak muda.

Namun, bukan berarti kami enggan untuk ikut berpartisipasi. Adanya Action Coalition ini sangat berguna membuka jalan bagi kami untuk dilibatkan secara setara dalam proses implementasi amanah deklarasi ini. Selain itu, kami juga melakukan billateral meeting bersama Mexico Representative for UN dan France Representative for UN sebagai dua negara yang memegang peran sangat penting pada penerapan kebijakan tersebut dan tentu saja dialog secara langsung dengan UN WOMEN.

Harapan besar dititipkan pada pertemuan ini, bukan hanya dari kami, GA4P Indonesia tetapi juga rekan kami dari seluruh dunia. Entah dari Afganistan, Filipina, Sudan Selatan, atau lainnya. Anak muda hadir dengan ide dan pandangan yang bervariasi tentang bagaimana cara mengatasi masalah dan menanggulangi konflik serta melakukan pemberdayaan, dan paradigma itu perlu dipertimbangkan keterlibatanya secara setara oleh pihak stakeholders. Tidak boleh ada lagi kekerasan terhadap perempuan, deskriminasi, pernikahan dini, dan bentuk tindakan yang menyakiti perempuan maupun anak-anak di dunia, semua generasi haruslah turut andil dalam proses-proses penanggulangannya, tanggung jawab dibebankan kepada siapa saja bukan hanya di awal, tapi sampai akhir dan tuntas. []

 

Berita sebelumyaAn Overview: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition
Berita berikutnyaMenyoal Pergeseran Makna Hari Ibu
Cukup panggil Aisy dari tiga suku kata nama saya. Begitu mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, kalimat besar Sitou Timou Tumou Tou yang memiliki arti manusia hidup, untuk memanusiakan orang lain akan menyambut para pendatang. Bagi saya, ada beberapa pegangan yang perlu hadir untuk terus menjadi pengingat. Lebih dari sekedar hidup seorang diri sebagai individu, manusia hadir untuk memanusiakan sesamanya. Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan adalah ‘pegangan’ lainnya. Terlebih, terciptanya manusia di bumi ini adalah sebagai khalifah yang akan merawat dan mensejahterakan bumi, karena saya lahir sebagai Orang Jawa, maka tidak akan lepas dengan kiasan “Lakon, Dudu Penonton” yang artinya menjadi penonton saja tidak cukup, namun harus menjadi lakon atau terlibat langsung sebagai bagian dari bagian perubahan. Tiga kutipan tersebut tidak begitu saja dipilih sebagai pegangan, tetapi lahir dari semacam akulturasi. Ibu dan ayah saya tinggal di Manado selama kurang lebih tujuh belas tahun. Budaya minahasa menjadi sebagian kecil dari diri saya. Sedangkan sebagian besar waktu saya tumbuh dihabiskan di Jawa. Saat ini saya menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Hubungan Internasional. Sedang menjadi abdi di beberapa komunitas yaitu GA4P Lamongan, Diaspora Muda Lamongan, DYPLO, dan YIPC Jakarta. Sapa saya melalui sosial media, saya ramah kok! hehe

1 KOMENTAR

Comments are closed.